Kelas ekonomi, atau juga disebut kelas tiga, kelas geladak, atau untuk membedakannya dengan kelas ekonomi premium, biasanya disebut kelas ekonomi standar atau kelas ekonomi hemat, adalah kelas perjalanan terendah pada perjalanan udara, perjalanan rel, dan terkadang pada perjalanan kapal feri atau laut. Pada zaman dulu, kelas ini disebut sebagai kelas wisatawan atau kelas tiga pada kapal samudera.

KelautanSunting

 
Kabin kelas tiga di RMS Titanic.

Kelas perjalanan berasal dari perbedaan antara "kelas kabin" dan "kelas geladak" pada kapal di abad ke-18. Kelas kabin ditujukan untuk penumpang kaya, dengan fasilitas berupa kabin kecil dan restoran, sementara "kelas geladak" hanya menyediakan tempat tidur di dek terbuka, dan penumpang harus memasak makanannya sendiri.

Dengan hadirnya kapal uap, kompetisi antar operator kapal samudera membuat sejumlah perusahaan seperti Inman Line menawarkan opsi tambahan pada penumpang kelas ekonomi, seperti kabin bersama dan makanan, yang disebut "Kelas Tiga". Sejumlah perusahaan pelayaran besar kemudian menyediakan empat kabin, restoran, dan area hiburan berbeda, masing-masing untuk penumpang Kelas Satu, Dua, Tiga, dan Geladak.[1] Setelah jumlah imigran mulai menurun pada dekade 1920-an, kelas geladak pun dihapus, sedangkan Kelas Tiga ditingkatkan dan diperbaiki, lalu ditawarkan dengan nama "Kelas Wisatawan".[2] Kelas tersebut pun menjadi kelas favorit bagi wisatawan, dan perlahan-lahan menggantikan Kelas Tiga, terutama selama lonjakan imigrasi pasca Perang Dunia II.[3]

 
Kelas ekonomi di KM Awu (Pelni) di Indonesia

Karena jumlah penumpang kapal terus menurun akibat banyak yang beralih ke pesawat terbang, maka pada dekade 1960-an, operator kapal samudera mulai beralih ke kapal pesiar, dan makin banyak kapal yang hanya menyediakan "satu kelas" untuk menghemat pengeluaran pada restoran dan area hiburan.[4] Walaupun begitu, evolusi kapal pesiar melahirkan berbagai macam layanan premium dan area makan eksklusif.[5] Sejumlah feri yang beroperasi pada rute pendek tetap menawarkan kelas geladak.

Kereta apiSunting

 
Kursi kelas ekonomi pada kereta api seri 160000 Kintetsu (Jepang)

Di Amerika Utara, kelas ini disebut sebagai kelas geladak oleh sejumlah perusahaan, seperti Amtrak. Sebagian besar operator kereta api di Eropa menyebut kelas ini sebagai kelas dua, kecuali di Britania Raya dan Irlandia, di mana kelas ini disebut kelas standar (disingkat "STD"). Pada sejumlah kasus, nama tersebut diubah untuk memperluas ekspektasi. Di Kanada, Via Rail menyebut kelas ini sebagai kelas ekonomi. Di India, pada masa pendudukan Inggris, kelas terendah disebut sebagai kelas tiga. Setelah India merdeka, kelas tersebut diubah namanya menjadi kelas dua untuk menghapus konotasi buruk kelas tiga. Saat ini, Indian Railways juga menawarkan Ekonomi AC-3 di kelas yang sama. Di Indonesia, kelas paling murah adalah kelas ekonomi. Pada awalnya, kelas ekonomi tidak menyediakan pendingin udara, namun kini semua kelas ekonomi telah dilengkapi dengan pendingin udara.

Secara umum, kursi kelas ekonomi berupa sebuah kursi yang terkadang dapat direbahkan. Kursi ini juga dapat dilengkapi kantong di bagian belakangnya yang dapat digunakan untuk meletakkan barang berukuran kecil. Tergantung pada konfigurasinya, bagasi dapat diletakkan di rak di atas kursi atau di tiap ujung kereta.

Kursi kelas standar pada kereta jarak jauh di Britania Raya kerap berupa kursi yang mengelilingi meja permanen. Kelas ini juga menyediakan catu daya dan terkadang Wi-Fi.

Di Eropa, kelas dua mayoritas berupa kabin berinterior terbuka dengan konfigurasi kursi 2-2, yang terkadang dilengkapi dengan pendingin udara, dan kursinya dapat saling berhadapan atau hanya menghadap ke satu arah, atau (di sejumlah kereta ekspres) berupa kompartemen yang berisi enam hingga delapan kursi. Sejumlah kereta komuter juga menyediakan kelas ekonomi dengan konfigurasi kursi 3-2.

Di Spanyol, kabin kelas dua disebut kelas wisatawan pada kereta cepat AVE. Kelas ini menawarkan catu daya dan ada juga layanan video dan audio pada sebagian besar rute ramai.

Kereta api penumpang di Amerika Utara dibedakan berdasarkan tipe keretanya (contohnya kereta tidur). Tiket kelas ekonomi biasanya tidak meliputi fasilitas makanan.

Kelas ekonomi juga tersedia pada sejumlah kereta tidur, terutama di rute yang dijalankan oleh Russian Railways, yang disebut "Platzkart", dengan tiap kereta berisi 9 bagian terbuka, di mana tiap bagian memiliki enam tempat tidur dalam dua tingkat – empat melintang, dan dua membujur pada masing-masing sisi kereta, kasur di tingkat paling bawah juga dapat difungsikan sebagai kursi. Sejumlah operator kereta api di Eropa juga menyediakan kereta tidur "kelas geladak" serupa, yang disebut kereta kuset. Terdapat perbedaan pendapat mengenai Platzkart, apakah setingkat di bawah kelas dua tradisional/"coupe", atau hanya varian lebih murah dari kelas tersebut, karena ada juga kelas "tempat tidur keras" yang lebih murah dengan tempat tidur tingkat tiga dan tanpa kasur. Kelas tersebut telah lama dihapus di Rusia, namun masih tersedia di Tiongkok.

MaskapaiSunting

 
Kelas Ekonomi di Airbus A380 milik Emirates
 
Sebuah kursi ekonomi di sebuah pesawat.
 
Kelas ekonomi pada Airbus A319 milik Lufthansa Italia

Kursi kelas ekonomi biasanya rapat direbahkan dan dilengkapi meja lipat. Jarak antar kursinya bervariasi dari 28 hingga 36 inci (71 hingga 91 cm), biasanya 30–32 in (76–81 cm), atau 30 hingga 36 in (76 hingga 91 cm) untuk kursi kelas ekonomi di penerbangan internasional. Lebar kursi ekonomi untuk penerbangan domestik bervariasi dari 17 hingga 18,25 in (43,2 hingga 46,4 cm). Kelas ekonomi penuh bisanya ditandai dengan huruf 'Y',[6] atau dengan huruf lain.[7][8]

Kantong di kursi biasanya berisi kantung mabuk udara, majalah, sebuah katalog bebas bea, serta kartu evakuasi dan keselamatan. Tergantung pada maskapainya, fasilitas tambahan dapat berupa selimut, tas fasilitas (dapat berisi penutup telinga, tusuk gigi, masker mata), dan penyuara kuping. Hiburan dalam penerbangan[9] di kelas ekonomi dapat berupa "layar besar" yang dipasang di atap pesawat atau "layar kecil" yang dipasang di masing-masing kursi untuk menyediakan fasilitas video sesuai permintaan. Untuk penumpang yang duduk di belakang sekat atau di baris yang sama dengan pintu darurat, layar biasanya diletakkan di salah satu sisi sandaran lengan. Sejumlah maskapai penerbangan bertarif rendah biasanya juga menarik biaya untuk penggunaan penyuara kuping. Walaupun begitu, standar kelas ekonomi bervariasi antar maskapai. Aeroflot, Qantas, dan Cathay Pacific menawarkan hiburan audio dan visual selama penerbangan, dan makanan pada semua rute internasional dan sejumlah rute domestik pada semua penumpang, termasuk di kelas ekonomi, sementara maskapai lain seperti Transaero menarik biaya tambahan untuk fasilitas hiburan dalam penerbangan.

Ketersediaan makanan juga bervariasi. Sejumlah maskapai besar tidak lagi menyediakan makanan untuk kelas ekonomi pada penerbangan pendek.[10] Makanan kini secara umum hanya disediakan untuk penerbangan internasional. Sejumlah operator bandara kini juga mulai menawarkan makanan kemasan yang dapat dibawa ke kabin kepada penumpang kelas ekonomi.[11] Maskapai penerbangan bertarif rendah, seperti EasyJet dan Ryanair, menarik biaya untuk makanan dan minuman di atas pesawat. Selain itu, sejumlah maskapai, terutama di Amerika Serikat dan Kanada, juga menarik biaya bagi penumpang kelas ekonomi yang check-in di bandara, membawa bagasi, serta menyewa bantal, selimut, atau penyuara kuping.

Sejumlah maskapai telah menciptakan kelas ekonomi yang lebih mewah, contohnya jarak kursi yang lebih lebar di kelas Ekonomi Plus yang ditawarkan oleh United Airlines. Bisa dibilang, kelas tersebut mengembalikan sejumlah fasilitas yang dihapus dari kelas ekonomi biasa pada zaman dulu.

Mungkin penerbangan yang lebih murah dari standar pertama adalah United yang menggunakan Boeing 247 untuk terbang antara San Francisco dan Los Angeles (Burbank) pada tahun 1940. Pesawat DC-3 miliknya membawa penumpang kelas satu (seharga $18,95), sementara pesawat Boeing miliknya transit sebanyak dua kali dengan harga $13,90. Penerbangan tersebut berakhir pada tahun 1942, dan tarif rendah tidak muncul pada penerbangan berjadwal hingga tahun 1948 saat Pan Am memulai satu penerbangan dari New York La Guardia ke San Juan dengan pesawat DC-4, dengan tarif $75, padahal normalnya $133. Pada tahun 1949, kelas wisatawan pada pesawat DC-4 milik Pan Am dari New York ke Rio hanya seharga $382, bukannya $460.

Pada akhir tahun 1948, Capital Airlines memulai satu penerbangan antara Chicago dan New York La Guardia dengan mengunakan DC-4 tiap dua hari sekali. Penerbangan ini berangkat pada jam satu siang dan berhenti selama sepuluh menit di Pittsburgh (Allegheny County). Tarif Chicago-NY adalah sebesar $29,60 ditambah pajak federal sebesar 15%. Padahal tarif penerbangan lain pada saat itu mencapai $44,10 ditambah pajak. Penerbangan dengan kelas geladak pun mulai populer (semua penerbangan domestik hanya menawarkan satu kelas, yakni kelas geladak atau standar, hingga TWA mulai menyediakan dua kelas sekaligus di satu penerbangan pada tahun 1955). Pada tahun 1961, jumlah penumpang-mil yang terbang dengan kelas geladak melampaui kelas satu untuk pertama kalinya.

 
Sarapan pada Kelas Ekonomi Pakistan International Airlines dengan pesawat Boeing 777.

IATA memperbolehkan tarif wisatawan transatlantik pada musim panas tahun 1952. Dengan tarif tersebut, penerbangan New York ke London hanya sebesar $270, bukannya $395. Sejak saat itu, tarif wisatawan pun makin populer di seluruh dunia.

Kelas ekonomi premiumSunting

Sejumlah maskapai menawarkan kelas ekonomi premium untuk para penumpang yang mau membayar lebih mahal untuk dapat menikmati fasilitas yang lebih baik daripada kelas ekonomi biasa. Kelas ekonomi premium diposisikan sebagai pengisi celah antara kelas ekonomi dan kelas bisnis dalam hal harga dan fasilitas. Maskapai yang menawarkan kelas ini antara lain Air Canada, Air New Zealand, Alitalia, American Airlines, Lufthansa, Thai Airways, Cathay Pacific Airways, All Nippon Airways, British Airways, South African Airways, Virgin Australia, Virgin Atlantic, EVA Air, Qantas, Delta Air Lines, JetBlue Airways, United Airlines (United menawarkan kelas ekonomi plus yang agak berbeda dengan kelas ekonomi premium), Scandinavian Airlines, Philippine Airlines, PAL Express, Air Vistara, Singapore Airlines (sejak tanggal 9 Agustus), Pakistan International Airlines (hanya pada pesawat Boeing 777 dan Airbus A310), Aeroflot (hanya pada pesawat Boeing 777), China Southern Airlines, dan Kuwait Airways (hanya pada pesawat Boeing 777-300ER). Tidak ada standar untuk kelas ekonomi premium, sehingga terdapat perbedaan pada kelas ekonomi premium yang ditawarkan oleh maskapai satu dengan yang lain. Ada yang hanya menawarkan jarak kursi yang lebih lebar, namun ada juga maskapai yang menawarkan kursi yang lebih besar dan opsi makanan yang lebih banyak.

Ekonomi dasarSunting

Ekonomi dasar, atau disebut kelas lima (jika ekonomi premium disebut sebagai kelas tiga dan ekonomi standar disebut sebagai kelas empat) atau kelas terakhir, adalah kelas di bawah kelas ekonomi reguler.[12] Ekonomi dasar pertama kali disediakan oleh Delta Air Lines untuk penerbangan domestik di Amerika pada tahun 2012, yang lalu diikuti oleh American Airlines (AA) dan United Airlines pada sejumlah rute domestik.[12] Delta Airlines dan AA juga berencana untuk menyediakan kelas ekonomi dasar untuk penerbangan internasional.[12] Kelas ini dikritik karena dianggap sejumlah orang sebagai "cara cerdik untuk menaikkan harga kelas ekonomi standar" dan karena algoritma penetapan harganya yang kurang dirancang dengan baik.[12]

Lihat jugaSunting

ReferensiSunting

  1. ^ Murphy, Patrick J.; Coye, Ray W. "The golden age: service management on transatlantic ocean liners". Journal of Management History. 13 (2): 172–191. Diarsipkan dari versi asli tanggal 11 January 2016. Diakses tanggal 2 December 2017 – via www.academia.edu. 
  2. ^ John Maxtone Graham, The Only way to Cross, New York MacMillan (1972), p. 169.
  3. ^ Conlin, Dan. "Recreating an Ocean Liner Cabin". Pier 21. Canadian Museum of Immigration at Pier21. Diarsipkan dari versi asli tanggal 25 July 2017. Diakses tanggal 7 September 2019. 
  4. ^ William H. Miller, Famous Ocean Liners, Patrick Stephens Ltd. (1987), p. 121.
  5. ^ "Cruise Industry Trends From the 70s to 90s". JobMonkey. Diarsipkan dari versi asli tanggal 9 July 2019. Diakses tanggal 7 September 2019. 
  6. ^ "UN Travel Policy Summary" United Nations Environment Programme. Retrieved: 29 September 2019.
  7. ^ "Understanding Airfares". Retrieved: 20 September 2012.
  8. ^ Bennett, Andrea. "Deciphering Airline Fare Codes Diarsipkan 29 August 2012 di Wayback Machine." Airfare Watchdog, 21 October 2008. Retrieved: 20 September 2012.
  9. ^ "World Traveller – On board". British Airways. Diarsipkan dari versi asli tanggal 22 August 2010. Diakses tanggal 24 June 2010. 
  10. ^ Sharkey, Joe (21 October 2001). "Business Travel; In a sign of desperate times, many airlines on many of their flights will serve no meals". New York Times. Diarsipkan dari versi asli tanggal 27 December 2008. Diakses tanggal 27 December 2008. 
  11. ^ "Carry-on meals take off at Miami Airport Terminals: HMShost finds Airport, Airlines and Travelers like alternative to in-flight food. (Food, News & People).(Brief Article) | Restaurants & Institutions | Find Articles at BNET". Findarticles.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 17 May 2005. Diakses tanggal 24 June 2010. 
  12. ^ a b c d G.M. (13 October 2017). "Carriers in America are doubling down on budget airfares". The Economist. Diarsipkan dari versi asli tanggal 17 October 2017. Diakses tanggal 17 October 2017.