Buka menu utama

Jalur kereta api Lubuk Alung–Naras–Sungai Limau

Jalur kereta api Lubuk Alung–Naras–Sungai Limau adalah jalur kereta api yang menghubungkan Stasiun Lubuk Alung dan Stasiun Naras; termasuk dalam Divisi Regional II Sumatra Barat. Secara administratif, jalur ini berada di wilayah Kabupaten Padang Pariaman dan Kota Pariaman, Sumatra Barat.

Jalur kereta api Lubuk Alung–Naras–Sungai Limau
Station Pariaman van de Staatsspoorwegen ter Sumatra's Westkust.jpg
Stasiun Pariaman di jalur ini
Ikhtisar
JenisJalur lintas percabangan
SistemJalur kereta api rel berat
StatusBeroperasi
LokasiKabupaten Padang Pariaman dan Kota Pariaman, Sumatra Barat
TerminusLubuk Alung
Naras
Stasiun5
Operasi
Dibangun olehStaatsspoorwegen ter Sumatra's Westkust
Dibuka1908–1917
Ditutup1943, segmen Naras–Sungai Limau
Dibuka kembali2019, segmen Pariaman-Naras
PemilikDitjen KA, Kemenhub RI
OperatorPT Kereta Api Indonesia Divisi Regional II Sumatra Barat
Data teknis
Panjang lintas27,8 km (lintas utama)
Jenis relR33, segmen Lubuk Alung-Pariaman
R54, segmen Pariaman-Naras
Lebar sepur1.067 mm
Kecepatan operasi20 s.d. 60 km/jam
Titik tertinggi+25 m Lubuk Alung

Jalur ini merupakan salah satu jalur kereta api yang masih aktif sampai saat ini, kecuali untuk segmen Naras–Sungai Limau.

SejarahSunting

Jalur ini merupakan paket kedua pembangunan jalur kereta api milik Staatsspoorwegen ter Sumatra's Westkust. Dengan suksesnya jalur Padang–Sawahlunto dan Padangpanjang–Payakumbuh, maka SSS mulai mencoba merambah daerah lainnya di Sumatra Barat. Untuk menghubungkan Kota Padang dengan Kota Pariaman, dibuatlah sebuah jalur kereta api. Jalurnya dimulai dari Lubuk Alung dan berakhir di Pariaman. Jalurnya selesai pada tanggal 9 Desember 1908 dan dilanjutkan menuju Naras dan Sungai Limau pada tanggal 1 Januari 1911.[1] Segmen Naras-Sungai Limau ditutup saat zaman penjajahan Belanda dikarenakan ambruknya jembatan di lintas tersebut dan jalur tersebut sudah dibongkar. Meskipun sudah dibongkar, stasiun kereta apinya sebagian masih utuh dan lahannya masih dikuasai oleh PT KAI.

Stasiun Naras beserta jalur yang menuju stasiun tersebut sudah selesai reaktivasi beserta stasiunnya, dengan bangunan yang lebih baru dan modern serta menonjolkan ciri khas Minangkabau, yaitu rumah gadang. Awalnya direncanakan hanya untuk angkutan CPO[2] namun kereta api Sibinuang bakal diperpanjang menuju stasiun tersebut[3]. Sejak tanggal 22 Maret 2019, stasiun tersebut, bersama jalur segmen Pariaman–Naras resmi dibuka kembali.[4][5]

Jalur terhubungSunting

Lintas aktifSunting

Lintas nonaktifSunting

  • Kelanjutan menuju Sungai Limau (tidak ikut direaktivasi)

Layanan kereta apiSunting

PenumpangSunting

Daftar stasiunSunting

Nomor Nama stasiun Singkatan Alamat Letak Ketinggian Status Foto
Lintas SSS 2 Lubuk Alung–Pariaman–Naras
Segmen Lubuk AlungPariaman
Panjang segmen 21 km
Diresmikan pada tanggal 9 Desember 1908 oleh Staatsspoorwegen ter Sumatra's Westkust
Termasuk dalam Divisi Regional II Sumatra Barat
7033 Lubuk Alung LA Lubuk Alung, Lubuk Alung, Padang Pariaman km 39+699 lintas Teluk BayurPadangLubuk AlungNaras +25 m Beroperasi  
- Palembayan PBY km 42+300 Tidak beroperasi
- Sintuk STK km 43+689 Tidak beroperasi
7108 Toboh Gadang TOG km 46+118 Tidak beroperasi
7107 Pauh Kambar PAK Pauh Kambar, Nan Sabaris, Padang Pariaman km 48+129 Beroperasi  
7106 Sungai Laban SGN km 51+786 Tidak beroperasi
7105 Kurai Taji KI Balai Kurai Taji, Pariaman Selatan, Pariaman km 54+164 Beroperasi  
7104 Cimparuh CIP km 57+514 Tidak beroperasi
7103 Pariaman PMN Jalan Pangeran Diponegoro, Kampung Pondok I, Pariaman Tengah, Pariaman km 60+592 +2 m Beroperasi  
Segmen Pariaman-Sungai Limau
Panjang segmen 14 km
Diresmikan pada tanggal 1 Januari 1911
Dibuka kembali pada 22 Maret 2019
7102 Apar AP km 64+353 Tidak beroperasi
7101 Naras NRS Jalan Prof. Dr. Hamka, Padang Birik-birik, Pariaman Utara, Pariaman km 67+543 Beroperasi
- Sungai Limau - - km 74+??? Tidak beroperasi

Keterangan:

  • Stasiun yang ditulis tebal merupakan stasiun kelas besar dan kelas I.
  • Stasiun yang ditulis biasa merupakan stasiun kelas II/menengah, III/kecil, dan halte.
  • Stasiun yang ditulis tebal miring merupakan stasiun kelas besar atau kelas I yang nonaktif.
  • Stasiun yang ditulis miring merupakan halte atau stasiun kecil yang nonaktif.

Referensi: [6][1][7]


ReferensiSunting

  1. ^ a b Staatsspoorwegen (1921–1932). Verslag der Staatsspoor-en-Tramwegen in Nederlandsch-Indië 1921-1932. Batavia: Burgerlijke Openbare Werken. 
  2. ^ "CPO Asal Sumbar Bagian Utara Segera Diangkut dengan Kereta Api". sumbar.antaranews.com. Diakses tanggal 2018-08-10. 
  3. ^ DitjenPerkeretaapian (2019-01-14). "Sta Naras mrpkn perpanjangan lintas KA Sibinuang yg sebelumnya lintas pelayanan Sta Padang - Sta Pariaman mjd lintas Sta Padang- Sta Pariaman via Sta Naras. Pembangunan th 2015 dg peningkatan track & dilanjutkan th 2018 peningkatan jembatan. Direncanakan beroperasi th 2019.pic.twitter.com/LGN52FGdJv". @perkeretaapian (dalam bahasa in). Diakses tanggal 2019-01-15. 
  4. ^ "Menhub Resmikan Pengoperasian Stasiun Naras yang Berusia Seabad". kumparan. Diakses tanggal 2019-08-24. 
  5. ^ JawaPos.com (2019-03-22). "Stasiun KA Naras Pariaman Kembali Beroperasi, Menhub Bangga". JawaPos.com. Diakses tanggal 2019-08-24. 
  6. ^ Subdit Jalan Rel dan Jembatan (2004). Buku Jarak Antarstasiun dan Perhentian. Bandung: PT Kereta Api (Persero). 
  7. ^ Arsip milik alm. Totok Purwo mengenai Nama, Kode, dan Singkatan Stasiun Kereta Api Indonesia