Sanherib


Sanherib (aksara baji Asyur Baru: Sanherib pada silinder Rassam cylinder kolom pertama baris ke-25 Sîn-ahhī-erība[3] atau Sîn-aḥḥē-erība,[4] artinya "Sîn sudah mengganti saudara-saudaraku yang telah tiada")[5] adalah Maharaja Asyur Baru yang memerintah sejak kemangkatan ayahnya, Sargon II, pada tahun 705 Pra-Masehi sampai dengan akhir hayatnya pada tahun 681 Pra-Masehi. Raja kedua dari wangsa Sargon ini terbilang salah seorang Raja Asyur yang paling ternama, karena sepak terjangnya tercatat di dalam Alkitab Perjanjian Lama, yakni kampanye militer yang dilancarkannya di Syam. Peristiwa-peristiwa lain yang berlangsung pada masa pemerintahannya adalah penghancuran kota Babel pada tahun 689 Pra-Masehi, dan pemugaran sekaligus pemekaran kota besar Niniwe, ibu kota terakhir bangsa Asyur.

Sanherib
Sanherib-tr-4271.jpg
Relief Sanherib di kaki Gunung Judi,
dekat kota Cizre, Turki
Maharaja Asyur Baru
Berkuasa705–681 Pra-Masehi
PendahuluSargon II
PenerusEsarhadon
Lahirca. 745 Pra-Masehi[1]
Nimrud[2] (?)
Wafat20 Oktober 681 Pra-Masehi
(kira-kira pada umur 64 tahun)
Niniwe
AyahSargon II
IbuRa'īmâ (?)
PasanganTasymetu-syarat
Naqi'a
Anak
Antara
lain
Asyur-nadin-syumi
Arda-Mulisyi
Esarhadon
Bahasa AkadSîn-ahhī-erība
Sîn-aḥḥē-erība

Sekalipun terbilang salah seorang Raya Asyur yang paling berkuasa, Sanherib tetap saja kewalahan mengendalikan Kerajaan Babel yang merupakan bagian selatan dari wilayah Kemaharajaan Asyur Baru. Sebagian besar masalah di Babel ditimbulkan oleh Marduk-apla-idina II, pemimpin orang Kasdim[6] yang memerintah selaku Raja Babel sebelum ditaklukkan ayah Sanherib. Tidak lama sesudah Sanherib naik takhta pada tahun 705 Pra-Masehi, Marduk-apla-idina merebut Babel dan menjalin persekutuan dengan orang Elam. Meskipun Sanherib berhasil menguasai kembali kawasan selatan pada tahun 700 Pra-Masehi, Marduk-apla-idina masih terus merongrong kekuasaannya, kemungkinan besar dengan cara menghasut raja-raja bawahan Asyur di Syam untuk memberontak sehingga menyulut Perang Syam pada tahun 701 Pra-Masehi, maupun dengan jalan memerangi Bel-ibni, Raja Babel yang diangkat Sanherib. Sesudah Babel dan Elam menawan dan menghukum mati Asyur-nadin-syumi, putra sulung Sanherib yang diangkat menjadi raja baru Babel, Sanherib menggempur kedua kerajaan itu, dan berhasil menaklukkan Elam. Karena Babel berada di dalam wilayah kedaulatannya, sudah berulang kali menjadi sasaran kampanye militernya, dan sudah merenggut nyawa putranya, Sanherib akhirnya menghancurkan kota itu pada tahun 689 Pra-Masehi.

Dalam Perang Syam, kerajaan-kerajaan di kawasan selatan Syam, khususnya Kerajaan Yehuda di bawah pemerintahan Raja Hizkia, tidak dapat ditundukkan semudah kerajaan-kerajaan di kawasan utara Syam. Oleh karena itu angkatan perang Asyur dikerahkan menginvasi Yehuda. Menurut keterangan Alkitab, Malaikat Tuhan menggagalkan pengepungan Yerusalem dengan menumpas angkatan perang Asyur. Meskipun demikian, agaknya Asyur tidak dikalahkan, karena Hizkia menyerah kepada Sanherib di akhir kampanye militer itu.[7] Peninggalan-peninggalan tertulis dari masa itu, termasuk yang ditulis musuh-musuh Asyur, tidak menyebutkan bahwa Asyur mengalami kekalahan di Yerusalem.[8]

Sanherib memindahkan ibu kota Asyur ke Niniwe, kota kediamannya saat masih berstatus putra mahkota. Untuk mengubah Niniwe menjadi kota yang pantas disebut ibu kota kemaharajaan, Sanherib memprakarsai proyek-proyek pembangunan yang paling ambisius sepanjang sejarah Abad Kuno. Ia memperluas kota itu, mendirikan tembok-tembok raksasa untuk melindunginya, membangun banyak kuil, dan membina sebuah taman kerajaan. Bangunan yang paling terkenal adalah Istana Barat Daya, yang ia beri nama "Istana Tanpa Tanding". Sepeninggal putra sulungnya, Asyur-nadin-syumi, Sanherib mengangkat putra keduanya, Arda-Mulisyi, menjadi putra mahkota. Pada tahun 684 Pra-Masehi, ia mengangkat putra ketiganya, Esarhadon, menjadi putra mahkota menggantikan Arda-Mulisyi. Alasan penggantian tidak diketahui, yang jelas Sanherib tidak menggubris permohonan berulang Arda-Mulisyi untuk diangkat kembali menjadi putra mahkota. Pada tahun 681 Pra-Masehi, Arda-Mulisyi bersama adiknya, Nabu-syar-usur, membunuh Sanherib dengan harapan menguasai takhta. Kerajaan Babel maupun kerajaan-kerajaan di Syam memandang kematian tragis Sanherib sebagai azab ilahi, sementara bangsa Asyur mungkin sekali sangat terpukul. Penobatan Arda-Mulisyi pun ditangguhkan. Sementara itu Esarhadon membentuk angkatan perang sendiri, merebut kota Niniwe, dan naik takhta menjadi Raja Asyur sesuai keinginan mendiang ayahnya.

Latar belakangSunting

Leluhur dan masa mudaSunting

 
Relief Sargon II, ayah sekaligus pendahulu Sanherib

Sanherib adalah putra sekaligus penerus Sargon II, Maharaja Asyur Baru dari tahun 722 sampai tahun 705 Pra-Masehi, merangkap Raja Babel dari tahun 710 sampai tahun 705 Pra-Masehi. Identitas ibu Sanherib tidak diketahui secara pasti. Menurut anggapan umum sepanjang sejarah, ibu Sanherib adalah istri Sargon yang bernama Ataliya, tetapi belakangan ini sudah disangkal. Andaikata Ataliya benar-benar adalah ibu Sanherib, mestinya ia lahir sekitar tahun 760 Pra-Masehi, dan setidaknya hidup sampai tahun 692 Pra-Masehi[9] karena ada keterangan tertulis tentang keberadaan "ibu suri" pada tahun itu,[10] tetapi kubur Ataliya yang ditemukan di kota Nimrud[9] pada era 1980-an[11] mengindikasikan bahwa ia baru berumur 35 tahun ketika wafat. Menurut Asiriolog Josette Elayi, istri Sargon yang lebih mungkin menjadi ibu Sanherib adalah Ra'īmâ, karena tugu prasasti yang ditemukan di Asyur (bekas ibu kota Kerajaan Asyur) pada tahun 1913, secara khusus menyebut Ra'īmâ sebagai "Ibunda Sanherib". Keberadaan Ra'īmâ baru diketahui berkat usaha membaca isi prasasti tersebut pada tahun 2014.[9] Sargon mengaku sebagai anak Raja Tiglat-Pileser III, tetapi pengakuan ini tidak dapat dipastikan kebenarannya karena Sargon merebut takhta Kerajaan Asyur dari Salmaneser V, putra Tiglat-Pileser.[12]

Kemungkinan besar Sanherib lahir sekitar tahun 745 Pra-Masehi. Jika Sargon benar-benar adalah putra Tiglat-Pileser dan bukan penyerobot takhta dari luar kalangan sentana, maka Sanherib tentu dibesarkan di istana raja yang berada di kota Nimrud. Sargon cukup lama berdiam di Nimrud sesudah naik takhta, dan baru pindah ke Babel pada tahun 710 Pra-Masehi, kemudian ke ibu kotanya yang baru, Dur-Syarukin, pada tahun 706 Pra-Masehi. Sewaktu Sargon pindah ke Babel, Sanherib, yang saat itu berstatus putra mahkota, sudah pindah dari Nimrud ke Niniwe.[2] Niniwe memang sudah dijadikan lokasi penempatan Putra Mahkota Asyur sejak zaman Tiglat-Pileser.[13] Selaku putra mahkota, ia juga menguasai tanah yasan di Tarbisu. Sanherib dan saudara-saudarinya mungkin dididik guru istana yang bernama Hunnî. Kemungkinan besar mereka diajari ilmu kepujanggaan, ilmu aritmetika, dan kepandaian baca tulis dalam bahasa Sumer maupun bahasa Akad.[2]

Sanherib memiliki beberapa orang saudara laki-laki dan sekurang-kurangnya seorang saudara perempuan. Selain abang-abangnya yang sudah wafat sebelum ia lahir, masih ada lagi sejumlah adik laki-laki. Beberapa di antaranya diketahui masih hidup pada tahun 670 Pra-Masehi, yakni pada masa pemerintahan Esarhadon, putra Sanherib. Ahat-abisya adalah satu-satunya saudara perempuan Sanherib yang diketahui keberadaannya. Ia dikawinkan dengan Ambaris, Raja Tabal, tetapi mungkin sekali pulang ke Asyur ketika Sargon memerangi Tabal pada tahun 713 Pra-Masehi.[14]

Nama Sanherib dalam bahasa Akad adalah Sîn-aḥḥē-erība, artinya "Sîn (dewa bulan) sudah mengganti saudara-saudaraku yang telah tiada". Mungkin nama ini diberikan kepadanya karena ia bukan putra sulung Sargon, tetapi semua abangnya sudah wafat ketika ia lahir. Namanya dilafalkan menjadi Snḥryb dalam bahasa Ibrani dan Šnḥ’ryb dalam bahasa Aram.[5] Menurut sebuah dokumen dari tahun 670 Pra-Masehi, rakyat jelata di Asyur dilarang keras memakai nama Sanherib (saat itu sudah mangkat) agar tidak melanggar kesuciannya.[9]

Putra mahkotaSunting

 
Sargon II (kiri) berhadap-hadapan dengan seorang pejabat tinggi, yang kemungkinan besar adalah sang putra mahkota, Sanherib

Sebagai Putra Mahkota Asyur, Sanherib memerintah bersama-sama ayahnya, atau memerintah seorang diri selaku pemangku pada saat Sargon maju berperang. Selama Sargon berada jauh dari jantung wilayah Asyur, kota kediaman Sanherib akan berfungsi sebagai pusat pemerintahan Kemaharajaan Asyur Baru, dan Sanheriblah yang bertanggung jawab menangani urusan-urusan politik maupun administrasi negara. Besarnya tanggung jawab yang diberikan kepada Sanherib menunjukkan tingginya tingkat kepercayaan Sargon terhadap putra mahkotanya itu. Pada relief-relief yang menampilkan sosok Sargon bersama Sanherib, keduanya digambarkan sedang berdiskusi seakan-akan sesama rekan sejawat. Selaku pemangku, tugas utama Sanherib adalah menjaga hubungan baik dengan para kepala daerah dan para panglima Asyur, serta mengawasi jaringan luas mata-mata militer kemaharajaan. Sanherib memantau penanganan urusan-urusan dalam negeri dan mengirim berita kepada Sargon mengenai perkembangan proyek-proyek pembangunan yang sedang berjalan di seluruh wilayah kemaharajaan.[15] Sargon juga menugasinya untuk menerima dan mendistribusikan hadiah-hadiah cendera mata maupun persembahan upeti. Sesudah melakukan pendistribusian sumber-sumber daya finansial semacam itu, Sanherib mengirim surat kepada ayahnya untuk memberitahukan keputusan-keputusan yang sudah diambilnya.[16]

Sepucuk surat yang ia kirimkan kepada ayahnya mengindikasikan bahwa Sanherib menghormati Sargon dan hubungan mereka cukup akrab. Sanherib tidak pernah membangkang kepada ayahnya, bahkan isi surat-suratnya mengindikasikan bahwa ia benar-benar memahami pribadi Sargon dan ingin menyenangkan hatinya. Entah apa alasannya, Sargon tidak pernah mengikutsertakan Sanherib dalam kampanye-kampanye militernya. Josette Elayi yakin kalau Sanherib menyesalkan kebijakan ayahnya yang satu ini, karena membuat dirinya tidak kebagian cipratan ketenaran dari kemenangan-kemenangan militer. Bagaimanapun juga, Sanherib tidak pernah mendurhaka maupun berbuat makar, sekalipun sudah cukup dewasa untuk menjadi seorang raja.[17]

Asyur dan BabelSunting

 
Wilayah inti Kerajaan Asyur dan Kerajaan Babel di kawasan Timur Dekat pada tahun 900 Pra-Masehi, menjelang bangkitnya Kemaharajaan Asyur Baru

Pada saat Sanherib naik takhta, Kemaharajaan Asyur Baru sudah menjadi kekuatan paling dominan di kawasan Timur dekat selama tiga puluh tahun. Sebab utama dari keunggulan ini adalah angkatan bersenjatanya yang lebih besar dan lebih terlatih daripada angkatan bersenjata kerajaan-kerajaan lain pada masa itu. Meskipun pernah menjadi kerajaan besar, Kerajaan Babel kala itu sudah tidak sekuat Kerajaan Asyur, tetangganya di utara. Sebab kelemahannya adalah perpecahan internal dan ketiadaan angkatan bersenjata yang terorganisasi dengan baik. Rakyat Babel terdiri atas berbagai kelompok etnis yang berbeda prioritas maupun cita-cita. Meskipun tokoh-tokoh bumiputra Babel yang memegang tampuk pemerintahan sebagian besar kota di kerajaan itu, misalnya kota Kisy, kota Ur, kota Uruk, kota Barsip, kota Nipur, dan kota Babel sendiri, pelosok terselatan Kerajaan Babel dikuasai kabilah-kabilah Kasdim yang kerap bertikai satu sama lain.[18] Orang Aram mendiami pinggiran wilayah, dan terkenal suka menggarong daerah-daerah di sekitarnya. Akibat pertikaian internal di antara ketiga suku bangsa utama ini, Kerajaan Babel rentan menjadi bulan-bulanan kampanye militer Asyur.[19] Kerajaan Babel dan Kerajaan Asyur sudah berseteru sejak bangkitnya Kemaharajaan Asyur Madya pada abad ke-14 Pra-Masehi, tetapi pihak Asyur akhirnya unggul secara konsisten pada abad ke-8 Pra-Masehi.[20] Kelemahan internal maupun eksternal membuat Kerajaan Babel dapat ditaklukkan Raja Tiglat-Pileser III pada tahun 729 Pra-Masehi.[19]

Saat berekspansi menjadi kemaharajaan, Kerajaan Asyur menaklukkan kerajaan-kerajaan tetangganya. Kalau tidak dijadikan daerah baru sebagai bagian integral dari wilayah Kerajaan Asyur, kerajaan-kerajaan tersebut dijadikan negara jajahan. Karena bangsa Asyur menghormati kebudayaan dan sejarah panjang bangsa Babel, Kerajaan Babel dibiarkan tetap eksis sebagaimana adanya, tetapi kepala negaranya adalah raja yang diangkat Kerajaan Asyur, atau Raja Asyur sendiri yang merangkap sebagai Raja Babel.[19] Hubungan Asyur dan Babel mirip dengan hubungan Yunani dan Romawi berabad-abad kemudian. Banyak budaya, sastra, dan adat-istiadat Asyur berasal dari budaya, sastra, dan adat-istiadat Babel. Asyur dan Babel juga menuturkan bahasa yang sama (bahasa Akad).[21] Hubungan antara Asyur dan Babel bersifat emosional. Prasasti-prasasti Asyur Baru secara tersirat melekatkan gender kepada kedua kerajaan itu. Asyur dikiaskan sebagai seorang "suami", sementara Babel diibaratkan sebagai "istri" Asyur. Asiriolog Eckart Frahm membahasakannya dengan kalimat, "bangsa Asyur kasmaran dengan Babel, tetapi juga ingin mengekangnya". Meskipun dihargai sebagai sumber tamadun, Babel diharapkan tetap pasif dalam urusan politik, tetapi "mempelai Babel" idaman hati Asyur ini berulang kali menolak bersikap demikian.[22]

Masa pemerintahanSunting

Kemangkatan Sargon II dan suksesiSunting

 
Gambaran luas wilayah Kemaharajaan Asyur Baru di kawasan Timur Dekat pada tahun 700 Pra-Masehi

Pada tahun 705 Pra-Masehi, Sargon, yang mungkin sudah memasuki usia enam puluhan, memimpin angkatan perang Asyur memerangi Raja Gurdî, penguasa negeri Tabal yang terletak di tengah-tengah jazirah Anatolia. Kampanye militer ini berbuntut malapetaka bagi Asyur. Angkatan perang Asyur mengalami kekalahan, bahkan Sargon gugur di medan perang dan jenazahnya hilang digondol musuh.[7][23] Kemangkatan Sargon memperparah kekalahan Asyur, karena bangsa Asyur percaya bahwa Sargon mati diazab para dewa lantaran dosa-dosa besar yang pernah ia perbuat. Menurut kepercayaan Mesopotamia, jika seseorang gugur di medan perang dan jenazahnya tidak dikubur, maka arwahnya akan terlunta-lunta seperti pengemis di alam baka.[24] Sanherib diperkirakan berumur 35 tahun saat naik takhta pada bulan Agustus 705 Pra-Masehi.[25] Meskipun baru naik takhta, Sanherib sudah sangat berpengalaman memimpin, karena terbiasa menangani urusan pemerintahan selama menjadi putra mahkota.[26] Ia menyikapi nasib tragis Sargon dengan menjauhkan diri dari bayang-bayangnya.[27] Frahm menyifatkan sikap Sanherib ini sebagai "suatu penyangkalan yang nyaris paripurna". Ia mengemukakan di dalam bukunya bahwa Sanherib "sepertinya tidak sanggup menerima kenyataan dan mengikhlaskan kemalangan yang menimpa Sargon". Sanherib segera memindahkan ibu kota Kemaharajaan Asyur Baru dari Dur-Syarukin ke Niniwe. Salah satu kebijakan perdana Sanherib adalah membangun kembali sebuah kuil di kota Tarbisu, tempat orang menyembah Nergal, dewa yang dikait-kaitkan dengan kematian, musibah, dan peperangan.[24]

Meskipun terang-terangan menunjukkan sikap penyangkalannya, Sanherib sangat percaya takhayul. Ia menghabiskan banyak waktu bersama para ahli nujumnya untuk mencari tahu dosa macam apa yang sudah diperbuat Sargon sehingga para dewa menimpakan nasib yang sedemikian tragis. Bisa jadi ia menduga bahwa Sargon telah membangkitkan murka dewa-dewa Babel dengan merebut kota itu.[28] Sebuah naskah, yang mungkin sekali ditulis sesudah Sanherib mangkat, menyebutkan bahwa Sanherib mengumumkan kesibukannya menyelidiki hakikat suatu "dosa" yang diperbuat ayahnya.[29] Pada tahun 704 Pra-Masehi,[30] Asyur melancarkan kampanye militer kecil-kecilan (tidak disebutkan di dalam catatan-catatan sejarah terkemudian mengenai Sanherib) melawan Raja Gurdî di Tabal untuk membalaskan dendam atas kematian Sargon. Kampanye ini tidak dipimpin langsung oleh Sanherib, melainkan oleh para pembesar bawahannya. Sanherib menghabiskan banyak waktu dan usaha untuk mengenyahkan citra Sargon dari Kemaharajaan Asyur Baru. Lantai pelataran kuil di kota Asyur sengaja ia tinggikan agar menutupi citra-citra yang dibuat Sargon. Ketika istri Sargon yang bernama Ataliya wafat, jenazahnya buru-buru dimakamkan dan dijejalkan ke dalam peti mati permaisuri Tiglat-Pileser. Nama Sargon tidak pernah disebut-sebut di dalam prasasti-prasasti yang dikeluarkan Sanherib.[31]

Kampanye militer pertama di BabelSunting

 
Gambar sosok musuh besar Sanherib, Marduk-apla-idina II (kiri), tokoh yang menjadi Raja Babel selama kurun waktu 722–710 Pra-Masehi dan 704/703–702 Pra-Masehi, sekaligus biang keladi dari banyak konflik yang timbul menjelang akhir hayat Sanherib

Kemangkatan Sargon II di medan perang maupun ketidakjelasan keberadaan jenazahnya dijadikan alasan untuk memberontak di berbagai pelosok wilayah Kemaharajaan Asyur Baru.[7] Sargon mulai memerintah Babel pada tahun 710 Pra-Masehi, sesudah mengalahkan Marduk-apla-idina II, pemimpin kabilah Kasdim yang menguasai Babel sesudah Salmaneser V mangkat pada tahun 722 Pra-Masehi.[6] Sama seperti Salmaneser, Sanherib naik takhta dengan gelar ganda, Raja Asyur merangkap Raja Babel, meskipun kekuasaannya atas Babel tidak begitu kukuh.[28] Tidak seperti Sargon dan para penguasa Babel terdahulu yang hanya menyatakan diri sebagai Syakanaku Babili (Patih Babel) demi menghormati Marduk, dewa yang dimuliakan sebagai raja resmi kota Babel, Sanherib justru terang-terangan menyatakan diri sebagai Raja Babel. Ia bahkan tidak "menjabat tangan" patung Marduk, murti sang dewa, dan dengan demikian tidak memuliakannya dengan menjalankan adat penobatan Babel sebagaimana mestinya.[32]

Tindakan lancang ini menyulut kemarahan rakyat, sehingga timbul pemberontakan-pemberontakan yang hanya berselang satu bulan pada tahun 704[6] atau 703 Pra-Masehi[28] untuk menumbangkan kekuasaan Sanherib di kawasan selatan. Mula-mula seorang tokoh Babel yang bernama Marduk-zakir-syumi II merebut takhta Babel, tetapi ditumbangkan dua[28] atau empat minggu kemudian[6] oleh Marduk-apla-idina, pemimpin kabilah Kasdim yang dulu pernah merebut takhta Babel dan berperang melawan ayah Sanherib. Marduk-apla-idina mengerahkan sebagian besar rakyat Babel untuk berperang demi kepentingannya, baik warga perkotaan maupun laskar-laskar kabilah Kasdim. Ia juga mendatangkan pasukan dari Elam, negeri yang kini menjadi kawasan barat daya negara Iran. Sebenarnya Marduk-apla-idina perlu banyak waktu untuk mengumpulkan seluruh pasukan koalisi tersebut, tetapi Sanherib lamban menyikapi sepak terjangnya, sehingga Marduk-apla-idina leluasa menempatkan pasukan dalam jumlah besar di kota Kuta dan kota Kisy.[33]

Sebagian angkatan perang Asyur sedang ditugaskan di Tabal pada tahun 704 Pra-Masehi. Sikap lamban Sanherib mungkin didasari pertimbangan bahwa berperang serentak di dua tempat sekaligus terlalu berisiko, akibatnya sepak terjang Marduk-apla-idina tak terbendung beberapa bulan lamanya. Pada tahun 703 Pra Masehi, sesudah ekspedisi militer di Tabal tuntas, Sanherib menghimpun angkatan perang Asyur di kota Asyur, lokasi yang kerap dijadikan titik kumpul pasukan sebelum menyerbu kawasan selatan.[30] Serbuan angkatan perang Asyur di bawah pimpinan panglima tertingginya tidak berhasil mengalahkan pasukan lawan di dekat kota Kisy, sehingga koalisi bentukan Marduk-apla-idina semakin merasa di atas angin.[34] Meskipun demikian, Sanherib menyadari kenyataan bahwa angkatan perang lawan sesungguhnya terbagi-bagi, oleh karena itu ia mengerahkan segenap angkatan perang Asyur untuk menyerang dan menghancurkan sebagian angkatan perang lawan yang ditempatkan di Kuta, baru kemudian menggempur Kisy. Marduk-apla-idina sudah lebih dulu kabur meninggalkan medan perang karena mengkhawatirkan keselamatan nyawanya.[33] Prasasti-prasasti Sanherib menyebutkan bahwa di antara orang-orang yang dijadikan tawanan pascakemenangan Asyur terdapat pula anak tiri Marduk-apla-idina dan saudara laki-laki Yati'ah, seorang ratu Arab yang ikut bergabung dalam koalisi Marduk-apla-idina.[35]

Sanherib selanjutnya memimpin angkatan perang Asyur bergerak menuju Babel.[36] Begitu barisan angkatan perang Asyur terlihat di kaki langit, warga Babel segera membuka pintu gapura kota besar itu. Babel menyerah tanpa perlawanan.[34] Kota itu diberi teguran keras dan dijarah sedikit,[34] tetapi warganya tidak dicelakai.[37] Sesudah beristirahat sebentar di Babel, Sanherib dan angkatan perang Asyur melancarkan serangan sistematis ke pelosok selatan Kerajaan Babel yang masih dijadikan basis perlawanan terorganisasi. Baik daerah-daerah kabilah maupun kota-kota besar akhirnya dapat ditundukkan.[36] Prasasti-prasasti Sanherib menyebutkan bahwa ada sekitar dua ratus ribu orang yang dijadikan tawanan.[35] Karena kebijakan merangkap jabatan terbukti gagal, Sanherib mencoba cara lain, yakni mengangkat Bel-ibni, tokoh asli Babel yang tumbuh besar di lingkungan istana Asyur, menjadi raja bawahannya di kawasan selatan. Sanherib menyifatkan Bel-ibni sebagai "bumiputra Babel yang membesar di istanaku tak ubahnya seekor anak anjing".[28]

Perang di SyamSunting

Gambar-gambar dari relief Lakhis yang dibuat atas perintah Sanherib
Senjata pengepungan Asyur digunakan menggempur tembok kota Lakhis
Prajurit Asyur hendak memancung tawanan dari Lakhis
Orang Yudea digiring ke pengasingan sesudah Lakhis jatuh ke tangan Asyur
Sanherib (duduk paling kanan) berbincang dengan para petinggi Asyur sambil memeriksa para tawanan di Lakhis

Seusai perang di Babel, Sanherib melancarkan kampanye militernya yang kedua di daerah Pegunungan Zagros. Dalam kampanye militer ini, ia berhasil menundukkan orang Yasubigala, kabilah dari sebelah timur Sungai Tigris, dan orang Kasi, kabilah yang pernah menguasai Babel berabad-abad silam.[38][39] Sasaran kampanye militernya yang ketiga adalah kerajaan-kerajaan dan negara-negara kota di Syam. Kampanye militer ini adalah peristiwa yang paling lengkap keterangannya dibanding banyak peristiwa sejarah lain di Timur Dekat pada Abad Kuno, sekaligus peristiwa yang paling lengkap uraiannya di dalam catatan sejarah Israel pada kurun waktu Bait Allah Pertama.[4] Pada tahun 705 Pra-Masehi, Hizkia, Raja Yehuda, menghentikan penyetoran upeti tahunan ke Asyur dan mulai menjalankan kebijakan luar negeri yang agresif. Keputusan Hizkia ini mungkin terinspirasi oleh gelombang pemberontakan anti-Asyur yang belum lama usai di berbagai pelosok wilayah kemaharajaan itu. Sesudah bersekongkol dengan Mesir (ketika itu dikuasai bangsa Kusy) dan Sidqia, Raja Askelon yang anti-Asyur, untuk menghimpun dukungan, Hizkia menyerbu kota-kota bangsa Filistin yang setia kepada Asyur. Padi, Raja Ekron bawahan Asyur, dijadikannya tawanan dan dijebloskan ke dalam penjara di Yerusalem.[7] Di kawasan utara Syam, kota-kota bekas jajahan Asyur bersekutu di bawah pimpinan Luli, Raja Tirus dan Sidon.[35] Marduk-apla-idina, musuh besar Sanherib, menghasut sejumlah penguasa bawahan Asyur di kawasan barat untuk membangkang. Ia menyurati dan mengirim hadiah-hadiah kepada para penguasa di kawasan barat seperti Hizkia, mungkin dengan harapan dapat membentuk aliansi besar anti-Asyur.[28]

Pada tahun 701 Pra-Masehi, Sanherib mengerahkan angkatan perang Asyur untuk menyerbu kota-kota orang Suriah-Het dan orang Fenisia di kawasan utara Syam. Sama seperti yang pernah dilakukan dan akan diulangi banyak penguasa kota-kota tersebut, Luli memilih kabur dengan perahu ketimbang menghadapi murka Asyur. Sanherib mengangkat seorang menak bernama Etbaal menjadi Raja Sidon menggantikan Luli, dan mengawasi proses penaklukan kota-kota di sekitarnya. Melihat angkatan perang Asyur yang begitu besar, banyak penguasa Syam, termasuk Budu-ilu Raja Amon, Kamusu-nadbi Raja Moab, Mitini Raja Asdod, dan Malik-ramu Raja Edom, cepat-cepat menyerah kepada Sanherib demi meluputkan diri dan negeri mereka dari angkara murkanya.[40]

Perlawanan di kawasan selatan Syam tidak semudah itu dipatahkan, sehingga Sanherib terpaksa menginvasi kawasan tersebut. Sesudah merebut Askelon dan mengalahkan Sidqia, angkatan perang Asyur mengepung dan merebut banyak kota lain. Ketika angkatan perang Asyur bersiap-siap merebut kembali kota Ekron, Sekutu Hizkia, Mesir, mulai ikut campur. Angkatan perang Asyur mengalahkan angkatan perang Mesir dalam sebuah pertempuran di dekat kota Elteke. Kota Ekron dan Timna jatuh ke tangan Asyur, sehingga Kerajaan Yehuda tidak lagi memiliki sekutu, sementara mata Sanherib mulai tertuju ke Yerusalem.[40] Sanherib mengerahkan sebagian pasukannya untuk memblokade Yerusalem, sementara ia sendiri memimpin aksi pengepungan kota Lakhis. Kemungkinan besar blokade atas Yerusalem maupun pengepungan Lakhis mampu menghambat arus bantuan dari Mesir kepada Hizkia, sekaligus mampu mengintimidasi para penguasa kerajaan-kerajaan yang lebih kecil di kawasan itu. Pengepungan Lakhis, yang berakhir dengan penghancurannya, juga berlangsung sangat lama sampai-sampai pihak bertahan terpaksa menggunakan mata panah dari tulang karena sudah kehabisan logam. Untuk merebut kota itu, bangsa Asyur menumpuk batu dan tanah menjadi sebuah bukit setinggi tembok kota Lakhis. Sesudah menghancurleburkan kota itu, bangsa Asyur mendeportasi warga yang selamat ke wilayah Kemaharajaan Asyur Baru. Sebagian dijadikan tenaga kerja paksa di proyek-proyek pembangunan negara, sementara sisanya dijadikan anggota pasukan pengawal Sanherib.[41]

Pengepungan YerusalemSunting

 
Gambar cukil kayu karya Gustave Doré dari abad ke-19 yang menggambarkan Malaikat Tuhan menumpas angkatan perang Sanherib di luar kota Yerusalem seperti yang diriwayatkan di dalam Alkitab

Catatan mengenai peristiwa pengepungan Yerusalem yang dibuat Sanherib diawali dengan kalimat, "sedangkan Hizkia... seperti burung di dalam sangkar, kukurung dia di Yerusalem, ibu kota kerajaannya, kurintangi jalan-jalannya dengan kubu-kubu, dan kuharamkan dirinya untuk keluar melalui gapura kotanya." Demikianlah cara Sanherib memblokade Yerusalem, kendati ketiadaan aktivitas militer berskala besar dan peralatan tempur yang memadai menunjukkan bahwa yang dilakukan Sanherib mungkin sekali bukan aksi pengepungan penuh.[42] Menurut keterangan Alkitab, seorang pejabat senior Asyur bergelar juru minuman agung berdiri di depan tembok Yerusalem dan menyeru warganya untuk menyerah, disertai ancaman bahwa orang Yudea bakal 'makan tahi dan minum air kencing' kalau pengepungan terus berlanjut.[43] Catatan Asyur mengenai operasi militer ini dapat menciptakan kesan bahwa Sanherib hadir di lokasi kejadian, tetapi sesungguhnya tidak pernah dinyatakan demikian secara eksplisit, dan relief-relief yang menggambarkan operasi tersebut menampilkan sosok Sanherib menduduki singgasana di Lakhis alih-alih memantau persiapan menyerang Yerusalem. Menurut keterangan Alkitab, duta Asyur yang diutus menemui Hizkia kembali menghadap Sanherib dan mendapatinya sedang sibuk menggempur kota Libna.[44]

Keterangan Alkitab mengenai blokade tersebut berbeda dari pemerian aksi pengepungan di dalam tawarikh Sanherib maupun relief-relief pada dinding istana Sanherib di Niniwe, yang justru menggambarkan kesuksesan operasi pengepungan kota Lakhis alih-alih kejadian yang berlangsung di Yerusalem. Meskipun blokade kota Yerusalem bukan sebuah aksi pengepungan penuh, semua sumber pustaka yang tersedia saat ini menginformasikan bahwa sepasukan besar prajurit Asyur berkemah di dekat kota itu, kemungkinan besar di sisi utaranya.[45] Meskipun sudah jelas blokade kota Yerusalem berakhir tanpa pertempuran yang berarti, bagaimana pengepungan itu diakhiri dan apa yang menghalangi kekuatan tempur Asyur yang begitu besar untuk menguasai kota itu tidak dapat dapat dipastikan. Riwayat Alkitab mengenai akhir serangan Sanherib atas Yerusalem menyebutkan bahwa sekalipun prajurit-prajurit Hizkia berjaga-jaga di atas tembok kota, siap sedia melawan gempuran Asyur, tetapi penumpas 185.000 orang prajurit Asyur di depan gapura Yerusalem adalah suatu entitas yang disebut "malaikat pemusnah" utusan Yahweh.[46] Sejarawan Yunani Kuno, Herodotos, menyebut akhir operasi militer tersebut sebagai kegagalan Asyur akibat "tikus ladang dalam jumlah besar" menyerbu perkemahan prajurit Asyur dan merusak benda-benda penting seperti bumbung anak panah dan tali busur, sehingga angkatan perang Asyur terpaksa mundur lantaran ketiadaan senjata.[44] Mungkin saja cerita serbuan tikus ini adalah alusi untuk semacam penyakit yang berjangkit di perkemahan prajurit Asyur, mungkin sekali wabah septisemia.[47] Pada tahun 2001, jurnalis Henry T. Aubin mengajukan hipotesis alternatif bahwa blokade kota Yerusalem mungkin berakhir karena ada intervensi militer bangsa Kusy dari Mesir.[48] Intervensi militer tersebut dianggap mustahil mampu membuat pihak Asyur menderita kekalahan, apalagi tawarikh-tawarikh Babel dari masa itu tidak menyajikan keterangan apa-apa, padahal pujangga-pujangga Babel gemar sekali mencatat kegagalan-kegagalan Asyur.[8]

Meskipun blokade kota Yerusalem agaknya berakhir tanpa sebab yang jelas, kampanye militer Sanherib di Syam berakhir dengan kemenangan di pihak Asyur. Sesudah bangsa Asyur merebut banyak kota berbenteng milik Yudea, serta menghancurkan beberapa kota kecil dan desa-desa di kerajaan itu, Hizkia akhirnya insaf bahwa aktivitas-aktivitas anti-Asyur yang dilakukannya tidak didasari pertimbangan politik dan militer yang matang, dan akhirnya malah mendatangkan bencana. Oleh karena itu ia sekali lagi menyatakan kesediaannya menjadi jajahan Asyur. Hizkia diwajibkan menyetor upeti dalam jumlah yang lebih besar daripada sebelumnya, bahkan mungkin diperberat lagi dengan denda dalam jumlah besar dan keharusan menyetor upeti yang tertunggak dari tahun 705 sampai 701 Pra-Masehi.[7] Ia harus pula membebaskan Padi, Raja Ekron yang dipenjarakannya di Yerusalem.[49] Selain itu, cukup banyak tanah Yudea dikaruniakan Sanherib kepada kerajaan-kerajaan tetangganya, yakni Gaza, Asdod, dan Ekron.[50]

Mengatasi masalah BabelSunting

 
Relief dari masa pemerintahan Sanherib yang menggambarkan barisan prajurit pengumban Asyur melontarkan batu ke kota musuh

Pada tahun 700 Pra-Masehi, Kerajaan Babel sekali lagi bergolak, sampai-sampai Sanherib harus menginvasi kerajaan itu dan menegakkan kembali kedaulatannya. Pemerintahan Bel-ibni waktu itu ditentang pemberontakan-pemberontakan terbuka yang dikobarkan dua orang pemimpin kabilah Kasdim, yakni Suzubu (kemudian hari menjadi Raja Babel dengan nama Musyezib-Marduk) dan Marduk-apla-idina yang sudah lanjut usia.[51] Salah satu tindakan pertama Sanherib untuk memadamkan pemberontakan-pemberontakan tersebut adalah mencopot Bel-ibni dari jabatannya selaku Raja Babel, baik dengan alasan ketidakcakapan maupun keterlibatan dalam usaha makar.[28] Bel-Ibni dipulangkan ke Asyur dan selanjutnya menghilang dari catatan sejarah.[52] Bangsa Asyur mencari jejak keberadaan Suzubu sampai ke daerah paya-paya di kawasan utara Kerajaan Babel tetapi tidak berhasil menemukannya. Sanherib kemudian memburu Marduk-apla-idina, tetapi pemimpin kabilah Kasdim itu berhasil meloloskan diri bersama warganya dengan cara berperahu mengarungi perairan Teluk Persia dan selanjutnya bersuaka di Nagitu, sebuah kota di wilayah Kerajaan Elam. Meskipun berhasil memadamkan pemberontakan, Sanherib sekali lagi mencoba metode lain untuk mengendalikan Kerajaan Babel. Ia mengangkat anaknya, Asyur-nadin-syumi, menjadi Raja Babel bawahan Asyur.[53]

Asyur-nadin-syumi juga dianugerahi gelar māru rēštû, yang dapat diartikan "putra utama" maupun "putra sulung". Jabatan maupun gelar baru tersebut menyiratkan bahwa Asyur-nadin-syumi sedang dipersiapkan Sanherib menjadi Raja Asyur berikutnya. Jika diartikan "putra utama", maka gelar māru rēštû hanya layak disandang seorang putra mahkota, dan jika diartikan "putra sulung", maka gelar tersebut menyiratkan bahwa Asyur-nadin-syumi adalah ahli waris Sanherib. Pada umumnya bangsa Asyur mengamalkan prinsip primogenitur, yakni adat pewarisan kepada putra tertua.[54] Bukti lain yang mendukung dugaan bahwa Asyur-nadin-syumi berstatus putra mahkota adalah tindakan Sanherib mendirikan sebuah istana baginya di kota Asyur.[55] Kemudian hari, Sanherib juga mendirikan sebuah istana bagi Esarhadon, putra mahkota berikutnya. Selaku Raja Babel berkebangsaan Asyur, Asyur-nadin-syumi menempati posisi yang penting secara politik sekaligus sangat rawan, dan dapat ia jadikan kesempatan untuk memperkaya pengalaman selaku calon kuat Maharaja Asyur Baru berikutnya.[56]

Pada tahun-tahun sesudah itu, Babel relatif tenang, dan tidak ada keterangan di dalam tawarikh mengenai aktivitas yang signifikan.[52] Sementara itu Sanherib berperang di tempat lain. Kampanye militernya yang kelima pada tahun 699 Pra-Masehi mencakup serangkaian aksi penyerbuan ke desa-desa di kaki Gunung Judi, yang terletak di sebelah timur laut kota Niniwe. Panglima-panglima bawahan Sanherib memimpin kampanye-kampanye kecil lainnya tanpa kehadiran sang raja, termasuk sebuah ekspedisi militer pada tahun 698 Pra-Masehi dalam rangka memadamkan pemberontakan yang dikobarkan Kirua, kepala daerah Kilikia berkebangsaan Asyur, dan kampanye militer pada tahun 695 Pra-Masehi yang dilancarkan terhadap kota Tegarama.[57] Pada tahun 694 Pra-Masehi, Sanherib menginvasi Elam. Invasi tersebut jelas-jelas dilancarkan dengan maksud menumpas Marduk-apla-idina dan para pengungsi Kasdim lainnya.[52]

Kampanye militer di Elam dan balas dendamSunting

Relief kapal perang Asyur dari zaman Sanherib
Relief pasukan Asyur memboyong tawanan dan jarahan, juga dari zaman Sanherib

Dalam rangka menyerang Elam, Sanherib menyiapkan dua armada besar, satu armada di Sungai Efrat dan satu armada di Sungai Tigris. Armada di Sungai Tigris digunakan mengangkut angkatan perang Asyur ke kota Opis. Sesudah berlabuh di Opis, kapal-kapal dihela ke pantai dan diangkut lewat darat ke sebuah terusan yang terhubung dengan Sungai Efrat. Kedua armada selanjutnya bergabung dan menghilir ke Teluk Persia. Ketika armada berlabuh di daerah pertemuan muara Sungai Efrat dan Teluk Persia, turun hujan badai yang membuat perkemahan angkatan perang Asyur tergenang banjir, sehingga para prajurit terpaksa berlindung di atas kapal.[58] Armada kemudian melanjutkan pelayaran mengarungi perairan Teluk Persia. Isi prasasti-prasasti Sanherib mengindikasikan bahwa pelayaran tersebut ditempuh dengan penuh kesukaran, karena angkatan perang Asyur diriwayatkan berkali-kali mempersembakan kurban kepada Ea, dewa laut.[59]

Sesudah mendarat dengan selamat di pantai negeri Elam, angkatan perang Asyur segera memburu dan menyerang rombongan pengungsi Kasdim. Baik sumber-sumber Babel maupun sumber-sumber Asyur menyebutkan bahwa kampanye militer ini berjalan lancar.[60] Keterangan tertulis peninggalan Sanherib menyebutnya sebagai "kemenangan besar", bahkan memerinci nama kota-kota yang direbut dan dijarah angkatan perang Asyur. Meskipun Sanherib akhirnya dapat membalaskan dendamnya kepada Marduk-apla-idina, musuh besarnya itu sudah wafat secara wajar sebelum pendaratan angkatan perang Asyur di Elam.[59] Sasaran kampanye militer ini selanjutnya beralih ke Elam karena Halusyu-Insyusyinak, Raja Elam, menginvasi Kerajaan Babel selagi angkatan perang Asyur berada jauh di luar negeri. Dengan bantuan laskar-laskar Kasdim yang luput dari pembantaian, Halusyu-Insyusyinak merebut kota Sipar, bahkan berhasil menawan Asyur-nadin-syumi dan membawanya ke Elam.[60] Asyur-nadin-syumi tidak lagi terdengar kabar beritanya sejak saat itu, mungkin karena dihukum mati.[61][62] Nergal-usyezib, seorang bumiputra Babel, naik takhta menjadi Raja Babel menggantikan Asyur-nadin-syumi.[61] Sumber-sumber Babel menyebutkan bahwa Halusyu-Insyusyinak yang mengangkat Nergal-usyezib menjadi Raja Babel, sementara sumber-sumber Asyur menyebutkan bahwa Nergal-usyezib naik takhta sebagai raja pilihan rakyat Babel.[60]

Saat dikepung pihak Elam di kawasan selatan Kerajaan Babel, angkatan perang Asyur berhasil menewaskan putra Halasyu-Insyusyinak dalam sebuah pertempuran, tetapi tidak dapat menerobos kepungan sekurang-kurangnya selama sembilan bulan. Demi mengukuhkan kedudukannya selaku Raja Babel, Nergal-usyezib memanfaatkan situasi untuk merebut dan menjarah kota Nipur. Beberapa bulan kemudian, angkatan perang Asyur menyerbu dan merebut kota Uruk di kawasan selatan. Nergal-usyezib menjadi gentar dan meminta bantuan Elam. Tujuh hari sesudah merebut Uruk, Asyur dan Babel bertempur di Nipur. Pertempuran ini dimenangkan pihak Asyur. Angkatan perang Asyur mampu menyudutkan angkatan perang gabungan Elam-Babel dan menawan Nergal-usyezib, sehingga akhirnya bebas dari kepungan yang memerangkap mereka di kawasan selatan. Dengan cara-cara tertentu yang tidak diketahui, Sanherib berhasil lolos dari pantauan angkatan perang gabungan Elam-Babel beberapa bulan sebelumnya sehingga tidak hadir di medan perang saat berlangsungnya pertempuran terakhir, malah kemungkinan besar sedang bergerak menuju lokasi pertempuran dengan membawa bala bantuan dari Asyur. Begitu bala bantuan bergabung dengan angkatan perang Asyur di selatan, Kerajaan Babel akhirnya dapat ditundukkan.[63]

Tidak lama kemudian, timbul pemberontakan di Elam. Halusyu-Insyusyinak digulingkan dan Kutir-Nahunte III naik takhta. Untuk meniadakan ancaman Elam, Sanherib merebut kembali kota Der yang diduduki Elam sejak konflik terakhir, kemudian bergerak memasuki kawasan utara wilayah Elam. Kutir-Nahunte tidak dapat mengupayakan pertahanan yang efisien untuk menghadapi sepak terjang Asyur, bahkan menolak melawan mereka. Ia malah melarikan diri ke kota Haidalu yang terletak di daerah pegunungan. Tidak lama sesudah itu, cuaca buruk memaksa Sanherib menarik mundur pasukan dan pulang ke Asyur.[64]

Penghancuran kota BabelSunting

 
Prisma Sanherib, prasasti berisi riwayat kampanye-kampanye militer Sanherib yang berpuncak pada penghancuran kota Babel

Meskipun Sanherib sudah mengalahkan Nergal-usyezib dan memporakporandakan negeri Elam, Kerajaan Babel belum juga menyerah. Suzubu, tokoh yang diburu-buru Sanherib sewaktu menginvasi kawasan selatan pada tahun 700 Pra-Masehi, kembali muncul dengan nama baru, Musyezib-Marduk. Ia berhasil menduduki takhta Kerajaan Babel, agaknya tanpa bantuan asing.

Pemugaran NiniweSunting

Gambar rekonstruksi Niniwe yang dibuat Austen Henry Layard, arkeolog Inggris pada abad ke-19
Gambar rekonstruksi "Istana Tanpa Tanding" yang dibuat John Philip Newman pada tahun 1876

Sesudah perang terakhir melawan Babel, Sanherib menyibukkan diri membangun ibu kota baru di Niniwe alih-alih melancarkan kampanye-kampanye militer.[65] Niniwe sudah ribuan tahun menjadi kota penting di kawasan utara Mesopotamia. Jejak-jejak tertua keberadaan permukiman manusia di Niniwe berasal dari milenium ke-7 Pra-Masehi, dan kota ini sudah menjadi pusat administratif yang penting di kawasan utara Mesopotamia sejak milenium ke-4 Pra-Masehi.[66] Ketika ditetapkan Sanherib sebagai ibu kota baru, Niniwe menjadi lokasi pelaksanaan proyek-proyek pembangunan terambisius sepanjang sejarah Abad Kuno. Kota itu tidak lagi terlantar seperti keadaannya sebelum masa pemerintahan Sanherib.[67] Jika Dur-Syarukin, ibu kota baru Sargon II, kurang lebih merupakan kembaran kota Nimrud, maka Sanherib berniat mengubah Niniwe menjadi kota dengan kemegahan dan ukuran yang mampu membuat seluruh dunia beradab terkesima.[68]

Konspirasi, pembunuhan, dan suksesiSunting

 
Pelarian Adramelek, ilustrasi dari Galeri Alkitab Dalziel Bersaudara (1881), menggambarkan Arda-Mulisyi dan Nabu-syar-usur melarikan diri sesudah membunuh Sanherib

Sesudah Asyur-nadin-syumi tiada (diduga dihukum mati Elam), Sanherib mengangkat putra tertuanya yang masih hidup, Arda-Mulisyi, menjadi putra mahkota. Arda-Mulisyiu hanya menjadi putra mahkota sampai tahun 684 Pra-Masehi, karena pada tahun itu Sanherib mendadak mengangkat Esarhadon menjadi putra mahkota yang baru. Alasan penggantian Arda-Mulisyi tidak diketahui, yang jelas prasasti-prasasti dari masa itu menyebutkan bahwa ia merasa sangat kecewa.[69] Mungkin saja Naqi'a, ibu Esarhadon, adalah orang yang telah mempengaruhi Sanherib untuk memilih Esarhadon menjadi penerusnya.[70] Meskipun sudah dicopot dari jabatannya, Arda-Mulisyi masih populer, bahkan beberapa raja negeri jajahan secara rahasia mendukung dirinya menjadi ahli waris takhta.[71]

SentanaSunting

 
Tugu prasasti dari zaman Sanherib yang menampilkan gambar Putra Mahkota Asyur, mungkin saja Asyur-nadin-syumi, Arda-Mulisyi, maupun Esarhadon

Sesuai adat raja-raja Asyur, Sanherib beristri banyak. Hanya dua dari sekian banyak istri Sanherib yang diketahui namanya, yakni Tasymetu-syarat[72] dan Naqi'a. Tidak diketahui apakah kedua-duanya berstatus permaisuri, tetapi sumber-sumber dari zaman Sanherib menyiratkan bahwa sekalipun Raja Asyur beristri banyak, hanya satu istri yang diakui sebagai permaisuri dan garwa padmi. Tasymetu-syarat menyandang status permaisuri hampir sepanjang masa pemerintahan Sanherib. Secara harfiah, nama Permaisuri Asyur ini berarti "Tasymetum parameswari".[14] Isi prasasti-prasasti menyiratkan bahwa hubungan Sanherib dan Tasymetu-syarat cukup mesra. Sanherib menyebut permaisurinya itu dengan frasa "istriku tercinta", dan secara terbuka memuji-muji kecantikannya.[72]

Tidak diketahui apakah Naqi'a pernah menyandang status permaisuri. Ia memang disebut "ibu suri" pada masa pemerintahan Esarhadon, tetapi sebutan ini mungkin baru diberikan kepadanya menjelang akhir masa pemerintahan Sanherib atau pada masa pemerintahan Esarhadon, karena ia adalah ibu Esarhadon.[14] Sekalipun Tasymetu-syarat adalah garwa padmi, Naqi'a yang lebih dikenal sekarang ini karena kiprahnya pada masa pemerintahan Esarhadon. Pada saat diperistri Sanherib, Naqi'a memakai nama baru yang khas Akad, yakni Zakûtu (Naqi'a adalah nama khas Aram). Pemakaian nama baru tersebut menimbulkan kesan bahwa Naqi'a lahir di luar negeri Asyur, mungkin di Babel atau di Syam, tetapi tidak ada bukti substansial yang mendukung teori-teori mengenai asal usulnya.[70]

Proyek-proyek pembangunanSunting

Pada masa pemerintahan Sanherib, Niniwe berkembang menjadi sebuah metropolis terkemuka di seluruh kerajaan. Proyek-proyek pembangunannya dimulai hampir bersamaan dengan diangkatnya ia menjadi raja. Pada 703 SM ia sudah membangun sebuah istana lengkap dengan taman dan irigasi buatan yang disebutnya rumahnya yang baru. ‘Istana ini tidak ada tandingnya’. Untuk proyeknya yang ambisius ini, istana yang lama dihancurkan untuk menambahkan ruangan. Selain taman-tamannya sendiri yang besar, sejumlah taman kecil dibuat untuk warga kota Niniwe. Ia juga membangun saluran air pertama, di Jerwan pada 690 SME[73], yang memasok sejumlah besar kebutuhan air di Niniwe. Lorong-lorong yang sempit dan taman-taman Niniwe dibersihkan dan dibuat lebih besar, dan jalan kerajaan serta jalan raya dibangun, melintasi sebuah jembatan di dekat pintu gerbang taman dan yang kedua sisinay dihiasi dengan batu-batu berukir. Kuil-kuil diperbaiki dan dibangun pada masa pemerintahannya, karena itu adalah tugas raja. Yang paling menonjol adalah pekerjaannya di kuil Assur (dewa) dan kuil tahun baru (Akitu). Ia juga memperluas pertahanan kota dengan membangun selokan-selokan yang dalam di sekeliling tembok-tembok kota. Beberapa dari tembok kotanya ini telah direstorasi dan masih dapat dilihat sekarang. Pekerjaan untuk proyek pembangunan raksasanya ini dilakukan oleh orang-orang dari Que, Kilikia, Filistia, Tirus, dan orang-orang Khaldea, Aram, dan Manea yang dibawa ke sana dengan paksa.

GelarSunting

Gelar-gelar berikut ini digunakan di dalam catatan-catatan tertua mengenai kampanye militer Sanherib di Babel pada tahun 703 Pra-Masehi:[74]

Maharaja Sanherib, raja perkasa, Raja Asyur, raja tanpa tanding, gembala sadik, kesayangan sekalian mahadewa, gembala yang tekun berdoa, yang takut akan sekalian mahadewa, pembela kebenaran, pecinta keadilan, yang mengulurkan bantuan, yang menolong tunadaksa dan hendak berbuat kebajikan, pahlawan sempurna, manusia perkasa, utama di antara sekalian raja, pasung leher yang menundukkan pendurhaka, yang menghajar musuh laksana petir, Mahagiri Asyur sudah mengaruniakan kepadaku jabatan raja yang tiada tandingannya, dan sudah membuat senjata-senjataku lebih sakti daripada senjata-senjata sekalian pemimpin lain yang bersemayam di atas persada.[74]

Varian gelar berikut ini digunakan di dalam sebuah prasasti dari Istana Barat Daya di Niniwe yang dibuat seusai kampanye militer Sanherib di Babel pada tahun 700 Pra-Masehi:[75]

Maharaja Sanherib, raja perkasa, raja semesta alam, Raja Asyur, raja empat penjuru (bumi), kesayangan sekalian mahadewa, bijaksana lagi cerdik, pahlawan perkasa, utama di antara sekalian pemimpin, api yang menghanguskan pendurhaka, yang menghajar durjana dengan petir. Mahadewa Asyur sudah mempercayakan kepadaku jabatan raja yang tiada tandingannya, dan sudah menjadikan senjata-senjataku digdaya mengatasi (sekalian) orang-orang yang bersemayam di dalam istana. Dari laut atas tempat matahari terbenam sampai ke laut bawah tempat matahari terbit, sekalian pemimpin dari empat penjuru (bumi) sudah dibuatnya bertekuk lutut di bawah kakiku.[75]

Baca jugaSunting

ReferensiSunting

RujukanSunting

  1. ^ Elayi 2017, hlm. 29.
  2. ^ a b c Elayi 2018, hlm. 18.
  3. ^ Harmanşah 2013, hlm. 120.
  4. ^ a b Kalimi 2014, hlm. 11.
  5. ^ a b Elayi 2018, hlm. 12.
  6. ^ a b c d Frahm 2003, hlm. 129.
  7. ^ a b c d e Kalimi 2014, hlm. 20.
  8. ^ a b Luckenbill 1924, hlm. 13.
  9. ^ a b c d Elayi 2018, hlm. 13.
  10. ^ Kertai 2013, hlm. 115.
  11. ^ Melville 2016, hlm. 56.
  12. ^ Elayi 2017, hlm. 27.
  13. ^ Elayi 2018, hlm. 30.
  14. ^ a b c Elayi 2018, hlm. 15.
  15. ^ Elayi 2018, hlm. 30–31.
  16. ^ Elayi 2018, hlm. 38.
  17. ^ Elayi 2018, hlm. 40, 204.
  18. ^ Brinkman 1973, hlm. 89.
  19. ^ a b c Brinkman 1973, hlm. 90.
  20. ^ Frahm 2014, hlm. 209.
  21. ^ Frahm 2014, hlm. 208.
  22. ^ Frahm 2014, hlm. 212.
  23. ^ Frahm 2014, hlm. 201.
  24. ^ a b Frahm 2014, hlm. 202.
  25. ^ Elayi 2018, hlm. 3.
  26. ^ Frahm 2014, hlm. 204.
  27. ^ Frahm 2008, hlm. 15.
  28. ^ a b c d e f g Brinkman 1973, hlm. 91.
  29. ^ Frahm 2002, hlm. 1113.
  30. ^ a b Frahm 2003, hlm. 130.
  31. ^ Frahm 2014, hlm. 203.
  32. ^ Luckenbill 1924, hlm. 9.
  33. ^ a b Levine 1982, hlm. 36.
  34. ^ a b c Bauer 2007, hlm. 384.
  35. ^ a b c Luckenbill 1924, hlm. 10.
  36. ^ a b Levine 1982, hlm. 37.
  37. ^ Grayson 1991, hlm. 106.
  38. ^ Levine 1973, hlm. 313.
  39. ^ Matty 2016, hlm. 26.
  40. ^ a b Luckenbill 1924, hlm. 11.
  41. ^ Barnett 1958, hlm. 161–164.
  42. ^ Kalimi 2014, hlm. 38.
  43. ^ Kalimi 2014, hlm. 25, 40.
  44. ^ a b Luckenbill 1924, hlm. 12.
  45. ^ Kalimi 2014, hlm. 39–40.
  46. ^ Kalimi 2014, hlm. 19.
  47. ^ Caesar 2017, hlm. 224.
  48. ^ Ogden Bellis 2020, hlm. 4.
  49. ^ James 2005, hlm. 92.
  50. ^ Kalimi 2014, hlm. 48.
  51. ^ Levine 1982, hlm. 40.
  52. ^ a b c Levine 1982, hlm. 41.
  53. ^ Levine 1982, hlm. 40–41.
  54. ^ Porter 1993, hlm. 14.
  55. ^ Porter 1993, hlm. 15.
  56. ^ Porter 1993, hlm. 16.
  57. ^ Luckenbill 1924, hlm. 14.
  58. ^ Levine 1982, hlm. 42–43.
  59. ^ a b Luckenbill 1924, hlm. 15.
  60. ^ a b c Levine 1982, hlm. 43.
  61. ^ a b Brinkman 1973, hlm. 92.
  62. ^ Bertman 2005, hlm. 79.
  63. ^ Levine 1982, hlm. 43–45.
  64. ^ Levine 1982, hlm. 45.
  65. ^ Luckenbill 1924, hlm. 17.
  66. ^ Frahm 2008, hlm. 13.
  67. ^ Frahm 2008, hlm. 14.
  68. ^ Reade 1978, hlm. 47, 50.
  69. ^ Radner 2003, hlm. 166.
  70. ^ a b Elayi 2018, hlm. 16.
  71. ^ Parpola 1980.
  72. ^ a b Frahm 2002, hlm. 1114.
  73. ^ von Soden, Wolfram. (1985). The Ancient Orient: An Introduction to the Study of the Ancient Near East. (hlm.58). Grand Rapids: Erdman's Publishing Company.
  74. ^ a b Frahm 2003, hlm. 141.
  75. ^ a b Luckenbill 1927, hlm. 140.

Sumber pustakaSunting

Sumber webSunting

  • "Esarhaddon". Encyclopædia Britannica. Diakses tanggal 22 November 2019. 
  • Mark, Joshua J. (2014). "Sennacherib". Ancient History Encyclopedia. Diarsipkan dari versi asli tanggal 18 Februari 2020. Diakses tanggal 15 Februari 2020. 
  • Parpola, Simo (1980). "The Murderer of Sennacherib". Gateways to Babylon. Diarsipkan dari versi asli tanggal 18 Februari 2020. Diakses tanggal 14 Desember 2019. 

Pranala luarSunting

  •   Media terkait Sanherib di Wikimedia Commons
Sanherib
Lahir: ca. 745 Pra-Masehi Wafat: 20 Oktober 681 Pra-Masehi
Didahului oleh:
Sargon II
Raja Asyur
705 – 681 Pra-Masehi
Diteruskan oleh:
Esarhadon
Raja Babel
705 – 704/703 Pra-Masehi
Diteruskan oleh:
Marduk-zakir-syumi II
Didahului oleh:
Musyezib-Marduk
Raja Babel
(de facto, Babel dihancurkan)

689 – 681 Pra-Masehi
Diteruskan oleh:
Esarhadon