Buka menu utama

Bahasa Palembang

bahasa di Indonesia
(Dialihkan dari Bahasa musi)

Bahasa Palembang, bahasa Melayu Palembang atau bahasa Musi adalah sebuah bahasa atau kelompok dialek yang dipertuturkan oleh masyarakat di sebagian wilayah Sumatra Selatan dengan penutur asli berjumlah sekitar 3,1 juta orang. Sebagai bagian dari rumpun bahasa Melayu, bahasa ini berhubungan dekat dengan bahasa Jambi, bahasa Minangkabau, bahasa Banjar, serta bahasa Indonesia. Di antara beragam bahasa yang dipertuturkan di Sumatra Selatan, bahasa Palembang (dialek kota) juga berfungsi sebagai bahasa pemersatu atau lingua franca.[1] Bahasa Palembang merupakan bahasa aglutinatif seperti banyak bahasa Austonesia yang lain.

Bahasa Palembang
Dituturkan diIndonesia
WilayahSumatra Selatan, timur laut Lampung, sebagian kecil di Jambi dan Bengkulu
Penutur bahasa
3.105.000  (2000)[1]
Kode bahasa
ISO 639-3mui

SejarahSunting

Sebagaimana bahasa-bahasa Melayu lainnya, bahasa Palembang merupakan keturunan dari bahasa Proto-Malayik yang diperkirakan berasal dari Kalimantan bagian barat. Menurut Adelaar (2004), perkembangan Melayu sebagai etnis tersendiri mungkin saja dipengaruhi oleh persentuhan dengan budaya India, setelah migrasi penutur Proto-Malayik ke Sumatra bagian selatan. Kerajaan Sriwijaya yang berpusat di Palembang pada abad ke-7 merupakan salah satu wujud terawal negara bangsa Melayu, jika bukan yang pertama.[2] Prasasti Kedukan Bukit yang ditemukan di Palembang merupakan bukti tertulis pertama dari rumpun bahasa Malayik yang dipertuturkan di daerah tersebut. Meski begitu, ahli bahasa masih memperdebatkan apakah benar ragam bahasa yang digunakan di prasasti tersebut merupakan leluhur langsung dari bahasa-bahasa Melayu (termasuk Palembang) modern.[3]

Selain dari prasasti-prasasti kuno, sangat sedikit sumber tertulis lainnya yang bisa jadi acuan untuk perkembangan bahasa Palembang. Satu sumber tertulis adalah Kitab Undang-Undang Simbur Cahaya, yang penyusunannya dianggap dilakukan oleh Ratu Sinuhun, istri dari penguasa Palembang Pangeran Sido ing Kenayan pada sekitar abad ke-17. Kitab ini ditulis dalam bahasa Melayu Klasik dengan sedikit pengaruh bahasa Jawa, mengingat keluarga bangsawan Palembang berasal dari Jawa.[4] Pengaruh Jawa di Palembang dimulai setidaknya sejak abad ke-14.

William Marsden mencatat dua ragam bahasa berbeda yang digunakan di Palembang pada abad ke-18. Bahasa di keraton adalah dialek Jawa halus dengan campuran kosakata asing, sementara bahasa sehari-hari penduduk Palembang adalah dialek Melayu, dengan ciri utama pengucapan vokal 'a' yang diganti menjadi 'o' di posisi akhir kata.[5]

Menurut McDonnell (2016), bahasa Palembang adalah sebuah koine (bahasa umum) yang lahir di Palembang dan wilayah sekitarnya karena kontak antaretnis dengan penduduk asli yang bersukubangsa Melayu.[6]

FonologiSunting

Dunggio (1981) mendata 26 fonem dalam bahasa Palembang, dengan rincian 20 bunyi konsonan dan 6 bunyi vokal. Namun studi lanjutan dari Aliana (1987) menyatakan bahwa hanya ada 25 fonem dalam bahasa Palembang, tidak termasuk bunyi konsonan [z] yang dianggap sebagai alofon dari fonem /s/ atau /d͡ʒ/.[7][8]

VokalSunting

depan tengah belakang
tinggi i u
medial e ə o
rendah a

KonsonanSunting

bilabial alveolar postalv./palatal velar glottal
sengau m n ɲ ŋ
letup/gesek nirsuara p t t͡ʃ k ʔ
bersuara b d d͡ʒ g
desis nirsuara s h
bersuara (z) ɣ~ʀ
hampiran semivokal w j
lateral l

Bahasa Palembang belum memiliki ejaan baku. Sistem ejaan yang dipakai di sini mengacu pada ejaan modifikasi EYD yang digunakan oleh Aliana (1987) dan Yasiroh (2013). Seluruh fonem di atas ditulis mengikut simbolnya, kecuali beberapa fonem berikut:[9]

  • /e/ ditulis ⟨é⟩
  • /ə/ ditulis ⟨e⟩
  • /ɲ/ ditulis ⟨ny⟩ sebelum bunyi vokal, ⟨n⟩ sebelum ⟨c⟩ dan ⟨j⟩
  • /ŋ/ ditulis ⟨ng⟩
  • /ʔ/ ditulis ⟨q⟩
  • /t͡ʃ/ ditulis ⟨c⟩
  • /d͡ʒ/ ditulis ⟨j⟩
  • /j/ ditulis ⟨y⟩
  • /ɣ/ ditulis ⟨gh⟩

SosiolinguistikSunting

Bahasa atau dialek?Sunting

Identifikasi bahasa Palembang sebagai bahasa yang terpisah dari bahasa Melayu merupakan hal yang problematis, karena secara tata bahasa, bahasa Palembang cukup dekat dengan bahasa Melayu Baku atau pun bahasa Indonesia. Dalam kajian linguistik bahasa-bahasa Malayik, istilah isolect sering digunakan untuk menghindari menyebut bahasa atau dialek secara spesifik.[butuh rujukan]

TingkatanSunting

Bahasa Palembang mempunyai dua tingkatan, yaitu Baso Pelembang Alus atau bebaso dan Baso Pelembang Sari-sari (bahasa sehari-hari). Baso Pelembang Alus dipergunakan dalam percakapan dengan pemuka masyarakat, orang-orang tua, atau orang-orang yang dihormati, terutama dalam upacara adat. Bahasa ini mempunyai kemiripan dengan bahasa Jawa karena adanya hubungan Kerajaan Sriwijaya dan Kesultanan Palembang Darussalam dengan kerajaan di Pulau Jawa. Itulah sebabnya perbendaharaan kata Baso Pelembang Alus banyak persamaannya dengan perbendaharaan kata dalam bahasa Jawa.

Sementara itu, bahasa sehari-hari dipergunakan oleh orang Palembang dan merupakan salah satu dialek bahasa Melayu. Dalam praktiknya sehari-hari, orang Palembang biasanya mencampurkan bahasa ini dan bahasa Indonesia (pemilihan kata berdasarkan kondisi dan koherensi) sehingga penggunaan bahasa Palembang menjadi suatu seni tersendiri.

Bahasa Palembang memiliki kemiripan dengan bahasa daerah di provinsi sekitarnya, seperti Jambi, Bengkulu bahkan provinsi di Jawa (dengan intonasi berbeda). Di Jambi dan Bengkulu, akhiran 'a' pada kosakata bahasa Indonesia biasanya diubah menjadi 'o'.

KosakataSunting

Bahasa Palembang memiliki kemiripan dengan bahasa daerah provinsi di sekitarnya, seperti Jambi dan Bengkulu. Di kedua daerah tersebut, akhiran 'a' pada kosakata bahasa Indonesia yang diubah menjadi 'o' banyak ditemukan. Akan tetapi, banyak juga bahasa Palembang asli yang tidak digunakan di Provinsi Jambi maupun Bengkulu. Logat yang dimiliki mereka pun berbeda. Kemiripan dengan bahasa Jawa ada kosakata seperti: iyo, biso, wong, ulo, rai, prei, sepur, melok, ladeng, iwak, gedek, dulur, dewe'an, bae, balek, banyu, awan, awak, iwak, balen, kelaso, kacek, dan jabo. Kemiripan dengan bahasa Banjar ada seperti banyu, awak, iwak, ladeng, dulur, umep (humap= gerah), enjuk (unjuk), jingok (jinguk), dan gancang.

Menurut penelitian leksikostatistik yang dilakukan oleh Uri Tadmor (2001), dari 200 kosakata dasar bahasa Palembang, 102 (51%) di antaranya bersesuaian dengan bahasa Melayu, 49 (24.5%) dengan bahasa Jawa, 32 (16%) dengan keduanya, dan 17 (8.5%) dengan lainnya. Penelitian ini menggunakan daftar 200 kosakata dasar Blust, yang sering digunakan dalam linguistik perbandingan bahasa-bahasa Austronesia, alih-alih daftar kosakata Swadesh yang ditolak keabsahannya oleh Tadmor. Dalam penelitian yang sama juga ditemukan kecenderungan de-Javanisasi bahasa Palembang bagi penutur muda.[10]

ReferensiSunting

  1. ^ a b Bahasa Palembang di Ethnologue (ed. ke-18, 2015)
  2. ^ Adelaar, K.A., "Where does Malay come from? Twenty years of discussions about homeland, migrations and classifications". Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, 160 (2004), No. 1, hlmn. 1-30
  3. ^ Adelaar 1992, hlm. 5-6.
  4. ^ Hanifah 1999, hlm. 1-38.
  5. ^ Marsden 1811, hlm. 562.
  6. ^ McDonnell 2016, hlm. 35.
  7. ^ Dunggio 1983, hlm. 7-10.
  8. ^ Aliana 1987, hlm. 14.
  9. ^ Aliana 1987, hlm. 11-12.
  10. ^ Tadmor, Uri. "Language Contact and Historical Reconstruction: The Case of Palembang Malay." Handout. 5th International Symposium on Malay/Indonesian Linguistics. Leipzig, 16-17 June 2001.

Daftar pustakaSunting

  • Adelaar, K. Alexander (1992). Proto-Malayic: The reconstruction of its phonology and parts of its lexicon and morphology. Dept. of Linguistics, Research School of Pacific Studies, the Australian National University. ISBN 9780858834088. 
  • Hanifah, Abu (1999). Undang-Undang Simbur Cahaya. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. ISBN 9794593869. 
  • Marsden, William (1811). History of Sumatra, Containing an Account of the Government (etc.). London: Longman. 
  • Dunggio, P.D. (1983). Struktur bahasa Melayu Palembang. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 
  • Aliana, Zainul Arifin (1987). Morfologi dan sintaksis bahasa Melayu Palembang. Jakarta: Pursat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 
  • McDonnell, Bradley James (2016). Symmetrical Voice Constructions in Besemah: A Usage-based Approach. Santa Barbara: University of California Santa Barbara. 

Pranala luarSunting