Remy Sylado

pemeran laki-laki asal Indonesia

Japi Panda Abdiel Tambajong (EYD: Yapi Panda Abdiel Tambayong) (lahir 12 Juli 1945), yang lebih dikenal dengan nama pena Remy Sylado, adalah seorang aktor, dosen, novelis, penulis, sastrawan dan mantan wartawan Indonesia keturunan Minahasa, Sulawesi Utara. Kariernya berlangsung lebih dari lima dekade, sebagai aktor ia muncul di belasan film layar lebar dan merupakan salah satu aktor paling disegani di generasinya. Ia juga seorang penulis aktif yang beberapa karyanya telah diadaptasi ke layar lebar. Salah satu film populer yang pernah dibuat berdasarkan tulisannya adalah Ca-bau-kan (2002) dari novel berjudul sama Ca-bau-kan: Hanya Sebuah Dosa (1999).

Remy Sylado
LahirJapi Panda Abdiel Tambajong
12 Juli 1945 (umur 77)
Makassar, Masa Pendudukan Jepang
Nama lainRemy Sylado
Pekerjaan
Tahun aktif1965–sekarang
Suami/istri
Marie Louise
(m. 1976)

Penampilannya dalam drama romantis Tinggal Sesaat Lagi (1986), drama keluarga Akibat Kanker Payudara (1987) dan drama keluarga 2 dari 3 Laki-Laki (1989) mendapatkan apresiasi dan pujian kritis, yang kesemuanya itu membuatnya mendapatkan nominasi untuk Piala Citra di Festival Film Indonesia, ketiganya sebagai Aktor Pendukung Terbaik.

Masa kecilSunting

Dia besar di lingkungan keluarga Tambayong di Malino, Ujung Pandang (kini Makassar). Masa kecil dan remaja dihabiskan di Semarang dan Solo. Sejak kecil hobi bertanya tentang banyak hal terkait dengan urusan agama. Latar belakang agamanya yang kuat membuat orang tua Yapi mengirimnya untuk bersekolah ke seminari.

KarierSunting

Ia memulai karier sebagai wartawan majalah Tempo (Semarang, 1965), redaktur majalah Aktuil Bandung (sejak 1970), dosen Akademi Sinematografi Bandung (sejak 1971), ketua Teater Yayasan Pusat Kebudayaan Bandung. Dia menulis kritik, puisi, cerpen, novel (sejak usia 18), drama, kolom, esai, sajak, roman populer, juga buku-buku musikologi, dramaturgi, bahasa, dan teologi. Remy terkenal karena sikap beraninya menghadapi pandangan umum melalui pertunjukan-pertunjukan drama yang dipimpinnya. Ia juga salah satu pelopor penulisan Puisi mBeling bersama Jeihan dan Abdul Hadi WM.

Selain menulis banyak novel, ia juga dikenal piawai melukis, berdrama, dan tahu banyak akan film. Saat ini ia bermukim di Bandung. Remy pernah dianugerahi hadiah Kusala Sastra Khatulistiwa 2002 untuk novelnya Kerudung Merah Kirmizi.

Remy juga dikenal sebagai seorang Munsyi, ahli di bidang bahasa. Dalam karya fiksinya, sastrawan ini suka mengenalkan kata-kata Indonesia lama yang sudah jarang dipakai. Hal ini membuat karya sastranya unik dan istimewa, selain kualitas tulisannya yang tidak diragukan lagi. Penulisan novelnya didukung dengan riset yang tidak tanggung-tanggung. Seniman ini rajin ke Perpustakaan Nasional untuk membongkar arsip tua dan menelusuri pasar buku tua. Pengarang yang masih menulis karyanya dengan mesin ketik ini juga banyak melahirkan karya berlatar budaya di luar budayanya. Di luar kegiatan penulisan kreatif, ia juga kerap diundang berceramah teologi.

Remy Sylado pernah dan masih mengajar di beberapa perguruan tinggi di Bandung dan Jakarta, seperti Akademi Sinematografi, Institut Teater dan Film, Sekolah Tinggi Teologi. Dia seorang poliglot, menguasai banyak bahasa. Dalam beberapa kesempatan, dia sering berpakaian serbaputih sebagai ciri khasnya.

KaryaSunting

Hidup hanya sekali

FilmografiSunting

FilmSunting

Tahun Judul Dikreditkan sebagai Peran Keterangan
Aktor Komponis Penulis
1973 Pelarian Tidak Ya Tidak N/A
1977 Duo Kribo Tidak Tidak Skenario
1978 Ombaknya Laut Mabuknya Cinta Tidak Tidak Cerita
1981 Mawar Cinta Berduri Duka Tidak Ya Tidak
1986 Tinggal Sesaat Lagi Ya Tidak Tidak Debut sebagai aktor
1987 Akibat Kanker Payudara Ya Tidak Tidak
1989 2 dari 3 Laki-Laki Ya Tidak Tidak
1990 Taksi Ya Tidak Tidak Om Stan
Blok M (Bakal Lokasi Mejeng) Ya Tidak Tidak
1991 Pesta Ya Tidak Tidak
1992 Tutur Tinular IV: Mendung Bergulung di Atas Majapahit Ya Tidak Tidak Ramapati
2001 Ca-bau-kan Tidak Tidak Cerita N/A
2009 Capres (Calo Presiden) Ya Tidak Tidak Ir. Gondo Sujiwo
2015 Bulan di Atas Kuburan Ya Tidak Tidak Pemimpin partai
2016 Senjakala di Manado Ya Tidak Tidak Opa Franky
Keterangan
  • N/A : Not Available

SinetronSunting

Penghargaan dan nominasiSunting

Tahun Penghargaan Kategori Karya yang dinominasikan Hasil
1987 Festival Film Indonesia Pemeran Pendukung Pria Terbaik Tinggal Sesaat Lagi Nominasi
1988 Festival Film Indonesia Akibat Kanker Payudara Nominasi
1990 Festival Film Indonesia 2 dari 3 Laki-Laki Nominasi

Pranala luarSunting

Catatan kakiSunting

  1. ^ Diangkat menjadi film Ca Bau Kan yang disutradarai Nia di Nata dan dirilis tahun 2002.
  2. ^ Kisah Diponegoro di Pembuangan Manado.