Anton Pain Ratu

Uskup Emeritus Atambua

Mgr. Anton Pain Ratu, S.V.D. (lahir 2 Januari 1929) adalah Uskup Emeritus Keuskupan Atambua. Ia telah menjabat sebagai Uskup Atambua sejak 1984 hingga pengunduran dirinya diterima pada 2 Juni 2007.


Anton Pain Ratu

Uskup Emeritus Atambua
GerejaGereja Katolik Roma
KeuskupanAtambua
Penunjukan3 Februari 1984
Masa jabatan berakhir2 Juni 2007
PendahuluTheodorus van den Tillaart, S.V.D.
PenerusDominikus Saku
Imamat
Tahbisan imam17 Agustus 1958
oleh Gabriel Manek, S.V.D.
Tahbisan uskup21 September 1982
oleh Theodorus van den Tillaart, S.V.D.
Informasi pribadi
Nama lahirAnton Pain Ratu
Lahir2 Januari 1929 (umur 92)
Bendera Belanda Tanah Boleng, Lamawolo, Adonara, Nusa Tenggara Timur, Hindia Belanda
Kewarganegaraan Indonesia
DenominasiKatolik Roma
KediamanTempat Ziarah Bitauni, Kiupukan[1]
Orang tuaAyah: Kosmas Kopong Liat
Ibu: Maria Boli Beraya
Jabatan sebelumnya
  • Uskup Tituler Zaba (1982–1984)
    Uskup Auksilier Atambua (1982–1984)
Moto"Maranatha" (1 Korintus 16:22)

Latar belakangSunting

Pain Ratu lahir dari ayah Kosmas Kopong Liat, seorang petani dan tengkulak yang merupakan Kepala Suku Ratumakin, kepala kampung, dan juga anggota majelis gereja serta ibu Maria Boli Beraya, anak Kepala Suku Atakela, pemimpin kelompok kerja perempuan di kampung, penjual tembakau dan dendeng ikan paus.[2] Pain Ratu menjalani pendidikan dasar di SR Leworere, Tanah Boleng pada tahun 1939 dan pendidikan lanjutan di Vervolgd School, Larantuka tahun 1940 hingga 1942. Ia kemudian masuk ke Seminari St. Yohanes Berkhmans, Todabelu-Mataloko, Ngada sejak 1942 hingga 1950 dan juga Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero sejak tahun 1950 hingga 1958.

KaryaSunting

Pastor Pain Ratu ditahbiskan menjadi imam Serikat Sabda Allah pada 17 Agustus 1958.[3] Ia ditahbiskan oleh Uskup Larantuka, Mgr. Gabriel Manek, S.V.D. pada 17 Agustus 1958 (sumber lainnya menuliskan pada 15 Januari 1958) di Nita bersama R.P. Clemens Cletus da Cunha, S.V.D., R.P. Lambert Paji Seran, S.V.D., dan R.D. Petrus Sepe. Mereka mengambil moto tahbisan "Sungguh Aku datang" (Ecce, venio; Ibr 10:7).

Setelah menempuh pendidikan lanjut antropologi budaya dan Institut Pastoral Asia Timur (EAPI) dan melewati tahun-tahun pastoral, pada 12 April 1972 ia diangkat menjadi Regional SVD (sekarang provinsial) yang dijabatnya tiga periode berturut-turut.

Pada 2 April 1982, Mgr. Pain Ratu ditunjuk sebagai Uskup Auksilier Atambua dengan gelar Uskup Tituler Zaba. Ia memilih moto tahbisan "Maranatha" (1Kor 16:22). Ia ditahbiskan menjadi uskup pada 21 September 1982. Dalam penahbisan tersebut, Uskup Atambua Mgr. Theodorus van den Tillaart, S.V.D. menjadi Uskup Penahbis Utama, dengan Uskup Ko-konsekrator adalah Uskup Malang, Mgr. Franciscus Xaverius Sudartanta Hadisumarta, O.Carm., Uskup Agung Ende, Mgr. Donatus Djagom, S.V.D., dan Uskup Kupang, Mgr. Gregorius Manteiro, S.V.D. Bersamaan dengan dikabulkannya permohonan pensiun Mgr. van den Tillart, Mgr. Pain Ratu ditunjuk meneruskan kepemimpinan di keuskupan tersebut. Ia diinstalasi sebagai Uskup Atambua pada 9 Mei 1984.

Mgr. Pain Ratu menjadi Uskup Ko-konsekrator bersama dengan Uskup Ruteng, Mgr. Eduardus Sangsun, S.V.D. bagi Mgr. Gerulfus Kherubim Pareira, S.V.D. sebagai Uskup Weetebula pada 25 April 1986. Uskup Kupang, Mgr. Gregorius Manteiro, S.V.D. menjadi Uskup Penahbis Utama. Pada 6 Agustus 2000, Mgr. Pain Ratu menjadi Uskup Penahbis Utama bagi Mgr. Benyamin Yosef Bria sebagai Uskup Denpasar. Uskup Agung Ende, Mgr. Longinus Da Cunha dan Uskup Malang, Mgr. Herman Joseph Sahadat Pandoyoputro, O.Carm. menjadi Uskup Ko-konsekrator.

Pada 2006, Mgr. Pain Ratu berperan dalam menyerukan penghentian kekerasan dan pengrusakan masyarakat Atambua terkait eksekusi mati Fabianus Tibo, Marinus Riwu, dan Dominggus da Silva. Ia juga memberikan contoh tentang keberpihakan Gereja kepada kaum kecil dan tertindas dengan perjuangan tanpa kekerasan, termasuk pengungsian besar-besaran dari Timor Timur yang memasuki Timor Barat.

Mgr. Pain Ratu juga menjadi motor dalam menjalin keakraban para pemimpin agama di Kabupaten Belu dan Timor Tengah Utara (TTU), kawasan perbatasan Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan Timor Timur (Timtim).[4]

Mgr. Pain Ratu pensiun sebagai Uskup Atambua pada 2 Juni 2007. Kepemimpinan Keuskupan Atambua diteruskan oleh Mgr. Dominikus Saku sampai penahbisannya.[5] Mgr. Pain Ratu menjadi Uskup Penahbis Utama bagi Mgr. Saku pada 21 September 2007, dengan didampingi Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang dan Uskup Weetebula, Mgr Gerulfus Kherubim Pareira, S.V.D. sebagai Uskup Ko-konsekrator.

BiografiSunting

  • Gerak Langkah Sang Gembala Msgr. Anton Pain Ratu, SVD, Pastoral 3 Ber, Sejarah, Analisis dan Praksisnya (2013)[6]

ReferensiSunting

Pranala luarSunting

Jabatan Gereja Katolik
Didahului oleh:
Theodorus van den Tillaart, S.V.D.
Uskup Atambua
3 Februari 1984–2 Juni 2007
Diteruskan oleh:
Dominikus Saku
Hanya gelar saja
Didahului oleh:
Luciano Giovannetti
— TITULER —
Uskup Zaba
2 April 19823 Februari 1984
Diteruskan oleh:
Juan de Dios Mataflorida Pueblos