Buka menu utama

Ajatappareng adalah sebuah kawasan di bagian barat Sulawesi Selatan yang meliputi wilayah historis dari persekutuan lima kerajaan kecil: Sidenreng, Suppa, Rappang, Sawitto, dan Alitta. Persekutuan lima kerajaan ini dibentuk pada abad ke-16 sebagai respons terhadap meningkatnya pengaruh Gowa-Tallo di selatan dan Tellumpoccoe—yang melibatkan tiga kerajaan Bugis (Bone, Wajo, dan Soppeng)—di timur.[1] Ajatappareng menjadi kekuatan yang berpengaruh di Sulawesi Selatan hingga kemundurannya pada abad ke-17. Bekas konfederasi ini kini menjadi bagian dari beberapa kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan.

Latar belakangSunting

 
Nelayan di Danau Tempe pada tahun 1940-an

Makna Ajatappareng dalam bahasa Bugis adalah "(sebelah) barat danau";[2] danau yang dimaksud adalah Danau Tempe, Danau Sidenreng, dan Danau Buaya di bagian tengah Sulawesi Selatan.[3] Jangkauan geografis Ajatappareng meliputi wilayah modern empat kabupaten dan satu kotamadya.[4] Wilayah bekas Sawitto dan Alitta kini menjadi bagian dari Kabupaten Pinrang; Sidenreng dan Rappang membentuk Kabupaten Sidenreng Rappang serta kecamatan Maiwa, Enrekang; sementara wilayah Suppa kini terpecah antara sebagian daerah Pinrang, sepotong wilayah Barru, serta keseluruhan Kota Parepare.[4] Ajatappareng memiliki bentang alam yang beragam, mulai dari perbukitan di utara hingga dataran hijau yang subur di bagian tengah dan selatan.[4] Wilayah ini juga dialiri oleh berbagai sungai yang memberikan air untuk irigasi pertanian padi lahan basah. Keadaan alam yang menguntungkan ini menjadikan Ajatappareng salah satu penghasil beras utama di Sulawesi Selatan.[4] Seorang penjelajah Portugis yang mengunjungi Sidenreng pada tahun 1540-an menyebutkan bahwa negeri tersebut kaya akan beras dan hasil tani lainnya.[3][4]

Sejak abad ke-13, masyarakat Sulawesi Selatan mulai mengelompok menjadi chiefdom-chiefdom (Bugis: wanua[5]) kecil yang berbasiskan pertanian intensif, termasuk di wilayah Ajatappareng.[6] Menurut catatan lontara, negeri Sidenreng dan Rappang didirikan tak lama setelah Kerajaan Bone berdiri pada sekitar tahun 1300-an.[7] Kedua kerajaan ini pada dasarnya merupakan negara agraris yang berbasis pada pertanian padi sawah, berkebalikan dengan Suppa yang berada di wilayah pesisir dan menggantungkan ekonominya pada perdagangan.[8] Pertumbuhan awal kerajaan ini dibuktikan dengan temuan arkeologis berupa temuan pecahan keramik, yang sebagian besarnya diperkirakan berasal dari dinasti Ming pada abad ke-15 dan ke-16.[8]

Pembentukan konfederasiSunting

 
Peta geopolitik Sulawesi Selatan sekitar tahun 1590. Konfederasi Ajatappareng ditandai dengan warna kuning.

Penaklukan Melaka oleh Portugis pada tahun 1511 menyebabkan beralihnya sebagian besar pedagang, terutama pedagang Muslim, ke bandar-bandar baru yang bebas dari pengaruh Eropa. Termasuk di antaranya bandar-bandar di bagian barat jazirah Sulawesi Selatan, seperti Siang, Tallo, Somba Opu, dan Bacukiki (Suppa).[8][9]

Sebagai pusat niaga, Suppa merupakan salah satu pemain kunci di Ajatappareng, dan mungkin juga merupakan pemrakarsa persekutuan antarkerajaan di wilayah tersebut.[3][10] Menurut sumber lisan, konfederasi ini dipelopori oleh datu Suppa ketujuh Lapancaitana, yang sekaligus merupakan penguasa Sawitto dan Rappang.[8] Namun sumber lain menyebut bahwa penguasa Suppa yang menjadi pelopor persekutuan adalah datu keempat La Makkarawi (versi lain menyebutkan La Makaraie), bersama-sama dengan Lapaleteang dari Sawitto, Lapateddungi dari Sidenreng, serta Lapakallongi dari Rappang yang merangkap sebagai wakil Alitta.[11][12][13] Konfederasi ini didirikan pada saat yang sama dengan atau sebelum pembentukan persekutuan Tellumpoccoe; beberapa sumber menyebut 1523,[a] 1540, hingga 1582 sebagai tahun pembentukan konfederasi.[11][12][14]

Konfederasi ini dikenal dengan nama Limaé Ajatappareng ("Lima Ajatappareng"), dicirikan dalam ikrar pembentukan sebagai "satu rumah lima kamarnya," yang ditafsirkan sebagai satu bangsa dengan lima anggota konfederasi.[12] Ajatappareng berkembang menjadi kekuatan politik yang berpengaruh besar di Sulawesi, menggunakan kekuatan maritimnya untuk menyokong Suppa sebagai bandar niaga utama.[1][15] Sumber-sumber lontara menyebutkan bahwa Suppa dan Sawitto pernah menundukkan, atau setidaknya menyerang, wilayah Leworeng, Lemo-Lemo, Bulu Kapa, Bonto-Bonto, Bantaeng, Segeri, Passokreng, Baroko, Toraja, Mamuju, Kaili, Kali dan Toli-Toli.[1][15]

KemunduranSunting

Kebangkitan Gowa pada pertengahan abad ke-16 menggoyahkan pengaruh Suppa dan Sawitto di pesisir barat Sulawesi.[16] Kronik Gowa mencatat bahwa penguasa Gowa Tunipalangga (memerintah 1546–1565) pernah menyerbu Suppa, Sawitto, dan Alitta serta menawan para bangsawannya.[16] Sejarawan Stephen C. Druce menyebut bahwa penyerbuan ini mengakhiri persaingan kekuasaan di pesisir barat Sulawesi Selatan, serta mengukuhkan posisi Gowa sebagai kekuatan utama di kawasan tersebut.[17] Walaupun Sidenreng dan Rappang sempat bersekutu dengan Gowa demi mempertahankan kedaulatan mereka, pengaruh keduanya semakin memudar, dan pada tahun 1609, seluruh wilayah Ajatappareng telah ditaklukkan oleh Gowa.[17]

Pengaruh bandar-bandar di wilayah Ajatappareng semakin melemah setelah jatuhnya Makassar ke VOC, diikuti dengan penerapan monopoli dagang seiring berlakunya Perjanjian Bungaya. Suppa dan Sawitto, yang pada saat itu telah menjadi vasal dari Gowa-Tallo, terpaksa mengikuti perjanjian dan mengalihkan segala bentuk perdagangan ke bandar Makassar yang dikuasai VOC.[18] Bukti-bukti arkeologis juga menunjukkan berkurangnya jumlah keramik di wilayah Ajatappareng sejak akhir abad ke-17.[11]

CatatanSunting

  1. ^ Analisis ini didasarkan pada catatan Lontara Bacukiki yang menyatakan bahwa konfederasi ini didirikan dua belas tahun setelah kejatuhan Melaka.

RujukanSunting

  1. ^ a b c Druce 2009, hlm. 233–234
  2. ^ Druce 2009, hlm. 1
  3. ^ a b c Latif et. al. 2012, hlm. 96
  4. ^ a b c d e Druce 2009, hlm. 23–24
  5. ^ Druce 2009, hlm. 165
  6. ^ Druce 2009, hlm. 203, 213
  7. ^ Muhaeminah & Makmur 2015, hlm. 132
  8. ^ a b c d Muhaeminah & Makmur 2015, hlm. 133–134
  9. ^ Druce 2009, hlm. 204
  10. ^ Amir 2013, hlm. 52
  11. ^ a b c Muhaeminah & Makmur 2015, hlm. 135
  12. ^ a b c Druce 2009, hlm. 167
  13. ^ Latif et. al. 2012, hlm. 97
  14. ^ Amir 2013, hlm. 85
  15. ^ a b Amir 2013, hlm. 104–105
  16. ^ a b Druce 2009, hlm. 241–242
  17. ^ a b Druce 2009, hlm. 244–247
  18. ^ Amir 2013, hlm. 114

SumberSunting