William Sang Penakluk

(Dialihkan dari William I dari Inggris)

William I[a] (ca. 1028[1] – 9 September 1087), yang digelari William Sang Penakluk dan dijuluki William Si Haram Jadah,[2][b] adalah Raja Inggris pertama dari bangsa Norman. William menjadi Raja Inggris sejak tahun 1066 sampai mangkat pada tahun 1087. Ia masih terhitung keturunan Rollo, dan menyandang jabatan Adipati Normandia sejak tahun 1035. Melalui perjuangan panjang, William berhasil menegakkan kedaulatannya atas Normandia pada tahun 1060. Enam tahun kemudian, ia memimpin bangsa Norman menggempur dan menaklukkan Inggris. Sampai akhir hayatnya, William terus-menerus berjuang menegakkan kedaulatannya atas Inggris dan menanggulangi masalah-masalah yang ditimbulkan putra sulungnya, Robert Courteheuse.

William Sang Penakluk
Bayeuxtapestrywilliamliftshishelm.jpg
William menyingkap ketopong agar jelas terlihat masih bernyawa, gambar adegan Pertempuran Hastings pada
Permadani Bayeux
Raja Inggris
Berkuasa25 Desember 1066 –
9 September 1087
Penobatan25 Desember 1066
PendahuluEdgar Ætheling
(tidak dinobatkan)
Harold Putra Godwin
(dinobatkan)
PenerusWilliam Rufus
Adipati Normandia
Berkuasa3 Juli 1035 – 9 September 1087
PendahuluRobert Gemilang
PenerusRobert Courteheuse
LahirSekitar tahun 1028[1]
Falaise, Kadipaten Normandia
Wafat9 September 1087
(kira-kira pada umur 59 tahun)
Priorat Santo Gervasius, Rouen, Kadipaten Normandia
Pemakaman
WangsaNormandia
AyahRobert Gemilang
IbuHerleva dari Falaise
PasanganMathilde dari Flandria
(kawin 1051/1052; mangkat 1083)
Anak
Rincian

William terlahir sebagai anak haram, putra Robert Gemilang, Adipati Normandia, dari gundiknya yang bernama Herleva. Status selaku anak haram maupun usia yang masih sangat muda menjadi sumber masalah saat William resmi menyandang jabatan Adipati Normandia sepeninggal ayahnya, demikian pula anarki yang merongrong tahun-tahun pertama masa pemerintahannya. Para menak Norman saling memerangi sejak William masih kanak-kanak sampai akil balig, baik demi mendapatkan hak asuh atas dirinya, maupun demi kepentingan pribadi masing-masing. William berhasil memadamkan pemberontakan pada tahun 1047, dan mulai berjuang menegakkan kedaulatannya atas Kadipaten Normandia sampai tahun 1060. Perkawinannya dengan Mathilde, anak perempuan Bupati Flandria, pada era 1050-an menjadi penggalang dukungan dari Flandria bagi perjuangannya. Sampai dengan hari perkawinannya, William sudah berhasil menempatkan para pendukungnya pada jabatan-jabatan uskup dan abas di Normandia. Perjuangan menegakkan kedaulatan atas Normandia merangsang William untuk terus memperluas wawasan dan pengalaman tempurnya. Pada tahun 1062, ia merebut Kabupaten Maine, jiran Kadipaten Normandia.

Pada era 1050-an dan awal era 1060-an, nama William mencuat sebagai salah seorang calon Raja Inggris, karena Raja Inggris yang bertahana ketika itu adalah Edward Pengaku Iman, saudara sepupu ayahnya yang tidak kunjung dikaruniai keturunan. Calon Raja Inggris selain William adalah Harold Putra Godwin, earl berkebangsaan Inggris yang ditunjuk menjadi raja pengganti oleh Edward Pengaku Iman sebelum tutup usia pada bulan Januari 1066. Dengan alasan bahwa Edward Pengaku Iman sudah berjanji mewariskan takhta kepadanya, dan bahwa Harold Putra Godwin sudah bersumpah mendukungnya menjadi ahli waris takhta, William menyiapkan satu armada besar dan menginvasi Inggris pada bulan September 1066. Ia mengalahkan dan menewaskan Harold dalam pertempuran Hastings pada tanggal 14 Oktober 1066. Sesudah susah payah berjuang, William akhirnya dinobatkan menjadi Raja Inggris pada hari Natal tahun 1066 di London. Ia masih sempat membenahi urusan pemerintahan Inggris sebelum pulang ke Normandia pada awal tahun 1067. Meskipun beberapa kali dirongrong pemberontakan, kedaulatan William atas Inggris akhirnya dapat ditegakkan sepenuhnya pada tahun 1075, sehingga ia dapat lebih sering bermastautin di daratan Eropa.

Pada tahun-tahun menjelang akhir hayatnya, William direpotkan berbagai masalah yang mengganggu ketenteraman negeri-negeri kekuasaannya di daratan Eropa, masalah-masalah yang ditimbulkan putranya, Robert Courtehose, maupun ancaman invasi bangsa Dani atas Inggris. Pada tahun 1086, William memerintahkan penyusunan Kitab Domesday, daftar seluruh tanah pertuanan feodal di Inggris berikut nama tuan tanahnya sebelum invasi bangsa Norman maupun nama tuan tanah yang ada pada saat penyusunan daftar. Ia mangkat pada bulan September 1087, selagi memimpin kampanye militer di kawasan utara Prancis. Jenazahnya dikuburkan di Caen. Masa pemerintahannya di Inggris ditandai pembangunan puri-puri, pengukuhan para petinggi Norman menjadi kaum menak baru di negeri itu, dan kemunculan muka-muka baru di jajaran rohaniwan Inggris. Alih-alih mempersatukan negeri-negeri kekuasaannya menjadi sebuah kekaisaran, William justru menyelenggarakan pemerintahan tiap-tiap negeri secara terpisah. Sesudah ia mangkat, wilayah kedaulatannya dipecah. Takhta Kadipaten Normandia diwarisi Robert Courtehose, sementara takhta Kerajaan Inggris diwarisi William Rufus.

Latar belakangSunting

Bangsa Utara pertama kali menyerbu daerah yang kelak menjadi Normandia pada abad ke-8. Bangsa Skandinavia sudah mendirikan permukiman permanen di Prancis sebelum tahun 911, yakni tahun ketika Rollo, salah seorang pemimpin masyarakat Viking, diperkenankan Raja Prancis, Karel Polos, menjadi penguasa Kabupaten Rouen. Kemudian hari, Rouen dan sekitarnya menjadi jantung wilayah Kadipaten Normandia.[3] Bangsa Skandinavia mungkin berpangkalan di Normandia saat kembali menyerbu Inggris pada akhir abad ke-10. Kenyataan ini meretakkan hubungan baik antara Kerajaan Inggris dan Kadipaten Normandia.[4] Untuk memulihkan keretakan tersebut, Raja Æthelred Kurang Petuah mempersunting Emma, adik Adipati Richard II, menjadi istri keduanya pada tahun 1002.[5]

Serbuan bangsa Dani ke Inggris terus berlanjut. Æthelred meminta pertolongan Adipati Richard ketika memboyong keluarganya ke Normandia pada tahun 1013, sesudah disingkirkan dari Inggris oleh Svend Janggut Cukit, Raja Denmark. Kemangkatan Svend pada tahun 1014 membuka peluang bagi Æthelred untuk pulang ke Inggris, kendati ditentang Knut, putra Svend. Æthelred mangkat tanpa diduga-duga pada tahun 1016, dan Knut menjadi Raja Inggris. Kedua putra Æthelred, yakni Edward dan Alfred, diasingkan ke Normandia, sementara Emma diperistri Raja Knut.[6]

Sesudah Knut mangkat pada tahun 1035, takhta Kerajaan Inggris jatuh ke tangan Harold Kaki Terwelu, putra Knut dari istri pertama, sementara Harthacnut, putra Knut dari perkawinan dengan Emma, menjadi Raja Denmark. Inggris masih terus bergejolak. Kepulangan Alfred ke Inggris pada tahun 1036 untuk menjenguk ibunya, dan mungkin pula untuk menggugat keabsahan jabatan Harold, ternyata berujung maut. Salah satu riwayat menuding Godwin, Earl Wessex, sebagai orang yang bertanggung jawab atas kematian Alfred, tetapi riwayat-riwayat lain menyalahkan Harold. Emma hijrah ke pengasingan di Flandria sampai Harthacnut dinobatkan menjadi Raja Inggris sepeninggal Harold pada tahun 1040. Edward pulang ke Ingris sesudah Harthacnut, adik seibunya, naik takhta. Harthacnut mangkat pada bulan Juni 1042, dan Edward dinobatkan menjadi Raja Inggris menggantikannya.[7][c]

Masa mudaSunting

 
Château de Falaise di Falaise, Normandia Bawah, Prancis, berdiri di lokasi bekas bangunan tempat William dilahirkan

William lahir pada tahun 1027 atau 1028 di Falaise, Kadipaten Normandia, mungkin sekali menjelang akhir tahun 1028.[1][8][d] Ia adalah putra tunggal Adipati Robert Gemilang, putra Adipati Richard II.[e] Ibunya adalah Herleva, anak perempuan Fulbert dari Falaise, seorang penyamak kulit atau pemulasara jenazah.[9] Mungkin sekali Herleva hidup bersama Adipati Robert selayaknya pasangan suami istri, meskipun tanpa ikatan perkawinan yang sah.[2] Kemudian hari Herleva kawin dengan Herluin de Conteville dan dikaruniai dua orang anak laki-laki (Odo, Uskup Bayeux, dan Robert, Bupati Mortain) serta seorang anak perempuan yang tidak diketahui namanya.[f] Walter, salah seorang saudara kandung Herleva, adalah pendukung dan pelindung William sebelum akil balig.[9][g] Adipati Robert Gemilang juga dikaruniai seorang anak perempuan yang diberi nama Adelaide, hasil hubungan luar nikah dengan gundik lain.[12]

Robert Gemilang menjadi Adipati Normandia menggantikan abangnya, Richard III, pada tanggal 6 Agustus 1027.[1] Perseteruan Robert dan Richard seputar jabatan adipati dan kematian Richard secara mendadak membuat sejumlah penulis tawarikh mendakwa Robert sebagai pembunuh Richard. Dakwaan ini mungkin saja benar, tetapi tidak ada buktinya.[13] Kadipaten Normandia dilanda kemelut ketika keluarga-keluarga menak menjarah harta benda Gereja, disusul serangan Alain III, Adipati Britania Kecil. Pada tahun 1031, Robert berhasil menghimpun cukup banyak pendukung dari kalangan menak Norman. Banyak di antara mereka kelak tampil mengemuka pada masa hidup William, misalnya Robert, Uskup Agung Rouen (paman Adipati Robert yang mula-mula sekubu dengan para penentangnya), Osbern (kemenakan Gunnor, istri Adipati Richard I), dan Gilbert, Bupati Brionne (cucu Adipati Richard I).[14] Sesudah menyandang jabatan adipati, Robert meneruskan pemberian santunan kepada Edward dan Alfred, putra-putra Raja Inggris yang hidup dalam pengasingan di kawasan utara Prancis.[2]

Ada indikasi bahwa Robert Gemilang pernah bertunangan dengan anak perempuan Raja Knut, tetapi tidak berlanjut ke pelaminan. Tidak jelas apakah William akan tetap mewarisi jabatan Adipati Normandia andaikata Robert dikaruniai seorang putra dari perkawinan yang sah. Adipati-adipati sebelumnya juga berstatus anak haram, dan pencantuman nama William bersama-sama dengan nama ayahnya dalam piagam-piagam keluaran kadipaten Normandia agaknya mengindikasikan bahwa William adalah orang yang paling berpeluang menjadi ahli waris Robert.[2] Pada tahun 1034, Adipati Robert memutuskan untuk berziarah ke Yerusalem. Alih-alih menuruti bujukan sejumlah pendukungnya agar urung berziarah, sang adipati malah mengumpulkan para menak Norman untuk bersidang pada bulan Januari 1035 dan memerintahkan mereka untuk berprasetia kepada William selaku ahli warisnya[2][15] sebelum ia berangkat ke Yerusalem. Adipati Robert Gemilang mangkat pada awal bulan Juli di Nikea, dalam perjalanan pulang ke Normandia.[15]

Menjadi Adipati NormandiaSunting

Mengatasi tantanganSunting

 
Diagram hubungan kekerabatan William. Nama bertanda "---" adalah nama kerabat yang menentang William. Nama bertanda "+++" adalah nama kerabat yang mendukung William. Nama bertanda "---" maupun "+++" adalah nama kerabat yang berubah sikap seiring berjalannya waktu.

William menghadapi berbagai tantangan saat resmi menyandang jabatan adipati, antara lain statusnya sebagai anak haram dan usianya yang masih sangat muda. Bukti yang ada mengindikasikan bahwa ia baru berumur tujuh atau delapan tahun saat itu.[16][17][h] Berkat dukungan paman ayahnya, yakni Uskup Agung Robert, dan Raja Prancis, Henri I, William dapat menjadi Adipati Normandia menggantikan mendiang ayahnya.[20] Dukungan yang ia berikan kepada putra-putra Raja Inggris di pengasingan untuk kembali ke tanah air mereka pada tahun 1036 menunjukkan bahwa para pelindung William berkeinginan melanjutkan kebijakan-kebijakan mendiang ayahnya.[2] Kematian Uskup Agung Robert pada bulan Maret 1037 membuat William kehilangan salah seorang pendukung utama, dan Kadipaten Normandia dilanda kemelut tidak lama kemudian.[20]

Anarki di Kadipaten Normandia baru berakhir pada tahun 1047,[21] dan hak mengasuh William menjadi incaran utama pihak-pihak yang bersaing memperebutkan kekuasaan. Mula-mula William diasuh Alain III, Adipati Britania Kecil. Sesudah Alain III mangkat pada akhir tahun 1039 atau bulan Oktober 1040, pengasuhan William diambil alih Gilbert, Bupati Brionne. Gilbert tewas terbunuh dalam hitungan bulan, dan hak asuh William beralih kepada Turchetil, yang juga tewas terbunuh tidak lama sesudah kematian Gilbert.[22] Pengampu hak asuh berikutnya, Osbern, tewas terbunuh pada awal era 1040-an di kamar tidur William ketika sang adipati cilik sedang terlelap. Kemudian hari muncul cerita bahwa Walter, saudara kandung ibu William, kadang-kadang harus menyembunyikan sang adipati cilik di rumah-rumah rakyat jelata,[23] meskipun cerita ini mungkin hanyalah selentingan yang dibesar-besarkan pujangga Ordericus Vitalis. Sejarawan Eleanor Searle berspekulasi bahwa William dibesarkan bersama-sama dengan ketiga saudara sepupunya yang kemudian hari menjadi orang-orang penting dalam perjalanan kariernya, yakni William Fitz Osbern, Roger de Beaumont, dan Roger de Montgomery.[24] Meskipun banyak yang saling memerangi demi kepentingan pribadi pada masa perwalian William, para menak Norman masih mengakui keabsahan pemerintah kadipaten, dan para pemuka agama juga mendukung William.[25]

 
Tugu peringatan di bekas lokasi Pertempuran Val-ès-Dunes

Raja Prancis, Henri I, tetap mendukung William.[26] Meskipun demikian, pada akhir tahun 1046, seteru-seteru William serempak mengobarkan pemberontakan di daerah Normandia Bawah, dipimpin oleh Gui dari Burgundia, yang didukung Nigel, Vicomte Cotentin, dan Ranulf, Vicomte Bessin. Menurut riwayat-riwayat yang mungkin bercampur legenda, pernah ada upaya untuk menangkap William di Valognes, tetapi sang adipati memanfaatkan kegelapan malam untuk meloloskan diri, lalu minta suaka kepada Raja Henri I.[27] Pada awal tahun 1047, Raja Henri I menyertai kepulangan William ke Normandia, dan membantunya memenangkan Pertempuran Val-ès-Dunes di dekat Caen. Sedikit sekali keterangan tertulis mengenai jalannya pertempuran ini.[28] Menurut catatan Guillaume de Poitiers, faktor penentu kemenangan adalah usaha dan kerja keras William sendiri, tetapi catatan-catatan yang lebih tua menegaskan bahwa kepemimpinan Raja Henri I dan peran serta para perwiranya adalah faktor-faktor yang tidak kalah penting.[2] Tidak lama seusai Pertempuran Val-ès-Dunes, William mengambil alih kendali pemerintahan Kadipaten Normandia, dan memberlakukan Gencatan Senjata Allah di seluruh wilayah Kadipaten Normandia. Gencatan Senjata Allah adalah wujud usaha William untuk membatasi perang dan kekerasan dengan cara menetapkan hari-hari tertentu dalam setahun sebagai hari bebas berperang.[29] Meskipun Pertempuran Val-ès-Dunes merupakan titik balik dalam perjuangan menegakkan kedaulatannya atas Kadipaten Normandia, William masih harus berjuang menundukkan para menak Norman. Perang terus berkecamuk dari tahun 1047 sampai 1054, dan krisis terus berlanjut sampai tahun 1060.[30]

Mengukuhkan kekuasaanSunting

Usaha William berikutnya adalah menundukkan Gui dari Burgundia. Ia maju mengepung puri pertahanan Gui di Brionne, dan lewat perjuangan panjang akhirnya dapat menyingkirkannya ke pembuangan pada tahun 1050.[31] Demi membendung sepak terjang Bupati Anjou, Geoffrey Martel,[32] William dan Raja Henri I bersatu menggempurnya. Inilah kerja sama terakhir yang diketahui antara William dan Raja Henri. Di luar dari keberhasilan merebut salah satu benteng Bupati Anjou, hanya sedikit yang dapat mereka capai.[33] Geoffrey berusaha mendaulat Maine, khususnya sesudah kemangkatan Bupati Maine, Hugues IV, pada tahun 1051. Unsur utama penguasaan wilayah Kabupaten Maine adalah kepemilikan keluarga Bellême atas kota Bellême di perbatasan Maine-Normandia, serta benteng-benteng di Alençon dan Domfront. Bellême bertuan kepada Raja Prancis, tetapi Domfort bertuan kepada Geoffrey Martel, dan Alençon bertuan kepada William. Lokasi tanah pertuanan feodal keluarga Bellême sangat stategis, karena mecakup lahan-lahan yang terletak di wilayah kekuasaan Raja Prancis, Bupati Maine, maupun Adipati Normandia. Situasi ini memungkinkan mereka untuk mengadu domba ketiga penguasa tersebut dan leluasa mengatur tanah pertuanan mereka seakan-akan sebuah swapraja.[32]

 
William (tengah) bersama adik-adik seibunya, Odo (kiri) dan Robert (kanan), gambar sulaman pada Permadani Bayeux

Geoffrey Martel menduduki Maine sesudah kemangkatan Hugues, Bupati Maine. William dan Raja Henri menentang langkah Geoffrey, dan akhirnya mampu memaksanya angkat kaki dari Maine. Dalam proses penyingkiran Geoffrey, William berhasil mendaulat benteng-benteng keluarga Bellême di Alençon dan Domfort. Dengan demikian ia dapat menekan keluarga itu agar tunduk di bawah pemerintahannya dan senantiasa menyelaraskan kebijakan mereka dengan kepentingan-kepentingan bangsa Norman.[34] Akan tetapi pada tahun 1052, Raja Henri dan Geoffrey Martel bersatu memerangi William, tepat ketika sejumlah menak Norman mulai menentang kekuasaan William yang kian meningkat. Perubahan sikap Raja Henri mungkin sekali didorong oleh keinginan untuk mempertahankan dominasinya atas Normandia, yang mulai terancam sirna seiring kian kukuhnya kekuasaan William atas wilayah kadipatennya itu.[35] Sepanjang tahun 1053, William sibuk bertempur melawan menak-menak bawahannya sendiri,[36] dan melawan Uskup Agung Rouen yang baru, Mauger.[37] Pada bulan Februari 1054, Raja Prancis dan para menak Norman yang membangkang melancarkan invasi ganda terhadap Kadipaten Normandia. Raja Henri memimpin pasukan utama bergerak melintasi Kabupaten Évreux, sementara satu pasukan lagi di bawah pimpinan adik sang raja, Odo, menginvasi kawasan timur Normandia.[38]

Langkah William dalam menghadapi invasi tersebut adalah membagi angkatan bersenjatanya menjadi dua pasukan. Pasukan pertama, yang ia pimpin sendiri, dikerahkan untuk melawan gempuran Raja Henri, sementara pasukan kedua dikerahkan untuk mematahkan serangan Odo. Pasukan kedua beranggotakan pejuang-pejuang Norman yang kemudian hari menjadi pendukung setia William, misalnya Robert Bupati Eu, Walter Giffard, Roger de Mortemer, dan William de Warenne. Pasukan kedua mengalahkan pasukan lawan dalam Pertempuran Mortemer. Selain mengakhiri kedua invasi tersebut, Pertempuran Mortemer juga memberi peluang bagi kaum rohaniwan pendukung William untuk melengserkan Uskup Agung Mauger. Dengan demikian Pertempuran Mortemer menjadi tonggak sejarah penegakan kedaulatan William atas Kadipaten Normandia,[39] kendati perseteruannya dengan Raja Prancis dan Bupati Anjou berlanjut sampai tahun 1060.[40] Raja Henri bersama Geoffrey sekali lagi menginvasi Normandia pada tahun 1057, tetapi kalah melawan William dalam Pertempuran Varaville. Inilah invasi terakhir atas Kadipaten Normandia selama masa hidup William.[41] Pada tahun 1058, William menginvasi Kabupaten Dreux dan merebut Tillières-sur-Avre serta Thimert. Raja Henri berusaha melawan invasi William, tetapi Pengepungan Thimert berlangsung dua tahun lamanya sampai Raja Henri mangkat.[41] Kematian Bupati Geoffrey dan Raja Henri pada tahun 1060 mengekalkan pergeseran kekuasaan ke pihak William.[41]

 
Tanda tangan William I dan Matilde berupa dua gambar salib besar yang dibubuhkan pada piagam Kesepakatan Winchester tahun 1072

Salah satu faktor yang mendukung perjuangan William adalah perkawinannya dengan Mathilde, anak perempuan Bupati Flandria, Baudouin V. Mereka dijodohkan pada tahun 1049, tetapi dilarang menjalin ikatan perkawinan oleh Paus Leo IX dalam Konsili Rheims pada bulan Oktober 1049.[i] Meskipun demikian, perkawinan William dan Mathilde akhirnya terlaksana pada era 1050-an,[43][j] mungkin sekali tanpa restu Sri Paus. Menurut salah satu sumber yang ditulis jauh kemudian hari dan tidak secara umum dianggap andal, restu Sri Paus baru turun pada tahun 1059. Meskipun demikian, menilik hubungan Normandia dan lembaga kepausan pada era 1050-an yang secara umum baik-baik saja, dan kunjungan kaum rohaniwan Normandia ke Roma pada tahun 1050 yang berjalan lancar tanpa gangguan, mungkin sekali restu Sri Paus sudah mereka dapatkan sebelum tahun 1059.[45] Restu Sri Paus atas perkawinan William dan Mathilde tampaknya didapatkan setelah pasangan tersebut bersedia membangun dua biara di Caen. Satu biara dibangun William dan satu lagi dibangun Mathilde.[46][k] Perkawinan dengan Mathilde benar-benar mengangkat derajat William, karena Flandria adalah salah satu swapraja yang lebih kuat di Prancis, dan masih berkerabat dengan keluarga kerajaan Prancis maupun kaisar-kaisar Jerman.[45] Para pujangga masa itu menganggap perkawinan pasangan William dan Mathilde, yang dikaruniai empat putra dan lima atau enam putri, sebagai perkawinan yang bertuah.[48]

Perawakan dan perangaiSunting

Tidak pernah ditemukan gambar rupa William yang sesungguhnya. Gambar-gambar William yang dibuat semasa hidupnya pada Permadani Bayeux, cap meterai pribadinya, dan uang logam keluarannya merupakan representasi-representasi konvensional yang dirancang sedemikian rupa untuk mempertegas kewenangannya.[49] Ada sejumlah keterangan tertulis yang menggambarkannya berbadan gempal dan bersuara parau. Tubuhnya sehat dan bugar sampai lanjut usia, kendati bertambah gemuk di masa tua.[50] Ia cukup kuat merentangkan busur-busur yang tidak dapat direntangkan orang-orang lain, dan besar staminanya.[49] Geoffrey Martel menggambarkannya sebagai seorang petarung dan penunggang kuda tanpa tanding.[51] Menilik tulang paha William, satu-satunya potongan yang tersisa ketika tulang-belulangnya dihancurkan, tinggi badannya diperkirakan mencapai 5 kaki 10 inci (1,78 m).[49]

Ada catatan tentang dua orang guru yang bertugas mendidik William secara privat pada tahun-tahun akhir era 1030-an dan awal era 1040-an, tetapi setinggi apa taraf pendidikan William tidaklah jelas. Ia tidak dikenal sebagai pengayom para pujangga, dan tidak banyak bukti yang menunjukkan bahwa ia mensponsori pendidikan atau kegiatan-kegiatan ilmiah lain.[2] Ordericus Vitalis mencatat bahwa William berusaha belajar bahasa Inggris Lama di masa tuanya, tetapi akhirnya menghentikannya karena tidak dapat meluangkan cukup waktu.[52] Tampaknya kegemaran utama William adalah berburu. Kehidupan berumah tangga yang ia bina bersama Matilde diduga cukup bahagia, dan tidak ada tanda-tanda bahwa ia pernah menyeleweng, seperti yang lumrah dilakukan para kepala monarki Abad Pertengahan. Para pujangga Abad Pertengahan mengecam William sebagai tokoh yang serakah dan lalim, tetapi semua orang yang sezaman dengannya memuji-muji kesalehannya.[2]

Ketatanegaraan Kadipaten NormandiaSunting

Ketatanegaraan Normandia pada masa pemerintahan William mirip dengan ketatanegaraan yang sudah diterapkan adipati-adipati sebelumnya, yakni semacam sistem tata usaha negara sederhana yang dibentuk di lingkungan rumah tangga istana kadipaten,[53] dan diselenggarakan oleh sekelompok pejabat yang terdiri atas para patih, para bentara, serta para hulubalang.[54] Sang adipati senantiasa bersafari ke daerah-daerah, mengesahkan piagam-piagam, dan mengumpulkan penerimaan negara.[55] Sebagian besar penerimaan negara bersumber dari pengusahaan lahan-lahan kadipaten, pungutan bea masuk, dan sejumlah kecil pajak. Pengumpulan penerimaan negara dilaksanakan oleh bagian perbendaharaan, salah satu jawatan di dalam struktur kepengurusan rumah tangga istana kadipaten.[54]

William membina hubungan akrab dengan kaum rohaniwan di kadipatennya. Ia menghadiri rapat-rapat pemuka agama dan mengangkat beberapa tokoh rohaniwan menjadi uskup di lingkungan bangsa Norman, misalnya Maurilius, Uskup Agung Rouen.[56] Tokoh rohaniwan penting lain yang ia angkat menjadi uskup adalah Odo, adik seibunya. Odo diangkat menjadi Uskup Bayeux pada tahun 1049 atau 1050.[2] William juga meminta nasihat dari para rohaniwan, antara lain Lanfranc, rohaniwan non-Norman yang menjadi salah seorang penasihat utama William dari lingkungan Gereja sejak tahun-tahun terakhir era 1040-an sampai ke era 1050-an dan 1060-an. William banyak bederma kepada Gereja.[56] Dari tahun 1035 sampai 1066, kaum menak Norman membangun sekurang-kurangnya 20 biara baru, termasuk 2 biara yang dibangun William di Caen. Prestasi ini menunjukkan pesatnya pemerataan tatanan hidup beragama di Kadipaten Normandia.[57]

Kepentingan di Inggris dan Eropa daratanSunting

Edward Pengaku Iman, Raja Inggris yang tidak kunjung dikaruniai keturunan, agaknya memilih William menjadi calon penggantinya pada tahun 1051.[58] William adalah cucu Adipati Richard II, paman Edward dari pihak ibu.[58]

 
Hubungan kekerabatan para ahli waris takhta Kerajaan Inggris yang bersengketa pada tahun 1066, dan pihak-pihak lain yang terlibat dalam sengketa tersebut. Nama raja-raja Inggris dicetak tebal.

Tawarikh Angli-Saksen versi "D" menyebutkan bahwa William berkunjung ke Inggris menjelang akhir tahun 1051, mungkin demi memperkuat kepastian statusnya selaku ahli waris takhta,[59] atau karena ingin mencoba meminta bala bantuan guna menuntaskan berbagai permasalahan yang sedang dihadapinya di Normandia.[60] Keterangan tersebut agaknya keliru, mengingat waktu itu William sedang sibuk berperang melawan Anjou. Apa pun niat Edward, mungkin sekali klaim waris William akan ditentang Godwin, Earl Wessex, anggota keluarga menak terkuat di Inggris.[59] Edward memperistri Edith, anak perempuan Godwin, pada tahun 1043, dan tampaknya Godwin adalah salah seorang pendukung utama klaim waris Edward atas takhta Kerajaan Inggris.[61] Akan tetapi pada tahun 1050, hubungan baik Edward dan Godwin mengalami keretakan, dan berbuntut pada sebuah krisis pada tahun 1051 yang mengakibatkan Godwin beserta keluarganya dibuang dari Inggris. Pada masa pembuangan inilah Edward mewarkan takhta Kerajaan Inggris kepada William.[62] Godwin pulang dari pembuangan pada tahun 1052 dengan dikawal angkatan bersenjata, dan membuat kesepakatan dengan Edward. Atas dasar kesepakatan tersebut, Edward mengizinkan Godwin dan keluarganya kembali menguasai tanah pertuanan mereka, dan mengganti Robert dari Jumièges, rohaniwan Norman yang diangkat Edward menjadi Uskup Agung Canterbury, dengan Stigand, Uskup Winchester.[63] Tidak satu pun sumber pustaka Inggris yang menyebutkan bahwa Uskup Agung Robert pernah diutus menghadap William untuk menyampaikan janji Edward untuk mewariskan takhta Kerajaan Inggris kepadanya. Dua sumber Normandia yang memuat keterangan tersebut, yakni karya tulis William dari Jumièges dan karya tulis Guillaume de Poitiers, tidak menyebut tanggal yang pasti dari kunjungan tersebut.[60]

Bupati Maine, Herbert II, mangkat pada tahun 1062. Karena sudah menjodohkan putranya, Robert Courteheuse, dengan saudari Herbert yang bernama Margaret, William pun mengklaim hak waris atas takhta Kabupaten Maine melalui putranya. Kaum menak Maine menentang klaim tersebut, tetapi William menginvasi Maine dan berhasil menguasai daerah itu pada tahun 1064.[64] William mengangkat seorang rohaniwan Norman menjadi Uskup Le Mans pada tahun 1065. Ia juga mengizinkan Robert Courteheuse untuk berprasetia kepada Geoffrey Berewok, Bupati Anjou yang baru.[65] Dengan demikian, garis perbatasan barat Normandia dapat dipastikan tidak akan diganggu gugat, tetapi garis perbatasan Normandia dengan Kadipaten Britania Kecil masih terus dipersengketakan. William menginvasi Britania Kecil pada tahun 1064, tetapi riwayatnya tidak diketahui secara jelas. Meskipun demikian, invasi yang dilancarkan William mampu menggoyahkan Britania Kecil, sehingga Adipati Conan II terpaksa memusatkan perhatiannya pada usaha penanggulangan masalah-masalah di dalam negeri alih-alih pada usaha ekspansi. Kemangkatan Adipati Conan pada tahun 1066 kian memperkukuh batas-batas wilayah Normandia. William juga memetik keuntungan dari kampanye militernya di Britania Kecil, karena sejumlah menak Breton berbalik mendukungnya. Kemudian hari, menak-menak Breton tersebut mendukung invasi atas negara Inggris pada tahun 1066.[66]

 
Gambar adegan dari Permadani Bayeux. Tulisan pada gambar tersebut mengindikasikan bahwa William memasok senjata kepada Harold ketika Harold berkunjung ke Eropa daratan pada tahun 1064.

Di Inggris, Earl Godwin mangkat pada tahun 1053, dan putra-putranya kian berkuasa. Harold Putra Godwin mengambil alih pemerintahan daerah Wessex, sementara Tostig Putra Godwin naik pangkat menjadi Earl Northumbria. Putra-putra Godwin lainnya dianugerahi jabatan Earl lebih belakangan. Gyrth Putra Godwin menjadi Earl Anglia Timur pada tahun 1057, sementara Leofwine Putra Godwin menjadi Earl Kent antara tahun 1055-1057.[67] Beberapa sumber mengklaim bahwa Harold ikut berpartisipasi dalam kampanye militer William di Britania Kecil pada tahun 1064 dan bersumpah akan mendukung klaim waris William atas takhta Kerajaan Inggris seusai kampanya militer tersebut,[65] tetapi tidak satu pun sumber Inggris yang memuat riwayat ini, dan kebenarannya pun tidak dapat dipastikan. Mungkin saja keterangan ini hanyalah propaganda Normandia untuk mendiskreditkan Harold, yang kian dipandang sebagai calon kuat penerus Raja Edward.[68] Sementara itu, calon penerus lainnya, Edward Orang Buangan, putra Edmund Lambung Besi, cucu Æthelred II, pulang ke Inggris pada tahun 1057. Meskipun wafat tidak lama sesudah pulang, ia membawa serta keluarganya, antara lain dua orang anak perempuan, Margaret dan Christina, serta seorang anak laki-laki, Edgar Ætheling.[69][l]

Pada tahun 1065, Northumbria memberontak melawan Tostig. Kaum pemberontak memilih Morcar, adik Edwin, Earl Mercia, menjadi earl baru menggantikan Tostig. Mungkin karena ingin mendapatkan dukungan Edwin dan Morcar atas pencalonan dirinya menjadi Raja Inggris, Harold mendukung kaum pemberontak dan membujuk Raja Edward untuk mengganti Tostig dengan Morcar. Tostig menjalani pengasingan di Flandria bersama istrinya, Judith, anak perempuan Baudouin IV, Bupati Flandria. Ketika itu Raja Edward sudah uzur, dan akhirnya mangkat pada tanggal 5 Januari 1066. Tidak jelas apa yang terjadi menjelang kemangkatan Edward. Menurut salah satu riwayat yang terdapat di dalam Vita Ædwardi Regis (Riwayat Hidup Raja Edward), orang-orang yang menyaksikan kemangkatan Edward adalah Permaisuri Edith, Harold, Uskup Agung Stigand, serta Robert FitzWimarc, dan pada saat itulah Edward menunjuk Harold menjadi penggantinya. Sumber-sumber Normandia tidak menyangkal bahwa Harold memang ditunjuk menjadi Raja Inggris berikutnya, tetapi menandaskan bahwa sumpah Harold dan janji Edward kepada William tidak dapat dibatalkan pada saat-saat terakhir Edward. Sumber-sumber Inggris terkemudian menyebutkan bahwa Harold sudah dipilih menjadi raja oleh kaum rohaniwan dan kaum menak Inggris.[71]

Menginvasi InggrisSunting

Persiapan HaroldSunting

 
Beberapa lokasi peristiwa yang terjadi pada tahun 1066

Harold dinobatkan pada tanggal 6 Januari 1066 di gereja Biara Westminster, gedung baru bergaya arsitektur Norman yang dibangun Edward, meskipun ada kontroversi mengenai siapa pemimpin upacaranya.

Kebijakan selaku Raja InggrisSunting

Perubahan-perubahan di InggrisSunting

 
Menara Putih di London, mulai dibangun pada masa pemerintahan William[72]

Sebagai bagian dari usaha mengukuhkan kedaulatannya atas Inggris, William memerintahkan pembangunan puri-puri, donjon-donjon, dan pongsu-pongsu, salah satunya adalah Menara Putih, donjon tengah dari bangunan benteng Menara London.

Tata negaraSunting

 
Uang logam Inggris bergambar William Sang Penakluk

Sesudah tahun 1066, William tidak berusaha menggabungkan negeri-negeri yang dikuasainya menjadi satu negara dengan satu tatanan hukum. Cap meterai pribadi yang ia pakai sesudah tahun 1066 (lima bekas teraannya masih lestari sampai sekarang) dibuat sesudah penaklukan Inggris, dan bertujuan menegaskan kedudukannya selaku raja, sembari secara terpisah menyebut kedudukannya selaku adipati.[m] Saat berada di Normandia, William mengaku kawula Raja Prancis, tetapi pengakuan semacam itu tidak pernah ia utarakan saat berada di Inggris, inilah bukti lain bahwa negeri-negeri yang dikuasai William dianggap sebagai negara-negara tersendiri. Penyelenggaraan tata usaha negara di Kadipaten Normandia, Kerajaan Inggris, dan Kabupaten Maine tetap berjalan sendiri-sendiri, masing-masing dengan bentuk khasnya. Sebagai contoh, Kerajaan Inggris terus menggunakan writ (nawala), jenis dokumen yang tidak dikenal di Eropa daratan. Di samping itu, piagam-piagam dan dokumen-dokumen pemerintah Kadipaten Normandia menggunakan rangkaian kalimat baku yang berbeda dari rangkaian kalimat baku piagam-piagam dan dokumen-dokumen pemerintah Inggris.[73]

Kerajaan Inggris yang ditaklukkan William sudah menerapkan suatu sistem ketatanegaraan yang lebih kompleks daripada sistem yang berlaku di Normandia. Wilayah Inggris terbagi menjadi beberapa shire, yang selanjutnya terbagi lagi menjadi sejumlah hundred atau wapentake. Kepala pemerintahan shire adalah pamong praja yang disebut sheriff, kurang lebih setara dengan visconte (wakil bupati) di Normandia. Sheriff bertanggung jawab menegakkan keadilan atas nama raja dan mengumpulkan penerimaan negara.[54] Untuk mengawasi wilayah kekuasaannya yang kian luas, William terpaksa lebih sering bersafari ke daerah-daerah dibanding yang biasa ia lakukan selaku Adipati Normandia. Mulai dari tahun 1067 sampai akhir hayatnya, William sekurang-kurangnya sudah 19 kali berangkat bolak-balik Inggris-Eropa daratan. William lebih sering berada di Inggris sejak Pertempuran Hastings sampai tahun 1072, dan sesudah itu melewatkan lebih banyak waktu di Normandia.[74][n] Pemerintahan tetap berpusat di rumah tangga istana William. Jika William sedang berada di salah satu negeri kekuasaanya, keputusan-keputusan yang dibuatnya untuk negeri-negeri lain disampaikan melalui suatu sistem komunikasi yang memanfaatkan surat dan dokumen-dokumen lain. William juga mengangkat pemangku-pemangku yang mampu mengambil keputusan saat ia berhalangan hadir, khususnya pada saat ia berencana tidak kembali dalam waktu yang lama. Biasanya orang-orang yang diangkat menjadi pemangku masih terhitung kerabat dekatnya, teristimewa Odo, adik seibunya, dan Mathilde, istrinya sendiri. Adakalanya pemangku-pemangku diangkat untuk menangani urusan-urusan tertentu.[75]

William meneruskan kebiasaan mengutip danegeld, semacam pajak bumi. Kebijakan ini menguntungkan William karena danegeld adalah satu-satunya pajak umum yang dikutip para penguasa Eropa Barat pada masa itu. Danegeld merupakan pajak tahunan yang dihitung berdasarkan nilai tanah milik, dan tarifnya dapat saja naik turun.

Kitab DomesdaySunting

 
Salah satu halaman Kitab Domesday yang memuat keterangan tentang daerah Warwickshire

Pada hari Natal tahun 1085, William memerintahkan pembuatan kompilasi data survei kepemilikan tanah pertuanan feodal per daerah di Kerajaan Inggris, baik tanah pertuanannya sendiri maupun tanah-tanah pertuanan para bawahannya. Hasilnya adalah naskah yang kini dikenal dengan nama Kitab Domesday. Daftar untuk tiap-tiap daerah memuat keterangan tentang tanah-tanah pertuanan feodal yang dikelompokkan menurut pemiliknya. Daftar-daftar tersebut memerikan kepemilikan tanah pertuanan feodal, nama pemiliknya sebelum penaklukan, nilai jualnya, perhitungan pajaknya, dan biasanya disertai keterangan jumlah kawula, alat bajak, dan berbagai sumber daya lain yang terdapat di tanah pertuanan tersebut. Kota-kota dibuatkan daftar tersendiri. Semua daerah di Inggris yang terletak di sebelah selatan Sungai Tees dan Sungai Ribble tercatat di dalamnya, dan tampaknya naskah tersebut secara keseluruhan sudah hampir tuntas ditulis pada tanggal 1 Agustus 1086, yakni tanggal catatan peristiwa di dalam Tawarikh Angli-Saksen yang menyebutkan bahwa William menerima naskah tersebut dan semua menak terkemuka mengikrarkan Sumpah Salisbury sebagai pembaharuan prasetia mereka.[76] Tidak jelas apa maksud William yang sesungguhnya di balik titah untuk menyusun naskah ini, tetapi mungkin sekali naskah ini dibuat dengan beberapa tujuan, misalnya untuk mencatat kewajiban-kewajiban feodal dan untuk membenarkan kebijakan menaikkan pajak.[2]

Kemangkatan dan pascakemangkatanSunting

William bertolak dari Inggris menjelang akhir tahun 1086. Sekembalinya ke Eropa daratan, ia menikahkan putrinya yang bernama Constance dengan Alain IV, Adipati Britania Kecil, demi menambah sekutu dalam perseteruan melawan raja-raja Prancis. Robert Courteheuse, putra William yang masih bersekutu dengan Raja Prancis, rupa-rupanya gemar bikin gara-gara, sampai-sampai William mengerahkan pasukannya untuk memerangi Vexin Prancis pada bulan Juli 1087. Sewaktu berusaha merebut kota Mantes, William jatuh sakit atau mungkin pula terluka oleh bonggol pelana kudanya.[77] Ia diungsikan ke priorat Santo Gervasius di Rouen, tempat ia mangkat pada tanggal 9 September 1087.[2] Informasi tentang kejadian-kejadian prakemangkatan William cukup simpang siur karena ada dua riwayat tertulis yang berbeda. Ordericus Vitalis mengabadikan sebuah riwayat panjang dalam karya tulisnya, lengkap dengan pidato-pidato dari banyak tokoh penting, tetapi riwayat tersebut sepertinya lebih merupakan keterangan mengenai bagaimana sepatutnya seorang raja mangkat ketimbang keterangan mengenai peristiwa yang sesungguhnya terjadi. Riwayat lainnya, yakni De obitu Willelmi (Ihwal Berpulangnya William), sudah terbukti sebagai salinan dua keterangan tertulis dari abad ke-9 dengan nama-nama yang diganti.[77]

 
Kubur William di gereja Biara Santo Stefanus, Caen

William menghibahkan Normandia kepada Robert Courteheuse, sementara Inggris ia serahkan kepada William Rufus, dengan asumsi bahwa William Rufus akan menjadi raja negeri itu. Putra bungsunya, Henry, ia hibahi uang. Sesudah mempercayakan pemerintahan Inggris kepada William Rufus, William memberangkatkan putra keduanya itu ke Inggris pada tanggal 7 atau 8 September, dengan membawa sepucuk surat untuk Lanfranc, berisi amanat kepada sang uskup agung untuk membantu Raja Inggris yang baru. Hibah lain mencakup anugerah-anugerah kepada Gereja serta uang yang harus dibagi-bagikan kepada kaum papa. William juga menitahkan pembebasan semua orang yang ia tawan, termasuk Odo, adik seibunya.[77]

Kekacauan timbul menyusul kemangkatan William. Begitu William menghembuskan nafas terakhirnya, semua orang yang berjaga di sisi ranjang langsung meninggalkan jenazahnya begitu saja di Rouen dan bergegas mengerjakan urusan pribadi masing-masing. Para rohaniwan di Rouen akhirnya mengupayakan agar jenazahnya diantar ke Caen, mengikuti wasiatnya untuk dikuburkan di fondasi gedung Biara Santo Stefanus yang didirikannya. Upacara pemakaman William, yang dihadiri para uskup dan para abas Normandia, juga Henry, putra bungsunya, dinodai gugatan seorang warga Caen yang mengaku disingkirkan secara tidak sah bersama keluarganya dari tanah tempat gereja biara Santo Stefanus dibangun. Sesudah buru-buru dilakukan pemeriksaan, diketahui bahwa pengakuan warga Caen tersebut memang benar, sehingga yang bersangkutan akhirnya diberi ganti rugi. Hal memalukannya lain terjadi pada saat pengebumian jenazah. Liang yang disiapkan ternyata tidak muat. Saat dijejalkan secara paksa ke dalam liang, jenasah meletus dan menguarkan bau busuk menjijikkan yang memenuhi ruangan gereja.[78]

Kubur William ditandai dengan ubin marmer dengan pahatan aksara Latin yang diperkirakan berasal dari awal abad ke-19. Kubur tersebut sudah berulang kali dibongkar sejak tahun 1087, pertama kali pada tahun 1522 atas perintah Sri Paus. Ketika itu jenazah kembali dikubur, tetapi pada tahun 1562, saat Prancis dilanda peperangan agama, kubur William sekali lagi dibongkar. Tulang-tulangnya tercerai-berai dan hilang, kecuali seruas tulang paha. Tulang inilah yang dikebumikan kembali pada tahun 1642 dan diberi penanda kubur baru, yang diganti 100 tahun kemudian dengan sebuah penanda yang lebih indah. Penanda indah ini dirusak saat Revolusi Prancis berkecamuk, tetapi akhirnya diganti dengan penanda yang ada sekarang.[79][o]

Warisan sejarahSunting

Konsekuensi langsung dari kemangkatan William adalah perang saudara antara Robert Courteheuse dan William Rufus, memperebutkan kekuasaan atas Inggris dan Normandia.[2] Bahkan sesudah William Rufus selaku Raja Inggris mangkat pada tahun 1100 dan digantikan adik bungsunya, Henry, kekuasaan atas Normandia dan Inggris masih terus menjadi biang keladi perseteruan antarsaudara sampai Henry berhasil menawan Robert Courteheuse dalam Pertempuran Tinchebray tahun 1106. Permasalahan-permasalahan seputar suksesi kepemimpinan tersebut justru mengakibatkan hilangnya kewenangan atas Normandia dari genggaman anak-anak William, karena kaum menak Norman mendapatkan kembali banyak kedaulatan mereka yang dulu dirampas William. Mereka juga kehilangan kedaulatan atas sebagian besar wilayah Maine, yang memberontak pada tahun 1089 dan untuk seterusnya mampu mempertahankan kemerdekaan mereka dari bangsa Norman.[81]

Aksi penaklukan yang dilancarkan William terhadap Inggris meninggalkan jejak yang dalam. Perubahan-perubahan di lingkungan Gereja, kaum menak, bahasa, dan budaya yang dipicu aksi penaklukan tersebut terus kekal sampai ke zaman modern. Aksi penaklukan William telah menciptakan kedekatan hubungan antara Inggris dan Prancis yang bertahan sepanjang Abad Pertengahan. Konsekuensi lain dari aksi invasi William adalah merenggangnya hubungan hubungan Inggris dengan Skandinavia yang sebelumnya sangat rapat. Rezim William membaurkan unsur-unsur ketatanegaraan Inggris dan unsur-unsur ketatanegaraan Norman sehingga melahirkan suatu sistem baru yang menjadi dasar negara kerajaan Abad Pertengahan di Inggris sepeninggalnya.[82] Seberapa mendadak dan seberapa jauh jangkauan perubahan-perubahan tersebut masih menjadi pokok perdebatan di kalangan sejarawan. Sejumlah sejarawan, misalnya Richard Southern, berpendapat bahwa penaklukan tersebut adalah perubahan tunggal paling radikal yang pernah terjadi dalam sejarah Eropa pada rentang waktu antara keruntuhan Roma sampai abad ke-20. Meskipun demikian, sejarawan-sejarawan lain seperti H. G. Richardson dan G. O. Sayles memandang perubahan-perubahan akibat penaklukan tersebut tidaklah seradikal sangkaan Richard Southern.[83] Menurut sejarawan Eleanor Searle, invasi yang dilancarkan William adalah "suatu rencana yang tidak akan pernah terbersit selain di dalam benak seorang pemimpin Skandinavia".[84]

Rezim William sudah menimbulkan kontroversi sebelum ia mangkat. Pujangga Guillaume de Poitiers mengagung-agungkan masa pemerintahan William berikut segala manfaatnya, tetapi berita duka kemangkatan William di dalam Tawarikh Angli-Saksen justru berisi kecaman-kecaman keras terhadap dirinya.[83] Pada tahun-tahun pascapenaklukan, para politikus maupun pemimpin-pemimpin lain memanfaatkan sosok William dan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam masa pemerintahannya untuk mengilustrasi peristiwa-peristiwa politik yang pernah terjadi sepanjang sejarah Inggris. Pada masa pemerintahan Ratu Elizabeth I, Uskup Agung Matthew Parker menganggap aksi penaklukan William sudah mencemari kemurnian Gereja Inggris yang hendak ia pulihkan. Pada abad ke-17 dan ke-18, sejumlah sejarawan dan pakar hukum menganggap rezim William sebagai pemaksaan "kuk Norman" kepada pribumi Angli-Saksen. Anggapan ini terus hidup pada abad ke-19 dengan tambahan bumbu-bumbu rasa kebangsaan. Segala kontroversi ini membuat beberapa sejarawan memandang William sebagai salah seorang pencipta kejayaan negeri Inggris, kalau bukan sebagai biang keladi salah satu kekalahan terbesar dalam sejarah bangsa Inggris. Yang lain memandangnya sebagai musuh konstitusi Inggris, kalau bukan sebagai penciptanya.[85]

SentanaSunting

William dan Mathilde dikaruniai sekurang-kurangnya sembilan orang anak.[48] Urutan dan tanggal lahir putra-putra mereka tidak begitu jelas, malah tidak ada keterangan apa-apa tentang urutan dan tanggal lahir putri-putri mereka.[2]

  1. Robert Courteheuse, Adipati Normandia; lahir antara tahun 1051 dan 1054, wafat tanggal 10 Februari 1134;[48] kawin dengan Sibilla, anak perempuan Geoffrey, Bupati Conversano.[86]
  2. Richard; lahir sebelum tahun 1056, wafat sekitar tahun 1075.[48]
  3. William Rufus, Raja Inggris; lahir antara tahun 1056 dan 1060, wafat tanggal 2 Agustus 1100,[48] mangkat terbunuh di New Forest.[87]
  4. Henry, Raja Inggris; lahir menjelang akhir tahun 1068, wafat tanggal 1 Desember 1135;[48] kawin dengan Edith, anak perempuan Máel Coluim III, Raja Skotlandia; kemudian hari kawin lagi dengan Adeliza dari Louvain.[88]
  5. Adeliza (Adelida,[89] atau Adelaide[88]); wafat sebelum tahun 1113; dikabarkan bertunangan dengan Harold Putra Godwin; mungkin sekali menjadi biarawati di Saint-Léger de Préaux.[89]
  6. Cecilia, Abdis Biara Tritunggal Mahakudus, Caen; lahir sebelum tahun 1066, wafat tahun 1127.[48]
  7. Matilda;[2][89] lahir sekitar tahun 1061, wafat sekitar tahun 1086;[88] disebutkan di dalam Kitab Domesday sebagai salah seorang anak perempuan William.[48]
  8. Constance; wafat tahun 1090; kawin dengan Alain IV, Adipati Britania Kecil.[48]
  9. Adela; wafat tahun 1137; kawin dengan Étienne, Bupati Blois.[48]
  10. (Mungkin sekali) Agatha, tunangan Alfonso, Raja León dan Kastila.[p]

Tidak ada bukti bahwa William memiliki anak haram.[93]

KeteranganSunting

  1. ^ Bahasa Norman Lama: Williame I; bahasa Inggris Lama: Willelm I
  2. ^ William secara berkala disebut bastardus (si haram jadah) dalam sumber-sumber non-Norman dari masa hidupnya.[2]
  3. ^ Klaim Guillaume de Poitiers bahwa Edward naik takhta berkat jasa Adipati William patut diragukan kebenarannya, karena ketika itu William praktis tidak berdaulat di kadipatennya sendiri.[2]
  4. ^ Tanggal lahir William tidak dapat dipastikan karena para penulis tawarikh bangsa Norman menyajikan keterangan yang saling bertentangan. Menurut Ordericus Vitalis, William mengaku sudah berumur 64 tahun di saat sakratulmaut, yang berarti ia lahir sekitar tahun 1023. Meskipun demikian, Ordericus juga mengemukakan bahwa William berumur 8 tahun ketika ayahnya berangkat ke Yerusalem pada tahun 1035, yang berarti ia lahir pada tahun 1027. Menurut William dari Malmesbury, William berumur 7 ketika ayahnya berangkat, artinya ia lahir pada tahun 1028. Menurut sumber lain, De obitu Willelmi, William berumur 59 tahun ketika mangkat pada tahun 1087, artinya ia lahir pada tahun 1027 atau 1028.[9]
  5. ^ Dengan demikian, Emma dari Normandia adalah bibi ayahnya, dan Edward Pengaku Iman adalah saudara sepupu ayahnya.[10][11]
  6. ^ Anak perempuan Herleva dan Herluin de Conteville ini kemudian hari kawin dengan William, Tuan Tanah La Ferté-Macé.[9]
  7. ^ Walter dikaruniai dua orang anak perempuan. Salah seorang di antaranya menjadi biarawati, dan seorang lagi (bernama Matilda) kawin dengan Ralph Tesson.[9]
  8. ^ Pandangan Gereja maupun masyarakat terhadap status anak haram ketika itu sedang mengalami pergeseran. Di bawah pengaruh reformasi Gregorius, Gereja berpandangan bahwa dosa hubungan intim di luar ikatan perkawinan mencemari anak yang lahir dari hubungan tersebut, tetapi kaum menak tidak sepenuhnya sepaham dengan Gereja pada masa hidup William.[18] Status sebagai anak haram Henry Adisarjana (putra keempat William Sang Penakluk) menghalangi Robert FitzRoy menjadi Raja Inggris ketika Henry Adisarjana mangkat pada tahun 1135 tanpa meninggalkan keturunan laki-laki yang sah.[19]
  9. ^ Alasan pelarangan tidaklah jelas. Tidak ada keterangan apa-apa mengenai pelarangan tersebut dalam catatan-catatan Konsili Rheims, dan bukti utamanya adalah keterangan Ordericus Vitalis. Ordericus hanya sambil lalu menyebutkan bahwa hubungan kekerabatan William dan Mathilde terlalu dekat, tetapi tidak ada keterangan lebih lanjut, sehingga ihwal tersebut tidak dapat diketahui secara pasti.[42]
  10. ^ Tanggal perkawinan tidak diketahui, tetapi mungkin sekali perkawinan mereka dilangsungkan pada tahun 1051 atau 1052, dan pasti tidak lewat dari tahun 1053, karena Mathilda sudah disebut sebagai istri William di dalam sebuah piagam yang dikeluarkan pada paruh akhir tahun itu.[44]
  11. ^ Kedua biara tersebut adalah Abbaye-aux-Hommes (Biara Santo Stefanus) bagi kaum pria yang dibangun William sekitar tahun 1059, dan Abbaye aux Dames (Biara Tritunggal Mahakudus) bagi kaum wanita yang dibangun Mathilde kira-kira tujuh tahun kemudian.[47]
  12. ^ Ætheling berarti "anak raja" dan biasanya digunakan sebagai sebutan bagi putra atau saudara seorang raja yang sedang memerintah.[70]
  13. ^ Cap meterai tersebut bergambar seorang kesatria berkuda, dan merupakan contoh pertama dari meterai kesatria berkuda yang masih lestari hingga kini.[73]
  14. ^ Antara tahun 1066 sampai 1072, William hanya tinggal 15 bulan di Normandia, dan waktu selebihnya ia habiskan di Inggris. Sepulangnya ke Normandia pada tahun 1072, ia tinggal sekitar 130 bulan lamanya di Normandia, dan hanya menghabiskan waktu selama 40 bulan di Inggris.[74]
  15. ^ Tulang paha yang sekarang terkubur di tempat persemayaman jenazah William diduga sebagai tulang paha yang dulu dikebumikan kembali pada tahun 1642, tetapi sejarawan era Victoria, E. A. Freeman, berpendapat bahwa tulang paha tersebut sudah hilang pada tahun 1793.[80]
  16. ^ Guillaume de Poitiers meriwayatkan bahwa kedua raja Iberia, adik-beradik kandung, bersengketa satu sama lain lantaran sama-sama berniat mempersunting anak perempuan William.[90] Sejumlah sejarawan mengidentikkan "kedua raja Iberia" dalam riwayat tersebut dengan Raja Kastila, Sancho II, dan Raja Galisia, Garcia II, serta mengidentikkan "anak perempuan William" dengan Alberta, permaisuri Sancho II yang namanya tidak khas Iberia.[91] Menurut naskah Vita Simon de Crépy, yang tidak diketahui nama penulisnya, kedua bangsawan yang berebut meminang anak perempuan William adalah Raja León, Alfonso VI, dan Robert Guiscard, sementara William dari Malmesbury dan Ordericus Vitalis meriwayatkan bahwa anak perempuan William yang dijodohkan dengan Alfonso, "Raja Galisia", telanjur wafat sebelum bersanding di pelaminan. Di dalam Historia Ecclesiastica, Ordericus menyebutkan bahwa nama anak perempuan William tersebut adalah Agatha, "mantan tunangan Harold".[90][91] Keterangan ini justru bertentangan dengan keterangan Ordericus sebelumnya di dalam Gesta Normannorum Ducum bahwa tunangan Harold adalah anak perempuan William yang bernama Adelidis.[89] Catatan-catatan termutakhir seputar riwayat perkawinan Alfonso VI yang berbelit-belit itu membenarkan bahwa Alfonso VI memang bertunangan dengan anak perempuan William yang bernama Agatha,[90][91][92] sementara Douglas mengetepikan nama Agatha sebagai sebutan yang keliru untuk Adeliza.[48] Elisabeth van Houts tidak menentukan sikap. Ia menerima kemungkinan bahwa Adeliza pernah bertunangan sebelum menjadi biarawati maupun kemungkinan bahwa Agatha adalah anak perempuan William yang seorang lagi.[89]

RujukanSunting

  1. ^ a b c d Bates William the Conqueror hlm. 33
  2. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q Bates "William I" Oxford Dictionary of National Biography
  3. ^ Collins Early Medieval Europe hlmn. 376–377
  4. ^ Williams Æthelred the Unready hlmn. 42–43
  5. ^ Williams Æthelred the Unready hlmn. 54–55
  6. ^ Huscroft Norman Conquest hlmn. 80–83
  7. ^ Huscroft Norman Conquest hlmn. 83–85
  8. ^ "William the Conqueror" History of the Monarchy
  9. ^ a b c d e Douglas William the Conqueror hlmn. 379–382
  10. ^ Douglas William the Conqueror hlm. 417
  11. ^ Douglas William the Conqueror hlm. 420
  12. ^ van Houts "Les femmes" Tabularia "Études" hlm. 19–34
  13. ^ Douglas William the Conqueror hlmn. 31–32
  14. ^ Douglas William the Conqueror hlmn. 32–34, 145
  15. ^ a b Douglas William the Conqueror hlmn. 35–37
  16. ^ Bates William the Conqueror hlm. 36
  17. ^ Douglas William the Conqueror hlm. 37
  18. ^ Crouch Birth of Nobility hlmn. 132–133
  19. ^ Given-Wilson dan Curteis Royal Bastards hlm. 42
  20. ^ a b Douglas William the Conqueror hlmn. 38–39
  21. ^ Douglas William the Conqueror hlm. 51
  22. ^ Douglas William the Conqueror hlm. 40
  23. ^ Bates William the Conqueror hlm. 37
  24. ^ Searle Predatory Kinship hlmn. 196–198
  25. ^ Douglas William the Conqueror hlmn. 42–43
  26. ^ Douglas William the Conqueror hlmn. 45–46
  27. ^ Douglas William the Conqueror hlmn. 47–49
  28. ^ Bates William the Conqueror hlm. 38
  29. ^ Bates William the Conqueror hlm. 40
  30. ^ Douglas William the Conqueror hlm. 53
  31. ^ Douglas William the Conqueror hlmn. 54–55
  32. ^ a b Douglas William the Conqueror hlmn. 56–58
  33. ^ Bates William the Conqueror hlmn. 43–44
  34. ^ Douglas William the Conqueror hlmn. 59–60
  35. ^ Douglas William the Conqueror hlmn. 63–64
  36. ^ Douglas William the Conqueror hlmn. 66–67
  37. ^ Douglas William the Conqueror hlm. 64
  38. ^ Douglas William the Conqueror hlm. 67
  39. ^ Douglas William the Conqueror hlmn. 68–69
  40. ^ Douglas William the Conqueror hlmn. 75–76
  41. ^ a b c Bates William the Conqueror hlm. 50
  42. ^ Douglas William the Conqueror hlm. 391–393
  43. ^ Douglas William the Conqueror hlm. 76
  44. ^ Douglas William the Conqueror hlm. 391
  45. ^ a b Bates William the Conqueror hlmn. 44–45
  46. ^ Douglas William the Conqueror hlm. 80
  47. ^ Bates William the Conqueror hlmn. 66–67
  48. ^ a b c d e f g h i j k Douglas William the Conqueror hlmn. 393–395
  49. ^ a b c Bates William the Conqueror hlmn. 115–116
  50. ^ Douglas William the Conqueror hlmn. 368–369
  51. ^ Searle Predatory Kinship hlm. 203
  52. ^ Huscroft Norman Conquest hlm. 323
  53. ^ Bates William the Conqueror hlm. 133
  54. ^ a b c Bates William the Conqueror hlm. 23–24
  55. ^ Bates William the Conqueror hlmn. 63–65
  56. ^ a b Bates William the Conqueror hlm. 64–66
  57. ^ Douglas William the Conqueror hlmn. 111–112
  58. ^ a b Barlow "Edward" Oxford Dictionary of National Biography
  59. ^ a b Bates William the Conqueror hlmn. 46–47
  60. ^ a b Huscroft Norman Conquest hlmn. 93–95
  61. ^ Huscroft Norman Conquest hlmn. 86–87
  62. ^ Huscroft Norman Conquest hlmn. 89–91
  63. ^ Huscroft Norman Conquest hlmn. 95–96
  64. ^ Douglas William the Conqueror hlm. 174
  65. ^ a b Bates William the Conqueror hlm. 53
  66. ^ Douglas William the Conqueror hlmn. 178–179
  67. ^ Huscroft Norman Conquest hlmn. 98–100
  68. ^ Huscroft Norman Conquest hlmn. 102–103
  69. ^ Huscroft Norman Conquest hlm. 97
  70. ^ Miller "Ætheling" Blackwell Encyclopaedia of Anglo-Saxon England hlmn. 13–14
  71. ^ Huscroft Norman Conquest hlmn. 107–109
  72. ^ Pettifer English Castles hlm. 151
  73. ^ a b Bates William the Conqueror hlmn. 138–141
  74. ^ a b Bates William the Conqueror hlmn. 133–134
  75. ^ Bates William the Conqueror hlmn. 136–137
  76. ^ Bates William the Conqueror hlmn. 198–202
  77. ^ a b c Bates William the Conqueror hlmn. 202–205
  78. ^ Bates William the Conqueror hlmn. 207–208
  79. ^ Douglas William the Conqueror hlmn. 362–363
  80. ^ Douglas William the Conqueror hlm. 363 catatan kaki No. 4
  81. ^ Bates William the Conqueror hlmn. 208–209
  82. ^ Bates William the Conqueror hlmn. 210–211
  83. ^ a b Clanchy England and its Rulers hlmn. 31–32
  84. ^ Searle Predatory Kinship hlm. 232
  85. ^ Douglas William the Conqueror hlmn. 4–5
  86. ^ Thompson "Robert, duke of Normandy" Oxford Dictionary of National Biography
  87. ^ Barlow "William II" Oxford Dictionary of National Biography
  88. ^ a b c Fryde, dkk., Handbook of British Chronology, hlm. 35
  89. ^ a b c d e Van Houts "Adelida" Oxford Dictionary of National Biography
  90. ^ a b c Salazar y Acha "Contribución al estudio" Anales de la Real Academia hlmn. 307–308
  91. ^ a b c Reilly Kingdom of Leon-Castile Under Alfonso VI hlm. 47
  92. ^ Canal Sánchez-Pagín "Jimena Muñoz" Anuario de Estudios Medievales hlm. 12–14
  93. ^ Given-Wilson and Curteis Royal Bastards hlm. 59

SumberSunting

Pranala luarSunting

William Sang Penakluk
Lahir: 1028 Wafat: 9 September 1087
Gelar kebangsawanan
Didahului oleh:
Edgar Ætheling
Raja Inggris
1066–1087
Diteruskan oleh:
William Rufus
Didahului oleh:
Robert Gemilang
Adipati Normandia
1035–1087
Diteruskan oleh:
Robert Courteheuse