Buka menu utama

Flu burung (bahasa Inggris: avian influenza, disingkat AI) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus influenza yang telah beradaptasi untuk menginfeksi burung. Penyakit ini menyebabkan kerugian ekonomi yang tinggi karena membunuh ternak ayam dalam jumlah besar. Terkadang mamalia, termasuk manusia, dapat tertular flu burung.[1]

Flu burung
Nama lainAvian influenza (AI), avian flu, bird flu
Discolored chicken comb.jpg
Sianosis pada jengger ayam merupakan salah satu tanda klinis flu burung.
SpesialisasiPenyakit infeksi, kedokteran hewan
TipePatogenisitas tinggi (HPAI), patogenisitas rendah (LPAI)
PenyebabVirus influenza A
DiagnosisIsolasi virus, PCR, ELISA

PenyebabSunting

Flu burung disebabkan oleh virus influenza A dari genus Alphainfluenzavirus, famili Orthomyxoviridae. Ia tergolong dalam grup V dalam klasifikasi Baltimore, yaitu virus dengan RNA utas tunggal negatif. Terdapat tujuh genus dalam famili Orthomyxoviridae, empat di antaranya adalah virus influenza,[2][3] yaitu:

Genus virus Spesies virus Inang peka[4]
Alphainfluenzavirus Influenza A virus Manusia, mamalia lain, dan burung
Betainfluenzavirus Influenza B virus Manusia dan anjing laut
Gammainfluenzavirus Influenza C virus Manusia dan babi
Deltainfluenzavirus Influenza D virus Sapi

SubtipeSunting

Virus influenza A memiliki beberapa protein pada permukaannya, di antaranya protein hemaglutinin (disingkat H atau HA) serta protein neuraminidase (disingkat NA atau N). Kombinasi jenis protein H dan protein N akan menentukan sifat dan penamaan subtipe virus influenza, misalnya H5N1. Saat ini telah ditemukan 18 jenis hemaglutinin (H1 sampai H18) dan 11 jenis neuraminidase (N1 sampai N11),[3] tetapi hanya subtipe H1-H16 dan N1-N9 yang diidentifikasi dari virus yang menginfeksi burung.[5] Hanya dua subtipe virus influenza A yang diketahui tidak menginfeksi burung, yaitu H17N10 dan H18N11 di mana keduanya diisolasi dari kelelawar.[3]

PatogenisitasSunting

Berdasarkan kemampuannya menimbulkan penyakit, flu burung dibagi menjadi dua jenis, yaitu:

  • Flu burung dengan patogenisitas tinggi (bahasa Inggris: highly pathogenic avian influenza, disingkat HPAI) yang menyebabkan tingkat kematian yang tinggi, dan
  • Flu burung dengan patogenisitas rendah (bahasa Inggris: low pathogenic avian influenza, disingkat LPAI) yang menyebabkan penyakit dengan tanda klinis yang ringan.

Sebagian besar virus flu burung memiliki patogenisitas yang rendah (LPAI). Namun, beberapa beberapa di antara mereka mengalami mutasi genetik sehingga berubah menjadi HPAI. Secara alami, kasus HPAI disebabkan oleh virus influenza A subtipe H5 atau H7. Walaupun demikian, mayoritas virus subtipe H5 dan H7 tergolong LPAI.[6] Penentuan tingkat patogenisitas virus influenza A didasarkan pada karakteristik molekuler serta kemampuannya menimbulkan penyakit dan kematian pada ayam pada kondisi laboratorium, bukan berdasarkan beratnya derajat penyakit yang ditimbulkan pada manusia.[3]

Isolat virus flu burung digolongkan sebagai HPAI jika:[7][8]

  • Saat diinokulasi secara intravena terhadap minimal delapan ekor anak ayam peka berumur 4-8 minggu akan menyebabkan lebih dari 75% kematian dalam waktu 10 hari;
  • Saat diinokulasi terhadap 10 ekor anak ayam peka berumur 6 minggu menghasilkan indeks patogenisitas intravena (bahasa Inggris: intravenous pathogenicity index atau IVPI) lebih dari 1,2; atau
  • Isolat virus H5 dan H7 yang memiliki nilai IVPI tidak lebih dari 1,2 atau tidak menimbulkan 75% kematian pada uji letalitas intravena harus diurutkan (sekuensing) untuk menentukan apakah terdapat beberapa asam amino basa di lokasi pembelahan molekul hemaglutinin (HA0). Jika urutan asam aminonya mirip dengan isolat HPAI lainnya, maka isolat tersebut dianggap HPAI.

Organisasi Dunia untuk Kesehatan Hewan (OIE) mendefinisikan kasus flu burung sebagai infeksi pada unggas yang disebabkan oleh: (1) Virus influenza A dengan patogenisitas tinggi (HPAI), dan (2) Virus influenza A subtipe H5 dan H7 dengan patogenisitas rendah (H5/H7 LPAI).[8] Definisi ini dibuat sebagai batasan untuk kasus flu burung yang wajib dilaporkan kepada OIE. Oleh karena itu, flu burung patogenisitas rendah (LPAI) yang penyebabnya bukanlah subtipe H5 atau H7 tidak perlu dilaporkan kepada OIE.[9]

Nomenklatur dan kladSunting

 
Penamaan virus influenza.

Isolat virus influenza A subtipe H5 dapat dikelompokkan lebih lanjut menjadi beberapa klad (bahasa Inggris: clade) dan diberi nama berdasarkan sistem nomenklatur yang standar.[10] Standar pemberian nama ini meliputi jenis virus (misalnya A, B, atau C), asal spesies (misalnya canine, equine, chicken, swine dsb. Identitas ini tidak dituliskan jika virus berasal dari manusia), asal lokasi geografis (misalnya Taiwan, Vietnam, dsb.), nomor strain (misalnya 1, 134, dsb.), tahun isolasi (misalnya 2003), serta jenis antigen H dan N yang ditulis dalam tanda kurung apabila virus tersebut merupakan virus influenza A.[11] Contoh:

  • A/chicken/Pekalongan/BBVW308/2007(H5N1)
  • A/chicken/Scotland/59(H5N1)

Klad merupakan kelompok taksonomi berupa gambaran pohon kladistika untuk mengetahui hubungan kekerabatan. Penetapan klad virus flu burung dilakukan dengan sekuensing antigen H5. Hingga tahun 2008, semua virus H5N1 di Indonesia digolongkan dalam klad 2.1 dengan tiga turunan, yaitu 2.1.1, 2.1.2, dan 2.1.3. Virus klad 2.1.3 selanjutnya menyebar di banyak daerah di Indonesia. Pada bulan September 2012, isolat virus subtipe H5 dari bebek di Jawa Tengah dilaporkan berhubungan erat dengan klad 2.3.2.1 yang sebelumnya baru ditemukan di Vietnam, Tiongkok, dan Hong Kong.[12] Situs web Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyediakan gambaran lengkap pohon kladistika virus flu burung subtipe H5.[10][13][14]

Sifat alami dan perubahan antigenSunting

Kelangsungan hidup virus di lingkungan dipengaruhi oleh berbagai faktor, di antaranya jumlah virus, temperatur, paparan sinar matahari, keberadaan materi organik, pH dan salinitas (jika virus di air), serta kelembapan relatif (pada permukaan padat atau tinja).[15] Virus influenza A peka terhadap berbagai jenis disinfektan, di antaranya natrium hipoklorit, etanol 60-90%, senyawa amonium kuartener, aldehid, fenol, asam, dan iodin povidon, juga bisa diinaktivasi dengan pemanasan 56-60 °C selama minimal 60 menit serta oleh radiasi ionisasi atau pH ekstrem (pH 1-3 atau pH 10-14).[15]

Virus flu burung terus berubah dengan konstan. Ada dua cara mereka untuk berubah:[16]

  • Antigenic drift. Gen virus influenza mengalami perubahan-perubahan kecil seiring dengan waktu saat virus bereplikasi. Perubahan genetik yang kecil ini akan berakumulasi perlahan-lahan sehingga sifat antigeniknya berbeda dan tidak dikenali lagi oleh sistem kekebalan tubuh. Hal ini menyebabkan komposisi vaksin influenza perlu ditinjau secara berkala agar dapat mengimbangi laju perubahan virus.
  • Antigenic shift. Terjadi perubahan gen yang besar dan mendadak yang menghasilkan jenis protein H yang baru dan/atau kombinasi protein H dan N yang baru. Kebanyakan individu tidak memiliki kekebalan terhadap virus influenza yang baru ini sehingga menyebabkan terjadinya wabah penyakit yang luas.

Spesies pekaSunting

Virus influenza dapat menyerang berbagai spesies hewan dan penyakitnya diberi nama sesuai dengan jenis hewan yang diinfeksi, misalnya flu burung, flu babi, flu kuda, dan flu anjing. Mutasi genetik memungkinkan terjadinya infeksi silang antarspesies.[17]

Burung liar akuatik diduga merupakan reservoir alami virus flu burung. Virus flu burung telah diisolasi pada lebih dari 100 spesies burung liar di mana sebagian besar infeksinya disebabkan oleh virus LPAI.[18] Infeksi umumnya ditemukan pada ordo Anseriformes (seperti bebek dan angsa) serta dua famili pada ordo Charadriiformes atau burung wader, yaitu famili Laridae (seperti burung camar) serta famili Scolopacidae (seperti burung trinil).[15] Burung-burung yang telah didomestikasi, baik unggas (seperti ayam dan kalkun) maupun unggas air (bebek dan angsa) peka terhadap serangan virus flu burung.[15]

Kejadian penyakitSunting

DuniaSunting

Peta penyebaran global H5N1
(hingga tahun 2007)
→ Negara dengan kematian unggas akibat H5N1.
→ Negara dengan kematian manusia dan unggas akibat H5N1.

Flu burung pertama kali dilaporkan pada tahun 1878 di Italia. Awalnya, penyakit ini disangka sebagai kolera unggas bentuk akut dan septisemik. Virusnya sendiri belum diidentifikasi dan diklasifikasikan sebagai virus influenza hingga 1955. Sebelum dikenal sebagai flu burung, penyakit ini diberi nama fowl plague.[19]

Pada Simposium Internasional Flu Burung yang pertama di tahun 1981, istilah HPAI mulai digunakan menggantikan fowl plague untuk menggambarkan bentuk flu burung yang sangat virulen.[19] Istilah LPAI mulai digunakan pada tahun 2002 pada simposium yang kelima.[20]

Virus flu burung ditemukan di seluruh dunia dengan laporan isolasi dari benua Afrika, Asia, Australia, Amerika Utara, Amerika Selatan, dan Eropa.[21] Bukti serologis infeksi pada penguin di Antarktika juga telah ditemukan.[22]

IndonesiaSunting

Pada bulan September-Oktober 2003, virus H5N1 diidentifikasi di Indonesia. Deklarasi Pemerintah Indonesia dilakukan pada tanggal 3 Februari 2004 melalui Keputusan Menteri Pertanian Nomor 96/Kpts/PD.620/2/2004 yang menyatakan bahwa penyakit flu burung telah tersebar di sembilan provinsi, yaitu Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Bali. [23]

Sekitar 3,5 tahun kemudian, tepatnya pada 10 Juli 2007, pemerintah menetapkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 393/Kpts/PD.620/7/2007 yang menyatakan bahwa flu burung telah mewabah di 31 provinsi.[24] Pada masa itu, Indonesia masih terdiri dari 33 provinsi (Kalimantan Utara baru diresmikan pada tahun 2012) sehingga provinsi yang masih belum dinyatakan tertular flu burung hanyalah Gorontalo dan Maluku Utara. Provinsi Gorontalo kemudian ikut tertular pada Maret 2011.[25]

Flu burung akhirnya berhasil diberantas di beberapa daerah. Provinsi Maluku[26] dan Maluku Utara[27] mendapatkan status bebas dari flu burung pada unggas di tahun 2016 sedangkan Provinsi Papua[28] di tahun 2017.

Kasus pada manusiaSunting

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat sejumlah kasus flu burung pada manusia. Manusia dapat terinfeksi flu burung (influenza A virus) subtipe H5N1, H7N9, dan H9N2.[4] Infeksi flu burung pada manusia pertama kali ditemukan di Hong Kong pada tahun 1997 dengan jumlah kasus 18 orang dan 6 di antaranya meninggal dunia.[29] Temuan infeksi pada manusia selanjutnya dilaporkan di Tiongkok, Vietnam, Thailand, Kamboja, lalu Indonesia.[29]

Pada 21 Juli 2005, tiga kasus fatal terjadi di Tangerang, Indonesia, yang disebabkan oleh flu burung subtipe H5N1. Berbeda dengan kasus lainnya di Asia Tenggara (Vietnam, Thailand, dan Kamboja), kasus ini dianggap unik karena korban tidak banyak berhubungan dengan unggas. Pada akhir tahun 2005, Indonesia mencatat 20 kasus dengan 13 kematian.[29][30]

Hingga 10 Mei 2019, WHO telah mencatat sebanyak 861 kasus dengan 455 kematian pada manusia dengan rincian sebagai berikut:[30]

Negara Jumlah
kasus
Jumlah
kematian
  Azerbaijan 8 5
  Bangladesh 8 1
  Djibouti 1 0
  Indonesia 200 168
  Irak 3 2
  Kamboja 56 37
  Kanada 1 1
  Laos 2 2
  Mesir 359 120
  Myanmar 1 0
    Nepal 1 1
  Nigeria 1 1
  Pakistan 3 1
  Thailand 25 17
  Tiongkok 53 31
  Turki 12 4
  Vietnam 127 64
Jumlah 861 455

Jumlah kasus yang dilaporkan WHO adalah jumlah kasus yang telah diverifikasi dengan hasil laboratorium. Adapun kasus per tahun di Indonesia dapat dilihat pada tabel berikut ini:[30]

Tahun Jumlah
kasus
Jumlah
kematian
2005 20 13
2006 55 45
2007 42 37
2008 24 20
2009 21 19
2010 9 7
2011 12 10
2012 9 9
2013 3 3
2014 2 2
2015 2 2
2016 - -
2017 1 1
2018 - -
Jumlah 200 168

Cara penularanSunting

HewanSunting

Flu burung ditularkan melalui kontak langsung antara burung terinfeksi dengan burung sehat. Penularan juga dapat terjadi secara tidak langsung melalui kontak dengan benda-benda yang terkontaminasi, seperti pakaian, sepatu, kendaraan, maupun peralatan kandang. Partikel virus flu burung ditemukan pada:[31]

  • Sekresi dari hidung, mulut, dan mata burung terinfeksi;
  • Kotoran (tinja) burung terinfeksi; dan
  • Permukaan luar telur yang dihasilkan burung terinfeksi.

Flu burung tidak termasuk penyakit yang menular melalui udara (airborne disease). Penularan dari satu peternakan ke peternakan lain terjadi melalui perpindahan unggas, produk unggas, orang, dan kendaraan yang digunakan untuk transportasi.[31] Ketahanan virus dalam kotoran burung bergantung pada jumlah virus, suhu, dan kelembaban. Secara umum, virus lebih cepat mati jika suhu semakin tinggi dan tinja semakin kering.[31]

ManusiaSunting

Meskipun tidak biasa bagi manusia untuk terinfeksi virus influenza A langsung dari hewan, infeksi secara sporadik yang disebabkan oleh virus flu burung dan virus flu babi telah dilaporkan.[32] Sebagian besar kasus influenza A pada manusia (H5N1 dan H7N9) diasosiasikan dengan kontak dengan unggas terinfeksi atau lingkungan yang terkontaminasi.[4] Bukti epidemiologis dan virologis menunjukkan bahwa virus tidak mampu menular dari manusia ke manusia.[33] Beberapa ilmuwan berpendapat flu burung tidak menular ke manusia karena perbedaan reseptor virus pada sel manusia dan sel burung.

Manifestasi klinisSunting

HewanSunting

Flu burung menyebabkan beragam manifestasi klinis bergantung pada jenis virus yang menginfeksi, jenis dan umur hewan terinfeksi, hingga faktor lingkungan. Virus HPAI mampu menyebabkan kematian mendadak sedangkan virus LPAI tidak menimbulkan tanda klinis atau hanya menyebabkan tanda klinis yang ringan. Tanda klinis yang sering ditemukan antara lain gangguan sistem pernapasan seperti leleran dari hidung dan mata, batuk, kesulitan bernapas (dispnea), pembengkakan sinus dan/atau kepala, penurunan nafsu makan dan minum, sianosis pada kulit yang tak berbulu, pial, dan jengger, diare, hingga inkoordinasi dan gangguan saraf.[7] Pada ayam petelur, dapat terjadi penurunan produksi dan kualitas telur.[7] Menurut OIE, masa inkubasi flu burung adalah 21 hari.[34]

ManusiaSunting

Infeksi flu burung pada manusia dapat menyebabkan infeksi saluran pernapasan atas yang ringan (demam dan batuk) hingga pneumonia berat, sindrom gangguan pernapasan akut, syok, bahkan kematian.[4] Gangguan pencernaan seperti mual, muntah, dan diare lebih sering dilaporkan pada infeksi virus subtipe H5N1 sedangkan konjungtivitis dilaporkan pada infeksi subtipe H7.[4]

DiagnosisSunting

HewanSunting

Metode pengujian laboratorium yang disarankan oleh OIE di bawah ini bergantung pada tujuan yang ingin dicapai:[7]

Metode Tujuan
Bebasnya populasi dari infeksi Bebasnya individu dari infeksi sebelum dilalulintaskan Kontribusi terhadap kebijakan pemberantasan Konfirmasi kasus klinis Prevalensi infeksi - surveilans Status imun individu hewan atau populasi pascavaksinasi
Identifikasi agen
Isolasi virus + +++ + +++ + -
Deteksi antigen + + + + + -
RT-PCR ++ +++ ++ +++ ++ -
Deteksi respon kekebalan tubuh
AGID +
(influenza A)
+
(influenza A)
++
(influenza A)
+
(sudah pulih)
+
(influenza A)
++
(influenza A)
HI +++
(H5 atau H7)
++
(H5 atau H7)
+++
(H5 atau H7)
++
(sudah pulih)
+++
(H5 atau H7)
+++
(H5 atau H7)
ELISA + + ++ +
(sudah pulih)
++ ++

Keterangan:

  • +++ = metode yang direkomendasikan
  • ++ = metode yang sesuai
  • + = bisa digunakan pada beberapa situasi, namun biaya, kepercayaan, atau faktor lain, membatasi penerapannya
  • - = tidak cocok untuk tujuan ini
  • RT-PCR = reverse-transcription polymerase chain reaction
  • AGID = agar gel immunodiffusion
  • HI = haemmagglutination inhibition test (uji hambatan aglutinasi)
  • ELISA = enzyme-linked immunosorbent assay

Diagnosis banding untuk flu burung pada unggas adalah penyakit Newcastle (ND), laringotrakeitis infeksius (ILT), bronkitis infeksius (IB), kolera unggas, dan infeksi Escherichia coli.[35]

ManusiaSunting

Berdasarkan WHO dan sesuai dengan situasi serta kondisi di Indonesia, kasus flu burung pada manusia diklasifikasikan menjadi empat jenis, yaitu: (1) seseorang dalam investigasi; (2) kasus suspek; (3) kasus probabel; dan (4) kasus konfirmasi.[36]

Kasus konfirmasi adalah seseorang yang memenuhi kriteria kasus suspek atau probabel dan disertai satu dari hasil positif berikut ini yang dilaksanakan dalam suatu laboratorium influenza yang hasil pemeriksaan H5N1-nya:

  1. Hasil PCR H5 positif,
  2. Peningkatan ≥ 4 kali lipat titer antibodi netralisasi untuk H5N1 dari spesimen konvalesen dibandingkan dengan spesimen akut (diambil ≤ 7 hari setelah muncul gejala penyakit), dan titer antibodi netralisasi konvalesen harus pula ≥ 1/80,
  3. Isolasi virus H5N1, atau
  4. Titer antibodi mikronetralisasi H5N1 ≥ 1/80 pada spesimen serum yang diambil hari ke ≥ 14 setelah ditemukan penyakit, disertai hasil positif uji serologi lain, misalnya titer HI sel darah merah kuda ≥ 1/160 western blot spesifik H5 positif.

PencegahanSunting

Flu burung dapat dicegah dengan pemberian vaksin, penerapan biosekuriti, pengendalian lalu lintas media pembawa virus influenza A, pemusnahan unggas secara selektif (depopulasi) di daerah tertular, dan pemusnahan unggas secara menyeluruh (stamping out) di daerah tertular baru.[37]

Orang yang sehari-hari bekerja dengan unggas atau orang yang merespon wabah flu burung disarankan mengikuti prosedur biosekuriti dan pengendalian infeksi, seperti menggunakan alat pelindung diri yang sesuai dan memperhatikan higiene tangan. [38]

Catatan kakiSunting

  1. ^ "Avian Influenza Portal". www.oie.int (dalam bahasa Inggris). World Organisation for Animal Health (OIE). Diakses tanggal 12 Juni 2019. 
  2. ^ "Orthomyxoviridae". species.wikimedia.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 12 Juni 2019. 
  3. ^ a b c d "Influenza type A viruses". www.cdc.gov (dalam bahasa Inggris). Centers for Disease Control and Prevention. Diakses tanggal 17 Juni 2019. 
  4. ^ a b c d e "Influenza (Avian and other zoonotic)". www.who.int (dalam bahasa Inggris). World Health Organization. 13 November 2018. Diakses tanggal 25 Juni 2019. 
  5. ^ "What is Avian Influenza". www.oie.int (dalam bahasa Inggris). World Organisation for Animal Health (OIE). Diakses tanggal 12 Juni 2019. 
  6. ^ OIE Manual (2018), hlm. 821.
  7. ^ a b c d OIE Manual (2018).
  8. ^ a b OIE Code (2019), hlm. 1.
  9. ^ OIE Manual (2018), hlm. 822.
  10. ^ a b "Updated unified nomenclature system for the highly pathogenic H5N1 avian influenza viruses". www.who.int (dalam bahasa Inggris). World Health Organization. Oktober 2011. Diakses tanggal 12 Juni 2019. 
  11. ^ "Types of influenza viruses". www.cdc.gov (dalam bahasa Inggris). Centers for Disease Control and Prevention. Diakses tanggal 17 Juni 2019. 
  12. ^ Putri dkk. (2019).
  13. ^ Evolution of the Asian H5 Hemagglutinin (PDF) (dalam bahasa Inggris), World Health Organization 
  14. ^ HA Full Tree (PDF) (dalam bahasa Inggris), World Health Organization 
  15. ^ a b c d Spickler (2019).
  16. ^ "How the flu virus can change: "Drift" and "Shift"". www.cdc.gov (dalam bahasa Inggris). Centers for Disease Control and Prevention. Diakses tanggal 17 Juni 2019. 
  17. ^ Short dkk. (2015).
  18. ^ "Avian influenza in birds". www.cdc.gov (dalam bahasa Inggris). Centers for Disease Control and Prevention. Diakses tanggal 17 Juni 2019. 
  19. ^ a b Lupiani & Reddy (2009).
  20. ^ Fifth International Symposium on Avian Influenza (1 September 2003). "Recommendations of the Fifth International Symposium on Avian Influenza". Avian Diseases. 47: 1260–1261. doi:10.1637/0005-2086-47.s3.1260. Diakses tanggal 25 Juni 2019. 
  21. ^ Saif dkk. (2008), hlm. 164.
  22. ^ Hurt dkk. (2014).
  23. ^ Pemerintah Republik Indonesia (3 Februari 2004). Keputusan Menteri Pertanian Nomor 96/Kpts/PD.620/2/2004 tentang Pernyataan Berjangkitnya Wabah Penyakit Hewan Menular Influensa pada Unggas (Avian Influenza) di Beberapa Propinsi di Wilayah Indonesia (PDF). Jakarta: Kementerian Pertanian Republik Indonesia. 
  24. ^ Pemerintah Republik Indonesia (10 Juli 2007). Keputusan Menteri Pertanian Nomor 393/Kpts/PD.620/7/2007 tentang Pernyataan Berjangkitnya Wabah Penyakit Hewan Menular Influenza pada Unggas (Avian Influenza) di Wilayah Indonesia (PDF). Jakarta: Kementerian Pertanian Republik Indonesia. 
  25. ^ Jordan, Ray (29 Desember 2011). "Dari 33 Provinsi, Hanya Maluku Utara yang Bebas Flu Burung". Okezone. Diakses tanggal 25 Juni 2019. 
  26. ^ Pemerintah Republik Indonesia (31 Mei 2016). Keputusan Menteri Pertanian Nomor 362/Kpts/PK.320/5/2016 tentang Provinsi Maluku Bebas dari Penyakit Avian Influenza pada Unggas. Jakarta: Kementerian Pertanian Republik Indonesia. 
  27. ^ Pemerintah Republik Indonesia (29 Januari 2016). Keputusan Menteri Pertanian Nomor 87/Kpts/PK.320/1/2016 tentang Provinsi Maluku Utara Bebas dari Penyakit Avian Influenza pada Unggas. Jakarta: Kementerian Pertanian Republik Indonesia. 
  28. ^ Pemerintah Republik Indonesia (26 September 2017). Keputusan Menteri Pertanian Nomor 600/Kpts/PK.320/9/2017 tentang Provinsi Papua Bebas dari Penyakit Avian Influenza pada Unggas (PDF). Jakarta: Kementerian Pertanian Republik Indonesia. 
  29. ^ a b c WHO (25 Januari 2012). "H5N1 avian influenza: Timeline of major events" (PDF). World Health Organization. Diakses tanggal 25 Juni 2019. 
  30. ^ a b c WHO (10 Mei 2019). "Cumulative number of confirmed human cases for avian influenza A(H5N1) reported to WHO 2003-2019" (PDF). World Health Organization. Diakses tanggal 25 Juni 2019. 
  31. ^ a b c FAO. "Avian Flu: Questions & Answers". Food and Agriculture Organization. Diakses tanggal 30 Juni 2019. 
  32. ^ "Transmission of Avian Influenza A Viruses Between Animals and People". /www.cdc.gov (dalam bahasa Inggris). Centers for Disease Control and Prevention. 10 Februari 2015. Diakses tanggal 30 Juni 2019. 
  33. ^ "Influenza at the human-animal interface" (PDF). www.who.int (dalam bahasa Inggris). World Health Organization. 10 Mei 2019. Diakses tanggal 26 Juni 2019. 
  34. ^ OIE Code (2019).
  35. ^ Kementan RI (2014), hlm. 11.
  36. ^ Kemenkes RI (2017), hlm. 29-33.
  37. ^ Kementan RI (2014), hlm. 12-15.
  38. ^ "Prevention and Treatment of Avian Influenza A Viruses in People". www.cdc.gov (dalam bahasa Inggris). Centers for Disease Control and Prevention. Diakses tanggal 27 Agustus 2019. 

Daftar pustakaSunting