Buka menu utama

Matriarki adalah dominasi kepemimpinan perempuan. Dalam masyarakat atau kelompok yang menganut matriarki, otoritas menurun dari garis ibu, berbeda dengan patriarki yang merupakan dominasi kepemimpinan laki-laki. Matrarki cukup umum ditemukan di negara-negara Asia dan Afrika.[1]

Matriarki mengimplikasikan adanya negosiasi kekuasaan di antara perempuan dan laki-laki sebagai upaya menentang tradisi patriarki dimana laki-laki lebih dominan dalam membuat keputusan-keputusan penting. Matriarki menentukan bentuk-bentuk kultural, khususnya dalam persoalan agama dan keluarga. Perempuan akan mempunyai pilihan dari pasangan suaminya dan anak akan mengikuti nama keluarga ibunya serta warisan diturunkan menurut garis ibu. Keluarga ibu berhak akan anak-anak dan dapat melakukan klaim terhadap pemeliharaan keluarga. Walau begitu, laki-laki tertua dari keluarga memainkan peranan sebagai kepala keluarga dan karenanya dapat dilakukan negosiasi kekuasaan dalam suatu keluarga.[1] Salah satu masyarakat matrilineal terbesar di dunia merupakan suku Minangkabau di Sumatra Barat.Kaum wanita dalam suku Minangkabau memiliki keistimewaan khusus serta dapat mengambil peranan penting di dalam komunitas. Peranan-peranan tersebut temasuk peran sebagai pemilik harta warisan, penerus keturunan, serta 'manajer' bagi keluarga masing-masing.[2] Dalam sistem sosial matriarki di Minangkabau, seorang lelaki bagaikan "orang luar" dari keluarga matrilineal istrinya. Anak-anak dari suatu keluarga secara otomatis akan menjadi keluarga ibu mereka karena sistem matrilineal, memakai nama suku ibu alih-alih nama suku ayah.[2]

Lihat pulaSunting

ReferensiSunting

  1. ^ a b Rokhmansyah, Alfian (2016). Pengantar Gender dan Feminisme : Pemahaman Awal Kritik Sastra Feminisme. Garudhawaca. hlm. 35. 
  2. ^ a b "Sisa-sisa Matriarki di Nusantara". forum.detik.com. Diakses tanggal 3 Oktober 2017.