Buka menu utama

Muhammad Nasroen adalah seorang birokrat dan cendekiawan Indonesia. Ia pernah menjadi residen dan Gubernur Sumatra Tengah. Ia lahir di Lubuk Sikaping pada tahun 1907. Ia pernah membuka praktik pengacara pada zaman penjajahan Belanda. Pada masa penjajahan Jepang, Mahammad Nasroen menjadi anggota Kerukunan Minangkabau yang tidak bisa dipisahkan dari gubernur Yano Kenzo dan menjadi anggota Chuo Sangi Kai.

Perantauannya adalah di Bukittinggi, Padang, Surabaya dan di Leiden (memperoleh gelar sarjana 1938).

Ia terpilih menjadi anggota DPRS utusan Sumatra Barat dan menjadi Gubernur Muda Sumatra Tengah pada tangal 29 April 1947, dan menjadi Gubernur Militer Sumatra Tengah pada bulan Oktober 1949. Saat menjabat, ia mengeluarkan instruksi Gubernur Mliliter No. 10 mengenai pembentukan kabupaten-kabuparen berotonomi beserta dewan perwakilannya di Sumatra Tengah.

Pada sidang pleno DPRST ke-3 tanggal 11 April 1950, Muhammad Nasoer dimosi tak percaya oleh Mosi Tan Tuah. Konfilk ini diakhiri dengan ditariknya Mahammad Nasroen ke Kemendagri di Yogyakarta dan dibekukannya DPRST melalui PP No. 1 tahun 1951. Terakhir Muhammad Nasroen diangkat menjadi pejabat yang mengurus persoalan otonomi di Kemendagri.

Muhammad Nasroen juga tertarik pada persoalan keanekaragaman adat istiadat Minangkabau. Beberapa tulisan Muhammad Nasroen terkenal adalah Daerah Otonomi Tingkat Terbawah, Sendi Negara dan Pelaksanaan Otonomi, Masalah Sekitar Otonomi, Asal Mula Negara, dan Dasar Falsafah Adat Minangkabau.[1]

Lihat pulaSunting

ReferensiSunting

  1. ^ Asnan, Gusti (2003). Muhammad Nasroen. Pusat Pengkajian Islam dan Minangkabau. hlm. 185–187. ISBN 0709740703 Periksa nilai: checksum |isbn= (bantuan).