Buka menu utama

Perang Utsmaniyah–Venesia (1570–1573)


Perang Utsmaniyah-Venesia IV atau Perang Siprus (bahasa Italia: Guerra di Cipro) berlangsung dari tahun 1570 sampai tahun 1573. Pihak-pihak yang berlaga adalah Kesultanan Utsmaniyah dan Republik Venesia. Republik Venesia kelak dibantu Liga Suci, koalisi negara-negara Kristen yang dibentuk atas prakarsa Sri Paus, beranggotakan Kerajaan Spanyol (sudah termasuk Kerajaan Napoli dan Kerajaan Sisilia), Republik Genova, Kadipaten Savoia, Laskar Kesatria Penyantun, Kadipaten Agung Toskana, dan negara-negara lain di Jazirah Italia.

Perang Utsmaniyah-Venesia IV
Bagian dari the Perang Utsmaniyah-Venesia
Battle of Lepanto 1571.jpg
Pertempuran Lepanto
Tanggal27 Juni 1570 – 7 Maret 1573
LokasiSiprus, Laut Ionia dan Aegea
Hasil Kemenangan di pihak Utsmaniyah
Perubahan
wilayah
Siprus di bawah pemerintahan Utsmaniyah
Pihak terlibat
Liga Suci:
 Republik Venesia
Bendera Spanyol Kerajaan Spanyol
 Negara Gereja
 Kerajaan Napoli
 Republik Genova
Bandiera del Regno di Sicilia 4.svg Kerajaan Sisilia
Bendera Toskana Kadipaten Agung Toskana
Coat of arms of Federico and Guidobaldo da Montefeltro.svg Kadipaten Urbino
 Kadipaten Savoia
Bendera Ordo Militer Berdaulat Malta Laskar Kesatria Malta
 Kesultanan Utsmaniyah
Tokoh dan pemimpin
Bendera Republik Venesia Marco Antonio Bragadin
Bendera Republik Venesia Alvise Martinengo
Bendera Republik Venesia Sebastiano Venier
Bendera Spanyol Don Juan de Austria
Bendera Negara Gereja Marcantonio Colonna
Bendera Republik Genova Giovanni Andrea Doria
Bendera Republik Venesia Jacopo Soranzo
Bendera Kesultanan Utsmaniyah Selim II
Bendera Kesultanan Utsmaniyah Piyale Pasya
Bendera Kesultanan Utsmaniyah Lala Kara Mustafa Pasya
Bendera Kesultanan Utsmaniyah Müezzinzade Ali Pasya  
Bendera Kesultanan Utsmaniyah Kılıç Ali Pasya

Perang ini adalah peristiwa yang paling penting sepanjang masa pemerintahan Sultan Selim II, dipicu oleh invasi Utsmaniyah atas Siprus, negeri jajahan Republik Venesia. Ibu kota Siprus, Nikosia, dan sejumlah kota lain di pulau itu direbut dalam waktu singkat oleh bala tentara Utsmaniyah yang jauh lebih kuat. Tinggal kota Famagusta yang masih dikuasai Republik Venesia. Bala bantuan dari negara-negara Kristen datang terlambat, sehingga Famagusta pun akhirnya jatuh ke tangan bala tentara Utsmaniyah pada bulan Agustus 1571, setelah dikepung selama 11 bulan. Dua bulan kemudian, gabungan armada negara-negara Kristen berhasil menghancurkan armada Kesultanan Utsmaniyah dalam Pertempuran Lepanto, tetapi kemenangan ini tidak mendatangkan keuntungan apa-apa. Kesultanan Utsmaniyah dapat memulihkan kekuatan tempur angkatan lautnya dalam waktu singkat, sehingga Republik Venesia terpaksa mengupayakan kesepakatan damai, merelakan Siprus dikuasai Kesultanan Utsmaniyah, dan membayar pampasan perang sebesar 300.000 keping dukat.

Latar belakangSunting

Pulau Siprus yang luas dan makmur dijajah Republik Venesia sejak tahun 1489. Siprus dan Kreta adalah negara-negara pulau jajahan Republik Venesia yang paling penting. Populasi Siprus berjumlah kira-kira 160.000 jiwa pada pertengahan abad ke-16.[1] Selain lokasinya yang memudahkan Republik Venesia mengendalikan perniagaan di kawasan Syam, Siprus juga menghasilkan kapas dan gula yang sangat laris di pasaran.[2] Demi melindungi negeri jajahannya yang paling jauh ini, Venesia rela membayar upeti tahunan sebesar 8.000 dukat kepada Kesultanan Mamluk di Mesir, dan sesudah Kesultanan Mamluk ditundukkan Utsmaniyah pada tahun 1517, penyetoran upeti pun dialihkan ke Gerbang Agung.[3][4] Meskipun demikian, letak Siprus yang strategis di perairan timur Laut Tengah, antara Anatolia, jantung wilayah Utsmaniyah, dan Syam juga Mesir, provinsi-provinsi baru Utsmaniyah, membuat Kesultanan Utsmaniah tergoda untuk menguasainya.[5][6] Lebih-lebih kebijakan pemerintah penjajah Venesia di Siprus untuk melindungi gerombolan-gerombolan bajak laut yang mengganggu lalu-lintas kapal-kapal Utsmaniyah, termasuk kapal-kapal pengangkut jemaah Haji menuju Mekah, sudah sangat menjengkelkan para petinggi Kesultanan Utsmaniyah.[7][8]

 
Sultan Selim II

Sesudah menuntaskan perang berlarut-larut melawan wangsa Habsburg di Hongaria pada tahun 1568, Kesultanan Utsmaniyah pun dapat leluasa mengalihkan perhatiannya ke Siprus.[9] Sultan Selim II, yang sudah bertekad menguasai Siprus sebelum naik takhta pada tahun 1566, segera mengesampingkan urusan pemberian bantuan kepada kaum Morisko, yang sedang memberontak melawan Kerajaan Spanyol, dan usaha membendung sepak terjang Portugis di Samudra Hindia.[10] Keputusan untuk mengutamakan usaha pencaplokan Siprus dapat dimaklumi, mengingat Selim terkenal dengan julukan "Si Pemabuk", yang konon ia dapatkan lantaran gemar menenggak anggur buatan Siprus,[11] tetapi biang kerok perang, menurut keterangan-keterangan tertulis dari masa itu, adalah Yusuf Nasi, seorang Yahudi Portugis, sahabat karib Selim, yang diangkat menjadi Adipati Naksos sesudah Selim naik tahta. Yusuf Nasi sengaja memanas-manasi Selim agar memurkai Republik Venesia, dengan harapan diangkat menjadi Raja Siprus sesudah pulau itu dicaplok Kesultanan Utsmaniyah. Ia bahkan sudah menyiapkan mahkota dan bendera kerajaan.[12]

Sekalipun ada penjanjian damai dengan Venesia, yang terakhir kali diperbaharui pada 1567,[8][13] dan ada penentangan dari golongan yang menghendaki perdamaian di sekitar Wazir Agung Sokollu Mehmed Pasya, golongan yang menghendaki peperangan di lingkungan istana Utsmaniyah berhasil mewujudkan kehendak mereka.[14] Golongan ini berhasil mendapatkan dukungan berupa fatwa dari Sheikh ul-Islam, yang menyatakan bahwa pengingkaran atas perjanjian itu dapat dibenarkan karena Siprus "dahulu kala adalah negeri Islam" (selama waktu yang singkat pada abad ke-7) dan harus direbut kembali.[8][15][16] Dana perang dihimpun melalui penyitaan dan penjualan kembali gedung-gedung biara dan gereja milik Gereja Ortodoks Yunani.[17] Guru pembimbing Sultan, Lala Mustafa Pasya, ditunjuk sebagai panglima angkatan darat dalam ekspedisi itu.[18] Müezzinzade Ali Pasya ditunjuk sebagai Kapudan Pasya; yang karena sama sekali tidak berpengalaman di bidang kelautan, mengangkat Piyale Pasya yang cakap dan berpengalaman sebagai pembantu utamanya.[19]

Niat pihak Utsmaniyah sudah tampak jelas bagi orang-orang Venesia, sehingga mereka sejak jauh-jauh hari sudah mengantisipasi serangan atas Siprus. Kekhawatiran akan pecahnya perang telah merebak pada 1564–1565, ketika Utsmaniyah akhirnya bertolak menuju Malta, dan muncul kembali pada penghujung 1567 dan permulaan 1568, begitu peningkatan kekuatan angkatan laut Utsmanisyah semakin jelas terlihat.[20] Pemerintah Venesia semakin cemas tatkala armada Utsmaniyah berlabuh di Siprus pada September 1568 dengan membawa serta Nasi. Kunjungan ini tampak seolah-olah suatu kunjungan damai biasa, namun maksud sebenarnya yang tak sepenuhnya ditutup-tutupi adalah untuk memata-matai pertahanan pulau itu.[21] Pertahanan Siprus, Kreta, Korfu, dan daerah-daerah jajahan Venesia lainnya diperkuat pada 1560-an, dengan memanfaatkan jasa insinyur militer ternama, Sforza Pallavicini. Garnisun-garnisunnya ditambah, dan dilakukan upaya-upaya untuk membuat pertahanan Kreta dan Siprus terpencil letaknya itu menjadi lebih mandiri dengan jalan mendirikan bengkel-bengkel peleburan besi dan penggilingan serbuk mesiu.[22] Sekalipun demikian, harus diakui bahwa Siprus tidak akan mampu bertahan lama tanpa bala bantuan.[9] Letaknya yang terbuka, terpencil, sangat jauh Venesia, dan dikelilingi oleh wilayah kekuasaan Utsmaniyah, menjadikannya berada "di moncong serigala", sebagaimana yang ditulis seorang sejarawan kala itu.[23] Pada waktunya, kekurangan pasokan dan serbuk mesiu menjadi penyebab utama jatuhnya benteng-benteng Venesia ke tangan Utsmaniyah.[23] Venesia pun seharusnya tidak mengandalkan bantuan dari kekuatan Kristen utama di Mediterania, Spanyol Habsburg, yang sedang sibuk memadamkan Pemberontakan Belanda dan pemberontakan Morisko di dalam negeri Spanyol sendiri.[24] Permasalahan lain pihak Venesia adalah sikap masyarakat pulau Siprus. Perlakuan kejam dan beratnya beban pajak yang ditimpakan ke atas masyarakat Ortodoks Yunani setempat oleh orang-orang Katolik Venesia telah menimbulkan ketidakpuasan yang mendalam, sehingga sebahagian besar justru bersimpati pada pihak Utsmaniyah.[25]

Menjelang awal 1570, persiapan-persiapan Utsmaniyah dan peringatan-peringatan yang dikirimkan oleh bailo di Konstantinopel, Marco Antonio Barbaro, telah meyakinkan Dewan Signoria bahwa perang tak terhindarkan lagi. Bala bantuan dan dana burur-buru dikirim ke Kreta dan Siprus.[26] Pada Maret 1570, seorang utusan Utsmaniyah dikirim ke Venesia, membawa sebuah ultimatum yang menuntut penyerahan Siprus dengan segera.[9] Meskipun ada suara-suara dalam Dewan Signoria Venesia yang mengusulkan agar pulau itu diserahkan dengan ganti wilayah di Dalmatia dan hak-hak dagang istimewa, harapan akan datangnya bantuan dari negara-negara Kristen lainnya menjadikan Venesia besar kepala, dan ultimatum Utsmaniyah pun ditolak mentah-mentah.[27]

Penaklukan Utsmaniyah atas SiprusSunting

 
Peta Nikosia dan benteng pertahanannya, dibuat pada 1597 oleh orang Venesia, Giacomo Franco

Pada 27 Juni, kekuatan tempur penyerang, sekitar 350–400 kapal dan 60.000–100.000 prajurit, berlayar menuju Siprus. Kekuatan tempur ini berlabuh dan mendaratkan pasukan tanpa mendapat perlawanan di Salines, dekat Larnaca, pesisir selatan Siprus pada 3 Juli, dan selanjutnya berbaris menuju ibu kota, Nikosia.[11][24] Orang-orang Venesia sebenarnya sudah berembuk untuk melancarkan perlawanan terhadap pendaratan pasukan Utsmaniyah, namun mengingat superioritas persenjataan berat yang dimiliki Utsmaniyah, dan kenyataan bahwa kekalahan dalam melancarkan perlawanan hanya akan berarti binasanya kekuatan pertahanan pulau itu, maka diputuskan untuk mundur ke dalam benteng dan bertahan sampai bala bantuan tiba.[28] Pengepungan Nikosia dimulai pada 22 Juli dan berlangsung tujuh pekan, sampai dengan 9 September.[11] Trace italienne, yakni tembok dari padatan tanah yang baru dibangun untuk melindungi kota itu dapat meredam gempuran Utsmaniyah dengan baik. Pihak Utsmaniyah, di bawah pimpinan Lala Mustafa Pasya, menggali lubang-lubang perlindungan mendekati benteng, dan sedikit demi sedikit menimbuni parit yang mengelilinginya, sementara itu arquebus ditembakkan secara serentak dan beruntun guna melindungi para pekerja.[29] Akhirnya, serangan ke-45, pada 9 September, berhasil menerobos dinding benteng[30] setelah pihak bertahan kehabisan amunisi. Pembantaian 20.000 warga kota itu pun menyusul.[31] Bahkan ternak babi, yang dianggap najis oleh umat Muslim, juga dibantai. Hanya perempuan dan anak-anak yang ditawan hidup-hidup untuk nantinya dijual sebagai budak belian.[29] Sebuah armada Kristen gabungan berkekuatan 200 kapal, terdiri atas skuadron Venesia (dipimpin Girolamo Zane), skuadron Kepausan (dipimpin Marcantonio Colonna) dan squadron Napoli-Genova-Spanyol (dipimpin Giovanni Andrea Doria) squadrons yang baru dapat berkumpul di Kreta menjelang akhir Agustus dan kemudian berlayar menuju Siprus, berbalik haluan begitu mendapat khabar kejatuhan Nikosia.[27][32]

Menyusul jatuhnya Nikosia, benteng Kirenia di utara menyerah tanpa perlawanan, dan pada 15 September, pasukan berkuda Turki telah tampak di depan benteng pertahanan terakhir Venesia, Famagusta. Pada titik ini, keseluruhan kehilangan personil yang diderita Venesia (termasuk penduduk setempat), menurut perkiraan masa itu, sudah mencapai 56.000 orang yang tewas maupun ditawan.[33] Orang-orang Venesia yang mempertahankan Famagusta berjumlah 8.500 orang dengan 90 pucuk senjata berat, dipimpin oleh Marco Antonio Bragadin. Mereka diperkirakan akan mampu bertahan selama 11 bulan menghadapi kekuatan tempur yang terdiri atas 200.000 prajurit, dengan 145 pucuk senjata,[34] sehingga tersedia cukup waktu bagi Sri Paus guna mengimbau negara-negara Kristen Eropa yang ogah-ogahan untuk membentuk sebuah Liga anti-Utsmaniyah.[35] Pihak Utsmaniyah mempersiapkan persenjataan mereka pada 1 September.[31] Selama bulan-bulan berikutnya, mereka mulai menggali parit-parit sedalam tiga mil yang saling berselang-seling membentuk sebuah jaringan yang luas mengelilingi benteng, yang dapat dijadikan tempat berlindung bagi pasukan-pasukan Utsmaniyah. Begitu penggalian parit-parit perlindungan mendekati dan berada dalam jarak tembak dari tembok benteng, didirikanlah sepuluh benteng dari kayu, padatan tanah, dan berbal-bal kapas.[36] Akan tetapi pihak Utsmaniyah tidak memiliki kekuatan angkatan laut yang cukup besar untuk juga sepenuhnya memblokade kota dari lautan, sehingga orang-orang Venesia tetap dapat memulihkan pasokan persediaan dan memasukkan bala bantuan ke dalam benteng. Setelah khabar pemulihan pasokan itu sampai ke telinga Sultan, ia memanggil kembali Piyale Pasya dan membiarkan Lala Mustafa seorang diri memimpin pengepungan.[37] Pada waktu yang sama, usulan Sokollu Mehmed Pasya untuk berdamai dengan Venesia, dimentahkan. Wazir Agung menawarkan untuk melepaskan pos-pos dagang di Famagusta jika Republik Venesia bersedia melepaskan Siprus, tetapi orang-orang Venesia, didorong oleh keberhasilan mereka yang belum lama berselang dalam merebut Durazzo di Albania, serta sedang berjalannya negosiasi pembentukan sebuah liga Kristen, menolak tawaran itu.[24][38] Oleh karena itu pada 12 Mei 1571, benteng Famagusta mulai digempur dengan gencar, dan pada 1 Agustus, dengan habisnya amunisi dan persediaan, garnisun pun menyerahkan kota itu.[36] Pengepungan Famagusta merenggut korban sebanyak 50.000 jiwa di pihak Utsmaniyah.[39] Pihak Utsmaniyah membiarkan warga Kristen kota itu dan prajurit-prajurit Venesia yang tersisa untuk meninggalkan Famagusta dengan aman, namun tatkala Lala Mustafa mengetahui bahwa beberapa tahanan Muslim telah dibunuh selama pengepungan berlangsung, ia pun memerintahkan agar Bragadin dimutilasi dan dikuliti hidup-hidup, sementara rekan-rekannya dihukum mati. Kulit Bragadin kemudian diarak keliling pulau, sebelum akhirnya dikirim ke Konstantinopel.[40]

Liga SuciSunting

Selagi bala tentara Utsmaniyah berperang di Siprus, Venesia berusaha mencari sekutu. Kaisar Romawi Suci yang baru saja menyelesaikan perjanjian damai dengan Utsmaniyah, tidak berniat mengingkarinya. Prancis sendiri telah lama bersahabat dengan Utsmaniyah dan bermusuhan dengan Spanyol, sementara Polandia sedang menghadapi Muskovia.[41] Habsburg Spanyol, kekuatan Kristen terbesar di Mediterania, mula-mula tidak tertarik untuk membantu Venesia dan masih kecewa dengan penolakan Venesia untuk mengirimkan bala bantuan semasa peristiwa pengepungan Malta pada 1565.[9][42] Lagi pula Felipe II dari Spanyol hendak mengerahkan segenap kekuatan tempurnya guna menghadapi negara-negara Berber di Afrika Utara. Keengganan Spanyol untuk ikut serta membela Republik Venesia, serta keengganan Doria untuk mempertaruhkan keselamatan armadanya, sungguh-sungguh menghambat kelancaran upaya pembentukan angkatan laut gabungan pada 1570.[33] Akan tetapi, berkat giatnya mediasi yang dilakukan oleh Paus Pius V, sebuah persekutuan guna menghadapi Utsmaniyah, yakni "Liga Suci", dapat terwujud pada 15 Mei 1571, yang menghimpun sebuah armada gabungan berkekuatan 200 galai, 100 kapal perbekalan, dan sebala pasukan yang terdiri atas 50.000 prajurit. Guna mendapatkan persetujuan Spanyol, isi perjanjian pembentukan Liga Suci juga berisi janji Venesia untuk membantu Spanyol di Afrika Utara.[9][27][43]

Berdasarkan syarat-syarat pembentukan persekutuan baru itu, selama musim panas, armada Kristen berhimpun di Messina, di bawah pimpinan Don Juan de Austria, yang tiba pada 23 Agustus. Namun pada waktu itu Famagusta sudah jatuh ke tangan Utsmaniyah, dan segala pengerahan upaya untuk menyelamatkan Siprus hanya akan berakhir sia-sia.[27] Sebelum berlayar ke timur, Don Juan harus mengatasi rasa saling curiga dan saling memusuhi antar anggota Liga Suci, khususnya antara Venesia dan Genova. Laksamana Spanyol mengatasi permasalahan itu dengan mengacak seluruh pasukan dari berbagai negara dan membentuk regu-regu yang terdiri atas kapal-kapal dari negara-negara yang berbeda. Doria ditugaskan memimpin regu sayap kanan, Don Juan sendiri memimpin regu tengah, Laksamana Venesia Agostino Barbarigo memimpin regu sayap kiri, dan Laksamana Spanyol Álvaro de Bazán memimpin regu cadangan.[44] Tanpa tahu akan nasib Famagusta, armada gabungan itu bertolak dari Messina pada 16 September, dan berlabuh di Corfu sepuluh hari kemudian. Di Corfu, armada gabungan itu menerima khabar kemenangan Utsmaniyah. Armada Utsmaniyah, di bawah pimpinan Müezzinzade Ali Pasya, telah melepas sauh di Lepanto (Nafpaktos), dekat jalur masuk ke Teluk Korintus.[45][46]

Pertempuran LepantoSunting

 
Pertempuran Lepanto 1571, cukilan kayu karya Martin Rota.

Kedua belah pihak segera berusaha menghimpun kekuatan tempur, yang berhasil terkumpul dalam jumlah besar, menurut beberapa perkiraan, antara 70 sampai 90 persen dari keseluruhan kapal galai yang ada di Mediterania kala itu.[47] Armada-armada kedua belah pihak kurang lebih berimbang: armada Utsmaniyah lebih besar dengan 300 kapal dibanding armada Kristen dengan 200 kapal, tetapi kapal-kapal Kristen lebih kokoh; masing-masing armada mengangkut sekitar 30.000 prajurit, dan meskipun pihak Kristen memiliki meriam dua kali lipat jumlahnya dari pada yang dimiliki lawannya, pihak Utsmaniyah dapat mengimbanginya dengan sebala besar pasukan pemanah.[48] Pada 7 Oktober, kedua armada saling tempur dalam Pertempuran Lepanto, yang berujung pada kemenangan di pihak armada Kristen, sementara armada Utsmaniyah hancur binasa, kehilangan sekitar 25.000–35.000 orang belum lagi sekitar 12.000 budak galai yang dibebaskan.[49][50][51] Bagi banyak orang, pertempuran itu sendiri dikenal sebagai salah satu titik balik penentu dalam perseteruan panjang Utsmaniyah-Kristen, karena pertempuran itu mengakhiri hegemoni angkatan laut Utsmaniyah yang merajalela seusai Pertempuran Preveza pada 1538.[9] Meskipun demikian hasil jangka pendeknya cukup minim: musim dingin parah yang menyusul menghalangi Liga Suci untuk melanjutkan penyerangan, sementara pihak Utsmaniyah memanfaatkan kesempatan itu untuk lekas-lekas memulihkan kekuatan angkatan lautnya.[52] Pada saat yang sama, Venesia menderita kekalahan di Dalmatia, karena kedaulatannya diserang Utsmaniyah: pulau Hvar diserang armada Utsmaniyah, dan bala tentara Turki membumihanguskan kota Hvar, kota Stari Grad dan kota Vrboska.[53]

Situasi strategis seusai Pertempuran Lepanto terangkum dalam ucapan Wazir Agung Utsmaniyah kepada bailo Venesia: "Orang-orang Kristen telah membakar janggutku (maksudnya armada Utsmaniyah), tetapi aku telah menetak putus sebelah lengannya. Janggutku akan tumbuh kembali. Tetapi lengannya (maksudnya Siprus) tidak".[54] Sekalipun berkata demikian, kerugian yang diderita armada Utsmaniyah cukup parah—bukan perkara jumlah kapal yang hilang, melainkan hilangnya hampir semua perwira, awak, teknisi dan prajurit berpengalaman dalam armada itu. Sadar akan sulitnya mencari pengganti tenaga-tenaga berpengalaman tinggi, pada tahun berikutnya Venesia dan Spanyol menghukum mati semua tenaga ahli yang mereka sandera.[55] Selain itu, meskipun kemenangan pihak persekutuan menghasilkan dampak stategis yang tidak banyak, andaikata Utsmaniyah yang menang di Lepanto, dampak yang ditimbulkannya akan jauh lebih dahsyat: kemenangan Utsmaniyah bakal menyapu bersih tenaga-tenaga ahli dalam angkatan laut Kristen dan armada Utsmaniyah bakal bebas merajalela di Mediterania, yang tentunya akan berdampak buruk bagi Malta, Kreta, dan bahkan mungkin juga bagi kepulauan Balears atau Venesia sendiri.[56] Peristiwa Pertempuran Lepanto, serta kegagalan Utsmaniyah di Malta enam tahun sebelumnya, meneguhkan pembagian Mediterania secara de facto, yakni belahan timur di bawah kendali penuh Utsmaniyah dan belahan barat di bawah kendali wangsa Habsburg bersama sekutu-sekutu Italianya.[57]

Pada tahun berikutnya, tatkala kembali beroperasi, armada persekutuan Kristen mendapati kenyataan bahwa angkatan laut Utsmaniyah telah dipulihkan kembali dengan kekuatan 200 kapal di bawah pimpinan Kılıç Ali Pasya. Armada Spanyol di bawah pimpinan Don Juan baru dapat tiba di laut Ionia pada bulan September, yang menguntungkan pihak Utsmaniyah dalam hal waktu, tetapi panglima Utsmaniyah sungguh-sungguh menyadari kekurangan yang dimiliki armadanya, yang terburu-buru dibuat dengan menggunakan kayu basah dan diurus oleh awak yang tidak berpengalaman. Oleh karena itu ia sengaja menghindari bentrok dengan armada Liga Suci pada bulan Agustus, dan akhirnya berhasil mencapai benteng Modon dengan selamat. Kedatangan armada Spanyol dengan 55 kapalnya mengimbangi jumlah yang dimiliki kedua belah pihak dan membuka peluang untuk melancarkan sebuah serangan yang mematikan, akan tetapi perpecahan antar pimpinan Kristen dan keengganan Don Juan menyebabkan kesempatan itu terbuang percuma.[58][59]

Perbedaan kepentingan antar anggota Liga Suci mulai muncul ke permukaan, dan persekutuan itu pun mulai merenggang. Pada 1573, armada Liga Suci batal berlayar serentak; Don Juan malah menyerang dan merebut Tunis hanya untuk kelak direbut kembali oleh Utsmaniyah pada 1574.[60][61] Venesia yang khawatir kehilangan kedaulatannya atas Dalmatia serta kemungkinan terjadinya invasi atas Friuli,[62] dan yang sangat ingin menutupi kerugiannya serta kembali berniaga dengan Kesultanan Utsmaniyah, menggagas negosiasi-negosiasi unilateral dengan pihak Gerbang Agung.[59][63]

Perdamaian dan kesudahan perangSunting

Marco Antonio Barbaro, bailo Venesia yang dipenjarakan sejak 1570, melakukan proses negosiasi. Memandang ketidakmampuan Republik Venesia untuk merebut kembali Siprus, hasil perundingan yang ditandatangani pada 7 Maret 1573, menegaskan status baru Siprus sebagai sebuah provinsi Utsmaniyah, dan mewajibkan Venesia membayar pampasan perang sebesar 300.000 dukat.[59] Selain itu, batas kedua negara di Dalmatia dimodifikasi oleh pendudukan Turki di daerah-daerah dukung yang tak seberapa luas namun penting, meliputi kawasan-kawasan pertanian tersubur di sekitar kota-kota, yang sangat merugikan perekonomian kota-kota Venesia di Dalmatia.[64]

Perdamaian antar kedua negara terus bertahan sampai 1645, tatkala pecah perang perebutan Kreta yang berlangsung lama.[65] Siprus sendiri tetap tunduk di bawah pemerintahan Utsmaniyah sampai 1878, tatkala pulau itu direlakan Utsmaniyah menjadi wilayah protektorat Britania Raya. Kedaulatan Utsmaniyah atas Siprus bertahan sampai pecah Perang Dunia I, tatkala pulau itu dianeksasi oleh Inggris, dan dijadikan jajahannya pada 1925.[66]

ReferensiSunting

  1. ^ McEvedy & Jones 1978, hlm. 119.
  2. ^ Faroqhi 2004, hlm. 140.
  3. ^ Finkel 2006, hlm. 113, 158.
  4. ^ Cook 1976, hlm. 77.
  5. ^ Setton 1984, hlm. 200.
  6. ^ Goffman 2002, hlm. 155.
  7. ^ Finkel 2006, hlm. 158.
  8. ^ a b c Cook 1976, hlm. 108.
  9. ^ a b c d e f Finkel 2006, hlm. 160.
  10. ^ Faroqhi 2004, hlm. 38, 48.
  11. ^ a b c Turnbull 2003, hlm. 57.
  12. ^ Abulafia 2012, hlm. 444–446.
  13. ^ Setton 1984, hlm. 923.
  14. ^ Turnbull 2003, hlm. 158.
  15. ^ Finkel 2006, hlm. 158–159.
  16. ^ Abulafia 2012, hlm. 446–447.
  17. ^ Finkel 2006, hlm. 159.
  18. ^ Goffman 2002, hlm. 156.
  19. ^ Finkel 2006, hlm. 159–160.
  20. ^ Setton 1984, hlm. 925–931.
  21. ^ Abulafia 2012, hlm. 446.
  22. ^ Setton 1984, hlm. 907–908.
  23. ^ a b Setton 1984, hlm. 908.
  24. ^ a b c Abulafia 2012, hlm. 447.
  25. ^ Goffman 2002, hlm. 155–156.
  26. ^ Setton 1984, hlm. 945–946, 950.
  27. ^ a b c d Cook 1976, hlm. 109.
  28. ^ Setton 1984, hlm. 991.
  29. ^ a b Turnbull 2003, hlm. 58.
  30. ^ Setton 1976, hlm. 995.
  31. ^ a b Hopkins 2007, hlm. 82.
  32. ^ Setton 1984, hlm. 981–985.
  33. ^ a b Setton 1984, hlm. 990.
  34. ^ Turnbull 2003, hlm. 58–59.
  35. ^ Hopkins 2007, hlm. 87–89.
  36. ^ a b Turnbull 2003, hlm. 59–60.
  37. ^ Hopkins 2007, hlm. 82–83.
  38. ^ Hopkins 2007, hlm. 83–84.
  39. ^ Goffman 2002, hlm. 158.
  40. ^ Abulafia 2012, hlm. 448–449.
  41. ^ Setton 1984, hlm. 963.
  42. ^ Setton 1984, hlm. 941–943.
  43. ^ Hopkins 2007, hlm. 84–85.
  44. ^ Guilmartin 2002, hlm. 138–140.
  45. ^ Turnbull 2003, hlm. 60.
  46. ^ Guilmartin 2002, hlm. 140–141.
  47. ^ Guilmartin 2002, hlm. 141.
  48. ^ Abulafia 2012, hlm. 449–450.
  49. ^ Abulafia 2012, hlm. 450–451.
  50. ^ Finkel 2006, hlm. 160–161.
  51. ^ Guilmartin 2002, hlm. 141–149.
  52. ^ Faroqhi 2004, hlm. 38.
  53. ^ Raukar 1977, hlm. 222.
  54. ^ Guilmartin 2002, hlm. 149.
  55. ^ Guilmartin 2002, hlm. 148–149.
  56. ^ Guilmartin 2002, hlm. 150–151.
  57. ^ Abulafia 2012, hlm. 451.
  58. ^ Guilmartin 2002, hlm. 149–150.
  59. ^ a b c Finkel 2006, hlm. 161.
  60. ^ Finkel 2006, hlm. 161–162.
  61. ^ Guilmartin 2002, hlm. 150.
  62. ^ Setton 1984, hlm. 1093–1095.
  63. ^ Faroqhi 2004, hlm. 4.
  64. ^ Raukar 1977, hlm. 221.
  65. ^ Finkel 2006, hlm. 222.
  66. ^ Borowiec 2000, hlm. 19–21.

SumberSunting