Buka menu utama

Wikipedia β

"Preste" sebagai Kaisar Ethiopia, menduduki tahta di atas sebuah peta Afrika Timur dalam sebuah atlas yang diberikan Portugis kepada Ratu Maria, 1558. (British Library)

Prester Yohanes (bahasa Latin: Presbyter Johannes) adalah seorang raja dan patriark Kristen legendaris dalam tradisi dan kronik-kronik Eropa dari abad ke-12 sampai ke-17. Ia dikatakan memerintah sebuah negara Kristen Nestorian (Gereja dari Timur) yang menghilang di tengah-tengah kaum Muslim dan pagan di Timur. Catatan tersebut merupakan kumpulan kisah fantasi populer abad pertengahan, yang menyebut Prester Yohanes sebagai keturunan dari Tiga Orang Majus, memerintah sebuah kerajaan yang dipenuhi kekayaan, keajaiban, dan makhluk-makhluk aneh.

Mula-mula, Prester Yohanes dikisahkan tinggal di India; kisah-kisah keberhasilan penginjilan Kristen Nestorian di sana dan perjalanan Rasul Tomas di anak benua tersebut diyakini menanamkan benih awal dari legenda tersebut. Setelah kedatangan bangsa Mongol ke dunia Barat, berbagai catatan menyatakan bahwa raja tersebut berada di Asia Tengah, dan kemudian para penjelajah Portugis menyatakan bahwa mereka menemukannya di Ethiopia.

Daftar isi

Asal muasal legendaSunting

Meskipun dasar kisah tersebut tidak jelas, legenda Prester Yohanes digambarkan secara kuat dari catatan awal perjalanan orang-orang Timur dan Barat. Sebagian besar pengaruhnya adalah kisah-kisah pemindahan agama Santo Rasul Tomas di India, seperti yang tercantum dalam sebuah karya abad ke-2 yang dikenal sebagai Kisah Rasul Tomas,[1] dan laporan-laporan Gereja dari Timur di Persia Besar. Gereja dari Timur (Church of the East), yang juga disebut gereja Nestorian, mendapatkan banyak pengikut di negeri-negeri Timur dan memberikan gambaran Barat terhadap Kristen yang eksotis dan familiar.[2] Sebagian besar inspirasinya adalah keberhasilan misionaris Nestorian di kalangan bangsa Mongol dan Turk di Asia Tengah; René Grousset (1970) menyatakan bahwa salah satu benih dari cerita tersebut datang dari bangsa Kerait, yang ribuan anggotanya berpindah ke Kristen Nestorian tak lama setelah tahun 1000 Masehi. Pada abad ke-12, para penguasa Kerait masih mengikuti kebiasaan memakai nama-nama Kristen, yang memenuhi legenda tersebut.[3]

 
Prester Yohanes dari Kronik Nuremberg karya Hartmann Schedel, 1493

Selain itu, tradisi tersebut diyakini digambarkan dari bayang-bayang figur Kristen awal Yohanes sang Presbiter dari Siria, yang keberadaannya pertama kali disebutkan oleh sejarawan gerejawi dan uskup Eusebius dari Kaisarea berdasarkan pada bacaannya dari bapa-bapa gereja awal.[4] Tokoh tersebut, seperti yang dikatakan dari salah satu dokumen dari pengarang dua Surat-Surat Yohanes,[5] menjadi guru uskup martir Papias, yang kemudian mengajar guru Eusebius sendiri yaitu Ireneus. Namun, hanya sedikit yang mengaitkan figur tersebut, yang dikatakan aktif pada akhir abad ke-1, dengan legenda Prester Yohanes di luar namanya.[6]

Catatan-catatan tentang Prester Yohanes pada masa berikutnya sangat dipengaruhi dari teks-teks sastra terkait dunia Timur, yang meliputi sebagian besar sastra perjalanan dan geografi zaman kuno dan abad pertengahan. Penjelasannya seringkali diturunkan dari catatan sastra atau pseudo-sejarah, seperti kisah Sinbad si Pelaut.[7] Romansa Aleksander, sebuah kisah terkenal dari penaklukan Aleksander Agung, secara khusus mempengaruhi kisah tersebut.[8]

Para sarjana memperdebatkan asal muasal nama Prester Yohanes. Kata Prester diyakini sebuah sebuah kesalahan penyebutan dari kata "Presbiter" atau "imam".[9] Sir John Mandeville, seorang penulis abad pertengahan yang dikenal pada masa hidupnya karena catatan-catatan perjalanan buatannya, menuliskan tentang seorang kaisar yang bernama Yohanes yang memutuskan untuk menjadi imam setelah bertemu dengan seorang kesatria Kristen, dimana terdapat kalinya "kaisar berkata, bahwa ia tidak lama lagi tidak menjadi kaisar, melainkan preest".[10] Rujukan tersebut menyatakan bahwa penyebutan Prester sebagai "preest" (priest, imam) itu merupakan interpretasi yang benar dari nama Prester Yohanes.[10] Vie de Saint Louis berbahasa Perancis Kuno, termasuk dalam redaksi Les Grandes Chroniques de France dari pertengahan abad ke-14, juga menyebutkan penguasa tersebut, menyebutnya "prestre Jehan le roy d'Inde" (secara harfiah, "imam Yohanes raja dari India"), langsung menggunakan kata Perancis untuk "imam" (priest).[11]

Legenda tersebut pertama kali dicatat pada awal abad ke-12 dengan laporan kunjungan seorang "Uskup Agung India" ke Konstantinopel, dan seorang "Patriark India" ke Roma pada masa jabatan Paus Kallistus II (1119–1124).[12] Kedua kunjungan tersebut tidak dapat dikonfirmasikan karena kisahnya berasal dari laporan tangan kedua. Kisah tersebut merupakan sebuah cerita yang pembuat kronik Jerman Otto dari Freising laporkan dalam Chronicon buatannya pada 1145 yang pada tahun sebelumnya ia bertemu dengan Hugh, uskup Jabala di Siria, di istana Paus Eugenius III di Viterbo.[13] Hugh merupakan seorang emisaris dari Pangeran Raymond dari Antiokhia yang meminta bantuan Barat untuk melawan Saracen setelah Pengepungan Edessa, dan konselnya menyatakan bahwa Eugene menyerukan Perang Salib Kedua. Ia mengatakan kepada Otto, di hadapan Paus, bahwa Prester Yohanes, seorang Kristen Nestorian yang menjabat dalam posisi ganda imam dan raja, mengambil alih kota Ecbatana dari dua penguasa monarki bersaudara Medes dan Persia, Samiardi, dalam sebuah pertempuran besar "yang terjadi beberapa tahun silam". Setelah itu, Prester Yohanes diduga berangkat ke Yerusalem untuk menyelamatkan Tanah Suci, namun meluapnya perairan Tigris membuat ia kembali ke negaranya sendiri. Kekayaannya yang luar biasa ditunjukan dengan tongkat zamrudnya; kesuciannya menurun kepadanya dari Tiga Orang Majus.[14]

Silverberg menghubungkan catatan ini dengan peristiwa-peristiwa sejarah pada 1141, ketika Kekhanan Kara-Khitan yang berada di bawah kekuasaan Yelü Dashi mengalahkan Turki Seljuk di dekat Samarkand. Meskipun Kara-Khitan pada masa tersebut adalah Buddhis dan bukan Kristen,[15] beberapa negara vasal Kara-Khitan mempraktikkan Kristen Nestorian, yang diyakini berkontribusi terhadap terciptanya legenda tersebut serta memungkinkan bangsa Eropa, yang tidak familiar dengan konsep Buddhisme, berasumsi bahwa jika pemimpinnya bukan Muslim, ia merupakan seorang penganut Kristen.[16] Laporan kekalahan tersebut menginspirasi sebuah gagasan tentang "pembebasan dari dunia Timur", dan kemungkinan Otto mencatat laporan Hugh untuk mencegah rasa puas diri para pendukung Perang Salib dari Eropa; menurut catatannya, tidak ada bantuan yang dapat diharapkan dari seorang raja dunia Timur yang berkuasa.[17]

Surat Prester YohanesSunting

Tidak ada kisah yang tercatat sampai sekitar tahun 1165 ketika salinan-salinan dari karya yang dipastikan sebagai Surat Prester Yohanes palsu mulai menyebar ke seluruh Eropa.[15] Kisah menakjubkan yang ditampilkan menunjukan bahwa pengarangnya mengetahui Romansa Aleksander dan menyebut Kisah Rasul Tomas yang disebut di atas, Surat tersebut diduga ditujukan kepada Kaisar Bizantium Manuel I Comnenus (1143–1180) oleh Prester Yohanes, keturunan dari salah satu Tiga Orang Majus dan Raja India.[18][19] Berbagai kekayaan dan keajaiban yang terkandung dalam kisah kerajaan tersebut terserap dalam imajinasi bangsa-bangsa Eropa, dan kisah tersebut diterjemahkan ke dalam sejumlah bahasa, termasuk bahasa Ibrani. Kisah tersebut disebarkan dalam berbagai tambahan bumbu cerita selama berabad-abad dalam bentuk manuskrip, seratus contoh masih ada sampai saat ini. Penemuan mesin cetak mendukung ketenaran surat tersebut dalam bentuk cetak; kisah tersebut masih menjadi budaya populer pada masa penjelajahan Eropa. Bagian dari pernyataan surat tersebut yang menyatakan bahwa terdapat sebuah kerajaan Kristen Nestorian yang hilang masih diyakini di wilayah Asia Tengah.

Penerimaan atas laporan-laporan tersebut sedemikian rupa sehingga Paus Aleksander III mengirimkan sebuah surat kepada Prester Yohanes melalui Filipus dokternya pada 27 September 1177. Tidak ada penjelasan lebih lanjut mengenai Filipus, namun sebagian besar orang meyakini bahwa ia tidak pulang dengan membawa tanggapan dari Prester Yohanes.[20] Surat tersebut tetap beredar dan makin banyak diberi bumbu cerita pada setiap salinan. Pada masa modern, analisis tekstual dari varian surat tersebut dalam versi-versi Ibrani memberi kesan asalnya dari kaum Yahudi di utara Italia atau Languedoc: beberapa kata Italia masih tercantum dalam teks-teks Ibrani tersebut.[21] Pada pandangan lainnya, sebagian besar orang meyakini bahwa pengarang Surat tersebut merupakan orang Barat, meskipun keperluannya masih tidak jelas.

Kekaisaran MongolSunting

 
Penggambaran penguasa Kerait Ong Khan sebagai "Prester John" dalam "Le Livre des Merveilles", abad ke-15

Pada 1221, Jacques de Vitry, Uskup Acre, kembali dari Perang Salib Kelima dengan kabar baik:Raja Daud dari India, putra atau cucu dari Prester Yohanes, memajukan para pasukannya melawan Saracen. Ia telah menaklukan Persia, yang pada waktu itu beradal di bawah kekuasaan Kekaisaran Khwarezmia, dan berpindah ke Baghdad juga. Keturunan dari raja besar tersebut yang mengalahkan Seljuk pada 1141 berencana menakhlukan kembali dan membangun kembali Yerusalem.[22][23] Sejarawan dan etnolog Soviet kontroversial Lev Gumilev berpendapat bahwa Tentara Salib Kerajaan Yerusalem di wilayah Syam menyebarkan legenda tersebut dalam rangka meningkatkan harapan Kristen dan menghibur para monarki Eropa yang pada waktu itu kehilangan kepentingan dalam memegang keterlibatan terhadap para tentara salib di wilayah jauh yang kehilangan urusan dan kewarganegaraan mereka sendiri.[24]

Uskup Acre berpikir bahwa seorang Raja besar telah menaklukan Persia; namun "Raja Daud", seperti yang pada masa itu dikabarkan, merupakan panglima perang Tengris Genghis Khan. Pemerintahannya memegang cerita Prester Yohanes dalam sorotan baru. Meskipun Genghis mula-mula dipandang sebagai ancaman bagi musuh-musuh Kristen, ia mengambil sikap toleran terhadap kepercayaan-kepercayaan agama bagi orang-orang yang tidak berada pada kekaisarannya, dan merupakan penguasa Asia Timur pertama yang mengundang para rohaniwan dari tiga agama besar (Kristen, Islam, dan Buddha) ke sebuah simposium sehingga ia dapat lebih mempelajari kepercayaan mereka.[25] Penguasa Mongol tersebut juga memiliki seorang istri kesayangan yang menganut Kristen Nestorian, yang bangsa Eropa anggap sebagai pengaruh dalam penaklukan Mongol atas Baghdad.[25]

Kebangkitan Kekaisaran Mongol memberikan Kristen Barat kesempatan untuk mengunjungi wilayah-wilayah yang belum pernah mereka lihat sebelumnya, dan sebagian besar perjalanan tersebut dilakukan di sepanjang jalan yang dilalui Kekaisaran tersebut. Percaya bahwa sebuah kerajaan Nestorian yang hilang berada di bagian timur, atau bahwa keselamatan Negara-negara Tentara Salib bergantung pada sebuah aliansi dengan seorang penguasa monarki Timur, adalah salah satu alasan agar sejumlah duta besar dan misionaris Kristen dikirim ke Mongol. Orang-orang tersebut meliputi penjelajah Fransiskan Giovanni da Pian del Carpine pada 1245 dan William dari Rubruck pada 1253.[26]

Hubungan antara Prester Yohanes dan Genghis Khan dikaitkan pada waktu itu, karna Prester diidentifikasikan sebagai ayah angkat Genghis, Toghril, raja Kerait, yang diberi gelar Jin Ong Khan Toghril. Catatan-catatan terpercaya dari para pembuat kronik dan penjelajah seperti Marco Polo,[27] tentara salib-sejarawan Jean de Joinville,[28] dan penjelajah Fransiskan Odorik dari Pordenone[29] menganggap Prester Yohanes berasal dari belahan dunia lainnya, menggambarkannya sebagai penguasa monarki duniawi yang lebih nyata. Odorik menyatakan bahwa tanah air Yohanes beradal di sebelah barat Cathay pada perjalanan menuju Eropa, dan menyebut ibukotanya sebagai Casan, yang diyakini sebagai Kazan, ibukota Tatar dekat Moskwa. Joinville menyebut Genghis Khan dalam kroniknya sebagai seorang "pria bijak" yang menyatukan seluruh suku Tartar dan memimpin mereka menuju kemenangan melawan musuh terkuat mereka, Prester Yohanes.[28] William dari Rubruck berkata bahwa "Vut", kepala suku Kerait dan saudari dari Raja Nestorian Yohanes, dikalahkan oleh bangsa Mongol yang berada di bawah kepemimpinan Genghis. Genghis mengambil putri Vut dan menikahkannya dengan putranya, dan pernikahan tersebut dikaruniai anak bernama Möngke, seorang Khan pada masa William membuat pernyataan tersebut.[30] Menurut Perjalanan karya Marco Polo, perang antara Prester dan Genghis dimulai ketika Genghis, penguasa baru dari bangsa pemberontak Tartar, membujuk agar Prester Yohanes menikahkan putrinya. Marah karena permintaan tersebut dianggap merendahkan, Prester Yohanes menolaknya untuk alasan yang tidak jelas. Pada perang yang terjadi setelahnya, Genghis menang dan Prester Yohanes tewas.[31]

Figur sejarah yang berada di balik catatan tersebut, Toghril, pada kenyataannya merupakan seorang penguasa monarki Kristen Nestorian yang dikalahkan oleh Genghis. Ia diangkat menjadi Khan setelah kematian ayahnya Yesugei dan merupakan salah satu sekutu awalnya, namun keduanya digulingkan. Setelah Toghril menolak rencana untuk menikahkan putra dan putrinya dengan anak-anak Genghis, pertikaian terjadi antara mereka berkembang sampai perang pecah pada 1203. Genghis mengambil Sorghaghtani Beki, putri dari saudara Toghril, Jaqa Gambu, dan menikahkannya dengan putranya Tolui; mereka memiliki beberapa anak, yang meliputi Möngke, Kublai, Hulagu, dan Ariq Böke.

Karakteristik utama pada kisah-kisah Prester Yohanes dari masa tersebut adalah penggambaran raja yang tidak menjadi seorang pahlawan tidak terlihat, namun sebagai salah satu pembangkang yang dikalahkan oleh bangsa Mongol. Namun saat Kekaisaran Mongol runtuh, bangsa Eropa mulai mengabaikan gagasan bahwa Prester Yohanes benar-benar seorang raja Asia Tengah.[32] Mereka menganggap kecil kemungkinan untuk menemukannya di sana, karena perjalanan di wilayah tersebut menjadi berbahaya tanpa pengamanan yang diberikan Kekaisaran tersebut. Dalam karya-karya seperti The Travels of Sir John Mandeville[33][34] dan Historia Trium Regum karya Yohanes dari Hildesheim,[35] wilayah kekuasaan Prester Yohanes menunjukan aspek-aspek fantastiknya dan tidak dapat ditemukan di kawasan stepa Asia Tengah, namun di wilayah India, atau beberapa wilayah eksotis lainnya. Wolfram von Eschenbach mengaitkan sejarah Prester Yohanes dengan legenda Piala Suci dalam puisinya Parzival, dimana Prester tersebut disebut sebagai putra dari pelayan Piala dan kesatria Saracen Feirefiz.[36]

Sebuah teori dikeluarkan oleh cendekiawan Ph. Bruun pada 1876, yang menyatakan bahwa Prester Yohanes diyakini merupakan salah satu raja Georgia, yang menghadapi kekuatan Muslim pada masa Perang Salib. Namun, teori tersebut disangkal oleh Friedrich Zarncke, meskipun diakui oleh Henry Yule dan beberapa sejarawan Georgia modern.[37]

EthiopiaSunting

 
Sebuah peta kerajaan Prester Yohanes sebagai Ethiopia

Prester Yohanes dianggap sebagai penguasa India semenjak legenda tersebut bermula, namun "India" merupakan sebuah konsep yang samar bagi bangsa Eropa. Para penulis sering menyebut "Tiga India", dan karena kurangnya pengetahuan nyata manapun dari Samudera Hindia, mereka terkadang menganggap Ethiopia sebagai salah satu dari ketiganya. Orang-orang Barat mengetahui bahwa Ethiopia merupakan sebuah negara Kristen berpengaruh, namun putus kontak semenjak kebangkitan Islam. Karena Prester Yohanes tak ditemukan di Asia, sehingga orang-orang Eropa berpikir bahwa ia berada di wilayah terdepan "India" sampai menemukan sebuah kerajaan berpengaruh yang diyakini pernah diperintah olehnya di Ethiopia.[38] Bukti yang menunjukkan bahwa kerajaan Prester Yohanes berada di Ethiopia ditemukan pada sekitar tahun 1250.[39]

Marco Polo telah menyebut Ethiopia sebagai sebuah wilayah Kristen yang luar biasa[40] dan Kristen Ortodoks memiliki sebuah legenda bahwa sebuah negara suatu hari akan bangkit dan menaklukan Arabia,[41] namun mereka tidak menempatkan Prester Yohanes di sana. Kemudian pada 1306, 30 duta besar Ethiopia dari Kaisar Wedem Arad datang ke Eropa, dan Prester Yohanes dikatakan sebagai patriark gereja mereka dalam sebuah catatan kunjungan mereka.[42] Deskripsi lainnya dari Prester Yohanes berada di Afrika adalah dalam Mirabilia Descripta dari misionaris Dominikan Jordanus, pada sekitar tahun 1329.[43] Dalam catatan "Third India", Jordanus mencatat sejumlah kisah fantastik tentang wilayah tersebut dan rajanya, yang ia sebut Prester Yohanes kepada bangsa Eropa.

 
"Preste Iuan de las Indias" (Prester Yohanes dari Hindia) berada di Afrika Timur pada sebuah peta Spanyol abad ke-16

Setelah titik ini, sebuah lokasi Afrika mengalami peningkatan ketenaran. Peristiwa tersebut mengakibatkan meningkatnya hubungan antara Eropa dan Afrika ketika pada 1428, Raja Aragon dan Raja Ethiopia aktif bernegosiasi untuk menjalin hubungan strategis antara dua kerajaan tersebut.[39] Pada 7 Mei 1487, dua duta Portugis, Pêro da Covilhã dan Afonso de Paiva, melakukan perjalanan secara rahasia ke penjuru dunia untuk mengumpulkan informasi tentang rute laut menuju India, selain melacak keberadaan Prester Yohanes. Covilhã memutuskan untuk menuju Ethiopia. Meskipun berhasil mencapai ke wilayah tersebut, ia dilarang untuk kembali. Beberapa duta dikirim pada 1507, setelah Socotra diambil oleh Portugis. Akibat dari misi tersebut, dan menghadapi ekspansi Muslim, pemangku ratu Eleni dari Ethiopia mengirimkan duta besar Mateus kepada raja Manuel I dari Portugal dan kepada Paus, untuk mencari koalisi. Mateus meraih Portugal melalui Goa, kembali pada sebuah kedutaan besar Portugis, bersama dengan imam Francisco Álvares pada 1520. Buku karya Francisco Álvares, yang meliputi pernyataan Covilhã, Verdadeira Informação das Terras do Preste João das Indias ("Sebuah Hubungan Sebenarnya dari Tanah Prester Yohanes dari Hindia") adalah catatan langsung pertama dari Ethiopia, yang makin meningkatkan pengetahuan Eropa pada waktu itu, karena karya tersebut dipersembahkan kepada Paus, dipublikasikan dan dikutip oleh Giovanni Battista Ramusio.[44]

Pada masa pemerintahan kaisar Lebna Dengel dan Portugis mengadakan kontak diplomatik dengan satu sama lain pada 1520, Prester Yohanes merupakan nama yang diyakini bangsa Eropa dikenal Kaisar Ethiopia.[45] Meskipun bangsa Ethiopia tak pernah menyebut kaisar mereka dengan sebutan tersebut. Ketika para duta besar dari Kaisar Zara Yaqob menghadiri Konsili Firenze pada 1441, mereka menyangkap saat para pelatur konsili menyebut penguasa monarki mereka dengan sebutan Prester Yohanes. Mereka berusaha menjelaskan bahwa gelar tersebut tercantum dalam daftar nama regnal Zara Yaqob. Namun, mereka bersikukuh agar bangsa Eropa berhenti menyebut Raja Ethiopia dengan sebutan Prester Yohanes.[46] Beberapa penulis yang menggunakan gelar tersebut mengetahui bahwa sebutan tersebut bukanlah sebuah gelar kehormatan; Contohnya, Jordanus nampaknya menggunakan sebutan tersebut karena para pembacanya akan familiar dengan sebutan tersebut, meskipun ia tidak menyatakan bahwa sebutan tersebut otentik.[47]

Ethiopia telah diklaim selama beberapa tahun sebagai asal muasal legenda Prester Yohanes, namun sebagian besar pakar modern percaya bahwa legenda tersebut merupakan sebuah kisah sederhana yang diadaptasi dari sebuah negara dengan penampilan sama yang diproyeksikan terhadap Ong Khan dan Asia Tengah pada abad ke-13. Para cendekiawan modern tidak menemukan apapun tentang Prester tersebut atau negaranya dalam material awal yang membuat Ethiopia lebih diidentifikasikan ketimbang tempat lainnya. Selain itu, para spesialis sejarah Ethiopia menyatakan bahwa cerita tersebut tidak diketahui disana sampai menjalin kontak dengan Eropa. Fransiskan Ceko Remedius Prutky bertanya kepada Kaisar Iyasu II tentang identifikasi tersebut pada 1751, dan Prutky menyatakan bahwa manusia "dapat tercengang, dan berkata kepadaku bahwa raja-raja Abisia tak pernah menyebut diri mereka sendiri dengan nama tersebut."[48] Pada sebuah pernyataan, Richard Pankhurst menyatakan bahwa peristiwa tersebut merupakan pernyataan tercatat pertama yang dibuat oleh seorang penguasa monarki Ethiopia, dan mereka sepertinya salah paham terhadap sebutan tersebut sampai Prutky memberikan sebuah jawaban.[49]

Para akademisi abad ke-17 seperti orientalis Jerman Hiob Ludolf menyatakan bahwa tak ada hubungan asli yang sebenarnya berkaitan antara Prester Yohanes dan para penguasa Ethiopia.[50]

Pengaruh modernSunting

Legenda tersebut memberikan dampak kepada para penjelajah, misionaris, cendekiawan, dan pemburu harta karun Eropa selama beberapa ratus tahun dalam sejarah Eropa dan dunia, baik secara langsung maupun tak langsung.

Permainan panggung 1600 William Shakespeare Much Ado About Nothing berisi sebuah rujukan modern awal terhadap raja legendaris tersebut,[51] demikian pula dengan El Burlador de Sevilla karya Tirso de Molina.[52] Pada 1910, novelis dan politikus Inggris John Buchan menggunakan legenda tersebut dalam buku keenamnya, Prester John, untuk memberikan sebuah alur tentang kebangkitan suku Zulu di Afrika Selatan. Buku tersebut merupakan sebuah contoh dari novel petualangan awal abad ke-20, dan sangat populer pada masanya.

Charles Williams, seorang anggota kelompok sastra abad ke-20 Inklings, menyebut Prester Yohanes sebagai pelindung mesianik dari Piala Suci dalam novel 1930nya War in Heaven. Prester dan kerajaannya juga menjadi figur penting dalam novel 2000 Umberto Eco Baudolino, dimana protagonis utama menyuruh teman-temannya untuk menulis Surat Prester Yohanes untuk ayah angkatnya Frederick Barbarossa, namun dicuri sebelum mereka mengirimnya.

Karena karya Buchan, Prester Yohanes juga tampil dalam karya fiksi dan komik pada abad ke-20. Contohnya , Marvel Comics menampilkan "Prester John" dalam keluaran Fantastic Four dan Thor. Ia merupakan sebuah karakter pendukung signifikan dalam beberapa keluaran dari serial fantasi DC Comics Arak: Son of Thunder. Avatar-nya adalah sekutu dari Pendragon dalam Mage: The Hero Defined. Permainan video 1992 Castles II: Siege and Conquest berisi sebuah anak alur yang melibatkan pencarian kerajaan Prester Yohanes. Prester Yohanes juga muncul dalam trilogi epik Tad Williams, Memory, Sorrow and Thorn dan Musim 2 dari Marco Polo Netflix yang meliputi rujukan kepada Prestor John.

Lihat pulaSunting

CatatanSunting

  1. ^ Silverberg, pp. 17–18.
  2. ^ Silverberg, p. 20.
  3. ^ Grousset, p. 191
  4. ^ Eusebius dari Caesarea. Historia Ecclesiastica, III, xxxix, 4.
  5. ^ According to the 5th-century Decretum Gelasianum.
  6. ^ Silverberg, pp. 35–39.
  7. ^ Silverberg, pp. 16, 49–50.
  8. ^ Silverberg, pp. 46–48.
  9. ^ Rosenberg, Matt (2016). "Prester John". geography.about.com. about. 
  10. ^ a b Baring-Gould, Sabine (2003). Curious Myths of the Middle Ages. Dover Publications. ISBN 0486439933. 
  11. ^ Viard, Jules, ed. (1932). Les Grandes Chroniques de France 7. Paris: Librairie Ancienne Honoré Chamption. p. 130. 
  12. ^ Silverberg, pp. 29–34.
  13. ^ Halsall, Paul (1997). "Otto of Freising: The Legend of Prester John". Internet Medieval Sourcebook. Diakses pada 20 Juni 2005. Silverberg, pp. 3–7. Bowden, p. 177
  14. ^ Fertur enim iste de antiqua progenie illorum, quorum in Evangelio mentio fit, esse Magorum, eisdemque, quibus et isti, gentibus imperans, tanta gloria et habundancia frui, ut non nisi sceptro smaragdino uti dicatur (It is reported that he is the descendant of those Magi of old who are mentioned in the Gospel, and to rule over the same nations as they did, enjoying such glory and prosperity that he uses no sceptre but one of emerald). Otto von Freising, Historia de Duabus Civitatibus, 1146, in Friedrich Zarncke, Der Priester Johannes, Leipzig, Hirzel, 1879 (repr. Georg Olms Verlag, Hildesheim and New York, 1980, p.848; Adolf Hofmeister, Ottonis Episcopi Frisingensis Chronica; sive, Historia de Duabus Civitatibus, Hannover. 1912, p.366.
  15. ^ a b Rossabi, p. 5
  16. ^ Silverberg, pp. 12–13. Jackson, pp. 20–21
  17. ^ Silverberg, p. 8.
  18. ^ Silverberg, pp. 40–73.
  19. ^ Michael Uebel, Ecstatic Transformation: On the Uses of Alterity in the Middle Ages, Palgrave/Macmillan (2005), contains a full English translation and a discussion of the Letter.
  20. ^ Silverberg, pp. 58–60
  21. ^ Bar-Ilan, Meir (1995). "Prester John: Fiction and History". In History of European Ideas, vol. 20 (1–3), pp. 291–298. Diakses pada 20 Juni 2005.
  22. ^ Jacques de Vitry; Huygens, R. B. C. (Ed.) (1970). Lettres de Jacques de Vitry. Leiden.
  23. ^ Silverberg, pp. 71–73.
  24. ^ Lev Gumilev – Searching for an Imaginary Kingdom : The Legend of the Kingdom of Prester John (1970), p.342
  25. ^ a b Chua, Amy (2007). Day of Empire: How Hyperpowers Rise to Global Dominance. Chapter on the surprising religious tolerance of the Mongol Court, as Chua describes it; to which she attributes the administrative success of the Khan's descendants. Chua describes the unique debate between 13th-century Buddhist, Christian and Muslim clerics as having been ultimately resolved over copious quantities of drink, with the Great Khan undecided, according to accounts by the first Christian visitors to the Mongol court. Doubleday. ISBN 978-0-385-51284-8. 
  26. ^ Silverberg, p. 86.
  27. ^ Polo, Marco; Latham, Ronald (translator) (1958). The Travels, pp. 93–96. New York: Penguin Books. ISBN 0-14-044057-7.
  28. ^ a b Jean de Joinville; Geffroy de Villehardouin; and Shaw, Margaret R. B. (translator) (1963). Chronicles of the Crusades. New York: Penguin. ISBN 0-14-044124-7.
  29. ^ Odoric of Pordenone; Yule, Henry (translator); Chiesa, Paolo (introduction) (December 15, 2001). The Travels of Friar Odoric. Grand Rapids, Michigan: Wm. B. Eerdmans Publishing Company. ISBN 0-8028-4963-6.
  30. ^ William of Rubruck; Jackson, Peter; Ruysbroeck, Willem van; Morgan, David (editors) (1990). The Mission of Friar William of Rubruck. London: Hakluyt Society. ISBN 0-904180-29-8.
  31. ^ Marco Polo, pp. 93–96.
  32. ^ Silverberg, p. 139.
  33. ^ Halsall, Paul (March 1996). "Mandeville on Prester John". Internet Medieval Sourcebook. Retrieved June 20, 2005.
  34. ^ Mosely, C. W. R. D. (1983). The Travels of Sir John Mandeville, pp. 167–171. New York: Penguin Books. ISBN 0-14-044435-1.
  35. ^ John of Hildesheim (1997). The Story of the Three Kings. Neumann Press. ISBN 0-911845-68-2.
  36. ^ Wolfram von Eschenbach; Hatto, A. T. (1980). Parzival, p. 408. New York: Penguin. ISBN 0-14-044361-4.
  37. ^ Arthur Percival Newton, E. D. Hunt (1996), Travel and travellers of the Middle Ages, p. 190. Routledge, ISBN 0-415-15605-X
  38. ^ Silverberg, pp. 163–164.
  39. ^ a b Thornton, Joe (2012). A Cultural History of the Atlantic World, 1250-1820. Cambridge University Press. pp. 16–17. ISBN 9780521727341. 
  40. ^ Marco Polo, pp. 303–307.
  41. ^ Silverberg, pp. 176–177.
  42. ^ Silverberg, pp. 164–165.
  43. ^ Jordanus, Mirabilia, chapter VI (2).
  44. ^ Cecil H. Clough, David B. Quinn, Paul Edward Hedley Hair, "The European outthrust and encounter: the first phase c.1400-c.1700", p.85-86, Liverpool University Press, 1994, ISBN 0-85323-229-6
  45. ^ Silverberg, pp. 188–189.
  46. ^ Silverberg, p. 189.
  47. ^ Silverberg, p. 166–167.
  48. ^ Arrowsmith-Brown, p. 115.
  49. ^ Arrowsmith-Brown, p. 115 n 24.
  50. ^ Ludolf, Hiob (1681). Historia Aethiopica.
  51. ^ Shakespeare, William (1600). Much Ado About Nothing, act II, scene 1, line 225. '...bring you the length of Prester John’s foot...'
  52. ^ de Molina, Tirso (1630). El Burlador de Sevilla y convidado de piedra, jornada II.

ReferensiSunting

  • Alberic of Trois Fontanes. Chronicle. 1252
  • Francisco Álvares. Narrative of the Portuguese Embassy to Abyssinia
  • Andrea da Barbermo. Guermo il Meschino. 1409
  • Arrowsmith-Brown, J. H. (translator), Prutky's travels to Ethiopia and other countries. London: Hakluyt Society, 1991. The section concerning Prester John is pp. 115–117.
  • Baum, Wilhelm. Die Verwandlungen des Mythos vom Reich des Priesterkönigs Johannes, Klagenfurt 1999
  • Beckingham, Charles. Prester John, the Mongols and the Ten Lost Tribes, Aldershot 1996, ISBN 0-86078-553-X — Assembly of the essential source texts and studies.
  • Edward Bierewood. Enquiries touching the diversity of languages and religions through the chief parts of the world. 1614
  • The book of knowledge of all the kingdoms, lands, and lordships that are in the world. 1350
  • Bowden, John (2007). A Chronology of World Christianity. Continuum Books. ISBN 978-0-8264-9633-1. 
  • James Bruce. Travels to discover the source of the Nile. 1790
  • Guilano Dati. Treatise on the Supreme Prester John Pope and Emperor of India and Ethiopia. 1493; Second Song of India. 1495
  • Gumilev, Lev Nikolaevich. Searches for an Imaginary Kingdom: The Legend of the Kingdom of Prester John. tr. 2009; Cambridge University Press. 1970
  • Davidson, Avram, Viewpoint: Postscript on Prester John (Adventures in Unhistory), pp. 16–61, Isaac Asimov's Science Fiction, July `1986 Volume 10, Number 7, Whole Number 106.
  • De adventu patiarchae Indorum ad Urbem sub Calixto Papa Secundo
  • A discourse of the deeds of the very valorous Captain Dom Christovão da Gama in the kingdoms of Prester John. 1564
  • Eusebius. Historia Ecclesiastica. 400
  • Jacupo Filippo Foresti of Bergamo. Supplementum Christianitum. 1483; Another Treatise of India. 1499
  • Grousset, René (1970). The Empire of the Steppes. Rutgers University Press. ISBN 978-0-8135-1304-1. 
  • Jackson, Peter (2005). The Mongols and the West: 1221–1410. Longman. ISBN 978-0-582-36896-5. 
  • Fray Jeronimo. Republics of the World
  • Johannes of Hildesheim. The legend of the Holy Three Kings. 1378
  • John de Hese. Travels. 1389
  • John of Joinville. Chronicle
  • Jordanus of Serevac. Mirabilia Descripta. 1340
  • Jubber, Nicholas. The Prester Quest, Doubleday, 2005, ISBN 0-385-60702-4
  • Letter of the news that came to the King Our Lord of the discovery of Prester John. 1521
  • Hiob Ludolf of Germany. History of Ethiopia. 1681
  • Ariosto Ludovico. Orlando Furioso. 1516
  • John Mandeville. Travels. 1389
  • Matthew the Armenian. Embassy of the Great Emperors of the Indians, Prester John, to Manuel, King of Lusitania. 1532
  • Marco Polo, The Travels of Marco Polo, which tells much of Prester John's supposed history, written in 1298. See especially Book I, Chapters 46–50, 59; and Book II, Chapters 38–39.
  • Otto of Freising. Historia de Daubus Civitatibus. 1146
  • Dom Pedro of Portugal. Book of the Infante Dom Pedro of Portugal, who traveled over the four parts of the world. 1515
  • Rossabi, Morris (1992). Voyager from Xanadu: Rabban Sauma and the first journey from China to the West. Kodansha International Ltd. ISBN 4-7700-1650-6. 
  • Sagaza Ab. Faith, religion, and manners of the Ethiopians. 1540
  • A short account of the embassy which the Patriarch Don João Bermudes brought from the Emperor to Ethiopia, vulgarly called Prester John, to the most Christian and zealous-in-the-faith-of-Christ King of Portugal, Dom João III. 1565
  • Silverberg, Robert, The Realm of Prester John, Ohio University Press, 1996 (paperback edition) ISBN 1-84212-409-9
  • Francesco Suriano. Iter S. 1482. This work was the first to locate Prester John in Ethiopia, but is condescending toward and demythologizes him.
  • Pero Tafui. Travels and Adventures
  • Thorndike, Lynn, A History of Magic and Experimental Science: During the First Thirteen Centuries of Our Era, Volume II, pp. 236–245, Columbia University Press, 1923, New York and London, Hardcover, 1036 pages ISBN 0-231-08795-0
  • Taylor, Christopher, "Global Circulation as Christian Enclosure: Legend, Empire, and the Nomadic Prester John", Literature Compass, 11: 445–459, 2014. doi: 10.1111/lic3.12153
  • Taylor, Christopher, "Prester John, Christian Enclosure, and the Spatial Transmission of Islamic Alterity in the Twelfth-Century West", in Contextualizing the Muslim Other in Medieval Christian Discourse. Ed. J. Frakes. Palgrave/Macmillan, 2011. ISBN 9780230370517
  • Torquato Tasso. Geruselemme Liberata. 1581
  • Treatise on the ten nations and sects of Christians
  • Uebel, Michael, Ecstatic Transformation: On the Uses of Alterity in the Middle Ages, Palgrave/Macmillan, 2005. ISBN 1-4039-6524-2. Contains discussion of the Letter of Prester John and full English translation.
  • Vitale, Robert Anthony (editor). Edition and study of the "Letter of Prester John to the Emperor Manuel of Constantinople": The Anglo-Norman rhymed version, College Park, Maryland, 1975
  • Edward Webbe. The rare and most wonderful things which Edward Webbe, an Englishman borne, hath seen and passed in his troublesome travailles in the citties of Jerusalem, Damasko, Balthelem, and Gallelyi, and in the lands of Jewrie, Egipt, Grecia, Russia, and in the lands of Prester John. 1590
  • Zarncke, Friedrich. "Der Priester Johannes", Abhandlungen der philologisch-historischen Classe der Koeniglichen Sachsischen Gesellschaft der Wissenschaften, Leipzig, 1879, Bd.VII, H.8, S. 826–1028; 1883, Bd.VIII, H.I, S. 1–183, re-published by Georg Olms Verlag, Hildesheim, 1980, ISBN 978-3-487-07013-1.

FiksiSunting

Pranala luarSunting