Buka menu utama

Batu Rosetta (bahasa Inggris: Rosetta Stone) adalah sebuah prasasti batu granodiorit yang ditemukan pada tahun 1799. Prasasti ini berukirkan tiga versi dari sebuah maklumat yang dikeluarkan di Memphis, Mesir pada tahun 196 SM selama dinasti Ptolemaik atas nama Raja Ptolemaios V. Teks maklumat di bagian atas dan tengah prasasti ditulis dalam bahasa Mesir Kuno dengan aksara hieroglif dan demotik, sementara bagian bawahnya ditulis dalam bahasa Yunani Kuno. Karena perbedaan ketiga versi maklumat ini tidak banyak, Batu Rosetta pun menjadi kunci bagi penguraian hieroglif Mesir, yang pada akhirnya meluaskan wawasan mengenai sejarah kuno Mesir.

Batu Rosetta
Rosetta Stone.JPG
Batu Rosetta
MaterialGranodiorit
Ukuran1.123 mm x 757 mm x 284 mm
(45 in × 28.5 in × 11 in)
TulisanHieroglif Mesir kuno, aksara Demotik, dan Yunani
Dibuat196 SM
Ditemukan15 Juli 1799 di kota Rashid (Rosetta), Mesir
Lokasi saat iniMuseum Britania

Diyakini bahwa prasasti yang dipahat pada zaman Hellenistik ini awalnya dipajang di dalam sebuah kuil, mungkin di sekitar kawasan Sais. Prasasti ini kemudian dipindahkan pada Abad Kuno Akhir atau semasa pemerintahan Mamluk, hingga akhirnya digunakan sebagai bahan bangunan dalam pendirian Fort Julien di dekat kota Rashid (Rosetta) yang terletak di wilayah Delta Nil. Prasasti ini ditemukan kembali pada bulan Juli 1799 oleh seorang tentara Prancis bernama Pierre-François Bouchard ketika ia sedang bertugas dalam kampanye militer Prancis di Mesir dan Suriah pada masa Napoleon. Batu Rosetta merupakan prasasti dwibahasa Mesir Kuno pertama yang ditemukan kembali pada zaman modern. Penemuan ini mencetuskan kembali ketertarikan masyarakat umum pada Egiptologi karena dianggap berpotensi membantu penguraian aksara hieroglif yang hingga saat itu belum berhasil diterjemahkan. Salinan litografis dan gips mulai beredar di museum-museum dan kalangan cendekiawan Eropa. Sementara itu, pasukan Inggris mengalahkan Prancis di Mesir pada tahun 1801, dan setelah Penyerahan Aleksandria prasasti ini menjadi milik Inggris dan diboyong ke London. Batu Rosetta mulai dipamerkan di British Museum sejak tahun 1802, dan kini menjadi koleksi yang paling banyak dikunjungi di sana.

Kajian mengenai maklumat yang terpahat di prasasti telah dimulai sejak terjemahan penuh teks Yunani pertama terbit pada tahun 1803. Perlu waktu 20 tahun sebelum alih aksara dari teks Mesir diumumkan oleh Jean-François Champollion di Paris pada 1822; dan perlu waktu lebih lama sebelum para cendekiawan mampu membaca prasasti dan literatur Mesir Kuno dengan percaya diri. Kemajuan-kemajuan besar dalam penguraian Batu Rosetta adalah kesadaran bahwa prasasti tersebut nyatanya memuat tiga versi dari teks yang sama (1799); bahwa bagian teks demotik menggunakan lambang fonetis untuk mengeja nama-nama asing (1802); bahwa sistem serupa juga digunakan oleh bagian teks hieroglif, yang memiliki kesamaan dengan aksara demotik (1814); dan bahwa, selain digunakan untuk nama asing, lambang fonetis juga digunakan untuk mengeja kata-kata Mesir asli (1822–1824).

Belakangan ditemukan dua salinan terpisah lainnya dari maklumat yang sama, serta beberapa prasasti dwibahasa atau tribahasa yang serupa, termasuk dua maklumat Ptolemaik yang bertanggal lebih awal (Maklumat Aleksandria pada 243 SM, Maklumat Canopus pada 238 SM, dan Maklumat Mempis atas nama Ptolemaois IV, 218 SM). Oleh karena itu, Batu Rosetta tidak lagi unik secara historis, walaupun prasasti ini tetap berperan sebagai kunci utama bagi pemahaman modern akan sastra dan peradaban Mesir Kuno. Istilah Rosetta Stone kini digunakan dalam konteks lain untuk merujuk pada kunci penting bagi bidang pengetahuan baru.

Daftar isi

DeskripsiSunting

Batu Rosetta terdaftar sebagai "batu granodiorit hitam, yang memuat tiga ukiran... ditemukan di Rosetta" dalam katalog artefak kontemporer yang ditemukan oleh ekspedisi Prancis dan diserahkan kepada pasukan Inggris pada tahun 1801.[1] Selama beberapa waktu setelah kedatangannya di London, tulisan pada batu diwarnai dengan kapur putih agar lebih mudah dibaca, dan permukaan lainnya ditutupi dengan lapisan lilin carnauba yang dirancang untuk melindungi Batu Rosetta dari jari-jari pengunjung.[2] Tindakan ini menyebabkan warna gelap pada batu sehingga keliru diidentifikasi sebagai basal hitam.[3] Penambahan ini dihapus ketika batu dibersihkan pada tahun 1999, memperlihatkan warna abu-abu gelap asli dari batu, kilauan struktur kristal, dan lapisan merah muda di sudut kiri atas.[4] Perbandingan dengan sampel batuan Mesir menunjukkan kemiripan dengan batuan dari tambang granodiorit di Gebel Tingar di tepi barat Sungai Nil, sebelah barat dari Elephantine di wilayah Aswan; lapisan merah muda khas granodiorit dari daerah ini.[5]

Batu Rosetta memiliki tinggi 1.123 mm pada titik tertinggi, lebar 757 mm, dan tebal 284 mm. Bobotnya sekitar 760 kilogram.[6] Memuat tiga inskripsi: tulisan teratas dalam hieroglif Mesir Kuno, yang kedua dalam aksara demotik Mesir, dan yang ketiga dalam bahasa Yunani Kuno.[7] Permukaannya dihaluskan dan tulisan-tulisannya diukir dengan lembut; sisi-sisi batu dihaluskan, tetapi bagian belakangnya pengerjaannya kasar, mungkin karena tidak akan terlihat ketika batu didirikan.[5][8]

Prasasti asliSunting

 
Salah satu kemungkinan rekonstruksi pasasti asli

Batu Rosetta merupakan bagian dari prasasti yang lebih besar. Namun tidak ditemukan bagian lain dalam pencarian berikutnya dari situs Rosetta.[9] Karena keadaannya yang rusak, tidak satupun dari ketiga teks itu benar-benar lengkap. Teks bagian atas yang ditulis dengan hieroglif Mesir, mengalami kerusakan paling parah. Hanya 14 baris terakhir dari teks hieroglif yang dapat dibaca; di sisi kanan semuanya rusak, dan 12 baris rusak di sebelah kiri. Teks demotik kondisinya masih lengkap; berjumlah 32 baris, dimana 14 baris pertama sedikit rusak di sisi kanan. Teks Yunani terakhir berjumlah 54 baris, dengan 27 baris pertama kondisinya masih utuh; sisanya tidak lengkap karena retakan diagonal di bagian kanan bawah batu.[10] Panjang teks hieroglif dan ukuran prasasti asli, di mana Rosetta Stone adalah fragmennya, dapat diperkirakan berdasarkan pada pilar yang sebanding yang bertahan, termasuk salinan lain dengan susunan yang sama. Maklumat yang sedikit lebih awal dari Canopus, didirikan pada 238 SM pada masa pemerintahan Ptolemeus III, tingginya 2.190 mm dan lebar 820 mm, berisi 36 baris teks hieroglif, 73 baris teks demotik, dan 74 baris teks bahasa Yunani. Teks-teks tersebut memiliki panjang yang sama.[11] Dari perbandingan tersebut, dapat diperkirakan tambahan 14 atau 15 baris teks hieroglif yang hilang dari tulisan teratas Batu Rosetta, setinggi 300 milimeter.[12] Selain tulisan prasasti, kemungkinan ada dekorasi yang menggambarkan raja yang dipersembahkan dihadapan para dewa, diatapi cakram bersayap, seperti pada Stela Canopus. Perbandingan-perbandingan ini, serta lambang hieroglif untuk "stela" pada batu itu sendiri,

 

menunjukkan bahwa prasasti ini awalnya memiliki bagian atas yang bundar.[7][13] Tinggi prasasti asli diperkirakan sekitar 149 cm.[2]

Maklumat Memphis beserta konteksnyaSunting

Prasasti ini ditegakkan setelah penobatan Raja Ptolemaios V dan diukir dengan sebuah maklumat yang mengukuhkan pemujaan atas penguasa baru tersebut.[14] Maklumat ini dikeluarkan dalam pertemuan pendeta-pendeta yang berkumpul di Memphis. Maklumat ini bertanggalkan "4 Xandikos" dalam kalender Makedonia dan "18 Mekhir" dalam kalender Mesir, yang bertepatan dengan 27 Maret 196 SM. Tahun dikeluarkannya maklumat ini merupakan tahun kelima Ptolemaios V berkuasa (kira-kira setara dengan 197/196 SM), yang juga dikonfirmasi dengan nama keempat pendeta yang bertugas pada tahun itu: Aetos putra Aetos merupakan pendeta yang memimpin pemujaan terhadap Alexander Agung dan kelima Ptolemaios hingga masa Ptolemaios V; sementara tiga pendeta lainnya, secara berturut-turut, merupakan pendeta yang memimpin pemujaan terhadap Berenice Euergetis (permaisuri Ptolemaios III), Arsinoe Philadelphos (istri dan saudara perempuan dari Ptolemaios II), dan Arsinoe Philopator, ibu dari Ptolemaios V.[15] Tanggal kedua yang diberikan di dalam teks hieroglif dan Yunani bersesuaian dengan 27 November 197 SM, yang juga merupakan hari ulang tahun resmi penobatan Ptolemaios.[16] Namun, teks demotik memberikan tanggal berurutan dalam bulan Maret bagi maklumat dan hari ulang tahun tersebut.[16] Tidak diketahui secara jelas penyebab ketimpangan ini, tetapi satu hal yang pasti adalah bahwa maklumat ini dikeluarkan pada 196 SM dan dimaksudkan untuk mengukuhkan kekuasaan raja-raja Ptolemaik atas Mesir.[17]

Maklumat ini dikeluarkan pada masa yang carut-marut dalam sejarah Mesir. Ptolemaios V Epifanis bertakhta dari 204 hingga 181 SM, putra dari Ptolemaios IV Philopator dan istri sekaligus saudarinya Arsinoe. Ia telah naik takhta pada usia lima tahun semenjak kematian mendadak kedua orang tuanya, yang dibunuh oleh persekongkolan yang melibatkan selir Ptolemaios IV Agathoclea, menurut sumber-sumber kontemporer. Secara praktis, para anggota persekongkolan ini menguasai Mesir sebagai wali dari Ptolemaios V[18][19] hingga terjadinya revolusi dua tahun kemudian yang dipimpin oleh Tlepolemus. Agathoclea dan keluarganya digantung oleh massa di Alexandria. Namun, pada 201 SM, posisi Tlepolemus sebagai wali negara pula digantikan oleh Aristomenes dari Alyzia, yang merupakan menteri utama pada masa dikeluarkannya maklumat Memphis.[20]

Campur tangan kekuatan politik dari luar Mesir semakin menambah ruwet masalah internal kerajaan Ptolemaik tersebut. Antiokhos III Agung dan Filipus V dari Makedonia bahkan membuat pakta untuk membagi-bagi daerah jajahan Mesir. Filipus telah menguasai beberapa pulau dan kota di Karia dan Thrakia, sementara Pertempuran Panium (198 SM) mengakibatkan berpindahnya kekuasaan atas kawasan Koile Suriah, termasuk Yudea, dari dinasti Ptolemaik kepada Seleukia. Sementara di selatan Mesir, sebuah pemberontakan berkepanjangan telah meletus semenjak masa kekuasaan Ptolemaios IV,[16] dipimpin oleh Horwennefer dan penggantinya Ankhwennefer.[21] Baik perang melawan pihak luar maupun pemberontakan internal terus berlanjut hingga Ptolemaios V dinobatkan secara resmi menjadi raja pada usia 12 tahun (tujuh tahun semenjak ia mulai bertakhta) dan masih berlangsung satu tahun kemudian, ketika Maklumat Memphis dikeluarkan.[19]

 
Contoh kepingan "prasasti sumbangan", yang berisikan perintah pemberian imunitas pajak dari firaun Kerajaan Lama Pepi II bagi para pendeta kuil dewa Min

Prasasti seperti ini, yang ditegakkan atas inisiatif dari kuil alih-alih dari raja, hanya ada pada zaman Ptolemaik di Mesir. Pada zaman-zaman Firaun sebelumnya, tidak ada seorang pun kecuali para penguasa yang didewakan yang boleh membuat keputusan nasional. Penghormatan terhadap penguasa dengan cara seperti ini merupakan ciri khas kota-kota Yunani. Daripada membuat pujasastra terhadap dirinya sendiri, seorang raja Yunani umumnya dipuja dan didewakan oleh rakyat-rakyatnya, baik secara langsung atau melalui perwakilan.[22] Maklumat ini mencatat bahwa Ptolemaios V memberikan persembahan berupa perak dan biji padi-padian kepada kuil-kuil.[23] Maklumat ini juga mencatat bahwa sebuah banjir besar akibat meluapnya Sungai Nil terjadi pada tahun kedelapan ia bertakhta, dan ia memerintahkan pembendungan luapan air tersebut untuk melindungi para petani.[23] Sebagai gantinya, para pendeta menjadikan hari ulang tahun dan penobatan sang raja sebagai hari raya, dan bahwa seluruh pendeta di Mesir akan mengabdi padanya sebagaimana mereka mengabdi pada para dewa. Maklumat ini ditutup dengan perintah untuk menempatkan salinannya di setiap kuil, tertulis dalam "bahasa para dewa" (hieroglif Mesir), "bahasa tulisan" (demotik), dan "bahasa orang-orang Yunani" yang digunakan oleh pemerintahan Ptolemaik. [24][25]

Bagi raja-raja Ptolemaik, mendapatkan dukungan para pendeta amat penting agar dapat mempertahankan kekuasaan yang berlaku atas rakyat mereka. Secara khusus, para Pendeta Tinggi di Memphis—tempat di mana sang raja dinobatkan—adalah kelompok yang penting, sebab mereka merupakan otoritas keagamaan tertinggi pada masanya dan memiliki pengaruh di seluruh wilayah kerajaan.[26] Kenyataan bahwa maklumat ini dikeluarkan di Memphis, ibu kota lama Mesir, alih-alih Iskandariyah, pusat pemerintahan dinasti Ptolemaik, menandakan bahwa sang raja muda amat menginginkan dukungan aktif dari mereka.[27] Maka, meskipun pemerintah Mesir telah menggunakan bahasa Yunani sejak wilayahnya ditaklukkan oleh Aleksander Agung, maklumat Memphis, sebagaimana tiga maklumat serupa sebelumnya, juga menambahkan teks dalam bahasa Mesir untuk menunjukkan keeratan terhadap masyarakat awam, melalui kependetaan Mesir yang melek huruf.[28]

Tidak ada terjemahan bahasa Inggris yang pasti untuk maklumat ini, bukan hanya karena pemahaman modern akan bahasa-bahasa kuno yang masih berkembang, tetapi juga karena adanya perbedaan-perbedaan kecil antara ketiga teks asli. Terjemahan-terjemahan terdahulu dari E. A. Wallis Budge (1904, 1913)[29] dan Edwyn R. Bevan (1927)[30] dapat dengan mudah didapatkan meskipun sekarang sudah usang, terutama jika dibandingkan dengan terjemahan lebih mutakhir oleh R. S. Simpson, yang didasarkan pada teks demotik dan tersedia secara daring,[31] atau, yang paling lengkap dari semuanya, dengan terjemahan modern dari keseluruhan teks, ditambah mukadimah serta salinan gambar, yang diterbitkan oleh Quirke dan Andrews pada 1989.[32]

Besar kemungkinan bahwa prasasti ini awalnya ditempatkan bukan di wilayah Rashid (Rosetta), tetapi di sebuah kuil yang terletak lebih jauh di pedalaman, mungkin di kota kerajaan Sais.[33] Kuil tempat prasasti ini berasal kemungkinan ditutup pada tahun 392 M ketika kaisar Romawi Timur Theodosius I memerintahkan penutupan seluruh tempat ibadah non-Kristen.[34] Prasasti ini kemudian pecah pada suatu waktu, dan pecahan terbesarnya menjadi apa yang kita kenal sekarang sebagai Batu Rosetta. Sisa kuil-kuil Mesir Kuno selanjutnya dipakai sebagai bahan bangunan bagi konstruksi baru, dan Batu Rosetta kemungkinan juga digunakan ulang dengan tujuan ini. Prasasti ini kemudian menjadi bagian dari fondasi sebuah benteng yang dibangun oleh Sultan Mamluk Qaitbay (kira-kira 1416/18–1496) untuk mempertahankan cabang Bolbitin dari Sungai Nil di Rashid. Di sana, prasasti ini kemudian tergeletak hingga setidaknya tiga abad sebelum ditemukan kembali.[35]

Tiga prasasti lain yang berkaitan dengan maklumat Memphis yang sama telah ditemukan sejak penemuan Batu Rosetta: Prasasti Nubayrah yang ditemukan di Elefantin dan Noub Taha, serta sebuah prasasti yang terpahat di Kuil Philae (tepatnya di obelisk Philae).[36] Tidak seperti Batu Rosetta, naskah hieroglif dalam prasasti-prasasti ini masih relatif utuh. Batu Rosetta telah berhasil diuraikan jauh sebelum prasasti-prasasti ini ditemukan, tetapi ahli-ahli Egiptologi belakangan juga menggunakan prasasti-prasasti ini untuk memperbagus rekonstruksi hieroglif yang dipakai dalam bagian yang hilang dari Batu Rosetta.

Penemuan kembaliSunting

 
Laporan ketibaan Batu Rosetta dalam The Gentleman's Magazine di Inggris tahun 1802

Ekspedisi militer Napoleon di Mesir pada tahun 1798 memicu gelombang Egiptomania di Eropa, khususnya di Prancis. Regu yang terdiri dari 167 tenaga ahli (savants) yang dikenal dengan sebutan Commission des Sciences et des Arts menemani Pasukan Revolusioner Prancis di Mesir. Pada 15 Juli 1799, pasukan Prancis di bawah kepemimpinan Kolonel d'Hautpoul memperkuat pertahanan Fort Julien yang terletak beberapa kilometer di sebelah timur laut kota pelabuhan Rosetta (kini disebut Rashid). Letnan Pierre-François Bouchard melihat sebuah lempengan yang memuat inskripsi.[37] Ia dan d'Hautpoul langsung sadar bahwa lempengan tersebut mungkin punya nilai yang tinggi, dan mereka memberi tahu Jacques-François Menou, yang saat itu kebetulan sedang berada di Rosetta.[A] Temuan tersebut diberitahukan kepada perkumpulan ilmiah yang baru didirikan Napoleon di Kairo, Institut d'Égypte, di dalam sebuah laporan yang disusun oleh anggota Komisi Michel Ange Lancret. Laporan tersebut menyatakan bahwa lempengan ini berisikan tiga inskripsi, yang pertama dalam bentuk hieroglif dan yang ketiga dalam aksara Yunani. Ia mengungkapkan dugaannya (yang terbukti benar) bahwa ketiga inskripsi tersebut memuat naskah yang sama. Laporan Lancret (yang bertanggal 19 Juli 1799) dibacakan di pertemuan Institute tidak lama setelah 25 Juli. Sementara itu, Bouchard membawa lempengan batu ini ke Kairo untuk diteliti. Napoleon sendiri menyelidiki lempengan yang sudah ia sebut la Pierre de Rosette, "Batu Rosetta", tidak lama sebelum ia kembali ke Prancis pada Agustus 1799.[9]

Penemuan ini dilaporkan dalam Courrier de l'Égypte (koran resmi ekspedisi Prancis) pada bulan September. Seorang wartawan anonim mengungkapkan harapannya bahwa batu ini suatu hari dapat menjadi kunci dalam upaya untuk mengurai sistem hieroglif.[A][9] Pada tahun 1800, tiga tenaga ahli Komisi merancang metode untuk membuat salinan inskripsi yang tertulis di batu ini. Salah satu dari para ahli tersebut adalah Jean-Joseph Marcel, seorang pencetak dan pakar bahasa yang berbakat. Ia dihargai sebagai orang pertama yang menyadari bahwa inskripsi yang kedua di bagian tengah ditulis dalam aksara demotik Mesir dan bukan aksara Suryani, meskipun aksara Demotik jarang digunakan di inskripsi batu dan juga jarang ditemukan oleh para ahli pada masa itu.[9] Sementara itu, seniman dan penemu Nicolas-Jacques Conté adalah orang yang berhasil menemukan cara untuk menggunakan batu ini sebagai blok cetak untuk membuat salinan inskripsinya.[38] Metode yang sedikit berbeda digunakan oleh Antoine Galland. Cetakan yang dihasilkan dibawa ke Paris oleh Jenderal Charles Dugua. Dengan ini para ahli di Eropa dapat melihat inskripsi di batu tersebut dan mencoba mengurainya.[39]

Setelah kepergian Napoleon, pasukan Prancis menahan serangan Britania dan Utsmaniyah selama 18 bulan. Pada Maret 1801, pasukan Britania mendarat di Teluk Abu Qir. Menou kemudian menjadi panglima ekspedisi Prancis. Pasukannya (yang juga diikuti oleh Komisi) bergerak ke utara menuju pesisir Laut Tengah untuk berhadapan dengan musuh. Batu Rosetta dan barang-barang antik lainnya juga ikut dibawa. Menou kalah dalam pertempuran, dan sisa pasukannya mundur ke Aleksandria. Di kota tersebut, mereka dikepung, sementara Batu Rosetta berada di kota tersebut. Menou akhirnya menyerah pada 30 Agustus.[40][41]

Menjadi kepemilikan BritaniaSunting

 
Sisi kiri dan kanan Batu Rosetta, dengan inskripsi dalam bahasa Inggris yang menjelaskan bagaimana batu ini direbut oleh Inggris

Setelah Prancis menyerah, timbul pertanyaan mengenai temuan arkeologis dan ilmiah Prancis di Mesir, terutama artefak, spesimen biologi, catatan, rencana, dan gambar yang dikumpulkan oleh anggota komisi. Menou menolak menyerahkan temuan-temuan tersebut kepada Inggris dan menegaskan bahwa benda-benda tersebut dimiliki oleh Institut d'Égypte. Jenderal Inggris John Hely-Hutchinson menolak mengakhiri pengepungan kecuali jika Menou mau mengalah. Cendekiawan Edward Daniel Clarke dan William Richard Hamilton yang baru tiba dari Inggris bersedia untuk memeriksa koleksi yang ada di Aleksandria, dan mereka mengklaim bahwa mereka telah menemukan banyak artefak yang tidak ditemukan oleh Prancis. Di dalam sebuah surat yang dikirim ke rumah, Clarke berkata: "Kami menemukan jauh lebih banyak daripada yang disampaikan atau dibayangkan".[42]

Hutchinson mengklaim bahwa semua materi ini dimiliki oleh Kerajaan Britania Raya, tetapi cendekiawan Étienne Geoffroy Saint-Hilaire memberitahu Clarke dan Hamilton bahwa Prancis lebih baik membakar semua temuan mereka daripada menyerahkannya begitu saja; ia bahkan menyebut-nyebut soal kehancuran Perpustakaan Aleksandria. Clarke dan Hamilton menyampaikan permintaan cendekiawan Prancis kepada Hutchinson, dan ia akhirnya bersedia mengakui hasil temuan mereka sebagai kepemilikan pribadi para cendekiawan tersebut.[41][43] Menou langsung mengklaim Batu Rosetta sebagai kepemilikannya.[44][41] Hutchinson sadar akan nilai dari batu ini dan menolak klaim Menou. Pada akhirnya dibuat kesepakatan, dan penyerahan benda-benda arkeologis dan ilmiah ini juga ikut diatur dalam ketentuan Menyerahnya Alexandria yang ditandatangani oleh perwakilan pasukan Britania, Prancis, dan Utsmaniyah.

Tidak diketahui secara pasti bagaimana batu ini kemudian menjadi kepemilikan Britania, karena catatan sejarah pada masa tersebut memiliki rincian yang berbeda-beda. Kolonel Tomkyns Hilgrove Turner, yang ditugaskan mengiringi proses pengangkutan batu ini ke Inggris, mengklaim bahwa ia secara langsung menyitanya dair Menou. Dalam catatan sejarah yang lebih rinci, Edward Daniel Clarke mengatakan bahwa seorang "perwira dan anggota Institute" dari Prancis telah mengantarkan dirinya, muridnya John Cripps, dan Hamilton secara diam-diam ke gang di belakang tempat tinggal Menou. Ia lalu menunjukkan Batu Rosetta yang tersembunyi di bawah permadani di antara barang-barang milik Menou. Menurut Clarke, informan mereka takut batu ini akan dicuri jika dilihat oleh pasukan Prancis. Hutchinson langsung diberitahu soal hal ini dan batu ini kemudian diambil (kemungkinan oleh Turner).[45]

Turner membawa batu ini ke Inggris di atas kapal fregat Prancis HMS Egyptienne yang telah dirampas. Kapal ini mendarat di Portsmouth pada Februari 1802.[46] Ia memerintahkan agar batu ini (bersama dengan barang-barang antik lainnya) dipersembahkan di hadapan Raja George III. Sang raja, yang diwakili oleh Menteri Perang Lord Hobart, memberikan arahan agar batu ini disimpan di British Museum. Menurut kisah Turner, ia dan Hobart sepakat bahwa batu ini sebaiknya ditunjukkan kepada para ahli di Society of Antiquaries of London (Turner merupakan anggota perkumpulan ini) sebelum disimpan di museum. Batu ini pertama kali ditunjukkan dan menjadi bahan perbincangan dalam pertemuan perkumpulan tersebut pada 11 Maret 1802.[B][H]

 
Para ahli melihat Batu Rosetta di ajang Kongres Orientalis Internasional Kedua tahun 1874

Pada tahun 1802, Society of Antiquaries of London membuat empat cetakan inskripsi dalam bentuk plaster, masing-masing kemudian diberikan kepada Universitas Oxford, Cambridge, Edinburgh, dan Trinity College Dublin. Tak lama kemudian, cetakan inskripsi ini juga dibuat dan dibagikan kepada para cendekiawan Eropa.[E] Sebelum akhir tahun 1802, batu ini diserahkan kepada British Museum dan disimpan di tempat tersebut hingga kini.[46] Inskripsi baru yang dituliskan dengan warna putih di ujung kiri dan kanan batu tersebut bertuliskan "Diambil di Mesir oleh Angkatan Darat Britania tahun 1801" dan "Dipersembahkan oleh Raja George III".[2]

Batu ini dipamerkan di British Museum sejak Juni 1802.[6] Pada pertengahan abad ke-19, Batu Rosetta diberi nomor penyimpanan "EA 24", dan "EA" merupakan singkatan dari "Egyptian Antiquities". Batu ini menjadi bagian dari koleksi monumen Mesir Kuno yang diambil dari Prancis, termasuk sarkofagus Firaun Nectanebo II (EA 10), patung Imam Agung Amun (EA 81), dan kepalan tangan besar yang terbuat dari granit (EA 9).[47] Peninggalan-peninggalan ini ternyata terlalu berat untuk lantai Montagu House (gedung British Museum yang pertama), sehingga barang-barang tersebut kemudian dipindahkan ke bilik baru yang ditambahkan di gedung tersebut. Batu Rosetta dipindah ke galeri pahatan pada tahun 1834 tak lama setelah Montagu House dirobohkan dan digantikan oleh gedung British Museum yang masih berdiri hingga kini.[48] Menurut catatan British Museum, Batu Rosetta adalah benda yang paling banyak didatangi di museum tersebut.[49] Kartu pos dengan gambar batu ini bahkan menjadi kartu pos yang paling banyak terjual selama beberapa dasawarsa/[50]

 
Para pengunjung British Museum melihat Batu Rosetta pada tahun 1985
 
Kerumunan pengunjung melihat Batu Rosetta di British Museum

Batu Rosetta pada awalnya dipamerkan dengan sudut yang hampir horizontal dan bersandar di atas logam yang dibuat khusus untuk menopangnya.[48] Pada awalnya batu ini tidak memiliki lapisan pelindung. Pada tahun 1847, kerangka pelindung mulai dipasang walaupun ada penjaga yang memastikan bahwa pengunjung nakal tidak akan menyentuh batu ini.[51] Semenjak tahun 2004, batu ini dipajang di dalam kotak khusus di tengah Galeri Pahatan Mesir. Tiruan Batu Rosetta kini juga tersedia di King's Library British Museum tanpa ada kotak dan boleh disentuh, sebagaimana pengunjung pada awal abad ke-19 melihat batu ini.[52]

Pada tahun 1917, menjelang akhir Perang Dunia I, British Museum merasa khawatir akan serangan udara Jerman di London, sehingga Batu Rosetta dan barang-barang berharga lainnya diamankan. Batu ini disimpan selama dua tahun di stasiun Postal Tube Railway yang terletak 15 meter di bawah tanah di Mount Pleasant (di dekat Holborn).[53] Selain pada saat perang, Batu Rosetta hanya pernah satu kali dibawa keluar dari British Museum, yakni selama satu bulan pada Oktober 1972 untuk dipajang di Louvre di Paris bersama dengan surat Champollion kepada M. Dacier untuk memperingati 150 tahun penerbitan surat tersebut.[50] Ketika proyek konservasi terhadap batu ini dilaksanakan pada tahun 1999, pengerjaannya bahkan dilakukan di dalam galeri agar peninggalan sejarah ini tetap dapat dinikmati oleh khalayak umum.[54]

Penguraian inskripsi Batu RosettaSunting

Sebelum penemuan kembali Batu Rosetta dan penguraiannya, bahasa Mesir kuno dan aksaranya tidak dapat dibaca ataupun dipahami sejak runtuhnya Kekaisaran Romawi. Penggunaan aksara hieroglif menjadi semakin terspesialisasi bahkan pada akhir zaman Firaun; pada abad ke-4 Masehi, hanya sedikit orang Mesir yang bisa membacanya. Penggunaan hieroglif secara monumental sudah berakhir setelah semua kuil pagan ditutup pada tahun 391 oleh Kaisar Romawi Theodosius I; inskripsi terakhir yang telah ditemukan bertanggal 24 Agustus 394 dari Filae dan dikenal dengan sebutan Graffito Esmet-Akhom.[55]

Tidak seperti alfabet Yunani ataupun Latin, hieroglif tetap terlihat seperti gambar, dan para penulis klasik juga menegaskan perbedaan ini. Pada abad kelima, imam Horapollo menulis Hieroglyphica yang menjelaskan hampir 200 glif. Karyanya dianggap terandalkan, tetapi juga mengandung banyak hal yang menyesatkan. Akibatnya, karya ini menghambat upaya untuk memahami tulisan Mesir.[56] Sejarawan Arab di Mesir pada abad kesembilan dan kesepuluh kemudian juga mencoba mengurai hieroglif Mesir. Dhul-Nun al-Misri dan Ibnu Wahshiyya adalah dua sejarawan pertama yang pertama kali mempelajari hieroglif dengan membandingkannya dengan bahasa Koptik yang digunakan oleh para imam Kristen Mesir pada masa tersebut.[57][58] Kajian hieroglif ini dilanjutkan oleh para ahli Eropa, terutama oleh Johannes Goropius Becanus pada abad ke-16, Athanasius Kircher pada abad ke-17, dan Georg Zoëga pada abad ke-18, tetapi upaya-upaya ini tidak membuahkan hasil.[59] Penemuan Batu Rosetta pada tahun 1799 memberikan informasi penting yang sebelumnya sudah hilang. Informasi ini secara bertahap ditemukan oleh berbagai ahli, dan pada akhirnya Jean-François Champollion berhasil memecahkan teka teki yang disebut "teka teki Sphinx" oleh Kircher.[60]

Tulisan YunaniSunting

 
Reka ulang teks Yunani yang hilang menurut Richard Porson (1803)

Tulisan Yunani di Batu Rosetta menjadi titik awal untuk mengurai keseluruhan inskripsi di batu ini. Para ahli di Barat banyak yang menguasai bahasa Yunani Kuno, tetapi mereka tidak mengenal istilah-istilah khusus dalam konteks pemerintahan yang digunakan di Mesir pada masa Helenistik; papirus-papirus berbahasa Yunani dalam jumlah yang besar masih belum ditemukan pada saat itu. Oleh sebab itu, para ahli mengalami kesulitan dalam upaya untuk menerjemahkan isinya. Terjemahan teks ini dari bahasa Yunani Kuno ke bahasa Inggris disampaikan secara lisan oleh Stephen Weston di pertemuan Society of Antiquaries pada April 1802.[61][62]

Sementara itu, dua salinan litografik yang dibuat di Mesir didapat oleh Institut de France di Paris pada tahun 1801. Gabriel de La Porte du Theil kemudian mulai mengerjakan proses penerjemahan ke dalam bahasa Yunani, tetapi tak lama kemudian ia dipindahtugaskan oleh Napoleon. Hasil kerjanya yang belum selesai diserahkan kepada Hubert-Pascal Ameilhon. Ameilhon menjadi orang pertama yang menerbitkan terjemahan teks Yunani di Batu Rosetta pada tahun 1803; ia menghasilkan terjemahan ke dalam bahasa Latin dan Prancis dengan maksud agar isinya bisa disebarluaskan.[H] Di Cambridge, Richard Porson mencoba mengetahaui teks Yunani di pojok kanan bawah yang hilang. Ia melakukan proses reka ulang, dan hasilnya kemudian disebarkan di kalangan Society of Antiquaries bersama dengan cetakan inskripsinya. Pada saat yang sama, Christian Gottlob Heyne di Göttingen membuat terjemahan baru ke dalam bahasa Latin yang lebih terandalkan daripada Ameilhon, dan terjemahan ini diterbitkan pada tahun 1803.[G] Terjemahan ini dicetak ulang oleh Society of Antiquaries dalam edisi khusus jurnal Archaeologia tahun 1811 bersama dengan terjemahan Weston yang sebelumnya belum diterbitkan, narasi Kolonel Turner, dan dokumen-dokumen lainnya.[H][63][64]

Tulisan demotikSunting

Pada saat Batu Rosetta ditemukan, diplomat dan cendekiawan Swedia Johan David Åkerblad meneliti sebuah aksara yang masih diselubungi misteri pada masa itu, dan pada masa tersebut juga hanya terdapat beberapa contoh yang telah ditemukan di Mesir. Aksara ini kemudian dikenal dengan sebutan demotik. Ia menyebutnya "Koptik kursif" karena ia yakin bahwa aksara tersebut digunakan untuk mencatat salah satu bentuk bahasa Koptik (yang merupakan keturunan langsung dari bahasa Mesir Kuno), walaupun aksara tersebut sangat berbeda dengan aksara Koptik. Tokoh Orientalis Prancis Antoine-Isaac Silvestre de Sacy membahas hal ini dengan Åkerblad saat ia menerima salah satu cetakan litograf pertama Batu Rosetta dari Menteri Dalam Negeri Prancis Jean-Antoine Chaptal pada tahun 1801. Ia menyadari bahwa teks yang ada di tengah Batu Rosetta sama dengan aksara ini. Ia dan Åkerblad lalu mulai bekerja dan mencurahkan perhatian mereka pada bagian tengah dengan dugaan bahwa aksara tersebut bersifat alfabetik. Mereka mencoba menemukenali tempat-tempat munculnya nama Yunani di teks tersebut dengan membandingkannya dengan teks Yunaninya. Pada tahun 1802, Silvestre de Sacy melaporkan kepada Chaptal bahwa ia berhasil menemukenali lima nama ("Aleksandros", "Aleksandreia", "Ptolemaios", "Arsinoe", dan gelar Ptolemaios "Epifanis").[C] Sementara itu, Åkerblad mencatat keberadaan 29 huruf (lebih dari setengahnya terbukti benar) yang telah ia temukenali berdasarkan nama-nama Yunani yang disebutkan di teks demotiknya.[D][61] Namun, mereka tidak berhasil mengurai karakter-karakter lainnya, yang kelak terbukti tidak hanya bersifat alfabetik, tetapi juga ideografik ditambah dengan keberadaan simbol-simbol fonetik dan simbol-simbol lain.[65]

Tulisan hieroglifSunting

 
Tabel karakter fonetik hieroglifik dibandingkan dengan bentuk demotik dan Koptik (menurut Champollion, 1822)

Silvestre de Sacy akhirnya tak lagi meneruskan upayanya untuk mengurai inskripsi di batu ini, tetapi ia masih dapat memberikan sumbangsih ilmiah yang lain. Pada tahun 1811, setelah berdiskusi dengan seorang siswa Tionghoa mengenai aksara Tionghoa, Silvestre de Sacy mulai mempertimbangkan masukan dari Georg Zoëga pada tahun 1797 bahwa nama-nama asing di inskripsi hieroglif Mesir mungkin ditulis secara fonetik. Ia juga mengingat kembali bahwa pada tahun 1761, Jean-Jacques Barthélemy menggagas kemungkinan bahwa karakter-karakter yang tertulis dalam cartouche merupakan sebuah nama. Maka dari itu, ketika Thomas Young (sekretaris urusan luar negeri Royal Society of London) menulis surat kepadanya mengenai Batu Rosetta pada tahun 1814, Silvestre de Sacy menjawab bahwa dalam upaya untuk membaca teks hieroglif, Young mungkin perlu mencari cartouche yang berisikan nama Yunani dan mencoba menemukenali karakter-karakter fonetik yang ada.[66]

Young mengikuti saran tersebut, dan dua hasil penelitiannya membuka jalan bagi upaya untuk menguraikan hieroglif di Batu Rosetta. Dalam teks hieroglif tersebut, ia menemukan karakter fonetik "p t o l m e s" (berdasarkan transliterasi saat ini: "p t w l m y s") yang dipakai untuk menulis nama Yunani "Ptolemaios". Ia juga menyadari bahwa karakter tersebut menyerupai karakter yang tertulis dalam aksara demotik. Ia lalu mencatat 80 kemiripan antara teks hieroglif dan demotik. Temuan ini sangat penting karena kedua aksara tersebut sebelumnya diduga sangat berbeda. Dengan ini ia dapat menerka bahwa aksara demotik tidak sepenuhnya bersifat fonetik, tetapi juga terdiri dari karakter-karakter ideografik yang berasal dari hieroglif.[I] Temuan Young disoroti dalam artikel "Mesir" yang ia tulis untuk Encyclopædia Britannica pada tahun 1819.[J] Namun, ia tidak berhasil menguraikan lebih dari itu.[67]

Pada tahun 1814, Young mulai bertukar surat dengan Jean-François Champollion, seorang guru di Grenoble yang telah menghasilkan berbagai karya penelitian mengenai Mesir Kuno. Champollion melihat salinan inskripsi hieroglif dan Yunani di obelisk Filae pada tahun 1822. William John Bankes telah mencatat keberadaan nama "Ptolemaios" dan "Kleopatra" di inskripsi tersebut.[68] Dengan menggunakan temuan ini, Champollion berhasil menemukenali karakter fonetik k l e o p a t r a (transliterasi saat ini: q l i҆ w p 3 d r 3.t).[69] Dengan ini ia dapat mereka ulang alfabet yang terdiri dari karakter hieroglif fonetik yang dijelaskan dalam suratnya yang terkenal, "Lettre à M. Dacier", yang dikirim pada tahun 1822 kepada Bon-Joseph Dacier, Sekretaris Académie des Inscriptions et Belles-Lettres di Paris; temuan ini kemudian diterbitkan oleh Académie tersebut.[K] Dalam catatan tambahannya, Champollion menyatakan bahwa karakter fonetik serupa tampaknya juga muncul dalam nama Yunani maupun Mesir; hipotesis ini terbukti benar pada tahun 1823 setelah ia berhasil menemukenali nama firaun Ramses dan Thutmose yang tertulis di cartouche di Abu Simbel. Inskripsi hieroglif yang jauh lebih tua ini disalin oleh Bankes dan kemudian dikirim kepada Champollion oleh Jean-Nicolas Huyot.[M] Semenjak itu, penelitian Batu Rosetta dan upaya penguraian hieroglif Mesir tidak lagi menjadi suatu kesatuan, karena Champollion menggunakan banyak teks lain untuk mereka ulang tata bahasa Mesir Kuno dan menyusun kamus hieroglif yang diterbitkan setelah kemangkatannya pada tahun 1832.[70]

Penelitian selanjutnyaSunting

 
Tiruan Batu Rosetta yang boleh disentuh di King's Library British Museum

Penelitian terhadap Batu Rosetta kini lebih berfokus pada upaya untuk memahami tulisannya secara lebih menyeluruh dan juga konteksnya. Hal ini dilakukan dengan membandingkan ketiga jenis tulisan di batu ini. Pada tahun 1824, ahli sejarah klasik Antoine-Jean Letronne menjanjikan terjemahan harfiah baru dari tulisan Yunaninya untuk digunakan oleh Champollion. Sebagai gantinya, Champollion berjanji akan mengkaji segala hal yang kelihatannya saling bertentangan di ketiga jenis tulisannya. Setelah kematian Champollion secara mendadak pada tahun 1832, rancangan hasil kajiannya tidak dapat ditemukan, sehingga penelitian Letronne pun terhenti. François Salvolini, mantan murid dan asisten Champollion, meninggal pada tahun 1838. Hasil kajian Champollion dan rancangan-rancangan lainnya yang hilang ditemukan di antara berkas-berkas yang dimiliki oleh sang mantan murid tersebut. Temuan ini secara tidak sengaja menunjukkan bahwa tulisan Salvolini mengenai batu ini (yang diterbitkan tahun 1837) merupakan hasil jiplakan.[O] Letronne paling tidak berhasil menyelesaikan tafsir tulisan Yunani di Batu Rosetta dan juga menyelesaikan terjemahan ke dalam bahasa Prancis yang baru (pertama kali terbit tahun 1841).[P] Pada awal dasawarsa 1850-an, ahli Egiptologi Jerman Heinrich Brugsch dan Max Uhlemann menerbitkan terjemahan Latin yang didasarkan pada tulisan demotik dan hieroglif di Batu Rosetta.[Q][R] Terjemahan Inggris kemudian diterbitkan pada tahun 1858, dan terjemahan ini merupakan buah karya tiga anggota Philomathean Society di Universitas Pennsylvania.[S]

Pertanyaan yang masih menjadi bahan perdebatan saat ini adalah tulisan mana yang menjadi versi standar dari inskripsi di Batu Rosetta. Pada tahun 1841, Letronne mencoba menunjukkan bahwa tulisan Yunaninya (yang dibuat oleh pemerintah Mesir di bawah Wangsa Ptolemaios) merupakan versi aslinya.[P] Sementara itu, ahli Egiptologi Britania John D. Ray menulis bahwa "hieroglif merupakan aksara yang paling penting di batu ini: aksara tersebuta ada di situ untuk dibaca oleh para dewa, dan imam mereka yang paling terpelajar".[7] Philippe Derchain dan Heinz Josef Thissen berpendapat bahwa ketiga versi ini ditulis secara bersamaan, sementara Stephen Quirke merasa maklumat ini merupakan "peleburan yang rumit dari tiga tradisi tekstual yang penting".[71] Richard Parkinson merasa bahwa versi hieroglifnya menyimpang dari formalisme kuno dan kadang-kadang menggunakan bahasa yang lebih mirip dengan laras bahasa demotik yang lebih umum digunakan dalam percakapan sehari-hari oleh para imam.[72] Fakta bahwa ketiga tulisan di batu ini tidak dapat disamakan secara kata-per-kata dapat menjelaskan mengapa proses penguraiannya lebih sulit daripada yang diperkirakan.[73]

PersainganSunting

 
Salinan Batu Rosetta dengan ukuran raksasa buatan Joseph Kosuth di Figeac (kota kelahiran Jean-François Champollion)

Sebelum penjiplakan yang dilakukan oleh Salvolini terbongkar, tuduhan-tuduhan plagiarisme telah dilontarkan dalam sejarah upaya penguraian Batu Rosetta. Karya Thoams Young diberikan atribusi dalam Lettre à M. Dacier tahun 1822, tetapi para kritikus Britania pada masa itu menganggapnya tidak lengkap. Sebagai contoh, James Browne (penyunting Encyclopædia Britannica yang menerbitkan artikel Young pada tahun 1819) secara awanama menerbitkan sejumlah artikel tinjauan di Edinburgh Review pada tahun 1823 yang memuji hasil karya Young dan melayangkan tuduhan plagiarisme kepada Champollion.[74][75] Artikel-artikel ini diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis oleh Julius Klaproth dan diterbitkan dalam bentuk buku pada tahun 1827.[N] Publikasi Young yang diterbitkan tahun 1823 juga menegaskan kembali sumbangsih yang telah ia berikan terhadap upaya penguraian.[L] Kematian Young (1829) dan Champollion (1832) tidak mengakhiri perdebatan ini. Dalam tulisannya mengenai Batu Rosetta pada tahun 1904, E. A. Wallis Budge memberikan sorotan khusus terhadap sumbangsih Young.[76] Pada awal dasawarsa 1970-an, para pengunjung Prancis mengeluh karena gambar Champollion lebih kecil daripada Young di panel keterangan, sementara pengunjung Inggris mengeluhkan hal yang sebaliknya. Nyatanya kedua gambar ini memiliki ukuran yang sama.[50]

Permohonan pengembalianSunting

 
Tiruan Batu Rosetta di Rashid (Rosetta), Mesir

Pada Juli 2003, Sekretaris Jenderal Dewan Tertinggi Barang Purbakala Mesir, Zahi Hawas, menyerukan agar Batu Rosetta dikembalikan ke Mesir. Seruan ini (yang disampaikan di media Mesir dan internasional) juga menyatakan bahwa batu tersebut merupakan "lambang identitas Mesir kami".[77] Ia mengulangi permintaan ini dua tahun kemudian di Paris dengan memasukkan batu ini ke dalam daftar barang-barang penting yang termasuk ke dalam warisan budaya Mesir (yang juga termasuk Patung Dada Nefertiti di Ägyptisches Museum Berlin; patung arsitek Piramida Agung Giza, Hemiunu, di Roemer-und-Pelizaeus-Museum, Hildesheim; Zodiak Kuil Dendera di Louvre; dan Patung Dada Ankhhaf di Museum Seni Rupa Boston).[78]

Pada tahun 2005, British Museum memberikan kepada Mesir tiruan Batu Rosetta. Tiruan ini awalnya dipamerkan di Museum Nasional Rashid yang baru direnovasi.[79] Pada November 2005, Hawass mengusulkan agar British Museum meminjamkan Batu Rosetta selama tiga bulan, dan pada saat yang sama ia mengulangi kembali tujuan jangka panjang Mesir untuk memperoleh kembali batu ini.[80] Pada Desember 2009, ia menawarkan pencabutan klaim pengembalian secara permanen apabila British Museum mau meminjamkan batu ini selama tiga bulan untuk ajang pembukaan Museum Besar Mesir di Giza pada tahun 2013.[81]

Seperti yang diungkapkan oleh John Ray, "suatu saat mungkin batu ini akan menghabiskan lebih banyak waktu di British Museum daripada di Rosetta."[82] Museum-museum nasional menolak mengembalikan peninggalan-peninggalan budaya yang sangat penting seperti Batu Rosetta. Untuk menanggapi permintaan yang berulang kali disampaikan dari Yunani untuk mengembalikan Pualam Elgin (yang berasal dari Parthenon) dan juga permintaan-permintaan serupa dari museum-museum lain di dunia, lebih dari 30 museum besar dunia (termasuk British Museum, Louvre, Museum Pergamon di Berlin, dan Metropolitan Museum di New York City) mengeluarkan pernyataan bersama pada tahun 2002 bahwa "benda-benda yang diperoleh pada masa sebelumnya harus dilihat sejalan dengan kepekaan dan nilai dari masa tersebut" dan "museum tidak hanya untuk warga satu bangsa saja, tetapi untuk semua orang dari segala bangsa".[83]

RujukanSunting

Catatan kakiSunting

  1. ^ Bierbrier (1999) hlm. 111–113
  2. ^ a b c Parkinson et al. (1999) hlm. 23
  3. ^ Synopsis (1847) hlm. 113–114
  4. ^ Miller et al. (2000) hlm. 128–132
  5. ^ a b Middleton and Klemm (2003) hlm. 207–208
  6. ^ a b The Rosetta Stone
  7. ^ a b c Ray (2007) hlm. 3
  8. ^ Parkinson et al. (1999) hlm. 28
  9. ^ a b c d Parkinson et al. (1999) hlm. 20
  10. ^ Budge (1913) hlm. 2–3
  11. ^ Budge (1894) hlm. 106
  12. ^ Budge (1894) hlm. 109
  13. ^ Parkinson et al. (1999) hlm. 26
  14. ^ Parkinson et al. (1999) hlm. 25
  15. ^ Clarysse and Van der Veken (1983) hlm. 20–21
  16. ^ a b c Parkinson et al. (1999) hlm. 29
  17. ^ Shaw & Nicholson (1995) hlm. 247
  18. ^ Tyldesley (2006) hlm. 194
  19. ^ a b Clayton (2006) hlm. 211
  20. ^ Bevan (1927) hlm. 252–262
  21. ^ Assmann (2003) hlm. 376
  22. ^ Clarysse (1999) hlm. 51, dengan kutipan dari Quirke and Andrews (1989)
  23. ^ a b Bevan (1927) hlm. 264–265
  24. ^ Ray (2007) hlm. 136
  25. ^ Parkinson et al. (1999) hlm. 30
  26. ^ Shaw (2000) hlm. 407
  27. ^ Walker and Higgs (editors, 2001) hlm. 19
  28. ^ Bagnall and Derow (2004) (no. 137 in online version)
  29. ^ Budge (1904); Budge (1913)
  30. ^ Bevan (1927) hlm. 263–268
  31. ^ Simpson (n. d.); versi revisi dari Simpson (1996) hlm. 258–271
  32. ^ Quirke and Andrews (1989)
  33. ^ Parkinson (2005) hlm. 14
  34. ^ Parkinson (2005) hlm. 17
  35. ^ Parkinson (2005) hlm. 20
  36. ^ Clarysse (1999) hlm. 42; Nespoulous-Phalippou (2015) hlm. 283–285
  37. ^ Benjamin, Don C. (March 2009). Stones and stories: an introduction to archaeology and the Bible. Fortress Press. hlm. 33. ISBN 978-0-8006-2357-9. Diakses tanggal 14 July 2011. 
  38. ^ Adkins (2000) hlm. 38
  39. ^ Gillispie (1987) hlm. 1–38
  40. ^ Wilson (1803) vol. 2 hlm. 274–284
  41. ^ a b c Parkinson et al. (1999) hlm. 21
  42. ^ Burleigh (2007) hlm. 212
  43. ^ Burleigh (2007) hlm. 214
  44. ^ Budge (1913) hlm. 2
  45. ^ Parkinson et al. (1999) hlm. 21–22
  46. ^ a b Andrews (1985) hlm. 12
  47. ^ Parkinson (2005) hlm. 30–31
  48. ^ a b Parkinson (2005) hlm. 31
  49. ^ Parkinson (2005) hlm. 7
  50. ^ a b c Parkinson (2005) hlm. 47
  51. ^ Parkinson (2005) hlm. 32
  52. ^ Parkinson (2005) hlm. 50
  53. ^ "Everything you ever wanted to know about the Rosetta Stone" (British Museum, 14 Juli 2017)
  54. ^ Parkinson (2005) hlm. 50–51
  55. ^ Ray (2007) hlm. 11
  56. ^ Parkinson et al. (1999) hlm. 15–16
  57. ^ El Daly (2005) hlm. 65–75
  58. ^ Ray (2007) hlm. 15–18
  59. ^ Ray (2007) hlm. 20–24
  60. ^ Powell, Barry B. (2009-05-11). Writing: Theory and History of the Technology of Civilization (dalam bahasa Inggris). John Wiley & Sons. hlm. 91. ISBN 978-1-4051-6256-2. 
  61. ^ a b Budge (1913) hlm. 1
  62. ^ Andrews (1985) hlm. 13
  63. ^ Budge (1904) hlm. 27–28
  64. ^ Parkinson et al. (1999) hlm. 22
  65. ^ Robinson (2009) hlm. 59–61
  66. ^ Robinson (2009) hlm. 61
  67. ^ Robinson (2009) hlm. 61–64
  68. ^ Parkinson et al. (1999) hlm. 32
  69. ^ Budge (1913) hlm. 3–6
  70. ^ Dewachter (1990) hlm. 45
  71. ^ Quirke and Andrews (1989) hlm. 10
  72. ^ Parkinson (2005) hlm. 13
  73. ^ Parkinson et al. (1999) hlm. 30–31
  74. ^ Parkinson et al. (1999) hlm. 35–38
  75. ^ Robinson (2009) hlm. 65–68
  76. ^ Budge (1904) vol. 1 hlm. 59–134
  77. ^ Edwardes and Milner (2003)
  78. ^ Sarah El Shaarawi (5 Oktober 2016). "Egypt's Own: Repatriation of Antiquities Proves to be a Mammoth Task". Newsweek – Middle East. 
  79. ^ "Rose of the Nile" (2005)
  80. ^ Huttinger (2005)
  81. ^ "Antiquities wish list" (2005)
  82. ^ Ray (2007) hlm. 4
  83. ^ Bailey (2003)

Garis waktu publikasi awal tentang Batu RosettaSunting

  1. ^ 1799: Courrier de l'Égypte no. 37 (29 Fructidor year 7, i.e. 1799) hlm.3 Diakses July 15, 2018
  2. ^ 1802: "Domestic Occurrences: March 31st, 1802" in The Gentleman's Magazine vol. 72 part 1 hlm. 270 http://babel.hathitrust.org/cgi/pt?id%3Dmdp.39015027527129 Diakses July 14, 2010]
  3. ^ 1802: Silvestre de Sacy, Lettre au Citoyen Chaptal, Ministre de l'intérieur, Membre de l'Institut national des sciences et arts, etc: au sujet de l'inscription Égyptienne du monument trouvé à Rosette. Paris, 1802 Diakses July 14, 2010
  4. ^ 1802: Johan David Åkerblad, Lettre sur l'inscription Égyptienne de Rosette: adressée au citoyen Silvestre de Sacy, Professeur de langue arabe à l'École spéciale des langues orientales vivantes, etc.; Réponse du citoyen Silvestre de Sacy. Paris: L'imprimerie de la République, 1802
  5. ^ 1803: "Has tabulas inscriptionem ... ad formam et modulum exemplaris inter spolia ex bello Aegyptiaco nuper reportati et in Museo Britannico asservati suo sumptu incidendas curavit Soc. Antiquar. Londin. A.D. MDCCCIII" in Vetusta Monumenta vol. 4 plates 5–7
  6. ^ 1803: Hubert-Pascal Ameilhon, Éclaircissemens sur l'inscription grecque du monument trouvé à Rosette, contenant un décret des prêtres de l'Égypte en l'honneur de Ptolémée Épiphane, le cinquième des rois Ptolémées. Paris: Institut National, 1803 Diakses July 14, 2010
  7. ^ 1803: Chr. G. Heyne, "Commentatio in inscriptionem Graecam monumenti trinis insigniti titulis ex Aegypto Londinum apportati" in Commentationes Societatis Regiae Gottingensis vol. 15 (1800–1803) hlm.260 ff.
  8. ^ a b 1811: Matthew Raper, S. Weston et al., "Rosetta stone, brought to England in 1802: Account of, by Matt. Raper; with three versions: Greek, English translation by S. Weston, Latin translation by Prof. Heyne; with notes by Porson, Taylor, Combe, Weston and Heyne" in Archaeologia vol. 16 (1810–1812) hlm. 208–263
  9. ^ 1817: Thomas Young, "Remarks on the Ancient Egyptian Manuscripts with Translation of the Rosetta Inscription" in Archaeologia vol. 18 (1817) Diakses July 14, 2010 (lihat hlm. 1–15)
  10. ^ 1819: Thomas Young, "Egypt" in Encyclopædia Britannica, supplement vol. 4 part 1 (Edinburgh: Chambers, 1819) Diakses July 14, 2010 (lihat hlm. 86–195)
  11. ^ 1822: J.-F. Champollion, Lettre à M. Dacier relative à l'alphabet des hiéroglyphes phonétiques (Paris, 1822) At Gallica: Diakses July 14, 2010 at French Wikisource
  12. ^ 1823: Thomas Young, An account of some recent discoveries in hieroglyphical literature and Egyptian antiquities: including the author's original alphabet, as extended by Mr. Champollion, with a translation of five unpublished Greek and Egyptian manuscripts (London: John Murray, 1823) Diakses July 14, 2010
  13. ^ 1824: J.-F. Champollion, Précis du système hiéroglyphique des anciens Égyptiens. Paris, 1824 Online version at archive.org 2nd ed. (1828) At Gallica: Diakses July 14, 2010
  14. ^ 1827: James Browne, Aperçu sur les hiéroglyphes d'Égypte et les progrès faits jusqu'à présent dans leur déchiffrement (Paris, 1827; based on a series of articles in Edinburgh Review beginning with no. 55 (February 1823) hlm. 188–197) Diakses July 14, 2010
  15. ^ 1837: François Salvolini, "Interprétation des hiéroglyphes: analyse de l'inscription de Rosette" in Revue des deux mondes vol. 10 (1937) At French Wikisource
  16. ^ a b 1841: Antoine-Jean Letronne, Inscription grecque de Rosette. Texte et traduction littérale, accompagnée d'un commentaire critique, historique et archéologique. Paris, 1840 (issued in Carolus Müllerus, ed., Fragmenta historicorum Graecorum vol. 1 (Paris: Didot, 1841)) Diakses July 14, 2010 (see end of volume)
  17. ^ 1851: H. Brugsch, Inscriptio Rosettana hieroglyphica, vel, Interpretatio decreti Rosettani sacra lingua litterisque sacris veterum Aegyptiorum redactae partis ... accedunt glossarium Aegyptiaco-Coptico-Latinum atque IX tabulae lithographicae textum hieroglyphicum atque signa phonetica scripturae hieroglyphicae exhibentes. Berlin: Dümmler, 1851 Diakses July 14, 2010
  18. ^ 1853: Max Uhlemann, Inscriptionis Rosettanae hieroglyphicae decretum sacerdotale. Leipzig: Libraria Dykiana, 1853 Diakses July 14, 2010
  19. ^ 1858: Report of the committee appointed by the Philomathean Society of the University of Pennsylvania to translate the inscription on the Rosetta stone. Philadelphia, 1858

Daftar pustakaSunting

Pranala luarSunting