Dyah Raṇawijaya

(Dialihkan dari Bhre Kertabhumi)

Dyah Raṇawijaya adalah raja terakhir Majapahit yang memerintah tahun 1478—1498, dengan ibu kota di Daha.[1] Namanya dikenal melalui Prasasti Jiyu I, Prasasti Petak, Serat Pararaton, Kakawin Banawa Sekar, Suma Oriental, Babad Tanah Jawi, Serat Kanda dan Serat Pranitiradya.

Dyah Raṇawijaya
Girindrawardhana
Illustration of Dyah Ranawijaya.jpg
Ilustrasi Dyah Raṇawijaya
Maharaja Majapahit
Berkuasa Majapahit 1478—1498
PendahuluDyah Suraprabhawa
PatihMahodara (Amdura/Udra)
Berkuasa1451—1478
LahirDyah Raṇawijaya
Nama takhta
Paduka Śrī Maharaja Śrī Wilwatiktapura Janggala Kaḍiri (Prasasti Jiyu I)
Nama anumerta
Bhaṭāra Prabhu Girīndrawardhana (Prasasti Pĕṭak)
Prabhu Nātha Śrī Girīndrawardhana (Prasasti Jiyu I)

GelarSunting

Seorang raja dalam tradisi Majapahit memiliki gelar kerajaan dan nama muda yang dicirikan dengan penggunaan gelar kebangsawanan atau abhiseka 'Dyah', terutama berlaku untuk tokoh laki-laki dan perempuan.

Sedangkan gelar Bhre merujuk kepada bangsawan yang memimpin atas beberapa kawasan tertentu atau disebut "Mancanagara", jika sekarang ini istilah tersebut setingkat provinsi. Daerah ini diperintah oleh uparaja yang disebut Paduka Bhaṭāra yang bergelar 'Bhre', merupakan singkatan dari Bhra i atau Bhaṭāra ring. Gelar ini adalah gelar tertinggi bangsawan kerajaan. Biasanya posisi ini hanyalah untuk kerabat dekat raja. Tugas mereka adalah untuk mengelola daerah, memungut pajak, dan mengirimkan upeti ke pusat, dan mengelola pertahanan di daerah perbatasan.

IdentifikasiSunting

Brawijaya adalah nama raja terakhir Majapahit yang dikenal dalam sumber non-prasasti, seperti Babad Tanah Jawi, Serat Kanda, Serat Pranitiradya, dan Serat Darmagandhul. Nama ini sangat populer dalam masyarakat Jawa.

Pada tahun 1513 Tomé Pires dari Portugal mengunjungi Jawa dan mencatat dalam Suma Oriental nama raja saat itu adalah Batara Vojyaya atau Batara Vigiaja yang istananya terletak di Dayo, ungkapan tersebut merupakan ejaan Portugis untuk Bhaṭāra Wijaya yang bertakhta di Daha (sekarang Kediri).[1] Dengan demikian, nama Bhaṭāra Wijaya yang dicatat Tomé Pires sebagai Batara Vojyaya atau Batara Vigiaja di tahun 1513 sama dengan Bhaṭāra Prabhu Dyah Raṇawijaya yang mengeluarkan prasasti Pĕṭak dan Jiyu di tahun 1486.[2]

Menurut Tomé Pires, saat itu Dyah Raṇawijaya hanya sebagai raja simbol belaka, karena yang berkuasa atas negara adalah Guste Pate Amdura (ejaan Portugis untuk Gusti Patih Mahodara). Berita ini diperkuat oleh catatan Duarte Barbosa dari Italia yang menyebutkan pada tahun 1518 yang berkuasa atas Jawa pedalaman bernama Pate Udra.

Berdasarkan Prasasti Jiyu I diketahui Dyah Ranawijaya adalah raja terakhir yang berkuasa atas Wilwatiktapura (Majapahit), menurut catatan Tomé Pires (1513) ibu kota kerajaannya terletak di Dayo (ejaan Portugis untuk Daha). Sementara itu, naskah lokal Jawa yang berjudul Babad Sĕngkala mencatat Daha baru bisa ditaklukkan oleh Dĕmak pada tahun 1527. Saat itu yang menjadi raja Dĕmak adalah Sultan Trenggana putra Raden Patah.

Masa Akhir MajapahitSunting

Prasasti Jiyu I juga menyebutkan bahwa Girīndrawardhana Dyah Raṇawijaya adalah raja yang berkuasa atas Wilwatiktapura (nama lain Majapahit), Janggala, dan Kaḍiri.[2]

Pada tahun 1513 saat Tomé Pires mengunjungi Jawa, ibu kota sudah pindah ke Dayo (ejaan Portugis untuk Daha). Saat itu raja sudah tidak berkuasa penuh. Dyah Raṇawijaya hanya sebagai raja simbol belaka. Yang menjalankan roda pemerintahan adalah Guste Pate (ejaan Portugis untuk Gusti Patih) yang sebelumnya dikenal dengan nama Pate Amdura (ejaan Portugis untuk Patih Mahodara).[1] Cerita ini diperkuat oleh catatan Duarte Barbosa dari Italia yang menyebutkan pada tahun 1518 yang berkuasa atas Jawa pedalaman bernama Pate Udra (Patih Udara). Ia memerintah segala aspek. Ia menggenggam raja di tangannya, bahkan berhak memberikan perintah. Sang raja sudah tidak memiliki suara dalam hal apa pun. Rakyat sudah kehilangan kepercayaan kepada raja karena kecewa telah kehilangan sebagian besar tanah mereka.

Tomé Pires (1513) mencatat sering terjadi peperangan antara Pate Amdura (ejaan Portugis untuk Patih Mahodara) melawan persekutuan para pate (patih) pesisir utara yang dipimpin Pate Rodim dari Demaa (ejaan Portugis untuk Demak). Pate Rodim dan para pate yang beragama Islam itu membentuk aliansi melawan Daha. Meskipun demikian, tidak semua pate yang beragama Islam mendukung Pate Rodim. Ada seorang bernama Pate Vira dari Tuban yang meskipun muslim tetapi mendukung Guste Pate di Daha. Pate Vira ini adalah narasumber Tomé Pires mengenai kondisi politik di Jawa saat itu.[1]

Ketika Tomé Pires datang ke Jawa (1513), peperangan terjadi antara Daha melawan Demak. Terkadang Demak yang menyerang dahulu, kadang Daha yang ganti menyerang. Pihak Daha selaku penerus Majapahit ingin merebut kembali deretan kota pelabuhan utara yang dikuasai Dĕmak. Hanya Tuban saja di wilayah pantura yang masih setia kepada Daha, sedangkan Surabaya kadang melawan Daha, kadang menjadi kawan.[1]

Pada tahun 1522 penulis Italia bernama Antonio Pigaffeta mendapat keterangan dari para pelaut lainnya, bahwa ada kota besar di Jawa bernama Magepaher yang rajanya bernama Pati Unus telah meninggal. Menurut catatan Tomé Pires di tahun 1513 Pate Unus adalah pate yang berkuasa di Japara, yang merupakan pate Islam terbesar kedua sesudah Pate Rodim raja Demak. Jika keterangan ini benar, maka Pate Udra (Patih Mahodara) patih yang berkuasa di Daha telah dikalahkan oleh Pate Unus sesudah tahun 1518, sebelum tahun 1522.

Sementara itu, Babad Sĕngkala mencatat Tuban dan Daha (sekarang Kediri) baru bisa ditaklukkan oleh Demak pada tahun 1527. Saat itu yang menjadi raja Dĕmak adalah Sultan Trenggana putra Raden Patah.

ReferensiSunting

  1. ^ a b c d e Tomé Pires (2015). Suma Oriental: Perjalanan dari Laut Merah ke Cina & Buku Francisco Rodrigues (penyunting, Armando Cortesao; penerjemah ed. Indonesia, Adrian Perkasa dan Anggita Pramesti). Yogyakarta: Ombak. ISBN 978-602-258-246-5. 
  2. ^ a b Hasan Djafar (1978). Girīndrawarddhana: beberapa masalah Majapahit akhir. Jakarta: Yayasan Dana Pendidikan Buddhis Nalanda. ISBN 978-602-258-246-5. 

KepustakaanSunting

  • Babad Majapahit dan Para Wali (Jilid 3). 1989. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah
  • Babad Tanah Jawi. 2007. (terj.). Yogyakarta: Narasi
  • H.J. de Graaf dan T.H. Pigeaud. 2001. Kerajaan Islam Pertama di Jawa. Terj. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti
  • J.L.A. Brandes, 1897, Pararaton (Ken Arok) of het boek der Koningen van Tumapěl en van Majapahit. Uitgegeven en toegelicht. Batavia: Albrecht; 's Hage: Nijhoff. VBG 49.1.
  • Poesponegoro & Notosusanto (ed.). 1990. Sejarah Nasional Indonesia Jilid II. Jakarta: Balai Pustaka.
  • Slamet Muljana. 2005. Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara (terbitan ulang 1968). Yogyakarta: LKIS


Didahului oleh:
Dyah Suraprabhawa
Raja Majapahit
1478—1527
Diteruskan oleh:
-