Kalipucang, Grabag, Magelang

desa di Kabupaten Magelang

Artikel lain: Kalipucang (disambiguasi)

Kalipucang
Balai Desa Kalipucang Grabag.jpg
Negara Indonesia
ProvinsiJawa Tengah
KabupatenMagelang
KecamatanGrabag
Kodepos
56196
Kode Kemendagri33.08.18.2013 Edit the value on Wikidata
Luas... km²
Jumlah penduduk... jiwa
Kepadatan... jiwa/km²

Kalipucang adalah desa di kecamatan Grabag, Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Letak geografik Desa Kalipucang: Sebelah selatan Desa Sidogede, sebelah timur Desa Banjar Sari dan Desa Seworan, sebelah utara Desa Losari, sebelah barat Desa Ngipik, Kecamatan Pringsurat, Kabupaten Temanggung yang dibatasi oleh Sungai Elo. Meski mayoritas masyarakatnya bermatapencaharian sebagai petani, tetapi tingkat pendidikan warga di situ tergolong diperhatikan. Ini terbukti banyaknya lulusan sarjana dan pascasarjana berasal dari desa tersebut.

PedusunanSunting

Desa Kalipucang memiliki beberapa dusun yang masing-masing dipimpin oleh Kepala Dusun (dulu disebut Bayan), yaitu

  • Pijahan
  • Podang
  • Kalipucang
  • Ngaglik
  • Kalikudo

Kehidupan masyarakatSunting

 
GIA Pijahan

Masyarakat Desa Kalipucang, pada umumnya bekerja sebagai petani, pedagang, pegawai, dan wiraswasta. Mata air di desa ini, sepanjang tahun selalu mengalir, sehingga memungkinkan para petani dapat menggarap lahan mereka tanpa terkendala oleh minimnya pasokan air untuk memenuhi kebutuhan penggarapan lahan persawahan. Pada mulanya, masyarakat desa ini seratus persen merupakan penganut agama Islam, tetapi sejak dasawarsa 1980-an, ketika datang penginjilan dari Gereja Isa Almasih Ngipik, mulai ada sebagian warga yang memeluk agama Kristen, dan sebagian lainnya Katolik. Kehidupan masyarakat yang menjaga keberagaman inilah yang kemudian memungkinkan berdirinya sebuah gereja di Dusun Pijahan, bernama Gereja Isa Almasih Pijahan.[1][2]

Pijahan dalam Babad SoropadanSunting

Menurut Babad Soropadan terbitan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, nama Pijahan sebagai salah satu dusun di desa Kalipucang disebut sebagai tempat persembunyian Ki Wiropati, seorang komandan pasukan telik sandi prajurit Pangeran Diponegoro yang masih terus bergerilya sepeninggal Pangeran Diponegoro yang ditangkap oleh Belanda di Magelang. Pasukan Ki Wiropati mengadakan perlawanan dengan merampas senjata dan harta benda lainnya milik Belanda, yang kemudian dibagi-bagikan kepada masyarakat yang membutuhkan. Menghadapi gerakan itu, Belanda merasa kewalahan, kemudian mengutus Pangeran Pujud beserta beberapa orang prajurit pilihan untuk menumpas tentara Ki Wiropati. Maka berangkatlah rombongan Pangeran Pujud dari Yogyakarta menuju lereng Gunung Andong. Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, sampailah pasukan Pangeran Pujud ke Padepokan Ki Wiropati di Dusun Pijahan wilayah Grabag, Magelang. Namun betapa terkejutnya Pangeran Pujud setelah berhadapan dengan Ki Wiropati, karena ternyata musuh yang harus ditangkapnya itu adalah saudaranya sendiri. Keduanya saling berpelukan melepas rindu, dan Pangeran Pujud mengambil keputusan tidak akan kembali ke Yogyakarta demi keselamatan Ki Wiropati. Agar jejaknya tidak diketahui oleh Belanda, ia mencari tempat persembunyian yang sekiranya tidak dapat diketahui oleh Belanda atau pasukan Mataram yang telah mengutusnya. Dalam rangka penyamaran, Pangeran Pujud berganti nama menjadi Ki Honggopotro.[3]

Ki Wiropati kemudian melanjutkan kehidupannya di Dusun Pijahan hingga tutup usia, dan menurunkan tokoh spiritual, budayawan, pakar filsafat, Damardjati Supadjar, guru besar Universitas Gajah Mada dan saudaranya, Singgih Sanyoto, mantan Bupati Magelang.[4]

KesenianSunting

Beberapa kesenian yang masih dipelihara di desa ini antara lain

Lihat pulaSunting

Pranala luarSunting

ReferensiSunting

  1. ^ Kementerian Agama Jawa Tengah: Bimas Kristen Magelang Diarsipkan 2017-02-02 di Wayback Machine., diakses 30 Januari 2017
  2. ^ Gereja-gereja Sinode GIA. diakses Agustus 2020
  3. ^ Sahabat Keluarga-Kemdikbud, 9 Des 2015: Babad Soropadan Diarsipkan 2017-10-05 di Wayback Machine., diakses 28 Mei 2017
  4. ^ Tempo.co: Damardjati Berkisah Sukarno, Susu dan Dada, diakses 28 Mei 2017