Munir Said Thalib

Politisi Indonesia
(Dialihkan dari Munir)

Munir Said Thalib, S.H. (8 Desember 1965 – 7 September 2004) adalah seorang aktivis hak asasi manusia Indonesia. Ia merupakan salah satu pendiri lembaga swadaya masyarakat Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) dan Imparsial. Pada saat menumpangi Garuda Indonesia Penerbangan 974 dari Jakarta menuju Amsterdam pada bulan September 2004, ia dibunuh dengan cara diracuni menggunakan arsen. Ia merupakan pemenang Right Livelihood Award pada tahun 2000 bersama tiga orang lainnya.

Munir Said Thalib
Munir Said Thalib and Friends.jpg
Munir (duduk, ketiga dari kiri) pada bulan September 2004
LahirMunir Said Thalib
(1965-12-08)8 Desember 1965
Bendera Indonesia Batu, Kabupaten Malang, Jawa Timur
Meninggal7 September 2004(2004-09-07) (umur 38)
Garuda Indonesia Penerbangan 974
KebangsaanIndonesia
PendidikanFakultas Hukum Universitas Brawijaya
PekerjaanAdvokat dan aktivis hak asasi manusia
Suami/istriSuciwati
PenghargaanRight Livelihood Award (2000)

Kehidupan awalSunting

Munir Said Thalib lahir di Batu, Kabupaten Malang. Ia merupakan anak keenam dari tujuh bersaudara dari Said Thalib dan Jamilah. Ia memiliki keturunan Arab Hadhrami dan Jawa.[1]

Munir mengambil studi ilmu hukum di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya di Malang. Di bangku kuliah, ia aktif di Asosiasi Mahasiswa Hukum Indonesia, Forum Studi Mahasiswa untuk Pengembangan Berpikir, serta Himpunan Mahasiswa Islam; selain menjabat sebagai Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Hukum. Ia lulus pada tahun 1989.[2][3]

Karier aktivismeSunting

Selepas dari bangku kuliah, Munir memulai kariernya sebagai relawan di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) cabang Surabaya selama dua tahun, sebelum pindah kembali ke Malang sebagai kepala pos LBH Surabaya di kota tersebut.[4] dan menjadi Wakil Ketua bidang Operasional YLBHI (Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia).

Munir terlibat dalam menangani dan mengadvokasi beberapa kasus pelanggaran HAM di Indonesia pada masa Orde Baru. Ia tercatat pernah menjadi penasihat hukum untuk keluarga tiga orang petani yang dibunuh oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) di proyek Waduk Nipah di Banyuates, Sampang[5] dan keluarga korban warga penembakan di Lantek Barat, Galis, Bangkalan.[6]

KontraSSunting

Pada tahun 1998, Munir ikut serta mendirikan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), sebuah lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang hak asasi manusia, terutama penghilangan paksa dan pelanggaran hak asasi manusia lainnya.[1]

Sebagai Koordinator Badan Pekerja KontraS, Munir ikut menangani kasus penghilangan paksa dan penculikan para aktivis HAM pada tahun 1997-1998 dan mahasiswa korban penembakan pada Tragedi Semanggi (1998). Ia juga berperan aktif mengawal dan mengadvokasi kasus-kasus pelanggaran HAM berat di Aceh pada masa Operasi Jaring Merah (1990-1998) dan Operasi Terpadu (2003-2004).[7][8]

ImparsialSunting

Selepas tidak lagi menjadi pengurus di KontraS, Munir menjadi direktur Imparsial, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang mengawasi penegakan dan penghormatan atas HAM di Indonesia.[9]

KematianSunting

Tiga jam setelah pesawat GA-974 lepas landas dari Singapura, awak kabin melaporkan kepada pilot Pantun Matondang bahwa seorang penumpang bernama Munir yang duduk di kursi nomor 40 G menderita sakit. Munir bolak balik ke toilet. Pilot meminta awak kabin untuk terus memonitor kondisi Munir. Munir pun dipindahkan duduk di sebelah seorang penumpang yang kebetulan berprofesi dokter yang juga berusaha menolongnya pada saat itu. Penerbangan menuju Amsterdam menempuh waktu 12 jam. Namun dua jam sebelum mendarat 7 September 2004, pukul 08.10 waktu Amsterdam di Bandara Schipol Amsterdam, saat diperiksa, Munir telah meninggal dunia.[10]

Pada tanggal 12 November 2004, dikeluarkan kabar bahwa polisi Belanda (Institut Forensik Belanda) menemukan jejak-jejak senyawa arsenikum setelah otopsi. Hal ini juga dikonfirmasi oleh polisi Indonesia. Belum diketahui siapa yang telah meracuni Munir pada saat itu.

Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Umum Kota Batu. Ia meninggalkan seorang istri bernama Suciwati dan dua orang anak, yaitu Sultan Alif Allende dan Diva. Sejak tahun 2005, tanggal kematian Munir, 7 September, oleh para aktivis HAM dicanangkan sebagai Hari Pembela HAM Indonesia.[10]

Proses pengadilan bagi pihak terlibatSunting

Pada 20 Desember 2005 Pollycarpus Budihari Priyanto dijatuhi vonis 14 tahun hukuman penjara atas pembunuhan terhadap Munir. Hakim menyatakan bahwa Pollycarpus, seorang pilot Garuda yang sedang cuti, menaruh arsenik dalam makanannya karena dia ingin mendiamkan pengkritik pemerintah tersebut. Hakim Cicut Sutiarso menyatakan bahwa sebelum pembunuhan Pollycarpus menerima beberapa panggilan telepon dari sebuah telepon yang terdaftar oleh agen intelijen senior, tetapi tidak menjelaskan lebih lanjut. Selain itu Presiden SBY juga membentuk tim investigasi independen,[11] tetapi hasil penyelidikan tim tersebut tidak pernah diterbitkan ke publik.[12][13]

Pada 19 Juni 2008, Mayjen (purn) Muchdi Purwoprandjono, ditangkap dengan dugaan kuat bahwa dia adalah otak pembunuhan Munir.[14] Beragam bukti kuat dan kesaksian mengarah padanya[15].Namun, pada 31 Desember 2008, Muchdi divonis bebas. Vonis ini sangat kontroversial dan kasus ini ditinjau ulang, serta 3 hakim yang memvonisnya bebas kini tengah diperiksa.[8][16]

Dalam budaya populerSunting

Film dokumenterSunting

Untuk memperingati satu tahun meninggalnya Munir, diluncurkan film dokumenter karya Ratrikala Bhre Aditya dengan judul Bunga Dibakar di Goethe-Institut, Jakarta Pusat, 8 September 2005. Film ini menceritakan perjalanan hidup Munir sebagai seorang suami, ayah, dan teman. Munir digambarkan sosok yang suka bercanda dan sangat mencintai istri dan kedua anaknya. Masa kecil Munir yang suka berkelahi layaknya anak-anak lain dan tidak pernah menjadi juara kelas juga ditampilkan. Munir dibunuh pada era demokrasi dan keterbukaan serta harapan akan hadirnya sebuah Indonesia yang dia cita-citakan mulai berkembang. Semangat inilah yang ingin diungkapkan lewat film ini.[8]

Sebuah film dokumenter lain juga telah dibuat, berjudul Garuda's Deadly Upgrade hasil kerja sama antara Dateline (SBS TV Australia) dan Off Stream Productions.

Pada peringatan tahun kedua, 7 September 2006, di Tugu Proklamasi diluncurkan film dokumenter berjudul "His Strory". Film ini bercerita tentang proses persidangan Pollycarpus dan fakta-fakta yang terungkap di pengadilan.[10][13]

PenghargaanSunting

Pada tahun 1998, majalah Ummat menobatkan Munir sebagai Man of the Year.[17]

Pada tahun 2000, Munir dianugerahi Right Livelihood Award bersama-sama Tewolde Berhan Gebre Egziabher, Birsel Lemke, dan Wes Jackson.[18] Pada tahun yang sama, majalah Asiaweek juga menobatkannya sebagai satu dari "20 Pemimpin Politik Muda Asia pada Milenium Baru". [19] Terakhir, ia memenangkan honourable mention pada Penghargaan Madanjeet Singh untuk Pemajuan Toleransi dan Nirkekerasan dari UNESCO.[20]

ReferensiSunting

  1. ^ a b Komisi Untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan, Bunuh Munir!: Sebuah Buku Putih (2006).
  2. ^ https://republika.co.id/berita/pendidikan/dunia-kampus/18/01/23/p306rp335-ub-sematkan-nama-munir-dalam-penghargaan-ham
  3. ^ https://kontras.org/2016/09/14/munir-kader-hmi-yang-melawan-kezaliman/
  4. ^ https://nasional.tempo.co/read/428258/bagaimana-lbh-surabaya-menempa-munir
  5. ^ https://ham.go.id/2014/12/10/4160/
  6. ^ https://kumparan.com/nh-muhni/abdurrahman-antara-cak-munir-besi-tua-dan-demokrat/2
  7. ^ "16 Tahun Mengenang Kematian Munir, Berikut Kasus-Kasus yang Pernah Dibantunya". www.pikiran-rakyat.com. PikiranRakyat. 7 September 2020. Diakses tanggal 19-11-2020. 
  8. ^ a b c kompas.com "Menggugat 11 Tahun Pembunuhan Munir", diakses pada June 16, 2016
  9. ^ https://news.detik.com/berita/d-204384/berduka-wafatnya-munir-aktivis-datangi-kantor-imparsial
  10. ^ a b c Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama Munir Said Thalib
  11. ^ divertal. "SBY Segera Beri Penjelasan Penanganan Kasus Munir". arah.com. Diakses tanggal 24 Oktober 2016. 
  12. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama Biografi Munir Said Thalib
  13. ^ a b Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama Blakblakan Saksi Kunci Pembunuhan Munir
  14. ^ "Salinan arsip". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2012-01-24. Diakses tanggal 2009-06-12. 
  15. ^ "Salinan arsip". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2009-06-21. Diakses tanggal 2009-06-12. 
  16. ^ "Salinan arsip". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2009-06-08. Diakses tanggal 2009-06-12. 
  17. ^ https://nasional.tempo.co/read/428169/munir-pria-bersahaja-dengan-segudang-penghargaan/full&view=ok
  18. ^ https://rightlivelihood.org/the-change-makers/find-a-laureate/munir/
  19. ^ https://kontras.org/1999/10/28/munir-pemimpin-politik-muda-milenium-baru/
  20. ^ https://www.southasiafoundation.org/SAF-News/Article-51732-2000-UNESCO-Madanjeet-Singh-Prize-for-the-Promotion-of-Tolerance-and-Non-violence.htm

Pranala luarSunting