Skadron Udara 14

Skadron Udara 14 TNI Angkatan Udara

Skadron Udara 14 Tempur disingkat (Skadud 14) adalah Satuan Tempur Buru Sergap dibawah kendali Wing Udara 3 Tempur, Lanud Iswahyudi yang bermarkas di Maospati, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Pesawat F-5 Tiger II sempat menjadi tulang punggung TNI Angkatan Udara sebagai pengawal Ibu Pertiwi serta beberapa penerbangnya menjadi pucuk pimpinan TNI AU, bahkan TNI, di antaranya Marsekal TNI Djoko Suyanto.

Skadron Udara 14
Lanud Iswahyudi
Lambang Skuadron14.png
Lambang Skadud 14
Dibentuk1 Juli 1962
NegaraBendera Indonesia Indonesia
CabangLambang TNI AU.png TNI Angkatan Udara
Tipe unitSatuan Tempur Buru Sergap
Situs webwww.lanud-iswahjudi.mil.id

Skadron Udara 14, pernah menggoperasikan pesawat tempur MiG-21F (1962 - 1970), F-86 Avon Sabre (1974 - 1980) dan F-5E/F Tiger II (1980 - 2017). Saat ini pesawat F-5E/F Tiger II di-grounded dan dengan Kehadiran pesawat Sukhoi Su-27 dan Sukhoi Su-30 pada bulan Februari 2020, merupakan titik cerah kembali operasionalnya Skadron Udara 14 setelah berakhirnya tugas dari pesawat F-5 Tiger II pada tahun 2016 yang lalu, Sambil menunggu kedatangan 11 Pesawat Tempur Sukhoi Su-35.

SejarahSunting

UmumSunting

 
Pesawat Tempur F-5 E/F Tiger II
 
Kasau Marsekal TNI Hadi Tjahjanto S.IP di dampingi para mantan Kasau (Eagle Family) saat meresmikan Monumen F-5 E/F Tiger II di Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala Lanud Adi Sucipto Yogyakarta

Sejarah Skadron ini tidak bisa dilepaskan dari Lanud Iswahjudi yang dibangun pada zaman Hindia Belanda sekitar tahun 1940 dengan nama Pangkalan Udara Maospati (PAU Maospati). Lanud ini dibangun dengan ukuran 1.586 X 53 meter. Ketika pecah Perang Pasifik, pangkalan ini dijadikan basis kekuatan Sekutu di Pulau Jawa. Dan ketika Sekutu menyerah kepada tentara Jepang tahun 1942, maka pangkalan ini dikuasai oleh Angkatan Laut Jepang (Kaigun Kokusho). Setelah kemerdekaan, pangkalan ini dikuasai oleh laskar-laskar perjuangan. Sejak 4 November 1960, dan berdasarkan Surat Keputusan Menteri/Panglima Angkatan Udara Nomor 564, maka lanud ini berubah menjadi Pangkalan Angkatan Udara Iswahjudi (Lanud Iswahjudi).[1][2]

Tahun 1950 - 1960 Lanud Maospati, tidak banyak mengalami perubahan. Lanud ini memiliki kondisi yang sama ketika ditinggalkan oleh Jepang pada tahun 1945. Operasi penerbangan hanya dilakukan oleh pesawat lain yang singgah disana. Kondisi landasan juga buruk dan tidak terawat. Ukuran landasan masih sama seperti saat dibangun pertama kali oleh Belanda. Mulai September 1957, AURI mengadakan program pembuatan landasan baru yang terkait dengan persiapan Operasi Trikora. Dimana AURI akan menempatkan pesawat Tu-16, Tu-16 KS dan MiG-21 di pangkalan ini. Pembangunan dilaksanakan oleh John Building Company (JBC), sebuah perusahaan nasional yang berpusat di Jakarta. Pekerjaannya mengalami banyak kendala sehingga proses pembangunannya dibekukan oleh AURI. Selanjutnya pekerjaan dilakukan sendiri oleh AURI bekerjasama dengan kontraktor lokal di Madiun dan selesai pada tahun 1960.[3]

Pembangunan yang berhasil dilakukan adalah perpanjangan landasan menjadi 2.350 X 60 meter, dimana di kedua ujung landasan terbuat dari beton dengan ukuran 60 X 60 meter. Pembangunan yang lainnya adalah taxiway berukuran 3.300 X 23 meter dan pembangunan platform berukuran 200 X 100 meter. Dalam pembangunan ini juga dibangun saluran air sepanjang 12 Km.[3]

Peristiwa yang terkait dengan pembentukan skadron ini adalah Operasi Trikora. Dalam operasi ini Indonesia berusaha merebut lagi Irian Barat dari tangan penjajah Belanda. Hal ini didasarkan bahwa Irian Barat termasuk jajahan Belanda dan sejak kemerdekaan RI diproklamirkan, maka semua jajahan Belanda harus diserahkan ke Indonesia, tidak terkecuali Irian Barat. Namun pihak Belanda tidak mengindahkannya, malahan menyatakan daerah itu sebagai bagian wilayah Belanda. Hal ini membuat Presiden RI Soekarno mencanangkan Operasi Trikora untuk merebut Irian Barat setelah pelbagai upaya diplomasi melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Gerakan Non-Blok menemui hasil buntu.[4]

Sementara itu, pada pertengahan tahun 1958, Indonesia mendatangkan 30 pesawat jet Mig-15 UTI yang tiba di Pangkalan Udara Kemayoran (PAU Kemayoran). Pesawat-pesawat itu tiba di Indonesia sejak tanggal 14 Agustus 1958 dan masuk ke Skadron Udara 11. Indonesia juga mendatangkan 22 pesawat pembom Ilyushin Il-28 yang tiba mulai 4 Oktober 1958 dari Rusia, dan dimasukan ke Skadron Udara 21 dan Skadron Udara 22 PAU Kemayoran. Selain itu pada awal 1949, datang 49 pesawat MiG-17 dari Cekoslowakia dan dimasukkan ke Skadron Udara 11. Ketika konfrontasi memuncak pada awal tahun 1960-an, pemerintah mendatangkan 10 pesawat MiG-19 ditempatkan di Skadron Udara 12 di PAU Kemayoran. Selain itu, Indonesia juga membeli 20 pesawat MiG-21 pada tahun 1962 dan ditempatkan di Skadron Udara 14. Hal ini dilakukan untuk menambah kekuatan udara AURI sehingga mampu menggetarkan pihak lawan.[5]

Lahirnya Skadron Udara 14Sunting

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri/Kepala Staf Angkatan Udara, Nomor: Skep/135/VII/1962 tanggal 1 Juli 1962 tentang pembentukan Skadron Udara 14 dengan markas utama di PAU Iswahjudi, Maospati, Magetan, Jawa Timur. Skadron ini awalnya berkekuatan 20 pesawat MiG-21 F buatan negara Blok Timur, dengan komandan pertamanya Mayor Udara Roesman. Sebenarnya Roesman sudah pernah menjabat sebagai Komandan Skadron Udara 11, namun ia dipercaya untuk memimpin Skadron Udara 14. Peresmian Skadron ini dilakukan pada tanggal 8 Agustus 1962 bertempat di PAU Kemayoran. Dengan berdirinya skadron ini dengan kekuatan MiG-21 F, menjadikan Indonesia negara pertama di luar Pakta Warsawa yang mengoperasikannya. Sura Keputusan tanggal 1 Juli 1962 akhirnya diperingati sebagai Hari Jadi Skadron Udara 14. Selain itu, Skadron ini menjadi skadron tempur pertama yang berlokasi di PAU Iswahjudi, sebelum kemudian disusul oleh skadron-skadron lainnya.[5]

Dalam rangka menyiapkan para penerbang Skadron ini, maka diadakan 2 macam program latihan, di dalam negeri dan di luar negeri. Program ke luar negeri dilakukan dengan cara mengirimkan 4 penerbang ke Rusia untuk belajar mengoperasikan MiG-21 F sebagai penerbang tempur. Program ini diawali sejak tahun 1961. Para penerbang yang dikirimkan adalah Kapten Udara Sukardi, Letna Udara I Jahman, Letnan Udara I Sobirin Misbach dan Letnan Udara I Saputro. Dua penerbang, LU I Sobirin Misbach dan LU I Saputro dikirimkan oleh AURI menggantikan LU II Mundung (di-grounded) setelah tiba di Rusia karena faktor kesehatan dan LU II Suganda yang harus pulang karena ketiadaan pressure suit (baju terbang) yang sesuai ukurannya. Baju terbang ini adalah baju anti gravitasi yang dipakai oleh para penerbang tempur, dan sekarang dikenal dengan nama G-suit. Para penerbang ini dididik di Pangkalan Udara Lugowaya, yang terletak berdekatan dengan India.[5]

Skadron ini sejak awal sudah menyandang predikat sebagai skadron tempur sergap (striker interceptor) pada jajaran Wing Operasional (Wing Ops) 300 di bawah Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas). Pesawat mutakhir yang saat itu digunakan adalah MIG-21 Fishbed yang ikut andil dalam Operasi Trikora, Operasi Dwikora dan Operasi Tumpas. Dengan tidak terbangnya MIG-21 Fishbed menyusul kekurangan suku cadang pada akhir 1970-an memaksa Departemen Pertahanan dan Keamanan untuk menoleh ke barat untuk mengaktifkan kembali unsur pertahanan udara ini. Sebagai penggantinya adalah F-86 Sabre yanag dibeli melalui proyek "Garuda Bangkit" pada tahun 1973. Tanggal 19 Februari 1973 rombongan pertama sebanyak 16 pesawat F-86 Sabre tiba di Lanud Iswahyudi. Tanggal 10 Mei 1974 Skadud 14 menjadu unsur organik Komando Satuan Buru Sergap (Kosatsergap) yang disebut dengan Satuan Buru Sergap F-86 Sabre (Satsergap-86).

Tanggal 21 April 1980 TNI AU menerima beberapa pesawat F-5E/F Tiger II buatan Northrop, AS yang diangkut oleh pesawat C-5A Galaxi dalam bentuk rakitan. Rakitan pesawat tersebut kemudian dibentuk kembali oleh para teknisi TNI AU dibawah supervisi Northrop. Pesawat-pesawat F-5E/F Tiger II selanjutnya ditempatkan pada Skadud 14 pada tanggal 5 Mei 1980 sebagai pesawat buru sergap untuk menggantikan pesawat-pesawat F-86 Sabre yang telah dinyatakan habis jam terbangnya. Dengan kedatangan pesawat-pesawat F-5E/F Tiger II yang mampu terbang dengan kecepatan 1,6 Mach (kecepatan suara) tersebut membawa TNI AU kembali lagi ke era supersonik seperti pada masa MiG 21 Fishbed. Operasi Udara yang sering dilaksanakan adalah operasi pertahanan Udara. Latihan bersama yang pernah diikuti adalah Elang Malindo, Elang Indopura, Elang Thainesia, Elang Ausindo dan Cope West. F-5E/F Tiger II TNI AU juga pernah melakukan lawatan persahabatan ke Thailand, Malaysia dan Australia. Dalam rangka meningkatkan unjuk kerja dan kemampuan pesawat-pesawat F-5E/F Tiger II, TNI AU mengadakan program Modernization of Avionic Capability for Armament and Navigation (MACAN) dengan mengirimkan satu pesawat F-5E/F Tiger II ke SABCA, Belgia untuk ditingkatkan kemampuan Avionik untuk persenjataan dan Navigasi nya. Keberhasilan modifikasi kedua pesawat tersebut diteruskan dalam bentuk mass production terhadap pesawat-pesawat F-5E/F Tiger II Skadud 14 lainnya.

OperasiSunting

35 Tahun Menjaga NKRI, Macan di MuseumkanSunting

Sejak kedatangannya pada tanggal 21 April 1980 gelombang pertama armada tempur TNI AU F-5 E/F Tiger II tiba di Lanud Iswahyudi sebanyak delapan unit yang diangkut menggunakan C-5 Galaxy milik Airlift Command USAF. Dua bulan berikutnya, 5 Juli 1980 C-5 Galaxy mendarat kembali mengangkut F-5 E/F Tiger II untuk melengkapi kekurangannya. Setelah 35 tahun mengabdi menjaga dan mengawal NKRI, F-5 E/F Tiger II atau yang di kenal dengan Macan akhirnya dimuseumkan menjadi koleksi Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala Lanud Adi Sucipto. Yogyakarta, yang diresmikan Kasau Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, S.IP., pada hari Selasa, 25 April 2017.[6] Hadir pada kesempatan tersebut para member "Eagle Family" diantaranya Marsekal TNI (Purn.) Djoko Suyanto, Marsekal TNI (Purn.) Imam Sufaat, Marsekal TNI (Purn.) Agus Supriatna, para mantan penerbang F-5 E/F Tiger II, para mantan teknisi, maupun yang masih terbang pada penerbangan sipil.

1.000 dan 2.000 jam terbangSunting

Selama 53 tahun pesawat tempur F-5 Tiger berada di Skadron 14 Lanud Iswahyudi, ada beberapa penerbang yang mencapai 1.000 dan 2.000 jam terbang. Para penerbang yang tercatat mencapai 2.000 jam terbang, diantaranya adalah Marsekal TNI (Purn) Djoko Suyanto, dan Marsekal TNI Yuyu Sutisna.

KomandanSunting

Skadron Udara 14 dipimpin oleh seorang perwira menengah berpangkat Letnan Kolonel (Pnb). Berikut daftar Komandan yang pernah menjadi Komandan Skadron Udara 14/Tempur.

  1. Mayor Udara Roesman Noerjadin (1962 - 1964)
  2. Mayor Pnb Jahman (1964-1966)
  3. Mayor Pnb Tri Suharto (1966-1970)
  4. Mayor Pnb Beni Yosep (1970-1973)
  5. Letkol Pnb Anggoro (1973-1977)
  6. Mayor Pnb FX Suyitno (1977-1980)
  7. Letkol Pnb Holki BK (1980-1984)
  8. Letkol Pnb Irawan Saleh (1984-1986)
  9. Letkol Pnb Lambert F. Silooy (1986-1988)
  10. Letkol Pnb Wartoyo (1988-1989)
  11. Letkol Pnb Suprihadi (1989-1990)
  12. Letkol Pnb Djoko Suyanto (1990-1992)
  13. Letkol Pnb Eris Heriyanto (1992-1995)
  14. Letkol Pnb Dede Rusamsi (1995-1997)
  15. Letkol Pnb Ismono Wijayanto (1997-1999)
  16. Letkol Pnb Bonar Halomoan Hutagaol (1999-2001)
  17. Letkol Pnb Yuyu Sutisna (2001-2003)
  18. Letkol Pnb Nanang Santoso (2003-2005)
  19. Letkol Pnb Samsul Rizal (2005-2008)
  20. Letkol Pnb Ronny Irianto Moningka (2008-2009)
  21. Letkol Pnb Budhi Achmadi (2009-2011)
  22. Letkol Pnb M. Arwani (2011-2012)
  23. Letkol Pnb Mohammad Nurdin (2012-2014)
  24. Letkol Pnb Arif Adi Nugroho (2014-2015)
  25. Letkol Pnb Abdul Haris (2015-2017)
  26. Letkol Pnb Reza Muryaji (2017-2019)
  27. Letkol Pnb Ferrel Rigonald (2019-2020)
  28. Letkol Pnb Wanda Surijohansyah (2020-Sekarang)

ReferensiSunting

Catatan kakiSunting

Daftar pustakaSunting

  • Sutisna, Yuyu (2002). Kepak Sayap Skadron Udara 14 "1962 - 2002" : Tentara Langit, Pahlawan Hati. Dinas Penerangan TNI AU; Skadron Udara 14 - Lanud Iswahjudi. ISBN 979-9555-75-2. 
  • Soewito, Dra. Irna H.N. Hadi; Suyono, Dr. Nana Nurliana; Suhartono, Dra. Soedarini (2008). Awal Kedirgantaraan Di Indonesia : Perjuangan AURI 1945 - 1950. Yayasan Pustaka Obor Indonesia. ISBN 978-602-433-016-3.