Teresa Teng

penyanyi Taiwan

Teresa Teng (29 Januari 1953 – 8 Mei 1995; kadang-kadang namanya ditulis Teresa Tang, Teresa Deng atau Deng Li-jun) adalah seorang penyanyi legendaris dari Taiwan. Ia terkenal di antara komunitas masyarakat berbahasa Mandarin dan di seluruh Asia, termasuk Indonesia, selama kurang lebih 30 tahun. Ia terkenal hingga hari ini kerana lagu-lagunya yang merakyat dan bernada balada romantis.

Teresa Teng
Nama Tionghoa鄧麗君 (Tradisional)
Nama Tionghoa邓丽君 (Sederhana)
PinyinDèng Lìjūn (Mandarin)
Jyutpingdang6 lai6 gwan1 (Kanton)
Nama LahirTeng Li-Chun
LeluhurDaming, Hebei, China
AsalRepublik Tiongkok (Taiwan)
MakamChin Pao San
25°15′04″N 121°36′14″E / 25.251°N 121.604°E / 25.251; 121.604
Nama LainTeresa Tang, Teresa Deng
PekerjaanPenyanyi
GenreMandopop, Cantopop, J-Pop
InstrumenVokal
LabelPolydor, PolyGram
Tahun aktif1967 – 1995

Awal kehidupan dan masa kecilSunting

Teresa Teng lahir di desa Tianyang, Baozhong Township, Yunlin, Taiwan pada 29 Januari 1953. Ayahnya seorang tentara Angkatan Bersenjata Republik China dari Daming, Hebei sedangkan ibunya dari Doungping, Shandong. Teresa Teng adalah satu-satunya perempuan dari 4 bersaudara, ia memiliki 2 abang dan seorang adik. Pernah bersekolah di SMA Putri Ginling di Sanchoung Township, Taipei County.

Pada saat muda, Teresa Teng memenangkan penghargaan untuk bernyanyi di kompetisi bakat. Pada tahun 1964, hadiah besar pertama diraihnya ketika menyanyikan lagu 'Visiting Yintai' dari Shaw Brothers Hwangmei film opera, The Love Eterne, dalam sebuah acara yang diselenggarakan oleh Broadcasting Corporation of China. Tidak lama setelah itu, Teresa mampu mendukung keluarganya dengan bernyanyi. Berkembangnya ekonomi manufaktur Taiwan di tahun 1960an membuat pembelian rekaman lebih mudah untuk banyak keluarga. Teresa Teng berhenti dari sekolah tinggi dengan persetujuan ayahnya karena ingin mengejar cita-citanya sebagai penyanyi.

KarierSunting

Kerana memiliki nama keluarga yang sama dengan Deng Xiaoping, Penyanyi berzodiak Aquarius ini dijuluki "Little Deng". Dikatakan bahwa ketika pemimpin komunis (Deng Xiaoping) memimpin China di siang hari, penyanyi Teresa Teng memimpin China pada malam hari. Teresa Teng, Agnes Chan, Yu Yar, Ouyang Feifei dan Judy Ongg semua dianggap sebagai "Lima Besar Diva Asia" selama tahun 1970 - 1980an, akan tetapi lagu Teresa Teng tetap yang paling populer.

Gunther Mende, Mary Susan Applegate dan Candy de Rouge menulis lagu "The Power of Love" untuk Jennifer Rush. Teresa Teng menyanyikannya dan membuat lagu itu terkenal di kawasan Asia. Dia awalnya menyanyikannya di sebuah Konser di Tokyo - delapan tahun sebelum dinyanyikan dan dirilis oleh Celine Dion.

Teresa merekam beberapa lagu terkenal, termasuk "Kapankah Kau Akan Kembali (pinyin: Hé Rì Jūn Zài Lái). Selain lagu-lagunya yang berbahasa Mandarin, ia juga pernah merekam lagu-lagu dalam Bahasa Indonesia, Hokkien, Kanton, Jepang dan Inggris. Di Indonesia, seringkali Teresa disandingkan dengan aktris Leily Sagita kerana dinilai memiliki wajah yang hampir mirip.

Dikagumi oleh rakyat dari kedua negara yang bersitegang, China dan Taiwan, Teresa Teng pada tahun 1989 mengadakan konser secara terang-terangan di Paris dan Hongkong untuk mendukung pergerakan mahasiswa dan pelajar melawan pemerintah RRC yang berpuncak pada kerusuhan di lapangan Tiananmen.

Meskipun Teresa Teng tampil di banyak negara di seluruh dunia, ia tidak pernah tampil di China. Partai Komunis China akhirnya mengundangnya pada tahun 1990an tetapi Teresa tidak pernah melakukannya.

Kehidupan pribadiSunting

Meskipun jenjang karir dan popularitasnya terus meningkat namun sayangnya urusan percintaan Teresa Teng tidak begitu beruntung.

Cinta pertama Teresa Teng adalah Lim Zhen Fa bin Lim Shui Chen, seorang putra dari taipan kasino asal Malaysia. Pada saat itu (tahun 1972) Teresa baru berumur 19 sedangkan kekasihnya 8 tahun lebih tua. Sayangnya hubungan mereka tidak sampai ke pernikahan dan pria tersebut meninggal akibat serangan jantung. Pada tahun 1976, pada konsernya di Hong Kong, Teresa menyanyikan lagu "Goodbye My Love" dan sempat menangis lalu menutup mulutnya dengan tangannya. Ia lalu melap air matanya dengan jari di pipi dan melanjutkan bernyanyi.

Pada tahun 1979, aktor Hongkong terkenal Jackie Chan jatuh hati dengannya dan mengejar Teresa Teng. Namun menurut Jackie di buku autobiografinya, Teresa merupakan wanita pendiam, manis, pemalu, lembut, sopan, sedangkan Jackie adalah tipe orang yang cerewet, kasar, dan vulgar. Mereka berpisah karena kepribadian mereka yang berbeda. Jackie berakhir dengan wanita lain asal Taiwan yang juga merupakan aktris, Joan Lin Fong Chiao (yang dinikahinya setelah dia hamil). Ini menimbulkan pertanyaan apakah Jackie berpacaran dengan dua superstar Taiwan pada waktu yang bersamaan?

Pada Februari 1982, Teresa Teng yang berusia 29 tahun mengumumkan pertunangannya dengan Beau Kuok bin Robert Kuok, anak pertama dari miliarder asal Malaysia, yang dijuluki dengan "Raja Gula", yang juga Pemilik Shagri-La hotel. Pernikahan telah dibahas dan direncanakan, namun Teresa Teng sangat keberatan dengan persyaratan dari keluarganya yang mengharuskan ia untuk memberikan rincian informasi tertulis tentang semua hubungan masa lalunya dengan mantan-mantannya. Dia juga harus menghentikan semua hubungan dari dunia hiburan.

Pada tahun 1989 Teresa bertemu dengan berondong yang 15 tahun lebih muda bernama Quilery Faul Puel Stephane di Paris. Faul berusia 21 tahun (Faul kelahiran 1968) sedangkan Teresa sudah berusia 36 tahun. Faul adalah seorang fotografer dan Teresa memang hobi difoto sejak ia masih kecil. Teresa pernah berkunjung ke studio rekaman miliknya, mereka berdua saling jatuh cinta dan akhirnya berpacaran selama 6 tahun. Awalnya Teresa selalu didampingi oleh asisten pribadinya ketika berkencan tetapi seiring waktu setelah hubungannya makin dekat Faul menyuruh Teresa untuk tidak membawa pendamping pribadinya. Faul kemudian berhenti dari pekerjaannya sehingga bisa menemani Teresa secara fulltime.

Hingga kematiannya, Teresa sama sekali belum pernah menikah.

WafatSunting

Teresa Teng meninggal dunia akibat serangan asma akut ketika sedang berlibur di Chiang Mai, Thailand, dalam usia 42 tahun (43 tahun menurut Kalender Tionghoa) pada tanggal 8 Mei 1995. Ia dimakamkan bagai seorang pahlawan di Taiwan, dengan bendera Taiwan menutupi peti matinya dan Presiden Taiwan saat itu, Lee Teng-hui, menghadiri pemakamannya.

Saat-saat sebelum meninggal, ada yang menyebutkan Teresa pingsan di lorong Imperial hotel sambil memegang inhaler. Ia meninggalkan kamarnya dan merangkak di sepanjang koridor mencari bantuan dan sempat memanggil "mama", kata-kata terakhir yang didengar oleh para staff hotel. Koran Thailand juga sempat mempublikasi foto jenazah Teresa dan melaporkan bahwa terdapat memar-memar di sekitar wajah, kepala, leher dan kaki. Pacarnya yang bernama Faul asal Perancis saat itu sedang keluar, rumor beredar bahwa mereka sempat mengalami argumen sebelum Faul keluar sekitar jam 3.30 siang.

Teresa dimakamkan di sebuah kaki gunung di Chin Pao San (Jinbaoshan, arti harafiahnya Gunung Harta Karun Emas sedangkan Chin Pao San adalah sebutan dari bahasa hokkien), dalam sebuah kompleks pemakaman dekat Jinshan, dekat Taipei, Taiwan. Sebuah patung dirinya dalam pakaian pertunjukan dipajang, diiringi dengan musik lagu-lagunya sebagai latar belakangnya, didirikan sebagai tugu peringatan di tempat pemakamannya tersebut. Disana juga terdapat sebuah piano elektronik raksasa di mana para pengunjung dapat memainkannya dengan menginjak balok-balok piano tersebut. Makamnya ini sering dikunjungi oleh para penggemarnya.

KontroversiSunting

Pada Februari 1979, gara-gara tetangkap memiliki paspor palsu Republik Indonesia, Teresa dicekal masuk ke Jepang. Ia kemudian terbang ke Amerika Serikat untuk mengambil kelas singkat bahasa Inggris. Dari sana jugalah dikabarkan mulainya hubungan mesra antara Teresa Teng dan Jackie Chan. Jackie berangkat ke Amerika untuk menggarap film barunya.

Pada awal 1980an, ketegangan politik antara Taiwan dan Tiongkok mengakibatkan lagu Teresa bersama penyanyi lain dari Taiwan dan Hongkong dicekal selama beberapa tahun di Tiongkok kerana dianggap terlalu "borjuis". Meskipun demikian, popularitas Teresa Teng terus meningkat berkat pasar gelap. Lagu musiknya terus diputar dimana-mana, dari kelab malam sampai ke gedung-gedung pemerintah, sehingga larangan lagunya pun akhirnya dicabut.

PeninggalanSunting

Sebuah rumah yang dibeli Teresa pada tahun 1986 di Hong Kong beralamatkan Jalan Carmel Street nomor 18 juga menjadi tempat tujuan kunjungan para penggemarnya terutama begitu ketika berita kematiannya tersebar. Rencana penjualan rumah tersebut untuk membiayai sebuah museum di Shanghai diberitakan pada tahun 2002, dan kemudian menjadikannya terjual sebesar 32 juta dollar Hong Kong. Rumah itu ditutup untuk umum semenjak tanggal 29 Januari 2004, hari di mana Teresa seharusnya berulang tahun ke-51.

Untuk memperingati tahun ke-10 kematiannya, Teresa Teng Culture and Education Foundation meluncurkan kampanye berjudul "Feel Teresa Teng". Selain merencanakan konser di Hongkong dan Taiwan, para penggemarnya juga melayat ke makamnya di Chin Pao San. Sebagian gaun-gaun, perhiasan, dan barang-barang pribadi Teresa juga dipajang dalam sebuah ekshibisi di Yuzi Paradise, sebuah taman kesenian di luar kota Guilin, Tiongkok.

Pada bulan Mei 2002, patung lilin Teresa Teng dipajang untuk umum di museum lilin Madame Tussauds di Hongkong.

ReferensiSunting

  • "Teresa Teng in loving memory forever", China Daily, 2005-05-08.

Lihat pulaSunting

Pranala luarSunting

Didahului oleh:
George Lam
Golden Needle Award of RTHK Top Ten Chinese Gold Songs Award
1995
Diteruskan oleh:
Alan Tam