Buka menu utama
Salah satu lembaran dari Weda. Manawa Dharmasastra juga menjadi salah satu bagian dari Kitab Weda

Manawa Dharmasastra adalah salah satu kitab yang paling berpengaruh di antara kitab-kitab Dharmasastra.[1] Kitab ini merupakan bagian dari Kitab Dharma yang dihimpun secara sistematis oleh Bhagawan Bhrigu, seorang penganut ajaran Manu, dan juga seorang Sapta Rsi.[2] Kitab ini dianggap paling penting bagi masyarakat Hindu dan dikenal sebagai salah satu bagian dari kitab Sad Wedangga.[2] Wedangga sendiri adalah kitab yang merupakan batang tubuh weda yang tidak dapat dipisahkan dari Weda Sruti dan Weda Smrti.[2] Oleh karena itu, kitab ini dijadikan dasar hukum oleh masyarakat Hindu.[1] Di zaman Majapahit, Manawa Dharmasastra lebih populer disebut sebagai Manupadesa.[2] Proses penyesuaian kaidah-kaidah hukum Hindu tampaknya berjalan terus hingga abad ke-12 dipelopori oleh tokoh-tokoh suci: Wiswarupa, Balakrida, Wijnaneswara, dan Apararka. Menurut tradisi lingkungan kekuasaan, masa berlakunya hukum itu dibedakan atas empat kelompok yakni:

  1. Manu untuk zaman Krtayuga
  2. Gautama untuk zaman Tretayuga
  3. Sankha dan Likhita untuk zaman Dwaparayuga
  4. Parasara untuk zaman Kaliyuga.[1]

Ajaran Manu banyak berpengaruh di Indonesia dan telah digubah pula ke dalam Bahasa Jawa Kuno dengan judul Manusana dan Manupadesa.[1] Kitab ini telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia pada tahun 1974 oleh Gde Pudja dan Tjokorda Rai Sudharta.[1]

ReferensiSunting

  1. ^ a b c d e (Indonesia) Shaadily, Hassan. Ensiklopedia Indonesia Jilid 4. Jakarta: Ichtiar Baru dan Van Hoeve.
  2. ^ a b c d (Indonesia) "Manawa Dharmasastra".