Buka menu utama

Datuk Komjen Pol. (Purn.) Drs. Gregorius "Gories" Mere (lahir di Flores Timur, 17 November 1954; umur 64 tahun) adalah seorang purnawirawan perwira tinggi Polri yang pernah menjabat sebagai Kepala Pelaksana Harian Badan Narkotika Nasional tahun 2009-2012, dan terkenal sebagai perintis Detasemen Khusus 88 (Anti Teror) Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Komjen Pol. (Purn.)
Gories Mere
Kepala Pelaksana Harian Badan Narkotika Nasional
Masa jabatan
3 Juni 2008 – 1 Desember 2012
PresidenSusilo Bambang Yudhoyono
PendahuluMade Mangku Pastika
PenggantiAnang Iskandar
Informasi pribadi
Lahir17 November 1954 (umur 64)
Bendera Indonesia Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, Indonesia
PasanganNina Campos
Tempat tinggalTebet
Alma materAkademi Kepolisian (1976)
PekerjaanPurnawirawan Polisi
Dinas militer
Pihak Indonesia
Dinas/cabangLambang Polri.png Kepolisian Negara Republik Indonesia
Masa dinas1976 - 2012
PangkatPDU KOMJEN KOM.png Komisaris Jenderal
SatuanReserse

Gories yang merupakan lulusan Akademi Kepolisian tahun 1976, berpengalaman dibidang reserse dan intelijen, khususnya Terorisme dan Narkotika. Gories sudah pensiun dari Kepolisian per 1 Desember 2012 dengan pangkat Komisaris Jenderal Polisi. Sejak Juni 2016, Presiden Joko Widodo mengangkatnya menjadi Staf Khusus Presiden bidang Intelijen dan Keamanan[1]

Daftar isi

Karier ProfesionalSunting

Ayahnya seorang pria Flores, persisnya berasal dari Usu-Pode, Nangaroro, Nagekeo (pensiunan anggota TNI) dan beribukan seorang perempuan Toraja. Gories menikah dengan Nina Campos, putri Timor Leste berdarah India, memiliki dua anak dan sudah bercucu

Gories sempat lama bertugas di Timor Timur (saat masih bergabung dalam NKRI) ketika masih perwira pertama dan menengah, khususnya di bidang intelijen keamanan (Intelkam). Oleh karena prestasinya yang prima di setiap medan penugasan, karier Gories pun menanjak dengan pasti[2]

Gories mulai terkenal namanya saat memburu Ratu Ekstasi Zarima di Texas, AS, pada 1996 silam karena kedapatan memiliki 29.667 butir ekstasi[3]. Selain itu juga, Gories juga menuntaskan kasus penyanyi rock Ahmad Albar yang terjerat narkoba

Saat terjadi kasus Bom Bali 2002 Gories (saat itu Kombes senior) ditunjuk Kapolri menjadi 'komandan lapangan' (Ketua Tim Penyidik) dalam penanganan aksi teror tersebut, di bawah komando Irjen Made Mangku Pastika sebagai Ketua Tim Investigasi Kasus Bom Bali I.[4]

Sebelum menjadi Kalakhar BNN, Gories sempat menjadi Penanggung Jawab Sementara Kalakhar BNN yang menggantikan Komjen Pol Made Mangku Pastika yang sedang nonaktif dalam rangka Pilgub Bali 2008[5]

Pada tahun 2011, Bersama beberapa tokoh polisi dan masyarakat, Gories pernah mendapat teror bom buku yang cukup heboh kala itu[6]

Setelah pensiun dari Kepolisian, bersama Mantan Kepala BIN A.M. Hendropriyono, mendirikan Hendropriyono Strategic Consulting, dengan Gories menjadi CEO[7]

Gories juga diangkat menjadi Komisaris di perusahaan tambang PT. Darma Henwa Tbk sejak 31 Mei 2013[8]

Pada pertengahan tahun 2016, secara tiba-tiba, Gories Mere dan Diaz Hendropriyono (Anak dari AM Hendropriyono) diangkat menjadi Staf Khusus Presiden, dengan Diaz sebagai Staf Khusus bidang Sosial[9]

PendidikanSunting

  • AKABRI (Akademi Kepolisian) 1976
  • Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) 1986
  • Sekolah Staf dan Pimpinan Polri (Sespimpol) 1992
  • Sekolah Staf Komando (Sesko) ABRI 1998
  • Combat Intelligence & Counter Disaster Course, Royal Military College of Science Swindon, Inggris

Riwayat KarierSunting

  • Kasat Serse Umum Polda Metro Jaya
  • Kapolres Metro Jakarta Timur
  • Direktur Reserse Polda Metro Jaya
  • Direktur Reserse Polda Jawa Barat
  • Irwasda Polda Nusa Tenggara Timur
  • Wakil Kapolda Nusa Tenggara Timur
  • Kepala Detasemen Khusus 88 (Anti Teror)
  • Direktur IV Narkoba Badan Reserse Kriminal
  • Wakil Kepala Badan Reserse Kriminal 2005-2008
  • Pjs. Kalakhar BNN (2008)
  • Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) Badan Narkotika Nasional 2009-2012
  • Kepala Asosiasi Lembaga-lembaga Anti Narkotika se-Dunia[10]
  • CEO Hendropriyono Strategic Consulting (2013-Sekarang)
  • Komisaris PT Darma Henwa Tbk. (2013-Sekarang)
  • Staf Khusus Presiden bidang Intelijen dan Keamanan (2016)

PenghargaanSunting

  • Honorary Award in Order of Australia (HAOA) dari Pemerintah Australia (penghargaan terhadap kinerjanya saat Bom Bali 2002).
  • Gelar Datuk (Darjah Panglima Jasa Negara)(Juni 2010), dari Yang Dipertuan Agong Malaysia Tuanku Mizan Zainal Abidin karena berjasa dalam membangun hubungan erat antara Indonesia-Malaysia[11]
  • Penghargaan Direktur Central Intelligence Agency, diberikan langsung di CIA HQ, Fort Langley

KontroversiSunting

Semasa jabatannya di kesatuan anti-teror tersebut, Mere tak segan memberi perintah kepada anak buahnya untuk melepaskan tembakan apabila tersangka mencoba kabur. Di satu sisi, ketegasan ini mendapatkan tanggapan positif dari masyarakat, namun di sisi lain, perintah tersebut juga menimbulkan tudingan miring terhadap dirinya. Mantan Direktur Reserse di Kesatuan Polri yang menganut agama Katolik ini kerap dikecam karena dianggap sebagai ancaman bagi kaum ekstrimis Islam. Ditambah lagi, adalah tugas Mere yang kerap memimpin penggerebekan terhadap terorisme yang kebanyakan dilakukan oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan jihad dalam Agama Islam.[12]

Ketika ada elemen tertentu yang menuduh Gories anti Islam, dia pernah berujar "Saya ini polisi, gak ada urusan dengan politik atau kepentingan tertentu demi kekuasaan. Tugas saya sebagai polisi adalah menegakkan hukum dan menjaga ketertiban masyarakat (Kamtibmas). Jadi, agama dan suku apapun, kalau bersalah, ya ditindak. Kalau misalnya teroris itu orang Flores dan Katolik, ya, saya tangkap! Lagipula, gak ada kaitannya dengan agama. Keluarga besar saya bercampur Islam dan Katolik. Kalian tahu, saudara-saudara dari ayah saya, kan Muslim"[13]

Namanya sempat disebut ikut serta dalam rangkaian operasi penggerebekan teroris di Medan, Sumatera Utara, padahal jabatan Mere saat itu sudah sebagai Kepala BNN. Keberadaan 'juragan nomor satu' di BNN ini terendus media ketika tersiar kabar Danlanud Medan mengirim surat kepada Kapolda Sumatera Utara berisi protes atas 'penerobosan' yang dilakukan Densus 88 di Bandara Polonia. Densus disebut tidak menaati aturan yang berlaku di bandara sesuai dengan standar internasional. Surat juga menyebut adanya kehadiran seorang jenderal bintang tiga di dalam rombongan tersebut.[14] Kapolri Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Danuri membantah "Enggak ada masalah. Dia kan lagi kegiatan dengan BNN, jadi enggak ada masalah," Kamis (23/9/2010)[15]

Gories Mere pernah disebut namanya dalam sidang kasus korupsi Solar Home System Kementerian ESDM pada tahun 2009. Namanya disebut oleh kuasa hukum terdakwa Ridwan Sanjaya, Sofyan Kasim, di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (24/11/2011) “Yang memesan (proyek) itu ada Sutan Bhatoegana dan dari Polri ada Gories Mere," Sofyan mengaku itu karena adanya hubungan pertemanan antara Jacob (Dirjen Ketenagalistrikan yang di SP3) dan Gories.[16] Gories Mere mengaku siap diperiksa KPK "Biar saja orang kasih komentar tentang saya. Tapi saya tidak ada hubungan dan kepentingan sama sekali dalam kasus itu," kata Gories[17]

ReferensiSunting