Fransiscus Xaverius Sudartanta Hadisumarta

Uskup Emeritus Manokwari-Sorong

Mgr. Fransiscus Xaverius Sudartanta Hadisumarta, O.Carm., (lahir di Ambarawa, Semarang, Jawa Tengah, Hindia Belanda, 13 Desember 1932; umur 87 tahun) adalah Uskup Emeritus Manokwari-Sorong setelah pensiun sejak menjabat pada 5 Mei 1988 hingga 30 Juni 2003. Sebelumnya, ia menjadi Uskup Malang sejak 1 Maret 1973.

Yang Mulia

Fransiscus Xaverius Sudartanta Hadisumarta

Uskup Emeritus Manokwari-Sorong
GerejaKatolik Roma
KeuskupanManokwari-Sorong
Pelantikan5 Mei 1988
(55 tahun, 144 hari)
Masa jabatan berakhir30 Juni 2003
(70 tahun, 199 hari)
PendahuluPetrus Malachias van Diepen, O.S.A.
PenerusDatus Hilarion Lega
Imamat
Tahbisan imam12 Juli 1959[1]
(26 tahun, 211 hari)
Tahbisan uskup16 Juli 1973
(40 tahun, 215 hari)
oleh Justinus Darmojuwono
Informasi pribadi
Lahir13 Desember 1932 (umur 87)
Bendera Belanda Ambarawa, Semarang, Jawa Tengah, Hindia Belanda
Kewarganegaraan Indonesia
DenominasiKatolik Roma
KediamanWisma Karmel, Jakarta
Jabatan sebelumnyaUskup Malang (1973–1988)
Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (1979–1988)[2]
MotoEvangelium Christi

KaryaSunting

Hadisumarta awalnya tinggal di Magelang, namun pada tahun 1949 terkait Agresi Militer Belanda II, ia bersama beberapa teman—termasuk Y.B. Mangunwijaya—mengungsi ke Malang, lalu masuk SMA St. Albertus di sana. Pada waktu tersebut, mayoritas klerus berasal dari Ordo Karmelit yang membuat dirinya turut serta masuk novisiat Ordo Karmel pada tahun 1952 dan kemudian mengucapkan kaul pertama 16 Juli 1953. Ia ditahbiskan menjadi imam 12 Juli 1959 di Malang, Jawa Timur. Pastor Hadisumarta ahli dalam bidang tafsir Kitab Suci, dengan dasar pendidikan di Seminari Tinggi Malang, kemudian belajar tafsir Kitab Suci di Roma dan Yerusalem. Pada tahun 1966, Pastor Hadisumarto sempat mengalami kecelakaan di kawasan perkebunan karet cukup jauh luar kota Pematang Siantar, Sumatra Utara yang menyebabkan ia tidak sadarkan diri selama dua bulan.[3] Setelah kecelakaan tersebut, ia dirawat di rumah sakit di Pematang Siantar dan di Medan sebelum dirawat selama tiga bulan di Nijmegen, Belanda, dan menjalani pemulihan selama enam bulan di Bonn, Jerman. Setelahnya ia meneruskan tugasnya mengajar di Seminari Tinggi Pematang Siantar dan kemudian di Seminari Tinggi Malang. Selama menjadi imam, ia juga menjadi Provinsial Ordo Karmelit di Indonesia.[3]

Ia ditunjuk menjadi Uskup Malang pada 1 Maret 1973, bertepatan dengan dikabulkannya permohonan pengunduran diri Mgr. Antoine Everardo Jean Avertanus Albers, O.Carm. oleh Paus Paulus VI. Tahbisan uskup berlangsung pada tanggal 16 Juli 1973, di halaman tengah susteran Ursulin Cor Jesu, Jln. J.A. Suprapto 55, Malang. Dalam penahbisan tersebut, Uskup Agung Semarang Justinus Kardinal Darmojuwono menjadi Penahbis Utama, dan bertindak sebagai Uskup ko-konsekrator adalah Uskup Surabaia Mgr. Jan Antonius Klooster, C.M. dan Uskup Agung Jakarta, Mgr. Leo Soekoto, S.J. Pengaturan keuskupan yang tertib, teratur, dan mempunyai visi yang jelas "Gereja sebagai communio" menandai 15 tahun masa jabatannya sebagai Uskup Malang.[4]

Sejak tahun 1979 hingga 1988 ia menjadi Ketua Konferensi Waligereja Indonesia. Ia ditunjuk menjadi Uskup Manokwari-Sorong pada 5 Mei 1988 oleh Paus Yohanes Paulus II. Penunjukkan ini bukan menyatakan 'dipindah', melainkan 'menyediakan diri untuk dipindah'.[5] Ia meninggalkan Malang pada 1 Juni 1988.[5] Kepemimpinan Keuskupan Malang diteruskan oleh Mgr. Herman Joseph Sahadat Pandoyoputro, O.Carm. sejak ditunjuk pada 7 Juni 1989. Selama kekosongan, sejak 30 Agustus 1988, Pastor Piet Go Twan An, O.Carm. ditunjuk sebagai Administrator Diosesan.

Ia menjabat sampai 30 Juni 2003 dan masa jabatannya berakhir karena mengundurkan diri. Kepemimpinan Keuskupan Manokwari-Sorong diteruskan oleh Mgr. Datus Hilarion Lega. Setelah pensiun, ia bertempat tinggal di Wisma Karmel, Kebon Jeruk, Jakarta Barat.[6] Ia juga masih aktif dalam menulis homili di situs Iman Katolik.[7] Pada beberapa kesempatan, ia turut bertugas dalam penerimaan Sakramen Penguatan terutama di Keuskupan Agung Jakarta,[8][9] serta bertugas secara periodik di Keuskupan Manokwari-Sorong.[10]

Tercatat Mgr. Hadisumarta menjadi uskup penahbis utama bagi dua orang uskup, yakni:

Ia juga menjadi Uskup Ko-konsekrator bagi sembilan orang Uskup, yakni:

  1. Mgr. Anton Pain Ratu, S.V.D. sebagai Uskup Tituler Zaba sekaligus Uskup Auksilier Atambua pada 21 September 1982.
  2. Mgr. Josephus Tethool, M.S.C. sebagai Uskup Tituler Apia Maius sekaligus Uskup Auksilier Amboina pada 26 September 1982.
  3. Mgr. Aloysius Josef G. Dibjokarjono sebagai Uskup Surabaya pada 16 Desember 1982.
  4. Mgr. Julius Darmaatmadja, S.J. sebagai Uskup Agung Semarang pada 29 Juni 1983.
  5. Mgr. Fransiskus Xaverius Rocharjanta Prajasuta, M.S.F. sebagai Uskup Banjarmasin pada 23 Oktober 1983.
  6. Mgr. Michael Cornelis C. Coomans, M.S.F. sebagai Uskup Samarinda pada 14 Februari 1988.
  7. Mgr. Carlos Filipe Ximenes Belo, S.D.B. sebagai Uskup Tituler Lorium sekaligus Administrator Apostolik Dili, Timor Leste pada 19 Juni 1988.
  8. Mgr. Leo Laba Ladjar, O.F.M. sebagai Uskup Tituler Bencenna sekaligus Uskup Auksilier Jayapura pada 10 April 1994.
  9. Mgr. Aloysius Murwito, O.F.M. sebagai Uskup Agats pada 15 September 2002.

ReferensiSunting

Pranala luarSunting

Jabatan Gereja Katolik
Didahului oleh:
Antonius Everardo Johannes Albers, O.Carm.
Uskup Malang
1 Maret 1973 s.d. 5 Mei 1988
Diteruskan oleh:
Herman Joseph Sahadat Pandoyoputro, O.Carm.
Didahului oleh:
Petrus Malachias van Diepen, O.S.A.
Uskup Manokwari-Sorong
5 Mei 1988 s.d. 30 Juni 2003
Diteruskan oleh:
Datus Hilarion Lega