Sanherib


Sanherib (aksara paku Asyur Baru: Sanherib pada silinder Rassam cylinder kolom pertama baris ke-25 Sîn-ahhī-erība[3] atau Sîn-aḥḥē-erība,[4] artinya "Sîn sudah mengganti saudara-saudaraku yang telah tiada")[5] adalah Maharaja Asyur Baru yang memerintah sejak kemangkatan ayahnya, Sargon II, pada tahun 705 SM sampai dengan akhir hayatnya pada tahun 681 SM. Raja kedua dari Wangsa Sargon ini terbilang salah seorang Raja Asyur yang paling ternama karena sepak terjangnya tercatat di dalam Alkitab Perjanjian Lama, yakni kampanye militer yang dilancarkannya di Syam. Peristiwa-peristiwa lain yang berlangsung pada masa pemerintahannya adalah penghancuran kota Babel pada tahun 689 SM, dan pemugaran sekaligus pemekaran kota besar Niniwe, ibu kota terakhir bangsa Asyur.

Sanherib
Sanherib-tr-4271.jpg
Relief Sanherib di kaki Gunung Judi,
dekat kota Cizre, Turki
Maharaja Asyur Baru
Berkuasa705–681 SM
PendahuluSargon II
PenerusEsarhadon
Lahirca. 745 SM[1]
Nimrud[2] (?)
Wafat20 Oktober 681 SM
(kira-kira pada umur 64 tahun)
Niniwe
AyahSargon II
IbuRa'īmâ (?)
PasanganTasymetu-syarat
Naqi'a
Anak
Antara
lain
Asyur-nadin-syumi
Arda-Mulisyi
Esarhadon
Bahasa AkadSîn-ahhī-erība
Sîn-aḥḥē-erība

Sekalipun terbilang salah seorang Raja Asyur yang paling berkuasa, Sanherib tetap saja kewalahan mengendalikan Kerajaan Babel yang merupakan bagian selatan dari wilayah Kemaharajaan Asyur Baru. Biang keladi sebagian besar masalah di Babel adalah Marduk-apla-idina II, pemimpin orang Kasdim[6] yang menjadi Raja Babel sebelum ditaklukkan ayah Sanherib. Tidak lama sesudah Sanherib naik takhta pada tahun 705 SM, Marduk-apla-idina merebut Babel dan menjalin persekutuan dengan orang Elam. Meskipun Sanherib berhasil menguasai kembali kawasan selatan pada tahun 700 SM, Marduk-apla-idina masih terus merongrong kekuasaannya, kemungkinan besar dengan cara menghasut raja-raja bawahan Asyur di Syam untuk memberontak sehingga menyulut Perang Syam pada tahun 701 SM, maupun dengan jalan memerangi Bel-ibni, Raja Babel yang diangkat Sanherib. Sesudah Babel dan Elam menawan dan menghukum mati Asyur-nadin-syumi, putra sulung Sanherib yang diangkat menjadi raja baru Babel, Sanherib memerangi kedua kerajaan itu, bahkan berhasil menaklukkan Elam. Karena Babel berada di dalam wilayah kedaulatannya, sudah berulang kali harus ia perangi, dan sudah merenggut nyawa putranya, Sanherib akhirnya menghancurkan kota itu pada tahun 689 SM.

Dalam Perang Syam, kerajaan-kerajaan di kawasan selatan Syam, khususnya Kerajaan Yehuda di bawah pemerintahan Raja Hizkia, tidak dapat ditundukkan semudah kerajaan-kerajaan di kawasan utara Syam. Oleh karena itu angkatan perang Asyur dikerahkan menginvasi Yehuda. Menurut keterangan Alkitab, Malaikat Tuhan dikatakan telah menggagalkan pengepungan Yerusalem dengan cara menumpas angkatan perang Asyur. Meskipun demikian, dari sudut pandang sejarah, Asyur kemungkinan besar tidak dikalahkan, karena Hizkia menyerah kepada Sanherib di akhir kampanye militer itu.[7] Lebih lagi, peninggalan-peninggalan tertulis dari masa itu, termasuk yang ditulis musuh-musuh Asyur, tidak menyebutkan bahwa Asyur mengalami kekalahan di Yerusalem.[8]

Sanherib memindahkan ibu kota Asyur ke Niniwe, kota kediamannya saat masih berstatus putra mahkota. Untuk mengubah Niniwe menjadi kota yang dianggap pantas disebut ibu kota kemaharajaan, Sanherib memprakarsai proyek-proyek pembangunan yang paling ambisius sepanjang sejarah Abad Kuno. Ia memperluas kota itu, mendirikan tembok-tembok raksasa untuk melindunginya, membangun banyak kuil, dan membina taman kerajaan. Bangunan paling terkenal yang didirikan Sanherib di Niniwe adalah Istana Barat Daya, yang ia beri nama "Istana Tanpa Tanding". Selepas kemangkatan putra sulungnya, Asyur-nadin-syumi, Sanherib mengangkat putra keduanya, Arda-Mulisyi, menjadi putra mahkota. Pada tahun 684 SM, ia mengangkat putra ketiganya, Esarhadon, menjadi putra mahkota menggantikan Arda-Mulisyi, meskipun alasan penggantian tidak diketahui. Sanherib tidak menggubris permohonan berulang Arda-Mulisyi untuk diangkat kembali menjadi putra mahkota. Kemudian, pada tahun 681 SM, Arda-Mulisyi bersama adiknya, Nabu-syar-usur, membunuh Sanherib dengan harapan akan menguasai takhta. Kerajaan Babel maupun kerajaan-kerajaan di Syam memandang kematian Sanherib sebagai azab ilahi, sementara bangsa Asyur mungkin sekali sangat terpukul. Penobatan Arda-Mulisyi pun ditangguhkan. Sementara itu, Esarhadon membentuk angkatan perang sendiri, merebut kota Niniwe, dan naik takhta menjadi Raja Asyur sesuai keinginan mendiang ayahnya.

Latar belakang

Riwayat awal

 
Relief Sargon II, ayah sekaligus pendahulu Sanherib

Sanherib adalah anak sekaligus penerus Sargon II, Maharaja Asyur Baru dari tahun 722 sampai tahun 705 SM, merangkap Raja Babel dari tahun 710 sampai tahun 705 SM. Identitas ibu Sanherib tidak diketahui secara pasti. Menurut anggapan umum sepanjang sejarah, ibu Sanherib adalah istri Sargon yang bernama Ataliya, tetapi belakangan hal ini sudah disangkal. Agar dapat menjadi ibu Sanherib, Ataliya harus lahir setidaknya pada kisaran tahun 760 SM dan hidup sampai setidaknya tahun 692 SM[9] mengingat keberadaan seorang "ibu suri" disebutkan pada tahun itu.[10] Namun, kuburan Ataliya yang ditemukan di kota Nimrud[9] pada era 1980-an[11] mengindikasikan bahwa ia berumur maksimum 35 tahun ketika wafat. Menurut Asiriolog Josette Elayi, lebih mungkin ibu Sanherib adalah istri Sargon yang bernama Ra'īmâ, karena tugu prasasti yang ditemukan pada tahun 1913 di kota Asyur (bekas ibu kota Kerajaan Asyur) secara khusus menyebut Ra'īmâ sebagai "Ibunda Sanherib". Keberadaan Ra'īmâ baru diketahui berkat usaha membaca isi prasasti tersebut pada tahun 2014.[9] Sementara itu, Sargon mengaku sebagai anak Tiglat-Pileser III, tetapi pengakuan ini tidak dapat dipastikan kebenarannya karena Sargon menjadi Raja Asyur dengan cara merebut kekuasaan dari tangan Salmaneser V, anak Tiglat-Pileser.[12]

Kemungkinan besar Sanherib lahir sekitar tahun 745 SM. Jika Sargon benar-benar adalah putra Tiglat-Pileser dan bukan penyerobot takhta dari luar kalangan keluarga Raja Asyur, maka Sanherib kemungkinan dibesarkan di istana kerajaan yang berada di kota Nimrud. Sargon pun cukup lama berdiam di Nimrud sesudah naik takhta, dan baru pindah ke Babel pada tahun 710 SM, kemudian ke ibu kotanya yang baru, Dur-Syarukin, pada tahun 706 SM. Sewaktu Sargon pindah ke Babel, Sanherib, yang saat itu berstatus putra mahkota, sudah pindah dari Nimrud ke Niniwe,[2] kota kediaman Putra Mahkota Asyur sejak zaman Tiglat-Pileser.[13] Selaku putra mahkota, Sanherib juga menguasai tanah yasan di Tarbisu. Sanherib dan saudara-saudarinya mungkin dididik guru istana yang bernama Hunnî. Kemungkinan besar mereka diajari ilmu kepujanggaan, ilmu aritmetika, dan kepandaian baca tulis dalam bahasa Sumer maupun bahasa Akad.[2]

Sanherib memiliki beberapa orang saudara laki-laki dan sekurang-kurangnya seorang saudara perempuan. Selain abang-abangnya yang sudah wafat sebelum ia lahir, masih ada lagi sejumlah adik laki-laki. Beberapa di antaranya diketahui masih hidup pada tahun 670 SM, pada masa pemerintahan Esarhadon, anak Sanherib. Satu-satunya saudara perempuan Sanherib yang diketahui keberadaannya adalah Ahat-abisya. Ia dikawinkan dengan Ambaris, Raja Tabal, tetapi mungkin sekali pulang ke Asyur ketika Sargon memerangi Tabal pada tahun 713 SM.[14]

Nama Sanherib dalam bahasa Akad adalah Sîn-aḥḥē-erība, artinya "Dewa Sîn sudah mengganti saudara-saudaraku yang telah tiada". Mungkin nama ini diberikan kepadanya karena ia bukan putra sulung Sargon, tetapi semua abangnya sudah wafat ketika ia lahir. Namanya dilafalkan menjadi Snḥryb dalam bahasa Ibrani dan Šnḥ’ryb dalam bahasa Aram.[5] Menurut sebuah dokumen dari tahun 670 SM (pascakemangkatan Sanherib), rakyat jelata di Asyur dilarang keras memakai nama Sanherib agar tidak melanggar kesuciannya.[9]

Putra mahkota

 
Sargon II (kiri) berhadap-hadapan dengan seorang pejabat tinggi, yang kemungkinan besar adalah sang putra mahkota, Sanherib

Sebagai Putra Mahkota Asyur, Sanherib memerintah bersama-sama ayahnya, dan kadang-kadang memerintah seorang diri selaku pemangku pada saat Sargon maju berperang. Selama Sargon berada jauh dari jantung wilayah Asyur, kota kediaman Sanherib akan berfungsi sebagai pusat pemerintahan Kemaharajaan Asyur Baru, dan Sanheriblah yang bertanggung jawab menangani urusan-urusan politik maupun administrasi negara. Besarnya tanggung jawab yang diberikan kepada Sanherib menunjukkan tingginya tingkat kepercayaan Sargon terhadap putra mahkotanya itu. Pada relief-relief yang menampilkan sosok Sargon bersama Sanherib, keduanya digambarkan sedang berdiskusi seakan-akan sesama rekan sejawat. Selaku pemangku, tugas utama Sanherib adalah menjaga hubungan baik dengan para kepala daerah dan para panglima Asyur, serta mengawasi jaringan luas mata-mata militer kemaharajaan. Sanherib memantau penanganan urusan-urusan dalam negeri dan mengirim berita kepada Sargon mengenai perkembangan proyek-proyek pembangunan yang sedang berjalan di seluruh wilayah kemaharajaan.[15] Sargon juga menugasinya untuk menerima dan mendistribusikan hadiah-hadiah cendera mata maupun persembahan upeti. Sesudah melakukan pendistribusian sumber-sumber daya finansial semacam itu, Sanherib akan menyurati ayahnya untuk memberitahukan keputusan-keputusan yang sudah diambilnya.[16]

Isi sepucuk surat yang ia alamatkan kepada ayahnya mengindikasikan bahwa Sanherib adalah anak yang berbakti dan akrab dengan Sargon. Sanherib tidak pernah membangkang, bahkan isi surat-suratnya mengindikasikan bahwa ia benar-benar memahami pribadi Sargon dan ingin menyenangkan hatinya. Entah apa alasannya, Sargon tidak pernah mengikutsertakan Sanherib dalam kampanye-kampanye militernya. Josette Elayi yakin kalau Sanherib menyesalkan kebijakan ayahnya yang satu ini, karena membuat dirinya tidak menikmati ketenaran dari kemenangan-kemenangan militer. Bagaimanapun juga, Sanherib tidak pernah mendurhaka maupun berbuat makar, sekalipun sudah cukup dewasa untuk menjadi seorang raja.[17]

Asyur dan Babel

 
Wilayah inti Kerajaan Asyur dan Kerajaan Babel di kawasan Timur Dekat pada tahun 900 SM, menjelang lahirnya Kemaharajaan Asyur Baru

Pada saat Sanherib naik takhta, Kemaharajaan Asyur Baru sudah menjadi kekuatan paling dominan di kawasan Timur Dekat selama tiga puluh tahun. Sebab utama dari keunggulan ini adalah angkatan bersenjatanya yang lebih besar dan lebih terlatih daripada angkatan bersenjata kerajaan-kerajaan lain pada masa itu. Meskipun pernah menjadi kerajaan besar, Kerajaan Babel kala itu sudah tidak sekuat Kerajaan Asyur, tetangganya di utara. Sebab kelemahannya adalah perpecahan internal dan ketiadaan angkatan bersenjata yang terorganisasi dengan baik. Rakyat Babel terdiri atas berbagai kelompok etnis yang berbeda prioritas maupun cita-cita. Meskipun tokoh-tokoh bumiputra Babel yang memegang tampuk pemerintahan sebagian besar kota di kerajaan itu, misalnya kota Kisy, kota Ur, kota Uruk, kota Barsip, kota Nipur, dan kota Babel sendiri, pelosok terselatan Kerajaan Babel dikuasai kabilah-kabilah Kasdim yang kerap bertikai satu sama lain.[18] Orang Aram mendiami pinggiran wilayah Kerajaan Babel, dan terkenal suka menjarah daerah-daerah di sekitarnya. Akibat pertikaian internal di antara ketiga suku bangsa utama ini, Kerajaan Babel rentan menjadi bulan-bulanan kampanye militer Asyur.[19] Kerajaan Babel dan Kerajaan Asyur sudah berseteru sedari awal berdirinya Kemaharajaan Asyur Madya pada abad ke-14 SM, tetapi pihak Asyur akhirnya unggul secara konsisten pada abad ke-8 SM.[20] Kelemahan internal maupun eksternal membuat Kerajaan Babel dapat ditaklukkan Raja Tiglat-Pileser III pada tahun 729 SM.[19]

Saat berekspansi menjadi kemaharajaan, Kerajaan Asyur menaklukkan kerajaan-kerajaan tetangganya. Kalau tidak disatukan dengan wilayah Kerajaan Asyur, kerajaan-kerajaan taklukan itu dijadikan negara jajahan. Karena bangsa Asyur menghormati kebudayaan dan sejarah panjang bangsa Babel, Kerajaan Babel dibiarkan tetap berdiri sebagaimana adanya, tetapi kepala negaranya adalah raja yang diangkat Kerajaan Asyur, atau Raja Asyur sendiri yang merangkap sebagai Raja Babel.[19] Hubungan Asyur dan Babel mirip dengan hubungan Yunani dan Romawi berabad-abad kemudian. Banyak budaya, sastra, dan adat-istiadat Asyur berasal dari budaya, sastra, dan adat-istiadat Babel. Asyur dan Babel juga menuturkan bahasa yang sama (bahasa Akad).[21] Hubungan antara Asyur dan Babel bersifat emosional. Prasasti-prasasti Asyur Baru secara tersirat melekatkan gender kepada kedua kerajaan itu. Asyur dikiaskan sebagai seorang "suami", sementara Babel diibaratkan sebagai "istri" Asyur. Asiriolog Eckart Frahm membahasakannya dengan kalimat, "bangsa Asyur kasmaran dengan Babel, tetapi juga ingin mengekangnya". Meskipun dihargai sebagai sumber peradaban, Babel diharapkan tetap pasif dalam urusan politik, tetapi kenyataannya "mempelai Babel" idaman hati Asyur ini berulang kali menolak bersikap demikian.[22]

Masa pemerintahan

Kemangkatan Sargon II dan suksesi

 
Gambaran luas wilayah Kemaharajaan Asyur Baru di kawasan Timur Dekat pada tahun 700 SM

Pada tahun 705 SM, Sargon, yang mungkin sudah memasuki usia enam puluhan, memimpin angkatan perang Asyur memerangi Raja Gurdî, penguasa negeri Tabal yang terletak di tengah-tengah jazirah Anatolia. Kampanye militer ini berbuntut malapetaka bagi Asyur. Angkatan perang Asyur mengalami kekalahan, bahkan Sargon gugur di medan perang dan jenazahnya hilang digondol musuh.[7][23] Kemangkatan Sargon memperparah kekalahan Asyur, karena bangsa Asyur percaya bahwa Sargon mati diazab para dewa lantaran dosa-dosa besar yang pernah ia perbuat. Menurut kepercayaan Mesopotamia, jika seseorang gugur di medan perang dan jenazahnya tidak dikubur, maka arwahnya akan terlunta-lunta seperti pengemis di alam baka.[24] Sanherib diperkirakan berumur 35 tahun saat naik takhta pada bulan Agustus 705 SM.[25] Meskipun baru menjadi raja, Sanherib sudah sangat berpengalaman memimpin, karena terbiasa menangani urusan pemerintahan selama menjadi putra mahkota.[26] Ia menyikapi nasib Sargon dengan menjauhkan diri dari bayang-bayangnya.[27] Eckart Frahm menyifatkan sikap Sanherib ini sebagai "penyangkalan yang nyaris paripurna". Ia mengemukakan di dalam karya tulisnya bahwa Sanherib "sepertinya tidak sanggup menerima kenyataan dan mengikhlaskan kemalangan yang menimpa Sargon". Sanherib segera memindahkan ibu kota Kemaharajaan Asyur Baru dari Dur-Syarukin ke Niniwe. Salah satu kebijakan perdana Sanherib adalah membangun kembali sebuah kuil di kota Tarbisu, tempat orang menyembah Nergal, dewa yang dikait-kaitkan dengan maut, musibah, dan peperangan.[24]

Meskipun terang-terangan menunjukkan sikap penyangkalannya, Sanherib sangat percaya takhayul. Ia menghabiskan banyak waktu bersama para ahli nujum untuk mencari tahu dosa macam apa yang sudah diperbuat Sargon sampai diganjari nasib semacam itu. Mungkin saja pernah terbersit dugaan di dalam benaknya bahwa dosa Sargon yang sudah membangkitkan murka dewa-dewa Babel adalah tindakan merebut kota Babel.[28] Sebuah naskah, yang mungkin sekali ditulis sesudah Sanherib mangkat, menyebutkan bahwa Sanherib mengumumkan kesibukannya menyelidiki hakikat suatu "dosa" yang diperbuat ayahnya.[29] Pada tahun 704 SM,[30] Asyur melancarkan kampanye militer kecil-kecilan (tidak disebutkan di dalam catatan-catatan sejarah terkemudian mengenai Sanherib) melawan Raja Gurdî di Tabal untuk membalaskan dendam atas kematian Sargon. Kampanye ini tidak dipimpin langsung oleh Sanherib, melainkan oleh para pembesar bawahannya. Sanherib menghabiskan banyak waktu dan usaha untuk membersihkan Kemaharajaan Asyur Baru dari citra Sargon. Lantai pelataran kuil di kota Asyur sengaja ia tinggikan agar menutupi citra-citra yang dibuat Sargon. Ketika istri Sargon yang bernama Ataliya wafat, jenazahnya dengan segera dimakamkan dan dijejalkan ke dalam peti mati permaisuri Tiglat-Pileser. Nama Sargon tidak pernah disebut-sebut di dalam prasasti-prasasti yang dikeluarkan Sanherib.[31]

Kampanye militer pertama di Babel

 
Gambar sosok musuh besar Sanherib, Marduk-apla-idina II (kiri), tokoh yang menjadi Raja Babel selama kurun waktu 722–710 SM dan 704/703–702 SM, sekaligus biang keladi dari banyak konflik yang timbul menjelang akhir hayat Sanherib

Kemangkatan Sargon di medan perang maupun ketidakjelasan ihwal keberadaan jenazahnya dijadikan alasan untuk memberontak di berbagai pelosok wilayah Kemaharajaan Asyur Baru.[7] Sargon mulai memerintah Babel pada tahun 710 SM, sesudah mengalahkan Marduk-apla-idina II, pemimpin orang Kasdim yang menguasai Babel sesudah Salmaneser V mangkat pada tahun 722 SM.[6] Sama seperti Salmaneser, Sanherib naik takhta dengan gelar ganda, Raja Asyur merangkap Raja Babel, meskipun kekuasaannya atas Babel tidak begitu kukuh.[28] Tidak seperti Sargon dan para penguasa Babel terdahulu yang hanya menyatakan diri sebagai Syakanaku Babili (Patih Babel) demi menghormati Marduk, dewa yang dimuliakan sebagai raja resmi kota Babel, Sanherib justru terang-terangan menyatakan diri sebagai Raja Babel. Ia bahkan tidak "menjabat tangan" patung Marduk, penjelmaan sang dewa, dan dengan demikian tidak memuliakannya dengan menjalankan adat penobatan Babel sebagaimana mestinya.[32]

Tindakan yang dianggap lancang ini menyulut kemarahan rakyat, sehingga timbul pemberontakan-pemberontakan yang hanya berselang satu bulan pada tahun 704[6] atau 703 SM[28] untuk menumbangkan kekuasaan Sanherib di kawasan selatan. Mula-mula seorang tokoh Babel yang bernama Marduk-zakir-syumi II merebut takhta Babel, tetapi ditumbangkan dua[28] atau empat minggu kemudian[6] oleh Marduk-apla-idina, pemimpin kabilah Kasdim yang sebelumnya pernah merebut takhta Babel dan berperang melawan ayah Sanherib. Marduk-apla-idina mengerahkan sebagian besar rakyat Babel untuk berperang demi kepentingannya, baik warga perkotaan maupun laskar-laskar kabilah Kasdim. Ia juga mendatangkan pasukan dari Elam, negeri yang kini menjadi kawasan barat daya negara Iran. Sebenarnya Marduk-apla-idina perlu banyak waktu untuk mengumpulkan seluruh pasukan koalisi tersebut, tetapi Sanherib lamban dalam menanggapi pemberontakan ini, sehingga Marduk-apla-idina leluasa menempatkan pasukan dalam jumlah besar di kota Kuta dan kota Kisy.[33]

Sebagian angkatan perang Asyur sedang ditugaskan di Tabal pada tahun 704 SM. Sikap lamban Sanherib mungkin didasari pertimbangan bahwa berperang serentak di dua tempat sekaligus terlalu berisiko, akibatnya Marduk-apla-idina leluasa beberapa bulan lamanya. Pada tahun 703 SM, sesudah ekspedisi militer di Tabal tuntas, Sanherib menghimpun angkatan perang Asyur di kota Asyur, lokasi yang kerap dijadikan titik kumpul pasukan sebelum menyerbu kawasan selatan.[30] Serbuan angkatan perang Asyur di bawah pimpinan panglima tertingginya tidak berhasil mengalahkan pasukan lawan di dekat kota Kisy, sehingga koalisi bentukan Marduk-apla-idina semakin merasa di atas angin.[34] Meskipun demikian, Sanherib menyadari kenyataan bahwa angkatan perang lawan sesungguhnya terbagi-bagi, oleh karena itu ia mengerahkan segenap angkatan perang Asyur untuk menyerang dan menghancurkan sebagian angkatan perang lawan yang ditempatkan di Kuta, baru kemudian menggempur Kisy. Marduk-apla-idina sudah lebih dulu melarikan diri meninggalkan medan perang karena mengkhawatirkan keselamatan nyawanya.[33] Tawarikh Sanherib menyebutkan bahwa di antara orang-orang yang dijadikan tawanan pascakemenangan Asyur terdapat pula anak tiri Marduk-apla-idina dan saudara laki-laki Yati'ah, seorang ratu Arab yang ikut bergabung dalam koalisi Marduk-apla-idina.[35]

Sanherib selanjutnya memimpin angkatan perang Asyur bergerak menuju Babel.[36] Begitu barisan angkatan perang Asyur terlihat di kaki langit, warga Babel segera membuka pintu gapura kota besar itu. Babel menyerah tanpa perlawanan.[34] Kota itu diberi teguran keras dan dijarah sedikit,[34] tetapi warganya tidak dicelakai.[37] Sesudah beristirahat sebentar di Babel, Sanherib dan angkatan perang Asyur melancarkan serangan sistematis ke pelosok selatan Kerajaan Babel yang masih dijadikan basis perlawanan terorganisasi. Baik daerah-daerah kabilah maupun kota-kota besar akhirnya dapat ditundukkan.[36] Tawarikh Sanherib menyebutkan bahwa ada sekitar dua ratus ribu orang yang dijadikan tawanan.[35] Karena kebijakan merangkap jabatan terbukti gagal, Sanherib mencoba cara lain, yakni mengangkat Bel-ibni, tokoh asli Babel yang tumbuh besar di lingkungan istana Asyur, menjadi raja bawahannya di kawasan selatan. Sanherib menyifatkan Bel-ibni sebagai "bumiputra Babel yang membesar di istanaku tak ubahnya seekor anak anjing".[28]

Perang di Syam

Gambar-gambar dari relief Lakhis yang dibuat atas perintah Sanherib
Senjata pengepungan Asyur digunakan menggempur tembok kota Lakhis
Prajurit Asyur hendak memancung tawanan dari Lakhis
Orang Yudea digiring ke pengasingan sesudah Lakhis jatuh ke tangan Asyur
Sanherib (duduk paling kanan) berbincang dengan para petinggi Asyur sambil memeriksa para tawanan di Lakhis

Seusai perang di Babel, Sanherib melancarkan kampanye militernya yang kedua di daerah Pegunungan Zagros. Dalam kampanye militer ini, ia berhasil menundukkan orang Yasubigala, kabilah dari sebelah timur Sungai Tigris, dan orang Kasi, kabilah yang pernah menguasai Babel berabad-abad silam.[38][39] Sasaran kampanye militernya yang ketiga adalah kerajaan-kerajaan dan negara-negara kota di Syam. Kampanye militer ini adalah peristiwa yang paling lengkap keterangannya dibanding banyak peristiwa sejarah lain di Timur Dekat pada Abad Kuno, sekaligus peristiwa yang paling lengkap uraiannya di dalam catatan sejarah Israel pada kurun waktu Bait Allah Pertama.[4] Pada tahun 705 SM, Hizkia, Raja Yehuda, menghentikan penyetoran upeti tahunan ke Asyur dan mulai menjalankan kebijakan luar negeri yang agresif. Keputusan Hizkia ini mungkin terinspirasi oleh gelombang pemberontakan anti-Asyur yang belum lama usai di berbagai pelosok wilayah kemaharajaan itu. Sesudah bersekongkol dengan Mesir (ketika itu dikuasai bangsa Kusy) dan Sidqia, Raja Askelon yang anti-Asyur, untuk menghimpun dukungan, Hizkia menyerbu kota-kota bangsa Filistin yang setia kepada Asyur. Padi, Raja Ekron bawahan Asyur, dijadikan tawanan dan dijebloskan ke dalam penjara di Yerusalem.[7] Di kawasan utara Syam, kota-kota bekas jajahan Asyur bersekutu di bawah pimpinan Luli, Raja Tirus dan Sidon.[35] Marduk-apla-idina, musuh besar Sanherib, menghasut sejumlah penguasa bawahan Asyur di kawasan barat untuk membangkang. Ia menyurati dan mengirim hadiah-hadiah kepada para penguasa di kawasan barat seperti Hizkia, mungkin dengan harapan dapat membentuk aliansi besar anti-Asyur.[28]

Pada tahun 701 SM, Sanherib mengerahkan angkatan perang Asyur untuk menyerbu kota-kota orang Suriah-Het dan orang Fenisia di kawasan utara Syam. Sama seperti yang pernah dilakukan dan akan diulangi banyak penguasa kota-kota tersebut, Luli memilih melarikan diri dengan perahu ketimbang menghadapi murka Asyur. Sanherib mengangkat seorang bangsawan bernama Etbaal menjadi Raja Sidon menggantikan Luli, dan mengawasi proses penaklukan kota-kota di sekitarnya. Melihat angkatan perang Asyur yang begitu besar, banyak penguasa Syam, termasuk Budu-ilu Raja Amon, Kamusu-nadbi Raja Moab, Mitini Raja Asdod, dan Malik-ramu Raja Edom, cepat-cepat menyerah kepada Sanherib demi meluputkan diri dan negeri mereka dari angkara murkanya.[40]

Perlawanan di kawasan selatan Syam tidak semudah itu dipatahkan, sehingga Sanherib terpaksa menginvasi kawasan tersebut. Sesudah merebut Askelon dan mengalahkan Sidqia, angkatan perang Asyur mengepung dan merebut banyak kota lain. Ketika angkatan perang Asyur bersiap-siap merebut kembali kota Ekron, Sekutu Hizkia, Mesir, mulai ikut campur. Angkatan perang Asyur mengalahkan angkatan perang Mesir dalam sebuah pertempuran di dekat kota Elteke. Kota Ekron dan Timna jatuh ke tangan Asyur, sehingga Kerajaan Yehuda tidak lagi memiliki sekutu, sementara mata Sanherib mulai tertuju ke Yerusalem.[40] Sanherib mengerahkan sebagian pasukannya untuk memblokade Yerusalem, sementara ia sendiri memimpin aksi pengepungan kota Lakhis. Kemungkinan besar blokade atas Yerusalem maupun pengepungan Lakhis mampu menghambat arus bantuan dari Mesir kepada Hizkia, sekaligus mampu mengintimidasi para penguasa kerajaan-kerajaan yang lebih kecil di kawasan itu. Pengepungan Lakhis, yang berakhir dengan penghancurannya, juga berlangsung sangat lama sampai-sampai pihak bertahan terpaksa menggunakan mata panah dari tulang karena sudah kehabisan logam. Untuk merebut kota itu, bangsa Asyur menumpuk batu dan tanah menjadi sebuah bukit setinggi tembok kota Lakhis. Sesudah menghancurleburkan kota itu, bangsa Asyur mendeportasi warga yang selamat ke wilayah Kemaharajaan Asyur Baru. Sebagian dijadikan tenaga kerja paksa di proyek-proyek pembangunan negara, sementara sisanya dijadikan anggota pasukan pengawal Sanherib.[41]

Pengepungan Yerusalem

 
Gambar cukil kayu karya Gustave Doré dari abad ke-19 yang menggambarkan Malaikat Tuhan menumpas angkatan perang Sanherib di luar kota Yerusalem seperti yang diriwayatkan di dalam Alkitab

Catatan mengenai peristiwa pengepungan Yerusalem yang dibuat Sanherib diawali dengan kalimat, "sedangkan Hizkia... seperti burung di dalam sangkar, kukurung dia di Yerusalem, ibu kota kerajaannya, kurintangi jalan-jalannya dengan kubu-kubu, dan kuharamkan dirinya untuk keluar melalui gapura kotanya." Demikianlah cara Sanherib memblokade Yerusalem, kendati ketiadaan aktivitas militer berskala besar dan peralatan tempur yang memadai menunjukkan bahwa yang dilakukan Sanherib mungkin sekali bukan aksi pengepungan penuh.[42] Menurut keterangan Alkitab, seorang pejabat senior Asyur bergelar juru minuman agung berdiri di depan tembok Yerusalem dan menyeru warganya untuk menyerah, disertai ancaman bahwa orang Yudea bakal 'makan tinja dan minum air seni' kalau pengepungan terus berlanjut.[43] Catatan Asyur mengenai operasi militer ini dapat menciptakan kesan bahwa Sanherib hadir di lokasi kejadian, tetapi sesungguhnya tidak pernah dinyatakan demikian secara eksplisit, dan relief-relief yang menggambarkan operasi tersebut menampilkan sosok Sanherib menduduki singgasana di Lakhis alih-alih memantau persiapan menyerang Yerusalem. Menurut keterangan Alkitab, duta Asyur yang diutus menemui Hizkia kembali menghadap Sanherib dan mendapatinya sedang sibuk menggempur kota Libna.[44]

Keterangan Alkitab mengenai blokade tersebut berbeda dari pemerian aksi pengepungan di dalam Tawarikh Sanherib maupun relief-relief pada dinding istana Sanherib di Niniwe, yang justru menggambarkan kesuksesan operasi pengepungan kota Lakhis alih-alih kejadian yang berlangsung di Yerusalem. Meskipun blokade kota Yerusalem bukan sebuah aksi pengepungan penuh, semua sumber pustaka yang tersedia saat ini menginformasikan bahwa sepasukan besar prajurit Asyur berkemah di dekat kota itu, kemungkinan besar di sisi utaranya.[45] Meskipun sudah jelas blokade kota Yerusalem berakhir tanpa pertempuran yang berarti, bagaimana pengepungan itu diakhiri dan apa yang menghalangi kekuatan tempur Asyur yang begitu besar untuk menguasai kota itu tidak dapat dipastikan. Riwayat Alkitab mengenai akhir serangan Sanherib atas Yerusalem menyebutkan bahwa sekalipun prajurit-prajurit Hizkia berjaga-jaga di atas tembok kota, siap sedia melawan gempuran Asyur, tetapi penumpas 185.000 orang prajurit Asyur di depan gapura Yerusalem adalah suatu entitas yang disebut "malaikat pemusnah" utusan Yahweh.[46] Sejarawan Yunani Kuno, Herodotos, menyebut akhir operasi militer tersebut sebagai kegagalan Asyur akibat "tikus ladang dalam jumlah besar" yang menyerbu perkemahan prajurit Asyur dan merusak benda-benda penting seperti bumbung anak panah dan tali busur, sehingga angkatan perang Asyur terpaksa mundur lantaran kelangkaan senjata.[44] Mungkin saja cerita serbuan tikus ini adalah alusi untuk semacam penyakit yang berjangkit di perkemahan prajurit Asyur, mungkin wabah septisemia.[47] Pada tahun 2001, jurnalis Henry T. Aubin mengajukan hipotesis alternatif bahwa blokade kota Yerusalem mungkin berakhir karena ada intervensi militer bangsa Kusy dari Mesir.[48] Namun, intervensi militer tersebut dianggap mustahil mampu membuat pihak Asyur menderita kekalahan, apalagi tawarikh-tawarikh Babel dari masa itu tidak menyajikan keterangan apa-apa, padahal pujangga-pujangga Babel gemar sekali mencatat kegagalan-kegagalan Asyur.[8]

Meskipun blokade kota Yerusalem agaknya berakhir tanpa sebab yang jelas, kampanye militer Sanherib di Syam berakhir dengan kemenangan di pihak Asyur. Sesudah bangsa Asyur merebut banyak kota berbenteng milik Yudea, serta menghancurkan beberapa kota kecil dan desa-desa di kerajaan itu, Hizkia akhirnya sadar bahwa aktivitas-aktivitas anti-Asyur yang dilakukannya tidak didasari pertimbangan politik dan militer yang matang, dan akhirnya malah mendatangkan bencana. Oleh karena itu ia sekali lagi menyatakan kesediaannya menjadi jajahan Asyur. Hizkia diwajibkan menyetor upeti dalam jumlah yang lebih besar daripada sebelumnya, bahkan mungkin diperberat lagi dengan denda dalam jumlah besar dan keharusan menyetor upeti yang tertunggak dari tahun 705 sampai 701 SM.[7] Ia harus pula membebaskan Padi, Raja Ekron yang dipenjarakannya di Yerusalem.[49] Selain itu, cukup banyak tanah Yudea dikaruniakan Sanherib kepada kerajaan-kerajaan tetangganya, yakni Gaza, Asdod, dan Ekron.[50]

Mengatasi masalah Babel

 
Relief dari masa pemerintahan Sanherib yang menggambarkan barisan prajurit pengumban Asyur melontarkan batu ke kota musuh

Pada tahun 700 SM, Kerajaan Babel sekali lagi bergolak, sampai-sampai Sanherib harus menginvasi kerajaan itu dan menegakkan kembali kedaulatannya. Pemerintahan Bel-ibni waktu itu ditentang pemberontakan-pemberontakan terbuka yang dikobarkan dua orang pemimpin kabilah Kasdim, yakni Suzubu (kemudian hari menjadi Raja Babel dengan nama Musyezib-Marduk) dan Marduk-apla-idina yang sudah lanjut usia.[51] Salah satu tindakan pertama Sanherib untuk memadamkan pemberontakan-pemberontakan tersebut adalah mencopot Bel-ibni dari jabatannya selaku Raja Babel, baik dengan alasan ketidakcakapan maupun keterlibatan dalam usaha makar.[28] Bel-Ibni dipulangkan ke Asyur dan selanjutnya menghilang dari catatan sejarah.[52] Bangsa Asyur mencari jejak keberadaan Suzubu sampai ke daerah rawa-rawa di kawasan utara Kerajaan Babel tetapi tidak berhasil menemukannya. Sanherib kemudian memburu Marduk-apla-idina, tetapi pemimpin kabilah Kasdim itu berhasil meloloskan diri bersama warganya dengan cara berperahu mengarungi perairan Teluk Persia dan selanjutnya bersuaka di Nagitu, sebuah kota di wilayah Kerajaan Elam. Meskipun berhasil memadamkan pemberontakan, Sanherib sekali lagi mencoba metode lain untuk mengendalikan Kerajaan Babel. Ia mengangkat anaknya, Asyur-nadin-syumi, menjadi Raja Babel bawahan Asyur.[53]

Asyur-nadin-syumi juga dianugerahi gelar māru rēštû, yang dapat diartikan "putra utama" maupun "putra sulung". Jabatan maupun gelar baru tersebut menyiratkan bahwa Asyur-nadin-syumi sedang dipersiapkan Sanherib menjadi Raja Asyur berikutnya. Jika diartikan "putra utama", maka gelar māru rēštû hanya layak disandang seorang putra mahkota, dan jika diartikan "putra sulung", maka gelar tersebut menyiratkan bahwa Asyur-nadin-syumi adalah ahli waris Sanherib. Pada umumnya bangsa Asyur mengamalkan prinsip primogenitur, yakni adat pewarisan kepada putra tertua.[54] Bukti lain yang mendukung dugaan bahwa Asyur-nadin-syumi berstatus putra mahkota adalah tindakan Sanherib mendirikan sebuah istana baginya di kota Asyur.[55] Kemudian hari, Sanherib juga mendirikan sebuah istana bagi Esarhadon, putra mahkota berikutnya. Selaku Raja Babel berkebangsaan Asyur, Asyur-nadin-syumi menempati posisi yang penting secara politik sekaligus sangat rawan, dan posisi tersebut dapat ia jadikan kesempatan untuk memperkaya pengalaman selaku calon kuat Maharaja Asyur Baru berikutnya.[56]

Pada tahun-tahun sesudah itu, Babel relatif tenang, dan tidak ada keterangan di dalam tawarikh mengenai aktivitas yang signifikan.[52] Sementara itu, Sanherib berperang di tempat lain. Kampanye militernya yang kelima pada tahun 699 SM mencakup serangkaian aksi penyerbuan ke desa-desa di kaki Gunung Judi, yang terletak di sebelah timur laut kota Niniwe. Panglima-panglima bawahan Sanherib memimpin kampanye-kampanye kecil lainnya tanpa kehadiran sang raja, termasuk sebuah ekspedisi militer pada tahun 698 SM dalam rangka memadamkan pemberontakan yang dikobarkan Kirua, kepala daerah Kilikia berkebangsaan Asyur, dan kampanye militer pada tahun 695 SM yang dilancarkan terhadap kota Tegarama.[57] Pada tahun 694 SM, Sanherib menginvasi Elam. Invasi tersebut dilancarkan dengan maksud menumpas Marduk-apla-idina dan para pengungsi Kasdim lainnya.[52]

Kampanye militer di Elam dan balas dendam

Relief kapal perang Asyur dari zaman Sanherib
Relief pasukan Asyur memboyong tawanan dan jarahan, juga dari zaman Sanherib

Dalam rangka menyerang Elam, Sanherib menyiapkan dua armada besar, satu armada di Sungai Efrat dan satu armada di Sungai Tigris. Armada di Sungai Tigris digunakan mengangkut angkatan perang Asyur ke kota Opis. Sesudah berlabuh di Opis, kapal-kapal dihela ke pantai dan diangkut lewat darat ke sebuah terusan yang terhubung dengan Sungai Efrat. Kedua armada selanjutnya bergabung dan menghilir ke Teluk Persia. Ketika armada berlabuh di daerah pertemuan muara Sungai Efrat dan Teluk Persia, turun hujan badai yang membuat perkemahan angkatan perang Asyur tergenang banjir, sehingga para prajurit terpaksa berlindung di atas kapal.[58] Armada kemudian melanjutkan pelayaran mengarungi perairan Teluk Persia. Isi Tawarikh Sanherib mengindikasikan bahwa pelayaran tersebut ditempuh dengan penuh kesukaran, karena angkatan perang Asyur diriwayatkan berkali-kali mempersembahkan kurban kepada Ea, dewa laut.[59]

Sesudah mendarat dengan selamat di pantai negeri Elam, angkatan perang Asyur segera memburu dan menyerang rombongan pengungsi Kasdim. Baik sumber-sumber Babel maupun sumber-sumber Asyur menyebutkan bahwa kampanye militer ini berjalan lancar.[60] Keterangan tertulis peninggalan Sanherib menyebutnya sebagai "kemenangan besar", bahkan memerinci nama kota-kota yang direbut dan dijarah angkatan perang Asyur. Meskipun Sanherib akhirnya dapat membalaskan dendamnya kepada Marduk-apla-idina, musuh besarnya itu sudah wafat sebelum pendaratan angkatan perang Asyur di Elam.[59] Sasaran kampanye militer ini selanjutnya beralih ke Elam karena Halusyu-Insyusyinak, Raja Elam, menginvasi Kerajaan Babel selagi angkatan perang Asyur berada jauh di luar negeri. Dengan bantuan laskar-laskar Kasdim yang luput dari pembantaian, Halusyu-Insyusyinak merebut kota Sipar, bahkan berhasil menawan Asyur-nadin-syumi dan membawanya ke Elam.[60] Asyur-nadin-syumi tidak lagi terdengar kabar beritanya sejak saat itu, mungkin karena dihukum mati.[61][62] Nergal-usyezib, seorang bumiputra Babel, naik takhta menjadi Raja Babel menggantikan Asyur-nadin-syumi.[61] Sumber-sumber Babel menyebutkan bahwa Halusyu-Insyusyinak yang mengangkat Nergal-usyezib menjadi Raja Babel, sementara sumber-sumber Asyur menyebutkan bahwa Nergal-usyezib naik takhta sebagai raja pilihan rakyat Babel.[60]

Saat dikepung pihak Elam di kawasan selatan Kerajaan Babel, angkatan perang Asyur berhasil menewaskan putra Halasyu-Insyusyinak dalam sebuah pertempuran, tetapi tidak dapat menerobos kepungan sekurang-kurangnya selama sembilan bulan. Demi mengukuhkan kedudukannya selaku Raja Babel, Nergal-usyezib memanfaatkan situasi untuk merebut dan menjarah kota Nipur. Beberapa bulan kemudian, angkatan perang Asyur menyerbu dan merebut kota Uruk di kawasan selatan. Nergal-usyezib menjadi gentar dan meminta bantuan Elam. Tujuh hari sesudah merebut Uruk, Asyur dan Babel bertempur di Nipur. Pertempuran ini dimenangkan pihak Asyur. Angkatan perang Asyur mampu menyudutkan angkatan perang gabungan Elam-Babel dan menawan Nergal-usyezib, sehingga akhirnya bebas dari kepungan yang memerangkap mereka di kawasan selatan. Dengan cara-cara tertentu yang tidak diketahui, Sanherib berhasil lolos dari pantauan angkatan perang gabungan Elam-Babel beberapa bulan sebelumnya sehingga tidak hadir di medan perang saat berlangsungnya pertempuran terakhir, malah kemungkinan besar sedang bergerak menuju lokasi pertempuran dengan membawa bala bantuan dari Asyur. Begitu bala bantuan bergabung dengan angkatan perang Asyur di selatan, Kerajaan Babel akhirnya dapat ditundukkan.[63]

Tidak lama kemudian, timbul pemberontakan di Elam. Halusyu-Insyusyinak digulingkan dan Kutir-Nahunte III naik takhta. Untuk meniadakan ancaman Elam, Sanherib merebut kembali kota Der yang diduduki Elam sejak konflik terakhir, kemudian bergerak memasuki kawasan utara wilayah Elam. Kutir-Nahunte tidak dapat mengupayakan pertahanan yang efisien untuk menghadapi pasukan Asyur, bahkan menolak melawan mereka. Ia malah melarikan diri ke kota Haidalu yang terletak di daerah pegunungan. Tidak lama sesudah itu, cuaca buruk memaksa Sanherib menarik mundur pasukan dan pulang ke Asyur.[64]

Penghancuran kota Babel

 
Prisma Sanherib, prasasti berisi riwayat kampanye-kampanye militer Sanherib yang berpuncak pada penghancuran kota Babel

Meskipun Sanherib sudah mengalahkan Nergal-usyezib dan memorakporandakan negeri Elam, Kerajaan Babel belum juga menyerah. Suzubu, tokoh yang diburu-buru Sanherib sewaktu menginvasi kawasan selatan pada tahun 700 SM, kembali muncul dengan nama baru, Musyezib-Marduk. Ia berhasil menduduki takhta Kerajaan Babel, agaknya tanpa bantuan asing. Musyezib-Marduk sudah menjadi Raja Babel pada tahun 692 SM, tetapi baru dikatakan "memberontak" di dalam sumber-sumber Asyur pada tahun 691 SM, sehingga mungkin Sanherib mula-mula membenarkannya memerintah Babel. Di Elam, Kutir-Nahunte III terguling dari takhta dan digantikan Humban-Numena III (juga dikenal dengan nama Menanu) yang mulai membentuk lagi sebuah koalisi anti-Asyur. Musyezib-Marduk berhasil menyuap Human-Numena untuk mendukungnya.[65] Sumber-sumber Asyur menilai keputusan Humban-Numena untuk mendukung Kerajaan Babel sebagai tindakan yang tidak cerdas, dan menyifatkannya sebagai "manusia tak berakal atau tak bernalar".[66]

Sanherib maju menghadapi musuh-musuhnya dalam pertempuran yang berlangsung di dekat kota Halule. Humban-Numena dan panglimanya, Humban-undasya, memimpin angkatan perang Babel dan Elam. Hasil Pertempuran Halule tidaklah jelas, karena kedua belah pihak mengaku sebagai pemenang. Tawarikh Sanherib mengklaim bahwa Humban-undasya tewas terbunuh dan raja-raja musuh lari menyelamatkan diri, sementara tawarikh Babel mengklaim bahwa pihak Asyurlah yang terpukul mundur. Jika benar pemenangnya adalah pihak selatan, maka kekalahan Asyur bukanlah kerugian besar, karena angkatan perang Asyur mengepung kota Babel pada akhir musim panas tahun 690 SM (dan tampaknya sampai dengan saat itu kota Babel sudah cukup lama dikepung). Meskipun demikian, angkatan perang Asyur tidak segera dikerahkan ke Babel, karena ada keterangan mengenai aksi-aksi militer Asyur di tempat-tempat lain.[67] Asiriolog John A. Brinkman mengemukakan di dalam tulisannya pada tahun 1973 bahwa agaknya pihak selatan yang memenangkan pertempuran tersebut, kendati mungkin sekali banyak prajurit mereka menjadi korban, karena kedua musuh Sanherib masih berkuasa di kerajaan mereka masing-masing seusai Pertempuran Halule.[68] Asiriolog Louis D. Levine mengemukakan di dalam tulisannya pada tahun 1982 bahwa Pertempuran Halule mungkin sekali dimenangkan pihak Asyur, meskipun tidak menang telak, dan meskipun pihak selatan dapat dikalahkan dan dipukul mundur, serangan Asyur terhadap kota Babel harus ditangguhkan untuk sementara waktu. Teralihkannya pergerakan angkatan perang Asyur dari sasaran yang semula hendak diperangi mungkin ditafsirkan para pujangga Babel sebagai penarikan mundur pasukan.[69]

Pada tahun 690 SM, Humban-Numena mengalami strok. Rahangnya lumpuh sehingga ia tidak dapat berbicara.[70][71] Kelemahan ini dimanfaatkan Sanherib untuk melancarkan serangan pamungkasnya terhadap Babel.[71] Meskipun pihak Babel mula-mula unggul, kemenangan mereka tidak bertahan lama. Pada tahun yang sama, Sanherib melancarkan perang pengepungan terhadap kota Babel.[68] Agaknya Babel sudah berada di ujung tanduk saat jatuh ke tangan Sanherib pada tahun 689 SM, sesudah dikepung selama lima belas bulan.[72] Meskipun pernah berpikir bahwa nasib yang menimpa ayahnya adalah azab dewa-dewa yang murka melihat Sargon merebut kota Babel, sikap Sanherib terhadap kota itu berubah pada tahun 689 SM. Sanherib akhirnya memutuskan untuk meluluhlantakkan Babel. Brinkman yakin kalau perubahan sikap Sanherib lahir dari niat untuk membalas dendam atas kematian putranya sekaligus dari rasa jenuh mengurusi sebuah kota di dalam wilayah kedaulatannya yang berulang kali memberontak. Menurut Brinkman, mungkin saja Sanherib sudah kehilangan rasa hormatnya terhadap dewa-dewa Babel karena dewa-dewa itu telah mengilhami para penyembah mereka untuk menyerang dirinya. Uraian Tawarikh Sanherib mengenai peluluhlantakan kota Babel adalah sebagai berikut:[72]

Ke dalam negeriku, kugiring hidup-hidup Mušēzib-Marduk, Raja Babel, berikut keluarga dan para pembesarnya. Dari kotanya kuambil perak, emas, batu mulia, dan berbagai harta benda, untuk kuberikan kepada rakyatku, supaya menjadi kepunyaan mereka. Tangan-tangan rakyatku mengambil dewa-dewa yang bersemayam di kota itu dan meremukkan mereka, lalu merampas harta benda mereka.
Kuhancurkan kota itu berikut rumah-rumah di dalamnya, kululuhlantakkan dan kubumihanguskan dari landasan sampai ke puncak temboknya. Kubongkar batu-bata dan tanah dari tembok kota sebelah luar maupun sebelah dalam, dari kuil-kuil, dan dari zigurat, lalu kubenamkan semuanya ke dalam terusan Araḫtu. Kugali terusan-terusan melewati pusat kota itu, lalu kupenuhi dengan air, landasan-landasannya kumusnahkan, dan kutimpakan kebinasaan melebihi kebinasaan akibat air bah. Supaya kemudian hari mustahil ada orang yang dapat mengenali kota itu dan kuil-kuilnya, kugenangi tempat itu dan kujadikan sama seperti rawa-rawa.[72]

Meskipun Sanherib menghancurkan kota itu, tampaknya ia masih mengkhawatirkan murka dewa-dewa kuno bangsa Babel. Pada bagian awal dari uraiannya tentang kampanye militer itu, ia secara spesifik menyebutkan bahwa kuil-kuil para dewa Babel adalah penyandang dana musuh-musuhnya. Kalimat yang memerikan aksi penjarahan harta benda para dewa dan penghancuran patung-patung mereka adalah satu dari penjabaran Sanherib yang menggunakan kata "rakyatku" alih-alih "aku".[72] Pada tahun 1973, Brinkman menafsirkan uraian tersebut sebagai usaha cuci tangan Sanherib, agar yang dapat dituding sebagai biang keladi kehancuran Babel bukan dirinya sendiri melainkan keputusan para pegawai kuil dan tindakan rakyat Asyur.[73]

Ketika meluluhlantakkan Babel, Sanherib menghancurkan kuil-kuil maupun patung-patung para dewa, kecuali patung Dewa Marduk yang ia boyong ke Asyur.[74] Kebijakan tersebut menimbulkan kecemasan di Asyur, karena bangsa Asyur menyegani kota Babel maupun dewa-dewanya.[75] Sanherib mencoba membuat tindakannya benar di mata bangsa Asyur dengan cara melancarkan sebuah kampanye religius.[76] Salah satu unsur dari kampanye ini adalah penciptaan mitos Dewa Marduk dihakim Dewa Asyur. Peninggalan tertulis yang memuat mitos ini sudah tidak utuh lagi, tetapi dapat disimpulkan bahwa menurut mitos ini Marduk terbukti sudah melakukan sejumlah pelanggaran berat.[77] Sanherib memaparkan perjuangannya memberantas pemberontakan bangsa Babel dengan gaya penuturan mitos penciptaan dunia ala Babel, yakni dengan menyamakan kota Babel dengan dewi iblis Tiamat dan menyamakan dirinya dengan Marduk.[78] Dewa Asyur menggeser tempat Marduk di dalam perayaan tahun baru. Selain itu, Sanherib menyimpan sebongkah puing kota Babel di dalam kuil perayaan tahun baru.[79] Semua kebijakan ini menyemai kebencian di dalam hati sebagian besar rakyat Babel.[80]

Tujuan Sanherib adalah sepenuhnya menghapus keberadaan Babel sebagai sebuah entitas politik.[81] Meskipun sejumlah daerah di kawasan utara wilayah Kerajaan Babel dijadikan daerah-daerah Kerajaan Asyur, bangsa Asyur sama sekali tidak berusaha membangun kembali kota Babel, dan tawarikh-tawarikh selatan pun mulai menyebut zaman itu sebagai zaman "tanpa raja", yakni kurun waktu Kerajaan Babel tidak beraja.[73]

Pemugaran kota Niniwe

Gambar rekonstruksi Niniwe yang dibuat Austen Henry Layard, arkeolog Inggris pada abad ke-19
Gambar rekonstruksi "Istana Tanpa Tanding" yang dibuat John Philip Newman pada tahun 1876

Seusai perang terakhir melawan Babel, Sanherib menyibukkan diri membangun ibu kota baru di Niniwe alih-alih melancarkan kampanye-kampanye militer.[71] Niniwe sendiri sudah ribuan tahun menjadi kota penting di kawasan utara Mesopotamia. Jejak-jejak tertua keberadaan permukiman manusia di Niniwe berasal dari milenium ke-7 SM, dan kota ini sudah menjadi pusat administratif yang penting di kawasan utara Mesopotamia sejak milenium ke-4 SM.[82] Ketika ditetapkan Sanherib sebagai ibu kota baru, Niniwe menjadi lokasi pelaksanaan proyek-proyek pembangunan terambisius sepanjang sejarah Abad Kuno. Kota itu tidak lagi terlantar seperti keadaannya sebelum masa pemerintahan Sanherib.[83] Sementara Dur-Syarukin, ibu kota baru Sargon II, kurang lebih merupakan kembaran kota Nimrud, Sanherib berniat mengubah Niniwe menjadi kota dengan kemegahan dan ukuran yang mampu membuat seluruh dunia beradab terkesima.[84]

Prasasti-prasasti tertua yang membicarakan proyek pembangunan di Niniwe diperkirakan berasal dari tahun 702 SM dan berkenaan dengan pembangunan Istana Barat Daya, sebuah hunian raksasa yang berlokasi di kawasan barat daya kota.[27] Sanherib menamakan gedung ini ekallu ša šānina la išu, "Istana Tanpa Tanding".[85] Demi membangun istana ini, sebuah istana kecil dirubuhkan, saluran air yang sudah menggerus beberapa bagian bukit tempat istana itu berdiri dialihkan alirannya, dan pelataran yang nantinya menjadi tempat berdirinya tempat istana baru dibuat setinggi 160 lapis batu-bata. Meskipun banyak dari prasasti-prasasti tersebut menjabarkan istana baru Sanherib seakan-akan sudah rampung dibangun, sesungguhnya penjabaran semacam itu hanyalah kaidah baku dalam penyusunan karya tulis mengenai proyek-proyek pembangunan di Asyur pada Abad Kuno. Oleh karena itu penggambaran Niniwe di dalam catatan-catatan terawal Sanherib mengenai kegiatan pemugaran kota itu sesungguhnya adalah penggambaran Niniwe yang diangankan Sanherib pada saat catatan-catatan tersebut dibuat.[27]

Pada tahun 700 SM, tembok-tembok balairung Istana Barat Daya didirikan, disusul pembuatan relief-relief yang menghiasinya. Tahap terakhir pembangunan adalah penempatan patung-patung banteng dan singa raksasa yang menjadi ciri khas arsitektur Asyur Akhir. Meskipun patung-patung banteng dan singa dari batu sudah ditemukan dalam kegiatan ekskavasi di Niniwe, patung-patung sejenis yang menurut prasasti-prasasti terbuat dari logam-logam mulia tidak kunjung ditemukan. Sementara itu, atap Istana Barat Daya terbuat dari kayu saru dan kayu aras dari daerah pegunungan di sebelah barat, ruangan-ruangannya diterangi sinar matahari dari jendela-jendela yang banyak jumlahnya, sementara dinding-dindingnya dihiasi pasak-pasak perak serta perunggu di sisi dalam dan batu-bata berglasir di sisi luar. Luas keseluruhan bangunan, termasuk bukit landasannya, mencapai 450 meter (1480 kaki) kali 220 meter (720 kaki) persegi. Tulisan yang terpahat pada patung singa batu di ruangan istana yang diduga sebagai bilik Tasymetu-syarat adalah rangkaian kata-kata yang mengandung harapan agar sang raja beserta permaisuri senantiasa hidup sehat walafiat dan panjang umur di istana baru.[86] Isi tulisan tersebut adalah sebagai berikut:[87]

Bagi rani Tasymetu-syarat, istriku tercinta, yang dikaruniai Belet-ili kemolekan melebihi semua wanita, kubangunkan mahligai asmara, sukacita, dan kesenangan. [...] Dengan ketentuan Asyur, ramanda para dewa, dan Istar, sri rani swargaloka, dirgahayulah kiranya kita berdua, hidup waras berbahagia di dalam istana ini, dan menikmati kesentosaan yang paripurna.[87]

Denah tata ruang kota Niniwe (kiri) dan peta bukit Kuyunjik (kanan), tempat istana Sanherib dibangun. Istana Utara yang tampak pada peta bukit Kuyunjik pertama kali dibangun pada masa pemerintahan cucu Sanherib, Asyurbanipal.

Sekalipun mungkin sekali dirancang sedemikian rupa agar mirip dengan istana yang dibangun Sargon di Dur-Syarukin, istana Sanherib berikut karya-karya seni yang menghiasinya menampakkan sejumlah perbedaan. Relief-relief Sargon biasanya menampilkan citra raja sama tinggi dengan citra-citra para bangsawan Asyur, tetapi relief-relief Sanherib pada umumnya menampilkan citra raja lebih tinggi daripada semua citra lain di dekatnya, karena ditampilkan berdiri di atas kereta perang. Relief-relief Sanherib menampilkan gambar-gambar pemandangan yang lebih luas, beberapa di antaranya nyaris tampak seperti tampilan dari sudut pandang mata burung. Ada pula contoh-contoh pendekatan naturalistis dalam seni rupa. Sebagai contoh, patung-patung banteng raksasa di istana Sargon dibuat berkaki lima sehingga tampak berkaki jika dipandang dari samping dan berkaki dua jika dipandang dari depan, tetapi semua patung banteng di istana Sanherib dibuat berkaki empat saja.[86] Sanherib menghiasi istana barunya dengan taman-taman yang asri. Ia mendatangkan beragam jenis tumbuh-tumbuhan dan tanaman obat dari seluruh pelosok kekaisaran, bahkan ada yang didatangkan dari luar wilayah kekuasaannya. Tumbuhan kapas mungkin didatangkan dari India. Beberapa pihak menduga bahwa Taman Gantung Babel, salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia Kuno, sesungguhnya adalah taman-taman di Niniwe, tetapi kebenaran dugaan ini diragukan Eckhart Frahm.[88]

Selain istana, Sanherib juga membangun gedung-gedung lain di Niniwe. Ia mendirikan satu lagi istana di bukit selatan kota itu, yang kemudian digunakan sebagai sebagai gudang senjata sekaligus barak prajurit. Sejumlah besar kuil dibangun dan dipugar, banyak di antaranya didirikan di atas bukit Kuyunjik (lokasi Istana Barat Daya), antara lain kuil Dewa Sîn, dewa yang namanya terselip di dalam nama Sanherib. Niniwe diperluas secara besar-besaran ke arah selatan, dan tembok-tembok raksasa didirikan melingkarinya, lengkap dengan parit sebagai pengaman tambahan. Tinggi tembok mencapai 25 meter (82 kaki) dan ketebalannya mencapai 15 meter (49 kaki).[88]

Konspirasi, pembunuhan, dan suksesi

 
Pelarian Adramelek, ilustrasi dari Galeri Alkitab Dalziel Bersaudara (1881), menggambarkan Arda-Mulisyi dan Nabu-syar-usur melarikan diri sesudah membunuh Sanherib

Sesudah Asyur-nadin-syumi wafat (diduga dihukum mati bangsa Elam), Sanherib mengangkat putra tertuanya yang masih hidup, Arda-Mulisyi, menjadi putra mahkota. Arda-Mulisyi hanya menjadi putra mahkota sampai tahun 684 SM, karena pada tahun itu Sanherib mendadak mengangkat Esarhadon menjadi putra mahkota yang baru. Alasan penggantian Arda-Mulisyi tidak diketahui, yang jelas prasasti-prasasti dari masa itu menyebutkan bahwa ia merasa sangat kecewa.[89] Mungkin saja Naqi'a, ibu Esarhadon, adalah orang yang telah memengaruhi Sanherib untuk memilih Esarhadon menjadi penerusnya.[90] Meskipun sudah dicopot dari jabatannya, Arda-Mulisyi masih populer, bahkan beberapa raja negeri jajahan secara rahasia mendukung dirinya menjadi ahli waris takhta.[91]

Sanherib memaksa Arda-Muliyi untuk berprasetia kepada Esarhadon, tetapi Arda-Mulisyi berulang kali memohon kepada ayahnya untuk diangkat kembali menjadi ahli waris takhta.[89] Sanherib mengendus peningkatan popularitas Arda-Mulisyi sehingga mengkhawatirkan keselamatan Esarhadon. Oleh karena itu, ia mengutus Esarhadon ke provinsi-provinsi di selatan. Pemencilan Esarhadon membuat Arda-Mulisyi berada di posisi yang sulit, karena ia sudah mencapai puncak popularitas tetapi tidak dapat mengapa-apakan adiknya. Arda-Mulisyi akhirnya memutuskan untuk bertindak cepat merebut takhta.[91] Ia membuat "kesepakatan makar" dengan adiknya, Nabu-syar-usur, lalu menyergap dan membunuh ayah mereka di dalam salah satu kuil di kota Niniwe (mungkin kuil Dewa Sîn) pada tanggal 20 Oktober 681 SM.[89][88]

Pembunuhan Sanherib, penguasa salah satu kemaharajaan terkuat di muka bumi kala itu, membuat orang-orang sezamannya terperangah. Masyarakat Timur Dekat menanggapi kabar kemangkatan Sanherib dengan penuh emosi dan perasaan yang campur aduk. Penduduk Syam dan rakyat Babel menyambut gembira kematian Sanherib yang mereka yakini sebagai azab ilahi atas tindakan brutal Sanherib terhadap diri mereka, sementara rakyat Asyur mungkin sekali menanggapinya dengan gerutu dan ketakutan. Banyak sumber mengabadikan peristiwa itu, antara lain Alkitab (2 Raja-Raja 19:37, Yesaya 37:38), dimana Arda-Mulisyi disebut dengan nama Adramelek.[91]

Meskipun berhasil menewaskan ayahnya, Arda-Mulisyi tidak dapat menguasai takhta. Tindakannya membunuh Raja Asyur menimbulkan rasa tidak senang di kalangan pendukungnya, sehingga penobatannya tertunda-tunda, sementara Esarhadon giat membentuk angkatan perang sendiri. Angkatan perang bentukan Arda-Mulisyi dan Nabu-syar-usur akhirnya berhadapan dengan angkatan perang Esarhadon di Hanigalbat, daerah di kawasan barat wilayah Kemaharajaan Asyur Baru. Sebagian besar prajurit mereka membelot ke pihak Esarhadon, yang kemudian memimpin pasukannya memasuki Niniwe tanpa perlawanan. Esarhadon pun dinobatkan menjadi Raja Asyur yang baru. Tidak lama sesudah naik takhta, Esarhadon menghukum mati semua anggota komplotan makar dan musuh-musuh politik yang dapat ia bekuk, termasuk keluarga saudara-saudaranya. Semua pelayan yang terlibat dalam kegiatan pengamanan istana raja di Niniwe dihukum mati. Arda-Mulisyi dan Nabu-syar-usur lolos dari aksi pembersihan ini. Keduanya melarikan diri dan hidup sebagai orang buangan di Kerajaan Urartu nun jauh di utara.[89][92]

Keluarga

 
Tugu prasasti dari zaman Sanherib yang menampilkan gambar Putra Mahkota Asyur, mungkin saja Asyur-nadin-syumi, Arda-Mulisyi, atau Esarhadon

Sesuai adat raja-raja Asyur, Sanherib beristri banyak. Hanya dua dari sekian banyak istri Sanherib yang diketahui namanya, yakni Tasymetu-syarat[93] dan Naqi'a. Tidak diketahui apakah kedua-duanya berstatus permaisuri, tetapi sumber-sumber dari zaman Sanherib menyiratkan bahwa sekalipun Raja Asyur beristri banyak, hanya satu istri yang diakui sebagai permaisuri dan garwa padmi. Tasymetu-syarat menyandang status permaisuri hampir sepanjang masa pemerintahan Sanherib. Secara harfiah, nama Permaisuri Asyur ini berarti "Tasymetum prameswari".[14] Isi prasasti-prasasti menyiratkan bahwa hubungan Sanherib dan Tasymetu-syarat cukup mesra. Sanherib menyebut permaisurinya itu "istriku tercinta", dan tidak segan-segan memuji kecantikannya.[93]

Tidak diketahui apakah Naqi'a pernah menyandang status permaisuri. Ia memang disebut "ibu suri" pada masa pemerintahan Esarhadon, tetapi sebutan ini mungkin baru diberikan kepadanya menjelang akhir masa pemerintahan Sanherib atau pada masa pemerintahan Esarhadon, karena ia adalah ibu Esarhadon.[14] Sekalipun Tasymetu-syarat adalah garwa padmi, Naqi'a merupakan sosok yang lebih dikenal sekarang ini karena kiprahnya pada masa pemerintahan Esarhadon. Pada saat diperistri Sanherib, Naqi'a memakai nama baru yang khas Akad, yakni Zakûtu (Naqi'a adalah nama khas Aram). Pemakaian nama baru tersebut menimbulkan kesan bahwa Naqi'a lahir di luar negeri Asyur, mungkin di Babel atau di Syam, tetapi tidak ada bukti substansial yang mendukung teori-teori mengenai asal usulnya.[90]

 
Relief Esarhadon (kanan) bersama Naqi'a (kiri)

Sanherib dikaruniai sekurang-kurangnya tujuh orang anak laki-laki dan seorang anak perempuan. selain Esarhadon yang diketahui sebagai putra Naqi'a, anak-anak lain tidak diketahui nama ibunya. Beberapa di antara mereka agaknya dilahirkan Tasymetu-syarat.[94] Anak-anak Sanherib adalah sebagai berikut:

  • Asyur-nadin-syumi (bahasa Akad: Aššur-nādin-šumi)[54] – kemungkinan besar adalah putra tertua. Diangkat menjadi Raja Babel sekaligus Putra Mahkota Asyur pada tahun 700 SM, ditawan dan dihukum mati orang Elam pada tahun 694 SM.[95]
  • Asyur-ili-mubalisu (bahasa Akad: Aššur-ili-muballissu)[93] – kemungkinan besar adalah putra tertua kedua (ia disebut māru terdennu, artinya "putra kedua"). Disebutkan bahwa ia "lahir di kaki Asyur", yang menyiratkan bahwa ia berkiprah di bidang keagamaan.[93] Sanherib mengaruniakan kepadanya sebuah rumah di kota Asyur (mungkin sebelum tahun 700 SM) dan sebuah jambangan mahal yang ditemukan dalam kegiatan ekskavasi di Niniwe.[96]
  • Arda-Mulisyi (bahasa Akad: Arda-Mulišši)[97] – putra tertua yang masih hidup ketika Asyur-nadin-syumi wafat pada tahun 694 SM. Menjabat sebagai Putra Mahkota Asyur dari tahun 694 SM sampai diganti Sanherib dengan Esarhadon secara mendadak pada tahun 684 SM tanpa alasan yang jelas. Demi mewujudkan niatnya menjadi Raja Asyur, ia mendalangi aksi makar pada tahun 681 SM yang berakhir dengan kematian Sanherib.[89] Sesudah angkatan perangnya dikalahkan Esarhadon, ia melarikan diri ke Urartu.[89]
  • Asyur-syumu-usyabsyi (bahasa Akad: Aššur-šumu-ušabši) – putra Sanherib yang tidak diketahui urutan kelahirannya. Sanherib mengaruniakan kepadanya sebuah rumah di Niniwe. Batu-bata yang memuat keterangan mengenai rencana pembangunan rumahnya kemudian hari ditemukan dalam kegiatan ekskavasi di Niniwe. Temuan ini mengindikasikan bahwa mungkin Asyur-syumu-usyabsyi sudah wafat sebelum rumahnya selesai dibangun.[96]
  • Esarhadon (bahasa Akad: Aššur-aḫa-iddina)[98] – putra Sanherib yang menjabat sebagai Putra Mahkota Asyur dari tahun 684 sampai 681 SM, kemudian naik takhta menggantikan Sanherib dan memerintah dari tahun 681 sampai 669 SM.[89]
  • Nergal-syumu-ibni (bahasa Akad: Nergal-šumu-ibni) – hasil rekonstruksi nama (nama lengkapnya pada prasasti sudah tidak dapat dibaca secara utuh) dari putra Sanherib lainnya. Ia disebut-sebut mempekerjakan banyak pegawai, antara lain seorang juru pembiak kuda bernama Sama. Mungkin saja ia adalah orang yang sama dengan pejabat urusan pemberitaan yang disebut-sebut pada tahun 683 SM. Namanya dapat pula direkonstruksi menjadi Nergal-syumu-usur.[96] Nergal-syumu-ibni mungkin diangkat menjadi putra mahkota bersama-sama dengan Arda-Mulisyi, dan mungkin dipersiapkan sebagai calon Raja Babel, tetapi kemungkinan ini tidak dapat dipastikan berdasarkan bukti-bukti yang ada.[99]
  • Nabu-syar-usur (bahasa Akad: Nabû-šarru-uṣur)[100] – putra bungsu Sanherib yang bersekongkol dengan Arda-Mulisyi untuk membunuh Sanherib dan merebut takhta. Ia melarikan diri bersama Arda-Mulisyi ke Urartu.[89]
  • Syaditu (bahasa Akad: Šadditu)[96] – satu-satunya nama anak perempuan Sanherib yang dapat diketahui. Syaditu muncul dalam dokumen-dokumen jual beli tanah dan upacara-upacara tolak bala yang diadakan bagi dirinya. Mungkin sekali Syaditu adalah anak Naqi'a, karena ia masih terhitung anggota keluarga Raja Asyur pada masa pemerintahan Esarhadon. Syaditu atau putri Sanherib yang lain dikawinkan dengan seorang bangsawan Mesir yang bernama Syusyanqu pada tahun 672 SM.[94]

Sebuah loh lempung kecil yang ditemukan dalam kegiatan ekskavasi di Niniwe memuat daftar nama pahlawan mitologi Mesopotamia, misalnya Gilgames, dan nama sejumlah tokoh nyata. Nama Asyur-ili-mubalisu tercantum dalam daftar nama tokoh nyata bersama-sama dengan nama Esarhadon dan beberapa nama yang sudah tidak dapat dibaca secara utuh tetapi setidaknya dapat direkonstruksi, misalnya nama Asyur-nadin-syumi (atau Asyur-syumu-usyabsyi), oleh karena itu mungkin nama-nama tersebut adalah nama putra-putra Sanherib. Nama-nama yang dimaksud antara lain Ile''e-bullutu-Aššur, Aššur-mukkaniš-ilija, Ana-Aššur-taklak, Aššur-bani-beli, Samaš-andullašu (atau Samaš-salamšu), dan Aššur-šakin-liti.[96]

Kepribadian

Sanherib duduk di atas singgasana, bagian dari rangkaian relief Lakhis yang menggambarkan kampanye militer Sanherib di Syam.
Gambar yang mendetail di dalam buku A Dictionary of the Bible (terbitan tahun 1887), karya tulis Philip Schaff.

Sumber-sumber utama yang dapat digunakan untuk mengetahui kepribadian Sanherib adalah prasasti-prasasti yang dikeluarkannya. Prasasti-prasasti ini tidak ditulis sendiri oleh Sanherib melainkan oleh para panitera istana, dan kerap digunakan sebagai sarana propaganda yang mencitrakan Sanherib sebagai raja yang lebih baik daripada semua penguasa lain, baik penguasa-penguasa yang sezaman dengannya maupun penguasa-penguasa sebelumnya.[101] Selain itu, prasasti-prasasti Kerajaan Asyur kerap hanya memuat keterangan-keterangan tentang kegiatan militer dan pembangunan serta menggunakan kaidah-kaidah sastra yang baku, yang tidak banyak berbeda dari satu raja ke raja lain.[102] Dengan menelaah prasasti-prasasti tersebut dan membandingkannya dengan prasasti-prasasti keluaran raja-raja lain maupun prasasti-prasasti selain yang dikeluarkan raja-raja, dapat diketahui beberapa aspek kepribadian Sanherib. Seperti di dalam prasasti-prasasti keluaran raja-raja Asyur yang lain, Sanherib menunjukkan kebanggaan dan penghargaan yang tinggi terhadap dirinya sendiri, misalnya di dalam kalimat "Asyur, ramanda para dewa, tunak memandang diriku di antara sekalian raja, dan menjadikan senjata-senjataku lebih sakti daripada (senjata-senjata) sekalian orang yang bersemayam di atas persada (singgasana)." Beberapa bagian lain menonjolkan kecerdasan, misalnya di dalam kalimat "Dewa Ninsyiku mengaruniakan kepadaku kewaskitaan yang setara dengan (kewaskitaan) Begawan Adapu (dan) memperlengkapi diriku dengan pengetahuan yang luas". Di dalam beberapa prasasti, Sanherib digelari "utama di antara sekalian raja" (ašared kal malkī) dan "nara sempurna" (eṭlu gitmālu).[100][101] Keputusan Sanherib untuk mempertahankan nama lahirnya saat dinobatkan, alih-alih menyandang nama baru selaku raja, seperti yang pernah diperbuat oleh sekurang-kurangnya 19 dari 21 pendahulunya, menyiratkan tingginya rasa percaya diri. Sanherib juga menyandang beberapa gelar baru yang tidak pernah disandang raja-raja Asyur, misalnya "pembela kebenaran" dan "pecinta keadilan", yang menyiratkan keinginan untuk meninggalkan jejak pribadi pada era baru yang bermula dengan masa pemerintahannya.[26]

Pada saat dinobatkan menjadi Raja Asyur, Sanherib sudah dewasa dan sudah menjadi putra mahkota selama 15 tahun, sehingga ia memahami seluk-beluk administrasi Kemaharajaan Asyur Baru. Tidak seperti raja-raja sebelum maupun sesudahnya (termasuk ayahnya sendiri), Sanherib tidak mencitrakan diri sebagai seorang penakluk dan tidak banyak mengutarakan niat untuk menaklukkan dunia. Prasasti-prasasti keluarannya justru menonjolkan berbagai proyek pembangunan besar-besaran yang diprakarsainya. Sebagian besar kampanye militernya tidak dilancarkan untuk menaklukkan, melainkan untuk memadamkan pemberontakan, merebut kembali daerah-daerah yang dirampas musuh, dan untuk mengumpulkan dana bagi proyek-proyek pembangunannya.[103] Kenyataan bahwa beberapa kampanye militer dipimpin para panglima, alih-alih dipimpin Sanherib sendiri, menunjukkan bahwa ia tidak gemar berperang seperti para pendahulunya.[104] Ganjaran dan hukuman brutal terhadap musuh-musuh Asyur yang dijabarkan di dalam Tawarikh Sanherib belum tentu mencerminkan kejadian yang sesungguhnya. Penjabaran tersebut juga dimanfaatkan sebagai sarana intimidasi untuk kepentingan propaganda dan perang psikologi.[105]

 
Tulisan dalam bahasa Akad (berikut terjemahannya ke dalam bahasa Inggris) yang tertera di atas kepala pahatan sosok Sanherib di dalam relief Pengepungan Lakhis, terdapat di dalam buku Discoveries in the Ruins of Nineveh and Babylon (terbit tahun 1853), karya tulis Austen Henry Layard.

Meskipun tampak kurang berminat menguasai dunia, Sanherib menyandang gelar-gelar tradisional Mesopotamia yang bermakna penguasa dunia, yakni "raja semesta alam" dan "raja empat penjuru bumi". Gelar-gelar lain, misalnya "raja perkasa" dan "raja adikuasa", maupun sebutan-sebutan penghormatan seperti "nara perwira" (zikaru qardu) dan "banteng beringas" (rīmu ekdu), dipakai dengan maksud menandaskan kekuasaan dan kebesarannya. Sanherib meriwayatkan seluruh kampanye militernya sebagai pencapaian kemenangan, termasuk kampanye-kampanye militer yang gagal. Kenyataan ini belum tentu disebabkan oleh keangkuhan pribadi, karena kampanye militer yang gagal akan dipandang rakyatnya sebagai tanda bahwa para dewa tidak lagi merestui pemerintahannya.[103] Sanherib sungguh-sungguh yakin bahwa para dewa merestui dirinya, oleh karena itu semua kampanye militer itu ia anggap sebagai perbuatan yang benar.[104]

Eckart Frahm yakin bahwa Sanherib menderita gangguan stres pascatrauma akibat kemalangan yang menimpa ayahnya. Dari sumber-sumber yang ada, tampaknya Sanherib lekas naik darah jika menerima kabar buruk, dan mengalami masalah-masalah kejiwaan yang serius. Esarhadon menyebutkan di dalam prasasti keluarannya bahwa Sanherib disiksa "iblis alû", dan mula-mula tidak seorang pun ahli nujum yang berani memberitahu sang raja tentang tanda-tanda kehadiran iblis tersebut.[31] Tidak jelas apa yang dimaksud dengan iblis alû, tetapi gejala-gejala lumrah yang disebutkan di dalam dokumen-dokumen dari masa itu mencakup pesakit tidak mengenali diri sendiri, pupil mata mengecil, tangan dan kaki mengejang, tidak mampu berbicara, dan telinga berdengung.[26]

Eckart Frahm dan Asiriolog Julian E. Reade telah mendalami gagasan bahwa Sanherib dapat diklasifikasikan sebagai seorang feminis. Para sanak wanita lebih menonjol dan menikmati lebih banyak keistimewaan pada masa pemerintahan Sanherib ketimbang pada masa perintahan raja-raja Asyur sebelumnya. Alasan di balik kebijakan yang ramah terhadap sanak wanita ini tidak diketahui. Mungkin Sanherib ingin mengalihkan kekuasaan dari para panglima dan pembesar Asyur kepada para sanak wanita, karena pernah berhadapan dengan ratu-ratu perkasa bangsa Arab yang mampu mengambil keputusan sendiri dan memimpin angkatan perang. Mungkin juga ia ingin menebus cara-caranya yang keliru dalam menyikapi kemangkatan ayahnya. Menanjaknya harkat kaum menak wanita terbukti dari banyaknya karya tulis yang menyebut-nyebut para permaisuri Asyur dari masa pemerintahan Sanherib ketimbang permaisuri-permaisuri Asyur terdahulu, dan terbukti pula dari keterangan bahwa permaisuri-permaisuri Sanherib memiliki pasukan-pasukan militer sendiri, sama seperti raja. Kian sering ditampilkannya citra-citra para dewi pada masa pemerintahan Sanherib juga merupakan cerminan dari menanjaknya harkat para sanak wanita. Sebagai contoh, Dewa Asyur berulang kali digambarkan bersama pendamping wanita, mungkin sekali Dewi Mulisu.[106]

Meskipun Sanherib percaya akan takhayul sehubungan dengan nasib malang ayahnya dan percaya akan dukungan para dewa,[28][104] Reade yakin bahwa sampai taraf tertentu Sanherib bersikap skeptis terhadap agama. Tindakan penghabisan yang diperbuat Sanherib terhadap kota Babel, yakni menghancurkan kota itu berikut kuil-kuil di dalamnya, merupakan tindakan penistaan agama, dan Sanherib tampaknya menelantarkan kuil-kuil di Kerajaan Asyur sampai ia melaksanakan pemugaran kuil Dewa Asyur di kota Asyur menjelang akhir masa pemerintahannya.[107]

Warisan sejarah

Anggapan umum mengenai Sanherib

 
Sosok Sanherib dalam gambar cukil kayu buatan abad ke-16, dari satu seri cap kayu bertema Para Tiran Perjanjian Lama, karya Georg Pencz, seniman cukil kayu, pelukis, sekaligus juru cetak asal Jerman

Beribu-ribu tahun sesudah kemangkatannya, citra Sanherib di dalam benak kebanyakan orang cenderung bersifat negatif. Sebab utamanya adalah pencitraan Sanherib yang negatif di dalam Alkitab, yakni sebagai tokoh jahat yang berusaha merebut kota Yerusalem. Sebab yang kedua adalah penghancuran kota Babel, salah satu kota terkemuka di dunia pada Abad Kuno. Citra negatif Sanherib ini bertahan sampai ke zaman modern. Di dalam puisi terkenal yang berjudul The Destruction of Sennacherib, gubahan Lord Byron pada tahun 1815, Sanherib diumpamakan dengan pemangsa buas yang menyerbu Yehuda "bak serigala menghampiri kawanan domba".[108]

The Assyrian came down like the wolf on the fold,
And his cohorts were gleaming in purple and gold;
And the sheen of their spears was like stars on the sea,
When the blue wave rolls nightly on deep Galilee
.

(Orang Asyur itu datang bak serigala menghampiri kawanan domba
Laskar pengiringnya pun gilang-gemilang, serba ungu bersanding kencana
Kilau mata tombak mereka umpama kerlip bintang di atas segara
Saat ombak biru malam bergulung di permukaan tasik Galilea)

— Lord Byron (1815), The Destruction of Sennacherib, bait pertama.[108]
 
Gambar miniatur dari kitab-kitab para nabi Perjanjian Lama yang dibuat di Kerajaan Sisilia sekitar tahun 1300, menampilkan tiga adegan berlainan dari aksi Sanherib memerangi bangsa Israel. Gambar kanan menampilkan adegan penumpasan angkatan perang Sanherib oleh Malaikat Tuhan. Gambar tengah menampilkan adegan perjalanan pulang Sanherib dan sisa angkatan perangnya ke Niniwe. Gambar kiri menampilkan adegan pembunuhan Sanherib oleh kedua putranya selagi ia berdoa kepada berhala.

Pada tahun 2014, Arkeolog Alkitab Isaac Kalimi dan sejarawan Seth Richardson menyifatkan serangan terhadap Yerusalem yang dilancarkan Sanherib pada tahun 701 SM sebagai salah satu "peristiwa penting di dalam sejarah dunia", karena dianggap telah mempertemukan perjalanan nasib dari tiga kelompok masyarakat yang mungkin saja akan bergulir sendiri-sendiri andaikata peristiwa ini tidak pernah terjadi. Menurut Isaac Kalimi, peristiwa ini maupun kesudahannya telah memengaruhi dan menimbulkan konsekuensi-konsekuensi bukan hanya bagi bangsa Asyur dan bangsa Israel, melainkan juga bagi bangsa Babel, bangsa Mesir, bangsa Nubia, bangsa Suriah-Het, dan bangsa-bangsa di Jazirah Anatolia. Perang pengepungan Yerusalem tidak hanya dibicarakan di dalam sumber-sumber sezamannya, tetapi juga di dalam cerita-cerita rakyat dan tradisi-tradisi dari zaman-zaman sesudahnya, misalnya di dalam cerita rakyat Aram, di dalam karya-karya tulis Gerika-Romawi tentang sejarah Timur Dekat, serta di dalam cerita-cerita umat Kristen Suryani dan Arab pada Abad Pertengahan.[109] Kampanye militer Sanherib di Syam merupakan salah satu peristiwa penting di dalam Alkitab, karena diungkit dan diwacanakan di banyak tempat, teristimewa di dalam Kitab Raja-Raja (2 Raja-Raja 18:13–19:37, 20:6) dan di dalam Kitab Tawarikh (2 Tawarikh 32:1–23).[110] Sebagian besar ayat-ayat Alkitab yang berkaitan dengan masa pemerintahan Raja Hizkia di dalam Kitab Raja-Raja adalah riwayat kampanye militer Sanherib, dan dengan demikian mengekalkannya sebagai peristiwa terpenting sepanjang masa pemerintahan Hizkia.[111] Di dalam Kitab Tawarikh, yang ditonjolkan adalah kegagalan Sanherib dan kesuksesan Hizkia. Kampanye militer bangsa Asyur (diwacanakan sebagai suatu aksi agresi alih-alih sebagai aksi tanggapan terhadap aktivitas-aktivitas makar Hizkia) dianggap sudah sejak semula ditakdirkan gagal. Menurut narasi Kitab Tawarikh, tidak ada satu musuh pun, termasuk Raja Asyur yang adidaya, yang mampu berjaya mengangkangi Hizkia, karena Allah berada di pihaknya.[112] Konflik ini diuraikan sedemikian rupa seakan-akan sebuah perang suci, dan dalam perang tersebut Allah diyakini memerangi Sanherib yang dianggap sebagai penyembah berhala.[113]

Sekalipun Kerajaan Asyur sepanjang sejarahnya pernah dipimpin lebih dari seratus orang raja, Sanherib (dan anak cucunya, Esarhadon, Asyurbanipal, dan Syamas-syum-ukin) adalah salah seorang di antara segelintir raja Asyur yang terlestarikan di dalam ingatan maupun cerita-cerita rakyat Aram dan Suryani, lama sesudah kerajaan Asyur runtuh. Di dalam cerita rakyat Aram kuno berjudul Hikayat Ahikar, Sanherib ditampilkan sebagai tokoh raja budiman, pelindung tokoh utama yang bernama Ahikar, sementara Esarhadon dihadirkan sebagai tokoh jahat. Cerita-cerita rakyat Suryani dari Abad Pertengahan mengetengahkan Sanherib sebagai raja pagan purbakala yang terbunuh dalam sengketa keluarga dan anak-anaknya masuk Kristen.[114] Dalam legenda dari abad ke-4 tentang Santo Behnam dan Santa Sarah, Sanherib dihadirkan sebagai raja sekaligus ayah kedua orang kudus itu dengan nama Sinharib. Sesudah Behnam masuk Kristen, Sinharib memerintahkan agar sang pangeran dihukum mati. Sinharib kemudian terserang penyakit berbahaya, dan baru sembuh sesudah dibaptis Santo Matius di kota Asyur. Sebagai wujud rasa syukur, Sinharib masuk Kristen dan membangun sebuah biara di dekat kota Mosul yang dinamakan Deir Mar Matai (Biara Santo Matius).[115]

Sanherib juga muncul di dalam tradisi-tradisi Yahudi terkemudian. Di dalam Midras, kumpulan telaah ayat-ayat Perjanjian Lama dan cerita-cerita yang baru muncul kemudian hari, peristiwa-peristiwa pada tahun 701 SM kerap diuraikan secara terperinci. Cerita-cerita ini juga berulang kali menghadirkan gambaran tentang angkatan perang besar yang dikerahkan Sanherib, dan menonjolkan tindakan Sanherib meminta petunjuk berulang kali dari para ahli nujum sehubungan dengan kampanye militernya, sehingga pelaksanaannya tertunda-tunda. Di dalam cerita-cerita tersebut, angkatan perang Sanherib dibinasakan ketika Hizkia membacakan mazmur-mazmur Halel pada malam Pesah. Peristiwa ini kerap digambarkan sebagai sebuah skenario apokaliptis, dan dalam skenario tersebut Hizkia digambarkan sebagai seorang tokoh mesianis sementara Sanherib berikut angkatan perangnya digambarkan sebagai pengejawantahan Gog dan Magog.[116] Karena sepak terjangnya tercatat di dalam Alkitab, Sanherib menjadi salah seorang Raja Asyur yang paling diingat orang sampai sekarang.[117]

Temuan-temuan arkeologi

 
Relief dua orang prajurit Asyur, dari istana Sanherib

Penemuan prasasti-prasasti keluaran Sanherib pada abad ke-19, yang memuat uraian tentang tindakan-tindakan kejam seperti perintah untuk menggorok leher orang-orang Elam, serta memotong tangan dan bibir mereka, kian mengukuhkan citra Sanherib sebagai seorang raja yang zalim. Banyak prasasti Sanherib sudah diketahui keberadaannya, dan sebagian besar di antaranya kini menjadi koleksi Vorderasiatisches Museum di Berlin dan British Museum di London, kendati banyak pula yang menjadi koleksi lembaga-lembaga lain maupun orang-orang pribadi. Sejumlah benda berukuran besar yang memuat tulisan-tulisan dari zaman Sanherib masih ada di Niniwe, sebagian bahkan dikubur kembali.[118] Catatan-catatan pribadi Sanherib berkenaan dengan proyek-proyek pembangunan dan kampanye-kampanye militernya, yang umum disebut "Tawarikh Sanherib", sering kali disalin dan disebarluaskan ke seluruh pelosok wilayah Kemaharajaan Asyur Baru pada masa pemerintahannya. Selama enam tahun pertama masa pemerintahannya, catatan-catatan pribadi tersebut dituliskan pada silinder-silinder lempung, tetapi kemudian dituliskan pada prisma-prisma lempung, mungkin karena permukaan prisma lempung dapat menampung lebih banyak tulisan daripada permukaan silinder lempung.[25]

Surat-surat yang diduga berasal dari Sanherib lebih sedikit jumlahnya daripada surat-surat yang diketahui berasal dari ayahnya maupun yang surat-surat keluaran masa pemerintahan Esarhadon. Sebagian besar surat Sanherib ditulis pada saat ia menjadi putra mahkota. Peninggalan-peninggalan tertulis selain yang dikeluarkan raja, misalnya dokumen-dokumen administratif, dokumen-dokumen ekonomi, dan tawarikh-tawarikh, justru lebih banyak jumlahnya.[119] Selain peninggalan-peninggalan tertulis, ada banyak pula benda-benda karya seni yang berasal dari zaman Sanherib, teristimewa relief-relief Sanherib dari istananya di Niniwe. Lazimnya prasasti-prasasti tersebut menggambarkan aksi-aksi penaklukan yang dilancarkannya, kadang-kadang ditambahi kalimat-kalimat pendek sebagai penjelasan adegan yang terpahat. Relief-relief tersebut pertama kali ditemukan dan diekskavasi dari tahun 1847 sampai 1851 oleh Austen Henry Layard, arkeolog berkebangsaan Inggris. Relief-relief perang pengepungan kota Lakhis yang ditemukan di situs Istana Barat Daya adalah temuan arkologi pertama yang mengonfirmasi sebuah catatan peristiwa di dalam Alkitab.[85]

Asiriolog Hormuzd Rassam bersama Henry Creswicke Rawlinson (dari tahun 1852 sampai 1854), William Kennett Loftus (dari tahun 1854 sampai 1855), dan George Smith (dari tahun 1873 sampai 1874) memimpin kegiatan ekskavasi lebih lanjut di situs Istana Barat Daya.[85] Di antara berbagai peninggalan tertulis yang diekskavasi di situs itu, George Smith menemukan potongan prasasti air bah, yang menimbulkan kehebohan di kalangan sarjana maupun masyarakat umum. Sesudah usaha ekskavasi yang dilakukan George Smith, situs itu masih beberapa kali diekskavasi dan ditelaah secara intensif, yakni (sekali lagi) oleh Hormuzd Rassam (dari tahun 1878 sampai 1882), oleh Egiptolog E. A. Wallis Budge (dari tahun 1889 sampai 1891), oleh Asiriolog Leonard William King (dari tahun 1903 sampai 1904), dan oleh Asiriolog Reginald Campbell Thompson (pada tahun 1905 dan dari tahun 1931 sampai 1932). Departemen Kepurbakalaan Irak, di bawah pimpinan Asiriolog Tariq Madhloom, melaksanakan ekspedisi-ekspedisi termutakhir dari tahun 1965 sampai 1968. Banyak relief dari zaman Sanherib kini dapat disaksikan di Vorderasiatisches Museum, British Museum, Museum Irak di Bagdad, Metropolitan Museum of Art di New York, dan Museum Louvre di Paris.[120]

Anggapan negatif tentang Sanherib sebagai seorang penakluk yang beringas sudah memudar di kalangan sarjana modern. Pada tahun 1978, Julian E. Reade mengemukakan di dalam karya tulisnya bahwa Sanherib adalah seorang raja yang menonjol di antara raja-raja Asyur karena berpikiran terbuka dan berpandangan jauh ke depan, dan bahwasanya Sanherib adalah tokoh "yang tidak saja mampu menanggulangi krisis-krisis biasa secara efektif, tetapi juga mampu mengubah krisis-krisis tersebut menjadi keuntungan, karena ia menciptakan, atau berusaha menciptakan, sebuah struktur kekaisaran yang kebal terhadap masalah-masalah tradisional". Julian E. Reade yakin bahwa salah satu penyebab keruntuhan Kemaharajaan Asyur dalam kurun waktu tujuh puluh tahun sesudah kemangkatan Sanherib adalah sikap abai raja-raja penerus terhadap kebijakan-kebijakan dan usaha-usaha pembaharuan yang digagas Sanherib.[107] Pada tahun 2018, Josette Elayi menyimpulkan di dalam karya tulisnya bahwa Sanherib sesungguhnya berbeda dari citra negatif tentang dirinya yang terlestarikan dari generasi ke generasi maupun dari citra raja sempurna yang ingin ia sebarluaskan melalui prasasti-prasastinya, tetapi unsur-unsur dari kedua citra tersebut memang ada di dalam dirinya. Menurut Josette Elayi, Sanherib "sudah tentu cerdas, terampil, dan memiliki kemampuan beradaptasi", tetapi "nilai-nilai keagamaan di dalam dirinya berkecamuk, karena di satu pihak ia menghancurkan patung-patung dan kuil-kuil para dewa Babel sementara di lain pihak ia terbiasa mencari tahu kehendak dewa-dewa tersebut sebelum bertindak dan berdoa kepada mereka". Josette Elayi yakin bahwa kelemahan terbesar Sanherib adalah "sifat lekas naik darah, pendendam, dan tidak sabaran yang dimilikinya" dan bahwasanya Sanherib dalam keadaan emosi dapat saja terdorong untuk membuat keputusan-keputusan yang irasional.[121]

Gelar

Gelar-gelar berikut ini digunakan di dalam catatan-catatan tertua mengenai kampanye militer Sanherib di Babel pada tahun 703 SM:[122]

Maharaja Sanherib, raja adikuasa, Raja Asyur, raja tanpa tanding, gembala sadik, kesayangan sekalian mahadewa, gembala yang tekun berdoa, yang bertakwa kepada sekalian mahadewa, pembela kebenaran, pecinta keadilan, yang mengulurkan bantuan, yang menolong tunadaksa dan hendak berbuat kebajikan, wira sempurna, nara adikuasa, utama di antara sekalian raja, pasung leher yang menundukkan pendurhaka, yang menghajar musuh laksana petir, Mahagiri Asyur sudah mengaruniakan kepadaku jabatan raja yang tiada tandingannya, dan sudah membuat senjata-senjataku lebih sakti daripada senjata-senjata sekalian raja yang bersemayam di atas persada.[122]

Varian gelar berikut ini digunakan di dalam sebuah prasasti dari Istana Barat Daya di Niniwe yang dibuat seusai kampanye militer Sanherib di Babel pada tahun 700 SM:[123]

Maharaja Sanherib, raja adikuasa, raja semesta alam, Raja Asyur, raja empat penjuru (bumi), kesayangan sekalian mahadewa, bijaksana lagi cerdik, wira perkasa, utama di antara sekalian raja, api yang menghanguskan pendurhaka, yang menghajar durjana dengan petir. Mahadewa Asyur sudah mempercayakan kepadaku jabatan raja yang tiada tandingannya, dan sudah menjadikan senjata-senjataku digdaya mengatasi (sekalian) orang yang bersemayam di dalam istana. Dari Laut Atas tempat matahari terbenam sampai ke Laut Bawah tempat matahari terbit, sekalian raja dari empat penjuru (bumi) sudah dibuatnya bertekuk lutut di bawah kakiku.[123]

Baca juga

Referensi

Rujukan

  1. ^ Elayi 2017, hlm. 29.
  2. ^ a b c Elayi 2018, hlm. 18.
  3. ^ Harmanşah 2013, hlm. 120.
  4. ^ a b Kalimi 2014, hlm. 11.
  5. ^ a b Elayi 2018, hlm. 12.
  6. ^ a b c d Frahm 2003, hlm. 129.
  7. ^ a b c d e Kalimi 2014, hlm. 20.
  8. ^ a b Luckenbill 1924, hlm. 13.
  9. ^ a b c d Elayi 2018, hlm. 13.
  10. ^ Kertai 2013, hlm. 115.
  11. ^ Melville 2016, hlm. 56.
  12. ^ Elayi 2017, hlm. 27.
  13. ^ Elayi 2018, hlm. 30.
  14. ^ a b c Elayi 2018, hlm. 15.
  15. ^ Elayi 2018, hlm. 30–31.
  16. ^ Elayi 2018, hlm. 38.
  17. ^ Elayi 2018, hlm. 40, 204.
  18. ^ Brinkman 1973, hlm. 89.
  19. ^ a b c Brinkman 1973, hlm. 90.
  20. ^ Frahm 2014, hlm. 209.
  21. ^ Frahm 2014, hlm. 208.
  22. ^ Frahm 2014, hlm. 212.
  23. ^ Frahm 2014, hlm. 201.
  24. ^ a b Frahm 2014, hlm. 202.
  25. ^ a b Elayi 2018, hlm. 3.
  26. ^ a b c Frahm 2014, hlm. 204.
  27. ^ a b c Frahm 2008, hlm. 15.
  28. ^ a b c d e f g h Brinkman 1973, hlm. 91.
  29. ^ Frahm 2002, hlm. 1113.
  30. ^ a b Frahm 2003, hlm. 130.
  31. ^ a b Frahm 2014, hlm. 203.
  32. ^ Luckenbill 1924, hlm. 9.
  33. ^ a b Levine 1982, hlm. 36.
  34. ^ a b c Bauer 2007, hlm. 384.
  35. ^ a b c Luckenbill 1924, hlm. 10.
  36. ^ a b Levine 1982, hlm. 37.
  37. ^ Grayson 1991, hlm. 106.
  38. ^ Levine 1973, hlm. 313.
  39. ^ Matty 2016, hlm. 26.
  40. ^ a b Luckenbill 1924, hlm. 11.
  41. ^ Barnett 1958, hlm. 161–164.
  42. ^ Kalimi 2014, hlm. 38.
  43. ^ Kalimi 2014, hlm. 25, 40.
  44. ^ a b Luckenbill 1924, hlm. 12.
  45. ^ Kalimi 2014, hlm. 39–40.
  46. ^ Kalimi 2014, hlm. 19.
  47. ^ Caesar 2017, hlm. 224.
  48. ^ Ogden Bellis 2020, hlm. 4.
  49. ^ James 2005, hlm. 92.
  50. ^ Kalimi 2014, hlm. 48.
  51. ^ Levine 1982, hlm. 40.
  52. ^ a b c Levine 1982, hlm. 41.
  53. ^ Levine 1982, hlm. 40–41.
  54. ^ a b Porter 1993, hlm. 14.
  55. ^ Porter 1993, hlm. 15.
  56. ^ Porter 1993, hlm. 16.
  57. ^ Luckenbill 1924, hlm. 14.
  58. ^ Levine 1982, hlm. 42–43.
  59. ^ a b Luckenbill 1924, hlm. 15.
  60. ^ a b c Levine 1982, hlm. 43.
  61. ^ a b Brinkman 1973, hlm. 92.
  62. ^ Bertman 2005, hlm. 79.
  63. ^ Levine 1982, hlm. 43–45.
  64. ^ Levine 1982, hlm. 45.
  65. ^ Levine 1982, hlm. 40, 47–49.
  66. ^ Luckenbill 1924, hlm. 16.
  67. ^ Levine 1982, hlm. 49–50.
  68. ^ a b Brinkman 1973, hlm. 93.
  69. ^ Levine 1982, hlm. 50.
  70. ^ Karim & Amin 2018, hlm. 451.
  71. ^ a b c Luckenbill 1924, hlm. 17.
  72. ^ a b c d Brinkman 1973, hlm. 94.
  73. ^ a b Brinkman 1973, hlm. 95.
  74. ^ Grayson 1991, hlm. 118.
  75. ^ Leick 2009, hlm. 156.
  76. ^ Grayson 1991, hlm. 118–119.
  77. ^ Grayson 1991, hlm. 119.
  78. ^ McCormick 2002, hlm. 156, 158.
  79. ^ Grayson 1991, hlm. 116.
  80. ^ Grayson 1991, hlm. 109.
  81. ^ Frahm 2014, hlm. 210.
  82. ^ Frahm 2008, hlm. 13.
  83. ^ Frahm 2008, hlm. 14.
  84. ^ Reade 1978, hlm. 47, 50.
  85. ^ a b c Elayi 2018, hlm. 5.
  86. ^ a b Frahm 2008, hlm. 16.
  87. ^ a b Kertai 2013, hlm. 116.
  88. ^ a b c Frahm 2008, hlm. 17.
  89. ^ a b c d e f g h Radner 2003, hlm. 166.
  90. ^ a b Elayi 2018, hlm. 16.
  91. ^ a b c Parpola 1980.
  92. ^ Encyclopaedia Britannica.
  93. ^ a b c d Frahm 2002, hlm. 1114.
  94. ^ a b Elayi 2018, hlm. 17.
  95. ^ Porter 1993, hlm. 14–16.
  96. ^ a b c d e Frahm 2002, hlm. 1115.
  97. ^ Baker 2016, hlm. 272.
  98. ^ Postgate 2014, hlm. 250.
  99. ^ Šašková 2010, hlm. 152.
  100. ^ a b Frahm 2014, hlm. 193.
  101. ^ a b Elayi 2018, hlm. 19.
  102. ^ Frahm 2014, hlm. 171.
  103. ^ a b Elayi 2018, hlm. 20.
  104. ^ a b c Elayi 2018, hlm. 21.
  105. ^ Elayi 2018, hlm. 22.
  106. ^ Frahm 2014, hlm. 213–217.
  107. ^ a b Reade 1978, hlm. 47.
  108. ^ a b Elayi 2018, hlm. 1.
  109. ^ Kalimi & Richardson 2014, hlm. 1.
  110. ^ Kalimi 2014, hlm. 12.
  111. ^ Kalimi 2014, hlm. 15.
  112. ^ Kalimi 2014, hlm. 21.
  113. ^ Kalimi 2014, hlm. 37.
  114. ^ Kalimi & Richardson 2014, hlm. 5.
  115. ^ Radner 2015, hlm. 7.
  116. ^ Kalimi & Richardson 2014, hlm. 6.
  117. ^ Mark 2014.
  118. ^ Elayi 2018, hlm. 2.
  119. ^ Elayi 2018, hlm. 4.
  120. ^ Elayi 2018, hlm. 6.
  121. ^ Elayi 2018, hlm. 203.
  122. ^ a b Frahm 2003, hlm. 141.
  123. ^ a b Luckenbill 1927, hlm. 140.

Sumber pustaka

Sumber web

  • "Esarhaddon". Encyclopædia Britannica. Diakses tanggal 22 November 2019. 
  • Mark, Joshua J. (2014). "Sennacherib". Ancient History Encyclopedia. Diarsipkan dari versi asli tanggal 18 Februari 2020. Diakses tanggal 15 Februari 2020. 
  • Parpola, Simo (1980). "The Murderer of Sennacherib". Gateways to Babylon. Diarsipkan dari versi asli tanggal 18 Februari 2020. Diakses tanggal 14 Desember 2019. 

Pranala luar

  •   Media terkait Sanherib di Wikimedia Commons
Sanherib
Lahir: ca. 745 SM Wafat: 20 Oktober 681 SM
Didahului oleh:
Sargon II
Raja Asyur
705 – 681 SM
Diteruskan oleh:
Esarhadon
Raja Babel
705 – 704/703 SM
Diteruskan oleh:
Marduk-zakir-syumi II
Didahului oleh:
Musyezib-Marduk
Raja Babel
(de facto, Babel dihancurkan)

689 – 681 SM
Diteruskan oleh:
Esarhadon