Psikologi Islam

Psikologi Islam merupakan suatu bidang ilmu pengembangan dari ilmu nafs (psikologi Islam klasik) yaitu suatu ilmu pada zaman keemasan Islam, saat ini pusat pengembangannya ada di UIN Jakarta oleh Prof. Dr. Abdul Mujib, M.Ag, M.Si. [1] dan di Universitas Indonesia oleh Prof Achmad Mubarok, Dr Ali Ghazali, Dr Ida Sajida dan para ilmuan civitas akademika UI lainnya yang mendalami Psikologi Islam. Ilmu nafs adalah suatu ilmu klasik yang berdasarkan pemikiran para filsuf klasik Islam semisal al-Kindi , al-Ghazali, Ibn Sina, Ibn Arabi, Abu Yazid al-Bustami, al-Farabi dan banyak filsuf muslim lainnya yang mencetuskan berbagai macam proposisi tentang gejala kejiwaan dalam bidang psikologi keperibadian, psikologi sosial, dan berbagai macam bidang psikologi lainnya. Setelah terjadi revolusi logika di Dunia yang menyebabkan paradigma ilmiah bergeser kepada paradigma empiris oleh Francis Bacon menggantikan logika Alfarabi maupun Aristoteles, berbagai macam ilmu pun ikut melakukan revolusi baik pada ilmu alam, ilmu sosial, maupun ilmu budaya. Adalah Auguste Comte dan Spencer sebagai pencetus bawasannya proposisi pada ilmu sosial juga dapat menjadi proposisi yang empirik, dan didukung oleh data pendukung empirik. Pernyataan Comte ini digagas berdasarkan observasinya pada sejarah, bahwa sejarah manusia adalah suatu yang terulang dan terulang kembali, baik itu kebijakan, tindakan, maupun perilaku. Gagasan Comte ini bukan hanya merevolusi ilmu sosial namun juga membawa ilmu budaya tertarik masuk kedalam sains, dengan pembagian jenis data yaitu ilmu alam adalah nomotetik, ilmu sosial termasuk psikologi adalah semi nomotetik, dan ilmu budaya adalah idiografi yang ketiganya kini diakui Unesco sebagai sains.

Psikologi Islam adalah suatu paradigma psikologi empirik yang mengkonstruksi teori dengan terinspirasi oleh dalil-dalil kitab suci Islam, maupun proposisi-proposisi teori dari ilmuan muslim klasik. Suatu ilmu yang menjadi jembatan antara logika modern yang empirik dengan nash Alquran dan Sunnah. Metodenya yaitu dengan meriset kitab suci Islam untuk menemukan logika empirik tentang gejala jiwa yang kemudian dikonstruk menjadi suatu proposisi yang didukung oleh temuan-temuan psikologi kekinian. Produk dari Psikologi Islam adalah lahirnya teori-teori psikologi yang proposisinya terinspirasi dari ayat-ayat kitab suci Islam yang disandingkan dengan data pendukung empirik, selain itu juga memperbaharui data pendukung empiris teori-teori psikologi klasik para ilmuan muslim abad pertengahan.

ReferensiSunting

  1. ^ http://psikologi.uinjkt.ac.id/dosen/ diakses 26 September 2020