Persatuan Tionghoa Malaysia

partai politik di Malaysia

Persatuan Tionghoa Malaysia (Hanzi: 马来西亚华人公会,bahasa Tamil: மலேசிய சீனர் சங்கம் dan bahasa Inggris: Malaysian Chinese Association), atau lebih dikenal dengan akronim MCA adalah partai politik di Malaysia yang berasaskan etnis Tionghoa yang didirikan pada 27 Februari 1949. Bersama dengan Organisasi Kebangsaan Melayu Bersatu dan Kongres India Malaysia, MCA termasuk pendiri koalisi Barisan Nasional.

Persatuan Tionghoa Malaysia
Nama dalam bahasa Mandarin馬來西亞華人公會
马来西亚华人公会
Mǎláixīyà huárén gōnghuì
Nama dalam bahasa Tamil மலேசிய சீனர் சங்கம்
Malēciya cīṉar caṅkam
PresidenWee Ka Siong
Sekretaris JenderalChong Sin Woon
Deputi PresidenMah Hang Soon
Wakil Presiden
  • Lim Ban Hong
  • Tan Teik Cheng
  • Ti Lian Ker
  • Yew Teong Look
Ketua WanitaHeng Seai Kie
Ketua PemudaNicole Wong Siaw Ting
PendiriTan Cheng Lock
Dibentuk27 Februari 1949
Didahului olehPersatuan Tionghoa Malaya
Kantor pusatLantai 8, Wisma MCA, 163, Jalan Ampang, 50450 Kuala Lumpur, Malaysia
Surat kabarChina Press
The Star
Nanyang Siang Pau
Sin Chew Daily
Sayap pemudaPemuda MCA
Sayap wanitaWanita MCA
IdeologiEtnis Tionghoa
Konservatisme sosial
Ideologi bersejarah:
Nasionalisme Tiongkok
Tridemisme
Posisi politikKanan tengah[1]
Afiliasi nasionalParti Perikatan (1952–1973)
Barisan Nasional (1973–sekarang)
Perikatan Nasional (2020)
Gabungan Rakyat Sabah (2020–sekarang)
SloganKebebasan, Demokrasi, Keadilan
HimneMa Hua Dang Ge
Dewan Negara:
4 / 70
Dewan Rakyat:
2 / 222
Dewan Undangan Negeri:
8 / 607
Bendera
Flag of the Malaysian Chinese Association.svg
Situs web
www.mca.org.my
Kantor MCA di Batu Anam, Johor

Sejak kemerdekaan, MCA pernah menjadi partai politik terbesar dan dominan bagi etnis Tionghoa di Malaysia, terutama pada periode awal hingga akhir tahun 1960-an. Kekuatan politiknya mulai berkurang ketika muncul partai politik baru, seperti Partai Aksi Demokrat dan Partai Gerakan Rakyat Malaysia, di mana partai-partai tersebut berusaha meraih dukungan para etnis Tionghoa. Meski demikian, MCA tetap memiliki pengaruh politik yang besar pada pertengahan 1990-an hingga pertengahan 2000-an. Pada 2008, MCA dinilai memiliki kinerja yang buruk yang mengakibatkan kalangan etnis Tionghoa lebih memilih Partai Aksi Demokrat dan Partai Keadilan Rakyat.[2] Pengaruh politiknya semakin berkurang ketika pemilihan umum Malaysia 2018 yang menyaksikan kekalahan Barisan Nasional dan Perdana Menteri Najib Razak. Hasil pada 2018, MCA hanya memperoleh satu kursi di daerah pemilihan federal. Namun, semasa kursi daerah pemilihan federal Tanjung Piai mengalami kekosongan, MCA berhasil merebut kursi di daerah pemilihan tersebut pada November 2019.[3]

Setelah jatuhnya pemerintahan Pakatan Harapan, MCA bersama Barisan Nasional kembali ke pucuk pemerintahan dan mendukung Perikatan Nasional pimpinan Muhyiddin Yassin.[4] Beberapa kader MCA masuk ke dalam kabinet pemerintahan Muhyiddin, di antaranya Wee Ka Siong, Lim Ban Hong, Mah Hang Soon, Wee Jeck Seng, dan Ti Lian Ker.

SejarahSunting

Pembentukan awalSunting

Pada tahun 1948, Pemerintah Malaya Britania mengumumkan proklamasi darurat setelah pihak komunis mulai melancarkan senjatanya. Akibatnya, masyarakat di kalangan etnis Tionghoa ditangkap dan dipenjarakan oleh pemerintah. Beberapa di antara mereka, ada yang dipulangkan ke tanah airnya dan juga terdapat masyarakat etnis Tionghoa yang dibunuh oleh tentara-tentara. Pemerintah Britania pula mengasingkan masyarakat etnis Tionghoa yang bermukim di pedesaan untuk menghindari pengaruh komunis. Mereka diasingkan ke tempat khusus yang telah disediakan pemerintah.

Oleh karena itu, Tan Cheng Lock mendirikan Persatuan Tionghoa Malaya (bahasa Melayu: Persatuan Cina Malaya; MCA) dalam upaya menyelamatkan masyarakat Tionghoa untuk kembali ke negara asalnya. MCA berhasil mengambil alih peran pemerintah dalam mengevakuasi masyarakat etnis Tionghoa untuk ditempatkan ke tempat-tempat baru. Saat itu, Tan Cheng Lock menjabat presiden pertama MCA, Yong Shook Lim menjabat sebagai Sekretaris Kehormatan, dan Khoo Teck Ee memegang jabatan Bendahara Kehormatan.

PimpinanSunting

PresidenSunting

Ling Liong Sik adalah Presiden Persatuan Tionghoa Malaysia pertama dan satu-satunya yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum Barisan Nasional ketika Organisasi Kebangsaan Melayu Bersatu menjadi partai politik terlarang. Berikut merupakan daftar Presiden Persatuan Tionghoa Malaysia (sebelumnya bernama Persatuan Tionghoa Malaya).

No. Pejabat Mulai menjabat Akhir menjabat Ref
Presiden Persatuan Tionghoa Malaya
1 Tan Cheng Lock 27 Februari 1949 27 Maret 1958
2 Lim Chong Eu 27 Maret 1958 Juli 1959
Plt. Cheah Toon Lok Juli 1959 November 1961
3 Tan Siew Sin November 1961 1963
Presiden Persatuan Tionghoa Malaysia
(3) Tan Siew Sin 1963 8 April 1974
Plt. Lee San Choon 8 April 1974 Agustus 1975
4 Agustus 1975 Agustus 1979
Agustus 1979 25 Maret 1983
Plt. Neo Yee Pan Maret 1983 24 November 1985
5 Tan Koon Swan 24 November 1985 September 1986
6 Ling Liong Sik 3 September 1986 23 Mei 2003
7 Ong Ka Ting 23 Mei 2003 18 Oktober 2008
8 Ong Tee Keat 18 Oktober 2008 28 Maret 2010
9 Chua Soi Lek 28 Maret 2010 21 Desember 2013
10 Liow Tiong Lai 21 Desember 2013 September 2018
11 Wee Ka Siong 4 November 2018 Petahana

Lihat pulaSunting

RujukanSunting

  • Chin, James (2006). "New Chinese Leadership in Malaysia: The Contest for the MCA and Gerakan Presidency". Contemporary Southeast Asia (CSEA), Vol. 28, No. 1 (April 2006).
  • Chin, James (2000). "A New Balance: The Chinese Vote in the 1999 Malaysian General Election". South East Asia Research 8 (3), 281–299.
  • Chin, James (2001). "Malaysian Chinese Politics in the 21st Century: Fear, Service and Marginalisaton". Asian Journal of Political Science 9 (2), 78–94.
  • Goh, Cheng Teik (1994). Malaysia: Beyond Communal Politics. Pelanduk Publications. ISBN 967-978-475-4.
  • "National Front parties were not formed to fight for Malaysian independence" Diarsipkan 2007-06-16 di Wayback Machine.. Malaysia Today. oleh Pillai, M.G.G. (3 November 2005)

ReferensiSunting

  1. ^ J Denis Derbyshire; Ian Derbyshire (1990). Political Systems Of The World. Allied Publishers. hlm. 118. ISBN 978-81-7023-307-7. 
  2. ^ "Thirteenth General Elections (GE13): Chinese votes and Implications on Malaysian Politics" (PDF). Kajian Malaysia. 32 (supp. 2): 25–53. 2014. 
  3. ^ "Barisan Nasional wins Tg Piai by-election with 15,086 vote majority". The Star Online. 16 November 2019. Diakses tanggal 30 Januari 2022. 
  4. ^ Ng, Eileen. "MCA hopes to moderate new govt but needs to win voter trust". The Straits Times. 

Pranala luarSunting