Staf Khusus Presiden

lembaga nonstruktural pemerintah Indonesia

Staf Khusus Presiden adalah lembaga non struktural yang dibentuk untuk memperlancar pelaksanaan tugas Presiden Republik Indonesia, yang melaksanakan tugas tertentu di luar tugas-tugas yang sudah dicakup dalam susunan Kementerian dan instansi pemerintah lainnya.

Berdasarkan Perpres 3 tahun 2011 tentang Staf Khusus Presiden dan Staf Khusus Wakil Presiden, Staf Khusus, tugasnya dikoordinasikan, dan diberikan dukungan administrasi oleh, dan bertanggungjawab kepada Sekretaris Kabinet. Hak keuangan dan fasilitas lainnya bagi Staf Khusus Presiden diberikan setinggi-tingginya setingkat dengan jabatan struktural eselon I.a. Staf Khusus Presiden dapat berasal dari Pegawai Negeri (Pegawai Negeri Sipil, anggota Tentara Nasional Indonesia, dan anggota Polri) atau bukan Pegawai Negeri. Masa bakti Staf Khusus Presiden paling lama sama dengan masa jabatan Presiden yang bersangkutan.

Staf Khusus bersifat Operasional, yaitu melekat 24 jam bersama Presiden, berbeda dengan Dewan Pertimbangan Presiden dan lembaga seperti Unit Kerja Presiden / Kantor Staf Presiden

Susunan Staf Khusus PresidenSunting

Staf Khusus Presiden terdiri atas:

Daftar Staf Khusus PresidenSunting

Periode 2004–2009Sunting

 
Foto resmi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono periode 2004–2009

Saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjabat pertama kali, Staf Khusus beliau diantaranya yaitu:[1]

  1. Andi Mallarangeng (Bidang Hubungan Dalam Negeri merangkap Juru Bicara Presiden bidang Dalam Negeri)
  2. Dino Patti Djalal (Bidang Hubungan Luar Negeri merangkap Juru Bicara Presiden bidang Luar Negeri)
  3. Sardan Marbun (Bidang Pemberantasan KKN)
  4. Denny Indrayana (Staf Khusus Presiden Bidang Hukum)
  5. Heru Lelono (Staf Khusus Presiden Bidang Otonomi dan Pemerintahan Daerah)
  6. Brigjen TNI Kurdi Mustofa (Bidang Komunikasi Sosial)
  7. Brigjen TNI R Ediwan Prabowo (Sekretaris Pribadi Presiden)
  8. Irvan Edison (Bidang Pertahanan & Keamanan)
  9. Yenny Zannuba Wahid (Bidang Komunikasi Politik); Mengundurkan diri 2007, digantikan oleh M. Djali Yusuf

Periode 2009–2014Sunting

 
Foto resmi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono periode 2009–2014

Pada Masa Kabinet Indonesia Bersatu II (2009-2014) atau Periode ke-2 SBY menjabat. Selain mempertahankan beberapa staf khusus dan mengganti serta menambah beberapa posisi baru,[2][3] presiden Yudhoyono juga membentuk Unit Kerja Presiden bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4).[4]

  1. Dino Patti Djalal (Bidang Hubungan Luar Negeri merangkap Juru Bicara Presiden bidang Luar Negeri); sampai tahun 2010, kemudian menjadi Duta Besar RI untuk Amerika Serikat (2010-2013), dan Wakil Menteri Luar Negeri (2014)
  2. Julian Aldrin Pasha, (Bidang Hubungan Dalam Negeri merangkap Juru Bicara Presiden); Menggantikan Andi Mallarangeng yang menjadi Menteri Pemuda dan Olahraga Kabinet Indonesia Bersatu II)
  3. Ahmad Yani Basuki (Bidang Publikasi dan Dokumentasi)
  4. Velix Wanggai, (Bidang Otonomi Daerah / Papua)
  5. Andi Arief, (Bidang Bantuan Sosial dan Bencana Alam)
  6. Jusuf Wangkar, (Bidang Pangan dan Energi); Mengundurkan diri tahun 2013, digantikan Hariyanto (sebelumnya Wakil Sekretaris Pribadi)
  7. Daniel Theodore Sparringa (Bidang Komunikasi Politik)
  8. Sardan Marbun (Bidang Komunikasi Sosial)
  9. Denny Indrayana (Bidang Hukum dan Pemberantasan KKN); Sampai 2011, kemudian diangkat menjadi Wakil Menteri Hukum dan HAM. Jabatan Staf Khusus bidang Hukum dihapuskan.
  10. Heru Lelono (Staf Khusus bidang Informasi dan Hubungan Masyarakat)
  11. Teuku Faizasyah (Bidang Hubungan Luar Negeri); Menggantikan Dino Patti Djalal yang menjadi Dubes RI untuk Amerika Serikat
  12. Firmanzah (Bidang Ekonomi); Sejak 2012-2014
  13. Brigjen Agung Risdhianto (Sekretaris Pribadi Presiden) sampai 2011, digantikan Kolonel Kustanto Widiatmoko
  14. Kuntoro Mangkusubroto (Kepala UKP4); Bersamaan dengan Masa Bakti Kabinet

Periode 2014–2019Sunting

 
Foto resmi Presiden Joko Widodo periode pertama (2014)

Pada masa Kabinet Kerja (2014-2019) atau saat Presiden Joko Widodo mulai menjabat, Jokowi juga mengangkat beberapa Staf Khusus. Jokowi juga membubarkan UKP4 dan membentuk lembaga Kantor Staf Kepresidenan (lembaga khusus di bawah Presiden, berbeda dengan Staf Khusus)

  1. Teten Masduki (sebelumnya pada September 2015 dilantik sebagai Kepala Staf Kepresidenan, namun pada Januari 2018 kembali lagi menjadi Staf Khusus, Koordinator Staf Ahli)[5]
  2. Johan Budi (Bidang Komunikasi & Juru Bicara Presiden)
  3. AAGN Ari Dwipayana (Bidang Komunikasi)[6]
  4. Sukardi Rinakit (Bidang Politik dan Pers)
  5. Lenis Kogoya (Bidang Papua)
  6. Gories Mere (Bidang Inteligen dan Keamanan)
  7. Diaz Hendropriyono (Bidang Sosial)
  8. Siti Ruhaini Dzuhayatin[7] (Bidang Keagamaan Internasional)
  9. Abdul Ghofarruzin (Bidang Keagamaan)
  10. Ahmad Erani Yustika (Bidang Dana Desa)
  11. Adita Irawati (Bidang Komunikasi ke Kementerian dan Lembaga)

Periode 2019–2024Sunting

 
Foto resmi Presiden Joko Widodo periode kedua (2019)

Pada kabinet jilid II Joko Widodo (Kabinet Indonesia Maju), beberapa staf khusus periode 2014–2019 masih menjabat pada periode ini. Staf lainnya diumumkan pada 21 Oktober 2019 sebelum pengumuman anggota kabinet[8] dan pada 21 November 2019.[9][10]

  1. Fadjroel Rachman (Bidang Komunikasi merangkap Juru Bicara Presiden)
  2. Anggit Nugroho (Asisten Pribadi Presiden)
  3. Diaz Hendropriyono (Bidang Sosial)
  4. Sukardi Rinakit (Bidang Politik)
  5. Arif Budimanta (Bidang Ekonomi)
  6. Dini Shanti Purwono (Bidang Hukum)
  7. AAGN Ari Dwipayana (Bidang Komunikasi)
  8. Adamas Belva Syah Devara (Bidang Inovasi)
  9. Putri Indahsari Tanjung
  10. Andi Taufan Garuda Putra
  11. Ayu Kartika Dewi
  12. Billy Mambrasar (Bidang Inovasi)
  13. Angkie Yudistia (Bidang Sosial)
  14. Aminuddin Maruf (Bidang Komunikasi dengan Kelompok Strategis)

ReferensiSunting

Tautan Daring
  1. ^ "Presiden Gelar Pertemuan Dengan Wantimpres, UKP3R dan Staf Khusus". Kementerian Sekretariat Negara RI. 30 Oktober 2008. Diakses tanggal 26 Oktober 2019. 
  2. ^ "Presiden Resmi Angkat 10 Staf Khusus". Tempo.co. 19 November 2009. Diakses tanggal 26 Oktober 2019. 
  3. ^ "Presiden SBY Angkat 10 Staf Khusus". detikNews. 19 November 2009. Diakses tanggal 26 Oktober 2019. 
  4. ^ "SBY: Wajar Pro dan Kontra Susunan Kabinet". Republika. 22 Oktober 2019. Diakses tanggal 26 Oktober 2019. 
  5. ^ Media, Kompas Cyber (2018-01-17). "Teten Masduki Jadi Komandan Staf Khusus Presiden - Kompas.com". KOMPAS.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-05-11. 
  6. ^ "Ari Dwipayana | Universitas Gadjah Mada (Yogyakarta) - Academia.edu". ugm.academia.edu. Diakses tanggal 2019-03-08. 
  7. ^ Media, Kompas Cyber. "INFOGRAFIK: Para Staf Khusus Presiden... Halaman all". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2019-09-14. 
  8. ^ Humas Kemensetneg (21 Oktober 2019). "Presiden Jokowi Tunjuk Jubir dan Tujuh Orang untuk Bantu Proses Pembentukan Kabinet". Kementerian Sekretariat Negara RI. Diakses tanggal 25 Oktober 2014. 
  9. ^ Fakhrizal Fakhri (21 November 2019). "Jokowi Umumkan 7 Staf Khusus dari Kalangan Milenial". Diakses tanggal 21 November 2019. 
  10. ^ "Daftar 14 Staf Khusus Jokowi pada Periode Kedua". 21 November 2019. Diakses tanggal 21 November 2019. 
Tautan Dasar Hukum

Lihat PulaSunting