Buka menu utama

Ullath, Saparua Timur, Maluku Tengah

desa di Kabupaten Maluku Tengah

Ullath, kadang dieja pula sebagai Oelat, Ulat, atau Ulath[4] adalah salah satu dari 10 negeri yang termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Saparua Timur, Maluku Tengah, Maluku, Indonesia. Sebelumnya negeri ini termasuk dalam wilayah Kecamatan Saparua hingga pada tahun 2015 Saparua Timur dimekarkan menjadi kecamatan sendiri berdasarkan Perda Maluku Tengah Nomor 11 Tahun 2015.[5] Berdasarkan catatan BPS, Ullath tergolong sebagai negeri swakarya.[6]

Ullath
Beilohy Amalatu
Baileu Ullath.jpg

Baileu Lua Kuhu Negeri Ullath
Negeri
Negara Indonesia
ProvinsiMaluku
KabupatenMaluku Tengah
KecamatanSaparua Timur
Kodepos97592[1]
Luas6,80 km2[2]
Jumlah penduduk1.080 jiwa[3]
Kepadatan159 jiwa/km2

Sebagai sebuah negeri atau desa adat, Ullath dipimpin oleh seorang raja yang berkedudukan layaknya kepala desa. Jabatan raja di Ullath dipangku oleh fam (matarumah parentah) Nikijuluw.[7] Raja Ullath saat ini adalah Abraham William Nikijuluw.[8]

Negeri pesisir ini terletak di jazirah bagian tenggara pulau Saparua bersama dengan Negeri Sirisori Islam, Sirisori Amalatu, dan Ouw. Meskipun negeri dan permukiman penduduk berada di jazirah tenggara, Ullath memiliki tanah petuanan yang berbatasan dengan negeri-negeri yang jauh seperti Tuhaha, Iha, dan Itawaka. Petuanan negeri ini juga meliputi sebagian besar pesisir timur Pulau Saparua.

EtimologiSunting

Nama negeri yang sekarang mulai dipakai tatkala penduduk memilih turun gunung. Gubernur Arnold de Vlamingh van Oudshoorn yang menjabat selama periode 1650-1660 memerintahkan penduduk di Ambon dan Lease untuk bermukim di pantai. Walaupun awalnya terjadi penolakan, perpindahan penduduk dari enam negeri lama (Italili, Amahatu, Soupake, Putimahu, Nokau, dan Yalesi) ke pantai tetap terjadi. Mereka bermukim di negeri yang baru yang terletak di antara Negeri Sirisori dan Ouw yang kala itu sering berperang.[9] Negeri yang baru tersebut dinamai Ullath.

Berdasarkan cerita turun-temurun, nama Ullath didapat dari kata urat yang berarti jamur api.[10] Jamur api adalah sebutan bagi jamur yang dapat memancarkan cahaya saat hari gelap. Tercatat 71 dari 100.000 spesies jamur di seluruh dunia mampu menghasilkan cahaya.[11] Jamur api tumbuh liar secara berkelompok. Manusia biasa menggunakan jamur tersebut sebagai penerangan jika tidak memiliki penerangan lain. Cahayanya cukup untuk melihat sesuatu pada jarak pendek. Menurut tradisi, Ullath yang berada di pantai dibangun dalam kegelapan dalam tempo satu malam saja. Penduduk yang turun ke pantai menggunakan jamur api sebagai penerangan saat membangun negeri. Secara ajaib negeri yang baru sudah ada pada pagi hari dan pada siang hari, negeri sudah memiliki baileu dan rumah-rumah.[12][13]

Satu kisah lagi bercerita bahwa Ullath dinamai demikian sebagai bentuk penghormatan terhadap Abdullah Nekaulu, moyang fam Nikijuluw sekaligus sebagai salah satu orang besar di Ullath. Abdullah disebut berasal dari tempat bernama Ullatho di Pulau Seram sebelah selatan.[14] Ada pun lokasi berdirinya negeri yang baru di tepi pantai diberi nama Nual. Nama yang terinspirasi dari suku Nuaulu, suku asal Abdullah Nekaulu. Ullatho sendiri diyakini berada di sekitaran Sungai Nua.[15]

Negeri Ullath yang berada di pantai diberi teun (gelar atau nama adat) Beilohy Amalatu. Kata beilohy berarti miring, sedangkan amalatu terdiri dari dua kata yakni ama yang berarti bapak atau negeri dan latu yang berarti raja.[16] Gelar adat Beilohy Amalatu dapat diterjemahkan sebagai sebuah negeri di tanah yang miring dan dipimpin oleh seorang bapak yang bergelar tuan latu (raja). Ullath juga dikenal dengan nama Ama Leka-lekano yang berarti negeri yang bergoyang-goyang atau berpindah-pindah tempat.

SejarahSunting

Asal-Usul PendudukSunting

Sejarah menunjukkan bahwa penduduk Ullath berasal dari daerah yang berbeda-beda dalam kurun waktu dan gelombang migrasi yang berlainan. Secara umum orang Ullath diakui berasal dari Pulau Seram yang mengadakan migrasi besar-besaran ke pulau-pulau di sebelah selatan. Migrasi mencari pulau atau kediaman yang baru tersebut tercermin dari ungkapan maatita tomanusa yang berarti "mari kita mencari pulau". Ungkapan maatita dan tomanusa selanjutnya menjadi sangat penting bagi adat negeri ini. Maatita disematkan kepada kelompok fam yang pertama datang ke (negeri-negeri lama Ullath). Sedangkan tomanusa disematkan kepada kelompok fam yang datang pada masa berikutnya.

Menurut cerita, sebagian penduduk Ullath khususnya keturunan fam Siwabessy berasal dari daerah Barat. Moyang Siwabessy berasal dari Malaka dan datang ke Maluku menggunakan perahu layar. Perjalanan berlayar ke Maluku tersebut terekam dalam lagu rakyat yang berjudul Tiga Moyang Adik Kaka. Ada pun yang dimaksud dengan tiga moyang dalam lagu tersebut adalah moyang fam Nurlette, Pattinama, dan Siwabessy. Ketiganya di Maluku memilih tempat kediaman yang berbeda dan selanjutnya menjelma menjadi negeri yang berbeda pula. Nurlette atau kakak tertua singgah dan tinggal di Buano. Sementara kedua adiknya terus berlayar ke Lease. Di tempat yang menjadi Negeri Oma yang sekarang moyang Pattinama memilih kediaman. Dan akhirnya Siwabessy selaku bungsu ke salah satu negeri lama Ullath.

Berdasarkan cerita rakyat mengenai perjalanan tiga moyang itulah orang Ullath memiliki hubungan gandong (dan pela batu karang) dengan Buano dan Oma. Ketiga negeri harus saling membantu satu sama lain termasuk dalam pembangunan rumah ibadah. GPM Ullath misalnya, menggunakan tiang kayu yang ditebang di Buano dan dibawa menyeberangi lautan. Semenatara orang Oma membantu dengan menyumbangkan tenaga.

Cerita lain yang berkenaan dengan sejarah Negeri Ullath mengisahkan perjalanan tiga adik kakak dari Pulau Seram. Ketiganya konon bernama Kasim (Hasim), Tasim (Kasim), dan Abdullah Nekaulu. Ketiganya sampai di Saparua menggunakan arumbai. Ada pula yang menyebutnya rakit atau gosepa. Kasim turun di Putiori yang sekarang merupakan wilayah Itawaka. Ia dikemudian hari menurunkan (sebagian penduduk) Negeri Iha terutama yang berfam Amahoru. Tasim pergi ke Huhule, salah satu dari sembilan negeri lama Tuhaha. Ia menurunkan fam Aipassa yang merupakan raja Tuhaha sewaktu belum turun ke pantai. Sang adik bungsu, Abdullah Nekaulu sampai di Ullath dan menurunkan fam Nikijuluw. Abdullah juga diduga menurunkan fam-fam Negkelwa di Kulur dan Ninkeula di Nolloth.

Iha, Tuhaha, dan Ullath adalah tiga negeri adik kakak atau gandong layaknya Ullath dengan Buano dan Oma. Akan tetapi perjalanan sejarah menyebabkan rasa persaudaraan antara orang Ullath dengan Iha dan Tuhaha memudar. Hal itu berkaitan dengan Perang Iha antara Kerajaan Iha dengan VOC. Dalam perang itu, Ullath dan Tuhaha yang telah memeluk agama Kristen memihak Belanda memerangi Kerajaan Iha, saudara mereka yang beragama Islam. Dalam rangka memerangi Iha, sebagian orang Ullath pergi untuk selama-lamanya. Rombongan ini membawa perintah untuk pergi dan menjaga (mengepung). Dalam bahasa Tana disebut sebagai Titawaka. Dari istilah inilah Negeri Itawaka yang didirikan oleh orang-orang Ullath mengambil namanya. Meskipun telah terjadi perselisihan di antara adik kakak, ketiganya tetap saling mengakui bahwa mereka bersaudara. Bahkan di perbatasan antarnegeri tersebut terdapat sebuah rakit yang sengaja diletakkan sebagai lambang persaudaraan dan perjalanan nenek moyang dari tempat yang jauh ke Saparua.[17]

Aliansi dengan PortugisSunting

Ullath disebut memiliki aliansi dan hubungan yang baik dengan Portugis. Bahkan sejak tahun 1546 negeri ini telah dikristenkan dan dibina menjadi jemaat Katolik oleh Fransiskus Xaverius. Apabila memang benar demikian, Ullath tak hanya menjadi negeri pertama yang menerima Injil di Saparua, melainkan pula yang pertama diinjilkan di Lease. Sumber yang lain memberikan tahun 1564.[18]

Pada tahun 1572 negeri di tenggara Saparua ini diserang oleh Kerajaan Ternate yang dikomandoi oleh Rubobongi. Ullath bertahan dan memberikan perlawanan dengan sengit. Negeri yang awalnya berada dalam mode bertahan tersebut makin bersemangat dan meluap-meluap keinginan berperangnya tatkala dibantu oleh Portugis yang merupakan sekutu mereka. Ullath mengadakan serangan balasan dan berhasil mengalahkan pasukan Ternate. Beberapa tentara Ternate dipenggal kepalanya untuk dijadikan bukti yang menguatkan aliansi dengan Portugis.[19]

Aliansi Ullath dengan Portugis makin kompak. Keduanya menyerang Ihamahu, salah satu musuh bebuyutan Ullath yang sama-sama merupakan negeri Kristen. Meskipun Ihamahu adalah keturunan dari Kerajaan Iha yang merupakan saudara dari Negeri Ullath dan sama-sama beragama Kristen, hal itu tidak menyurutkan ketegangan di antara mereka. Penyerangan terhadap Ihamahu dilakukan dua kali. Semuanya tidak berhasil. Bahkan dalam usaha penyerangan kedua, Ullath dan Portugis dipukul mundur. Ihamahu yang mendapat dukungan dari Booi dan Sirisori Amalatu berhasil mengepung Ullath. Keberhasilan Ihamahu tersebut membuat Portugis mundur ke Ambon.[20]

Keterlibatan Ullath dalam Perang PattimuraSunting

Jazirah tenggara Pulau Saparua khususnya Negeri Ouw dan Ullath adalah salah satu front tempur terpenting dalam Perang Pattimura.[21] Martha Christina Tiahahu bersama penduduk setempat memberikan perlawanan sengit terhadap pasukan Belanda. Namun, kekuatan yang tidak seimbang menyebabkan pasukan Belanda mengambil alih jalannya perang. Akibatnya Ouw dan Ullath diporak-porandakan oleh Belanda pada 12 Oktober 1817.[22]

Beberapa nama penduduk Ullath yang tercatat sebagai penjahat dan pemberontak oleh Belanda dalam Perang Pattimura, antara lain sebagai berikut:[23]

  1. Anthonie Sapulette, dihukum pada tahun 1818.
  2. Christian Toumahuw, diasingkan ke Jawa Timur tahun 1818.
  3. Johannes Siwabessy, diasingkan ke Jawa Timur tahun 1818, pada tahun 1823 dipindahkan ke Cianjur dan pada tahun 1827 dibebaskan.

Kerusuhan Maluku 1999-2000Sunting

Dalam kerusuhan Maluku 1999-2000, Ullath bersama Sirisori Amalatu dan Ouw yang beragama Kristen terlibat bentrokan bernuansa SARA (suku, agama, dan ras) dengan Sirisori Islam. Salah satu bentrokan yang cukup besar terjadi pada 24 Oktober 2000 pada pukul 03.00 WIT. Penduduk negeri yang saling berperang menggunakan bom rakitan, senjata rakitan, granat, dan mortir.[24]

Bentrokan antara Ullath, Ouw, dan Sirisori Amalatu di satu sisi melawan Sirisori Islam di sisi yang lain telah terjadi sejak tahun 1999. Salah satu penyebab pertikaian antarnegeri tersebut adalah isu perusakan dan penebangan pohon cengkih. Baik penduduk Ullath maupun Sirisori Islam sama-sama mengaku bahwa kebun cengkih mereka dirusak.

Saat IniSunting

Pada 2 Maret 2014 negeri ini memulai proyek pengerjaan gereja darurat sebagai tempat ibadah alternatif. Hal ini berkaitan dengan agenda reniovasi GPM Ullath yang diselenggarakan mulai 3 Maret 2014. Pada 9 Mei, penduduk keturunan Ullath di perantauan pulang kampung untuk mengadakan upacara Tutup Baileu.[25]

Tim penari cakalele dari Ullath juga akan memimpin iring-iringan yang pembawa obor peringatan hari Pattimura tahun 2014. Posisi ini biasanya dipegang oleh tim cakalele dari Tuhaha.[26]

Negeri LamaSunting

Masyarakat Ullath pada awalnya tidak mendiami daerah pesisir melainkan membangun permukiman-permukiman di pegunungan. Permukiman tersebut yang dikenal dengan sebutan amano, uku, atau hena yang sering diterjemahkan sebagai negeri lama.

Ullath memiliki enam negeri lama, yakni sebagai berikut.

Negeri ItaliliSunting

Italili adalah satu dari negeri lama Ullath dan berperan sebagai negeri induk atau negeri utama. Nama Italili menurut adat orang Ullath bermakna guntur kilat karena pada masa awal pendiriannya dilakukan saat terjadi guntur dan kilat. Italili berbatasan dengan tanah petuanan dari Tuhaha dan Itawaka. Pada masa lalu juga berbatasan dengan petuanan Kerajaan Iha yang runtuh dan tanahnya dibagi-bagi pasca kekalahan dalam Perang Iha. Fam yang mendiami Italili adalah Pattipeilohy atau raja Beilohy (Ullath) yang berkedudukan sebagai raja di gunung.

Negeri AmahatuSunting

Amahatu secara bahasa bermakna negeri yang didirikan di tempat berbatu. Fam yang mendiami Amahatu adalah Sapulette. Fam ini sampai sekarang memiliki tanah dati atau dusun yang luas dibanding fam-fam lain. Selain itu, Abdullah Nekaulu yang merupakan moyang fam Nikijuluw bergabung dengan fam Sapulette dan tinggal di Amahatu. Amahatu adalah negeri lama yang paling tua dan paling luas wilayahnya. Posisi Amahatu berada di ketinggian dan dikelilingi oleh jurang-jurang sehingga menyulitkan serangan dari pihak musuh.

Negeri SoupakeSunting

Soupake adalah salah satu negeri lama Ullath dan dianggap yang sebagai yang paling keramat. Nama Soupake bermakna tempat berpakaian. Tempat berpakaian ini kemudian diartikan sebagai negeri yang didiami oleh orang-orang besar dengan jubah atau pakaian kebesaran seperti kapitan dan malesi-nya serta mauweng. Soupake tidak terlalu luas. Negeri ini didiami oleh fam Pattimanuwae (Patty)

Negeri YalesiSunting

Yalesi adalah salah satu negeri lama Ullath dan wilayahnya sangat kecil. Diduga sebagai negeri lama yang paling muda dan paling akhir dibangun. Yalesi secara bahasa berarti sisa.

Negeri NokauSunting

Nama Nokau berasal dari kata no yang berarti enam dan kaul yang berarti ipar. Nokau diduga didirikan oleh orang-orang yang masih berkeluarga dan beripar satu sama lain.

Negeri PutimahuSunting

Putimahu adalah salah satu negeri lama Ullath. Tanahnya berupa kapur dan bekas karang sehingga tampak memutih. Putimahu disebut kurang subur dibanding negeri-negeri lama yang lain.

Kondisi WilayahSunting

Batas-batasSunting

HidrologiSunting

Negeri Ullath dialiri beberapa sungai kecil. Salah satunya adalah Air Hoktoini yang dimanfaatkan untuk MCK.

TopografiSunting

Ullath adalah negeri pesisir.[28] Wilayah permukiman negeri menghadap langsung ke Teluk Saparua. Negeri ini terletak pada ketinggian yang bervariasi antara 0 - 400 meter di atas permukaan laut.

Luas negeri Ullah adalah sekitar 6,80 km2 dan merupakan negeri terluas ke delapan di Kecamatan Saparua Timur. Meskipun wilayahnya relatif kecil, Ullath memiliki tanah petuanan jauh dari negeri induk. Petuanan tersebut memanjang sepanjang pantai timur Pulau Saparua dari Jazirah Hatawano hingga Jazirah Tenggara.

KelembagaanSunting

 
Baileu atau Balai adat negeri Ullath

Susunan Pemerintahan AdatSunting

Negeri Ullath memiliki sistem pemerintahan sendiri sebagaimana halnya negeri-negeri adat lain di wilayah Maluku. Sistem pemerintahan di Ullath adalah dualisme antara pemerintahan sipil Republik Indonesia dan pemerintahan adat. Keduanya terkoneksi pada sosok raja yang berperan sebagai kepala negeri dan setingkat dengan kepala desa. Berikut ini adalah susunan pemerintahan di negeri Ullath:

RajaSunting

Fam atau marga pemangku jabatan raja atau kepala negeri (semacam kepala desa) di negeri Ullath adalah Latu Nekaulu yang dikenal sebagai fam Nikijuluw. Fam Nikijuluw mengambil alih jabatan raja atau kepala negeri dari tangan fam Pattipeilohy pada tahun 1670 dikarenakan sebuah masalah yaitu perjanjian damai Ullath dengan VOC.

Fam Nikijuluw berkuasa sejak orang Ullath turun ke Nual atau negeri baru di pantai dan meninggalkan negeri lama di gunung. Fam ini dijuluki sebagai raja pantai. Raja Ullath saat ini adalah Raja Abraham Willem Nikijuluw. Sebelum pemangku jabatan raja diserahkan pada fam Nikijuluw(Latu Nekaulu), pemangku jabatan raja adalah fam Pattipeilohy. Fam Pattipeilohy adalah raja di gunung karena memerintah negeri-negeri lama yang berada di pegunungan. Pattipeilohy menolak perintah Belanda untuk membangun negeri di pesisir pantai. Untuk mencegah perpecahan, Pattipeilohy membiarkan masyarakat Ullath turun ke pantai dan menyerahkan jabatan raja kepada Nikijuluw, fam yang merupakan keturunan langsung dari Abdullah Nekaulu, salah satu orang yang masyhur namanya di Ullath.

Nama Pattipeilohy sendiri berarti raja Beilohy atau raja Ullath. Patti berarti Patih atau raja, Beilohy berarti Ullath. Bila raja pantai merupakan julukan fam Nikijuluw, maka julukan fam Pattipeilohy adalah kebalikannya yaitu raja gunung.

MarinyoSunting

Di Ullath terdapat jabatan adat yang bernama Marinyo. Asal kata marinyo adalah mourinho yang diserap dari Bahasa Portugis. Marinyo berkedudukan sebagai juru bicara raja. Sebagai juru bicara, marinyo menyampaikan pesan dan titah raja kepada rakyatnya dan pun menyambungkan lidah raja kepada raja negeri lain. Tugas maeinyo antara lain mengumpulkan warga atau anak negeri ketika akan diadakan acara adat dan atau keadaan darurat. Marinyo mengumpulkan anak negeri dengan membunyikan kentongan besar di baileu dan meniup tahuri alias kulit kerang yang mirip terompet. Istilah bagi panggilan berkumpul disebut sebagai tabaos. Pemangku jabatan marinyo di Ullath adalah fam Telehala.

KewangSunting

Kearifan lokal negeri-negeri di Maluku Tengah adalah memilii satuan polisi adat khusus yang bertanggung jawab terhadap konservasi lingkungan dan kelestarian SDA baik yang ada di laut maupun di darat. Polisi adat ini dikenal sebagai kewang atau kewano. jabatan adat yang bernama Kewang atau Kewano. Kewang adalah suatu jabatan dalam tradisi Maluku yang tugasnya adalah melakukan perlindungan dan konservasi terhadap SDA (Sumber Daya Alam) yang ada di negeri yang bersangkutan.

Kewang bertanggungjawab terhadap Tuhan, raja negeri dan rakyatnya. Beban pemeliharaan kelestarian dan kebersihan negeri berada di pundak anggota-anggota kewang. Kewang secara umum dibagi atas kewang darat dan kewang laut. Perbedaan kedua jenis kewang ini adalah wilayah operasi konservasi dan perlindungan, bilamana kewang darat bertugas melakukan konservasi atas SDA (Sumber Daya Alam) di darat seperti mensasi sumber air, mensasi hutan bambu dll. sedangkan kewang laut bertugas melakukan konservasi atas SD (Sumber Daya Alam) di laut seperti mensasi populasi ikan, mensasi terumbu karang, mensasi pantai dll.

Pemangku jabatan kewang di negeri Ullath adalah perwakilan dari hampir seluruh fam atau marga yang ada di Ullath. Kepala kewang darat adalah fam Patty matarumah Soupake dan kepala kewang laut adalah fam Maail.

Saniri NegeriSunting

Seperti negeri-negeri lain di Maluku pada umumnya dan negeri-negeri lain di Ambon, Haruku, Saparua, Nusalaut dan Seram khususnya, Ullath mempunyai badan legislatif semacam parlemennya tersendiri yang mengurusi perkara pemerintahan sekaligus adat dalam negeri. Badan legislatif negeri ini dikenal sebagai Saniri Negeri. Saniri negeri memiliki anggota berupa 1 orang perwakilan dari setiap fam-fam atau marga-marga asli di negeri yang bersangkutan (dalam hal ini Ullath) atau perwakllan dari fam-fam menetap (pendatang) yang sudah memiliki dan memakan hak fam atau marga asli seperti fam Matheos, Matulessy dan Picauli.

SoaSunting

 
Tiang fam (marga) Pattipeilohy di Balai adat Ullath
 
Tiang fam (marga) Toisuta di Balai adat Ullath
 
Tiang fam (marga) Maail di Balai adat Ullath
 
Tiang fam (marga) Hakamoly di Balai adat Ullath

Soa adalah sebuah kelompok yang terbangun di dalam sebuah negeri dan merupakan budaya khas orang Maluku Bagian Tengah. Soa menghimpun beberapa fam dan biasanya fam-fam dalam satu soa memiliki kesamaan atau pertalian sejarah. Berikut adalah soa yang ada di Ullath dan fam (matarumah) yang memegang jabatan sebagai kepala soa:

Soa HatulessySunting

  • Lawalata
  • Maail
  • Manuputty
  • Siwabessy (Pesisamalo), berkedudukan sebagai kepala soa Hatulessy[29]

Soa ItaliliSunting

Soa PutimahuSunting

  • Litaay
  • Manukiley
  • Toumahuw (Newotoulu), berkedudukan sebagai kepala soa Putimahu[31]

Soa RajaSunting

  • Latul (Latumutuane)
  • Manuputty
  • Matheos
  • Parinusa
  • Pical, berkedudukan sebagai kepala soa Raja[32]

Soa TomalelaSunting

  • Johannes
  • Paais
  • Manuhutu
  • Sapulette
  • Telehala (Parinusalatu), berkedudukan sebagai kepala soa Tomalela[33]

Soa SoulisaSunting

  • Ahuluhelu
  • Toisuta (Lilihuapelu), berkedudukan sebagai kepala soa Soulisa[34]

DemografiSunting

Jumlah PendudukSunting

Catatan mengenai jumlah penduduk di Ullath pertama kali muncul pada masa kolonial. Pada tahun 1854, dilaporkan bahwa penduduk Negeri Ullath berjumlah 698 jiwa. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik Kabupaten Maluku Tengah tahun 2016, Ullath memiliki populasi sebesar 1.080 jiwa yang merepresentasikan 6,45% total populasi di Kecamatan Saparua Timur. Penduduk negeri ini terdiri dari 595 jiwa laki-laki dan 485 perempuan yang terhimpun ke dalam 395 KKyang merepresentasikan 9,85% jumlah seluruh KK di Kecamatan Saparua Timur. Dengan luas sekitar 6,80 km2, negeri ini memiliki kepadatan penduduk sebesar 159 km2.

Mata PencaharianSunting

Sebagian besar masyarakat Ullath bermatapencaharian sebagai petani atau pekebun. Dari 395 KK yang ada, 356 di antaranya merupakan keluarga petani. Jumlah ini mencakup 11,22% keluarga petani di Kecamatan Saparua Timur. Tanaman yang menjadi primadona adalah cengkih dan kelapa. Saat ini tidak diketahui berapa banyak pohon cengkih dan kelapa yang tumbuh di Negeri Ullath. Namun, catatan tahun 1854 menunjukkan bahwa di negeri ini terdapat 6.894 pohon cengkih dan 3.517 pohon kelapa. Sebagian kecil masyarakat Ullath berprofesi sebagai nelayan, buruh, pekerjaan serabutan, dan PNS.

PendidikanSunting

Terdapat tiga SD di Ullath yang meliputi SD Inpres Ullath, SD Negeri 1 Ullath, dan SD Negeri 2 Ullath.[35] Di negeri ini belum ada SMP dan SMA/SMK.

AgamaSunting

 
Gereja Protestan Maluku, Jemaat Ullath-Syaloom

Ullath digolongkan sebagai negeri Kristen.[36] Penduduknya memeluk agama Kristen Protestan dengan Gereja Protestan Maluku sebagai gerejanya. Gereja yang ada di negeri Ullath yaitu GPM Ullath Syaloom.

Negeri ini dikenal dalam catatan sejarah kekristenan di Maluku sebagai negeri pertama di Pulau Saparua yang menerima Injil. Penduduk Ullath mulai memeluk Kristen (Katolik) pada tahun 1564.[37] Walupun beberapa laporan menyebut bahwa Ullath sudah dikristenkan sejak 1546 oleh Fransiskus Xaverius. Jemaat Katolik di negeri ini pada akhirnya beralih menjadi jemaat Protestan sebelum pecah Perang Iha tahun 1653.[38] Perang tersebut berakhir dengan kemenangan di pihak Belanda. Terbentuknya jemaat Protestan di Ullath diikuti dengan pembentukan jemaat di Tuhaha dan Booi.

FamSunting

Fam atau marga yang berdiam di negeri Ullath terdiri dari fam-fam asli maupun pendatang. Fam asli negeri dikenal dengan istilah ana negeri, sedangkan fam-fam yang datang dari negeri yang lain dan turun temurun menetap di Ullath disebut orang dagang.

Fam-fam AsliSunting

Fam-fam asli atau disebut pula ana negeri adalah fam yang merupakan keturunan para penghuni negeri lama Ullath sebelum turun ke pantai. Berikut fam atau marga asli di negeri Ullath:

  1. Hakamoly (Hakamoli), fam ini dinyatakan punah
  2. Latul (Latumutuane)
  3. Lawalata
  4. Lekasila, fam ini dinyatakan punah
  5. Lilihua, fam ini dinyatakan punah
  6. Litaay
  7. Lusikooy
  8. Maail
  9. Manukiley
  10. Nikijuluw (Latu Nekaulu)
  11. Pattipeilohy
  12. Patty
  13. Pical
  14. Sahetapy, fam ini dinyatakan punah
  15. Sapulette
  16. Siwabessy (Pesisamalo)
  17. Soulisabessy, fam ini dinyatakan punah
  18. Supusepa
  19. Telehala (Parinusalatu)
  20. Toisuta (Lilihuapelu)
  21. Toumahuw (Newotolulu)
  22. Tulalesia, fam ini dinyatakan punah

Dari 23 fam asli Ullath, ada enam fam yang telah punah atau dinyatakan hilang. Fam-fam tersebut adalah fam Hakamoly (Hakamoli), Lekasila, Lilihua, Sahetapy, Soulisabessy, dan Tulalesia.[39] Meskipun dinyatakan punah dan hilang di Ullath, fam Sahetapy masih ada dan bermukim di negeri-negeri lain seperti Itawaka.

Fam-fam PendatangSunting

Fam-fam pendatang atau disebut pula orang dagang adalah fam dari negeri-negeri lain yang telah tinggal dan menetap di Ullath untuk jangka waktu yang cukup lama. Berikut fam atau marga pendatang di negeri Ullath:

  1. Ahuluheluw
  2. Latuharhary
  3. Latumaerissa
  4. Latumahina
  5. Latumalea
  6. Loupatty
  7. Lumalesil
  8. Manuhutu
  9. Manuoutty
  10. Matheos
  11. Matulessy
  12. Molle
  13. Paaijs
  14. Parinusa
  15. Pattirua
  16. Picauli
  17. Pieter
  18. Siahaya

BudayaSunting

Bahasa DaerahSunting

Ullath memiliki bahasa daerah yang sama dengan negeri-negeri lain di jazirah Lease yang meliputi Saparua, Haruku, Nusalaut dan Ambon. Bahasa daerah itu bernama bahasa Tana. Bahasa Tana bisa diartikan sebagai bahasa tanah karena bahasa Tana adalah bahasa yang telah berakar ribuan tahun di tanah Maluku terutama Lease.

Tiap-tiap negeri di Lease pastinya mengenal bahasa Tana namun memiliki perbedaan dialek yang tidak begitu kentara. Bahasa Tana dialek Ullath adalah satu di antara berpuluh-puluh jenis dialek bahasa Tana yang ada di Lease. Bahasa Tana dialek Ullath dikenal luas sebagai bahasa Sou Tuni atau Soa Tuni.

Hubungan SosialSunting

 
Oma, negeri Oma yang terletak di Haruku ini adalah salah satu negeri yang terikat pela dengan Ullath

Maluku punya beraneka macam adat istiadat unik yang hanya satu-satunya dan tidak mungkin bisa ditemui di tempat lain di Indonesia bahkan di dunia. Adat itu antara lain adalah adanya hubungan sosial antar negeri baik hubungan atas dasar adat maupun atas dasar persaudaraan. Hubungan sosial antar negeri di Maluku yang didasari atas dasar adat disebut sebagai Pela[40][41] (Pela = Kerabat Adat), sedangkan hubungan sosial antar negeri di Maluku yang didasari atas dasar persaudaraan disebut sebagai Gandong (Gandong = Kerabat Darah)

Hubungan dengan Negeri-negeri TetanggaSunting

Sejak kerusuhan Maluku 1999-2000 selesai, Ullath memperbaiki hubungan dengan Sirisori Islam, negeri Islam satu-satunya di jazirah tenggara Saparua sekaligus salah satu musuh terbesar selama kerusuhan berlangsung. Ullath juga terlibat dalam mendorong perdamaian di antara dua negeri basudara, Sirisori Amalatu dan Sirisori Islam. Salah satunya negeri ini menyumbangkan dua ekor sapi untuk hari raya kurban. Dagingnya dibagi-bagikan kepada yang membutuhkan.[42]

Hubungan PelaSunting

 
Maket pela antara negeri Buano-Oma-Ullath

Pela[43][44] adalah hubungan sosial antar dua atau lebih negeri yang bisa jadi tidak bertetanggaan secara lokasi, tidak se-agama dan tidak se-pulau yang hanya ada di Maluku[45]. Budaya pela sudah ada sejak dahulu kala. Terjadinya pela antar dua atau lebih negeri didasari oleh beberapa faktor seperti saling tolong menolong dalam perang (Contoh: dasar pela Haria dengan Lilibooi), perkawinan (Contoh: dasar pela Allang dengan Latuhalat atau faktor lainnya.

Negeri Ullath sebagai salah satu negeri di Maluku yang tentunya berpijak dan berdasar atas adat orang Maluku mengikat sumpah untuk membina hubungan pela dengan negeri-negeri lain di Maluku. Berikut adalah nama negeri yang memiliki hubungan Pela dengan negeri Ullath:

No. Nama Negeri Agama Mayoritas Teung Negeri Lokasi Pulau Jenis Pela Julukan Pela
1 Oma[46][47][48][49][50][51] Kristen Protestan (100 %) Leparissa Leamahu Haruku [52] Pela batu karang Rissalohy (Leparissa-Beilohy)
2 Buano[47][50][51] Islam Sunni (70 %) & Kristen Protestan (30 %) Nurlatu Palemahu Buano Pela batu karang Nurlohy (Nurlatu-Beilohy)
3 Wassu[51] Kristen Protestan (100 %) Erihatu Samasuru Haruku Pela tampa siri Beihatu (Beilohy-Erihatu)

Ullath secara adat memiliki 3 buah persekutuan Pela yang diikat dengan negeri Oma (Negeri Kristen), Wassu (Negeri Kristen) dan Buano (Negeri Islam).

Pela persekutuan dengan Wassu diikat pada abad ke-17 sekitar tahun 1670. Faktor terjadinya pela persekutuan antara Ullath dengan Wassu yang notabene berbeda pulau adalah terjadinya sebuah perang. Perang Ullath melawan pasukan Vereenigde Oostindische Compagnie bersenjata modern yang ingin memonopoli Cengkih yang mana Ullath pada masanya adalah salah satu negeri penghasil Cengkih. Dengan keadaan yang tidak seimbang, pasukan Ullath hampir kalah oleh pasukan Vereenigde Oostindische Compagnie bersenjata modern, dalam keadaan genting itulah kapitan Ullath memutuskan untuk mengadakan sayembara kepada negeri-negeri di Saparua dan Haruku mengenai siapa saja yang dapat membantu Ullath melawan Vereenigde Oostindische Compagnie akan diberi hadiah berupa pundi-pundi emas dan perak. Saat itulah kapitan Timisela dari Wassu menyanggupi sayembara dan datang bersama pasukan dari negeri Wassu di pulau Haruku ke Ullath. Di Ullath, mereka berperang melawan Vereenigde Oostindische Compagnie dengan hasil terjadi perjanjian damai antara persekutuan Ullath-Wassu dengan Vereenigde Oostindische Compagnie. Isi perjanjian damai itu, sbb:

  1. Vereenigde Oostindische Compagnie tidak akan memonopoli perdagangan Cengkih di negeri Ullath dan Wassu
  2. Vereenigde Oostindische Compagnie tidak akan ikut campur urusan dalam negeri baik negeri Ullath maupun negeri Wassu
  3. Vereenigde Oostindische Compagnie dan Ullath-Wassu sepakat menanggung beban kerugian sendiri-sendiri dan tidak saling menuntut
  4. Orang Ullath yang berdiam di tiga wilayah lama yaitu Italili, Amelhatu dan Amahani pindah ke pantai ke kampung baru yang sekarang dikenal sebagai Ullath. Yang mana kampung baru itu berdiri di wilayah bernama Yalesi yang berarti batas.
  5. Orang Ullath menerima injil dan menjadi pemeluk agama Kristen pertama di pulau Saparua

Setelah perjanjian damai terjadi, orang Ullath sangat berterima kasih kepada orang Wassu yang telah sangat baik mau membantu mereka. Akhirnya tepat tahun 1670 orang Ullath dan Wassu resmi dipersatukan oleh sebuah sumpah Pela yang sangat sakral secara adat orang Maluku. Jenis pela antara Ullath dan Wassu yaitu pela perang atau pela minong darah (Bahasa Indonesia: Minum darah) dan pela tampa siri (Bahasa Indonesia: Tempat Sirih) sekaligus.

Hubungan GandongSunting

 
Negeri Buano-Nuralatu Palemahu, negeri gandong Ullath

Gandong adalah hubungan sosial antar dua atau lebih negeri yang bisa jadi tidak bertetanggaan secara lokasi, tidak se-agama dan tidak se-pulau yang hanya ada di Maluku seperti halnya hubungan Pela. Budaya gandong sudah ada sejak dahulu kala, sama tuanya dengan adat istiadat (Budaya) Pela. Terjadinya gandong antar dua atau lebih negeri didasari oleh faktor pertalian darah, kekeluargaan dan persaudaraan yang dalam cerita rakyat Maluku disebutkan bahwa datuk-datuk, kakek-kakek, nenek-nenek, moyang dan antua negeri yang memiliki hubungan gandong merupakan adik kakak dari rahim satu orang ibu dan memiliki satu orang bapak.

Negeri Ullath sebagai salah satu negeri di Maluku yang tentunya berpijak dan berdasar atas adat orang Maluku pasti memiliki hubungan gandong dengan negeri-negeri lain di wilayah Maluku sekalipun negeri-negeri itu berbeda agama. Berikut adalah nama negeri yang memiliki hubungan gandong atau bersaudara dengan negeri Ullath:

No. Nama Negeri Agama Mayoritas Teung Negeri Lokasi Pulau Julukan Gandong
1 Oma[50] Kristen Protestan (100 %) Leparissa Leamahu Haruku[53][54] 1 Gandong 3 Dara atau 3 Kampong 1 Gandong
2 Buano[50] Islam Sunni (70 %) & Kristen Protestan (30 % Nurlatu Palemahu Buano[55] 1 Gandong 3 Dara atau 3 Kampong 1 Gandong
3 Itawaka Kristen Protestan (100 %) Leilisal Beinusa Saparua Leilisa Beynusa Patalima Alesiwa
4 Iha[50][56] Islam Sunni (100 %) Noraito Amalatu Saparua 1 Gandong 1 Arumbai
5 Tuhaha[50][56] Kristen Protestan (100 %) Beinusa Amalatu Saparua 1 Gandong 1 Arumbai

Ullath secara adat memiliki 5 buah hubungan gandong dan terikat darah atas negeri Tuhaha (Negeri Kristen), Iha (Negeri Islam), Oma (Negeri Kristen), Itawaka (Negeri Kristen) dan Buano (Negeri Islam).

Acara, Event, Festival, Kegiatan & TradisiSunting

 
Kumpul Ana Cucu Beilohy Amalatu-Ullath dalam rangka Natal Ullath se-dunia 2009

Tradisi Upu LatuSunting

Ullath memiliki beberapa acara kegiatan yang masuk dalam agenda tahunan negeri sepertiTradisi Upu Latu[57][58] yang dilaksanakan oleh keluarga atau fam atau marga atau matarumah Pical sebagai bentuk pembayaran diyat (denda) atas kepemimpinan mereka di negeri Ullath entah sebagai kepala soa Raja ataupun sebagai pejabat sementara raja negeri.

Tradisi Makang Kalapa SisiSunting

Tradisi lain yang di lakukan di negeri Ullath yaitu tradisi makang kalapa sisi [59]. Memang makang kelapa sisi ("makan kelapa mentah" yaitu hanya di lepaskan dari tempurungnya tanpa di parut, dan di iris jadi potong-potongan kecil itulah yang di maksud dengan "kalapa sisi") semua orang juga pernah melakukan hal yang sama. Namun di negeri Ullath justru menjadi suatu tradisi.

Yang terlihat unik dari kebiasaan lainnya, di negeri Ullath hampir semua keluarga kalau makan di haruskan ada kalapa sisi di meja makan, walaupun jenis-jenis makanan yang tersedia sudah mengandung santan (dari kelapa), misalkan di sayur dan kuanya, atau masakan daging ikan jenis kare, dll. Dan menurut mereka makan dengan kelapa sisi telah menjadi kebutuhan, dan bukan sebatas keinginan saja sebagai pelengkap rasa. Memang, tradisi ini sangat mungkin ada juga di negeri-negeri lain di Maluku baru di buktikan bahwa cuma di negeri Ullath tradisi makang kalapa sisi ini benar-benar ada dan jadi tradisi.

Natal Ullath se-dunia 2009Sunting

Negeri Ullath melakukan sebuah gebrakan dengan acara yang besar pada 2009 dalam rangka merayakan Natal Acbaz Ullath Se-dunia 2009[60][61][62][63] yang bertemakan Kumpul Ana Cucu Beilohy Amalatu 2009

PerkumpulanSunting

Keturunan Ullath yang hidup di Belanda memiliki perkumpulan yang bernama sebagai PABAN, singkatan dari Persatuan Anak-cucu Beilohy Amalatu Netherland. Selain PABAN, keturunan Ullath di perantauan seperti Kota Ambon juga memiliki organisasi perkumpulan yang bernama PERWABA, singkatan dari Persekutuan Warga Beilohy Amalatu[64]

Tokoh terkenalSunting

Lihat PulaSunting

ReferensiSunting

  1. ^ [1] Kode Pos Saparua
  2. ^ [Kecamatan Saparua Timur Dalam Angka 2017 Hlm. 4]
  3. ^ [Kecamatan Saparua Timur Dalam Angka 2017 Hlm. 4]
  4. ^ Negeri Ullath
  5. ^ [2] Saparua Timur Resmi Jadi Kecamatan
  6. ^ [Kecamatan Saparua Timur Dalam Angka 2018 Hlm. 22]
  7. ^ [3] Matarumah Parentah Nikijuluw Tuding Camat Saparua dan Pemkab Malteng Berkonspirasi
  8. ^ [Kecamatan Saparua Timur Dalam Angka 2018 Hlm. 20]
  9. ^ [4] Italili Hingga Ullath, Louhata Jangan Dilupa
  10. ^ [5] Geschiedenis Ullath
  11. ^ [6] Jamur yang Bercahaya
  12. ^ [7] Negeri Ullath: Ullath Dulu, Kini, dan Esok
  13. ^ [8] Geschiedenis Ullath
  14. ^ [9] Negeri Ullath: Ullath Dulu, Kini, dan Esok
  15. ^ [10] Negeri Ullath: Ullath Dulu, Kini, dan Esok
  16. ^ [11] Negeri Ullath: Ullath Dulu, Kini, dan Esok
  17. ^ Bartels, Dieter (2017). Di Bawah Naungan Gunung Nunusaku: Muslim Kristen Hidup Berdampingan di Maluku Tengah, Jilid II: Sejarah. Kepustakaan Populer Gramedia (KPG). hlm. 535. 
  18. ^ Bartels, Dieter (2017). Di Bawah Naungan Gunung Nunusaku: Muslim Kristen Hidup Berdampingan di Maluku Tengah, Jilid II: Sejarah. Kepustakaan Populer Gramedia (KPG). hlm. 569. 
  19. ^ Bartels, Dieter (2017). Di Bawah Naungan Gunung Nunusaku: Muslim Kristen Hidup Berdampingan di Maluku Tengah, Jilid II: Sejarah. Kepustakaan Populer Gramedia (KPG). hlm. 570. 
  20. ^ Bartels, Dieter (2017). Di Bawah Naungan Gunung Nunusaku: Muslim Kristen Hidup Berdampingan di Maluku Tengah, Jilid II: Sejarah. Kepustakaan Populer Gramedia (KPG). hlm. 572. 
  21. ^ [https://nationalgeographic.grid.id/read/131644113/kisah-perjuangan-martha-christina-tiahahu-srikandi-dari-tanah-maluku?page=all Kisah Perjuangan Martha Christina Tiahahu, Srikandi dari Tanah Maluku
  22. ^ Kisah Perjuangan Martha Christina Tiahahu, Srikandi dari Tanah Maluku
  23. ^ Orang Negeri Saparua dan Perang Pattimura
  24. ^ [12] Kerusuhan SARA Masih Bergolak di Saparua
  25. ^ [13] Activiteiten in Ullath
  26. ^ [14] Activiteiten in Ullath
  27. ^ [15] Letak Geografis dan Astronomis Negeri Tuhaha
  28. ^ [Kecamatan Saparua Timur Dalam Angka 2018 Hlm. 10]
  29. ^ Tutupoho, Rosmin (1991). Pengendalian Sosial Tradisional Daerah Maluku. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya. hlm. 22. 
  30. ^ Tutupoho, Rosmin (1991). Pengendalian Sosial Tradisional Daerah Maluku. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya. hlm. 22. 
  31. ^ Tutupoho, Rosmin (1991). Pengendalian Sosial Tradisional Daerah Maluku. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya. hlm. 22. 
  32. ^ Tutupoho, Rosmin (1991). Pengendalian Sosial Tradisional Daerah Maluku. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya. hlm. 22. 
  33. ^ Tutupoho, Rosmin (1991). Pengendalian Sosial Tradisional Daerah Maluku. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya. hlm. 22. 
  34. ^ Tutupoho, Rosmin (1991). Pengendalian Sosial Tradisional Daerah Maluku. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya. hlm. 22. 
  35. ^ [16] Daftar Satuan Pendidikan Perlu Konfirmasi Per Kec. Saparua Timur di Data Referensi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
  36. ^ Model Capacity Building Kelembagaan Pemerintah dan Masyarakat untuk Pengelolaan Konflik di Maluku. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). 2008. hlm. 1. 
  37. ^ Bartels, Dieter (2017). Di Bawah Naungan Gunung Nunusaku: Muslim-Kristen Hidup Berdampingan di Maluku Tengah Jilid II: Sejarah. Kepustakaan Populer Gramedia (KPG). hlm. 569. 
  38. ^ Bartels, Dieter (2017). Di Bawah Naungan Gunung Nunusaku: Muslim-Kristen Hidup Berdampingan di Maluku Tengah Jilid II: Sejarah. Kepustakaan Populer Gramedia (KPG). hlm. 535. 
  39. ^ Tutupoho, Rosmin (1991). Pengendalian Sosial Tradisional Daerah Maluku. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya. hlm. 22. 
  40. ^ Wat is Pela di http://www.angelfire.com
  41. ^ Latar belakang terjadinya pela di http://www.asiafunclub.com
  42. ^ [17] Gereja Louhata Damai, Simbol Perekat Nasrani-Islam
  43. ^ Pela gandong pemersatu Maluku di Irfan Marssy.Blogspot
  44. ^ Budaya Pela Gandong di Anak Sepa.Blogspot
  45. ^ Pela di Maluku di Anak Bula.Blogspot
  46. ^ Leparissa Leamahu di [18]
  47. ^ a b Pela Buano-Oma-Ullath di Ullath.com
  48. ^ Pela batu karang Oma-Ullath di Masohi Semarang.Blogspot
  49. ^ Foto-Foto Tentang Negeri Oma di Wikimapia
  50. ^ a b c d e f Pela Gandong Negeri Ullath di Halaman Facebook Beilohy Amalatu-Ullath
  51. ^ a b c Ullath is pela met Boano, Oma en Wassu di Ullath.com
  52. ^ Oma-Leparissa Leamahu di Wikimapia
  53. ^ Oma, negeri kaya panas bumi di Haruku di http://psdg.bgl.esdm.go.id/
  54. ^ Oma, Haruku di http://psdg.bgl.esdm.go.id/
  55. ^ Pulau Buano di http://nusapaun.blogspot.com/
  56. ^ a b Gandong Iha-Tuhaha-Ullath di Ullath.com
  57. ^ Tradisi Adat Upu Latu Ullath di Maluku Lease Blogspot
  58. ^ Upu Keluarga Pical di [19]
  59. ^ Makang Kalapa Sisi di [20]
  60. ^ Natal Sedunia Ullath 2009 di Antara Sulut
  61. ^ Video Natal Ullath 2009 Video Youtube
  62. ^ Video Pra-Natal Ullath 2009 Video Youtube
  63. ^ Warga Ullath Se-dunia Pulang di [21]
  64. ^ Situs Resmi Perwaba Ambon di [22]

Pranala luarSunting