Nederlandsch Zendeling Genootschap

lembaga misionaris protestan Belanda

Nederlandsch Zendeling Genootschap (disingkat NZG; bahasa Indonesia: Serikat Misionaris Belanda) adalah suatu organisasi misionaris yang dahulu berpusat di kota pelabuhan Rotterdam, Belanda. Organisasi ini didirikan pada tahun 1797 oleh sejumlah tokoh pietis dari Gereja Reformed Belanda (NHK), seperti J.Th. van der Kemp (1747—1811), J. L. Verster (1745—1814), dan H.J. Krom (1738—1804).

Sejarah

sunting

Semangat pietisme yang menekankan pada kesalehan pribadi, kerendahan hati dan kerja keras, menjadi inspirasi para pendiri organisasi ini, tetapi lebih dari itu, mereka juga terpengaruh oleh semangat “pencerahan” yang saat itu berkembang di Eropa, sehingga di dalam benak para pendiri NZG, penginjilan merupakan amanat Kristus yang dianggap dapat menyelamatkan peradaban bangsa-bangsa (yang belum mengenal kekristenan) dari kehancuran.

Pemikiran ini tercermin di dalam tujuan NZG, yaitu: “melalui pengabaran Injil memperkenalkan Kristus bagi orang-orang awam yang berasal dari peradaban yang belum dicerahkan.” Penginjilan dianggap sebagai cara membawa manusia dari kegelapan ke kehidupan yang lebih terang. Suatu rumusan yang mewakili pandangan teologi tertentu, tidak ditulis dalam anggaran dasar tersebut. NZG dianggap sebagai persekutuan dari orang-orang Kristen yang terpanggil mengabarkan Kristus, berlandaskan Alkitab dan duabelas pasal pengakuan iman Kristen.

Indonesia

sunting

Zending masuk ke Indonesia pada tahun 1814, pada masa pendudukan Inggris, yang datang dari Belanda dan di dukung oleh London Missionary Society, memulai aktivitas keagamaan mereka, terutama ditujukan kepada penduduk lokal. Joseph Kam adalah orang yang diutus pada tahun 1814 ke Ambon dan ia melayani kepulauan Maluku hingga wafatnya pada tahun 1833.[1] Misi-misi terkemuka lainnya adalah ke pulau-pulau lain di Maluku, Sumatra dan Jawa

Kondisi untuk membuka daerah misi baru dapat dikatakan menguntungkan pada akhir tahun 1890-an. Setelah arus keluar pendeta ortodoks ke UZV, sekitar tahun 1864, orang-orang ortodoks bergabung dengan NZG pada tahun 1970-an dan 1980-an, menciptakan keinginan untuk membuka daerah-daerah baru. Pada periode tahun 1864 dan 1890, NZG hanya mengirimkan 11 orang, termasuk enam pengkhotbah bantuan. Salah satunya, Roskes, kembali ke Belanda dan menjadi wakil direktur NZG. Tahun 1890 dianggap sebagai tahun meningkatnya kejayaan lembaga misionaris. Sekolah Zending mulai mendidik siswa dalam jumlah besar dan ada pembicaraan lagi tentang perluasan jumlah pos pekabaran Injil. Menurut Neurdenburg, tidak semua orang bisa ditempatkan di Jawa, dan dengan demikian, pos pekabaran Injil yang baru harus dibuka.[2]

14 April 1890, Hendrik Cornelis Kruyt bersama Nicolas Pontoh menginjakkan kakinya di Tanah Karo. Kruyt sebelumnya sudah bertugas di Minahasa, dan kemudian ditugaskan oleh NZG untuk mengemban misi untuk mengkristenkan orang Batak Karo.

Penugasan Kruyt cenderung bersifat politis untuk menjinakkan masyarakat Batak Karo yang sedang melakukan perlawanan kepada pihak Belanda dengan melakukan pembakaran terhadap bangsal/gudang perusahaan-perusahaan Eropa di Sumatera Timur. Menyadari hal tersebut, Kruyt kemudian memilih berhenti dan kembali ke Belanda dan menjadi penulis hingga akhir hidupnya.

NZG kemudia mengirim Pdt. J.K. Wijngaarden yang sebelumnya bertugas di Pulau Sewu untuk menggantikan tugas yang ditinggalkan Kruyt. Namun beliau meninggal dunia saat bertugas akibat terserang malaria, sehingga tugasnya sementara dilanjutkan oleh istrinya Dina Wijgaarden hingga penggantinya Pdt. M. Joustra tiba.

Tanggal 14 April 1890 kemudian diperingati sebagai hari Sehna Berita Meriah Man Kalak Karo atau hari "Sampainya Injil kepada orang Karo". Dan 9 tahun kemudian (24 Desember 1899) bangunan gereja pertama kali bagi berdiri dan ditahbiskan oleh Pdt. Meint Joustra di Buluh Awar yang dikenal dengan Karo Kerk atau Gereja Karo.

Tahun 1941, Belanda takluk oleh Nazi Jerman di Perang Dunia, mengakibatkan semua aset di tanah jajahan Belanda diambil alih oleh Jerman, tidak terkecuali lahan zending. Sehingga Zending Karo sebutan untuk kegiatan penginjilan Tanah Karo yang dikelola oleh NZG diambilalih oleh Rheinische Missionsgesellschaft yang sebelumnya sudah menggarap zending di Tapanuli.

Di Poso, Sulawesi Tengah, pembaptisan kepala suku dilakukan oleh Philip Heinrich Christoph Hofman pada hari Natal tahun 1909. Zending juga dilakukan terhadap daerah-daerah yang telah memeluk agama Katolik.

Tiongkok

sunting

Organisasi ini adalah yang pertama mengikuti teladan London Missionary Society dalam memasuki Tiongkok. Yang diutus adalah Rev. Karl Gützlaff pada tahun 1826, dengan tugas sebagai kapelan di bawah Pemerintah Belanda. Ia mencapai Jawa pada tahun 1827, tetapi pada tahun 1829 ia meninggalkan pelayanan itu dan memusatkan diri untuk berkhotbah, menulis dan menyebarkan buku-buku Kristen, mengunjungi kapal-kapal di pelabuhan-pelabuhan Siam, Singapura, Makau, dan tempat-tempat lain. Ketika Hon. John Robert Morrison meninggal, Gützlaff menggantikannya sebagai "Chinese Secretary in the Government of Hong Kong", yang dijabatnya hingga meninggal. Ia menjadi sarjana ahli bahasa Tionghoa, dan mempersiapkan terjemahan Alkitab ke dalam bahasa Tionghoa. Ia juga menerbitkan banyak buku-buku sejarah dan rohani. Ia disusul oleh Rev. Herman Rottger pada tahun 1832, yang bekerja di Makau dan Hong Kong sampai pensiun tahun 1846, dan ketika ia pensiun, Netherlands Mission berhenti berakttivitas. Dr. Gützlaff meninggal pada tahun 1851.

Laporan

sunting

Organisasi ini menerbitkan laporan terakhir secara terakhir pada abad ke-19 yang digunakan untuk memberi informasi kepada para donatur. Pada tahun 1897 sebuah buku kenangan diterbitkan oleh ketua Jacobus Craandijk.[3]

Lihat pula

sunting

Referensi

sunting
  1. ^ "Joseph Kam | e-MISI". Misi.sabda.org. Diakses tanggal 2015-05-07. 
  2. ^ Noort 2006, hlm. 30.
  3. ^ Gedenkboek uitgegeven ter gelegenheid van het honderdjarig bestaan van het Nederlandsch Zendelinggenootschap, Rotterdam: M. Wyt en Zonen, 1897 (197 pages)

Sumber

sunting

Pranala luar

sunting