Buka menu utama

Ave Maryam (awalnya berjudul Salt is Leaving the Sea) adalah film drama Indonesia tahun 2019 yang disutradarai, diproduksi, dan ditulis oleh Ertanto Robby Soediskam. Film ini dibintangi Maudy Koesnaedi, Chicco Jerikho, Tutie Kirana, Olga Lydia, Joko Anwar, dan Nathania Angela. Film ini menyoroti hubungan terlarang antara suster dan pastor.

Ave Maryam
PenulisErtanto Robby Soediskam
Pemeran
MusikRooftop Sound
SinematografiIcal Tanjung
PenyuntingWawan I. Wibowo
Perusahaan
produksi
Summerland
Tanggal rilis
Durasi
73 menit (17+)
74 menit (21+)
NegaraBendera Indonesia Indonesia
BahasaIndonesia

Film ini pertama kali ditayangkan di Festival Film Internasional Hanoi 2018, kemudian Festival Film Asia Hong Kong 2018, dan Festival Film Internasional Capetown 2018. Di Indonesia, film ini pertama kali ditayangkan di Jogja-NETPAC Asian Film Festival dan baru ditayangkan di bioskop pada 11 April 2019. Film ini hanya berhasil menjaring 80.000 penonton dari 30 bioskop. Terdapat dua versi yang lulus sensor, yaitu versi penayangan bioskop berklasifikasi 17+ dengan pemotongan dan versi penayangan festival berklasifikasi 21+ utuh. Walaupun sempat tersiar kabar durasi film ini adalah 85 menit, tetapi Ertanto membantahnya. Film ini mendapatkan tanggapan yang cukup baik di kalangan pengulas film; beberapa di antaranya menyoroti tema Katolik yang diangkat dalam film ini.

Daftar isi

AlurSunting

Pada 1998, seorang wanita berusia 40 tahun yang terlahir dari keluarga beragama Islam, Maryam (Maudy Koesnaedi) awalnya bekerja sebagai suster di panti jompo. Di sana, ia biasa berinteraksi dengan orang-orang dari pelbagai agama. Suatu hari, ia harus pindah ke Girisonta, Ambarawa, Semarang, Jawa Tengah. Di sana, Maryam bekerja di gereja selepas berjumpa dengan tujuh biarawati tua dan memutuskan untuk merawat mereka di rumah biarawati. Sehari-hari Maryam membersihkan asrama, memandikan biarawati yang sudah tua, dan menyiapkan makanan. Di tengah mengurus para biarawati tua, Maryam mendapat kabar bahwa gereja akan dipimpin oleh seorang pastor baru berusia 35 tahun bernama Yosef (Chicco Jericho), anak angkat suster senior Monic (Tutie Kirana). Pertemuannya dengan Yosef sangat berkesan, sampai-sampai Maryam memulai hubungan lebih mendalam dengan Yosef meskipun dia tahu itu salah. Hubungannya dengan Yosef membuatnya kesulitan mengurus para biarawati. Bahkan, Maryam dan Yosef bersetubuh dan saling berlari-larian dengan keadaan telanjang bulat di pantai.[cttn. 1] Ini menyebabkan Maryam jadi sering pulang telat dan mengabaikan tugas-tugasnya. Tindakan yang dilakukannya membawanya ke dalam pertanyaan mengenai loyalitas dan komitmennya dalam melayani. Akhirnya, Maryam memutuskan berhenti mengabdi kepada gereja, sehingga meninggalkan kawan-kawannya sesama biarawati termasuk biarawati tua yang diurusnya. Saat itu, Monic berusaha menghiburnya. Maryam segera meninggalkan tempat tinggal biarawati dengan membawa kopernya.

PemeranSunting

ProduksiSunting

 
Joko Anwar berperan sebagai Romo Martin dalam film ini.

Film ini awalnya berjudul Salt is Leaving the Sea.[1] Sebelum memulai produksi, pihak pembuat terlebih dahulu menyurati seluruh pihak terkait termasuk keuskupan di Semarang karena sadar tema film yang diangkat adalah hal yang dianggap sensitif di kalangan masyarakat.[2] Setelah mendapat izin, pengambilan gambar utama dilakukan selama sembilan hari di Semarang dan Yogyakarta pada 26 November 2016. Sutradara Ertanto Robby Soediskam menuturkan tim produksi maupun para pemeran bekerja dengan sukarela tanpa dibayar sepeser pun. Ia menyebut alasannya adalah memiliki kesamaan visi dan misi untuk memberi warna baru di dunia perfilman Indonesia. Ertanto menambahkan perihal konsumsi bagi para pihak yang terlibat disediakan oleh para suster yang mengabdi di sana. Ertanto menegaskan tidak akan ada sekuel untuk film ini.[3] Poster film diungkap pada akhir September 2018,[4] sementara iklan film diunggah sehari kemudian.[5]

Dalam proses produksi, awalnya Maudy Koesnaedi sempat menolak ikut berperan dalam Ave Maryam, tetapi Ertanto terus membujuknya sehingga ia sepakat dengan ajakan Ertanto.[6] Perannya sebagai Maryam membuat film ini menjadi film pertama dengan pemeran utama yang diperankan Maudy.[7] Pemilihan Maudy sendiri tidak ada kaitannya dengan agama,[8] bahkan Ertanto sendiri mengaku baru menyadari Maudy juga seagama dengannya, Islam, justru setelah produksi film selesai. Komentar yang mengitari iklan film yang mempertanyakan agama yang dianut Maudy juga menjadi penyebab Ertanto baru menyadari agama Maudy.[9] Maudy menyebut perannya sebagai Suster Maryam semakin menegaskan citranya sebagai Zaenab yang diperankannya di Si Doel The Movie.[10]

Tema dan gayaSunting

Cecylia Rura dari Medcom menilai tema agama Katolik yang diangkat adalah gebrakan baru dari Ertanto dalam perfilman Indonesia. Ertanto dinilai resah dengan tema agama yang diangkat selama ini selalu bertemakan agama Islam. Keragaman juga menjadi hal yang turut diperhatikan Cecylia. Walaupun tema yang diangkat adalah agama Katolik, tetapi di antara jajaran pemeran, hanya Olga yang beraliran Katolik. Chicco adalah penganut aliran Protestan, sementara Ertanto dan Maudy sendiri justru beragama Islam. Karenanya, film ini dianggap tidak terlalu berpusat kepada tema agama Katolik itu sendiri, melainkan kisah cinta yang menjadi bahasa universal. Pelbagai latar belakang agama yang dianut dianggap sebagai dobrakan Ertanto lewat pertanyaan kecil yang seharusnya tidak terlontar di Indonesia dengan kemajemukan agama, suku, dan ras.[11] CNN Indonesia menyebut film ini memberikan warna baru di perfilman Indonesia karena perpanduan cinta terlarang dan agama yang diangkat dianggap jarang atau bahkan belum pernah diangkat di Indonesia. Pesan moral disampaikan dengan baik tanpa bermaksud menceramahi atau menggurui penonton. Selain itu, penggambaran Semarang juga dinilai semakin apik berkat sinematografer Ical Tanjung. Akhir film juga dinilai sengaja dibuat mengambang karena Robby ingin membuat penonton memberikan kisah akhir tersendiri untuk Maryam. Namun, pergulatan emosi yang dihadapi Maryam kurang digarap dengan maksimal dan latar belakang kehidupannya juga dinilai kurang tergali dengan baik.[12] Maria Cicilia yang menulis ulasan untuk Antara menyatakan Ave Maryam adalah film cinta, tetapi bukan percintaan biasa. Kisah cinta Maryam dan Yosef tidak digambarkan dengan mengumbar kemesraan atau kata-kata manis secara terang-terangan, melainkan dalam tatapan, senyuman dan tangis. Tidak banyak dialog yang terlintas dalam film ini, tetapi maknanya tersampaikan dengan jelas.[13] Menyoroti judul, Permata Adinda dari Jurnal Ruang menyebut judul film adalah perpaduan dari istilah yang sudah familiar di kalangan penganut Islam dan Kristen, sehingga membuatnya tidak lazim.[14]

Menyoroti watak, Aulia Adam yang menulis untuk Tirto menilai Maryam adalah seorang introver sejati, dilihat dari bicaranya yang irit dan lebih memilih merenung dan memendam perasannya. Kesehariannya menjalani hidup sebagai biarawati sehingga memilih selibat dan menjauhi hal-hal duniawi dinilai Aulia cocok dengan watar Maryam. Aulia menekankan kesunyian dan suasana sepi serta pakaian berwarna abu-abu dan putih yang digunakan sehari-harinya jauh dari kesan menarik yang kerap kali ditakrifkan oleh dunia ekstrover.[15] Bersama Aulia, Stanley Widianto dari The Jakarta Post juga menyoroti hobi Maryam yang senang membaca buku, salah satunya novel Madame Bovary karya pengarang Prancis Gustave Flaubert.[15][16]

Beberapa media juga menyoroti ucapan Monic pada adegan terakhir film. CNN Indonesia menyebut "Jika surga saja belum pasti untukku, buat apa nerakamu menjadi urusanku?".[12] Detik menyebut "Jika surga belum pasti untukku, untuk apa aku mengurusi nerakamu?".[17] Beritagar menyebut "Jika surga belum pasti untukku, buat apa aku mengurusi nerakamu?".[18] Medcom menyebut "Kalau surga belum pasti buat saya, buat apa saya mengurus nerakamu?".[19] Media Indonesia menyebut dengan lebih lengkap: "Aku mengerti betul perasaanmu. Menetapi kaul, atau mengikuti pada apa yang tak terlihat. Jika surga belum pasti untukku, mengapa aku harus mengurusi nerakamu?"[20]|group=cttn.}}

PenayanganSunting

Dengan masih menggunakan judul lama, film ini ditayangkan di Festival Film Internasional Hanoi 2018.[21] Film ini juga ditayangkan di Festival Film Asia Hong Kong 2018 dan Festival Film Internasional Capetown 2018.[22][23] Film ini berhasil menjadi pemenang kategori Penyuntingan Film Terbaik di Festival & Penghargaan Film Internasional Perbara ke-4 2019.[24]

Mengangkat tema cinta terlarang antara biarawati dan pastor, Ertanto mengatakan siap menghadapi segala kontroversi berkaitan dengan film karyanya.[2] Di Indonesia, Ave Maryam pertama kali ditayangkan di Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2018 pada 30 November 2018.[25] Film ini hanya ditayangkan di 30 bioskop Indonesia pada 11 April 2019 bersamaan dengan film lainnya seperti Bumi Itu Bulat dan Sunyi,[26] diundurkan dari jadwal semula yaitu Februari 2019.[27] Hingga Mei 2019 film ini menjaring sekitar 80.000 orang,[28] dengan rincian sekitar 42.044 orang sudah menonton film ini hingga 14 April dan 77.000 orang hingga 24 April.[29][30][cttn. 2]

Penyensoran dan durasiSunting

Terdapat dua versi yang diklasifikasikan Lembaga Sensor Film (LSF), yaitu versi dipotong yang diklasifikasikan 17+ pada 1 Maret 2019 dan versi utuh yang diklasifikasikan 21+ pada 22 Januari 2019;[32] hanya versi dipotong yang selanjutnya ditayangkan di bioskop, sementara versi utuh ditayangkan di Festival Film Plaza Indonesia 2019 pada 14 Februari 2019.[33] Dilaporkan bahwa aslinya durasi film adalah 85 menit, tetapi Ertanto membantahnya dan mengatakan bahwa durasi film tetap 74 menit.[34]

CatatanSunting

  1. ^ Adegan ini hanya tersedia di versi utuh.
  2. ^ Sebagai perbandingan, Dilan 1991 dinobatkan sebagai film terlaris 2019 dengan raihan 5.253.411 penonton.[31] Walau demikian, pencapaian Ave Maryam masih lebih baik jika dibandingkan dengan film festival lainnya di bulan yang sama seperti 27 Steps of May yang hanya berhasil menjaring 37.684 penonton (6 Mei 2019) dan Kucumbu Tubuh Indahku yang hanya berhasil menjaring 8.082 penonton (26 April 2019)

ReferensiSunting

  1. ^ Diananto, Wayan (16 Desember 2016). "Olga Lydia Terkejut Melihat Mesin Cuci Peninggalan Belanda". Tabloid Bintang. Diakses tanggal 10 Juni 2019. 
  2. ^ a b "Sutradara Film Ave Maryam Siap Hadapi Kontroversi". Viva. 5 Juni 2019. Diakses tanggal 14 Juni 2019. 
  3. ^ Rura, Cecylia (6 April 2019). "Produksi Film Ave Maryam Dilakukan secara Sukarela". Medcom. Diakses tanggal 11 Juni 2019. 
  4. ^ Novirdayani, Liza (27 September 2018). "Intip Penampilan Maudy Koesnaedi dalam Poster Terbaru Ave Maryam". Kincir. Diakses tanggal 27 Juni 2019. 
  5. ^ Novirdayani, Liza (28 September 2018). "Simak Cuplikan Terbaru Ave Maryam yang Menyentuh". Kincir. Diakses tanggal 27 Juni 2019. 
  6. ^ Purnomo, Sapto (5 April 2019). "Maudy Koesnaedi Sempat Menolak Main Ave Maryam". Liputan 6. Diakses tanggal 10 Juni 2019. 
  7. ^ Rura, Cecylia (5 April 2019). "Ave Maryam Film Pertama Maudy Koesnaedi sebagai Tokoh Utama". Medcom. Diakses tanggal 27 Juni 2019. 
  8. ^ "Jadi Biarawati di Film, Maudy Koesnaedi Berserah pada Tuhan". CNN Indonesia. 5 April 2019. Diakses tanggal 25 Juni 2019. 
  9. ^ Supriyanto (5 April 2019). "Sutradara Ave Maryam Baru Tahu Maudy Koesnady Muslim Setelah Syuting Selesai". Tabloid Bintang. Diakses tanggal 25 Juni 2019. 
  10. ^ Noersativa, Farah (24 Mei 2019). "Maudy Koesnaedi Senang Perankan Karakter Bukan Zaenab". Republika. Diakses tanggal 11 Juni 2019. 
  11. ^ "Romantisme Ertanto Robby Soediskam dalam Film Ave Maryam". Medcom. 14 April 2019. Diakses tanggal 14 Juni 2019. 
  12. ^ a b "Ulasan Film: 'Ave Maryam'". CNN Indonesia. 12 April 2019. Diakses tanggal 10 Juni 2019. 
  13. ^ Civilia, Maria (15 Februari 2019). Sari, Heppy Ratna, ed. ""Ave Maryam", kisah pergolakan batin biarawati". Antara. Diakses tanggal 27 Juni 2019. 
  14. ^ Adinda, Permata (2 Oktober 2018). "Trailer: Ave Maryam, Bukan Ave Maria". Ave Maryam. Diakses tanggal 27 Juni 2019. 
  15. ^ a b Adam, Aulia (14 April 2019). "Ave Maryam: Krisis Iman Biarawati dalam Pusaran Cinta Terlarang". Tirto. Diakses tanggal 12 Juni 2019. 
  16. ^ "'Ave Maryam': Of Lust and Guilt" [‘Ave Maryam’: Dari Nafsu dan Rasa Bersalah]. The Jakarta Post. 15 Februari 2019. Diakses tanggal 14 Juni 2019. 
  17. ^ Galikano, Silvia (12 April 2019). "Bukan Tabu, 'Ave Maryam' Adalah Kemuliaan". Detik. Diakses tanggal 12 Juni 2019. 
  18. ^ Sugiartoputri, Syarahsmanda (23 April 2019). "Ave Maryam, ketika seorang suster pertama kali merasakan jatuh cinta". Beritagar. Diakses tanggal 12 Juni 2019. 
  19. ^ Rura, Cecylia (11 April 2019). "Ulasan Film Ave Maryam". Medcom. Diakses tanggal 12 Juni 2019. 
  20. ^ Fathurrozal (17 Februari 2019). "Kaul Cinta Kasih Ave Maryam". Media Indonesia. Diakses tanggal 12 Juni 2019. 
  21. ^ "Salt is leaving the sea". Festival Film Internasional Hanoi. Diakses tanggal 27 Juni 2019. 
  22. ^ "Ave Maryam". Festival Film Asia Hong Kong. Diakses tanggal 27 Juni 2019. 
  23. ^ "Ave Maryam". Festival Film Internasional Capetown. Diakses tanggal 27 Juni 2019. 
  24. ^ "4th Asean International Film Festival & Awards – Winners 2019" [Festival & Penghargaan Film Internasional Perbara ke-4 – Pemenang 2019]. Festival & Penghargaan Film Internasional Perbara. 4 Mei 2019. Diakses tanggal 12 Agustus 2019. 
  25. ^ "Ave Maryam". Jogja-NETPAC Asian Film Festival. Diakses tanggal 11 Juni 2019. 
  26. ^ Khafid, Sirojul (8 April 2019). "Tiga Film Indonesia yang Rilis Minggu Ini". Tirto. Diakses tanggal 11 Juni 2019. 
  27. ^ Rura, Cecylia (13 Februari 2019). "Mundur dari Jadwal Semula, Film Ave Maryam Rilis di Bioskop 11 April 2019". Medcom. Diakses tanggal 25 Juni 2019. 
  28. ^ Diananto, Wayan (24 Mei 2019). "Film Ave Maryam Hanya Ditonton 80 Ribu Orang, Maudy Koesnaedi Malah Senang". Liputan 6. Diakses tanggal 11 Juni 2019. 
  29. ^ "Box Office Indonesia: Sunyi Membuat Ledakan!". Kincir. 15 April 2019. Diakses tanggal 27 Juni 2019. 
  30. ^ "'Ave Maryam' Sukses Jual 77 Ribu Tiket di Tengah Isu Sensor". CNN Indonesia. 25 April 2019. Diakses tanggal 11 Juni 2019. 
  31. ^ "15 Film Indonesia peringkat teratas dalam perolehan jumlah penonton pada tahun 2019 berdasarkan tahun edar film". Film Indonesia. Diakses tanggal 12 Agustus 2019. 
  32. ^ Daftar Sensor. Lembaga Sensor Film. Diakses 21 Mei 2019. Petunjuk: Ketik "Ave Maryam" pada kolom "Judul", klik "Tampilkan", kemudian klik tombol bergambar kertas yang terletak di sebelah kanan untuk mengetahui keputusan lengkap.
  33. ^ Novirdayani, Liza (15 Februari 2019). "Plaza Indonesia Film Festival 2019 Tayangkan 12 Film Terbaik". Kincir. Diakses tanggal 21 Mei 2019. 
  34. ^ Rura, Cecylia (11 April 2019). "Film Ave Maryam Dipangkas 12 Menit dari Durasi Awal". Medcom. Diakses tanggal 11 Juni 2019. 

Pranala luarSunting