Buka menu utama

Mgr. Isak Doera (lahir di Jopu, Wolowuru, Ende, Nusa Tenggara Timur, Hindia Belanda, 29 September 1931 – meninggal di Jakarta, Indonesia, 19 Mei 2012 pada umur 80 tahun) adalah Uskup Emeritus Sintang yang telah menjabat sejak ditunjuk pada 1976 hingga mengundurkan diri pada 1996.

Mgr. Isak Doera
Uskup Emeritus Sintang
Mgr. Isak Doera.jpg
GerejaGereja Katolik Roma
KeuskupanSintang
Ditunjuk9 Desember 1976
Akhir Masa Jabatan1 Januari 1996
PendahuluLambertus van Kessel, S.M.M.
PenggantiAgustinus Agus
Tahbisan
Ditahbiskan18 Januari 1959[1]
oleh Antoine Hubert Thijssen, S.V.D.
Konsekrasi19 Mei 1977
oleh Kardinal Justinus Darmojuwono
Data Diri
Nama lahirWilhelmus Isak Doera[2]
Lahir(1931-09-29)29 September 1931
Bendera Belanda Jopu, Wolowuru, Ende, Nusa Tenggara Timur
Wafat19 Mei 2012(2012-05-19) (umur 80)
Bendera Indonesia Jakarta, Indonesia
Dimakamkan diSeminari Tinggi Santo Petrus Ritapiret, Maumere, Flores, NTT, Indonesia
Kewarganegaraan Indonesia
DenominasiKatolik Roma
Moto"Allah adalah Kasih" (1 Yohanes 4:16)

Latar belakangSunting

Doera dilahirkan dari pasangan keluarga katekis, Mikhael Bhoka dan Clara Maru.[3] Ia menamatkan studi di Seminari Menengah St. Yohanes Berchmans Todabelu, Mataloko, Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur pada tahun 1952. Ia kemudian melanjutkan studinya di Seminari Tinggi St. Petrus, Ritapiret, Maumere, Flores hingga tamat pada tahun 1958.

KaryaSunting

Pastor Doera ditahbiskan menjadi imam diosesan Endeh pada 18 Januari 1959 oleh Mgr. Antoine Hubert Thijssen, S.V.D., Vikaris Apostolik Endeh sekaligus Uskup Tituler Nilopolis di Gereja Katedral Ende, Flores, NTT. Ia mengambil moto tahbisan imamat "Salib Kristus, Salib Cinta, Salib Selamat".

Sebagai imam, sejak 1 Agustus 1961 ia menjabat sebagai Kepala Yayasan Vedapura (Bajawa) dan penilik Sekolah Katolik. Ia turut berkiprah sebagai Anggota DPRD Tingkat II Ngada sebagai Wakil Golongan Karya Alim Ulama Katolik sejak 1961 hingga 1966. Pada masa yang sama, ia menjadi penasehat rohani bagi Partai Katolik Daerah Tingkat II Ngada dan Moderator Pemuda Katolik Bajawa. Ia sempat juga menjadi Penasehat Susila Ikatan Petani Pancasila.

Berdasarkan radiogram Kepala Pusat Rawatan Rohani Katolik Angkatan Darat tertanggal 20 Juli 1966, radiogram Kepala Rawatan Rohani Katolik Kodam XVI/Udayana tertanggal 27 Juli 1966, dan Surat Perintah Dandim 1605 Ende tertanggal 8 Agustus 1966, ia bertuga sebagai Pastor ABRI di Jakarta dengan pangkat Mayor Tituler dan bertugas di Pusrohkat Angkatan Darat. Pada Juni 1967, ia ditugaskan sebagai Pastor Tentara dengan menjadi Kepala Rohkatdam XII/Tanjungpura di Pontianak, Kalimantan Barat. Karena tugas perutusan ini, ia tinggal di Pastoran Katedral Pontianak sejak 5 September 1967. Dalam kariernya, ia berperan menjembatani tentara-rakyat agar pasca kerusuhan etnis Tionghoa-Dayak tidak terjadi chaos. Ia kemudian menjadi Pastor Kepala di Paroki Katedral Kristus Raja, Sintang, sejak 5 Mei 1975.

Pada 9 Desember 1976, ia ditunjuk sebagai Uskup Sintang, meneruskan kepemimpinan Mgr. Lambertus van Kessel, S.M.M. Pengumuman pengangkatan ini berlangsung pada 2 Februari 1977. Ia ditahbiskan menjadi uskup di Gereja Katedral Sintang pada 19 Mei 1977, oleh Uskup Agung Semarang, Kardinal Justinus Darmojuwono. Bertindak sebagai Uskup Penahbis Pendamping adalah Uskup Agung Pontianak, Mgr. Hieronymus Herculanus Bumbun, O.F.M. Cap. dan Uskup Ruteng, Mgr. Vitalis Djebarus, S.V.D.

Mgr. Doera terkenal dengan karya fenomenalnya mengimpor tenaga pastoral untuk masuk ke Sintang, seperti 1.000 guru SD dari NTT (tahun 1977), para imam Serikat Sabda Allah (SVD) tahun 1978, para suster Kongregasi Soeurs de la Charite de Sainte Jeanne Antide Thouret (SdC) pada tahun 1980, dan para suster Ursulin (OSU) tahun 1980. Dalam bidang pendidikan, ia mendirikan Seminari Tinggi Betang Batara di Bandung untuk para calon imam Keuskupan Sintang pada tahun 1983, sampai akhirnya ditutup dan kemudian dipindahkan ke Malang pada tahun 2002. Ia juga membuka Seminari Menengah St. Yohanes Maria Vianney di Teluk Menyurai, Kalimantan Barat tahun 1994. Para seminaris juga dikirim ke Flores, Nusa Tenggara Timur. Ia turut memajukan perekonomian masyarakat Dayak, dengan mengembangkan Komisi Sosial Ekonomi, mendatangkan para mantri tani dan petani dari Jawa untuk menularkan cara bersawah.[4]

Sebagai Anggota KWI, ia menjadi Ketua Komisi PSE pada periode 1979–1982 dan 1982–1985, kemudian menjadi Ketua KOMSOS pada periode 1988–1991 dan 1991–1994.[5] Ia juga dikenal sebagai sosok yang sederhana dari sisi penampilan, termasuk pernah mengajarkan pertanian kepada umat di daerah Kelam dan mengusahakan adanya perkebunan karet di daerah Nobal. Ia juga dikenal sebagai sosok yang keras dalam kebijakannya.

Mgr. Doera mengundurkan diri sebagai Uskup Sintang pada 1 Januari 1996. Sejak menjadi Uskup Emeritus Sintang, ia tinggal di Jakarta. Selama pensiun, Mgr Isak Doera tercatat sebagai pembimbing rohani Pelayanan Kasih Bhakti Mandiri sejak 28 Maret 2007.[6][7] Ia meninggal dunia di Rumah Sakit Sint Carolus, Jakarta pada 19 Mei 2012 pukul 10.10, tepat pada peringatan 35 tahun tahbisan episkopatnya.[8][9][10] Ia meninggal karena Ishak komplikasi beberapa penyakit dan gangguan saraf.[11]

ReferensiSunting

Pranala luarSunting

Jabatan Gereja Katolik
Didahului oleh:
Lambertus van Kessel, S.M.M.
Uskup Sintang
9 Desember 19761 Januari 1996
Diteruskan oleh:
Agustinus Agus