Kerajaan Ptolemaik

kerajaan Helenistik di Yunani kuno dari 305 hingga 30 SM
(Dialihkan dari Periode Ptolemaik)

Kerajaan Ptolemaik (bahasa Yunani: Πτολεμαϊκὴ βασιλεία)[1] adalah kerajaan Helenistik yang meliputi wilayah Mesir dan sekitarnya setelah penaklukan oleh Aleksander Agung pada tahun 332 SM. Kerajaan Ptolemaik berdiri ketika Ptolemaios I Soter menyatakan dirinya sebagai Firaun Mesir pada tahun 305 SM dan berakhir pada saat kematian Kleopatra VII dan penaklukan oleh Romawi pada tahun 30 SM. Kerajaan ini membentang dari Suriah selatan di sebelah timur, sampai Kirene di sebelah barat, dan sampai Nubia di sebelah selatan. Kerajaan Ptolemaik banyak berperan dalam menyebarkan peradaban Helenistik di Mesir. Alexandria (Iskandariyah) adalah ibu kota Kerajaan Ptolemaik dan merupakan pusat peradaban dan perdagangan Yunani di Mesir. Untuk memperoleh pengakuan dari penduduk asli Mesir, orang-orang Yunani yang memimpin kerajaan ini menyatakan diri sebagai penerus para Firaun. Banyak dari raja Ptolemaik pada masa selanjutnya yang menyerap tradisi Mesir, di antaranya menikahi saudara kandung mereka sendiri, membuat penggambaran diri mereka pada monumen Mesir dengan pakaian dan gaya Mesir, dan bepartisipasi dalam kehidupan keagamaan Mesir.[2][3] Kerajaan Ptolemaik ini akhirnya runtuh setelah banyaknya pemberontakan dari penduduk asli, perang dengan bangsa lain, serta perang saudara, yang menyebabkan kerajaan ini diambil alih oleh Kekaisaran Romawi. Sementara kebudayaan Helenistik sendiri terus berkembang di Mesir sampai penaklukan oleh Muslim. Periode Kerajaan Ptolemaik di Mesir adalah periode dari Zaman Helenistik yang terdokumentasikan paling baik. Banyak naskah papirus yang ditulis oleh orang Yunani dan Mesir ditemukan di sana.[4]

Kerajaan Ptolemaik

Yunani: Πτολεμαϊκὴ βασιλεία
Ptolemaïkè Basileía Libanon:
Haπatla Er`wa
Hapatla Er`we
305 SM–31 SM
Kerajaan Ptolemaik (biru).
Kerajaan Ptolemaik (biru).
Ibu kotaAleksandria
Bahasa yang umum digunakanBahasa Yunani, Bahasa Mesir
Agama
Agama Yunani kuno,
Agama Mesir kuno
PemerintahanMonarki
Firaun 
• 305 SM-283 SM
Ptolemaios I Soter (pertama)
• 51 SM-30 SM
Kleopatra VII Filopator (terakhir)
Sejarah 
• Didirikan
305 SM
• Dibubarkan
31 SM
Didahului oleh
Digantikan oleh
ksrKekaisaran
Makedonia
Proto-Vergina
krjKerajaan
Yunani-Mesir
ksrKekaisaran
Romawi
Sunting kotak info
Sunting kotak info • Lihat • Bicara
Info templat
Bantuan penggunaan templat ini

Sejarah

sunting

Penaklukan Aleksander Agung

sunting

Pada tahun 332 SM, Aleksander Agung, raja Makedonia menginvasi kesatrapan Mesir di Kekaisaran Akhemeniyah.[5] Dia diterima oleh bangsa Mesir sebagai seorang pembebas sehingga dia tidak menghadapi banyak perlawanan. Dia mengunjungi Memphis, dan mendatangi orakel Amun di Oasis Siwa. Sang orakel menyatakan Aleksander sebagai putra dewa Amun.[6] Aleksander tidak menghancurkan Mesir karena dia sangat menghormati agama orang Mesir, tetapi dia menempatkan orang-orang Yunani dalam posisi pemerintahan yang penting di Mesir. Aleksander juga mendirikan sebuah kota Yunani di Mesir yang diberi nama Aleksandria (Iskandariyah), sesuai dengan nama dirinya.[7] Kota itu menjadi ibu kota Mesir yang baru. Aleksander memanfaatkan kekayaan Mesir untuk mendukung kelanjutan serangannya terhadap sisa-sisa wilayah Kekaisaran Akhemeniyah. Pada awal tahun 331 AM, Aleksander meninggalkan Mesir menuju Fenisia setelah terlebih dahulu mendirikan garnisun militer di Memphis dan Pelusion. Dia menunjuk Kleiomenes untuk memimpin Mesir selama kepergiannya,[8] tetapi Aleksander tak pernah kembali lagi ke Mesir. Di kemudian hari jenazah Aleksander dibawa ke Aleksandria,[9] yang telah menjadi pusat intelektual dan politik di Mesir.[7]

Pendirian Kerajaan

sunting

Setelah Aleksander meninggal di Babilon pada tahun 323 SM,[10] terjadi krisis pergantian kekuasaan karena para jenderalnya ingin berkuasa. Pada awalnya, Perdikkas memimpin kekaisaran peninggalan Aleksander sebagai wali untuk saudara tiri Aleksander, Arrhidaios, yang kemudian dinamai Philippos III dari Makedonia. Perdikkas kemudian menjadi wali juga untuk putra Aleksander yang masih bayi, yaitu Aleksander IV dari Makedonia, yang masih dalam kandungan ketika ayahnya wafat. Perdikkas menunjuk Ptolemaios, salah satu jenderal terdekat Aleksander, untuk menjadi satrap (gubernur) di Mesir. Ptolemaios memimpin Mesir sejak tahun 323, dan resminya memerintah di bawah kekuasaan Philippos III dan Aleksander IV, yang berkuasa bersama-sama. Akan tetapi, kekaisaran peninggalan Aleksander Agung mulai terpecah dan Ptolemaios mengangkat dirinya sebagai pemimpin tertinggi di Mesir. Perdikkas berusaha menghentikan Ptolemaios dan menyerang Mesir pada tahun 321, tetapi dia malah dipukul mundur oleh Ptolemaios. Ptolemaios lalu memperkokoh posisinya di Mesir dan daerah sekitarnya selama Perang Diadokhoi yang berlangsung antara 322 SM - 301 SM. Pada 305 SM, Ptolemaios menggelari dirinya sebagai Raja Mesir dengan nama Ptolemaios I Soter ("Ptolemaios I Sang Penyamat"). Dia mendirikan Dinasti Ptolemaik yang berkuasa di Mesir selama hampir 300 tahun.

Semua pemimpin dinasti Ptolemaik yang pria menamai diri dengan nama "Ptolemaios", sementara putri dan permaisurinya mengambil nama Kleopatra, Arsinoe atau Berenike. Karena raja-raja Ptolemaios mengadopsi adat Mesir dengan menikahi saudari mereka sendiri, maka banyak raja yang berkuasa berdua bersama pasangan mereka, yang masih berasal dari keluarga kerajaan. Kebiasaan ini membuat dinasti Ptolemaik sangat bersifat inces dan mengakibatkan para pemimpin Ptolemaik pada masa berikutnya menjadi lemah. Ratu Ptolemaik yang secara resmi berkuasa sendirian hanyalah Berenike III dan Berenike IV. Kleopatra V memerintah berdua, tetapi bersama perempuan, yaitu Berenike IV. Kleopatra VII secara resmi memerintah berdua dengan Ptolemaios XIII Theos Philopator, kemudian dengan Ptolemaios XIV, lalu dengan Ptolemaios XV, akan tetapi sebenarnya dia berkuasa sendirian.

Ptolemaios-Ptolemaios pada masa awal tidak mengganggu kegiatan agama dan tradisi bangsa Mesir, mereka bahkan membangun kuil-kuil baru yang indah untuk dewa-dewa Mesir dan dengan cepat mengadopsi penampilan para Firaun terdahulu. Pada masa pemerintahan Ptolemaios II dan Ptolemaios III, ribuan veteran Yunani diberi ladang pertanian di Mesir, dan banyak orang Yunani yang tinggal di koloni dan garnisun atau bermukim di desa-desa di seluruh Mesir. Mesir Hulu, yang jauh dari pusat pemerintahan, tidak menerima pengaruh itu dengan cepat, meskipun Ptolemaios mendirikan koloni Ptolemais Hermiou sebagai ibu kotanya. Tapi dalam waktu satu abad, pengaruh Yunani berhasil menyebar di Mesir dan pernikahan antara orang Yunani dan orang Mesir banyak menghasilkan kaum Yunani-Mesir yang terdidik. Meskipun demikian, orang Yunani tetap menjadi kaum minoritas yang memperoleh keistimewaan di Mesir masa Ptolemaik ini. Orang Yunani berada di bawah hukum Yunani, menerima pendidikan Yunani, diadili di pengadilan Yunani, dan merupakan warga negara kota-kota di Yunani. Sementara orang Mesir tidak banyak yang tertarik terhadap level yang tinggi dari kebudayaan Yunani.

Ptolemaios I

sunting

Paruh pertama masa pemerintahan Ptolemaios I disibukkan dengan Perang Diadokhoi antara berbagai negara penerus kekaisaran Aleksander Agung. Tujuan pertama Ptolemaios adalah mengamankan posisinya di Mesir, dan yang kedua adalah memperluas wilayah kekuasaannya. Dalam waktu beberapa tahun, dia berhasil menguasai Libya, Koile-Suriah (termasuk Yudea), dan Siprus. Ketika Antigonos, penguasa Suriah, mencoba menyatukan kembali kekaisaran Aleksander, Ptolemaios bergabung dengan suatu persekutuan unntuk melawanannya. Pada tahun 312 SM, Ptolemaios bersekutu dengan Seleukos, penguasa Babilonia, dan mengalahkan Demetrios, putra Antigonos, dalam pertempuran di Gaza.

Pada tahun 311 SM, sebuah perjanjian damai disepakati, tetapi pada tahun 309, perang kembali terjadi, dan Ptolemaios menduduki Korinthos serta beberapa daerah lainnya di Yunani, meskipun dia kehilangan Siprus setelah kalah dalam pertempuran laut pada tahun 306 SM. Antigonos lalu mencoba menginvasi Mesir tetapi serangannya berhasil ditahan oleh Ptolemaios. Ketika persekutuan melawan Antigonos dibentuk lagi pada tahun 302 SM, Ptolemaios pun bergabung, namun baik dia maupun pasukannya tidak ikut serta saat Antigonos dikalahkan dan dibunuh dalam Pertempuran Ipsos. Ketika itu Ptolemaios malah mengamankan Koile-Suriah dan Palestina. Perbuatannya ini merupakan pelanggaran perjanjian, karena Ptolemaios sebelumnya sudah sepakat untuk memberikan daerah itu pada Seleukos.[11] Setelah itu Ptolemaios tidak banyak terlibat dalam perang daratan, tetapi dia merebut kembali Siprus pada tahun 295 SM.

Merasa bahwa kerajaannya aman, Ptolemaios membagi kekuasaannya dengan putranya, Ptolemaios II, dari istrinya Berenike I pada tahun 285 SM. Ptolemaios menghabiskan masa tuanya dengan menulis sejarah kampanye Aleksander Agung. Tulisan itu kini telah hilang tetapi sempat dijadikan sumber oleh Arrianus. Ptolemaios I meninggal pada tahun 283 SM dalam usia 84 tahun. Dia mewariskan kerajaan yang stabil dan teratur kepada putranya.

Ptolemaios II

sunting

Ptolemaios II Philadelpos, yang menggantikan ayahnya sebagai raja Mesir pada rahun 283 SM,[12] adalah seorang raja yang berbudaya dan damai, dan bukan seorang prajurit yang hebat, selain itu ayahnya mewariskan padanya kerajaan Mesir yang sudah kuat dan kaya. Akan tetapi pada masa awal pemerintahannya, Ptolemaios II harus melakukan kampanye militer selama tiga tahun dalam Perang Suriah Pertama (274 SM-271 SM) melawan Kekaisaran Seleukia. Setelah perang usai, Ptolemaios berhasil mengendalikan Mediterania Timur, dengan menguasai kepulauan Aigea serta kota-kota di pesisir Laut Tengah Timur, seperti Kilikia, Pamphylia, Lykia dan Karia. namun, beberapa daerah ini terlepas pada akhir masa pemerintahannya akibat dari Perang Suriah Kedua pada 260 SM-253 SM.

Istri pertama Ptolemaios, Arsinoe I, putri Lysimakhos, adalah ibu dari anak Ptolemaios yang sah. Akan tetapi dia kurang diterima oleh rakyat Mesir, dan Ptolemaios pun mengikuti adat Mesir dengan menikahi saudarinya sendiri, Arsinoe II.[13] Tindakan ini mengawali sebuah tradisi yang diikuti oleh para raja berikutnya, dan lebih diterima oleh rakyat Meskir, meski di kemudian hari kebiasaan ini akan memberi konsekuensi yang serius untuk pemerintahan Mesir. Ptolemaios II dan Arsione II memerintah bersama-sama dan keduanya juga digelari Phialdelpos (Mencintai Saudara).

Kekayaan harta dan sastra di istana Aleksandria mencapai puncaknya pada masa Ptolemaios II. Kallimakhos, pustakawan di Perpustakaan Aleksandria, Theokritos dan banyak penyair lainnya memuji-muji kemegahan dinasti Ptolemaik. Ptolemaios sendiri sangat bersemangat dalam mengembangkan perpustakaan dan mendukung penelitian ilmiah. Dia banyak berkontribusi untuk menjadikan Aleksandria sebagai pusat ekonomi, seni, dan pendidikan di Dunia Helenistik. Berkat akademi dan perpustakaan Aleksandria, banyak warisan sastra Yunani yang tetap terpelihara hingga saat ini.

Ptolemaios III

sunting

Ptolemaios III Euergetes ("Ptolemaios III Sang Dermawan") menggantikan ayahnya pada tahun 246 SM. Dia mengabaikan kebijakan para penerusnya, yang tidak banyak terlibat perang. Ptolemaios malah terlbat dalam Perang Suriah Ketiga (246 SM-241 SM) melawan Kekaisaran Seleukia di Suriah, dikarenakan saudarinya, Berenike, dan putranya terbunuh dalam suatu pertikaian dalam Dinasti Seleukia. Ptolemaios meraih keberhasilan dalam perang ini. Dia bahkan mampu masuk sampai sejauh Babilonia, yang merupakan pusat Kekaisaran Seleukia, sementara armada laut Ptolemaios melakukan penaklukan di laut Aigeia sampai ke utara sejauh Thrakia.

Kesuksesan ini merupakan puncak kekuasaan Kerajaan Ptolemaik. Seleukos II Kallinikos tetap mengusai tahta Seleukia, tetapi armada laut Mesir mengendalikan sebagian besar pesisir Asia Kecil dan Yunani. Setelah kemenangan ini, Ptolemaios tidak banyak terlibat dalam perang, meski dia memberi dukungan pada musuh-musuh Makedonia dalam perpolitikan di Yunani. Berbeda dengan ayahnya yang lebih menyukai kesusasteraan, Ptolemaios lebih menyukai bidang agama. Dia banyak mendukung kegiatan keagamaan di Mesir, dan banyak membuat penggambaran dirinya pada monumen-monumen Mesir. Pemerintahannya menandai proses "Mesirisasi" yang kelak akan terjadi secara berangsur-angsur pada Ptolemaios-Ptolemaios berikutnya.

Kemunduran

sunting

Pada tahun 221 SM, Ptolemaios III meninggal dan digantikan oleh putranya Ptolemaios IV Philopator, yang merupakan seorang raja yang lemah dan korup. Di bawah pemerintahannya, Kerajaan Ptolemaik mulai mengalami kemunduran. Pemerintahannya diawali dengan kematian ibunya, dan dia selalu berada di bawah pengaruh orang-orang yang dekat dengannya dan berusaha memanfaatkannya untuk mengendalikan pemerintah. Meskipun demikian, para menterinya dapat melakukan persiapan dalam menghadapi serangan Antiokhos III Agung dari Kekaisaran Seleukia, yang berusaha merebut Koile-Suriah. Kemenangan besar Kerajaan Ptolemaik dalam Pertempuran Rafah pada tahun 217 SM berhasil mengamankan kerajaan. Pada masa pemerintahan Philopator, terjadi pemberontakan oleh penduduk asli Mesir, yang berhasil menguasai setengah kerajaan selama lebih dari 20 tahun. Philopator sangat menyukai agama orgi dan sastra. Dia menikahi saudarinya Arsinoe tetapi Philopator banyak dikendalikan oleh kekasihnya Agathoklea.

Ptolemaios V Epiphanes, putra Philopator dan Arsinoë, masih sangat muda ketika dia memperoleh tahta Kerajaan Ptolemaik, sehingga untuk sementara kerajaan diperintah oleh beberapa walinya. Antiokhos III dari Kekaisaran Seleukia dan Philipppos V dari Makedonia bersekutu untuk merebut wilayah kekuasaan Kerajaan Ptolemaik. Philippos berhasil memperoleh beberapa pulau dan darah di Karia dan Thrakia, sedangkan Antiokhos berhasil mengusai Koile-Suriah melalui Pertempuran Panium pada tahun 198 SM. Setelah kekalahan ini, Ptolemaik membuat persekutuan dengan kekuatan yang sedang bangkit di Mediterania, yaitu Romawi. Sementara itu, setelah mencapai usia dewasa, Epiphanes menjadi seorang tiran, sebelum akhirnya meninggal pada tahun 180 SM. Dia digantikan oleh putranya yang masih bayi, Ptolemaios VI Philometor.

Pada tahun 170 SM, Antiokhos IV Epiphanes dari Kekaisaran Seleukia menginvasi Mesir dan menurunkan Philometor dari tahta Kerajaan Ptolemaik. Dia menempatkan adik Philometor, yaitu Ptolemaios VIII Euergetes II, sebagai raja boneka di Kerajaan Ptolemaik. Setelah Antiokhos meinggalkan Mesir, Philometor dan adiknya sepakat untuk memerintah bersama-sama dengan Kleopatra II. Akan tetapi di kemudian hari, mereka berselisih sehingga Romawi dapat ikut campur dan menancapkan pengaruh di Mesir. Pada akhirnya Philometor berhasil meraih kembali tahta Kerajaan Ptolemaik. Pada tahun 145 SM, Philometor terbunuh dalam Pertempuran Antiokhia.

Ptolemaios berikutnya

sunting

Philometor digantikan oleh putranys yang masih bayi, Ptolemaios VII Neos Philopator. Akan tetapi Euergetes berhasil kembali, membunuh Neos Philopator, dan merebut tahta. Seperti Philometor, Eurgetes juga menjadi seorang tiran yang kejam. Dia meninggal pada tahun 116 SM dan mewariskan kerajaan kepada istrinya Kleopatra III dan putranya Ptolemaios IX Philometor Soter II. Sang putra diusir oleh ibunya sendiri pada tahun 17 SM, dan Kleopatra berkuasa berdua dengan adik Eurgetes, Ptolemaios X Aleksander I. Pada tahun 88 SM, Ptolemaios IX datang lagi dan berhasil merebut tahta kembali. Dia berkuasa sampai meninggal pada tahun 80 SM. Dia digantikan oleh Ptolemaios XI Aleksander II, putra Ptolemaios X. Dia dihukum gantung oleh rakyat Aleksandria setelah membunuh ibunya sendiri. Pertikaian dinasti ini menyebabkan Mesir menjadi lemah sehingga negara ini secara de facto menjadi protektorat Romawi, yang saat itu telah mengusai sebagian besar dunia Yunani.

Ptolemaios XI digantikan oleh putra Ptolemaios IX, Ptolemy XII Neos Dionysos, yang dikenal juga sebagai Auletes, pemain seruling. Pada masa ini, Romawi telah mengendalikan pemerintahan Mesir. Romawi juga telah mencaplok Libya dan Siprus. Pada tahun 58 SM, Auletes diusir oleh rakyat Aleksandria, namun tiga tahun kemudian Romawi mengembalikannya ke tahta. Dia meninggal pada tahun 51 SM dan mewariskan kerajaan kepada putranya yang berusia 10 tahun, Ptolemaios XIII Theos Philopator, yang memerintah berdua bersama saudari sekaligus istrinya yang berusia 17 tahun, Kleopatra VII.

Kleopatra

sunting

ketika Kleopatra VII naik tahta, dia baru berusia 17 tahun. Dia berkuasa sebagai Ratu "Philopator" dan Firaun antara tahun 51 SM-30 SM. Dia meninggal di usia 39 tahun.

Kemunduran Kerajaan Ptolemaik terjadi bersamaan dengan kebangkitan Kekaisaran Romawi. Tidak memiliki banyak pilihan, dan melihat satu demi satu kota direbut oleh Makedonia dan Kekaisaran Seleukia, Kerajaan Ptolemaik akhirnya bersekutu dengan Romawi. Persekutuan mereka bertahan sampai lebih dari seratus lima puluh tahun. Pada masa kekuasaan Ptolemaios-Ptolemaios berikutnya, Romawi semakin lama semakin berkuasa di Mesir. dan bahkan dinyatakan sebagai pelindung Dinasti Ptolemaik. Ayah Kleopatra, Ptolemaios XII, harus membayar upeti kepada Romawi supaya mereka tidak terlalu banyak ikut campur di Mesir. Setelah dia meninggal, kejatuhan Dinasti Ptolemaik semakin terlihat.

Semasa anak-anak, Kleopatra dan saudara-saudaranya menyaksikan kekalahan pelindung mereka, Pompeius, oleh Julius Caesar melalui perang saudara. Sementara, Kleopatra dan suami sekaligus saudaranya, Ptolemaios XIII, berusaha memperoleh tahta Kerajaan Ptolemaik,

Di tengah-tengah kekacauan ini, Julius Caesar pergi ke Aleksandria pada tahun 48 SM. Ketika tinggal di istana kerajaan, dia bertemu dengan Kleopatra, yang saat itu berusia 22 tahun. Mereka lalu berencana untuk menyingkirkan Ptolemaios XIII. Melalui datangnya pasukan Romawi ke Mesir, dan beberapa pertempuran di Aleksandria, Ptolemaios XIII berhasil dikalahkan. Dia kemudian ditenggelamkan di sungai Nil, meski ihwal kematiannya tidaklah jelas.

Pada musim panas tahun 47 SM, setelah menikahi saudaranya Ptolemaios XIV, Kleopatra dan Caesar melakukan perjalanan selama dua bulan menyusuri sungai Nil. Bersama-sama, mereka mengunjungi Dendara, tempat Kleopatra disembah sebagai Firaun, suatu kehormatan yang tidak didapatkan oleh Caesar. Mereka kemudian menjadi sepasang kekasih. Dari hubungannya dengan Caesar, Kleopatra melahirkan seorang putra bernama Caesarion, yang di kemudian hari banyak diberi gelar, misalnya raja segala raja. Pada tahun 45 SM, Kleopatra dan Caesarion pergi dari Aleksandria ke kota Roma. Di sana mereka tinggal di istana yang dibangun oleh Caesar untuk mereka.

Pada tahun 44 SM, Caesar dibunuh oleh beberapa Senator. Dengan kematiannya, Romawi terpecah antara para pendukung Markus Antonius dan Oktavianus. Sementara Kleopatra tidak dapat berbuat apa-apa. Ketika Markus Antonius tampaknya akan menang, Kleopatra berpihak padanya, dan tidak lama kemudian mereka menjadi sepasang kekasih.

Keruntuhan

sunting

Persekutuan Markus Antonius dengan Kleopatra membuat Romawi marah. Para Senator menyebutnya penyihir, dan menuduhnya melakukan berbagai tindak kejahatan. Pihak Romawi bahkan menjadi semakin marah ketika Markus Antonius memberikan sebagian wilayah Kekaisaran Romawi kepada Kleopatra dan anak-anaknya melalui upacara Donasi Aleksandria pada msim gugur tahun 34 SM, antara lain Tarsos, Kyrene, Kreta, Siprus, dan Israel. Sementara itu Oktavianus entah bagaimana berhasil memperoleh surat wasiat Markus Antonius, yang isinya adalah keinginan Markus untuk dimakamkan di Aleksandria, dan bukannya di Romawi.

Perselisihan mencapai puncaknya ketika Oktavianus menyatakan perang terhadap Kerajaan Ptolemaik. Armada laut Oktvianus berhadapan dengan pasukan Kleopatra dan Markus Antonius di Aktium, lepas pantai Yunani di Laut Adriatik. Dalam pertempuran itu, pasukan Oktavianus, yang dipimpin oleh jenderal Markus Vipsanius Agrippa, berhasil mengalahkan pasukan Ptolemaik. Oktavianus menunggu dulu selama satu tahun sebelum dia mengklaim Mesir sebagai provinsi Romawi. Dia tiba di Aleksandria dan dengan mudahnya mengalahkan Markus Antonius di luar kota itu. Menyadari kekalahannya, Markus Antonius tidak mau dibunuh oleh Oktavianus dan memutuskan untuk bunuh diri dengan pedangnya sendiri.

Oktavianus memasuki Aleksandria pada tahun 30 SM. Kleopatra ditangkap dan dibawa ke hadapannya, tetapi Oktavianus tidak tertarik sedikit pun dengan relasi, rekonsiliasi, ataupun negosiasi dengan Kleopatra. Menyadari bahwa dia sudah tidak berdaya, Kleopatra pun mengikuti langkah Markus Antonius dan membunuh dirinya sendiri. Tidak diketahui secara pasti bagaimana Kleopatra bunuh diri. Banyak yang percaya bahwa dia membiarkan dirinya digigit oleh seekor ular berbisa, karena ketika mayat Kleopatra ditemukan, tidak terlihat adanya bekas tusukan, sehingga para pengawalnya berpikir bahwa dia pasti mati karena bisa ular. Dengan kematian Kleopatra, Kerajaan Ptolemaik pun berakhir. Aleksandria tetap menjadi ibu kota Mesir, akan tetapi sejak saat itu Mesir menjadi provinsi Romawi.

Mesir Romawi

sunting

Setelah mengusai Mesir, Kekaisaran Romawi menyatakan bahwa Mesir akan diperintah oleh seorang prefek yang dipilih dari Equestrian oleh Kaisar Romawi, dan bukan oleh gubernur yang dipilih oleh Senat. Ini dilakukan oleh kaisar supaya Mesir tidak banyak dipengaruhi oleh Senat. Mesir menjadi provinsi yang penting bagi Romawi karena Mesir menghasilkan banyak gandum, yang kemudian dikirim ke kota Roma. Pemerintah Romawi tidak banyak mengubah sistem pemerintahan bekas Kerajaan Ptoelmaik, meskipun orang-orang Romawi menggantikan orang-orang Yunani sebagai pejabat-pejabat tinggi. Akan tetapi sebagian besar jabatan pemerintahan tetap dipegang oleh orang Yunani dan bahasa Yunani tetap menjadi bahasa pemerintahan, kecuali di level atas. Tidak seperti orang Yunani, orang Romawi tidak bermukim di Mesir dalam jumlah besar. Karena itu, kebudayaan, pendidikan, dan kehidupan sipil tidak banyak berubah. Orang Romawi, seperti orang Yunani, menghormati dan ikut melindungi agama dan adat Mesir, meskipun kultus Romawi juga diperkenalkan secara berangsur-angsur.

Seni dan budaya

sunting

Seni yang berkembang di Kerajaan Ptolemaik adalah seni Helenistik, yang kaya dalam tema dan perkmebangan gaya. Seni ini muncul pada masa yang ditandai oleh minat yang kuat terhadap sejarah. Untuk pertama kalinya, ada museum dan perpustakaan besar, salah satunya di Aleksandria dan Pergamon. Seniman-seniman Helenistik meniru dan mengadaptasi gaya-gaya sebelumnya tetapi juga membuat inovasi baru. Penggambaran para dewa memiliki bentuk yang baru. Contohnya gambar Afrodit telanjang, yang mencerminkan sekularisasi agama tradisional. Yang juga terkenal dalam seni Helenistik adalah penggambaran Dionisos, dewa anggur, selain juga Hermes, dewa perdagangan, dan Eros, dewa asmara.

Kebudayaan Yunani telah ada di Mesir sejak lama, bahkan jauh sebulum Aleksander Agung mendirikan kota Aleksandria, meski pada awalnya kebudayaan Yunani tidak banyak berpengaruh di Mesir. Permulaannya adalah ketika koloni-koloni Yunani, terdorong oleh para Firaun, mendirikan pos perdagangan di Naukratis, yang menjadi titik penghubung yang penting antara dunia Yunani dan Mesir. Kota-kota Yunani mengekspor tembikar dan minyak zaitun, sedangkan Mesir mengekspor gandum. Ketika Mesir mengalami kemunduan dan kekalahan oleh serangan dari luar, para Firaun banyak menyewa orang-orang Yunani sebagai tetara bayaran, atau bahkan sebagai penasehat. Ketika Kekaisaran Persia mengusai Mesir, Naukratis tetap menjadi pelabuhan yang penting dan orang-orang Yunani terus digunakan sebagai tentara bayaran, baik oleh para pengeran Mesir yang berusaha memberontak, maupun oleh para raja Persia, yang memberi orang-orang Yunani itu tanah-tanah pertanian di Mesir. Dengan demikian, kebudayaan Yunani dapat berkembang di lembah sungai Nil. Ketika Aleksander Agung tiba, dia mendirikan kota Aleksandria di bekas benteng Persia di Rhakortis. Setelah kematian Aleksander, kendali berpindah pada Dinasti Ptolemaik. Mereka membangun kota-kota Yunani di seluruh penjuru kerajaan dan memberikan tanah-tanah kepada orang-orang Yunani veterang perang sebagai penghargaan atas jasa-jasa mereka. Peradaban Helenistik terus tumbuh bahkan setelah Romawi menaklukkan Kerajaan Ptolemaik, dan mampu terus bertahan sampai penaklukan oleh Muslim.

Meski berasal dari Yunani, Ptolemaios dan keturunannya mengadopsi budaya dan agama Mesir. Mereka menyembah dewa-dewa Mesir, membangun kuil untuk dewa Mesir, dan bahkan setelah mati, mereka dimumikan dan dimakamkan dalam sarkofagus dengan tulisan hieroglif.

Militer

sunting

Kerajaan Ptolemaik, seperti halnya negara-negara Helenistik lainnya di luar Yunani daratan setelah Aleksander Agung, memiliki angkatan perang yang berdasarkan phalanx Makedonia.

Pasukan Ptolemaik terdiri dari orang Makedonia dan penduduk asli Mesr yang bertempur bersama-sama. Pasukan militer Ptolemaik diisi oleh beragam orang dari berbagai wilayah di Mesir dan sekitarnya. Pada awalnya sebagian besar tentara adalah para pemukim Yunani di Mesir, yang memperoleh tanah sebagai balas jasa atas bantuan mereka. Sementara para prajurit asli Mesir kurang begitu dipercaya karena mereka bisa saja membantu pemberontakan lokal di Mesir. Akan tetapi, setelah berlangsung banyak perang, lama-kelamaan tentara-tentara Yunani semakin berkurang dan imigran dari Yunani daratan juga semakin sedikit. Akhirnya, para tentara Yunani yang sedikit itu dijadikan sebagai pengawal khusus kerajaan, jenderal dan perwira. Dengan demikian, banyak penduduk asli Mesir dapat masuk ke militer dan menjadi tentara kerajaan.

Kerajaan Ptolemaik juga banyak memanfaatkan tentara bayaran. Para raja Ptolemaik menggunakan kekayaan Mesir untuk menyewa sejumlah besar tentara bayaran dari berbagai daerah. Biasanya tentara bayaran didatangkan dari Yunani, tetapi orang-orang Ethiopia juga pernah disewa, selain juga orang-orang Galatia, Mysia, dll. Orang-orang Galatia, yang terkenal sebagai petarung tangguh dan hebat, didatangkan oleh Ptolemaios II Phialdelphos pada tahun 276 SM. Orang Galatia diperkirakan bermukim di daerah Faiyum. Suku-suku Kelt dan Galia dari Eropa selatan juga bekerja pada pasukan Ptolemaik. Bahkan pengawal peribadi Kleopatra VII berisi 300 prajurit Galia, dan merupakan pemberian dari Julius Caesar pada tahun 48 SM. Kaum Yahudi juga dijadikan sebagai pemukim milter dan meliputi sekitar dua puluh persen kekuatan militer Ptolemaik.

Kerajaan Ptolemaik mengusai wilayah perairan di Laut Tengah Timur, termasuk Siprus, Kreta, dan kepulauan Aigea, dan bahkan Thrakia. Oleh karena itu, Kerajaan Ptolemaik menggunakan armada laut yang besar untuk mempertahankan wilayah lautnya dari serangan Kekaisaran Seleukia ataupun Makedonia. Kerajaan Ptolemaik juga mengirimkan kapal laut untuk melakukan ekspedisi ke Laut Merah dan Samudra Hindia. Untuk meningkatkan wibawa negara, Kerajaan Ptolemaik membuat sebuah kapal laut raksasa. Berdasarkan Plutarkhos, kapal itu sepanjang 128 meter dan mampu mengangkut 3000 pelaut dan 4000 tentara. Namun kapal itu hanya dipamerkan karena Kerajaan Ptolemaik tidak mampu menariknya ke laut.

Kota penting

sunting

Selama berkuasa di Mesir, Kerajaan Ptolemaik banyak mendirikan pemukiman Yunani di Mesir, selain juga meyunanikan orang-orang Mesir, dan memperkuat pemukiman Yunani yang sudah ada. Di Mesir sendiri, ada tiga kota utama Yunani, yaitu Aleksandria, Naukratis, dan Ptolemais.

Naukratis

sunting

Dari tiga kota Yunani di Mesir, Naukratis, meskipun kepentingan perdagangannya terkurangi dengan berdirinya Aleksandria, tetap secara tenang meneruskan perannya sebagai sebuah negara kota Yunani. Pada masa antara kematian Aleksander dan naiknya Ptolemaios ke tahta Mesir, kota ini bahkan mengeluarkan uang koin tersendiri. Dan orang-orang Yunani pada periode Ptolemaik dan Romawi, yang merupakan penduduk Naukratis, membuktikan bahwa dalam lingkup kebudayaan Helenistik, Naukratis memegang teguh tradisinya. Ptolemaios II memberi perhatian pada kota Nukratis. Dia membangun sebuah bangunan besar dari batu kapur, dengan panjang 330 kaki (100 m) dan lebar 60 kaki (18 m), untuk mengisi jalan masuk yang rusak ke Temenos besar. Dia juga mendirikan ulang dan memperkuat blok-blok kamar di Tomenos.

Aleksandria

sunting

Aleksandria didirikan pada tahun 331 SM oleh Aleksander Agung dan menjadi pelabuhan Laut Tengah yang sangat penting untuk Mesir, bahkan hingga saat ini. Terletak sekitar 20 mil (32 km) sebelah barat muara sungai Nil, kota ini bebas dari deposit lumpur yang sering melanda pelabuhan di sekitar sungai. Aleksandria menjadi ibu kota Kerajaan Ptolemaik sejak dipimpin oleh oleh raja Ptolemaios I. Dengan kekayaan Mesir, kota ini dengan cepat melampaui Athena sebagai pusat kebudayaan di dunia Helenistik.

Aleksandria berada di antara laut di utara dan Danau Mareotis di selatan. Sebuah jalan sepanjang tiga perempat kilometer dibuat ke utara sampai ke pulau Pharos, sehingga membentuk pelabuhan ganda, timur dan barat. Di sebelah timur, ada pelabuhan utamanya, yang disebut Pelabuhan Besar, yang menghadap ke arah bangunan-bangunan penting di kota Aleksandria, termasuk istana kerajaan, perpustakaan, dan museum. Di mulut Pelabuhan Besar, berdiri Mercusuar Aleksandria, yang dibangun sekitar tahun 280 SM. Mercusuar itu merupakan salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia Kuno karena tingginya yang luar biasa (kemungkinan 460 kaki). Bangunannya berbentuk menara persegi dan memiliki banyak jendela, di atasnya ada keranjang api dari logam dan patung Zeus.

Sebagai sebuah kota kosmpolitan dan mewah, Aleksandria ditempati oleh beragam orang Yunani, Mesir, dan orang-orang dari Timur Dekat, termasuk banyak kaum Yahudi, yang memiliki daerah mereka tersendiri. Beberapa kali terjadi konflik antara orang Yunani dan orang Yahudi. Pada masa kerajaan Ptolemaik, kota ini mengalami situasi politik yang tenang. Pada tahun 30 SM, Aleksandria, beserta seluruh Mesir, jatuh ke tangan Romawi. Aleksandria kemudian menjadi kota terbesar kedua di Kekaisaran Romawi.

Ptolemais

sunting

Kota Yunani kedua yang didirikan setelah penaklukan di Mesir adalah Ptolemais, di mana terdapat sebuah desa yang disebut Psoi, di nome yang disebut Thinis. Jika Aleksandria didirikan untuk mengabadikan nama dan kultus Aleksander Agung, maka Ptolemais didirikan untuk mengaabdikan nama dan pemujaan Ptolemaios I. Dikelilingi oleh bukit-bukit tandus Lembah Nil, Ptolemais adalah sebuah kota Yunani dengan kuil dan teater Yunani, dan ikut mengembangkan kebudayaan Yunani. Penduduknya kebanyakan adalah orang Yunani dengan institusi kota Yunani.

Demografi

sunting

Kerajaan Ptolemaik terdiri dari beragam orang yang bermukim di Mesir. Pada periode ini, pasukan Yunani di bawah Ptolemaios I Soter diberikan lahan dan dibawakan keluarga mereka ke Mesir sehingga puluhan ribu orang Yunani berdatangan ke Mesir dan menjadi golongan atas. Banyak orang Yunani yang diajak oleh pemerintahan Ptolemaik untuk bermigrasi ke Mesir. Sementara penduduk asli Mesir, yang berjumlah lebih banyak, hanya menempati jabatan-jabatan rendah di pemerintahan dan tidak dapat banyak berpengaruh. Banyak orang Yahudi yang didatangkan dari Palestina, ratusan ribu dari mereka dijadikan prajurit yang cukup hebat dan mendirikan komunitas yang penting di Mesir. Banyak penduduk asing lainnya yang datang dan bermukim di Mesir pada masa Kerajaan Ptolemaik, di antaranya adalah orang-orang Galatia, yang disewa sebagai tentara bayaran

Sebagai kaum penguasa di Mesir, orang-orang Yunani menjadi golongan yang penting di Kerajaan Ptolemaik. Mereka sebagian menjadi tuan tanah, dengan demikian membentuk kelompok sosial, di desa-desa dan kota-kota, dan berdampingan dengan penduduk lokal. Sebagian besar orang Yunani tersebar di tiga kota Yunani, yaitu Naukratis, Aleksandria, dan Ptolemais. Pada awalnya para pemukim Yunani menganggap rendah terhadap orang Mesir dan melihat mereka sebagai kaum barbar.[14] Namun, generasi-generasi pemukim Yunani selanjutnya tidak lagi berpikiran seperti itu. Mereka bahkan melakukan pernikahan dengan orang Mesir, khususnya di pemukiman yang jauh dari Aleksandria.[15]

Bangsa Arab

sunting

Kaum Nomad Arab dari daerah gurun di timur memasuki Mesir dalam kelompok-kelompok kecil. Karena itu orang Yunani menyebut tanah di sebelah timur sunagi Nil sebagai "Arabia". Di sana orang-orang Arab berhenti hidup sebagai kaum nomaden dan menjalani kehidupan pertanian yang mentap. Apollonios menceritakan tentang satu desa bernama Pois di Nome, Memphis. Dua orang penduduknya mengirim surat pada tahun 152 SM. Isi suratnya ditulis dalam bahasa Yunani dan dituliskan oleh Apollonios karena orang Arab belum mengenal tulisan. Apollonios menulis nama-nama mereka adalah Myrullas dan Khalbas. Satu abad sebelumnya, orang Arab sudah bergerak semakin ke barat, ke Fayûm, dipimpin oleh pemimpin mereka sendiri, dan terutama bekerja sebagai gembala. Orang-orang Arab itu memakai nama-nama Yunani dan Mesir.

Bangsa Yahudi

sunting

Pada awalnya orang Yahudi di Mesir menuturkan bahasa Semit, namun setelah satu atau dua generasi, mereka melupakan bahasa leluhur mereka dan menuturkan bahasa Yunani.[16] Naskah suci mereka ditulis dalam bahasa Yunani dan menurut legenda diterjemahkan oleh tujuh puluh penerjemah pada masa Ptolemaios II.[17] Kaum Yahudi Mesir sendiri tidak terlalu memusingkan mengenai bahasa asli mereka. Bahkan penerjemahan Perjanjian Lama dibuat, sedikit demi sedikit, di Mesir, selama tiga abad sebelum Era Kristen. Berdasarkan bentuk pertama dari legenda di atas, hanya lima buku dari kitab mereka yang diterjemahkan oleh tujuh puluh penerjemah.[16]

Politik

sunting

Setelah menguasai Mesir, orang Yunani menjadi golongan kelas atas di Mesir, menggantikan aristokrasi penduduk asli. Para raja Ptolemaik memanfatkan tradisi dan agama untuk meraih kekuasaan dan kekayaan. Meski berhasil mendirikan kerajaan yang kaya dan dihiasi bangunan-bangunan megah, namun penduduk asli Mesir kudang memperoleh kesejahteraan, sehingga sering terjadi pemberontakan. Upaya pemberontakan memuncak pada masa pemerintahan Ptolemaios IV Philopator (221–205 SM) ketika mereka mampu mengusai satu distrik dan mengangkat diri sebagai firaun. Sembilan belas tahun kemudian, Ptolemaios V Epiphanes (205–181 BC) berahsil meredakan pemberontakan itu, tetapi di kemudian hari orang-orang Mesir terus beberapa kali melakukan pemberontakan terhadap penguasa Ptolemaik.

Ekonomi

sunting

Dalam bidang ekonomi, Kerajaan Ptolemaik adalah negara yang kaya. Ini terutama disebabkan oleh eksploitasi sumber daya dalam dan sumebr daya manusia yang ada di Mesir.[18] Lembah Sungai Nil kaya akan beberapa jenis sumber daya alam, selain itu penduduk Mesir berjumlah banyak dan dapat dipekerjakan sebagai buruh dan petani. Selama kekuasaannya, para raja Ptolemaik benar-benar memanfaatkan sumber daya yang ada di Mesir.[18] Dua sumber daya alam utama yang ada di Mesir adalah gandum, yang merupakan salah satu makanan utama di Mediterania, dan papirus, yang berfungsi sebagai alat tulis.[19]

Para Ptolemaios awal meningkatkan lahan pertanian melalui irigasi dan memperkenalkan tanaman semacam kapas dan anggur (yang menghasilkan minuman anggur yang lebih baik). Mereka juga meningkatkan ketersediaan barang-barang mewah melalui perdagangan dengan negara-negara lain.

Kerajaan Ptolemaik terkenal atas seri koinnya yang ekstensif dalam bentuk emas, perak, dan perunggu. Khususnya dikenal karena digunakannya koin-koin besar untuk ketiga jenis logam tersebut, yang paling besar nilainya adalah koin emas pentadrakhma dan oktadrachma, dan koin perak tetradrakhma, dekadrakhma dan pentakaidekadrakhma.

Pengetahuan

sunting

Ptolemaios I, kemungkinan atas nasihat dari Demetrios dari Phaleron, mendirikan Museum dan Perpustakaan Aleksandria.[20] Museum ini adalah pusat penelitian yang didukung oleh raja dan terletak di sektor kerajaan di ibu kota. Para cendekiawan juga ditempatkan di sektor yang sama dan digaji oleh para raja.[20] Mereka memiliki akses ke Perpustakaan. Kepala perpustakaan juga bertugas sebagai tutor yang mengajari putra mahkota.[21] Selama seratus lima puluh tahun pertama dari keberlangsungannya, pusat penelitian dan perpustakaan ini telah menarik banyak cendekiawan ternama dari Yunani.[21] Lembaga tersebut adalah pusat ilmu, sastra, dan pendidikan di Kerajaan Ptolemaik.[22]

Perpustakaan Aleksandria pada masa itu adalah perpusakaan terbesar di dunia, dan memiliki ratusan ribu buku serta mempekerjakan banyak sejarawan, cendekiawan, dan penyair. Selama zaman keemasan sastra yang singkat di Aleksandria (sek. 280 SM-240 SM), Perpustakaan Aleksandria mempekerjakan tiga penyair besar dari Yunani—Kallimakhos, Apollonios Rhodios, dan Theokritos. Karya-karya mereka melambangkan sastra Helenistik terbaik. Para pemikir lainnya yang juga pernah berada di bawah lingkup Perpustakaan Aleksandria adalah matematikawan Euklides (sek. 300 SM), fisikawan Arkhimedes (287 SM – sek. 212 BSMC), dan polymath Eratosthenes (sek. 225 SM).[23]

Catatan kaki

sunting
  1. ^ Diodoros Sikolos, Bibliotheke historika, 18.21.9
  2. ^ Bowman, Alan K (1996). Egypt after the Pharaohs 332 BC – AD 642 (edisi ke-2nd ed.). Berkeley: University of California Press. hlm. 25–26. ISBN 0520205316. 
  3. ^ Stanwick, Paul Edmond (2003). Portraits of the Ptolemies: Greek kings as Egyptian pharaohs. Austin: University of Texas Press. ISBN 0292777728. 
  4. ^ Lewis, Naphtali (1986). Greeks in Ptolemaic Egypt: Case Studies in the Social History of the Hellenistic World. Oxford: Clarendon Press. hlm. 5. ISBN 0-19-814867-4.
  5. ^ "The Achaemenid Persian Empire (550–330 B.C.)". Heilbrunn Timeline of Art History. The Metropolitan Museum of Art. Diakses tanggal 29-07-2011. 
  6. ^ Peters, F.E. The Harvest of Hellenism hlm. 42
  7. ^ a b Peters, F.E. The Harvest of Hellenism hlm. 41
  8. ^ Peters, F.E. The Harvest of Hellenism hlm. 42-3
  9. ^ Peters, F.E. The Harvest of Hellenism hlm. 174
  10. ^ "The Rise of Macedonia and the Conquests of Alexander the Great". Heilbrunn Timeline of Art History. The Metropolitan Museum of Art. Diakses tanggal 29-07-2011. 
  11. ^ Grabbe, L. L. (2008). A History of the Jews and Judaism in the Second Temple Period. Volume 2 – The Coming of the Greeks: The Early Hellenistic Period (335 – 175 SM). T&T Clark. ISBN 9780567033963. 
  12. ^ Ptolemy II Philadelphus [308-246 SM. Mahlon H. Smith. Retrieved 2010-06-13.
  13. ^ Shaw, Ian The Oxford history of ancient Egypt Oxford University Press 2000 ISBN 978-0-19-815034-3 pp.408-410 Books.Google.co.uk
  14. ^ Lewis, Naphtali (1986). Greeks in Ptolemaic Egypt: Case Studies in the Social History of the Hellenistic World. Oxford: Clarendon Press. hlm. 9-10. ISBN 0-19-814867-4
  15. ^ Lewis, Naphtali (1986). Greeks in Ptolemaic Egypt: Case Studies in the Social History of the Hellenistic World. Oxford: Clarendon Press. hlm. 10. ISBN 0-19-814867-4
  16. ^ a b Solomon Grayzel, A History of the Jews, hlm. 56
  17. ^ Solomon Grayzel, A History of the Jews, hlm. 56-57
  18. ^ a b Austin, Michel (2006). The Hellenistic World from Alexander to the Roman Conquest (ed. ke-2). Cambridge: Cambridge University Press. hlm. 444. ISBN 978-0-521-53561-8.
  19. ^ Lewis, Naphtali (1986). Greeks in Ptolemaic Egypt: Case Studies in the Social History of the Hellenistic World. Oxford: Clarendon Press. hlm. 15. ISBN 0-19-814867-4
  20. ^ a b F.E. Peters, The Harvest of Hellenism hlm. 193
  21. ^ a b F.E. Peters, The Harvest of Hellenism hlm. 194
  22. ^ F.E. Peters, The Harvest of Hellenism hlm. 195f
  23. ^ Phillips, Heather. "The Great Library of Alexandria?". Library Philosophy and Practice. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2012-04-18. Diakses tanggal 31-07-2011. 

Referensi

sunting
  • Bingen, Jean. Hellenistic Egypt. Edinburgh: Edinburgh University Press, 2007 (hardcover, ISBN 0-7486-1578-4; paperback, ISBN 0-7486-1579-2). Hellenistic Egypt: Monarchy, Society, Economy, Culture. Berkeley: University of California Press, 2007 (hardcover, ISBN 0-520-25141-5; paperback, ISBN 0-520-25142-3).
  • Bowman, Alan Keir. 1996. Egypt After the Pharaohs: 332 BC–AD 642; From Alexander to the Arab Conquest. 2nd ed. Berkeley: University of California Press
  • Chauveau, Michel. 2000. Egypt in the Age of Cleopatra: History and Society under the Ptolemies. Translated by David Lorton. Ithaca: Cornell University Press
  • Ellis, Simon P. 1992. Graeco-Roman Egypt. Shire Egyptology 17, ser. ed. Barbara G. Adams. Aylesbury: Shire Publications, ltd.
  • Grabbe, L. L. (2008). A History of the Jews and Judaism in the Second Temple Period. Volume 2 – The Coming of the Greeks: The Early Hellenistic Period (335 – 175 SM. T&T Clark. ISBN 9780567033963. 
  • Hölbl, Günther. 2001. A History of the Ptolemaic Empire. Translated by Tina Saavedra. London: Routledge Ltd.
  • Lewis, Naphtali (1986). Greeks in Ptolemaic Egypt: Case Studies in the Social History of the Hellenistic World. Oxford: Clarendon Press. ISBN 0-19-814867-4.
  • Lloyd, Alan Brian. 2000. "The Ptolemaic Period (332–30 BC)". In The Oxford History of Ancient Egypt, edited by Ian Shaw. Oxford and New York: Oxford University Press. 395–421
  • Peters, F.E. 1970 The Harvest of Hellenism. New York: Simon & Schuster

Pranala luar

sunting