Buka menu utama

Komak, kacang komak, kacang bado atau kacang biduk (Lablab purpureus) adalah sejenis kacang-kacangan dari suku Fabaceae (Leguminosae). Tanaman ini terutama dikembangkan sebagai penghasil bahan pangan bebijian dan sayuran; namun juga baik sebagai pakan ternak, pupuk hijau, tanaman penutup tanah, dan tanaman hias. Spesies ini adalah satu-satunya anggota marga monotipik Lablab[1].

Infobox spesiesKomak
Lablab purpureus
Arya.komak.bulak lor.2019.0.jpg
Kacang Kara (komak) di pekarangan rumah warga Jatibarang, Indramayu
Taksonomi
-core eudicots ·
-superrosids ·
-rosids ·
-fabids ·
OrdoFabales ·
FamiliaFabaceae ·
UpafamiliaFaboideae ·
TribusPhaseoleae ·
UpatribusPhaseolinae ·
GenusLablab ·
SpesiesLablab purpureus
Robert Sweet Sweet, 1826
Tata nama
Basionym Terjemahkan Dolichos purpureus Terjemahkan
Sinonim takson Dolichos lablab Terjemahkan
Modifica les dades a Wikidata

Kacang ini juga dikenal dengan nama-nama seperti kekara, kara-kara (Mly.), kacang jěriji, kacang pěda, roay katopès (Sd.); kårå, kekårå, kårå andhong, kårå usěng, kårå wědhus (Jw.); komak (Md.); ndoto, loto, roto (Rote)[2]. Di Malaysia disebut kara-kara, kekara; di Filipina bàtau, itab, pardá; di Burma pe-gyi; di Thailand thua phaep; dan di Vietnam dâu van. Juga dikenal sebagai lablab, hyacinth bean (Ingg.) serta dolique lab-lab (Prc.)[3].

Daftar isi

Pemerian botanisSunting

 
Pelat botani menurut Blanco

Terna tahunan yang membelit; merumpun rendah atau memanjat hingga 6 m tingginya; berakar dalam. Daun-daun majemuk beranak daun tiga, dengan anak daun bundar telur melebar, 5—15 cm x 4–15 cm, bertepi rata, hampir gundul atau berambut halus; duduk daun berseling.[3]

Perbungaan berupa tandan yang kaku di ketiak, panjang tangkainya 4–23 cm dan panjang rakis 2–24 cm, dengan banyak buku berisi 1-5 kuntum bunga. Bunga dengan mahkota putih, jambon, merah, atau ungu; bertangkai pendek yang menyegi-empat dan berambut jarang; benang sari 10 helai dalam dua tukal. Polongan bervariasi bentuk dan warnanya; pipih atau menggembung; 5–20 cm x 1–5 cm; lurus atau melengkung; biasanya dengan 3-6 biji bundar telur yang beraneka dalam ukuran dan warna.[3]

Asal usul dan kegunaanSunting

 
Karangan bunga
Komak, biji yang muda, diolah
Nilai nutrisi per 100 g (3,5 oz)
Energi 209 kJ (50 kcal)
Karbohidrat 9.2 g
Lemak 0.27 g
Protein 2.95 g
Tiamina (Vit. B1) 0.056 mg (4%)
Riboflavin (Vit. B2) 0.088 mg (6%)
Niasin (Vit. B3) 0.48 mg (3%)
Folat (Vit. B9) 47 μg (12%)
Vitamin C 5.1 mg (9%)
Kalsium 41 mg (4%)
Besi 0.76 mg (6%)
Magnesium 42 mg (11%)
Mangan 0.21 mg (11%)
Fosfor 49 mg (7%)
Kalium 262 mg (6%)
Zink 0.38 mg (4%)
Link to USDA Database entry
Dikukus, dimasak tanpa garam, ditiriskan
Persentase merujuk kepada rekomendasi Amerika Serikat untuk dewasa.
Sumber: Data Nutrisi USDA

Asal usul komak diperkirakan dari India, Asia Tenggara, atau Afrika. Tanaman ini didomestikasi dan dikembangkan terutama di India, Asia Tenggara, Mesir, dan Sudan.[3]

Di pelbagai wilayah Indonesia, polong komak yang muda populer sebagai sayuran[2]; direbus seperti buncis, dicampurkan ke dalam kari[3], atau –di wilayah Jawa Timur– dimasak sebagai sayur asam. Biji yang muda, begitu pun daun-daun yang muda, pucuk, dan karangan bunganya, kerap direbus dan dilalap[3]. Bijinya yang tua dan kering dimanfaatkan sebagai kacang-kacangan[3]. Biji komak dapat diproses menjadi tempe[4], diolah menjadi tepung kaya protein (PRF, Protein Rich Flour)[5], atau bahkan dikembangkan lebih lanjut sebagai bahan daging tiruan[6].

Pada musim kering yang panjang, ketika rumput sukar tumbuh, komak sering dibudidayakan sebagai pakan ternak[2]. Hijauan ini tidak dengan serta-merta dilahap oleh ternak, terkadang diperlukan waktu pembiasaan hingga beberapa hari sebelum ternak mau memakannya. Komak juga perlu dicampur dengan hijauan lain, seperti dedaunan atau kacang-kacangan lain, agar ternak tidak mengalami kembung. Pemberian komak dapat meningkatkan dengan segera bobot tubuh sapi dan produksi susunya.[7]

 
Polongan muda kacang komak

Komak membentuk nodul-nodul di akarnya, tempatnya bersimbiosis dengan Rhizobium yang mengikat nitrogen; meskipun simbiosis tidak selalu mudah terjadi antara komak dengan strain Rhizobium lokal. Di samping itu, komak memperkaya kandungan nitrogen tanah melalui dekomposisi daun-daun dan rantingnya yang berguguran.[7]

Bila lahannya dipersiapkan dengan baik, komak dapat tumbuh dengan cepat menutupi lahan-lahan yang terbuka. Jika telah tumbuh mantap, tanaman ini mampu menghadapi persaingan dengan aneka gulma di kebun.[7] Kultivar komak tertentu menghasilkan bunga dan polong yang berwarna indah, sehingga acap dijadikan tanaman hias.

KultivarSunting

Komak, Lablab purpureus, sejak lama diketahui memiliki banyak varietas budidaya (kultivar). Bahkan Rumphius (1690an) telah menyebutkan adanya dua bentuk komak yang disebutnya sebagai Cacara (=kekara) perennis dan Cacara alba atau Cacara puty (=kekara putih)[8] Kini bentuk-bentuk itu umumnya digolongkan ke dalam tiga kelompok kultivar[3]:

  • Kelompok kv. Lablab (tersebar luas)
  • Kelompok kv. Ensiformis (Asia Tenggara, Afrika Timur)
  • Kelompok kv. Bengalensis (Asia Selatan, Afrika Timur)

Catatan kakiSunting

  1. ^ Lablablab: Lablab purpureus, general information. University of Agricultural Sciences, Bangalore, India.
  2. ^ a b c Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia 2: 1067-68. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, Bogor. (edisi 1916: 347)
  3. ^ a b c d e f g h Shivashankar, G. & R.S. Kulkarni 1989. Lablab purpureus (L.) Sweet In: L.J.G. van der Maesen & S. Somaatmadja (Editors). Plant Resources of South-East Asia No. 1: Pulses. [Internet] Record from Proseabase, PROSEA (Plant Resources of South-East Asia) Foundation, Bogor, Indonesia. Diakses pada 3-Sep-2013
  4. ^ Harnani, S. 2009. Studi Karakteristik Fisikokimia Dan Kapasitas Antioksidan Tepung Tempe Kacang Komak (Lablab Purpureus (L.) Sweet)
  5. ^ Nafi, A., T. Susanto, A. Subagio. 2006. Development of Protein Rich Flour (PRF) from Hyacinth Bean (Lablab purpureus (L) Sweet) and Lima bean (Phaseolus lunatus). Jurnal Teknologi Dan Industri Pangan, Vol 17, No 3.
  6. ^ Bisnis OL: AGROBISNIS: Daging Tiruan Dari Kecambah Kacang Komak. Rabu, 31 Juli 2013, 20:45 WIB
  7. ^ a b c FAO: Lablab purpureus (L.) Sweet
  8. ^ Rumpf, G.E. 1741-50. Herbarium Amboinense:plurimas conplectens arbores, frutices, herbas, plantas terrestres ... Pars 5: 378, 380, Tab. 136. Amstelaedami: Apud Fransicum Changuion, Hermannum Uytwerf.

GaleriSunting

Pranala luarSunting