Kutagede, Mataram

Keraton Kuthagedhe atau Kotagede disebut Kota Besar adalah sebuah keraton/istana milik Kesultanan Mataram. Keraton ini merupakan kediaman raja sekaligus pusat wilayah Kesultanan Mataram sekitar tahun 1588-1613 pada masa pemerintahan Panembahan Senapati, yang kemudian dikenal sebagai raja pertama dari Kesultanan Mataram.

SejarahSunting

Ditinjau dari namanya (bahasa Jawa: ꦏꦸꦛꦒꦼꦝꦺ; Kuthagêdhe, berarti Kota Besar) awalnya berupa desa kecil yang didirikan Ki Ageng Pamanahan di alas mentaok di bawah kekuasaan Kesultanan Pajang dan perlahan-lahan desa tersebut semakin berkembang. Setelah Ki Ageng Pamanahan wafat, beliau digantikan oleh putranya yaitu Panembahan Senapati. Di bawah kepemimpinannya desa itu tumbuh dan terus mengalami perkembangan dengan pesat sehingga berubah menjadi sebuah kota yang sangat ramai dan makmur, hingga disebut Kutha Gedhe atau kota yang besar. Dalam kiprahnya sebagai pemimpin, Panembahan Senapati juga membangun benteng dalam (cepuri) yang cakupannya mengelilingi keraton dan juga dibangun benteng luar (baluwarti) yang mengelilingi wilayah kota seluas sekitar 200 Ha.

Sementara itu, di Kesultanan Pajang terjadi perebutan takhta setelah Sultan Hadiwijaya wafat. Putra mahkota yang bernama Pangeran Benawa disingkirkan oleh Arya Pangiri. Pangeran Benawa lalu meminta bantuan Panembahan Senapati karena pemerintahan Arya Pangiri dinilai tidak adil dan merugikan rakyat Pajang. Perang pun terjadi. Arya Pangiri berhasil ditaklukkan namun nyawanya diampuni oleh Panembahan Senapati. Pangeran Benawa lalu menawarkan takhta Pajang kepada Panembahan Senapati namun ditolak dengan halus. Setahun kemudian Pangeran Benawa wafat namun ia sempat berpesan agar Pajang dipimpin oleh Panembahan Senapati. Sejak itu Panembahan Senapati menjadi raja pertama di Kesultanan Mataram yang bergelar Senapati-hing-Ngalaga. Beliau tidak mau memakai gelar Sultan karena untuk menghormati Sultan Hadiwijaya dan Pangeran Benawa. Kemudian Mataram menjadi kerajaan otonom (lepas dari Pajang) dengan pusat pemerintahan dan istananya terletak di Kuthagedhe.

Selanjutnya Panembahan Senapati memperluas wilayah kekuasaan Kesultanan Mataram hingga ke Pati, Madiun, Kediri, dan Pasuruan. Panembahan Senapati wafat pada tahun 1601 dan dimakamkan di Kotagede berdekatan dengan makam ayahnya. Pada tahun 1613, Sultan Agung (cucu Panembahan Senapati) memindahkan pusat kraton Mataram dari Kuthagedhe ke Karta dan berakhirlah era Kuthagedhe sebagai pusat kerajaan Mataram Islam.[1]

PeninggalanSunting

  • Pasar Kotagede

Tata kota kerajaan Jawa biasanya menempatkan keraton, alun-alun dan pasar dalam poros selatan-utara. Kitab Nagarakertagama yang ditulis pada masa Kerajaan Majapahit (abad ke-14) menyebutkan bahwa pola ini sudah digunakan pada masa itu. Pasar tradisional yang sudah ada sejak zaman Panembahan Senapati masih aktif hingga kini. Setiap pagi legi dalam kalender Jawa, penjual, pembeli, dan barang dagangan tumpah ruah di pasar ini. Bangunannya memang sudah direhabilitasi, namun posisinya tidak berubah.

  • Kompleks Makam Pendiri Mataram

Berjalan 100 meter ke arah selatan dari Pasar Kotagede, terdapat kompleks pemakaman (pasarean) para pendiri kerajaan Mataram Islam yang dikelilingi tembok yang tinggi dan kokoh. Gapura ke kompleks makam ini memiliki ciri arsitektur Hindu. Setiap gapura memiliki pintu kayu yang tebal dan dihiasi ukiran. Pasarean ini dijaga oleh abdi dalem kraton selama 24 jam sehari. Raja-raja yang dimakamkan di sini meliputi Sultan Hadiwijaya, Ki Ageng Pamanahan, Panembahan Senapati, dan keluarganya.

  • Masjid Agung Kotagede

Masjid Agung Kotagede, merupakan masjid tertua di Yogyakarta yang masih berada di kompleks makam.

  • Rumah Tradisional

Diseberang jalan depan kompleks makam, terdapat sebuah rumah tradisional Jawa. 50 meter ke arah selatan, akan terlihat sebuah gapura tembok dengan rongga yang rendah dan plakat yang yang bertuliskan "cagar budaya". Di sana terdapat rumah-rumah tradisional Kotagede yang masih terawat baik dan benar-benar berfungsi sebagai rumah tinggal.

  • Kedhaton

Berjalan ke selatan, Anda akan tampak 3 Pohon Beringin berada tepat di tengah jalan. Di tengahnya ada bangunan kecil yang menyimpan "watu gilang", sebuah batu hitam berbentuk bujur sangkar permukaannya terdapat tulisan yang disusun membentuk lingkaran: ITA MOVENTUR MUNDU S - AINSI VA LE MONDE - Z00 GAAT DE WERELD - COSI VAN IL MONDO. Di luar lingkaran itu terdapat tulisan AD ATERN AM MEMORIAM INFELICS - IN FORTUNA CONSOERTES DIGNI VALETE QUIDSTPERIS INSANI VIDETE IGNARI ET RIDETE, CONTEMNITE VOS CONSTEMTU - IGM (In Glorium Maximam).

Dalam bangunan itu juga terdapat "watu cantheng", tiga bola yang terbuat dari batu berwarna kekuning-kuningan. Masyarakat setempat menduga bahwa "bola" batu itu adalah mainan putra Panembahan Senapati. Namun tidak tertutup kemungkinan bahwa benda itu sebenarnya merupakan peluru meriam kuno.

  • Reruntuhan Benteng

Panembahan Senapati membangun benteng dalam (cepuri) lengkap dengan parit pertahanan di sekeliling keraton, luasnya kira-kira 400 x 400 meter. Reruntuhan benteng yang asli masih bisa dilihat di pojok barat daya dan tenggara. Temboknya setebal 4 kaki terbuat dari balok batu berukuran besar. Sedangkan sisa parit pertahanan bisa dilihat di sisi timur, selatan, dan barat.

Lihat pulaSunting

PranalaSunting

  1. ^ "Kotagede Saksi Bisu Berdirinya Kerajaan Mataram Islam (Abad ke-16)'" (dalam bahasa Indonesia). 16 September 2018. Diakses tanggal 28 Agustus 2019.