Buka menu utama

Gilda (perhimpunan)

serikat pengrajin atau saudagar

Gilda adalah serikat pengrajin atau saudagar yang dibentuk guna memantau kegiatan usaha atau perniagaan mereka di daerah tertentu. Gilda-gilda tertua dibentuk sebagai serikat-serikat persaudaraan awam Kristen atau paguyuban-paguyuban usahawan. Gilda diatur mirip perhimpunan profesi, serikat pekerja, kartel, dan perkumpulan rahasia. Keberadaannya acap kali bergantung pada anugerah surat paten dari seorang kepala monarki atau kepala pemerintahan lainnya untuk menguasai serta mengendalikan kegiatan usaha demi kepentingan para wirausahawan yang menjadi anggotanya, dan untuk mempertahankan kepemilikan sarana kerja dan kelancaran pasokan bahan baku. Tinggalan sejarah gilda-gilda tradisional yang masih kekal sampai sekarang adalah balai gilda, yakni balai pertemuan para anggota gilda. Anggota gilda yang didapati berlaku curang di muka umum akan dikenai denda atau dikeluarkan dari gilda.

Balai Gilda Windsor, salah satu tinggalan sejarah gilda, mula-mula dibangun sebagai balai pertemuan anggota liga, tetapi juga difungsikan sebagai gedung pengadilan dan balai kota.

Salah satu perkembangan penting yang dihasilkan oleh kegiatan berserikat ala gilda ini adalah pendirian universitas di kota Bologna (berdiri pada tahun 1088), kota Oxford (berdiri selambat-lambatnya sejak tahun 1096), dan kota Paris (berdiri ca. tahun 1150). Universitas-universitas ini mula-mula didirikan sebagai gilda pelajar (Universitas Bologna) atau gilda pengajar (Universitas Paris).[1]

Daftar isi

Sejarah gildaSunting

Serikat-serikat kuno serupa gildaSunting

Pada zaman Kekaisaran Romawi, sudah ada serikat-serikat semacam gilda yang disebut collegium, collegia, atau corpus. Serikat-serikat ini adalah perhimpunan-perhimpunan yang bersifat sukarela dan beranggotakan usahawan-usahawan di bidang usaha yang sama. Salah satu contohnya adalah corpus naviculariorum, perhimpunan pengusaha angkutan laut jarak jauh yang berpusat di bandar Ostia, pelabuhan Roma. Gilda-gilda Romawi ini akhirnya bubar seiring runtuhnya Kekaisaran Romawi.[2]

Para tukang dan pengrajin di kota-kota Abad Pertengahan cenderung berserikat menurut bidang usaha masing-masing. Paguyuban-paguyuban pengrajin wastra, tukang batu, tukang kayu, pandai ukir, maupun pengrajin gelas menyimpan baik-baik dan secara tradisional mewariskan rahasia teknologi masing-masing, yakni "seni" atau "kiat-kiat" dalam bidang usaha mereka. Lazimnya pendiri gilda adalah para guru kriya (empu) yang membuka usaha sendiri dan mempekerjakan orang-orang yang berguru padanya.[3]

 
Rambu gilda dari besi tempa tradisional milik sebuah bengkel tukang kaca di Jerman. Rambu-rambu semacam ini dapat ditemukan di banyak kota tua Eropa, tempat para anggota gilda menandai bengkel-bengkel dan toko-toko mereka. Kini banyak rambu gilda kuno yang diperbaiki bahkan dibuat yang baru, teristimewa di kawasan-kawasan kota tua.
 
Lambang kebesaran gilda-gilda yang membuka usaha di sebuah kota dalam wilayah Republik Ceko, memuat lambang-lambang berbagai bidang usaha dan kriya khas Abad Pertengahan Eropa.

Gilda Abad PertengahanSunting

Selain dua kategori utama dari gilda, yakni gilda saudagar dan gilda pengrajin,[4] ada pula gilda kerukunan dan gilda keagamaan.[5] Gilda-gilda terbentuk pada permulaan kurun waktu Puncak Abad Pertengahan, manakala para pengrajin mulai bersatu demi melindungi kepentingan bersama. Di Jerman, gilda-gilda pengrajin disebut dalam piagam pembentukan Kotapraja Augsburg yang bertarikh 1156.[6]

Sistem gilda dan dagang kulakan menyebar ke Inggris dari daratan Eropa setelah negeri kepulauan itu ditaklukkan oleh bangsa Norman. Kala itu, perhimpunan-perhimpunan saudagar yang ditempatkan di tiap-tiap kota diberi hak istimewa untuk berniaga di kota kediamannya. Seringkali perhimpunan-perhimpunan saudagar ini menjadi dewan pemerintahan kota. Sebagai contoh, Balai Gilda London dijadikan gedung Sidang Majelis Rakyat pemerintah Kotapraja London (Korporasi Kota London), yakni pemerintah daerah tertua di dunia yang dipilih oleh rakyat secara berkesinambungan.[7] Menurut aturan yang masih berlaku sampai sekarang, para pejabat pemerintah Kotapraja London ini harus dipilih dari kalangan warga London yang merdeka.[8] Anugerah Kemerdekaan Kota dari pemerintah Kotapraja London, yang berlaku semenjak Abad Pertengahan sampai 1835, adalah pemberian hak untuk membuka usaha, dan hanya dianugerahkan kepada anggota-anggota suatu gilda atau kongsi berseragam.[9]

Komunitas-komunitas setara yang disebut "gilda" (karena menyimpan emas sebagai dana cadangan bersama) dikecam oleh rohaniwan Katolik karena "jampi-jampi" mereka—yakni sumpah mengikat yang diikrarkan para anggotanya untuk saling bantu dalam kemalangan, untuk bersatu membunuh musuh-musuh tertentu, dan untuk saling dukung dalam menghadapi musuh bebuyutan atau dalam menjalankan usaha. Sumpah ini diikrarkan dalam perjamuan mabuk-mabukan yang digelar setiap tanggal 26 Desember oleh kaum penyembah berhala untuk merayakan hari Jul—Uskup Negeri Franka Barat yang bernama Hincmar sia-sia berusaha mengkristenkan gilda-gilda di negeri itu pada 858.[10]

Pada Awal Abad Pertengahan, sebagian besar organisasi kriya Romawi, yang mula-mula dibentuk sebagai serikat-serikat persaudaraan awam Kristen, telah menghilang, kecuali para pemahat batu dan mungkin pula pengrajin gelas yang sebagian besar adalah tukang-tukang dan pandai-pandai dengan keahlian yang terbatas di daerah masing-masing. Gregorius dari Tours meriwayatkan sebuah kisah ajaib tentang seorang undagi bangunan yang tiba-tiba kehilangan daya seni dan kepiawaiannya, namun pulih seperti sediakala setelah bermimpi berjumpa dengan Bunda Maria. Menurut Michel Rouche,[11] kisah ajaib ini adalah kiasan dari pentingnya keterampilan tukang keliling (bahasa Belanda: gezel, tenaga ahli, di atas tenaga magang tetapi masih di bawah guru kriya) yang didapatkan melalui praktik kerja.

Di Prancis, gilda disebut corps de métier (badan kejuruan). Menurut Viktor Ivanovich Rutenburg, "di dalam gilda itu sendiri hanya ada sedikit sekali pembedaan bidang keahlian dari tenaga kerja, yang cenderung bekerja dari gilda ke gilda. Inilah sebabnya, berdasarkan keterangan dari Le Livre des Métiers (kitab bidang-bidang kejuruan) yang disusun oleh Étienne Boileau, pada pertengahan abad ke-13 ada tidak kurang dari 100 gilda di Paris, dan pada abad ke-14 telah bertambah menjadi 350 gilda."[12] Ada berbagai macam gilda pandai logam: para tukang ladam, pengrajin pisau, tukang kunci, penempa rantai, pembuat paku, seringkali membentuk serikat usaha sendiri-sendiri; para pembuat senjata terbagi menjadi tukang ketopong, tukang perisai, tukang zirah, pemoles zirah, dll.[13] Di kota-kota negeri Katala, teristimewa di Barcelona, gilda atau gremi merupakan salah satu unsur asasi dalam masyarakat: sebuah gilda tukang sepatu tercatat pada 1208.[14]

Di Inggris, khususnya di Korporasi Kota London, ada lebih dari 110 gilda[15] yang sintas sampai sekarang; gilda-gilda ini disebut kongsi berseragam (bahasa Inggris: livery company),[16] yang tertua di antaranya sudah berdiri lebih dari seribu tahun lamanya. Kelompok-kelompok lain, semisal Kongsi Terhormat Para Penasihat Pajak (bahasa Inggris: Worshipful Company of Tax Advisers), dibentuk jauh lebih kemudian. Menjadi anggota dari sebuah kongsi berseragam merupakan prasyarat bagi orang-orang yang hendak menduduki suatu jabatan dalam pemerintahan Kotapraja London, seperti jabatan Lord Mayor (walikota) dan jabatan Remembrancer (ketua pamong praja).

 
De Staalmeesters (para petugas pemeriksa contoh barang dalam gilda saudagar kain) karya Rembrandt, 1662.

Sistem gilda mencapai tahap kedewasaannya di Jerman sekitar tahun 1300 dan bertahan di kota-kota Jerman sampai memasuki abad ke-19, dengan sejumlah hak istimewa bagi beberapa profesi tertentu yang masih kekal hingga hari ini. Pada abad ke-15, ada 100 gilda di Hamburg, 80 gilda di Koln, dan 70 gilda di Lübeck.[17] Gilda-gilda yang terbentuk paling akhir di Eropa Barat adalah gremios (tunggal: gremio, gilda) di Spanyol, misalnya di Valencia pada 1332, atau di Toledo pada 1426.

Tidak semua kota dikendalikan perekonomiannya oleh gilda-gilda; ada pula sejumlah kota yang "bebas" gilda. Di kota-kota yang dikendalikannya, gilda-gilda membentuk ketenagakerjaan, produksi, dan perniagaan. Gilda-gilda memegang kendali besar atas modal instruksional, dan konsep-konsep modern mengenai proses penyempurnaan kemahiran yang berlangsung seumur hidup, mulai dari seorang tenaga magang menjadi seorang tenaga terampil, selanjutnya menjadi seorang tukang keliling (tenaga ahli), dan akhirnya menjadi seorang guru dan mahaguru kriya kenamaan. Untuk menjadi guru kriya, seorang tukang keliling harus melakukan perjalanan dinas keliling selama tiga tahun yang disebut tahun-tahun mengembara (bahasa Jerman: Wanderjahre). Praktik semacam ini masih hidup di Jerman dan Prancis.

Manakala produksi menjadi lebih terspesialisasi, gilda-gilda pun mengalami pembagian jurusan dan pemekaran, memunculkan pertengkaran seputar yurisdiksi yang menghasilkan dokumen-dokumen tertulis yang digunakan para sejarawan ekonomi menelusuri perkembangan mereka: gilda pengolah logam di Nuremberg dipecah menjadi lusinan bidang usaha mandiri sewaktu lonjakan ekonomi abad ke-13, dan ada 101 bidang usaha di kota Paris pada 1260.[18] Di Gent, sebagaimana di Firenze, industri tekstil wol dikembangkan menjadi sekumpulan gilda yang terspesialisasi. Kemunculan gilda-gilda Eropa berkaitan erat dengan kemunculan ekonomi uang (penggunaan uang fiat sebagai alat tukar) dan urbanisasi. Sebelum itu, mustahil orang dapat menjalankan organisasi yang digerakkan dengan uang, karena penggunaan uang komoditas masih merupakan cara lumrah dalam menjalankan usaha.

 
Balai Gilda, London, pusat pemerintahan kota, gambar cukilan kayu, ca. 1805

Gilda merupakan pusat organisasi kriya Eropa sampai dengan abad ke-16. Di Prancis, kembali maraknya gilda-gilda pada paruh kedua abad ke-17 merupakan wujud nyata dari kehendak monarki untuk memaksakan kesatuan, mengendalikan produksi, dan meraup manfaat dari struktur yang transparan dalam bentuk pengenaan pajak yang lebih efisien.

Gilda-gilda dikenali sebagai organisasi-organisasi yang dibenarkan menikmati keistimewaan-keistimewaan (surat-surat paten) tertentu, yang lazimnya diterbitkan oleh raja atau negara dan dipantau oleh ketua-ketua dunia usaha kota setempat (semacam kamar dagang). Surat-surat semacam ini adalah cikal bakal dari sistem paten dan merek dagang pada Zaman Modern. Gilda-gilda juga menyisihkan dana-dana khusus untuk menyantuni anggotanya yang mengalami gangguan kesehatan atau sudah uzur, untuk menyantuni para janda dan anak-anak yang ditinggal mati oleh anggotanya, untuk ongkos pemakaman, dan untuk tunjangan 'berkelana' bagi yang perlu melakukan perjalanan jauh untuk mencari pekerjaan. Ketika sistem gilda Kotapraja London merosot pada abad ke-17, kongsi-kongsi berseragam bertransformasi menjadi perkumpulan-perkumpulan persaudaraan yang saling bantu dengan cara-cara yang serupa.

Gilda-gilda Eropa mewajibkan praktik magang yang baku dalam jangka waktu yang lama, dan mempersulit orang-orang tak bermodal yang hendak berusaha sendiri atau berusaha tanpa tanpa persetujuan rekan-rekan seprofesi mereka untuk mendapatkan bahan baku maupun ilmu yang diperlukan, maupun untuk menjual barang-barang buatannya di pasar-pasar tertentu, yakni perkara yang juga menjadi pokok keprihatinan gilda-gilda. Hal-hal semacam ini merupakan ciri-ciri khas merkantilisme dalam perekonomian, yang mendominasi pandangan sebagian besar warga masyarakat Eropa mengenai ekonomi politik sampai dengan munculnya ekonomi klasik.

Sistem gilda bertahan sampai ke kurun waktu munculnya para kapitalis perdana, yang mulai memecah para anggota Gilda menjadi golongan "berpunya" dan golongan "tidak berpunya". Gejolak-gejolak sipil yang mewarnai kota-kota kecil dan besar pada abad ke-14 adalah gejolak-gejolak yang turut disebabkan oleh pertentangan antara gilda-gilda besar dan gilda-gilda pengrajin yang lebih kecil, yang bergantung pada sistem pengupahan berdasarkan jumlah hasil. "Di Firenze, kedua macam golongan gilda ini secara terang-terangan dibedakan menjadi Arti maggiori (kemahiran besar) dan Arti minori (kemahiran kecil) — sebelumnya sudah ada pembedaan antara popolo grasso (kaum kaya) dan popolo magro (kaum miskin)".[19] Perseteruan yang lebih sengit lagi timbul di antara gilda-gilda yang pada dasarnya bersifat konservatif dan golongan saudagar, yang kian lama kian menguasai alat-alat produksi dan modal yang dapat dikelola dalam bidang-bidang usaha yang ekspansif, seringkali dengan aturan-aturan gilda mereka sendiri. Penelusuran yang dilakukan para sejarawan sosial Jerman terhadap Zunftrevolution, revolusi daerah perkotaan yang dilakukan para anggota gilda melawan suatu golongan terkemuka yang berkuasa di kota-kota, kendati kadang-kadang terlampau membesar-besarkan hal-hal yang sesungguhnya tidak penting, memberi sedikit gambaran tentang perseteruan antargolongan pada abad ke-19.

Di daerah pedesaan, tempat aturan-aturan gilda tidak berlaku, para usahawan yang bermodal dengan leluasa membangun industri rumahan, yakni jaringan pekerja rumahan yang memintal dan menenun di tempat tinggal masing-masing atas pesanan usahawan yang menyediakan bahan baku bahan baku, bahkan mungkin pula alat tenun dari pemodal yang dijanjikan jatah laba. Sistem yang terserak semacam ini tidak mudah dikendalikan di tempat-tempat dengan pasar bahan baku yang ramai: wol mudah didapati di daerah-daerah pembiak biri-biri, tidak demikian halnya dengan sutra.

OrganisasiSunting

Di Firenze, Italia, terdapat 7 sampai 12 "gilda besar" dan 14 "gilda kecil". Gilda-gilda besar yang dianggap paling penting adalah gilda hakim dan gilda notaris, yang menangani urusan-urusan hukum dari gilda-gilda lain dan seringkali bertindak selaku penengah bilamana timbul pertikaian. Gilda-gilda besar lainnya adalah gilda wol, gilda sutra, dan gilda jual beli uang asing. Gilda-gilda ini membanggakan reputasi mereka sebagai lembaga-lembaga dengan hasil kerja bermutu tinggi, dan yang diganjar dengan harga tertinggi. Gilda mendenda anggota-anggotanya yang menyimpang dari standar. Gilda tabib, gilda peramu obat, gilda tukang kulit bulu binatang juga tergolong gilda-gilda besar. Gilda-gilda kecil meliputi gilda tukang roti, gilda tukang pelana, gilda pandai besi, dan gilda-gilda kerajinan lainnya. Gilda-gilda ini memiliki cukup banyak anggotanya, tetapi tidak memiliki kekuatan politik maupun sosial sehingga tidak dianggap penting untuk dilibatkan dalam penyelenggaraan pemerintahan kota.[20]

Gilda dibentuk oleh orang-orang yang berpengalaman dan sudah diakui keahliannya di bidang usaha atau kriya yang mereka tekuni. Orang-orang ini disebut guru-guru kriya. Sebelum mencapai taraf piawai, seorang karyawan baru harus terlebih dahulu menjalani pelatihan selama jangka waktu tertentu dan disebut tenaga magang. Sesudah masa pelatihan berakhir, ia naik ke tingkat tukang keliling (tenaga ahli). Tenaga magang biasanya cuma mempelajari teknik-teknik paling dasar sebelum diberi kepercayaan oleh rekan-rekan seprofesinya untuk menyimpan rahasia-rahasia gilda atau perusahaan.

Tidak seperti para tenaga magang, tukang-tukang keliling dapat bekerja di bengkel-bengkel atau sanggar-sanggar guru kriya lain, dan pada umumnya menerima upah harian, dan oleh karena itu tergolong pekerja harian. Setelah dipekerjakan oleh seorang guru kriya selama beberapa tahun, dan sesudah menghasilkan karya dengan mutu memuaskan, seorang tenaga magang naik kelas ke tingkat tukang keliling dan diberi dokumen-dokumen (surat atau sertifikat dari majikannya dan/atau langsung dari gilda) yang menyatakan kelulusannya menjadi seorang tukang keliling sehingga layak mengembara dari kota ke kota dan dari negara ke negara guna memperdalam keahliannya dengan cara menimba ilmu dari guru-guru kriya lain. Pengembaraan para tukang keliling dapat saja berupa perjalanan jauh lintas negara di Eropa, dan merupakan cara tidak resmi untuk mengomunikasikan metode-metode dan teknik-teknik baru, kendati tidak semua tukang keliling melakukan perjalanan semacam ini — biasanya cuma di Jerman dan Italia; di negara-negara lain, tukang-tukang keliling dari kota-kota kecil seringkali berkelana ke ibu kota.[21]

Selepas melakukan pengembaraan dan berpengalaman kerja beberapa tahun, seorang tukang keliling dapat diterima sebagai seorang guru kriya. Kendati demikian, dalam beberapa gilda, seorang tenaga magang dapat saja naik pangkat menjadi guru kriya tanpa harus melewati tahapan tenaga magang. Orang yang naik pangkat menjadi guru kriya lazimnya harus mendapat persetujuan dari seluruh guru kriya dalam gilda, harus menyumbangkan sejumlah dana serta harta lain (seringkali ditiadakan jika yang bersangkutan adalah anak anggota gilda), dan harus sudah menghasilkan sebuah "mahakarya" yang menunjukkan kepiawaiannya. Mahakarya yang dihasilkan calon guru kriya seringkali disimpan oleh gilda.[22]

Pada Abad Pertengahan, gilda dibentuk dengan piagam, surat paten, atau surat-surat kuasa sejenisnya, yang diterbitkan oleh kota atau penguasa, dan biasanya memonopoli bidang usaha yang ditekuninya di kota tempatnya beroperasi. Para pengrajin dilarang oleh undang-undang untuk menjalankan usaha apa saja jika tidak menjadi anggota sebuah gilda, dan hanya para guru kriya yang dibenarkan menjadi anggota sebuah gilda. Sebelum hak-hak istimewa ini diatur dengan undang-undang, kelompok-kelompok pengrajin hanya disebut 'perhimpunan pengrajin'.

Pemerintah kota dapat saja mengutus wakilnya untuk menghadiri pertemuan-pertemuan gilda, dan dengan demikian dapat mengendalikan kegiatan-kegiatan dalam bidang usaha yang bersangkutan. Kebijakan semacam ini sangat penting, karena kota-kota seringkali mengandalkan nama baiknya untuk mengekspor berbagai jenis barang, yang bukan saja menjadi penentu nama baik gilda, melainkan juga nama baik kota. Kendali atas sejumlah lokasi fisik penghasil barang-barang ekspor terkenal, misalnya tuak anggur dari daerah Champagne dan Bordeaux di Prancis, gerabah berglazur timah dari beberapa kota di Holandia, renda dari Chantilly, dan lain-lain membantu mengukuhkan posisi sebuah kota dalam kancah perniagaan global. Kendali atas lokasi fisik semacam ini adalah cikal bakal dari merek dagang Zaman Modern.

Di banyak kota di negara Jerman dan Italia, gilda-gilda yang lebih kuat seringkali memiliki pengaruh politik yang cukup besar, dan adakalanya mencoba mengendalikan pemerintah kota. Pada abad ke-14, keadaan semacam ini seringkali menyulut aksi perlawan berdarah, manakala gilda-gilda membubarkan dewan-dewan kota dan menyandera kaum bangsawan dalam rangka mendongkrak pengaruh mereka. Pada abad ke-14, orang Wendi (warga keturunan Slav) di kawasan timur laut Jerman, tidak diizinkan menjadi anggota beberapa gilda tertentu.[23] Menurut Wilhelm Raabe, "sampai dengan abad ke-18, tidak ada gilda di Jerman yang menerima orang Wendi menjadi anggotanya."[24]

Kejatuhan gildaSunting

Berkas:Tinguild.jpg
Contoh salah satu ruang rapat gilda Inggris ca. 1820

Sebagaimana yang ditunjukkan oleh Sheilagh Ogilvie (2004), keberadaan gilda berdampak buruk terhadap mutu, keterampilan, dan inovasi.

Akibat dari industrialisasi dan modernisasi dunia usaha dan industri, serta bangkitnya negara-negara bangsa berkekuatan besar yang dapat secara langsung melindungi hak paten dan hak cipta — yang seringkali menyingkap kiat-kiat usaha — kekuasaan gilda-gilda pun akhirnya meredup. Selepas Revolusi Prancis, gilda-gilda bertumbangan di sebagian besar negara Eropa sepanjang abad ke-19, karena sistem gilda ditiadakan dan diganti dengan undang-undang perdagangan bebas. Kala itu, banyak mantan pekerja di bidang kerajinan terpaksa mencari pekerjaan di bidang industri manufaktur yang sedang tumbuh. Industri manufaktur tidak menggunakan teknik-teknik yang dirahasiakan secara ketat, tetapi menggunakan metode-metode terbakukan yang dikendalikan oleh badan-badan usaha.

Pengaruh gildaSunting

Gilda kadang-kadang disebut sebagai cikal bakal serikat buruh modern. Meskipun demikian, gilda juga dapat dilihat sebagai sekelompok pengrajin ahli yang berwiraswasta dengan kepemilikan dan kendali atas bahan baku dan sarana kerja yang mereka perlukan untuk menghasilkan barang-barang buatan mereka. Gilda lebih mirip dengan kartel daripada dengan serikat buruh (Olson 1982). Meskipun demikian, organisasi-organisasi tukang keliling, yang ilegal kala itu,[25] mungkin saja merupakan bentuk organisasi yang telah mempengaruhi pembentukan serikat buruh.

Hak istimewa sebuah gilda untuk membuat barang-barang tertentu atau untuk menyediakan jasa-jasa tertentu sesungguhnya serupa dalam semangat dan sifatnya dengan sistem-sistem paten perdana yang muncul di Inggris pada 1624. Sistem-sistem ini turut berperan dalam mengakhiri dominasi gilda-gilda, manakala metode-metode kiat usaha diungguli oleh firma-firma modern yang menyingkap teknik-teknik mereka secara langsung, dan mengandalkan bantuan negara untuk mengukuhkan hak monopoli mereka yang sah.

Sejumlah tradisi gilda masih tersisa dalam segelintir bidang kriya, teristimewa di kalangan para tukang sepatu dan tukang cukur di Eropa. Sejumlah tradisi ritual gilda-gilda terlestarikan dalam organisasi-organisasi tarekat semisal Freemason yang konon berasal dari gilda tukang batu, dan Oddfellows yang konon berasal dari berbagai gilda kecil. Meskipun demikian, tradisi-tradisi ini tidak memiliki arti yang sangat penting secara ekonomi, tetapi hanya merupakan pengingat akan tanggung jawab sejumlah bidang usaha terhadap masyarakat.

Hukum persaingan usaha pada Zaman Modern boleh dikata diturunkan melalui satu dan lain cara dari statuta-statuta perdana yang digunakan untuk menghapuskan gilda-gilda di Eropa.

Konsekuensi ekonomiSunting

Konsekuensi-konsekuensi ekonomi dari keberadaan gilda-gilda telah menimbulkan sejumlah perdebatan sengit di kalangan sejarawan ekonomi. Di satu pihak, para ahli berpendapat bahwa karena gilda-gilda saudagar sudah bertahan melewati kurun waktu yang panjang maka sudah tentu gilda-gilda ini adalah lembaga-lembaga yang efisien (sebab lembaga-lembaga yang tidak efisien pasti akan bubar dengan sendirinya). Di lain pihak, ada pula yang mengatakan bahwa gilda-gilda ini bertahan bukan karena menguntungkan seluruh perekonomian melainkan karena menguntungkan para pemiliknya, yang berlindung di balik kekuatan politik. Ogilvie (2011) berpendapat bahwa mereka meregulasi kegiatan usaha bagi keuntungan diri mereka sendiri, di mana ada monopoli, distorsi pasar, harga-harga yang tetap, dan pembatasan masuk menjadi anggota gilda.[21] Menurut Ogilvie (2008), kewajiban magang dalam waktu lama yang diberlakukan gilda-gilda tidaklah penting bagi seseorang untuk menjadi mahir, dan sikap konservatif mereka menurunkan tingkat inovasi serta membuat masyarakat menjadi lebih miskin.Ia mengemukakan bahwa tujuan utama mereka adalah buru rente, yakni untuk mengalihkan uang kepada para anggotanya dengan mengorbankan keseluruhan perekonomian.[26]

Dalam buku mereka (2008), Epstein dan Prak menyanggah kesimpulan Ogilvie.[27] Epstein secara khusus berpendapat bahwa gilda-gilda lebih merupakan lembaga-lembaga berbagi biaya (cost sharing) daripada lembaga-lembaga pemburu rente.

Sejauh mana gilda-gilda mampu memonopoli pasar juga menjadi bahan perdebatan.[28]

Kaum perempuan dalam gildaSunting

Sebagian besar gilda Abad Pertengahan membatasi keikutsertaan kaum perempuan, dan biasanya cuma para janda serta anak-anak perempuan guru-guru kriya ternama yang diterima menjadi anggota. Sekalipun sudah menjadi anggota gilda, seorang perempuan tidak diberi jabatan dalam gilda. Perlu diketahui bahwa meskipun hal-hal seperti adalah praktik yang lazim di lingkungan gilda, ada pula gilda-gilda dan profesi-profesi yang membuka pintu selebar-lebarnya bagi kaum perempuan, dan sesungguhnya masyarakat Abad Pertengahan adalah masyarakat yang luwes dan senantiasa berubah-ubah, mengingat Abad Pertengahan mencakup kurun waktu ratusan tahun dan beraneka macam kebudayaan. Ada banyak catatan mengenai keikutsertaan kaum perempuan dalam gilda-gilda di Inggris dan Eropa daratan. Dalam kajiannya mengenai para saudagar sutra perempuan di London pada abad ke-15, Marian K. Dale mencermati bahwa kaum perempuan Abad Pertengahan dapat mewarisi properti, menjadi anggota gilda, mengelola tanah yasan, dan menjalankan usaha keluarga jika sudah menjanda. Livre des métiers de Paris (Buku Daftar Bidang Usaha di Paris) disusun oleh Étienne Boileau, Grand Prévôt de Paris (Pejabat Tinggi Paris) pada masa pemerintahan Raja Louis IX. Menurut buku ini, 5 dari 110 gilda di Paris dimonopoli oleh perempuan, dan hanya segelintir gilda yang secara sistematis tidak menerima perempuan menjadi anggota. Étienne Boileau mencatat bahwa sejumlah profesi juga terbuka bagi kaum perempuan, yakni juru bedah, peniup kaca, dan penempa baju halkah. Gilda-gilda dunia hiburan juga memiliki anggota perempuan dalam jumlah yang cukup signifikan. Jean, Adipati Berry, meninggalkan catatan-catatan pembayaran upah kepada para musikus perempuan dari Le Puy, Lyons, dan Paris.[29]

Kaum perempuan memang bermasalah bilamana menjadi anggota gilda-gilda tabib, bertolak belakang dengan keleluasaan relatif yang mereka nikmati di bidang niaga atau gilda-gilda pengrajin. Status mereka dalam gilda-gilda tabib seringkali dipertanyakan. Gereja Katolik, kepala-kepala monarki, dan pejabat-pejabat pemerintah kala itu mendukung gagasan yang mengatakan bahwa ilmu pengobatan sepatutnya dipraktikkan oleh kaum lelaki saja. Inkuisisi dan aksi perburuan tukang sihir dari masa ke masa diyakini sebagai salah satu penyebab sedikitnya kaum perempuan yang menjadi anggota gilda-gilda di bidang pengobatan.[29]

Gilda di EropaSunting

Di banyak negara Eropa, gilda-gilda kembali marak bermunculan sebagai organisasi-organisasi lokal bagi para pengrajin, terutama bagi para pengrajin di bidang keterampilan tradisional. Gilda-gilda juga difungsikan sebagai forum-forum bagi pengembangan kompetensi, dan seringkali merupakan cabang-cabang lokal dari suatu organisasi penyedia kerja nasional.

Di Kotapraja London, gilda-gilda kuno masih lestari dalam bentuk kongsi-kongsi berseragam, yang semuanya memiliki peran seremonial dalam berbagai adat istiadat Kotapraja London. Kongsi-kongsi berseragam Kotapraja London mempertahankan keterkaitan yang kuat dengan bidang-bidang usaha, jinis kriya, atau profesi mereka masing-masing. Beberapa di antaranya masih mempertahankan peran-perannya sebagai penyusun, pengawas, atau penegak peraturan. Anggota-anggota senior dari kongsi-kongsi berseragam Kotapraja London (bahasa Inggris: liveryman, orang berseragam) memilih para Sheriff dan mempertimbangkan calon-calon yang layak menduduki jabatan Lord Mayor London. Gilda-gilda juga masih lestari di kota-kota lain di Britania Raya, antara lain di Preston, Lancashire, karena Gilda Saudagar Preston masih menerima keturunan Burgess (pejabat kotapraja atau wakil borough dalam Majelis Rakyat Jelata Kerajaan Inggris) menjadi anggota. Kerajaan Britania Raya memiliki lebih dari 300 gilda yang masih lestari dan berkembang, sudah termasuk kongsi-kongsi berseragam Kotapraja London.

Pada 1878, kongsi-kongsi berseragam Kotapraja London membentuk Institut Kota dan Gilda-Gilda London yang menjadi cikal bakal dari sekolah teknik (sampai sekarang masih di sebut kolese Kota dan Gilda) di Imperial College London. Tujuan pendirian Institut Kota dan Gilda-Gilda London adalah memajukan pendidikan teknik. Per 2013, Institut Kota dan Gilda-Gilda London beroperasi sebagai badan penguji dan pemberi akreditasi untuk kualifikasi-kualifikasi vokasi, manajerial, dan teknik, mulai dari tingkat pemula dalam keahlian kriya dan niaga sampai ke tingkat pascadoktoral.[30] Sekolah Kesenian Kota dan Gilda-Gilda London, yang merupakan sebuah organisasi tersendiri, juga menjalin hubungan yang rapat dengan kongsi-kongsi berseragam Kotapraja London, dan dilibatkan dalam pelatihan magister pekerja kriya di jurusan keterampilan ukir batu dan kayu, serta pelatihan para seniman di jurusan seni murni.

Di Jerman sudah tidak ada lagi Zünfte (atau Gilden - istilah yang digunakan berbeda-beda dari kota ke kota) maupun pengkhususan suatu usaha kriya tertentu bagi perusahaan tertentu yang memiliki hak istimewa. Meskipun demikian, dengan menggunakan salah satu dari nama-nama lamanya yang jarang dipakai, yakni Innungen, gilda-gilda masih tetap lestari sebagai klub-klub privat dengan keanggotan terbatas bagi para pelaku usaha dari bidang usaha tertentu atau kegiatan tertentu. Klub-klub ini adalah badan usaha menurut hukum publik, meskipun keanggotaannya bersifat sukarela; presiden klub lazimnya berasal dari jenjang guru kriya dan disebut Obermeister (Guru Kepala). Para tukang keliling membentuk badan-badan perwakilan sendiri yang dipimpin oleh seorang presiden bergelar Altgesell (Tukang Ketua).

Ada pula "Kamar Kriya" (Handwerkskammern), yang tidak begitu mirip dengan gilda-gilda kuno karena kamar-kamar kriya ini mewadahi segala macam kriya yang ada di satu daerah tertentu, bukan untuk mewadahi satu macam kriya saja. Keanggotaan kamar kriya bersifat wajib, dan dibentuk sebagai tata kelola mandiri di bidang kriya.

Gilda di Amerika UtaraSunting

Di Amerika Serikat, gilda-gilda terbentuk dalam sejumlah bidang usaha.

Dalam industri perfilman dan pertelevisian, menjadi anggota gilda sudah menjadi prasyarat umum untuk mendapatkan pekerjaan-pekerjaan tertentu dalam produksi-produksi film berskala besar. Gilda Pemeran Film (bahasa Inggris: Screen Actors Guild), Gilda Sutradara Amerika (bahasa Inggris: Directors Guild of America), Gilda Penulis Naskah Amerika Bagian Timur (bahasa Inggris: Writers Guild of America, East), Gilda Penulis Amerika Bagian Barat (bahasa Inggris: Writers Guild of America West), dan berbagai gilda profesi khusus sanggup menerapkan kontrol yang kuat dalam dunia perfilman Amerika Serikat sebagai hasil dari pemberlakuan sitem hak-hak properti-intelektual secara ketat dan adanya kenyataan sejarah bahwa para makelar kekuasaan juga menjadi anggota gilda (misalnya pendiri DreamWorks, Steven Spielberg, adalah salah seorang anggota Gilda Sutradara Amerika). Gilda-gilda ini berusaha mempertahankan ikatan kontrak antara mereka dengan perusahaan-perusahaan produksi demi menjamin ketersediaan kerja bagi anggota-anggota tertentu dalam setiap produksi film atau acara televisi, dan demi menjamin agar anggota-anggotanya mendapatkan upah minimum menurut standar gilda, berikut jaminan-jaminan ketenagakerjaan lainnya. Gilda-gilda ini menetapkan tolok ukur yang tinggi dalam penerimaan anggota, dan menolak para pemeran film profesional, penulis naskah profesional, dan seterusnya, yang tidak taat pada aturan-aturan persaingan yang ketat dalam industri pembuatan film dan acara televisi di Amerika.

Gilda Surat Kabar adalah serikat pekerja bagi para wartawan dan pekerja persuratkabaran lainnya, dengan lebih dari 30.000 anggota di Amerika Utara.

Usaha makelar lahan yasan merupakan salah satu contoh sistem gilda Amerika modern. Ciri-ciri khas gilda yang dijumpai dalam bidang usaha makelar lahan yasan meliputi patokan harga (6% dari harga rumah), eratnya hubungan antarpraktisi, diwadahi sebuah organisasi regulator mandiri, memiliki indetitas budaya yang kuat, sedikit variasi harga dengan perbedaan kualitas, dan penerapan metode-metode tradisional oleh seluruh praktisi.

Perhimpunan-perhimpunan di bidang kedokteran yang sebanding dengan gilda adalah ikatan dokter di tiap-tiap negara bagian, Ikatan Dokter Amerika (bahasa Inggris: American Medical Association), dan Ikatan Dokter Gigi Amerika (bahasa Inggris: American Dental Association). Izin praktik di kebanyakan negara bagian mewajibkan pelatihan khusus, ujian-ujian, dan magang dengan upah rendah selama bertahun-tahun (internsip maupun residen) di bawah kondisi kerja yang berat. Dokter-dokter bertaraf internasional maupun dokter-dokter dari negara bagian lain sekalipun tidak dibenarkan membuka praktik tanpa persetujuan gilda kedokteran setempat (ikatan dokter). Juru rawat dan dokter memiliki gilda-gilda tersendiri. Seorang dokter tidak dapat bekerja sebagai asisten dokter kecuali pernah menjalani pelatihan, ujian, dan magang sebagai asisten dokter.

Gilda di AustraliaSunting

Di Australia terdapat Gilda Farmasi Australia (perhimpunan tertinggi di bidang industri farmasi) dan Gilda Pekerja Film Komersial (perhimpunan para pekerja film iklan, film pendek, dan film cerita). Di ranah industri pembuat perhiasan di Australia, turut berkecimpung pula anggota-anggota Gilda Pandai Emas dan Perak Australia yang menjalankan usahanya di daerah masing-masing.

Gilda di dunia mayaSunting

Kelompok-kelompok yang disebut gilda juga terdapat dalam komunitas-komunitas daring seperti permainan daring multipemain masif.

Gilda-gilda ini biasanya beranggotakan orang-orang yang memiliki minat dan tujuan yang sama. Meskipun dapat dibentuk di sekitar kegiatan produksi dalam permainan, gilda-gilda ini tidak mengendalikan produksi. Ukuran gilda-gilda dalam permainan-permainan daring berkisar dari kelompok-kelompok kecil yang beranggotakan segelitir pemain sampai gilda-gilda raksasa yang beranggotakan pemain-pemain dari seluruh dunia.

Lihat pulaSunting

RujukanSunting

  1. ^ Rashdall, Hastings (1895). The Universities of Europe in the Middle Ages: Salerno. Bologna. Paris [Universitas-Universitas Eropa pada Abad Pertengahan: Salerno. Bologna. Paris]. Clarendon Press. hlm. 150. 
  2. ^ Epstein S.A, Wage Labor and Guilds in Medieval Europe, University of North Carolina Press, 1991, hlmn. 10-49
  3. ^ Jovinelly, Joann; Netelkos, Jason (2006). The Crafts And Culture of a Medieval Guild. Rosen. hlm. 8. 
  4. ^ "Guild". Britannica. 
  5. ^ Starr, Mark (1919). A worker looks at history: being outlines of industrial history specially written for Labour College-Plebs classes. Plebs League. 
  6. ^ Sczesny, Anke (2012). "Zuenfte". Bayerische Staatsbibliothek. Diakses tanggal 3 Maret 2018. 
  7. ^ "History and heritage". City of London. Diarsipkan dari versi asli tanggal 18 May 2013. Diakses tanggal 25 Juni 2015. 
  8. ^ "Archived copy" [Salinan arsip] (PDF). Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2013-07-19. Diakses tanggal 2013-03-12. 
  9. ^ "Freedom of the City" [Kemerdekaan Kota]. City of London. Diarsipkan dari versi asli tanggal 19 Mei 2013. Diakses tanggal 25 Juni 2015. 
  10. ^ Rouche 1992, hlm. 432
  11. ^ Rouche 1992, hlm. 431ff
  12. ^ Rutenburg, Viktor Ivanovich (1988). Feudal society and its culture [Masyarakat feodal dan budayanya]. Progress. hlm. 30. ISBN 5-01-000528-X. 
  13. ^ "Catholic Encyclopedia: Guilds". Newadvent.org. 1910-06-01. Diakses tanggal 2012-01-10. 
  14. ^ Diccionario geográfico universal, por una sociedad de literatos, S.B.M.F.C.L.D. 1834. hlm. 730–. 
  15. ^ "Alphabetical list". Cityoflondon.gov.uk. 2011-08-08. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2012-04-18. Diakses tanggal 2012-01-10. 
  16. ^ Shaxson, Nicholas (2012). Treasure Islands: Tax Havens and the Men who Stole the World. Vintage. ISBN 978-0-09-954172-1. 
  17. ^ Centre international de synthese (1971). L'Encyclopedie et les encyclopedistes. B. Franklin. hlm. 366. ISBN 0-8337-1157-1. 
  18. ^ Braudel 1992
  19. ^ Braudel 1992, hlm. 316
  20. ^ Magill, Frank N. (1972). Great Events from History: Ancient and Medieval Series: 951–1500. 3. Salem. hlm. 1303–7. 
  21. ^ a b Ogilvie 2011
  22. ^ Prak 2006
  23. ^ "The Situation with the Sorbs in the Past and Present" (PDF). Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2011-07-13. 
  24. ^ Raabe, hlm. 189.
  25. ^ Bakliwal, V.K. (March 18, 2011). Production and Operation Management. Pinnacle Technology, 2011. ISBN 9788189472733. 
  26. ^ Ogilvie, Sheilagh C. (February 2008). "Rehabilitating the Guilds: A Reply". Economic History Review. 61 (1): 175–182. doi:10.1111/j.1468-0289.2007.00417.x. 
  27. ^ Epstein & Prak 2008
  28. ^ Richardson G. (June 2001). "A Tale of Two Theories: Monopolies and Craft Guilds in Medieval England and Modern Imagination". Journal of the History of Economic Thought. 23 (2): 217–242. doi:10.1080/10427710120049237. 
  29. ^ a b "GUILDS, WOMEN IN" in "Women in the Middle Ages", Greenwood Press 2004, hlmn. 384-385
  30. ^ "What We Do - vocational qualifications | City & Guilds". www.cityandguilds.com. Diakses tanggal 2016-10-11. 

SumberSunting

Bacaan lebih lanjutSunting

Pranala luarSunting