Buka menu utama

Sylvia Widiantono Nainggolan adalah seorang aktris berkebangsaan Indonesia.

Daftar isi

BiografiSunting

Sylvia Widiantono berkenalan dengan Teguh Karya pada 1966, saat pementasan Langit Hitam karya Taufik Ismail, di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Kala itu Sylvia ikut ambil bagian dalam pementasan tersebut. Teguh rupanya terkesan dengan penampilan Sylvia dan mengajak Sylvia untuk bermain dan bergabung di pementasan Teguh Karya mendatang. Kecocokan Sylvia dan Teguh membawa Sylvia terlibat lebih jauh lagi dalam kegiatan berteater sampai berdirinya Teater Populer.

Tahun 1980, Slamet Rahardjo, rekannya di Teater Populer, sekaligus juga sama-sama murid Teguh Karya, membuat film Seputih Hatinya Semerah Bibirnya, dan Sylvia ikut ambil bagian dalam film itu. Dua tahun kemudian, 1982, Teguh Karya membuat film drama Di Balik Kelambu memasang Slamet Rahardjo dan Christine Hakim sebagai pemeran utama. Sylvia kebagian peran sebagai kakak Nurlela (Christine Hakim) dan lewat peran itu ia berhasil masuk jajaran nominasi FFI untuk pertama kali di kategori pemeran pembantu wanita, namun kalah oleh Nani Wijaya lewat film RA Kartini. Selanjutnya, penampilan Sylvia memang terbatas pada film-film karya Teguh Karya atau Slamet Rahardjo. Doea Tanda Mata dan Secangkir Kopi Pahit juga menampilkan akting prima Sylvia Widiantono. Dalam Secangkir Kopi Pahit, dia menjadi ibunda Togar (Alex Komang) yang menikah dengan wanita seusianya, Lola (Rina Hassim).

Pada tahun 1987, Sylvia juga tampil dalam film Kasmaran karya Slamet Rahardjo Djarot, dimana ia memerankan karakter tetangga Ida Iasha dan Dwi Yan. Jarang tampilnya Sylvia di film, memang karena prinsip Sylvia yang lebih memprioritaskan dunia teater. Di era 90-an, ketika perfilman mengalami mati suri, Teguh Karya membuat beberapa karya drama televisi, diantaranya, Mainan Dari Gelas (1996) dan Perkawinan Siti Zubaedah (1996). Dalam Mainan Dari Gelas, Sylvia bermain bersama Paquita Widjaya dan Eko Haryanto. Dan dalam Perkawinan Siti Zubaedah, Sylvia tampil meyakinkan bersama Ayu Azhari dan Alex Komang.

Sepeninggal Teguh Karya pada tahun 2001, secara sendirinya membuat Sylvia Widiantono mundur dari dunia akting di film atau televisi. Beberapa tahun belakangan, Sylvia terkena serangan stroke yang membuatnya harus duduk di kursi roda.[1]

Filmografi [2]Sunting

PenghargaanSunting

ReferensiSunting