Ida Iasha

pemeran perempuan asal Indonesia


Ida Albertina van Suchtelen van de Haere (lahir 14 Mei 1963) atau lebih dikenal dengan nama Ida Iasha (setelah berpindah agama ke Islam ketika menikah pada tanggal 11 Mei 1983, ia mengganti namanya menjadi Ida Aisyah[1]) adalah seorang artis peran Indonesia di era 80-an.

Ida Iasha
Berkas:IdaIasha.jpg
LahirIda Albertina van Suchtelen van de Haere
14 Mei 1963 (umur 58)
Bendera Belanda Zwijndrecht, Belanda
Nama lainIda Aisyah Syahputra (Ida Iasha)
PekerjaanAktris
Tahun aktif1983 - sekarang
Suami/istriEddy Syahputra
AnakRendy Russell Syahputra (24 September 1984)

Kama Bashkara Syahputra (25 Desember 1990)

Remyzard Adi Putra (1 Juni 1994)

Badra Rahadi Putra (21 Juli 1997)
Orang tuaAJC. van Suchtelen van de Haere (Ayah), Thelma (Ibu)

Kehidupan PribadiSunting

Anak ketiga dari lima bersaudara ini, lahir di kota Zwijndrecht, Amsterdam, Belanda, 14 Mei 1963. Bernama asli Ida Albertina van Suchtelen van de Haere. Ayahnya, AJC van Suchtelen van de Haere adalah seorang pria berdarah Belanda-Jepang dan pemain terompet yang menjadi Kepala Riset Unilever Belanda, lahir di Pekalongan, Jawa Tengah. Sementara ibunya, Thelma memiliki darah Belanda dan Solo, Jawa Tengah. Masa kecil dan remajanya dihabiskan di Belanda, tetapi ia bercita-cita ingin mengunjungi dan bisa menetap di Indonesia, tanah kelahiran ayah dan ibunya.

Juni 1980, tepat 1 bulan setelah berusia 17 tahun dan menamatkan sekolahnya di HAVO (Hoger Algemeen Voortgezet Onderwijs), Ia dan kelima saudaranya diajak ke Indonesia dan tinggal di rumah kakek dari ibunya di Kemang, Jakarta. Ketika orangtua dan saudaranya hendak kembali ke Belanda, ia menetap di Indonesia dan melanjutkan Pendidikan formalnya yang di tempuh di SMA Tarakanita 1 Jakarta. Selain itu ia juga mengambil kursus singkat Bahasa Indonesia di [[Indonesia College.

Saat sedang praktek kursus Bahasa Indonesia, Ia berjalan-jalan di sekitar Blok M Plaza dan bertemu dengan pemuda bernama Eddy Syahputra, pria asal Padang berusia 26 Tahun yang bekerja di Biro Konsultan Bangunan di Pekanbaru dan pernah bersekolah di Language Training Centre (LTC) London tahun 1976-1977. Oktober 1982, dengan resmi orangtua Eddy, Kolonel TNI-AD, H.M Syarif Hasyim, melamarnya. Untuk perkawinan keluarga, mengajukan 1 syarat yaitu perkawinan harus secara islam. Ia pun tidak keberatan untuk masuk Islam dan merubah namanya menjadi Ida Aisyah Syahputra. 11 Mei 1983, Ia dan Eddy melangsungkan pernikahan secara resmi.

Tahun pertama menikah dengan Eddy, Ia sempat berjalan-jalan bersama suaminya dan secara tidak sengaja bertemu dengan teman suaminya dan menawarkannya untuk menjadi Model. Wajah indonya pun akhirnya mulai menghiasi majalah-majalah wanita dikala itu, termasuk menjadi Brand Ambassador untuk Batik Keris, Johnson & Johnson Baby Shampoo, dan Djarum Super. Tetapi ia tidak menekuni profesi barunya sebagai model itu karena baru saja melahirkan putra pertamanya, Rendy Russell Syahputra yang lahir pada tanggal 24 September 1984. Tahun 1986, barulah Martha Tilaarmemperkenalkannya pada Majalah Sarinah dan ia tidak lagi tampil hanya sebagai model peragaan busana, tetapi menjadi wajah sampul yang laris. Karena wajahnya terpampang di banyak majalah, Sutradara Slamet Rahardjo tertarik padanya untuk membintangi film Kodrat (film) yang diproduksi mulai tanggal 29 Maret 1986. Karena saat itu ia sedikit kesulitan dalam pelafalan nama barunya (Ida Aisyah), sutradara Slamet Rahardjo pun menggantinya untuk nama panggung menjadi Ida Iasha. Setelah film kodrat diputar, ia semakin banyak mendapat order film dan menyelesaikan 4 film dalam satu tahun. Sempat berhenti tampil beberapa bulan untuk mengurus kewarganegaraannya, ia pun tampil kembali dalam film "Mekar Diguncang Prahara" pada pertengahan 1987 dan berlanjut hingga menjelang akhir tahun 1990 dengan berbagai iklan termasuk Lux (sabun), dan majalah-majalah terkenal. Ida pun sempat beberapa kali tampil di film dengan aktor Hollywood.

Ia pun memutuskan untuk sementara berhenti tampil karena tepat pada hari natal di tanggal 25 Desember 1990, Ia melahirkan anak keduanya dan suaminya memberikan nama Kama Bashkara Syahputra. Setelah 1 tahun absen, Ia kembali tampil di 2 film bersama Rhoma Irama. Pada bulan Oktober 1993, Ida pertama kali tampil dalam Salah Asuhan (sinetron) produksi Marissa Haque. Setelah membintangi Salah Asuhan, Ia hamil kembali dan melahirkan putra ketiganya pada tanggal 1 Juni 1994, yang bernama Remyzard Adi Putra. Sejak itulah ia berhenti selama 2 tahun dari kegiatan film untuk mengurus ketiga putranya, hanya saja ia tetap menghiasi majalah-majalah terkenal dan tetap menjadi Bintang Lux (sabun) saat itu. Oktober 1996, barulah ia diajak kembali oleh Marissa Haque untuk membintangi sinetron "Kembang Setaman" yang syutingnya dilakukan di Beijing. Setelah syuting berakhir, Ia hamil anak keempatnya dan lahir pada tanggal 21 Juli 1997 yang diberi nama Badra Rahadi Putra. Setelah melahirkan dan selesai membintangi sinetron Kembang Setaman sebanyak 6 episode tersebut, ia vakum berakting tetapi sempat menjadi Brand Ambassador dari salah satu provider terbesar di Indonesia, Telkomsel pada tahun 1998 dan saat ia menjadi Brand Ambassador inilah pasar pun merespon hebat dan penjualan kartu simPATI-pun naik. Lalu ia vakum total dari dunia entertainment dan Setelah sempat bekerja sebagai Public Relation dalam sebuah perusahaan internasional di bidang IT, pada tahun 2003, Ia tampil kembali di dunia film setelah 9 tahun vakum lewat genre horror garapan Rizal Mantovani, Kuntilanak 2 (2007), berlanjut Kuntilanak 3 (2008) dan filmnya yang terakhir adalah Sajadah Ka'bah (2011)

Pengisi suaraSunting

Pada film-filmnya di era 80-an, Ida tidak menggunakan suara aslinya karena kendala ketidak-mampuannya berbahasa Indonesia dan logat Belandanya yang kental. Suara pada film-filmnya diisi oleh suara Dewi Yull atau Maria Oentoe. Film yang menggunakan suaranya sendiri yaitu Kasmaran, Perempuan Kedua, Sajadah Ka'bah. Sedangkan sinetron yang menggunakan suara aslinya adalah sinetron Salah Asuhan (sinetron) dan Kembang Setaman.

FilmografiSunting

FilmSunting

SinetronSunting

IklanSunting

ReferensiSunting

Pranala luarSunting