Martir Korea

see also Martir-Martir Korea

Martir Korea adalah korban penganiayaan keagamaan terhadap Gereja Katolik pada abad ke-19 di Korea. Antara 8 hingga 10 ribu umat Kristiani di Korea dibunuh selama masa penganiayaaan tersebut. 103 orang Katolik dikanonisasi secara bersamaan pada Mei 1984, termasuk imam Katolik pertama asal Korea, Andreas Kim Tae-gon, yang dieksekusi dengan pedang pada tahun 1846.[1]

Martir Korea
Korean martyrs.jpg
Lukisan di Pulau Jeju
Martir
LahirBervariasi
Wafat1791–1888
Dihormati diKatolik Roma
Anglikanisme
Beatifikasi
Kanonisasi6 Mei 1984, Yeouido, Seoul, Korea Selatan oleh Paus Yohanes Paulus II
Pesta
  • 20 September
  • 9 Mei
  • 29 Mei

Paul Yun Ji-Chung dan 123 rekan-rekannya dinyatakan sebagai venerabilis pada 7 Februari 2014. Pada 16 Agustus 2014, mereka dibeatifikasi oleh Paus Fransiskus dalam rangkaian Hari Kaum Muda Asia di Gwanghwamun Plaza, Seoul. Terdapat gerakan lebih lanjut agar umat Katolik, yang dibunuh oleh komunis Korea Utara selama Perang Korea, juga dapat dibeatifikasi.[2]

RiwayatSunting

Iman Katolik masuk ke Korea pada akhir abad ke-18, berkat pembacaan beberapa buku Katolik yang ditulis dalam bahasa Tionghoa. Komunitas Katolik yang kuat dan dinamis itu dipimpin oleh para pemimpin yang hampir semuanya adalah umat awam (bukan rohaniwan) sampai kedatangan para misionaris Prancis yang pertama pada 1836.

Komunitas Katolik itu mengalami penganiayaan hebat pada 1839, 1846, dan 1866, terutama disebabkan oleh penolakan mereka untuk mengikuti upacara pemujaan leluhur, yang mereka anggap sebagai salah satu bentuk dari ilah palsu, tetapi yang oleh negara dinyatakan sebagai batu penjuru budaya bangsa.

Secara politis, penganiayaan-penganiayaan tersebut mestilah dipahami dalam konteks kolonialisme dan meningkatnya penetrasi kekuatan-kekuatan Eropa ke dalam urusan-urusan Asia Timur. Umat Kristiani, sebagai penganut sebuah agama Eropa - khususnya umat Katolik, yang karena imannya menjadi bagian dari sebuah sistem hirarkis dengan Sri Paus pada puncaknya - dianggap berpotensi menjadi ujung tombak penetrasi Eropa ke dalam negara Korea. Lebih dari itu, pemujaan leluhur merupakan sebuah aspek penting dalam Konfusianisme yang menjadi legitimasi monarki Korea - dan mempertanyakan pemujaan tersebut dapat dianggap meremehkan asas monarki. Meskipun demikian, pada kenyataannya penganiayaan atas umat Katolik itu sendiri malah mempercepat penerobosan militer Eropa - dan rongrongan terhadap kemerdekaan Korea bukan datang dari kekuatan-kekuatan Eropa melainkan justru dari tetangga non-Kristennya, Jepang.

Penganiayaan itu diketahui telah menelan korban sekurang-kurangnya 8.000 martir. Di antaranya adalah imam Korea yang cemerlang Andreas Kim Taegŏn dan katekis awam Korea Paulus Chŏng Hasang. Mayoritas dari para martir tersebut adalah umat awam, baik pria maupun wanita, sudah maupun belum menikah, tua maupun muda. 79 martir Korea dibeatifikasi pada 1925, 24 martir lagi dibeatifikasi pada 1968. 103 martir tersebut bersama-sama dikanonisasi pada 1984, dan diperingati tiap tanggal 20 September. Saat ini, Korea menduduki peringkat ke-4 sebagai negara dengan Orang Kudus terbanyak dalam Gereja Katolik sedunia.

Kutipan dari surat terakhir Andreas Kim Taegŏn kepada umat parokinya sewaktu menantikan kesyahidannya bersama 19 orang lainnya:

Saudara-saudariku terkasih, ketahuilah: Tuhan kita Yesus Kristus sewaktu turun ke dunia mengalami banyak penderitaan, mendirikan Gereja yang kudus dengan kesengsaraannya sendiri, dan menumbuhkannya dengan kesengsaraan umat berimannya....
Tetapi sekarang, sekitar lima puluh atau enam puluh tahun sejak Gereja yang kudus masuk ke negeri kita Korea, umat beriman kembali menderita penganiayaan. Bahkan hari ini penganiayaan berlanjut, sehingga banyak dari kawan-kawan kita yang seiman, di antaranya saya sendiri, telah dimasukkan ke dalam penjara. Sama seperti kalian juga berada di tengah-tengah penganiayaan. Karena kita telah menjadi satu tubuh, bagaimana mungkin kita tidak merasakan kepedihan di lubuk hati kita yang terdalam? Bagaimana mungkin kita tidak mengalami penderitaan karena keterpisahan kemampuan-kemampuan manusiawi kita?
Akan tetapi, seperti tertulis dalam kitab suci, Allah peduli pada helai rambut terakhir di kepala kita, sungguh dia peduli dengan kemahatahuanNya; oleh karena itu, bagaimana mungkin penganiayaan dapat dianggap lain daripada perintah Allah, atau hadiahNya, atau tepatnya hukumanNya?...
Kami berdua puluh di sini, dan syukur kepada Allah semuanya baik-baik saja. Jikalau ada yang terbunuh, saya mohon agar kalian tidak melupakan keluarganya. Ada banyak hal yang ingin saya katakan, tetapi bagaimana mungkin saya mengungkapkannya dengan pena dan kertas? Saya akhiri surat ini. Karena kita sekarang sudah dekat dengan pergumulan, saya berdoa agar kalian berjalan dalam iman, sehingga bila kelak kalian akhirnya masuk ke dalam Surga, kita boleh bersalam-salaman satu dengan yang lain. Saya tinggalkan pada kalian ciuman kasih saya.

Beberapa martir individualSunting

 
Tugu peringatan bagi para anggota Missions Étrangères de Paris yang menemui kesyahidan di Korea.

Bersama-sama dikanonisasi pada Mei 1984 oleh Paus Yohanes Paulus II. Di luar tradisi, upacara kanonisasinya bukan diselenggarakan Roma, melainkan di Seoul.

Daftar 103 martir (Andreas Kimtaegon dkk)
  • Petrus Yi Hoyong
  • Protasius Chong Kukbo
  • Magdalena Kim Obi
  • Anna Pak Agi
  • Agatha Yi Sosa
  • Agatha Kim Agi
  • Augustine Yi Kwanghon
  • Barbara Han Agi
  • Lusia Pak Huisun
  • Damian Nam Myonghyok
  • Petrus Kwon Tugin
  • Yosep Chang Songjib
  • Barbara Kim
  • Barbara Yi
  • Rosa Kim Nosa
  • Martha Kim Songim
  • Teresa Yi Maeim
  • Anna Kim Changgum
  • Yohanes Pembaptis Yi Kwang-nyol
  • Magdalena Yi Yonghui
  • Lusia Kim Nusia
  • Maria Won Kwiim
  • Maria Pak Kunagi
  • Barbara Kwon Hui
  • Johannes Pak Hujae
  • Barbara Yi Chonghui
  • Maria Yi Yonhui
  • Agnes Kim Hyochu
  • Francis Choe Kyonghwan
  • Laurent-Marie-Yosep Imbert
  • Pierre-Philibert Maubant
  • Jacques-Honoré Chastan
  • Paul Chong Hasang
  • Augustine Yu Chinkil
  • Magdalena Ho Kyeim
  • Sebastian Nam Igwan
  • Kim Iulitta
  • Agatha Chon Kyonghyob
  • Charles Cho Shinchol
  • Ignatius Kim Chejun
  • Magdalena Pak Pongson
  • Perpetua Hong Kimju
  • Columba Kim Hyoim
  • Lusia Kim Kopchu
  • Catherine Yi
  • Magdalena Cho
  • Petrus Yu Tae-chol
  • Cecilia Yu Sosa
  • Barbara Cho Chung-i
  • Magdalena Han Yongi
  • Petrus Choe Changhub
  • Benedicta Hyong Kyongnyon
  • Elizabeth Chong Chonghye
  • Barbara Ko Suni
  • Magdalena Yi Yongdok
  • Teresa Kim
  • Agatha Yi
  • Stephen Min Kuk-ka
  • Andreas Chong Hwagyong
  • Paul Ho Hyob
  • Augustine Pak Chongwon
  • Petrus Hong Pyongju
  • Magdalena Son Sobyok
  • Agatha Yi Kyong-i
  • Maria Yi Indok
  • Agatha Kwon Chin-i
  • Paul Hong Yongju
  • Johannes Yi Munu
  • Barbara Choe Yong-i
  • Anthony Kim Songu
  • Andreas Kim Taegon
  • Charles Hyon Songmun
  • Petrus Nam Kyongmun
  • Lawrence Han Ihyong
  • Susanna U Surim
  • Yosep Im Chipek
  • Teresa Kim Imi
  • Agatha Yi Kannan
  • Catherina Chong Choryom
  • Petrus Yu Chongnyul
  • Siméon-François Berneux
  • Simon-Marie-Just Ranfer de Bretenières
  • Pierre-Henri Dorie
  • Louis Beaulieu
  • Yohanes Pembaptis Nam Chongsam
  • Yohanes Pembaptis Chon Changun
  • Petrus Choe Hyong
  • Markus Chong Uibae
  • Alexis U Seyong
  • Marie-Nicolas-Antoine Daveluy
  • Martin-Luc Huin
  • Pierre Aumaitre
  • Yosep Chang Chugi
  • Lucas Hwang Soktu
  • Thomas Son Chasuhn
  • Bartolomeus Chong Munho
  • Petrus Cho Hwaso
  • Petrus Son Sonji
  • Petrus Yi Myongso
  • Yosep Han Wonso
  • Petrus Chong Wonji
  • Yosep Cho Yunho
  • John Yi Yun-il

Lihat pulaSunting

ReferensiSunting

  1. ^ Jensen, Alex (6 May 1984). "Korea and the Church of Martyrs". kofc.org. Diakses tanggal 6 December 2021. 
  2. ^ Bernie NiFhlatharta. "Pressure on Pope to beatify Galway priest". Connacht Tribune – Galway City Tribune. Diakses tanggal 24 September 2015. 

Daftar pustakaSunting

Pranala luarSunting