Buka menu utama

Rabies

Penyakit infeksi virus pada sistem saraf yang mematikan.
Salah satu ciri anjing yang terkena rabies adalah terus-menerus mengeluarkan air liur.

Rabies atau penyakit anjing gila[1] adalah penyakit infeksi akut pada sistem saraf mamalia (termasuk manusia) yang disebabkan oleh virus rabies. Penyakit ini sangat mematikan dan bersifat zoonotik atau menular dari hewan ke manusia. Penularan terjadi akibat partikel virus yang berada dalam air liur hewan terinfeksi berhasil masuk ke dalam tubuh manusia atau hewan peka, misalnya melalui gigitan. Hewan yang menularkan rabies di antaranya anjing, kucing, kera, rakun, dan kelelawar.[2] Lebih dari 99% kematian manusia akibat rabies disebabkan oleh gigitan anjing.[3]

EtimologiSunting

Kata rabies berasal dari bahasa Sanskerta kuno "rabhas" yang artinya melakukan kekerasan atau kejahatan.[4] Dalam bahasa Yunani, rabies disebut "lyssa" atau "lytaa" yang artinya kegilaan.[4] Dalam bahasa Jerman, rabies disebut "tollwut" yang berasal dari bahasa Indo-Jermanik "dhvar" yang artinya merusak dan "wut" yang artinya marah.[4] Dalam bahasa Prancis, rabies disebut "rage" berasal dari kata benda "robere" yang artinya menjadi gila.[4]

SejarahSunting

Rabies bukanlah penyakit baru dalam sejarah perabadan manusia. Catatan tertulis mengenai perilaku anjing yang tiba-tiba menjadi buas ditemukan pada Kode Mesopotamia yang ditulis 4000 tahun lalu serta pada Kode Babilonia Eshunna yang ditulis sekitar tahun 2300 SM.[5] Sekitar 500 SM, Demokritos juga menuliskan karakteristik gejala penyakit yang menyerupai rabies.[4]

Pada abad ke-4 SM, Aristoteles menulis pada Natural History of Animals edisi 8, bab 22:[4]

Hippokrates, Plutarkhos, Xenophon, Epimarcus, Virgil, Horatius, dan Ovidius adalah orang-orang yang pernah menyinggung karakteristik rabies dalam tulisan-tulisannya.[4] Celsius, seorang dokter pada zaman Romawi, mengasosiasikan hidrofobia (ketakutan terhadap air) dengan gigitan anjing pada tahun 100 Masehi.[5] Cardanus, seorang penulis zaman Romawi menjelaskan infektivitas air liur anjing yang terkena rabies.[4] Para penulis Romawi zaman itu mendeskripsikan materi infeksius tersebut sebagai racun, di mana "virus" adalah kata Latin bagi racun.[4]

Pliny dan Ovid adalah orang yang pertama menjelaskan penyebab lain dari rabies, yaitu cacing lidah anjing (dog tongue worm).[4] Untuk mencegah rabies pada masa itu, permukaan lidah yang diduga mengandung cacing dipotong.[4] Anggapan tersebut bertahan sampai abad ke-19, ketika akhirnya Louis Pasteur berhasil mendemonstrasikan penyebaran rabies dengan menumbuhkan jaringan otak yang terinfeksi pada tahun 1885.[4][5] Goldwasser dan Kissling menemukan cara diagnosis rabies secara modern pada tahun 1958, yaitu dengan teknik antibodi imunofluoresens langsung (direct immunofluorescent antibody) untuk menemukan antigen rabies pada jaringan.[5]

PenyebabSunting

 
Ilustrasi tiga dimensi bentuk virus rabies.
 
Tampilan Australian bat lyssavirus pada mikroskop transmisi elektron (TEM).

Rabies disebabkan oleh virus rabies yang digolongkan dalam filum Negarnaviricota, kelas Monjiviricetes, ordo Mononegavirales, keluarga Rhabdoviridae, dan genus Lyssavirus.[6] Virus ini dikelompokkan dalam grup V dalam sistem klasifikasi Baltimore, yaitu virus RNA untai tunggal dengan sense negatif. Karakter Rhabdoviridae yaitu beramplop, berbentuk seperti peluru, dan memiliki panjang 180 nm dan diameter 75 nm.[7]

Selain virus rabies (RABV), anggota Lyssavirus lainnya juga dapat mengakibatkan penyakit pada kelelawar yang serupa dengan rabies. Spesies virus yang ada dalam genus Lyssavirus dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Genus Lyssavirus: spesies and nama virusnya[8][9]
Genus Spesies Virus (singkatan)
Lyssavirus Aravan lyssavirus Aravan virus (ARAV)
Australian bat lyssavirus Australian bat lyssavirus (ABLV)
Bokeloh bat lyssavirus Bokeloh bat lyssavirus (BBLV)
Duvenhage lyssavirus Duvenhage virus (DUVV)
European bat 1 lyssavirus European bat lyssavirus 1 (EBLV-1)
European bat 2 lyssavirus European bat lyssavirus 2 (EBLV-2)
Gannoruwa bat lyssavirus Gannoruwa bat lyssavirus (GBLV)
Ikoma lyssavirus Ikoma lyssavirus (IKOV)
Irkut lyssavirus Irkut virus (IRKV)
Khujand lyssavirus Khujand virus (KHUV)
Lagos bat lyssavirus Lagos bat virus (LBV)
Lleida bat lyssavirus Lleida bat lyssavirus (LLEBV)
Mokola lyssavirus Mokola virus (MOKV)
Rabies lyssavirus* Rabies virus (RABV)
Shimoni bat lyssavirus Shimoni bat virus (SHIBV)
West Caucasian bat lyssavirus West Caucasian bat virus (WCBV)

Keterangan: "*" menunjukkan spesies tipe.

EpidemiologiSunting

Rabies ditemukan di seluruh dunia, kecuali Antarktika, dengan 95% kematian pada manusia terjadi di Asia dan Afrika.[10] Setiap tahun, hampir 59.000 orang meninggal dunia akibat rabies.[11] Gigitan anjing berkontribusi terhadap 99% kasus rabies pada manusia dan sekitar 40% orang yang digigit anjing terduga rabies merupakan anak berusia di bawah 15 tahun.[10]

Bentuk penyakitSunting

Berdasarkan siklus epidemiologisnya, rantai penularan rabies digolongkan menjadi dua bentuk, yaitu urban dan silvatik. Rabies bentuk urban bersirkulasi di tengah masyarakat dengan anjing sebagai hewan reservoir utama.[12] Siklus ini ditemukan di Asia, Afrika, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan.[12] Sementara itu, rabies bentuk silvatik merupakan rabies yang bersirkulasi di alam liar, dengan hewan seperti kelelawar, rakun, dan rubah sebagai reservoir utama.[13] Rabies silvatik ditemukan di Amerika Utara dan Australia. Kombinasi keduanya juga bisa terjadi di beberapa wilayah di dunia.[12]

Status rabies di IndonesiaSunting

Di Indonesia, rabies pertama kali ditemukan pada seekor kuda pada tahun 1884, disusul temuan pada kerbau di tahun 1889, anjing di tahun 1890, dan manusia pada 1894.[14] Saat ini, terdapat beberapa wilayah yang secara resmi dinyatakan bebas dari rabies melalui Keputusan Menteri Pertanian (Kepmentan).

No. Wilayah Bebas Rabies Tahun Penetapan Keterangan
1. Provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Daerah Istimewa Yogyakarta[15] 1997 -
2. Provinsi DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat[16] 2004 Pada tahun 2009 terjadi wabah di Provinsi Banten dan Jawa Barat[17] sehingga tinggal Provinsi DKI Jakarta yang tetap berstatus bebas rabies
3. Provinsi Kepulauan Bangka Belitung[18] 2013 -
4. Kabupaten Kepulauan Mentawai, Provinsi Sumatra Barat[19] 2015 -
5. Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau[20] 2015 -
6. Provinsi Kepulauan Riau[21] 2015 -
7. Pulau Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu[22] 2015 -
8. Pulau Weh, Kota Sabang, Provinsi Aceh[23] 2016 -
9. Pulau Pisang, Kabupaten Pesisir Barat, Provinsi Lampung[24] 2016 -
10. Provinsi Nusa Tenggara Barat[25] 2017 Pada tahun 2019 terjadi wabah di Pulau Sumbawa[26] sehingga tinggal Pulau Lombok yang tetap berstatus bebas rabies
11. Pulau Tarakan, Nunukan, dan Sebatik, Provinsi Kalimantan Utara[27] 2018 -
12. Pulau Tabuan, Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung[28] 2018 -
13. Provinsi Papua[29] 2019 -

Selain status bebas rabies, pemerintah juga menetapkan kawasan karantina dan pernyataan wabah di beberapa wilayah.

No. Wilayah Wabah dan Kawasan Karantina Tahun Penetapan Keterangan
1. Pulau Flores dan Pulau Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur[30] 2002 Penetapan kawasan karantina
2. Pulau Ambon dan Pulau Seram, Provinsi Maluku[31] 2004 Pernyataan berjangkitnya wabah
3. Kabupaten Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat[32] 2005 Pernyataan berjangkitnya wabah
4. Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara[33] 2005 Pernyataan berjangkitnya wabah
5. Kabupaten Badung, Provinsi Bali[34] 2008 Pernyataan berjangkitnya wabah
6. Provinsi Bali[35] 2008 Penetapan kawasan karantina
7. Kabupaten Garut, Tasikmalaya, Sukabumi, Cianjur, dan Kota Sukabumi Provinsi Jawa Barat, serta Kabupaten Lebak, Provinsi Banten[17] 2009 Pernyataan berjangkitnya wabah
8. Kota Gunungsitoli, Provinsi Sumatra Utara[36] 2010 Pernyataan berjangkitnya wabah
9. Pulau Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat[26] 2019 Pernyataan status situasi wabah

PenularanSunting

Spesies hewan perantara bervariasi pada berbagai letak geografis.[37] Hewan-hewan yang diketahui dapat menjadi perantara rabies antara lain rakun (Procyon lotor) dan sigung (Memphitis memphitis) di Amerika Utara, rubah merah (Vulpes vulpes) di Eropa, dan anjing di Afrika, Asia, dan Amerika Latin. Afrika, Asia, dan Amerika Latin memiliki tingkat rabies yang masih tinggi[37] Hewan perantara menginfeksi inang yang bisa berupa hewan lain atau manusia melalui gigitan.[38][2] Infeksi juga dapat terjadi melalui jilatan hewan perantara pada kulit yang terluka.[38][2] Setelah infeksi, virus akan masuk melalui saraf-saraf menuju ke sumsum tulang belakang dan otak dan bereplikasi di sana.[38] Selanjutnya virus akan berpindah lagi melalui saraf ke jaringan non saraf, misalnya kelenjar liur dan masuk ke dalam air liur.[38] Hewan yang terinfeksi bisa mengalami rabies buas/ ganas ataupun rabies jinak/ tenang.[39][40]

Pada rabies buas/ ganas, hewan yang terinfeksi tampak galak, agresif, menggigit dan menelan segala macam barang, air liur terus menetes, meraung-raung gelisah kemudian menjadi lumpuh dan mati.[39][40] Pada rabies jinak/tenang, hewan yang terinfeksi mengalami kelumpuhan lokal atau kelumpuhan total, suka bersembunyi di tempat gelap, mengalami kejang dan sulit bernapas, serta menunjukkan kegalakan[39][40] Meskipun sangat jarang terjadi, rabies bisa ditularkan melalui penghirupan udara yang tercemar virus rabies.[41] Dua pekerja laboratorium telah mengkonfirmasi hal ini setelah mereka terekspos udara yang mengandung virus rabies.[41] Pada tahun 1950, dilaporkan dua kasus rabies terjadi pada penjelajah gua di Frio Cave, Texas yang menghirup udara di mana ada jutaan kelelawar hidup di tempat tersebut.[41] Mereka diduga tertular lewat udara karena tidak ditemukan sama sekali adanya tanda-tanda bekas gigitan kelelawar.[41]

Manifestasi klinisSunting

 
Seorang penderita rabies pada tahun 1959

Gejala rabies biasanya mulai timbul dalam waktu 30-50 hari setelah terinfeksi.[42] Masa inkubasi virus hingga munculnya penyakit adalah 10-14 hari pada anjing tetapi bisa mencapai 9 bulan pada manusia.[2] Bila disebabkan oleh gigitan anjing, luka yang memiliki risiko tinggi meliputi infeksi pada mukosa, luka di atas daerah bahu (kepala, muka, leher), luka pada jari tangan atau kaki, luka pada kelamin, luka yang lebar atau dalam, dan luka yang banyak.[40] Sedangkan luka dengan risiko rendah meliputi jilatan pada kulit yang luka, garukan atau lecet, serta luka kecil di sekitar tangan, badan, dan kaki.[40] Gejala sakit yang akan dialami seseorang yang terinfeksi rabies meliputi 4 stadium:[40]

Stadium prodromalSunting

Dalam stadium prodomal sakit yang timbul pada penderita tidak khas, menyerupai infeksi virus pada umumnya yang meliputi demam, sulit makan yang menuju taraf anoreksia, pusing dan pening (nausea), dan lain sebagainya.[40]

Stadium sensorisSunting

Dalam stadium sensoris penderita umumnya akan mengalami rasa nyeri pada daerah luka gigitan, panas, gugup, kebingungan, keluar banyak air liur (hipersalivasi), dilatasi pupil, hiperhidrosis, hiperlakrimasi.[40]

Stadium eksitasiSunting

Pada stadium eksitasi penderita menjadi gelisah, mudah kaget, kejang-kejang setiap ada rangsangan dari luar sehingga terjadi ketakutan pada udara (aerofobia), ketakutan pada cahaya (fotofobia), dan ketakutan air (hidrofobia).[40] Kejang-kejang terjadi akibat adanya gangguan daerah otak yang mengatur proses menelan dan pernapasan.[39] Hidrofobia yang terjadi pada penderita rabies terutama karena adanya rasa sakit yang luar biasa di kala berusaha menelan air.[39]

Stadium paralitikSunting

Pada stadium paralitik setelah melalui ketiga stadium sebelumnya, penderita memasuki stadium paralitik ini menunjukkan tanda kelumpuhan dari bagian atas tubuh ke bawah yang progresif.[40] Karena durasi penyebaran penyakit yang cukup cepat maka umumnya keempat stadium di atas tidak dapat dibedakan dengan jelas.[40] Gejala-gejala yang tampak jelas pada penderita di antaranya adanya nyeri pada luka bekas gigitan dan ketakutan pada air, udara, dan cahaya, serta suara yang keras.[40] Sedangkan pada hewan yang terinfeksi, gelaja yang tampak adalah dari jinak menjadi ganas, hewan-hewan peliharaan menjadi liar dan lupa jalan pulang, serta ekor dilengkungkan di bawah perut.[40]

DiagnosisSunting

Jika seseorang digigit hewan, maka hewan yang menggigit harus diawasi.[43] Satu-satunya uji yang menghasilkan keakuratan 100% terhadap adanya virus rabies adalah dengan uji antibodi fluoresensi langsung (direct fluorescent antibody test/ dFAT) pada jaringan otak hewan yang terinfeksi.[43] Uji ini telah digunakan lebih dari 40 tahun dan dijadikan standar dalam diagnosis rabies.[43][44] Prinsipnya adalah ikatan antara antigen rabies dan antibodi spesifik yang telah dilabel dengan senyawa fluoresens yang akan berpendar sehingga memudahkan deteksi.[43] Namun, kelemahannya adalah subjek uji harus disuntik mati terlebih dahulu (eutanasia) sehingga tidak dapat digunakan terhadap manusia.[43] Akan tetapi, uji serupa tetap dapat dilakukan menggunakan serum, cairan sumsum tulang belakang, atau air liur penderita walaupun tidak memberikan keakuratan 100%.[43] Selain itu, diagnosis dapat juga dilakukan dengan biopsi kulit leher atau sel epitel kornea mata walaupun hasilnya tidak terlalu tepat sehingga nantinya akan dilakukan kembali diagnosis post mortem setelah hewan atau manusia yang terinfeksi meninggal.[44]

PenangananSunting

Bila terinfeksi rabies, segera cari pertolongan medis.[45] Rabies dapat diobati, namun harus dilakukan sedini mungkin sebelum menginfeksi otak dan menimbulkan gejala.[42][45] Bila gejala mulai terlihat, tidak ada pengobatan untuk menyembuhkan penyakit ini.[45] Kematian biasanya terjadi beberapa hari setelah terjadinya gejala pertama.[45]
Jika terjadi kasus gigitan oleh hewan yang diduga terinfeksi rabies atau berpotensi rabies (anjing, sigung, rakun, rubah, kelelawar) segera cuci luka dengan sabun atau pelarut lemak lain di bawah air mengalir selama 10-15 menit lalu beri antiseptik alkohol 70% atau betadin.[40] Orang-orang yang belum diimunisasi selama 10 tahun terakhir akan diberikan suntikan tetanus.[46] Orang-orang yang belum pernah mendapat vaksin rabies akan diberikan suntikan globulin imun rabies yang dikombinasikan dengan vaksin.[46] Separuh dari dosisnya disuntikkan di tempat gigitan dan separuhnya disuntikan ke otot, biasanya di daerah pinggang.[42] Dalam periode 28 hari diberikan 5 kali suntikan.[42] Suntikan pertama untuk menentukan risiko adanya virus rabies akibat bekas gigitan.[42] Sisa suntikan diberikan pada hari ke 3, 7, 14, dan 28.[42] Kadang-kadang terjadi rasa sakit, kemerahan, bengkak, atau gatal pada tempat penyuntikan vaksin.[46]

PencegahanSunting

Pencegahan rabies pada manusia harus dilakukan sesegera mungkin setelah terjadi gigitan oleh hewan yang berpotensi rabies, karena bila tidak dapat mematikan (letal)[2]

Langkah-langkah untuk mencegah rabies bisa diambil sebelum terjangkit virus atau segera setelah terkena gigitan.[37] Sebagai contoh, vaksinasi bisa diberikan kapada orang-orang yang berisiko tinggi terhadap terjangkitnya virus, yaitu:[47]

  • Dokter hewan.[47]
  • Petugas laboratorium yang menangani hewan-hewan yang terinfeksi.[47]
  • Orang-orang yang menetap atau tinggal lebih dari 30 hari di daerah yang rabies pada anjing banyak ditemukan[37]
  • Para penjelajah gua kelelawar.[41]

Vaksinasi idealnya dapat memberikan perlindungan seumur hidup.[48] Tetapi seiring berjalannya waktu kadar antibodi akan menurun, sehingga orang yang berisiko tinggi terhadap rabies harus mendapatkan dosis booster vaksinasi setiap 3 tahun.[2] Pentingnya vaksinasi rabies terhadap hewan peliharaan seperti anjing juga merupakan salah satu cara pencegahan yang harus diperhatikan.[42]

Hari Rabies SeduniaSunting

 
Logo Hari Rabies Sedunia.

Hari Rabies Sedunia (bahasa Inggris: World Rabies Day atau WRD) merupakan hari penting internasional yang diselenggarakan pada tanggal 28 September setiap tahun. Peringatan Hari Rabies Sedunia bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan bahaya penyakit rabies dan pentingnya memberantas penyakit ini.

Hari Rabies Sedunia mulai diselenggarakan pada tahun 2007.[49] Secara umum, pelaksanaan WRD dilakukan dengan sosialiasi kepada masyarakat dan vaksinasi rabies terhadap hewan, terutama anjing. Tujuan yang ingin dicapai oleh kampanye ini adalah memastikan anjing divaksin, membantu masyarakat yang membutuhkan profilaksis pascapajanan, dan menjadikan dunia bebas dari penyakit rabies pada tahun 2030.[50]

Catatan kakiSunting

Daftar pustakaSunting

Buku dan panduanSunting

JurnalSunting

Peraturan perundang-undanganSunting

Situs webSunting