Buka menu utama

Kerudung Merah Kirmizi adalah judul buku novel karya Remy Sylado yang diterbitkan pada tahun 2002 oleh Kepustakaan Populer Gramedia. Buku ini mengantarkan nama Hamsad Rangkuti sebagai peraih Penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa pada tahun 2003. Penghargaan kali ke-dua ini diberikan tanpa kategori, seperti halnya Sajak-sajak Lengkap, 1961-2001 karya Goenawan Mohamad (2001) dan Bibir Dalam Pispot karya Hamsad Rangkuti (2003). Melalui karya ini pula, Remy Sylado meraih Penghargaan Sastra Badan Bahasa (2006). Kerudung Merah Kirmizi mengangkat sepenggal kisah tentang kasih-asmara anak manusia di bawah suasana penindasan sewenang-wenang pada masa Orde Baru.[1][2][3][4][5]

Kerudung Merah Kirmizi
Kerudung Merah Kirmizi.jpg
PengarangRemy Sylado
BahasaBendera Indonesia Indonesia
PenerbitKepustakaan Populer Gramedia
Tanggal rilis2002
Halaman616 halaman
ISBN979-902-372-6

Latar belakangSunting

Novel Kerudung Merah Kirmizi membawa pembaca ke dalam kehidupan nyata sehari-hari. Terlihat jelas bahwa Remy ingin mengatakan dengan jujur bahwa peristiwa yang terjadi adalah hal biasa yang sering dialami oleh semua orang. Dengan mengambil tema cinta biasa, Remy ingin memberi kepada pembaca sebuah cerita sederhana yang “biasa” dan apa adanya. Dengan latar sosial kehidupan reformasi yang kekinian, Remy memberikan sindiran pada tata kehidupan saat ini, di mana banyak orang berharap adanya perubahan perilaku, tabiat, dan kebiasaan lampau yang kotor dan penuh dengan kebiasaan-kebiasaan korupsi, sedangkan tanpa sadar kita semua tejebak melestarikan dan melakukan hal itu pula. Remy ingin, pembaca menilai bahwa perubahan itu adalah hal yang diidamkan oleh khalayak. Dia juga ingin memberi kesan bahwa kebobrokan rezim tidak serta-merta menyeret seluruh manusia yang ada dalam sistem itu ikut bobrok dan kotor. Hal ini digambarkannya dalam karakter Winata sebagai polisi yang sanggup bertindak benar sesuai sumpahnya sebagai abdi negara. Tetapi Remy tidak selamanya bisa mempertahankan alur yang mempesona itu terus-menerus. Pada akhirnya dia terenggah-enggah dan terjebak dalam ketidakwajaran karena harus memaksakan diri untuk memberikan kritik-kritiknya. Sehingga pada akhirnya alur yang terjalin terlihat seperti pussle yang jelas guratan-guratan batas antara tema cinta dan tema sosial.

Lihat pulaSunting

ReferensiSunting