Buka menu utama

Ekofeminisme adalah teori yang mampu menjelaskan hubungan antara kaum perempuan dengan alam. Teori tersebut dicetuskan oleh Vandana Shiva yang merupakan seorang ilmuwan sosial berasal dari India. Teori Ekofeminisme menggabungkan konsep ekologi dengan feminisme yang merupakan kerangka berpikir untuk memahami kuatnya relasi perempuan dengan alam. Di dalam teori tersebut dijelaskan bahwa kerusakan alam akan berdampak pada pemiskinan dan penderitaan yang akan dialami oleh kaum perempuan.[1] Secara teknis, ekofeminisme dipergunakan oleh para ilmuwan sosial untuk memahami fenomena terpuruknya kehidupan perempuan akibat kegiatan yang bersifat destruktif terhadap alam, seperti pertambangan atau pembalakan hutan.

Contoh nyata dari perspektif tersebut adalah perlawanan ibu-ibu petani Kendeng akibat beroperasinya pabrik semen di Rembang, Jawa Tengah. Perempuan berada di garda paling depan sebab merekalah yang lebih merasakan dampak buruk beroperasinya pabrik tersebut dibandingkan kaum laki-laki. Hal serupa juga dapat diamati pada penderitaan perempuan Suku Dani di Lembah Baliem akibat beroperasinya Freeport.

TipologiSunting

Sama halnya dengan beragamnya aliran feminisme sendiri, muncul pula beragam aliran ekofeminisme dengan tipologinya masing-masing, yaitu Ekofeminisme Alam/Kultural, Ekofeminisme Spiritual, Ekofeminisme Sosial dan Ekofeminisme Transformatif.[2]

ReferensiSunting

  1. ^ Zega, Devi Christiani dan LG Saraswati Putri. (2014). Relasi Alam dan Perempuan dalam Pemikiran Ekofeminisme Vandana Shiva. Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia. Lihat melalui http://lib.ui.ac.id/naskahringkas/2016-05/S57107-Devi%20Christiani%20Zega.
  2. ^ Retno Wulan, Tyas. (2007). "Ekofemisme Transformatif: Alternatif Kritis Mendekonstruksi Relasi Perempuan dan Lingkungan". Sodality: Jurnal Transdisiplin Sosiologi, Komunikasi dan Ekologi Manusia. 1 (1): 120.