Wali Sanga (sinetron)

(Dialihkan dari Wali Songo (sinetron))

Wali Sanga adalah sebuah sinetron kolosal produksi Genta Buana Paramita yang ditayangkan RCTI menjelang Ramadhan 2003. Pemain utama di sinetron ini di antaranya: Choky Adriano, Errina GD, Irman Heryana, Jill Carissa, Afdhal Yusman, Roy Jordy, dan Chairil JM.[1]

Wali Sanga
Berkas:Wali Songo.jpeg
Poster Wali Sanga
GenreEpos
Laga
Religi
Politik
PembuatGenta Buana Paramita
PengarangImam Tantowi
SutradaraIsmail Soebardjo
M.T.Risyaf
PemeranChoky Adriano
Errina GD
Irman Heryana
Jill Carissa
Roy Jordy
Aris Kurniawan
Hans Gunawan
Chairil JM
Husein Khalia
Al Indra
Teddy Uncle
Candy Satrio
Pengisi suaraSanggar Prathivi
Penggubah lagu temaDwiki Dharmawan
Lagu pembukaMadinatul 'Ilmi (Instrument)
Lagu penutupYa Thoybah (Instrument)
Negara asal Indonesia
Bahasa asliIndonesia
Jmlh. musim1
Jmlh. episode52
Produksi
ProduserBudhi Sutrisno
Lokasi produksiJakarta
KameraBambang Trimakno
Kholid Latief
Rumah produksiGenta Buana Paramita
DistributorGenta Buana Paramita
Rilis
Jaringan asliRCTI
Penampilan perdanaSabtu,25 Oktober 2003
Tanggal tayang asliSabtu,25 Oktober 2003 –
2004
Kronologi
Didahului olehNyi Roro Kidul
Dilanjutkan olehPengantin Lembah Hantu

PemeranSunting

Pemeran Sebagai
Choky Adriano Arya Gading
Errina GD Sekar Langit
Irman Heryana Dyah Wijaya Kusuma
Gan Khe Liong
Jill Carissa Siti Jamilah
Roy Jordy Dyah Rana Wijaya
Pangeran Trenggono
Aris Kurniawan Bondan Kayu Wangi
Hans Gunawan Sunan Ampel
Kyai Arum Dalu
Chairil J.M. Sunan Kalijaga
Al Indra Sunan Kudus
Husein Khalia Sunan Giri
Sunan Bonang
Ruslan Basri Sunan Drajat/Sunan Sedayu

Mpu Pambubuh
Ki Dana Daksa

Sunan Muria
Rizal Muhaimin Sri Brahma Raja Gangadara
Sunan Gunung Jati
Jacky Sunan Ngudung
Teddy Uncle Satria Jati/Ki Pandan Arum
Syekh Siti Jenar
Budi Chaerul Dyah Wijaya Karana
Syekh Waliyul Islam
Kyai Jatmiko

Ki Sawen

Alex Bernard Kyai Telingsing

Patih Udara

Diaz Erlangga Dyah Wirabuana
Kebo Kanigoro

Sunan Bayat

Piet Ermas Kebo Peteng
Arif Nurman Senopati Jimbun
Candy Satrio Kebo Kenongo/Ki Ageng Pengging
Tyas Wahono Prabu Ketu Bhuta
Abi Jamilah
Lilis Suganda Permaisuri Prabu Ketu Bhuta
Nyi Ageng Pengging
Lisda Oktaviani Niluh Sukeswari
Afdhal Yusman Bagus Cemara
Pangeran Sabrang Lor
Roy De Benny Mpu Wahan

Patih Wanasalam

Sandy Permana Branjang
Raden Mukmin
Ryan Syehan Fatahillah
Alvin Prasetyo Pangeran Kanduruan/Pangeran Sekar Seda Lepen
Rizal Fadli Panji
Ananta Wikrawa

Syekh Domba

Adipati Terung/Raden Kusen

Kiki Kyai Kanafi
Ricky Adi Bondol
Chaerul J.M. Mpu Supa
Firmansyah Khwaja Zainal Abidin
Amprah Erlangga Ki Sentong
Ki Lodra Murti
Rendy Bramasta Ki Sapto
Arif Iskandar Ki Nala
Garnis Pangandaran Mpu Capana
Sofie Amalia Siti Rahmah

Istri Raden Mukmin

Imelda Soraya Ni Kunti
Tanase Prabaskara
Macan Wulung
Danny Permana Arya Dadu
Tumenggung Jaga Karana
Sunya
Nurkholis Cikur
Luluk Nyi Langsep
Putri Sejati Istri Dyah Wirabuana
Istri Pangeran Umbara
Reyvaldo Luntungan Patih Raja Geger
Ki Wadas Lintang
Jhon Thasrif Pangeran Umbara
Nika Suwarsih Durniti
Ozy Jantur
Novita Mahisa Umi Jamilah
Lucky Hakim Gagak Lodra
Adipati Semarang
Supit Urang Ranggaprana
Rochim Latul Ki Jarang Baya/Ki Megatruh
Arifin Gunawan Raden Amir Hambiyah
Bagong
Herby Latul Ki Ragupal
Ki Bayupati
Ki Tanggung Sakti
Dias Astisa Ni Cinde Dadu
Nyi Ageng Tingkir
Nanda Felandy Ni Kumari Bakung
Bima Sena Ki Saba Paran
Suntoro Aji
Ki Ageng Tingkir
Reynaldi Pangeran Trenggono kecil

Murid Ki Saba Paran
Danang Sulaksono

Chris Chandra Jaka Tingkir kecil
Arya Penangsang kecil
Deonardus Murid Ki Saba Paran
Raden Suteja
Abhie Cancer Slamet
Trixie Fadriane Etheim Siti Aminah
Barry Prabu Pedagang dari Gresik

SinopsisSunting

Menjelang Ramadhan 1424 H, RCTI menghadirkan sinetron kolosal-religius, Wali Sanga (Produksi PT Gentabuana Paramita). Berkisah tentang sembilan orang wali (Dewan Wali) yang hidup di zaman Majapahit. Mereka adalah Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Muria, Sunan Kudus, Sunan Gunung Jati, Sunan Bonang, Sunan Drajad dan Sunan Kalijaga. Sembilan Dewan Wali (Juru Dakwah) ini mengembangkan serta mengajarkan Agama Islam. Bahkan mendukung terbentuknya Kerajaan Islam Demak menjelang kehancuran Majapahit. "Kisah Wali Sanga ini bertutur tentang awal berdirinya Kerajaan Islam Demak dan Mataram,” ujar Imam Tantowi, penulis skenario Wali Sanga.

Sinetron Wali Sanga yang digarap dua sutradara, Ismail Soebardjo dan M.T. Risyaf ini didukung sederet artis yang selama ini memang aktif di peran-peran laga. Seperti Choky Adriano (berperan sebagai Arya Gading), Jill Carissa (Siti Jamilah), Aris K. Yulianto (Bondan Kayuwangi), Errina GD (Sekar Langit), Irman F. Heryana (Gan Khe Liong), Roy Jordy (Dyah Rana Wijaya), Hans Gunawan (Sunan Ampel), Chairil J.M (Sunan Kalijaga), Al-Indra (Sunan Kudus), Rizal Muhaimin (Sunan Gunung Jati), dan Husein Kalia (Sunan Giri). Dikisahkan tentang kehancuran Majapahit yang menjadi pembicaraan sidang para wali yang dihadiri 9 wali. Menurut Sunan Ampel, kemungkinan kebijakan penguasa Majapahit yang sekarang akan sangat berbeda. Sebab sebagai raja Gunung, Betara i Keling (yang berhasil menggulingkan trah Majapahit), masih kurang bersahabat dengan Islam. Sunan Kali Jaga mengusulkan untuk membantu sisa-sisa laskar Majapahit yang masih mengadakan perlawanan kepada kekuatan Batara i Keling. Tapi Sunan Giri menolak dan lebih baik menyusun kekuatan di Glagahwangi untuk secepatnya mendirikan sebuah negara. Sementara Raden Patah (Senopati Jin Bun) mengusulkan untuk lebih dulu mendirikan masjid sebagai tempat berkumpul, tempat pengembangan Islam. Maka mulailah para wali mendirikan Masjid Demak yang terkenal sebagai Mesjid Wali yang terletak di pesisir Jawa.

Selain bertutur tentang nilai-nilai religius, sinetron Wali Sanga juga berkisah tentang persoalan cinta. Salah seorang murid Megatruh bernama Arya Gading, memiliki kekuatan dan ilmu beladiri tinggi, sehingga disenangi para pemimpin juga putera-puteri bangsawan pesisir. Tapi yang diincar Arya adalah keluarga dekat Sultan yang bernama Siti Jamilah.

“Di sini kami tidak menampilkan kesaktian wali-wali. Yang ditampilkan hanya teman atau murid wali yang memiliki kesaktian tinggi,” imbuh Imam Tantowi yang mengaku skenario yang dibuatnya berdasarkan legenda dan juga buku-buku kuno.

ReferensiSunting


Pranala luarSunting