Buka menu utama

Perpecahan Tito–Stalin, atau disebut juga Perpecahan Yugoslavia–Soviet, adalah konflik antara Josip Broz Tito, pemimpin RFS Yugoslavia dan Joseph Stalin, pemimpin Uni Soviet. Perpecahan ini mengakibatkan dikeluarkannya Yugoslavia dari Biro Informasi Komunis (Kominform) pada tahun 1948. Kejadian ini merupakan awal dari periode Informbiro, ditandai oleh hubungan yang buruk dengan Uni Soviet dan berakhir pada tahun 1955.

Menurut Soviet, konflik ini disebabkan oleh ketidaksetiaan Yugoslavia kepada Uni Soviet, sedangkan menurut Yugoslavia dan dunia Barat, konflik ini disebabkan oleh nasionalisme Josip Broz Tito dan penolakannya untuk tunduk kepada Joseph Stalin yang akan membuat Yugoslavia menjadi negara satelit Soviet. Dewasa ini para ahli menekankan bahwa penyebabnya adalah penolakan Stalin atas rencana Tito untuk mendirikan Federasi Balkan yang akan memasukkan wilayah Albania dan Yunani dalam suatu kerjasama dengan Bulgaria, karena hal ini akan memunculkan blok Eropa Timur yang kuat di luar kontrol Moskow.[1]

Daftar isi

Asal usulSunting

Selama Perang Dunia Kedua, Yugoslavia diduduki oleh Blok Poros. Pasukan-pasukan pendudukan ini ditentang oleh beberapa kelompok-kelompok pemberontak. Pemberontak Komunis yang dipimpin oleh Marsekal Josip Broz Tito adalah kelompok terbesar dan kemudian mengambil alih negara pada tahun 1945, hanya dengan sedikit bantuan Soviet. Pada titik ini, Tito masih setia kepada Moskow.

Peran utama Tito dalam membebaskan Yugoslavia tak hanya memperkuat posisinya dalam partai dan di antara rakyat Yugoslavia, tetapi juga menyebabkan dia menjadi lebih bersikeras bahwa Yugoslavia harus mendapat kebebasan lebih untuk mengurus kepentingannya sendiri dibanding pemimpin-pemimpin Blok Timur lainnya yang memiliki hutang budi pada Soviet karena telah membebaskan mereka dari pendudukan Poros. Hal ini telah menyebabkan terjadinya gesekan-gesekan antara kedua negara bahkan sebelum Perang Dunia II berakhir. Meskipun Tito secara resmi adalah sekutu Stalin setelah Perang Dunia II, Uni Soviet telah menyiapkan sebuah jaringa mata-mata dalam partai-partai Yugoslavia sesingkat-singkatnya pada awal 1945.[2]

Segera setelah Perang Dunia II, terjadi beberapa insiden bersenjata antara Yugoslavia dan Blok Barat. Setelah perang, Yugoslavia berhasil menduduki wilayah Istria, Zadar dan Rijeka yang sebelumnya menjadi bagian dari Italia sejak tahun 1920-an. Langkah ini menguntungkan populasi Slavia (terutama Kroasia dan Slovenia) yang ada di wilayah-wilayah tersebut. Yugoslavia juga berniat untuk menggabungkan Trieste ke negaranya, yang ditentang oleh Sekutu Barat dan Stalin. Hal ini menyebabkan beberapa insiden bersenjata, terutama pesawat tempur Yugoslavia yang menembak jatuh pesawat angkut Amerika dan mengundang amarah baik dari Sekutu ataupun Stalin. Antara tahun 1945 sampai 1948, setidaknya empat pesawat AS ditembak jatuh.[3] Stalin menentang provokasi ini, karena ia merasa bahwa Uni Soviet tidak siap untuk menghadapi Barat dalam perang terbuka setelah kerugian-kerugian yang dialaminya dalam Perang Dunia II.

Selain itu, Tito secara terbuka mendukung pihak komunis dalam Perang Saudara Yunani, sementara Stalin menjaga jarak setelah bersepakat dengan Churchill untuk tidak mendukung komunisme di sana dalam Perjanjian Percentages. Tito berencana untuk menyerap Albania dan Yunani dalam kerjasama dengan Bulgaria, yang akan memunculkan blok Eropa Timur yang kuat di luar kontrol Moskow. Stalin tidak bisa mentolerir ancaman itu.[4]

Kominform PertamaSunting

Namun, dunia masih melihat dua negara sebagai sekutu yang dekat. Hal ini terbukti pada pertemuan pertama dari Kominform pada tahun 1947, di mana perwakilan Yugoslavia mengkritik tajam partai-partai Komunis nasional yang dianggap kurang serius memperjuangkan gerakan Komunis, terutama partai-partai Italia dan Prancis yang terlibat dalam politik koalisi. Mereka pada dasarnya sejalan dengan posisi Soviet. Markas Kominform bahkan didirikan di Beograd. Namun, kesamaan itu tidak tercermin dalam hubungan kedua negara.

Kominform KeduaSunting

Tito tidak menghadiri pertemuan kedua Kominform, takut bahwa Yugoslavia akan diserang secara terbuka. Pada 28 Juni, negara-negara anggota lainnya mengusir Yugoslavia, menyebut bahwa "unsur nasionalis" "dalam lima atau enam bulan terakhir" telah "berhasil mencapai posisi dominan dalam kepemimpinan" PKY. Resolusi tersebut memperingatkan Yugoslavia bahwa mereka sedang dalam jalan kembali ke kapitalisme borjuis karena posisi nasionalis dan pikiran-pikiran merdekanya.

HasilSunting

Pengusiran tersebut secara efektif membuang Yugoslavia dari asosiasi negara sosialis internasional . Setelah pengusiran, Tito ditekan orang-orang yang mendukung resolusi, menyebut diri mereka "Cominformists".[5] Banyak yang dikirim ke gulag di Goli otok ("Pulau Buangan").[6] Antara tahun 1948 dan 1952, Uni Soviet mendorong sekutunya untuk membangun kembali kekuatan militer mereka—terutama Hungaria, yang akan menjadi kekuatan utama apabila terjadi perang melawan Yugoslavia.

Tito menggunakan keterasingannya dari Uni Soviet untuk mendapatkan bantuan AS melalui Marshall Plan, serta untuk mendirikan Gerakan Non-Blok, di mana Yugoslavia berperan sebagai kekuatan utama.[7]

ReferensiSunting

  1. ^ Jeronim Perovic, "The Tito–Stalin Split: A Reassessment in Light of New Evidence."
  2. ^ Richard West, Tito (1994)
  3. ^ Air victories of Yugoslav Air Force
  4. ^ Jeronim Perovic, "The Tito–Stalin Split: A Reassessment in Light of New Evidence."
  5. ^ Paul Garde, Vie et mort de la Yougoslavie, Fayard, Paris, 2000, p. 91
  6. ^ Serge Métais, Histoire des Albanais, Fayard, Paris 2006, p. 322
  7. ^ John R. Lampe , Russell O. Prickett, Ljubisa S. Adamovic (1990). Yugoslav-American economic relations since World War II. Duke University Press Books. hlm. 47. ISBN 0-8223-1061-9.