Kapal jung

Tipe kapal dari Asia Tenggara dan Asia Timur
Kapal Jung

Kapal Jung adalah sejenis kapal layar, yang banyak terdapat di perairan Asia Tenggara sampai ke pantai timur Afrika. Ada dua jenis jung yang terkenal, yaitu jung Jawa dan jung China. Jung China dikembangkan pada dinasti Song (960–1279 masehi) berdasarkan desain-desain kapal Nusantara yang telah berdagang dengan dinasti Han Timur sejak abad ke-2 masehi.[1][2] Jung memegang peranan penting dalam perdagangan Asia Tenggara masa lampau. Ia menyatukan jalur perdagangan Asia Tengara yang meliputi Campa (kerajaan Melayu di ujung selatan Vietnam), Ayutthaya (Thailand), Aceh, Melaka dan Makassar.

Istilah "jung" (Bahasa Portugis: junco; bahasa Belanda: jonk; dan bahasa Spanyol: joanga) juga digunakan pada masa kolonial untuk merujuk pada kapal berukuran besar hingga sedang dari budaya Austronesia di Asia Tenggara Maritim, dengan atau tanpa sistem layar jung.[3] Contohnya antara lain termasuk kapal jong Indonesia dan Malaysia, kapal lanong Filipina, dan kapal kora kora Maluku.[4]

EtimologiSunting

Terdapat pandangan berbeda tentang apakah asal namanya itu dari dialek Tionghoa, atau dari kata Jawa. Kata jong, jung atau junk dapat berasal dari kata Tionghoa untuk kapal (船),[5][6] tadinya diucapkan sebagai ɦljon di bahasa Tionghoa kuno. Namun, Paul Pelliot dan Waruno Mahdi menolak asal Tionghoa untuk nama itu.[7][8]:38 Yang lebih mendekati adalah "jong" dalam bahasa Jawa yang artinya kapal. Kata jong dapat ditemukan dalam prasasti Jawa kuno abad ke 9.[9][10] Kata ini masuk bahasa Melayu dan bahasa Tionghoa pada abad ke-15, ketika daftar catatan kata-kata China mengidentifikasikannya sebagai kata Melayu untuk kapal,[11] dengan demikian secara praktis menolak asal kata Tionghoa untuk nama itu.[9] Undang-undang laut Melayu yang disusun pada akhir abad ke-15 sering menggunakan kata jung untuk menyebut kapal pengangkut barang.[11]

Asal kata "junk" dalam bahasa Inggris, dapat ditelusuri ke kata Portugis "junco", yang diterjemahkan dari kata Arab j-n-k (جنك). Kata ini berasal dari fakta bahwa aksara Arab tidak dapat mewakili digraf "ng".[8]:37 Kata itu dulunya digunakan untuk menunjukkan baik kapal Jawa / Melayu (jong) dan kapal Tiongkok (chuán), meskipun keduanya merupakan kapal yang sangat berbeda. Setelah hilangnya jong pada abad ke-17, makna kata "junk" (dan kata-kata serupa lainnya dalam bahasa Eropa), yang sampai saat itu digunakan sebagai transkripsi kata "jong" dalam bahasa Melayu dan Jawa, berubah artinya menjadi hanya merujuk kapal Tiongkok saja.[12][8]:222

Perkataan "jung" juga boleh diperkatakan berasal dari bahasa Tionghoa, yaitu Teow Chew dan Hokkien yang berasal dari selatan China. Dalam bahasa Teow Chew kapal jung disebut "jung" dan dalam bahasa hokkien disebut sebagai "jun". Teknologi perkapalan China mempunyai sejarah yang lama sejak Dinasti Han (220 SM-200 M), tetapi pada saat ini masih berupa kapal-kapal pengarung sungai, bukan pengarung samudera. Untuk mengarungi samudera, orang China pada waktu itu justru lebih suka menumpang kapal-kapal negeri "K'un-lun", yang merujuk pada Jawa dan Sumatra.[5] Orang-orang Nusantara biasanya menyebut kapal China yang besar sebagai "wangkang", sedangkan yang kecil sebagai "top".[13] Ada juga sebutan dalam bahasa Melayu "cunea", "cunia", dan "cunya" yang berasal dari dialek Amoy China 船仔 (tsûn-á), yang merujuk pada kapal China sepanjang 10-20 m.[14][15]

Kata "djong" sendiri adalah penulisan Belanda untuk jong, karena fonem [d͡ʒ] ditulis sebagai /dj/, sedangkan pada penulisan di Indonesia digunakan kata jong.[16]

Jung ChinaSunting

SejarahSunting

Abad ke-2 (dinasti Han)Sunting

 
Salah satu kapal Borobudur (sekitar abad ke-8), kapal dagang bercadik besar pribumi Nusantara, kemungkinan dari kerajaan laut Sailendra dan Sriwijaya. Tampil dengan layar tanja khas orang Austronesia Asia Tenggara. Kapal-kapal seperti ini menjadi dasar kapal-kapal jung Cina.

Perkapalan laut China tidak ada sampai akhir dinasti Song.[17] Namun, kapal dagang besar Austronesia yang berlabuh di pelabuhan Tiongkok dengan empat layar dicatat oleh para sarjana sejak Dinasti Han (206 SM – 220 M). Mereka disebut kunlun bo atau kunlun po (崑崙舶, lit. "kapal dari orang Kunlun berkulit gelap"). Mereka dinaiki oleh peziarah Buddha Tiongkok untuk perjalanan ke India Selatan dan Sri Lanka.[18][19] Relief dari kerajaan Sailendra dan Sriwijaya tentang kapal dagang besar dengan berbagai konfigurasi layar tanja dan cadik juga ditemukan di candi Borobudur, yang berasal dari abad ke-8 M.[20][21]

Buku abad ke-3 berjudul "Hal-Hal Aneh dari Selatan" (南州異物志) oleh Wan Chen (萬震) menggambarkan salah satu kapal Nusantara ini mampu membawa 700 orang bersama-sama dengan 260 ton kargo ("more than 10,000 "斛"). Dia menjelaskan desain layar kapal sebagai berikut:

Keempat layar itu tidak menghadap ke depan secara langsung, tetapi diatur secara miring, dan diatur sedemikian rupa sehingga semuanya dapat diperbaiki ke arah yang sama, untuk menerima angin dan menumpahkannya. Layar-layar yang berada di belakang angin paling banyak menerima tekanan angin, melemparkannya dari satu ke yang lain, sehingga mereka semua mendapat keuntungan dari kekuatannya. Jika sedang badai, (para pelaut) mengurangi atau memperbesar permukaan layar sesuai dengan kondisi. Layar miring ini, yang memungkinkan layar untuk menerima angin dari satu dan lainnya, menghindarkan kecemasan yang terjadi ketika memiliki tiang tinggi. Dengan demikian kapal-kapal ini berlayar tanpa menghindari angin kencang dan ombak besar, dengan itu mereka dapat mencapai kecepatan tinggi.

— Wan Chen, [22]
 
Detail kapal di Sepanjang Sungai Selama Festival Qingming, oleh Zhang Zeduan (1085–145)

Abad ke-10 sampai ke-13 (dinasti Song)Sunting

Dinasti perdagangan Song mengembangkan jung pertama berdasarkan pada kapal-kapal Asia Tenggara. Pada era ini mereka juga telah mengadopsi layar jong Melayu.[23] Kapal-kapal dinasti Song, baik niaga maupun militer, menjadi tulang punggung angkatan laut dinasti Yuan berikutnya. Khususnya pada invasi Mongol ke Jepang (1274-84), serta invasi Mongol ke Jawa (keduanya gagal), pada dasarnya bergantung pada kemampuan angkatan laut Song yang baru saja didapatkan mereka. Worcester memperkirakan bahwa jung Yuan berukuran lebar 11 m (36 kaki) dan lebih dari 30 m (100 kaki) panjangnya. Secara umum mereka tidak memiliki lunas, linggi depan, atau linggi belakang. Mereka memang memiliki papan tengah, dan sekat kedap air untuk memperkuat lambung, yang menambah beratnya. Penggalian lebih lanjut menunjukkan bahwa jenis kapal ini umum di abad ke-13.[24] Dengan menggunakan rasio antara jumlah tentara dan kapal dalam kedua invasi, dapat disimpulkan bahwa setiap kapal dapat mengangkut 20-70 orang.[25]

Abad ke-14 (dinasti Yuan)Sunting

 
Kaisar Kangxi (memerintah 1654–1722) dalam sebuah tur, duduk menonjol di dek kapal jung

Dimensi luar biasa dari kapal-kapal Cina pada abad pertengahan dijelaskan dalam sumber-sumber Cina, dan dikonfirmasikan oleh para pelancong Barat ke Timur, seperti Marco Polo, Ibnu Battuta dan Niccolò da Conti. Menurut Ibnu Battuta, yang mengunjungi Cina pada tahun 1347:

…Kami berhenti di pelabuhan Calicut, di mana pada saat itu ada tiga belas kapal Tiongkok, dan turun. Di Laut Cina orang bepergian hanya dilakukan dengan kapal Tiongkok, jadi kami akan menjelaskan bentuknya. Kapal Tiongkok terdiri dari tiga jenis; kapal-kapal besar disebut chunk (jung)), yang berukuran sedang disebut zaw (dhow) dan yang kecil kakam. Kapal-kapal besar memiliki dari dua belas sampai tiga layar, yang terbuat dari batang bambu dianyam menjadi tikar. Mereka tidak pernah diturunkan, tetapi diputar sesuai dengan arah angin; saat berlabuh mereka dibiarkan mengambang di angin.

Sebuah kapal membawa pelengkap seribu orang, enam ratus di antaranya adalah pelaut dan empat ratus prajurit, termasuk pemanah, pria berperisai dan busur silang, yang melempar nafta. Tiga kapal yang lebih kecil, "setengah", "sepertiga" dan "seperempat", menemani setiap kapal besar. Kapal-kapal ini dibangun di kota-kota Zaytun (atau Zaitun; sekarang Quanzhou; 刺桐) dan Sin-Kalan. Kapal itu memiliki empat geladak dan berisi kamar, kabin, dan salon untuk pedagang; sebuah kabin memiliki kamar dan kamar kecil, dan dapat dikunci oleh penghuninya.

Ini adalah cara mereka dibuat; dua dinding sejajar dari kayu sangat tebal (papan) dinaikkan dan melintasi ruang di antara mereka ditempatkan papan yang sangat tebal (sekat) diamankan secara longitudinal dan transversal dengan menggunakan paku besar, masing-masing tiga elo panjangnya. Ketika dinding-dinding selesai dibangun, dek bawah dipasang dan kapal diluncurkan sebelum pekerjaan atas selesai.

Abad ke-15 sampai ke-17 (dinasti Ming)Sunting

Dari pertengahan 15 hingga awal abad ke-16, semua perdagangan maritim Tiongkok dilarang di bawah Dinasti Ming. Pengetahuan perkapalan dan pembangunan kapal yang diperoleh selama dinasti Song dan Yuan secara bertahap menurun selama periode ini.[26]

Ekspedisi Cheng HoSunting
 
Jung China disekitar Hong Kong, sekitar tahun 1880

Jung terbesar yang pernah dibangun kemungkinan adalah milik Laksamana Zheng He, untuk ekspedisinya di Samudra Hindia (1405 hingga 1433). Meskipun ini diperdebatkan karena tidak ada catatan sezamannya tentang ukuran kapal Zheng He yang diketahui. Sebaliknya dimensi didasarkan pada novel Sanbao Taijian Xia Xiyang Ji Tongsu Yanyi (1597), versi romantis dari perjalanan yang ditulis oleh Luo Maodeng [zh] hampir dua abad setelahnya.[27] Novel Maodeng menggambarkan kapal-kapal Cheng Ho sebagai berikut:

  • Kapal harta karun, yang digunakan oleh komandan armada dan wakilnya (kapal jung yang memiliki sembilan tiang, diklaim oleh sejarah Ming memiliki panjang sekitar 128 m dan lebar 54.9 m).
  • Kapal kuda, membawa barang upeti dan bahan perbaikan untuk armada (jung delapan tiang, sekitar 103,6 m panjangnya dan 42,7 m lebarnya)
  • Kapal pasokan, berisi makanan pokok bagi para kru (kapal jung tujuh tiang, sekitar 79,2 m panjang dan lebar 35 m).
  • Pengangkut pasukan (jung enam tiang, panjang sekitar 67 m dan lebar 25,3 m).
  • Kapal perang Fuchuan (jung lima tiang, sekitar 50,3 m panjangnya).
  • Kapal patroli (delapan dayung, panjang sekitar 36,6 m).
  • Tanker air, dengan pasokan air bersih 1 bulan.

Beberapa penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa panjang sebenarnya dari kapal-kapal harta karun terbesar mungkin antara 390–408 kaki (119–124 m) panjang dan lebar 160–166 kaki (49–51 m),[28] sementara yang lain memperkirakan panjangnya adalah 200–250 kaki (61–76 m).[29]

Penangkapan TaiwanSunting
 
Jung Jepang pada akhir abad ke-19

Pada tahun 1661, armada laut yang terdiri dari 400 jung dan 25.000 pria yang dipimpin oleh loyalis Ming, Zheng Chenggong (Cheng Ch'eng-kung di Wade-Giles, yang dikenal di Barat sebagai Koxinga), tiba di Taiwan untuk mengusir Belanda dari Zeelandia. Setelah pengepungan sembilan bulan, Cheng merebut benteng Belanda Fort Zeelandia. Perjanjian damai antara Koxinga dan Pemerintah Belanda ditandatangani di Castle Zeelandia pada 1 Februari 1662, dan Taiwan menjadi markas Koxinga untuk Kerajaan Tungning.

Jong JawaSunting

Deskripsi fisik jong Jawa berbeda dengan jung China. Mereka terbuat dari kayu yang sangat tebal, dan ketika kapal menjadi tua, mereka diperbaiki dengan papan baru, dengan empat papan penutup, ditumpuk berlapis. Tali dan layar dibuat dengan anyaman rotan.[30][31] Kapal jung Jawa dibuat menggunakan kayu jati pada saat laporan ini (1512), pada waktu itu jung China masih menggunakan kayu lunak sebagai bahan utamanya.[32] Lambung kapal Jawa dibentuk dengan menggabungkan papan ke lunas dan kemudian ke satu sama lain dengan semat kayu, tanpa menggunakan rangka (kecuali untuk penguat berikutnya), maupun baut atau paku besi. Papannya dilubangi oleh bor tangan dan dimasukkan dengan pasak, yang tetap di dalam papan-papan itu, tidak terlihat dari luar.[33] Pada beberapa bagian kapal yang lebih kecil dapat diikat bersama dengan serat tumbuhan.[34] Kapal itu juga sama-sama lancip pada kedua ujungnya, dan membawa dua kemudi yang mirip dayung dan layar lateen (sebenarnya layar tanja),[Catatan 1] tetapi ia juga menggunakan layar jung yang berasal dari Melayu.[35] Ini sangat berbeda dari kapal Cina, yang lambungnya diikat oleh tali dan paku besi ke rangka dan ke sekat yang membagi ruang kargo. Kapal Cina memiliki kemudi tunggal di buritan, dan (kecuali di Fujian dan Guangdong) mereka memiliki bagian bawah yang rata tanpa lunas.[36]

 
Bagian yang dipotong dari peta Samudera Hindia di atlas Miller, menunjukkan 2 jong, satu adalah kapal dengan 6 tiang dilihat dari belakang, yang lain adalah kapal dengan 7 tiang. Lambang bulan sabit menunjukkan bahwa jong ini berasal dari salah satu kesultanan Islam di Indonesia.

Pertemuan dengan jong raksasa dicatat oleh penjelajah Barat. Giovanni da Empoli (pedagang Florentine) mengatakan bahwa di tanah Jawa, jung tidak berbeda kekuatannya dibanding benteng, karena ia memiliki tiga dan empat lapis papan, satu di atas yang lain, yang tidak dapat dirusak dengan artileri. Mereka berlayar bersama dengan wanita, anak-anak, dan keluarga mereka, dan semua orang menjaga kamarnya sendiri.[37] Portugis mencatat setidaknya dua pertemuan dengan jong besar, satu dimiliki oleh Pacem (Kesultanan Samudera Pasai) dan lainnya dimiliki oleh Pati Unus, yang menyerang Malaka Portugis pada 1513.[38] Karakteristik kedua kapal itu serupa, keduanya lebih besar dari kapal Portugis, dibangun dengan banyak papan, tahan terhadap tembakan meriam, dan memiliki dua kemudi mirip dayung di samping kapal.[39] Setidaknya, jong Pati Unus dilengkapi dengan tiga lapis selubung (sheating) yang menurut orang Portugis lebih dari satu cruzado (koin) masing-masing.[32] Orang China melarang kapal-kapal asing memasuki Guangzhou, karena khawatir kapal-kapal jung Jawa atau Melayu akan menyerang dan merebut kota itu, karena dikatakan bahwa salah satu dari jung ini akan mengalahkan dua puluh kapal jung Cina.[32]

Lokasi produksi utama jong terutama di 2 tempat di sekitar Jawa. Tempat itu adalah di pantai utara Jawa, di sekitar Cirebon dan Rembang-Demak (di selat Muria yang memisahkan gunung Muria dengan pulau Jawa), dan juga di pesisir Selatan Kalimantan, terutama di Banjarmasin dan pulau-pulau sekitarnya. Tempat ini sama-sama memiliki hutan jati, tetapi galangan kapal di Kalimantan tetap mendatangkan kayu jati dari Jawa, sedangkan Kalimantan sendiri menjadi pemasok kayu ulin.[40] Pegu (sekarang Bago), yang merupakan pelabuhan besar pada abad ke-16, juga memproduksi jong, oleh orang Jawa yang menetap disana.[32]

CatatanSunting

  1. ^ Layar lateen ini bisa jadi merujuk kepada layar tanja atau layar jung. Layar tanja, pada laporan awal bangsa Eropa, disebut layar lateen atau layar segi empat. Jika dilihat dari kejauhan, layar tanja dapat terlihat seperti berbentuk segi tiga.

Lihat jugaSunting

ReferensiSunting

  1. ^ Crossley, Pamela Kyle, Daniel R. Headrick, Steven W. Hirsch, Lyman L. Johnson, and David Northrup. "Song Dynasty." The Earth and Its Peoples. By Richard W. Bulliet. 4th ed. Boston: Houghton Mifflin, 2008. 279–80. Print.
  2. ^ Mudie, Rosemary; Mudie, Colin (1975), The history of the sailing ship, Arco Publishing Co., hlm. 152 
  3. ^ Julia Jones The Salt-stained book, Golden Duck, 2011, p127
  4. ^ Emma Helen Blair & James Alexander Robertson, ed. (1906). The Philippine Islands, 1493-1898. 
  5. ^ a b Coelho, P. (2002). Collins Compact Dictionary. HarperCollins. p. 483. ISBN 0-00-710984-9
  6. ^ Junk, Online Etymology Dictionary .
  7. ^ Pelliot, P. (1933). Les grands voyages maritimes chinois au début du XVe siècle. T'oung Pao, 30(3/5), second series, 237-452. Retrieved from http://www.jstor.org/stable/4527050
  8. ^ a b c Mahdi, Waruno (2007). Malay Words and Malay Things: Lexical Souvenirs from an Exotic Archipelago in German Publications Before 1700. Otto Harrassowitz Verlag. ISBN 9783447054928. 
  9. ^ a b Manguin, Pierre-Yves (1993). Trading Ships of the South China Sea. Journal of the Economic and Social History of the Orient. 253-280.
  10. ^ Zoetmulder, P. J. (1982). Old Javanese-English dictionary. The Hague: Martinus Nijhoff. ISBN 9024761786. 
  11. ^ a b Reid, Anthony (2000). Charting the Shape of Early Modern Southeast Asia. Silkworm Books. ISBN 9747551063. 
  12. ^ 'The Vanishing Jong: Insular Southeast Asian Fleets in Trade and War (Fifteenth to Seventeenth Centuries)', in Anthony Reid (ed.), Southeast Asia in the Early Modern Era (Ithaca: Cornell University Press), 197-213.
  13. ^ Crawfurd, John (1856). A Descriptive Dictionary of the Indian Islands and Adjacent Countries. Bradbury and Evans. 
  14. ^ Pramono, Djoko (2005). Budaya bahari. Gramedia Pustaka Utama. hlm. 112. ISBN 9789792213515. 
  15. ^ Jones, Russel (2007). Loan-Words in Indonesian and Malay. Yayasan Pustaka Obor Indonesia. hlm. 51. 
  16. ^ Illustrated Oxford Dictionary. London: DK. 1998. 
  17. ^ Heng, Derek (2019). "Ships, Shipwrecks, and Archaeological Recoveries as Sources of Southeast Asian History". Oxford Research Encyclopedia of Asian History: 1–29. doi:10.1093/acrefore/9780190277727.013.97. 
  18. ^ Kang, Heejung (2015). "Kunlun and Kunlun Slaves as Buddhists in the Eyes of the Tang Chinese" (PDF). Kemanusiaan. 22 (1): 27–52. 
  19. ^ Dick-Read, Robert (2005). The Phantom Voyagers: Evidence of Indonesian Settlement in Africa in Ancient Times. Thurlton. 
  20. ^ Grice, Elizabeth (17 March 2004). "A strange kind of dream come true". The Telegraph. Diakses tanggal 3 November 2015. 
  21. ^ Haddon, A.C. (1920). The Outriggers of Indonesian Canoes. London, Royal Anthropological Institute of Great Britain and Ireland. 
  22. ^ "Strange Things of the South", Wan Chen, from Robert Temple
  23. ^ L. Pham, Charlotte Minh-Hà (2012). Asian Shipbuilding Technology. Bangkok: UNESCO Bangkok Asia and Pacific Regional Bureau for Education. hlm. 20. ISBN 978-92-9223-413-3. 
  24. ^ Worcester, G. R. G. (1971). The Junks and Sampans of the Yangtze. Naval Institute Press. ISBN 0870213350. 
  25. ^ Nugroho, Irawan Djoko (2011). Majapahit Peradaban Maritim. Jakarta: Suluh Nuswantara Bakti. ISBN 978-602-9346-00-8. 
  26. ^ Heng, Derek (2019). "Ships, Shipwrecks, and Archaeological Recoveries as Sources of Southeast Asian History". Oxford Research Encyclopedia of Asian History: 1–29. doi:10.1093/acrefore/9780190277727.013.97. 
  27. ^ Dreyer 2007, hlm. 104.
  28. ^ When China Ruled the Seas, Louise Levathes, p.80
  29. ^ Sally K. Church: The Colossal Ships of Zheng He: Image or Reality ? (p.155-176) Zheng He; Images & Perceptions In: South China and Maritime Asia, Volume 15, Hrsg: Ptak, Roderich /Höllmann Thomas, O. Harrasowitz Verlag, Wiesbaden, (2005)
  30. ^ Michel Munoz, Paul (2008). Early Kingdoms of the Indonesian Archipelago and the Malay Peninsula. Continental Sales. hlm. 396–397. ISBN 9814610119. 
  31. ^ Barbosa, Duarte (1866). A Description of the Coasts of East Africa and Malabar in the Beginning of the Sixteenth Century. The Hakluyt Society. 
  32. ^ a b c d Pires, Tome. Suma Oriental. London: The Hakluyt Society. ISBN 9784000085052. 
  33. ^ Manguin, Pierre-Yves (September 1980). "The Southeast Asian Ship: An Historical Approach". Journal of Southeast Asian Studies. 11 (2): 266–276. doi:10.1017/S002246340000446X. JSTOR 20070359. 
  34. ^ Shaffer, Lynda Norene (1996). Maritime Southeast Asia to 1500. M.E. Sharpe.
  35. ^ Johnstone, Paul (1980). The Seacraft of Prehistory. Cambridge: Harvard University Press. hlm. 93–4. ISBN 978-0674795952. 
  36. ^ Reid, Anthony (2000). Charting the Shape of Early Modern Southeast Asia. Silkworm Books. ISBN 9747551063. 
  37. ^ da Empoli, Giovanni (2010). Lettera di Giovanni da Empoli. California: Istituto Italiano per il Medio ed Estremo Oriente. 
  38. ^ Correia, Gaspar (1602). Lendas da Índia vol. 2. hlm. 219. 
  39. ^ Winstedt. A History of Malay. hlm. 70. 
  40. ^ Manguin, P.Y. (1980). The Cambridge History of Southeast Asia. Cambridge: Cambridge University Press. 


Pranala luarSunting

  1. Ancient Technology
  2. The Jung Ship