Buka menu utama
Kebakaran Roma, karya Karl von Piloty, 1861. Menurut Tasitus, Nero sengaja mengambinghitamkan umat Kristen sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kebakaran tersebut.

Sejarawan dan senator Romawi, Tasitus (Publius Cornelius Tacitus), mencantumkan keterangan mengenai Kristus, penyaliban-Nya oleh Pontius Pilatus, dan keberadaan Gereja Perdana di kota Roma dalam karya tulisnya yang terakhir, Annales (ditulis sekitar tahun 116 Masehi), bab 15, pasal 44.[1]

Bagian dari seri tentang
Yesus Kristus

Title jesus.jpg

Nama dan gelar
YesusKristusMesiasIsa AlmasihJuruselamat

Yesus Kristus dan Kekristenan
NubuatKronologiKelahiranSilsilahPembaptisanPelayananMukjizatPerumpamaanPenangkapanPengadilanPenyalibanKematianPenguburanKebangkitanKenaikanKedatangan yang keduaPenghakiman

Ajaran utama Yesus Kristus
MesiasKotbah di Bukit
Doa Bapa KamiHukum Kasih
Perjamuan MalamAmanat Agung

Pandangan terhadap Yesus
Pandangan Kristen
Pandangan Islam
Pandangan Yahudi
Yesus dalam sejarah
Yesus dalam karya seni

Keterangan-keterangan tersebut berkaitan dengan catatan peristiwa Kebakaran Besar Roma yang menghanguskan sebagian besar kota itu pada tahun 64 Masehi, masa pemerintahan Kaisar Nero.[2] Keterangan dalam catatan peristiwa kebakaran ini adalah salah satu keterangan non-Kristen pertama mengenai asal muasal agama Kristen, peristiwa penyaliban Kristus sebagaimana diriwayatkan dalam injil-injil kanonik, dan keberadaan serta penindasan terhadap umat Kristen di Roma pada abad pertama tarikh Masehi.[3][4]

Pada umumnya para ahli berpendapat bahwa catatan Tasitus mengenai penyaliban Yesus adalah catatan sejarah yang otentik.[5][6][7] Selain itu, menurut Paul Eddy dan Gregory Boyd, catatan sejarah Tasitus telah dianggap oleh para sejarawan sebagai pemastian dari sumber non-Kristen bahwa Yesus telah disalib.[8]

Sejarawan Ronald Mellor menyatakan bahwa Annales adalah "karya terbesar Tasitus" yang merupakan "puncak penulisan sejarah Romawi".[9] Menurut pendapat para ahli, Annales menyajikan tiga fakta terpisah mengenai kota Roma pada tahun 60 M, yakni (i) ada cukup banyak umat Kristen di Roma pada masa itu, (ii) tidaklah mustahil membedakan umat Kristen dari umat Yahudi di Roma, dan (iii) kala itu kaum pagan sudah mengait-ngaitkan agama Kristen di Roma dengan tempat asalnya di Yudea.[10][11]

Daftar isi

Penyebutan dan konteksnyaSunting

 
Salinan manuskrip Medici kedua dari Annales, Bab 15, pasal 44, halaman dengan rujukan kepada umat Kristen

Pasal Annales (15.44), yang telah disorot banyak analisis cendekiawan, mengisahkan deskripsi Kebakaran Besar Roma yang membakar sebagian besar Roma pada bulan Juli 64 M.[3]

Bagian penting dari pasal tersebut tertulis sebagai berikut:

Namun segala daya upaya manusia, segala hadiah mewah kaisar, maupun sesaji untuk menyenangkan dewa-dewi, tidak kuasa menghapus kecurigaan orang bahwasanya kebakaran itu terjadi karena ada perintah. Oleh karena itu, guna membuyarkan desas-desus, Nero mengambinghitamkan dan menjatuhkan hukuman berat kepada suatu kaum yang dibenci karena kekejian mereka, yakni kaum yang disebut umat Kristen oleh masyarakat. Kristus, cikal bakal dari nama kaum ini, dijatuhi hukuman berat pada masa pemerintahan Tiberius oleh salah seorang prokurator kita, Ponsius Pilatus, dan suatu takhayul yang sangat menyesatkan, yang sempat mati waktu itu, kembali merebak bukan saja di Yudea, sumber utama kedurjanaan ini, melainkan juga di Roma, tempat segala macam kekejian dan aib dari seluruh dunia bersarang dan merajalela. Oleh karena itu, mula-mula dikeluarkan perintah penangkapan terhadap semua orang yang mengaku bersalah; selanjutnya, berdasarkan keterangan mereka, sejumlah besar orang dikenai dakwaan, bukan dakwaan kejahatan membakar kota, melainkan dakwaan kejahatan terhadap sesama manusia.

(Dalam bahasa Latin: Sed non ope humana, non largitionibus principis aut deum placamentis decedebat infamia, quin iussum incendium crederetur. ergo abolendo rumori Nero subdidit reos et quaesitissimis poenis adfecit, quos per flagitia invisos vulgus Chrestianos appellabat. auctor nominis eius Christus Tibero imperitante per procuratorem Pontium Pilatum supplicio adfectus erat; repressaque in praesens exitiabilis superstitio rursum erumpebat, non modo per Iudaeam, originem eius mali, sed per urbem etiam, quo cuncta undique atrocia aut pudenda confluunt celebranturque. igitur primum correpti qui fatebantur, deinde indicio eorum multitudo ingens haud proinde in crimine incendii quam odio humani generis convicti sunt.[12])

Tasitus selanjutnya menjabarkan tindak penyiksaan terhadap umat Kristen:

Selain kematian, segala bentuk penistaan juga ditimpakan pada mereka. Dalam balutan kulit binatang liar, mereka tewas dicabik-cabik anjing, atau dipakukan pada salib, atau menjadi umpan api dan dibakar laksana suluh, bilamana hari berganti malam. Nero menjadikan taman-tamannya sebagai ajang pelaksanaan tindakan-tindakan yang mencengangkan ini, dan menggelar sebuah pertunjukan di sirkus, tempat ia berbaur dengan rakyat dengan berpakaian layaknya seorang pembalap kereta atau pun tegak menjulang di atas kereta. Oleh karena itu, sekalipun segala hukuman ini dijatuhkan kepada para penjahat yang memang pantas dijatuhi hukuman berat agar kejahatannya tidak ditiru orang, muncul jua rasa iba; karena tampaknya mereka dibinasakan bukan demi kemaslahatan umum, melainkan demi menuruti angkara murka satu orang belaka.[13]

Sebab pasti kebakaran tersebut masih tak jelas, tetapi kebanyakan penduduk Roma menduga bahwa Kaisar Nero telah menimbulkan kebakaran itu sendiri.[3] Untuk menjauhkan dakwaan terhadap dirinya sendiri, Nero menuduh umat Kristen sebagai pihak yang menimbulkan kebakaran tersebut dan menganiaya mereka, menjadikannya konfrontasi terdokumentasi pertama antara umat Kristen dan otoritas di Roma.[3] Tasitus tak pernah menuduh Nero memainkan lira saat Roma terbakar. Pernyataan tersebut berasal dari Cassius Dio, yang wafat pada abad ke-3.[2] Namun Tasitus menyatakan bahwa Nero memakai umat Kristen sebagai kambing hitam.[14]

Tak ada manuskrip asli dari Annales yang masih ada dan salinan-salinan yang masih ada dari karya-karya Tasitus berasal dari dua manuskrip pertama, yang dikenal sebagai manuskrip-manuskrip Medici, yang ditulis dalam bahasa Latin dan disimpan di Perpustakaan Laurentian, Firenze, Italia.[15] Karya tersebut adalah manuskrip Medici kedua dari abad ke-11 dan disimpan di keabbasan Benediktin, Monte Cassino, yang merupakan salinan tertua yang masih ada dari pasal yang menyebut umat Kristen.[16] Para cendekiawan umumnya sepakat bahwa salinan-salinan tersebut ditulis di Monte Cassino dan akhir dokumen tersebut merujuk kepada Abbas Raynaldus cu... yang banyak dianggap merupakan salah satu dari dua abdis yang memegang nama tersebut di keabbasan tersebut pada masa itu.[16]

Rujukan spesifikSunting

Kristen dan ChrestianSunting

 
Detail dari salinan Annales abad ke-11, celah antara 'i' dan 's' disoroti dalam kata 'Christianos'

Pasal tersebut menyatakan:

... disebut "Kristen" oleh masyarakat. Kristus, orang yang menjadi asal dari nama itu ...

Pada 1902, Georg Andresen menyinggung penampilan huruf 'i' pertama dan kemudian celah dalam salinan abad ke-11 terawal dari Annales do Firenze, menyatakan bahwa teks tersebut telah diubah, dan huruf 'e' awalnya berada dalam teks tersebut, alih-alih huruf 'i'.[17] "Dengan pengujian ultra-violet dari MS, pengubahan tersebut menjadi nampak secara konklusif. Tak mungkin sekarang berkata siapa yang mengubah huruf e menjadi i. Namun, dalam Nero 16.2 karya Suetonius, 'christiani' nampaknya merupakan bacaan asli".[18] Karena pengubahan tersebut diketahui, hal tersebut menimbulkan perdebatan di kalangan cendekiawan soal apakah Tasitus sengaja memakai istilah "Chrestian", atau apakah seorang juru tulis menimbulkan suatu kesalahan pada Abad Pertengahan.[19][20] Ini menyatakan bahwa istilah Kristen dan Chrestian berkali-kali dipakai oleh masyarakat umum di Roma untuk menyebut gereja perdana.[21] Robert E. Van Voorst menyatakan bahwa banyak sumber mengindikasikan bahwa istilah Chrestian juga dipakai di kalangan pengikut awal Yesus pada abad kedua.[20][22] Istilah Kristen hanya tiga kali muncul dalam Perjanjian Baru, pemakaian pertama (Kisah Para Rasul 11:26) menyebut soal cikal bakal istilah tersebut.[20] Dalam seluruh tiga kasus, Kodeks Sinaiticus dalam bahasa Yunani memakai kata Chrestianoi.[20][22] Di Frigia, sejumlah prasasti batu pemakaman memakai istilah Chrestian, dengan satu prasasti batu memakai kedua istilah tersebut secara bersamaan, yakni: "Chrestian untuk Kristen".[22]

Adolf von Harnack berpendapat bahwa Chrestian adalah pemakaian kata yang asli, dan Tasitus sengaja memakai kata Christus tak lama setelah hal tersebut menunjukkan pengetahuan tertingginya sendiri dibandingkan dengan sebagian besar masyarakat.[20] Robert Renehan menyatakan bahwa hal tersebut bersifat alami bagi orang Romawi memadukan dua kata yang terdengar sama, bahwa Chrestianos adalah kata asli dalam Annales dan bukanlah kesalahan dari juru tulis.[23][24] Van Voorst menyatakan bahwa Tasitus sendiri tak nampak menyebut umat Kristen dengan sebutan Chrestianos seperti "hal-hal berguna" yang menyatakan bahwa ia juga menyebut mereka "dibenci karena tindak-tindak memalukan mereka".[19] Eddy dan Boyd tak melihat dampak besar pada keotentikan pasal tersebut atau pengartiannya tanpa memandang pemakaian istilah apapun oleh Tasitus.[25]

Pangkat PilatusSunting

Pangkat Pilatus saat ia menjadi gubernur Yudea nampak dalam sebuah inskripsi Latin di Prasasti Pilatus yang menyebutnya prefek, sementara pasal Tasitus tersebut menyebutnya prokurator. Yosefus menyebut Pilatus dengan istilah Yunani generik ἡγεμών (hēgemṓn), atau gubernur. Tasitus mencatat bahwa Klaudius adalah penguasa yang memberikan kekuasaan pemerintahan kepada para prokurator.[a][26] Setelah kematian Herodes Agrippa pada 44 M, saat Yudea jatuh dalam kekuasaan langsung Romawi, Klaudius memegang kekuasaan para prokurator atas Yudea.[3][27][28][29]

Berbagai teori timbul untuk menjelaskan kenapa Tasitus harus memakai istilah "prokurator" saat bukti arkeologi mengindikasikan bahwa Pilatus adalah seorang prefek. Jerry Vardaman berteori bahwa gelar Pilatus berubah saat ia singgah di Yudea dan bahwa Batu Pilatus berasal dari tahun-tahun awal pemerintahannya.[30] Baruch Lifshitz menganggap bahwa inskripsi tersebut aslinya menyebut gelar "prokurator" bersama dengan "prefek".[31] L.A. Yelnitsky berpendapat bahwa pemakaian "prokurator" dalam Annales 15.44.3 adalah penyisipan Kristen.[32] S.G.F. Brandon berpendapat bahwa tak ada perbedaan nyata antar dua pangkat tersebut.[33] John Dominic Crossan menyatakan bahwa Tasitus "merombak" gelar prokurator yang dipakai pada masa kekuasaan Klaudius saat Pilatus diangkat menjadi prefek pada masanya sendiri.[34] Bruce Chilton dan Craig Evans serta Van Voorst menyatakan bahwa Tasitus nampaknya memakai gelar prokurator karena gelar tersebut lebih umum pada masa penulisannya dan ragamnya dalam pemakaian gelar tersebut tak harus diambil sebagai bukti untuk meragukan kebenaran informasi yang disediakan oleh Tasitus.[35][36] Warren Carter menyatakan bahwa, karena istilah "prefek" memiliki konotasi militer, sementara "prokurator" bersifat sipil, pemakaian istilah apapun dapat diterima untuk gubernur yang memiliki serangkaian tanggung jawab militer, administratif dan fiskal.[37]

Louis Feldman menyatakan bahwa Filo (yang wafat pada tahun 50 M) dan Yosefus juga memakai istilah prokurator untuk Pilatus.[38] Karena Filo dan Yosefus menulis dalam bahasa Yunani, tak ada satupun dari mereka yang benar-benar memakai istilah "prokurator", tetapi kata Yunani ἐπίτροπος (epítropos), biasanya diterjemahkan menjadi "prokurator". Filo juga memakai istilah Yunani tersebut untuk para gubernur Mesir (seorang prefek), Asia (seorang prokonsul) dan Suriah (seorang legatus).[39] Dalam daftar masa jabatan gubernur Yudea dalam karya-karya Yosefus, Werner Eck menunjukkan bahwa meskipun dalam karya awal Perang Yahudi, Yosefus kurang konsisten memakai kata epitropos, gubernur pertama yang disebut dengan istilah tersebut dalam Antikuitas Yahudi adalah Cuspius Fadus, (yang menjabat pada 44–46 M).[40] Feldman menyatakan bahwa Filo, Yosefus dan Tasitus secara anakronistik menyamakan masa dari gelar-gelar tersebut (Prefek kemudian berubah menjadi prokurator).[38] Feldman juga menyatakan bahwa pemakaian gelar-gelar tersebut tidaklah berseberangan, karena Yosefus menyebut Cuspius Fadus sebagai "prefek" sekaligus "prokurator".[38]

Keotentikan dan nilai sejarahSunting

 
Laman judul edisi tahun 1598 dari karya-karya Tasitus, disimpan di Empoli, Italia

Kebanyakan cendekiawan menganggap pasal tersebut bersifat otentik.[4] William L. Portier menyatakan bahwa kekonsistenan dalam rujukan-rujukan dari Tasitus, Yosefus dan surat-surat kepada Kaisar Trajan dari Plinius yang Muda meneguhkan validitas seluruh tiga catatan tersebut.[41] Para cendekiawan umumnya menyebut rujukan Tasitus bernilai sejarah sebagai sebuah sumber Romawi independen soal gereja perdana yang sejalan dengan catatan sejarah lainnya.[5][6][7][41]

Tasitus adalah seorang senator Romawi patriotik.[42][43] Tulisan-tulisannya tak menunjukkan simpati terhadap umat Kristen, atau pengetahuan soal siapa pemimpin mereka.[5][44] Karakterisasi "ketidaksalehan Kristen" dapat berdasarkan pada rumor-rumor di Roma bahwa pada upacara-upacara Ekaristi, umat Kristen menyantap dan meminum darah Allah mereka, menafsirkan upacara tersebut sebagai kanibalisme oleh umat Kristen.[44][45] Andreas Köstenberger menyatakan bahwa nada pasal tersebut terhadap umat Kristen sangat tak mungkin ditulis oleh seorang juru tulis Kristen.[46] Van Voorst juga menyatakan bahwa pasal tersebut tak mungkin merupakan pemalsuan Kristen karena bahasa ejekan yang dipakai untuk menyebut Kekristenan.[4]

Tasitus berusia sekitar tujuh tahun pada masa Kebakaran Besar Roma. Seperti orang-orang Romawi lainnya, ia nampaknya mendengar soal kebakaran yang menghancurkan sebagian besar kota tersebut dan tuduhan-tuduhan Nero terhadap umat Kristen.[14] Saat ia menulis catatannya, Tasitus menjadi gubernur provinsi Asia, dan anggota lingkup dalam di Roma dimana ia dikenal dengan jabatan resmi tersebut dengan perhatian terhadap kebakaran tersebut dan umat Kristen.[14]

Pada 1885, P. Hochart menyatakan bahwa pasal tersebut adalah penipuan pius,[47] namun penyunting edisi Oxford tahun 1907 menyanggah pernyataannya dan menyebut pasal tersebut bersifat asli.[48] Para cendekiawan seperti Bruce Chilton, Craig Evans, Paul Eddy dan Gregory Boyd sepakat dengan pernyataan John Meier bahwa "Meskipun beberapa orang dirasa berniat menunjukkan bahwa teks tersebut adalah penyisipan Kristen dalam Tasitus, pasal tersebut jelas-jelas bersifat asli.”[35][25]

Pernyataan bahwa seluruh isi Annales adalah sebuah pemalsuan juga umum ditolak oleh para cendekiawan.[49] John P. Meier menyatakan bahwa tak ada bukti sejarah atau arkeologi untuk mendukung argumen bahwa seorang juru tulis telah menambahkan pasal tersebut ke dalam teks tersebut.[50]

 
Potret Tasitus, berdasarkan pada sebuah patung dada antik

Van Voorst menyatakan bahwa "dari seluruh penulis Romawi, Tasitus memberikan kami informasi paling berharga soal Kristus".[4] Crossan menganggap pasal tersebut berpengaruh dalam menghimpun keberadaan Yesus dan penyaliban-Nya, dan menyatakan" "Bahwa ia disalib sebenar hal historis apapun yang pernah ada, karena Yosefus dan Tasitus... sepakat dengan catatan-catatan Kristen setidaknya pada fakta dasar tersebut."[51] Eddy dan Boyd menyatakan bahwa tulisan tersebut "secara tegas menunjukkan" bahwa Tasitus menyediakan konfirmasi non-Kristen terhadap penyaliban Yesus.[8] Cendekiawan Alkitab Bart D. Ehrman menulis: "laporan Tasitus mengkonfirmasikan apa yang kita ketahui dari sumber-sumber lain, bahwa Yesus dieksekusi atas perintah gubernur Yudea Romawi, Pontius Pilatus, pada masa kekuasaan Tiberius."[52]

James D. G. Dunn menganggap pasal tersebut berguna dalam menghimpun fakta soal gereja perdana, seperti bahwa terdapat sejumlah umat Kristen di Roma pada sekitar tahun 60 M. Dunn menyatakan bahwa Tasitus nampak menekankan bahwa umat Kristen adalah suatu bentuk dari Yudaisme, meskipun membedakannya dari mereka.[10] Raymond E. Brown dan John P. Meier menyatakan bahwa selain menyatakan bahwa ada sejumlah besar umat Kristen di Roma, pasal Tasitus tersebut menyediakan dua potong informasi sejarah penting, yakni bahwa sekitar 60 M, kemungkinan pembedaan antara Kristen dan Yahudi di Roma dan bahwa bahkan umat pagan menghubungkan Kekristenan di Roma dan cikal bakalnya di Yudea.[11]

Meskipun kebanyakan cendekiawan menganggap tulisan tersebut bersifat asli, sejumlah kecil cendekiawan mempertanyakan nilai dari pasal tersebut dengan menyatakan bahwa Tasitus lahir pada 25 tahun setelah kematian Yesus.[4]

Beberapa cendekiawan memperdebatkan nilai sejarah dari pasal tersebut dengan menyatakan bahwa Tasitus tak menyebut sumber informasinya.[53] Gerd Theissen dan Annette Merz berpendapat bahwa Tasitus berkali-kali mengutip karya-karya sejarah pada masa sebelumnya yang sekarang telah hilang, dan bahwa ia memakai sumber-sumber resmi dari sebuah arsip Romawi dalam kasus tersebut. Namun, jika Tasitus menyalin dari sebuah sumber asli, beberapa cendekiawan menganggap bahwa ia seharusnya menyebut Pilatus dengan sebutan prefek alih-alih prokurator.[54] Theissen dan Merz menyatakan bahwa Tasitus memberikan deskripsi prasangka yang menyebar soal Kekristenan dan sedikit penjelasan berharga soal "Kristus" dan Kekristenan, sumber yang sekarang masih belum jelas.[54] Namun, Paul Eddy menyatakan bahwa karena jabatannya sebagai senator, Tasitus juga nampaknya memiliki akses ke dokumen-dokumen Romawi resmi pada masa itu dan tak memerlukan sumber lain.[25]

Michael Martin menyatakan bahwa keotentikan pasal dari Annales tersebut juga diragukan atas dasar bahwa Tasitus tak memakai nama "Christos", yang berasal dari kata “mesias”,[55] sementara pihak lain mempertanyakan soal apakah pasal tersebut mewakili "beberapa modernisasi atau pembaharuan dari fakta-fakta" untuk merefleksikan dunia Kristen pada masa teks tersebut ditulis.[56]

Weaver menyatakan bahwa Tasitus menyebut penganiayaan umat Kristen, tetapi tak ada penulis Kristen lain yang menulis penganiayaan tersebut selama seratus tahun.[57]

Para cendekiawan juga memperdebatkan soal masalah penyebutan dalam rujukan dari Tasitus. Charles Guignebert berpendapat bahwa "Selama terdapat kemungkinan [bahwa Tasitus menyebut soal apa yang dikatakan oleh umat Kristen itu sendiri], pasal tersebut masih sangat kurang bernilai".[58] R. T. France menyatakan bahwa pasal Tasitus tak lebih dari menunjukkan bahwa Tasitus mengulang apa yang ia dengar dari umat Kristen.[59] Namun, Paul Eddy menyatakan bahwa sebagai sejarawan unggul di Roma, Tasitus umumnya dikenal karena mengecek sumber-sumbernya dan ia tak memiliki kebiasaan melaporkan gosip.[25] Tasitus adalah anggota Quindecimviri sacris faciundis, sebuah dewan para pendeta yang bertugas mengawasi kultus-kultus agama asing di Roma. Hal ini membuat Van Voorst menyatakan bahwa fakta tersebut mendukung pernyataan bahwa ia memiliki pengetahuan soal cikal bakal Kristen lewat karyanya.[60]

Sumber awal lainSunting

Rujukan-rujukan terawal yang diketahui kepada Kekristenan ditemukan dalam Antikuitas Yahudi, sebuah karya 20 volume yang ditulis oleh sejarawan Yahudi Titus Flavius Yosefus pada sekitar tahun 93–94 M, pada masa pemerintahan kaisar Domitianus. Karya tesebut meliputi dua rujukan kepada Yesus dan umat Kristen (dalam Pasal 18, Ayat 3 dan Pasal 20, Ayat 9), dan juga sebuah rujukan kepada Yohanes Pembaptis (dalam Pasal 18, Ayat 5).[61][62]

Rujukan yang diketahui berikutnya kepada Kekristenan ditulis oleh Plinius yang Muda, yang merupakan gubernur Romawi Bitinia dan Pontus pada masa pemerintahan kaisar Trajan. Pada sekitar tahun 111 M,[63] Plinius menulis sebuah surat kepada kaisar Trajan, meminta panduan soal bagaimana menghadapi para terduga Kristen yang dihadapkan kepadanya di pengadilan-pengadilan yang diadakan olehnya pada masa itu.[64][65][66] Rujukan-rujukan Tasitus kepada penganiayaan Nero terhadap umat Kristen dalam Annales ditulis pada sekitar tahun 115 M,[63] beberapa tahun setelah surat Plinius selain juga pada masa pemerintahan kaisar Trajan.

Penulis awal terkenal lainnya adalah Gaius Suetonius Tranquillus, yang menulis Kehidupan Dua Belas Kaisar pada sekitar tahun 122 M,[63] pada masa pemerintahan kaisar Hadrianus. Dalam karya tersebut, Suetonius menyebut soal kenapa umat Kristen Yahudi diusir dari Roma oleh kaisar Klaudius, dan juga penganiayaan umat Kristen oleh Nero, yang merupakan pewaris dan penerus Klaudius.

KeteranganSunting

  1. ^ Tasitus, Annales 12.60: Klaudius berkata bahwa pengadilan para prokuratornya memiliki dampak yang sama dengan pengadilan yang ia buat.

CatatanSunting

  1. ^ Easterling & Kenney 1982, hlm. 892.
  2. ^ a b Dando-Collins 2010, hlm. 1-4.
  3. ^ a b c d e Brent 2009, hlm. 32-34.
  4. ^ a b c d e Van Voorst 2000, hlm. 39-53.
  5. ^ a b c Evans 2001, hlm. 42.
  6. ^ a b Mills 2001, hlm. 343.
  7. ^ a b Bond 2004, hlm. 11.
  8. ^ a b Eddy & Boyd 2007, hlm. 127.
  9. ^ Mellor 2010, hlm. 23.
  10. ^ a b Dunn 2009, hlm. 56.
  11. ^ a b Brown 1983, hlm. 99.
  12. ^ Tacitus: Annales XV.
  13. ^ Tacitus, The Annals, book 15, chapter 44.
  14. ^ a b c Barnett 2002, hlm. 30.
  15. ^ Furneaux & Pitman 2010, hlm. 4.
  16. ^ a b Newton 1999, hlm. 96-97.
  17. ^ Andresen 1902, hlm. 780.
  18. ^ Boman 2011, hlm. 355.
  19. ^ a b Van Voorst 2000, hlm. 44-48.
  20. ^ a b c d e Bromiley 1995, hlm. 657.
  21. ^ Lampe 2006, hlm. 12.
  22. ^ a b c Van Voorst 2000, hlm. 33-35.
  23. ^ Renehan 1968, hlm. 368-370.
  24. ^ JSTOR 2007, hlm. 7.
  25. ^ a b c d Eddy & Boyd 2007, hlm. 181.
  26. ^ Brunt 1990, hlm. 167.
  27. ^ Tacitus, Histories.
  28. ^ Bromiley 1995, hlm. 979.
  29. ^ Bruce 2000, hlm. 354.
  30. ^ A New Inscription Which Mentions Pilate as 'Prefect', hlm. 71.
  31. ^ Inscriptions latines de Cesaree (Caesarea Palaestinae), hlm. 783-4.
  32. ^ The Caesarea Inscription of Pontius Pilate and Its Historical Significance, hlm. 142-6.
  33. ^ Pontius Pilate in history and legend, hlm. 523—530.
  34. ^ Crossan 1999, hlm. 9.
  35. ^ a b Chilton & Evan 1998, hlm. 465-466.
  36. ^ Van Voorst 2000, hlm. 48.
  37. ^ Carter 2003, hlm. 44.
  38. ^ a b c Feldman 1997, hlm. 818.
  39. ^ Carter 2001, hlm. 215.
  40. ^ Eck 2008, hlm. 222.
  41. ^ a b Portier 1994, hlm. 263.
  42. ^ Feldman 1997, hlm. 381.
  43. ^ Powell 1998, hlm. 33.
  44. ^ a b Dunstan 2010, hlm. 293.
  45. ^ Burkett 2002, hlm. 485.
  46. ^ Kellum 2009, hlm. 109-110.
  47. ^ Furneaux 1907, hlm. 416.
  48. ^ Furneaux 1907, hlm. 418.
  49. ^ Van Voorst 2000, hlm. 42.
  50. ^ Meier 1991, hlm. 168-171.
  51. ^ Crossan 1995, hlm. 145.
  52. ^ Ehrman 2001, hlm. 59.
  53. ^ Bruce 1974, hlm. 23.
  54. ^ a b Rheissen & Merz 1998, hlm. 83.
  55. ^ Martin 1993, hlm. 50-51.
  56. ^ Shaw 2015, hlm. 86.
  57. ^ Weaver 1999, hlm. 53. 57.
  58. ^ Jesus, hlm. 13.
  59. ^ France 1986, hlm. 19-20.
  60. ^ Van Voorst 2011, hlm. 2159.
  61. ^ Maier 1995, hlm. 12.
  62. ^ Baras 1987, hlm. 54-57.
  63. ^ a b c Crossan 1999, hlm. 3.
  64. ^ Carrington 1957, hlm. 429.
  65. ^ Benko 1986, hlm. 5-7.
  66. ^ Benko 2014, hlm. 1055–1118.

ReferensiSunting

Andresen, Georg (1902). Wochenschrift fur klassische Philologie. 
Baras, Zvi (1987). "The Testimonium Flavianum and the Martyrdom of James". Dalam Feldman, Louis H.; Hata, Gōhei. Josephus, Judaism and Christianity. Leiden: Brill Publishers. ISBN 978-9004085541. 
Barnett, Paul (2002). Jesus & the Rise of Early Christianity: A History of New Testament Times. Downers Grove, Illinois: InterVarsity Press. ISBN 978-0830826995. 
Benko, Stephen (1986). Pagan Rome and the Early Christians. Bloomington, Indiana: Indiana University Press. ISBN 978-0253203854. 
Benko, Stephen (2014). "Pagan Criticism of Christianity during the First Centuries A.D.". Dalam Temporini, Hildegard; Haase, Wolfgang. Rise and Decline of the Roman World. second series (Principat) (dalam bahasa Jerman). Berlin: De Gruyter. ISBN 978-3110080162. 
Boman, J. (2013-01-04). Inpulsore Cherestro? Suetonius' Divus Claudius 25.4 in Sources and Manuscript. Yerusalem: Studium Biblicum Franciscanum. 
Bond, Helen K. (2004). Pontius Pilate in History and Interpretation. ISBN 0-521-61620-4. 
Brent, Allen (2009). A Political History of Early Christianity. Edinburgh: T&T Clark. ISBN 978-0567031754. 
Bromiley, Geoffrey W. (1995). International Standard Bible Encyclopedia. Grand Rapids, Michigan: Wm. B. Eerdmans Publishing Company. ISBN 978-0802837851. 
Brown, Raymond Edward; Meier, John P. (1983). Antioch and Rome: New Testament cradles of Catholic Christianity. ISBN 0-8091-2532-3. 
Bruce, F.F. (1974). Jesus and Christian Origins Outside the New Testament. Grand Rapids: Eerdmans. 
Brunt, P. A. (1990). Roman imperial themes. Oxford University Press. ISBN 0-19-814476-8. 
Bruce, F. F. (2000). Paul, apostle of the heart set free. Eerdsmans. ISBN 1842270273. 
Burkett, Delbert Royce (2002). An introduction to the New Testament and the origins of Christianity. ISBN 0-521-00720-8. 
Carrington, Philip (1957). "The Wars of Trajan". The Early Christian Church. Volume 1: The First Christian Century. Cambridge: Cambridge University Press. ISBN 978-0521166416. 
Carter, Warren (1 September 2003). Pontius Pilate: Portraits of a Roman Governor. ISBN 0814651135. 
Chilton, Bruce; Evans, Craig A. (1998). Studying the historical Jesus: evaluations of the state of current research. ISBN 90-04-11142-5. 
Crossan, John Dominic (1995). Jesus: A Revolutionary Biography. HarperOne. ISBN 0-06-061662-8. 
Crossan, John Dominic (1999). "Voices of the First Outsiders". Birth of Christianity. Edinburgh: T&T Clark. ISBN 978-0567086686. 
Dando-Collins, Stephen (2010). The Great Fire of Rome. ISBN 978-0-306-81890-5. 
Dunn, James D. G. (2009). Beginning from Jerusalem (Christianity in the Making, vol. 2). Grand Rapids, Michigan: Wm. B. Eerdmans Publishing Company. ISBN 978-0802839329. 
Easterling, P.E.; Kenney, E. J. (1982). The Cambridge History of Latin Literature. Cambridge University Press. ISBN 0-521-21043-7. 
Eddy, Paul R.; Boyd, Gregory A. (2007). The Jesus Legend: A Case for the Historical Reliability of the Synoptic Jesus Tradition. Ada, Michigan: Baker Academic. ISBN 978-0801031144. 
Ehrman, Bart D. (2001). Jesus: Apocalyptic Prophet of the New Millennium. Oxford University Press. ISBN 978-0195124743. 
Evans, Craig A. (2001). Jesus and His Contemporaries: Comparative Studies. Leiden: Brill Publishers. ISBN 978-0391041189. 
Feldman, Louis H. (1997). Josephus, the Bible, and history. ISBN 90-04-08931-4. 
France, R. T. (1986). Evidence for Jesus (Jesus Library). Trafalgar Square Publishing. ISBN 978-0-340-38172-4. 
Furneaux, Henry; Pitman, H. (2010). Cornelii Taciti Annalium, Libri V, VI, XI, XII: With Introduction and Notes. ISBN 1-108-01239-6. 
Lampe, Peter (2006). Christians at Rome in the First Two Centuries. ISBN 0-8264-8102-7. 
Portier, William L. (1994). Tradition and Incarnation: Foundations of Christian Theology. Mahwah, New Jersey: Paulist Press. ISBN 978-0809134670. 
Van Voorst, Robert E. (2000). Jesus Outside the New Testament: An Introduction to the Ancient Evidence. Grand Rapids, Michigan: Wm. B. Eerdmans Publishing Company. ISBN 978-0802843685. 
Mills, Watson E.; Bullard, Roger Aubrey (2001). Mercer dictionary of the Bible. ISBN 0-86554-373-9. 
Van Voorst, Robert E. (2011). Handbook for the Study of the Historical Jesus. Leiden: Brill Publishers. ISBN 978-9004163720. 
Mellor, Ronald (2010). Tacitus' Annals. Oxford. ISBN 0-19-515192-5. 
Maier, Paul L. (1995). Josephus, the Essential Writings: A Condensation of Jewish Antiquities and the Jewish War. Grand Rapids, Michigan: Kregel Publications. ISBN 978-0825429637. 
Shaw, Brent (2015). "The Myth of Neronian Persecution". Journal of Roman Studies. 105. doi:10.1017/S0075435815000982. 
Weaver, Walter P. (1999). The Historical Jesus in the Twentieth Century: 1900-1950. 
Theissen, Gerd; Merz, Annette (1998). The historical Jesus: a comprehensive guide. Minneapolis: Fortress Press. ISBN 978-0-8006-3122-2. 
Martin, Michael (1993). The Case Against Christianity. 
Dunstan, William E. (2010). Ancient Rome. ISBN 0-7425-6833-4. 
Newton, Francis (1999). The Scriptorium and Library at Monte Cassino, 1058–1105. Cambridge University Press. ISBN 0-521-58395-0. 
Furneaux, Henry (1907). Cornelii Taciti Annalium ab excessu divi augusti libri. The annals of Tacitus with introduction and notes, 2nd ed., vol. ii, books xi-xvi. Clarendon. 
Meier, John P. (1991). A Marginal Jew: Rethinking the Historical Jesus. Doubleday. 
Renehan, Robert (1968). Christus or Chrestus in Tacitus?. La Parola del Passato. 
Transactions and proceedings of the American Philological Association, Volume 29. JSTOR. 2007. 
Powell, Mark Allan (1998). Jesus as a figure in history: how modern historians view the man from Galilee. ISBN 0-664-25703-8. 
Köstenberger, Andreas J.; Kellum, L. Scott (2009). The Cradle, the Cross, and the Crown: An Introduction to the New Testament. ISBN 978-0-8054-4365-3. 
Carter, Warren (10 Oktober 2001). Matthew and Empire: Initial Explorations. T&T Clark. ISBN 9781563383427. 
Eck, Werner (2008). Die Benennung von römischen Amtsträgern und politisch-militärisch-administrativenFunktionen bei Flavius Iosephus: Probleme der korrekten IdentifizierungAuthor. Zeitschrift für Papyrologie und Epigraphik. 
"Tacitus: Annales XV". 
"Tacitus, The Annals, book 15, chapter 44". 
Tacitus. Histories. 
A New Inscription Which Mentions Pilate as 'Prefect'". JBL. 1962. 
Inscriptions latines de Cesaree (Caesarea Palaestinae). Latomus. 1963. 
The Caesarea Inscription of Pontius Pilate and Its Historical Significance. Vestnik Drevnej Istorii. 1965. 
Pontius Pilate in history and legend. History Today. 1968. 
Jesus. New York: University Books. 1956. 

Bacaan tambahanSunting