Buka menu utama

Baru adalah desa di kecamatan Sinjai Tengah, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, Indonesia. Desa Baru terletak di atas bukit-bukit dan lereng gunung Ba'nyira dan merupakan salah satu sentra pertanian di Sinjai, terutama padi, cengkih, cokelat, merica, jagung, gula aren, vanili dan hasil-hasil lainnya.

Desa Baru
Desa
Negara Indonesia
ProvinsiSulawesi Selatan
KabupatenSinjai
KecamatanSinjai Tengah
Luas-13,27 Km2
Jumlah penduduk-2.000 Jiwa
Kepadatan-190/Km2

PemerintahanSunting

Terdapat 4 dusun:

  1. Dusun Bongki
  2. Dusun Ba'nyira
  3. Dusun Lopi
  4. Dusun Bua

Transportasi Dan InfrastrukturSunting

Untuk mencapai desa Baru diperlukan waktu sekitar 30 menit dari pusat kota Sinjai dengan jarak 23 km. Fasilitas jalan cenderung baik dengan beberapa titik memerlukan perbaikan. Angkutan umum terbatas dan berkala. Namun saat ini setiap rumah tangga hampir seluruhnya telah memiliki sarana transportasi pribadi.

GeografiSunting

Desa Baru pada bagian timur berkontur cenderung landai dan semakin ke barat makin berbukit-bukit dengan kemiringan yang cukup curam. Perumahan penduduk pada umumnya berada di perbukitan yang diapit persawahan yang membentang di area lebih rendah. Terdapat 2 sungai yang mengalir di tengah-tengah area persawahan di sisi utara dan selatan desa. Kedua sungai ini sekaligus menjadi batas dengan desa di sebelahnya. Kedua sungai tersebut adalah sungai Kalamisu di utara dan sungai Tallua di selatan.

Keberadaan kedua sungai ini membuat desa Baru cukup terpenuhi kebutuhan irigasi persawahan. Bahkan sungai Kalamisu yang berhulu di gunung Bawakaraeng menjadi tumpuan utama irigasi yang mengairi persawahan di sepanjang alur Sinjai Tengah dan Sinjai Timur.

Secara administratif Desa Baru berbatasan dengan ;

  1. Bagian timur: desa Talle (Kec. Sinjai Selatan).
  2. Bagian selatan: desa Talle dan desa Saotanre
  3. Bagian barat: desa Saotanre dan desa Saotengah
  4. Bagian utara: desa Saotengah dan desa Kanrung.

DemografiSunting

Penduduk Desa Baru merupakan suku Bugis dan 100% memeluk agama Islam. Sebagaimana halnya dengan masyarakat Bugis lainnya yang sangat erat kaitannya dengan tradisi dan budaya Islam, masyarakat desa Baru selalu merayakan dengan meriah hari-hari raya Islam terutama Idul Fitri dan Idul Adha.

Masyarakat kabupaten Sinjai menggunakan bahasa Bugis sebagai bahasa pengantar sehari-hari. Terdapat perbedaan mencolok dalam penuturan bahasa Bugis Sinjai dan bahasa Bugis di kabupaten lainnya. Termasuk di desa Baru, keunikannya adalah pemakaian bunyi 'H' untuk pengganti 'W' dalam bahasa Bugis dialek lain. Demikian pula 'SY' untuk pengganti 'C'.

Contoh:

  • Waktu

Bugis Bone: Wettu ; Sinjai: Hettu

  • Hasil

Bugis Bone: Wassele' ; Sinjai: Hassele

  • Tawa

Bugis Bone: Cawa ; Sinjai: Syaha

  • Mengantuk

Bugis Bone: Cakkaruddu': Sinjai: Syakkaruddu'

EkonomiSunting

Sebagian besar warga berprofesi sebagai petani. Profesi lain yang digeluti adalah peternak, PNS dan karyawan swasta, serta pedagang.

Desa Baru sejak lama populer di Kabupaten Sinjai sebagai penghasil buah-buahan berkualitas unggul, utamanya langsat, rambutan, dan durian. Sebelum boomingnya budidaya buah unggul di seluruh Sinjai di awal tahun 2000-an, nama lassa' (langsat) Ba'nyira menjadi label jaminan mutu langsat terbaik yang ada di pasaran Sinjai. Ba'nyira adalah salah satu dusun di desa ini yang menjadi tempat cikal bakal sentra buah yang selalu menjadi primadona warga dari seluruh penjuru kabupaten di setiap musim buah.

Selain itu, desa Baru juga bertumpu pada komoditas:

  • Cengkih
  • Lada
  • Kopi
  • Padi
  • Jagung
  • Vanili
  • Nilam
  • Kakao
  • Durian
  • Rambutan
  • Kelapa
  • Sapi
  • Kambing
  • Ayam kampung

Bahkan, di lereng gunung Ba'nyira, ratusan jiwa memenuhi kebutuhan hidup mereka dari hasil pertambangan batu andesit.

Flora dan FaunaSunting

Secara umum di kawasan pegunungan dapat ditemukan aneka flora khas hutan hujan tropis berupa pohon jati, bambu, ki hujan, kemiri, dll.

Sementara beberapa fauna menunjukkan penurunan populasi yang signifikan seperti kepodang, nuri, dan rangkok. Pada tahun 90-an masih mudah ditemukan sapi liar di pegunungan. Namun saat ini habitatnya makin langka jika belum punah.

Aktivitas berburu celeng saat ini secara rutin dilakukan untuk mengantisipasi melonjaknya populasi hama tersebut.