Buka menu utama

Medani, Tegowanu, Grobogan

desa di Kabupaten Grobogan

Medani adalah desa paling barat di kecamatan Tegowanu, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Indonesia.

Medani
Desa
Negara Indonesia
ProvinsiJawa Tengah
KabupatenGrobogan
KecamatanTegowanu
Kodepos58165
Luas1,99 km²
Jumlah penduduk2.036 jiwa (2012)
Kepadatan1.023 jiwa/km² (2012)

Daftar isi

Asal namaSunting

Menurut legenda setempat, nama Medani berasal dari kata diwudani, yang berarti "ditelanjangi". Nama itu diberikan setelah seorang musafir dirampok dan dilucuti pakaiannya di daerah ini.

GeografiSunting

Desa ini secara geografis mayoritasnya adalah dataran rendah dengan topografi datar sampai berombaknya sekitar 25% dan topografi berbukit sampai bergunung sekitar 35%. Curah hujannya sekitar 3.331 mm/tahun. Keadaan tanah desa ini sendiri cukup baik untuk pertanian dikarenakan komposisi tanah yang subur.

Pemanfaatan desa Medani ini digunakan untuk jalan sepanjang 2 kilometer, sawah dan ladang 165,7 ha; bangunan 3 ha; empang 3,35 ha; pemukiman 7,2 ha; dan jalur hijau sepanjang 2 ha. Desa ini sendiri tidak memiliki jalur angkutan umum yang mutlak karena jalannya rusak, namun terdapat pula ojek sebagai alat transportasi masyarakat. Potensi bencana di daerah ini sendiri adalah banjir yang kerap terjadi, dalam musim hujan.

Pembagian administratifSunting

Desa Medani terbagi atas 2 dusun, 6 rukun tetangga, dan 2 rukun warga.

DemografiSunting

Persentasi dari ketenagakerjaan Medani adalah petani sekitar 30%; buruh tani 30%; buruh bangunan 10%; pengusaha 0,2%; purnawirawan 0,2%; wirausaha 0,5%; pegawai swasta 2%; pedagang 10%; dan pegawai negeri sipil 0,5%. Tingkat kesejahteraan penduduk desa ini digolongkan cukup baik dan meningkat dikarenakan tingkat pengangguran yang rendah. Pola pemukimannya sendiri menjadi tersebar dikarenakan level tanah desa yang tidak rata.

PendidikanSunting

Desa ini hanya memiliki 1 sekolah dasar negeri dan 1 PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). Medani sebenarnya memiliki satu Sekolah SD dan PAUD cukup strategis sehingga aksesnya tidak sulit, berbeda dengan SMP dan seterusnya yang jauh dari desa dan akses transportasi serta jalan di kampung tidak memadai. Hal inilah yang menyebabkan mayoritas penduduk desa hanya lulusan SD dan minat mereka untuk meneruskan pendidikan tergolong rendah.

EkonomiSunting

Tidak ada kelompok usaha resmi yang terdapat di sini, namun ada beberapa industri rumah tangga seperti pembuat keripik pisang, sagu, dodol, dll. Tidak ada pasar di sini, dan jarak dari desa menuju pasar terdekat cukup jauh. Karena tidak ada angkutan umum yang melalui desa ini, penduduk biasa menggunakan kendaraan pribadi, angkutan umum atau ojek.

Pertanian dan perkebunanSunting

Mayoritas lahan pertanian di Desa Medani dimanfaatkan untuk sawah, namun selain itu ada juga masyarakat yang menanam kacang, terong, ketimun, dan jagung. Tidak ada lembaga resmi desa untuk menampung dan menyalurkan hasil pertanian masyarakat. Sistem yang mereka gunakan hanyalah secara mandiri, dengan menanam dan menjual hasil panen masing-masing. Selama 2 tahun terakhir hasil panen desa sangat sedikit dikarenakan dengan hama dan pupuk yang tidak cocok.

Pengairan sawah berasal dari irigasi yang bersumber dari sungai. Selain irigasi sungai tersebut, Medani juga memiliki irigasi tadah hujan.

PerikananSunting

Ikan yang dibudidayakan penduduk pada umumnya adalah ikan nila. Ikan nila tersebut merupakan pemberian dari pemerintah kepada 14 orang warga. Setiap warga mendapatkan bibit sebanyak 3400 ekor beserta pakannya. Tidak ada laut di sekitar desa ini, maka dari itu tidak ada penduduk yang bermata pencaharian sebagai nelayan.

Akhir-akhir ini, produksi ikan nila turun dikarenakan banyak ikan yang mati.

PeternakanSunting

Di samping profesi utama, sebagian besar penduduk memelihara ternak di rumah mereka. Jenis ternak yang biasa dipelihara antara lain ayam, yakni sekitar 1.200 ekor, kambing dan domba sekitar 21 ekor (yang berupa bantuan dari pemerintah dan diberian kepada 3 anggota Linmas, dan kerbau 50 ekor.

Ternak-ternak ini dipelihara secara tradisional, misalnya domba yang dikurung dalam kandang panggung, ayam yang biasanya dilepas oleh warga, dll, dan tidak ada teknologi ternak yang digunakan sama sekali. Untuk saat ini ayam broiler sedang tidak diproduksi warga dikarenakan terjangkit penyakit, sehingga banyak ayam yang mati. Sedangkan domba-domba yang berasal dari bantuan pemerintah sudah berkembang biak hingga menjadi 7 ekor. Domba-domba ini nantinya akan dipindahtangankan ke warga lain.

KesehatanSunting

Di Desa Medani terdapat Posyandu, yaitu Posyandu Medani I. Sistem pelaksanaan Posyandu ini berselang tiap satu minggu dalam kurun waktu satu bulan sekali. Dari data yang didapatkan dari bidan setempat, angka kematian ibu dan bayi rendah. Hal ini dapat dilihat dari tidak adanya kematian di Tahun 2009-2010.

Angka kesakitan pada Desa Medani rendah dan tidak ada wabah penyakit yang menyerang desa ini. Angka kematian pun rendah, adapun kematian yang terjadi karena disebabkan oleh usia tua. Sebagian besar warga desa Medani telah mulai melaksanakan perilaku hidup sehat, hal ini terkait dengan banyaknya warga yang memiliki fasilitas MCK di setiap rumah. Namun di samping itu masih banyak juga warga yang terbiasa dengan gaya hidup kurang sehat, seperti jarak kandang hewan ternak yang terlalu dekat dengan rumah warga, serta kurangnya ketersediaan air bersih memberikan dampak yang kurang baik bagi kesehatan warga, terutama anak-anak. Terkait prasarana kesehatan yang terdapat di Desa Medani ini, masih kurang, hanya terdapat dua posyandu, sedangkan puskesmas belum ada dan jaraknya terlalu jauh untuk dijangkau oleh warga.

DemografiSunting

Penduduk desa Medani seluruhnya beragama Islam. Sarananya sendiri terdiri dari 1 masjid, 7 musholla, 6 majelis ta'lim yang ada per RT yang memiliki 200 jamaah, dan semuanya tersebar di seluruh desa Medani. Hubungan antara warga yang satu dengan yang lainnya dan warga dengan pendatang Medani sangat baik.

Warga memiliki jadwal kerja bakti dan ronda malam yang teratur demi menjaga kebersihan dan keamanan desa.