Aloei Saboe

Pahlawan Revolusi Kemerdekaan

Prof. Dr. dr. H. Aloei Saboe (ER, EYD: Aluyi Sabu, lahir di Gorontalo, 11 November 1911 - meninggal di Bandung, 31 Agustus 1987 - dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata, Jakarta) adalah seorang dokter, cendekiawan muslim, akademisi, atlet bridge, sekaligus tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia. Aloei Saboe atau populer dengan nama dr. H. A. Saboe berjuang melawan penjajah Belanda di Gorontalo bersama dengan Pahlawan Nasional Nani Wartabone dan pejuang kemerdekaan Kusno Danupoyo.

Prof. Dr. dr. H. Aloei Saboe
Prof. Dr. dr. Aloei Saboe.png
Prof. Dr. dr. Aloei Saboe yang memiliki gelar adat "Ta Lo Tinepa Lipu" dari 5 Kerajaan Gorontalo, terkenal pula dengan julukan "Dokter Pejuang"
Informasi pribadi
Lahir(1911-11-11)11 November 1911
Bendera Belanda Gorontalo, Sulawesi, Hindia Belanda
Meninggal31 Agustus 1987(1987-08-31) (umur 75)
Bendera Indonesia Bandung, Jawa Barat, Indonesia
MakamTaman Makam Pahlawan Kalibata, DKI Jakarta
KebangsaanBendera Indonesia Indonesia
Suami/istriHj. Maudy Muda Aloei Saboe
AlmamaterNederlandsch Indische Artsen School, Surabaya, Hindia Belanda
PekerjaanDokter, Akademisi, Cendekiawan, Politisi

Dalam catatan sejarah, Gorontalo akhirnya berhasil mengusir penjajah dan memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 23 Januari 1942 (tiga tahun lebih awal sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945). Peristiwa bersejarah ini pun dikenal dengan sebutan Hari Patriotik 23 Januari 1942 atau Hari Proklamasi Gorontalo yang diperingati setiap tahunnya oleh seluruh masyarakat Gorontalo.

Tidak hanya itu, dr. H. A. Saboe juga sangat lantang menyuarakan kehendak masyarakat di Kawasan Timur Indonesia yang menentang dibentuknya Negara Indonesia Timur oleh Penjajah Kolonial Belanda pada 24 Desember 1946. Selaku Juru Bicara pada mosi pembubaran NIT, dr. Saboe dengan tegas menyatakan kesetiaannya kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang saat itu juga turut mewakili aspirasi kelompok masyarakat Indonesia Timur dan Gorontalo pada khususnya.

Aloei Saboe juga terlibat dalam dalam membantu operasi mempertahankan kemerdekaan dan penumpasan Permesta di Gorontalo pada tahun 1958. Atas dedikasi dan kontribusi besarnya bagi bangsa dan negara, dr. Aloei Saboe pun akhirnya dikenal luas oleh masyarakat dengan julukan "Dokter Pejuang".

Untuk mengenang jasa dan perjuangan dr. Aloei Saboe, maka nama Rumah Sakit Kotamadya Gorontalo diubah menjadi Rumah Sakit Umum Daerah Aloei Saboe (RSAS) pada tahun 1987.[1] Disamping itu, atas perjuangan dan bakti luhurnya pada tanah leluhur, maka dr. Aloei Saboe pun akhirnya dianugerahi gelar adat Pulanga, "Ta Lo Tinepa Lipu" (Sang Pengangkat Derajat Negeri) dari Dewan Adat 5 Kerajaan (Pohala'a) di Gorontalo.

Riwayat HidupSunting

Aloei Saboe atau akrab disapa H. A. Saboe dilahirkan di Gorontalo pada tanggal 11 November 1911. Adapun tanggal kelahiran dr. Saboe ini begitu identik dengan sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia maupun jalan pengabdiannya kelak di bidang kesehatan, dimana 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan, tanggal 11 November merupakan hari kelahiran dr. H. A. Saboe, dan tanggal 12 November merupakan Hari Kesehatan Nasional.

Marga SaboeSunting

Aloei Saboe berasal dari sebuah keluarga besar yang memiliki marga Saboe (Sabu). Marga Saboe (Sabu) berasal dari daerah Gorontalo, sebuah wilayah di Semenanjung Utara, Pulau Sulawesi yang kini menjadi Provinsi Gorontalo.

Latar Belakang PendidikanSunting

Saboe menyelesaikan pendidikan dokternya di Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS) Surabaya yang kini berubah menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Jawa Timur. Setelah lulus dari pendidikan dokternya, H. A. Saboe ditempatkan di Semarang hingga akhirnya bertugas di Gorontalo pada tahun 1942.

Kontribusi dan KarierSunting

Profesor Aloei Saboe telah berkontribusi selama lebih dari 30 tahun dalam pemberantasan penyakit kusta dan ikut serta mendirikan RS khusus kusta di desa Toto di Kabila, Gorontalo. Dalam perjalanan karirnya di dunia kesehatan, dr. H. A. Saboe sempat pula menjadi wakil Kepala Pengawas di lingkungan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat.

Semasa hidupnya, Profesor Saboe bersama dengan Prof. J. A. Katili, Prof. B. J. Habibie, Prof. J. S. Badudu, Prof. Idrak Jassin, Dr. (H.C.) H. B. Jassin, Thayeb Mohammad Gobel, Ir. Arry Mochtar Pedju, Ir. Ciputra, serta para tokoh sesepuh masyarakat Gorontalo rantau lainnya, diantaranya H. A. Biki, Drs. Karim Kono, Brigjen TNI (Purn) Piola Isa kemudian bersepakat mendirikan "Yayasan 23 Januari 1942" yang fokus utamanya memberikan sumbangsih aktif bagi pembangunan nasional maupun daerah yang disertai dengan upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia di tanah leluhur Gorontalo maupun yang berada di tanah rantau. Salah satu program pendidikan yang paling tersohor dari Yayasan ini adalah "Program 100 Habibie" yang ditujukan bagi generasi berprestasi di Bumi Serambi Madinah, Gorontalo.

Dokter Saboe dan Olahraga BridgeSunting

Dokter Aloei Saboe juga aktif mengembangkan hobinya yaitu bermain bridge. Atas ketekunannya menggeluti olahraga bridge, H. A. Saboe terpilih sebagai anggota Team Bridge NIAS dan mengikuti Kejuaraan Bridge Seluruh Dunia atau World Bridge Olympic Championship pada tanggal 20 Januari tahun 1935.[2] Pertandingan tersebut dimainkan dengan sistim duplicate mirip sistem Scheveningen yang dibagi atas 5 zone yaitu zone Amerika Utara, zona Amerika Selatan, Zone Asia, zona Eropa dan zone Australia. Dalam kesempatan ini, pasangan Andu-Saboe, Zina-Dungus termasuk dalam 20 pasangan terbaik dunia pada pertandingan tersebut. Dari kegemarannya bermain bridge, membuat Dokter Saboe mendapatkan beasiswa yang turur meringankan beban biaya kuliah pendidikan dokternya pada saat itu.

Perjuangan Pergerakan NasionalSunting

Profesor Aloei Saboe merupakan seorang dokter pejuang yang tidak hanya berjasa dalam bidang kesehatan, melainkan pula turut andil dalam berbagai upaya merebut kemerdekaan dari tangan penjajah Belanda. Berikut merupakan kiprah perjuangan dr. Aloei Saboe sepanjang hidupnya:

Perjuangan KemerdekaanSunting

Perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah dirintis oleh Aloei Saboe sejak dirinya berkuliah di Fakultas Kedokteran, Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS) Surabaya. Saboe ikut dalam berbagai diskusi perjuangan kemerdekaan, salah satunya yang digagas oleh dr. Soetomo (Pendiri Budi Utomo). Ia juga aktif sebagai anggota Jong Islamieten Bond pada tahun 1926. Selain itu ia juga ikut berkontribusi memperjuangkan kemerdekaan saat menjadi anggota Indonesia Moeda pada tahun 1930. Selain organisasi kepemudaan, dr. Saboe juga ikut menjadi anggota Partai Nasional Indonesia (PNI) pada tahun 1935. Kiprah politik dr. Saboe di PNI terus bersinar, terutama ketika terpilih sebagai Ketua Umum PNI Cabang Gorontalo pada kongres yang pertama. Ia kemudian menjadi Ketua PNI Sulawesi Utara dan menjadi anggota Dewan Partai PNI.

Pada tanggal 23 Januari 1942, Aloei Saboe ikut dalam gerakan perjuangan kemerdekaan Indonesia di Gorontalo. Momen bersejarah ini menjadi puncak perjuangan Aloei Saboe bersama dengan Nani Wartabone, dan Koesno Danupoyo untuk mengambil alih pemerintahan Hindia Belanda dan kemudian memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di Gorontalo. Bersama rakyat Gorontalo, para tokoh ini kemudian melumpuhkan dan menangkap semua pejabat Belanda. Mereka kemudian menyanyikan lagu Indonesia Raya dan mengibarkan bendera Merah Putih untuk pertama kalinya, serta membentuk pemerintahan daerah di Gorontalo yang saat itu diproklamasikan sebagai bagian dari pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).[3] Peristiwa 23 Januari 1942 kemudian dikenal sebagai hari patriotik kemerdekaan Indonesia di Gorontalo, 3 tahun sebelum proklamasi kemerdekaan dikumandangkan oleh Soekarno dan Mohammad Hatta di Jakarta.[4]

Perjuangan Setelah KemerdekaanSunting

Pada tahun 1945, Aloei Saboe kemudian memimpin gerakan perlawan melalui Laskar Gorontalo yang dipimpinnya ketika tentara sekutu dan NICA di bawah pimpinan Mayor Wilson tiba di Gorontalo. Adapun selama tahun 1946 hingga tahun 1947, Aloei Saboe ikut berperan dalam mengirimkan pasokan obat-obatan dan alat kesehatan kepada para pejuang kemerdekaan di Banyuwangi, Jawa Timur. Obat dan alat kesehatan tersebut berhasil direbutnya dari gudang logistik Amerika dan Australia.

Ketika Negara Indonesia Timur (NIT) terbentuk pada tahun 1950, Aloei Saboe terpilih menjadi Juru Bicara dalam mosi pembubaran NIT karena dinilai tidak sesuai dengan semangat konstitusi dan harus kembali ke konsep Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Perjuangan dr. Aloei Saboe pun berhasil ketika NIT berhasil dibubarkan pada 5 April 1950. Pada tahun 1955, perjuangan politik dr. Aloei Saboe pun berlanjut sebagai anggota Badan Konstituante Republik Indonesia mewakili masyarakat Sulawesi Utara dan Tengah.[5]

Pada tahun 1958, terjadi peristiwa pemberontakan Permesta (Perjuangan Rakyat Semesta) di Semenanjung Utara Sulawesi. Dalam peristiwa ini, dr. Aloei Saboe ikut terlibat dalam membantu operasi penumpasan Permesta di Gorontalo. Aloei Saboe berhasil menyembunyikan bahan bakar, bahan makanan, serta peralatan medis dan obat-obatan selama berbulan-bulan di sebuah Rumah Sakit Lepra di wilayah Kabila[6] (Rumah Sakit inilah yang kini dikenal dengan nama Rumah Sakit Umum Daerah Toto Kabila). TNI yang dalam kondisi tidak menguntungkan pada akhirnya mampu memenangkan pertempuran. Strategi perang yang dicetuskan dr. Aloei Saboe terbukti berhasi membantu pasukan TNI yang saat itu dipimpin oleh Mayor Agus Pramono hingga akhirnya mampu menumpas habis perlawanan Permesta di Gorontalo. Kemenangan di wilayah Gorontalo menjadi sangat penting untuk mempersempit ruang gerak Permesta di wilayah utara pulau Sulawesi.

Pengasingan dan PenjaraSunting

Oleh karena aktivitas perlawanan dan perjuangan kemerdekaan yang sering dilakukan, dr. Aloei Saboe kemudian sering ditangkap, dipenjarakan, serta diasingkan di beberapa tempat. Penahanan dr. Saboe pertama kali terjadi pada tahun 1943, dimana ia dipenjarakan di wilayah Teling, Manado. Selanjutnya ia ditahan kembali pada tahun 1945 di beberapa tempat, diantaranya di Balikpapan, Manggar, Tanah Grogot, Tanjung Aruh, hingga ke Makassar. Aloei Saboe kembali harus diasingkan ke pulau Morotai setelah pengadilan militer NICA menjatuhkan hukuman kepadanya.

Dipenjara di masa pendudukan JepangSunting

Pada 3 Februari 1943 sampai 5 Agustus 1945 beliau ditangkap tentara Jepang untuk kemudian dipenjarakan di Kemp “Interniren” Teling, Manado. Diceritakan penyiksaan-penyiksaan yang beliau alami di antaranya:[7]

  • Badan sampai batas leher dikubur dalam pasir di pantai Manado dan hanya kepala yang kelihatan di atas tanah. Apabila datang ombak, wajahnya dipenuhi pasir yang tidak dapat dibersihkan dengan tangan, karena tangannya dikubur bersama badannya.
  • Dengan kaki dan tangan terikat pada buritan perahu, berkali-kali beliau ditarik ke arah laut hingga kurang lebih 50 meter dari daratan, dan kemudian secara perlahan-lahan ditarik kembali ke pantai.
  • Dengan badan yang dilumuri gula, beliau diikat terbalik dengan kaki di atas, di sebuah pohon yang banyak semut sehingga seluruh tubuh hingga ke lubang hidung dan telinga dikerumuni semut. Setelah diturunkan dari pohon, beliau dipukuli hingga wajahnya babak belur.
  • Saboe juga pernah dipenjara pada ruangan kecil yang berukuran kira-kira 1×1,5 m dengan kepala diikat sehelai kain. Biasanya dengan lilitan kain di kepala ini menunjukan bahwa yang bersangkutan akan menjalani hukuman mati atau tembak.

Dipenjara di masa pendudukan BelandaSunting

  • Pada 4 Desember 1945 sampai 25 Desember 1945 Dokter Aloei Saboe dipenjarakan di Markas Tentara NICA karena mengobati dan merawat 6 orang pejuang laskar berani mati yang terluka parah setelah melakukan penyerangan terhadap pos tentara NICA.
  • Pada 25 Desember 1945 beliau dibebaskan dan dikenakan tahanan rumah. Selama berstatus sebagai tahanan rumah, beliau mengadakan rencana untuk melakukan penyerangan dan penangkapan terhadap komandan tentara NICA bersama laskar berani mati. Namun, rencana ini tercium oleh tentara NICA, sehingga beliau ditangkap dan diasingkan di atas kapal Piet Hein yang kala itu berada di pelabuhan Gorontalo. Beberapa waktu kemudian beliau dipindahkan ke kapal Yan Van Brackel. Di atas kapal terpedo ini, beliau menerima penyiksaan sangat berat, di antaranya dijemur dengan berbaring tanpa baju di atas plat/lempengan baja yang panas akibat teriknya matahari, tanpa diberi makan hingga beliau tidak sadarkan diri. Tercatat Dokter Aloei Saboe dikarantina di atas kedua kapal perang tersebut  sejak 12 Februari 1946 sampai 8 Maret 1946.
  • Pada 8 Maret 1946, dengan penjagaan ketat tentara NICA yang dipimpin Mayor Weber, Dokter Aloei Saboe diterbangkan ke Balikpapan. Dalam perjalanan selama empat jam itu, beliau ditempatkan pada ruang khusus di bagian belakang pesawat yang sebagian lantainya dibuat dari kaca tebal, sehingga pandangan ke bawah terlihat secara transparan. Kelak di kemudian hari, pengalaman di pesawat terbang yang lantainnya transparan ini telah menimbulkan trauma kepada beliau untuk berpergian dengan pesawat terbang. Selama di Balikpapan, beliau menjadi tahanan kepolisian di daerah Manggar. Oleh karena penjagaan terhadap dirinya tidak terlalu ketat, maka Dokter Aloei Saboe berkesempatan untuk bergabung dengan para pejuang dari Balikpapan yang pada saat itu sedang merencanakan penyerbuan pada Kemp Bronsbeek, daerah tempat tinggal tentara Belanda. Walaupun penyerbuan itu cukup berhasil, namun beberapa pejuang dapat ditangkap. Saat diinterogasi tentara Belanda, mereka mengakui bahwa Dokter Aloei Saboe ikut serta merencanakan penyerbuan sehingga diputuskan oleh NICA untuk memindahkan Dokter Aloei Saboe ke Makasar.
  • Pada 26 Maret 1946 dengan pengawalan NICA, Dokter Aloe Saboe dipindahkan ke Makassar dengan menggunakan kapal perang “Van Heutsz” dan dijebloskan ke penjara Port Rotterdam. Beliau sempat diinterogasi oleh overste Dr. Bijlmer yang menawarkan bekerja sama NICA dan akan menjadikan Dokter Saboe sebagai Inspektur van Gzondheit Geroote Oost. Namun penawaran tersebut ditolak oleh Dokter Aloei Saboe sehingga beliau dipindahkan menjadi tawanan di KIS-Kemp  yang merupakan markas tentara Westerling. Selama berada di KIS-Kemp, beliau tetap berkomunikasi dengan para pejuang. Pada suatu ketika seorang petugas pembagi makanan tertangkap oleh penjaga ketika sedang menyelipkan sebuah surat dari Gubernur Sulawesi Dr. G.S.S.J Ratulangi yang ditujukan kepada Dokter Aloei Soboe. Surat itupun disita oleh tentara NICA padahal isinya hanya menanyakan tentang kondisi di Gorontalo. Akibatnya beliau dipindahkan kembali ke Balikpapan dengan kapal laut bernama “Bos”.
  • Pada 16 April 1946, Dokter Aloei Saboe mendekam ulang di markas polisi Belanda ‘Kilat’ sampai akhirnya pada 24 April 1946 markas tersebut diserbu dan dibakar oleh tentara pejuang Hizbullah. Beliau kemudian dipindahkan dan ditahan di markas polisi tanah Grogot. Tanggal 30 April 1946, markas ini pun diserbu dan dibakar oleh pasukan Hizbullah. Akhirnya beliau diasingkan di Tanjung Aru sebuah daerah yang sangat terpencil dan hampir tidak berpenduduk. Pada 16 Mei 1946, Dokter Aloei Saboe dihadapkan pada pengadilan militer di Balikpapan dengan tuduhan berusaha menumbangkan pemerintahan Belanda dan oleh pengadilan militer beliau divonis sebagai tawanan perang dan harus menjalani pengasingan, di Kemp Prisoner of War Pulau Morotai
  • Pada 20 Mei 1946 Dokter Aloei Saboe mulai menjalani pengasingan di Pulau Morotai. Di dalam kamp ini, beliau bertemu dengan rekan seperjuangan dari Gorontalo yaitu Nani Wartabone dan Kusno Danupoyo. Oleh karena  di dalam kamp  para tahanan sering menerima perlakuan kasar dari para penjaga, maka terjadilah pemberontakan dalam kemp di Morotai ini. Akhirnya beliau diasingkan ke Kampung Daruba, suatu tempat terpencil di Pulau Morotai dan dipekerjakan pada rumah sakit setempat. Di sini beliau mendapat kunjungan dari Sultan Ternate Muhammad Djabir Syah, yang merangkap Residen Maluku Utara. Atas bantuan Sultan Ternate ini, maka istri dokter Saboe beserta tiga anaknya didatangkan dari Gorontalo dan diberi tempat tinggal berupa tenda di Kampung Daruba.
  • Pada Februari 1948, Dokter Aloei Saboe dipindahkan ke Tilamuta dan dikenakan tahanan rumah dengan pengawasan tentara Belanda yang dipimpin oleh Kapten Smith. Selama pengasingan di Tilamuta beliau ditugaskan di Rumah Sakit Tilamuta dan bersama dengan para pearawat Rumah Sakit membangun dua buah tugu peringatan yang berlokasi di Tilamuta. Akhirnya Berdasarkan perjanjian Roem-Royen yang mencantumkan pembebasan untuk seluruh tawanan dan tahanan politik, maka Dokter Aloei Saboe termasuk yang dibebaskan dari tahanan rumah dan tidak lagi berada di bawah pengawasan NICA.

Dokter Pejuang dan PengabdiannyaSunting

Sepanjang perjalanan hidup dari Profesor Saboe, telah banyak karya dan pengabdian beliau di berbagai lini kehidupan berbangsa dan bernegara, diantaranya adalah sebagai berikut:

Pengabdian di Bidang KesehatanSunting

Sebagai seorang dokter, Profesor Aloei Saboe senantiasa mengabdikan dirinya untuk melayani dan mengobati pasien dimanapun dan kapanpun ia bertugas. Ketika bertugas di Gorontalo, dr. Saboe bersama dengan dr. Mansyoer Mohammad Dunda (dr. M.M. Dunda) saling bekerja sama untuk melayani masyarakat dari ujung utara hingga ke bagian selatan Gorontalo.[8] Aloei Saboe juga menaruh perhatian khusus dalam pemberantasan penyakit lepra atau kusta. Lebih dari 30 tahun bertugas sebagai dokter, Aloei Saboe turut memperdalam tentang penyakit lepra di sejumlah daerah diantaranya di Semarang, Blora (di Randublatung, Plantungan, dan Cepu), Gresik, Bangkalan, Ambon dan juga Gorontalo. Pengabdian untuk tanah kelahirannya diwujudkan dengan mendirikan Rumah Sakit Khusus Kusta berkapasitas 300 orang di wilayah Kabila yang kini menjadi bagian dari wilayah Kabupaten Bone Bolango, serta Rumah Sakit di Tilamuta, yang wilayahnya kini menjadi ibukota Kabupaten Boalemo.

Pengabdian di Bidang PendidikanSunting

Tidak hanya berjuang sebagai dokter, Aloei Saboe pun turut mengabdikan diri dan keilmuannya bagi dunia pendidikan kesehatan di Indonesia. Kontribusi Profesor Saboe dapat dilihat dari sederet perjuangannya di bidang pendidikan kesehatan, diantaranya:[9]

  • Direktur Akademi Jurusan Guru Perawat Bidan dan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat di Bandung (1966-1971)
  • Dekan Fakultas Kedokteran, Universitas Kristen Indonesia Imannuel, Bandung (1968).
  • Guru Besar Public Health dan Laboratorium Public Health di Universitas Padjajaran, Bandung (1973).
  • Turut menginisiasi berdirinya Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Padjajaran, Bandung.
  • Dewan Kurator Sekolah Tinggi Ilomata, Jakarta (1984).

Pengabdian di Lingkungan Pemerintah DaerahSunting

Selain memberikan perhatian terhadap penyakit lepra, Profesor Saboe juga turut berkontribusi aktif di lingkungan pemerintahan daerah di beberapa wilayah Indonesia, diantaranya:

  • Direktur Kepala Inspeksi Kesehatan di Sulawesi Utara dan Tengah
  • Wakil Kepala Pengawas di Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat
  • Biro Kesehatan pada Konferensi Islam Asia Afrika tahun 1965

Predikat Dokter Bintang LimaSunting

Di kalangan praktisi kesehatan, Profesor Aloei Saboe dikenal sebagai "Dokter Bintang Lima",[10] dimana kontribusi, karya, dan dedikasinya begitu besar dalam bidang kesehatan di Indonesia. Berdasarkan kriteria World Health Organization (WHO), Aloei Saboe telah memenuhi karakteristik paripurna dari The Five Star Doctor (Dokter Bintang Lima) yaitu:[11]

  • Seorang Penyedia Pelayanan Kesehatan & Perawatan (Care Provider),
  • Seorang Pengambil Keputusan (Decision-Maker),
  • Seorang Komunikator (Communicator),
  • Seorang Pemimpin Masyarakat (Community Leader),
  • Seorang Pengelola Manajemen (Manager).

Predikat Cendekiawan MuslimSunting

Profesor Aloei Saboe telah melakukan pengkajian tentang manfaat sholat dalam perspektif ilmu medis (kedokteran). Hasil kajian beliau tersebut dituangkan dalam buku yang berjudul ”Hikmah Kesehatan Dalam Sholat”. Buku setebal 78 halaman yang diterbitkan oleh penerbit Al-Ma’arif Bandung di tahun 1986 ini memuat manfaat dari setiap gerakan dalam sholat dan dilengkapi dengan pendapat ilmiah terkait manfaat sholat yang disampaikan oleh sejumlah pakar kedokteran dari mancanegara yang justru tidak beragama Islam.[12]

Menurut Dokter Saboe, efek kesehatan dari ibadah sholat akan dirasakan apabila pelakunya melakukan gerakan sholat secara tepat. Setiap penyimpangan dari gerakan sholat akan berubah pula fungsi dan manfatnya. Oleh karenanya kita dituntut untuk mengikuti cara Rasulullah, Muhammad SAW melaksanakan Sholat secara paripurna, sebagaimana sabda beliau:

”Sholatlah kamu sebagaimana aku sholat”

(HR.Ad Daruqutni & Al Baihaqi).

Profesor Saboe juga menyebutkan bahwa melaksanakan sholat sesuai dengan tata cara yang dicontohkan Rasulullah SAW dapat disebut sebagai ”sholat ilmiah”. Menurut Prof. H. A. Saboe, ibadah sholat yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW merupakan satu-satunya cara untuk membersihkan jiwa dan raga manusia. Buktinya, kesucian dan kebersihan jiwa dan raga dalam Alquran selalu disebutkan bersama-sama, bahkan di era modern saat ini, semboyan tersebut turut dicetuskan oleh WHO, yaitu ”Mens Sana In Corpore Sano” (Dalam Tubuh Yang Kuat Terdapat Jiwa Yang Sehat).

Dokter Saboe juga turut menganjurkan agar sikap sholat ilmiah ini hendaknya dipelajari semasa kecil, semenjak usia sekolah dasar maupun madrasah ibtidaiyah agar lebih terbiasa mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Pentingnya karya tulis "Hikmah Kesehatan Dalam Sholat” pun mendapat perhatian dari Menteri Agama Kabinet Pembangunan II, Prof. Dr. Mukti Ali yang menetapkan buku karya Profesor Saboe tersebut sebagai salah satu buku panduan utama bagi rombongan Haji Indonesia saat itu.

Penghargaan dan Tanda JasaSunting

Atas jasa-jasanya dalam memperjuangkan kemerdekan Indonesia, dr. Aloei Saboe diberikan anugerah bintang dan tanda jasa dari Pemerintah Republik Indonesia, diantaranya:

WafatSunting

Profesor H. A. Saboe meninggal dunia pada tanggal 31 Agustus 1987 di Rumah Sakit Umum Pusat Hasan Sadikin Bandung, Jawa Barat. Sebagai penerima anugerah bintang tanda jasa dari pemerintah, beliau kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta atas jasa-jasanya dan pengorbanannya kepada bangsa dan negara dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia di Gorontalo, Sulawesi.

Karya TulisSunting

  • Penderitaanku Untuk Sangsaka Merah Putih
  • Hikmah Kesehatan Dalam Shalat
  • Hikmah Kesehatan Dalam Puasa
  • Aku di Dunia dan Akhirat

ReferensiSunting

  1. ^ "Salinan arsip". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2019-02-09. Diakses tanggal 2019-02-08. 
  2. ^ https://jurnalcelebes.id/2021/09/28/dokter-aloei-saboe-dan-prestasi-olahraga-bridge-indonesia/
  3. ^ Hercahyani, D. (2008). Sejarah pembentukan Gorontalo dari Kabupaten menjadi propinsi 1953-2000= the history of installation of Gorontalo regency into a province 1953-2000.
  4. ^ Marunduh, S. U. (1988). Peristiwa Merah Putih 23 Januari 1942 di Daerah Gorontalo. Fakultas Sastra, Universitas Sam Ratulangi.
  5. ^ "Dr. Alui Sabu - PNI (Partai Nasional Indonesia) - Profil Anggota". Konstituante.Net. Diakses tanggal 2021-10-24. 
  6. ^ Saboe, H. A. Penderitaanku Untuk Sangsaka Merah Putih
  7. ^ https://jurnalcelebes.id/2021/10/28/aloei-saboe-dokter-pejuang-dari-penjara-ke-penjara/
  8. ^ https://www.kompasiana.com/ismanjusuf/550e594f813311c12cbc63fa/jejak-langkah-perjuangan-prof-dr-hi-aloei-saboe
  9. ^ Agusni, Indropo. 2016. "Kiprah Dokter NIAS-Djakarta Ika Daigaku dalam Sejarah Republik Indonesia". Airlangga University Press: 186 hlm.
  10. ^ https://jurnalcelebes.id/2021/05/25/kiprah-aloei-saboe-sebagai-dokter-bintang-lima/
  11. ^ https://www.ui.ac.id/en/professional/medical-doctor.html
  12. ^ https://jurnalcelebes.id/2021/03/14/mendirikan-sholat-secara-ilmiah-menurut-dokter-aloei-saboe/