Gerakan Aceh Merdeka

Organisasi yang memperjuangkan kemerdekaan Aceh dari Indonesia

Gerakan Aceh Merdeka, atau GAM (bahasa Aceh: Geurakan Acèh Meurdèka) adalah sebuah organisasi separatis yang memiliki tujuan supaya Aceh lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Konflik antara pemerintah RI dan GAM yang diakibatkan perbedaan keinginan ini telah berlangsung sejak tahun 1976 dan menyebabkan jatuhnya hampir sekitar 15.000 jiwa. Gerakan ini juga dikenal dengan nama Aceh Sumatra National Liberation Front (ASNLF). GAM dipimpin oleh Hasan di Tiro selama hampir tiga dekade bermukim di Swedia dan berkewarganegaraan Swedia. Pada tanggal 2 Juni 2010, ia memperoleh status kewarganegaraan Indonesia, tepat sehari sebelum ia meninggal dunia di Banda Aceh.[6]

Aceh Merdeka
Atjèh Meurdéhka

Acheh Sumatra National Liberation Front
Ketua umumHasan di Tiro[1]
Ketua Presidium[2]Ariffadhillah
Wakil Presidium[2]Yusuf Daud
Ketua SekretariatMadinatul Fajar
Wakil SekretariatAsnawi Ali
Biro Penerangan[3]Nasir Usman
Dibentuk4 Desember 1976; 44 tahun lalu (1976-12-04) (GAM)
8 April 2012; 8 tahun lalu (2012-04-08) (ASNLF/AM)[4]
Kantor pusatEisenach, Germany
IdeologiNasionalisme Aceh
Afiliasi internasionalUNPO,
Human Rights,
May Day,
International Relations,
United Nations
WarnaMerah, Hitam, Putih
SloganUdép Beusaré, Maté Beusajan
Hidup Setara, Mati Bersama
Situs web
http://asnlf.org/

Aktivis Digital dan Pegiat Diplomasi
Aceh Merdeka
Atjèh Meurdéhka
Acheh Sumatra National Liberation Front
MotifMendirikan kembali negara Aceh di ujung utara pulau Sumatra dengan memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia
Wilayah aktifFlag of Free Aceh Movement.svg Aceh
IdeologiNasionalisme Aceh
StatusPenentuan nasib sendiri
atau Separatisme
Organisasi Bangsa dan Rakyat yang Tidak Terwakili (UNPO)
Bendera Organisasi Bangsa dan Rakyat yang Tidak Terwakili (UNPO)
Bendera
Logo Organisasi Bangsa dan Rakyat yang Tidak Terwakili (UNPO)
Logo
Peta menunjukkan keanggotaan UNPO di seluruh dunia (klik untuk memperbesar dan untuk mejelajah).
Peta menunjukkan keanggotaan UNPO di seluruh dunia (klik untuk memperbesar dan untuk mejelajah).
Markas besarBrussel, Belgia
KeanggotaanAceh, 28 Juni 2014
Pemimpin
• Sekretaris Jendral[5]
Marino Busdachin
(sejak 2003)
• Presiden[5]
Nasser Boladai
• Wakil Presiden[5]
Dolkun Isa
Abdirahman Mahdi
Pendirian11 Februari 1991
Situs web resmi
http://www.unpo.org/

Garis waktu

Pada 4 Desember 1976, inisiator Gerakan Aceh Merdeka, Hasan di Tiro dan beberapa pengikutnya mengeluarkan pernyataan perlawanan terhadap pemerintah RI yang dilangsungkan di perbukitan Halimon di kawasan Kabupaten Pidie. Di awal masa berdirinya GAM, nama resmi yang saat itu digunakan adalah AM, Aceh Merdeka. Pemerintah RI pada periode 1980-an sampai 1990-an menamai gerakan tersebut sebagai GPK-AM. Perlawanan represif bersenjata gerakan tersebut mendapat sambutan keras dari pemerintah pusat RI yang akhirnya menggelar sebuah operasi militer di Aceh atau yang lebih dikenal dengan DOM (Daerah Operasi Militer) pada paruh akhir 1980-an sampai dengan penghujung 1990-an. Operasi tersebut telah membuat para aktivis AM terpaksa melanjutkan perjuangannya di daerah pengasingan. Disaat rezim Orde Baru berakhir dan reformasi dilangsungkan di Indonesia, seiring dengan itu pula Gerakan Aceh Merdeka kembali eksis dan menggunakan nama GAM sebagai identitas organisasinya.

Konflik antara pemerintah RI dengan GAM terus berlangsung hingga pemerintah menerapkan status Darurat Militer di Aceh pada tahun 2003, setelah melalui beberapa proses dialogis yang gagal mencapai solusi kata sepakat antara pemerintah RI dengan aktivis GAM. Konflik tersebut sedikit banyak telah menekan aktivitas bersenjata yang dilakukan oleh GAM, banyak di antara aktivis GAM yang melarikan diri ke luar daerah Aceh dan luar negeri. Bencana alam gempa bumi dan tsunami pada 26 Desember 2004 telah memaksa pihak-pihak yang bertikai untuk kembali ke meja perundingan atas inisiasi dan mediasi oleh pihak internasional.

Pada 27 Februari 2005, pihak GAM dan pemerintah RI memulai tahap perundingan di Vantaa, Finlandia. Mantan presiden Finlandia Martti Ahtisaari berperan sebagai fasilitator.

Pada 17 Juli 2005, setelah perundingan selama 25 hari, tim perunding Indonesia berhasil mencapai kesepakatan damai dengan GAM di Vantaa, Helsinki, Finlandia. Penandatanganan nota kesepakatan damai yang dilangsungkan pada 15 Agustus 2005. Proses perdamaian selanjutnya dipantau oleh sebuah tim yang bernama Aceh Monitoring Mission (AMM) yang beranggotakan lima negara ASEAN dan beberapa negara yang tergabung dalam Uni Eropa. Di antara poin pentingnya adalah bahwa pemerintah Indonesia akan turut memfasilitasi pembentukan partai politik lokal di Aceh dan pemberian amnesti bagi anggota GAM.

Meski perdamaian tersebut, sejatinya sampai sekarang masih menyisakan persoalan yang belum menemukan jalan keluar. Misalnya saja berkait dengan Tapol/Napol Aceh yang masih berada di penjara Cipinang, Jakarta seperti Ismuhadi Jafar, dkk. Selain juga persoalan kesejahteraan mantan prajurit kombatan GAM yang cenderung hanya dinikmati oleh segelintir elit.

Seluruh senjata GAM yang mencapai 840 pucuk selesai diserahkan kepada AMM pada 19 Desember 2005. Kemudian pada 27 Desember, GAM melalui juru bicara militernya, Sofyan Dawood, menyatakan bahwa sayap militer mereka yaitu Tentara Neugara Aceh (TNA) telah dibubarkan secara formal dan dibentuk Komite Peralihan Aceh guna untuk menampung para eks-kombatan.

Tokoh-tokoh penting

Sayap Militer GAM

  • Teuntra Neugara Aceh (TNA)
  • Acheh Sumatra National Liberation Front (ASNLF)
  • Laskar Inoeng Balee

Lihat pula

Pranala luar

Referensi

  1. ^ "Sosok Pendiri GAM". BBC Indonesia. 2010-06-03. Diakses tanggal 16 Juli 2018. 
  2. ^ a b "Struktur Organisasi ASNLF". ASNLF Malaya. 2016-04-10. Diakses tanggal 2018-07-18. 
  3. ^ "ASNLF Tidak Terlibat Deklarasi Nanggroe Aceh Darussalam". Acehsatu.com. 2020-12-24. Diakses tanggal 2020-12-27. 
  4. ^ "Atjèh Meurdéhka Kateudong Keulaji (diaktifkan)". ASNLF. 2012-04-10. Diakses tanggal 2018-07-18. 
  5. ^ a b c "UNPO Organizational Structure". UNPO. Diakses tanggal 30 January 2015. 
  6. ^ Otto Syamsuddin Ishak, dkk, Hasan Tiro: Unfinished Story of Aceh, Bandar Publishing-Banda Aceh, 2010
  7. ^ lintasgayo.co (2019-01-27). "Mantan-Mantan Jubir GAM Bertemu SBY, Ini Yang Dibahas!". Media Online Dataran Tinggi GAYO | lintasgayo.co (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2019-05-01. 
  8. ^ "Dua Anggota GAM Tewas Dalam Kontak Senjata". Tempo (dalam bahasa Inggris). 2004-01-16. Diakses tanggal 2019-05-01. 
  9. ^ "TNI Nyatakan Wakil Gubernur GAM Menyerah". Tempo (dalam bahasa Inggris). 2004-06-25. Diakses tanggal 2019-05-01. 
  10. ^ "Gubernur GAM Pidie Divonis Seumur Hidup". detiknews. Diakses tanggal 2019-05-01. 
  11. ^ sinarpidie.co. "Mengenal Mahfuddin Ismail, Mengenang Mantri Hamid – Figur – sinarpidie.co – mendalam dan terverifikasi". sinarpidie.co. Diakses tanggal 2019-05-01. 
  12. ^ "Mantan Panglima GAM Meureuhom Daya Jabat Kepala Baitul Mal Aceh". Serambi Indonesia. Diakses tanggal 2019-05-01.