Buka menu utama

Kereta api uap Jaladara (Hanacaraka:ꦱꦼꦥꦸꦂ​ꦏ꧀ꦭꦸꦛꦸꦏ꧀​ꦗꦭꦢꦫ, bahasa Jawa: Sepur Kluthuk Jaladara) adalah kereta api wisata yang ada di kota Solo, Indonesia. Kereta ini dijalankan dengan lokomotif uap C1218, dan beroperasi di jalur kereta api Stasiun Purwosari hingga Stasiun Solo Kota sepanjang enam kilometer. Jalan rel itu tepat bersisian dengan Jalan Slamet Riyadi yang merupakan jalan utama di tengah Kota Solo. Kereta api ini dioperasikan berkat kerja sama antara PT Kereta Api Indonesia dan Pemerintah Kota Surakarta

Kereta api uap Jaladara
Sepur Kluthuk, Solo.jpg
Kereta api uap Jaladara.
Ikhtisar
JenisKereta api wisata
StatusBeroperasi
LokasiDaop 6 Jogja
TerminusPurwosari
Solo Kota
Operasi
Dibukaca. 1920-2007
PemilikPT Kereta Api Indonesia
OperatorDaerah Operasi VI Yogyakarta
Pemerintah Kota Surakarta
DepotPurwosari (PWS)
RangkaianC 12 18
Data teknis
Panjang lintas6 km
Lebar sepur1.067 mm
Kecepatan operasi30 s.d. 40 km/jam
C 12 18, lokomotif khas penarik KA Jaladara

Lokomotif uap C 12 18 menarik dua buah gerbong kayu jati asli buatan tahun 1920 dengan kode CR 16 dan CR 144. Kapasitas optimal total untuk 2 kereta tersebut adalah 72 orang. Kereta ini menggunakan bahan bakar kayu jati, selain itu lokomotif ini juga membutuhkan air dalam jumlah banyak untuk menghasilkan uap untuk menggerakkan loko tersebut. Setidaknya lokomotif ini membutuhkan 4 meter kubik air dan 5 meter kubik kayu untuk jarak tempuh Stasiun Purwosari sampai Stasiun Sangkrah.

OperasionalSunting

Kereta ini dapat berhenti di: Diamond Convention Center, Solo Grand Mall, Loji Gandrung (Rumah Dinas Wali kota Surakarta), House of Danar Hadi, Museum Radya Pustaka Sriwedari, Perempatan Pasar Pon (Pasar Windujenar – Ngarsopura), Kampung Seniman Kemlayan, Kampung Batik Kauman, Beteng Trade Center / Gladag Langen Bogan, Stasiun Solo Kota

Kegiatan, titik pemberhentian, dan lama berhenti tidak mengikat; dapat berkurang maupun bertambah sesuai dengan kondisi perjalanan dan paket wisata yang diambil. Harga paket wisata adalah Rp150.000,00 per orang. Kereta dijadwalkan untuk dioperasikan pada akhir pekan (Sabtu–Minggu) dan/atau hari libur nasional; pada hari Sabtu pukul 16.30 dan Minggu pukul 09.30 WIB dari Stasiun Purwosari.

Karena biaya operasional yang sangat tinggi maka diputuskan bahwa kereta akan dijalankan hanya jika jumlah minimal calon penumpang adalah 60 orang untuk setiap pemberangkatan. Jika calon penumpang di bawah jumlah tersebut, maka perjalanan pada hari itu akan dibatalkan. Pengecualian diberikan jika ada penyewa yang bersedia menanggung biaya operasional kereta untuk sekali jalan. Kereta akan dijalankan sesuai dengan waktu yang diminta oleh penyewa, setelah dilakukan koordinasi dan konfirmasi teknis dengan PT KAI (Persero) dan Dinas Perhubungan Kota Surakarta.

Kereta api uap ini adalah kereta tua buatan Jerman pada tahun 1896 dan dikirim ke Indonesia pada tahun itu juga oleh Pemerintah Hindia Belanda sebagai alat transportasi jarak pendek.[1] Nama kereta ini diambil dari nama kereta pusaka yang dihadiahkan para dewa kepada Prabu Kresna guna membasmi kejahatan ini akan membawa penumpang melintasi jalur legendaris yang membelah Surakarta, yakni dari Stasiun Purworasi menuju Stasiun Sangkrah yang berjarak sekitar 5 km.[2] Lokomotifnya bernomor C1218 dan tergolong lokomotif kecil yang digunakan untuk rute mendatar.[1] Kecepatan yang dihasilan dari kereta api ini dapat mencapai 50 km/jam dengan dilengkapi 2 gerbong yang dibuat dari kayu jati pilihan pada tahun 1920 dengan kapasitas penumpang 70 orang.[1] Kereta ini diresmikan pada tanggal 27 september 2009 oleh Menteri Perhubungan Jusman Syafi’i Djamal bersama Gubernur Jawa Tengah dan Wali kota Solo Joko Widodo bertempat di Loji Gandrung, Rumah Dinas Wali kota Solo.[3]

Rute perjalananSunting

Rute perjalanan yang ditawarkan oleh kereta kuno ini memilki 4 tujuan.[4] Yaitu Kereta ini melewati beberapa landmark Kota Solo seperti Loji Gandrung (Rumah Dinas Wali kota Solo), Ngarsopuro, Keraton Solo dan Gladak.[5]

Loji GandrungSunting

Loji Gandrung dulunya merupakan rumah mewah milik seorang pengusaha pertanian asal Belanda, Yohanes Agustinus Dezentye, yang dibangun sekitar 1823 pada jaman Paku Buwono IV.[6] Pada saat perayaan khusus dan akhir pekan, Yohanes kerap mengadakan pesta-pesta ala Eropa di rumah ini. Selain orang Belanda, sejumlah kerabat Keraton diundang dalam pesta itu.[7] Dengan diiringi alunan musik, para tamu dengan pasangannya biasa berdansa di ruang tengah, hingga akhirnya masyarakat setempat menyebut rumah mewah tersebut sebagai Loji Gandrung.[6]

NgarsopuroSunting

Ngarsopuro adalah suatu kawasan di depan Pura Mangkunegaraan.[3] Keadaannya jauh berbeda dengan yang dulu,karena sekarang sudah tidak ada lagi pasar barang elekrtnik yang berjualan di daren.[2]

GladakSunting

Gladak merupakan salah satu gerbang masuk Keraton Surakarta.[1] Gladak juga merupakan kawasan yang strategis untuk perbisnisan.[3] Karena letaknya yang strategis dan berada di pusat kota, maka tak heran disekitar Gladak telah dibangun sentra-sentra perbisnisan di kota Solo.[4]

Harga sewaSunting

Untuk menaiki kereta ini pengguna bisa langsung membayar di tempat atau harus menyewa terlebih dahulu.[2] Harga yang ditetapkan untuk seorang warga solo sebesar Rp30.000,00 untuk warga Karesidenan Solo sebesar Rp100.000,00 dan harga untuk warga di luar Karesidenan sebesar Rp200.000,00.[2] Adapun untuk harga yang dikeluarkan rombongan, yaitu sebesar Rp3.750.000,00.[5].Kereta ini juga memiliki beberapa paket.[2] Ada sejumlah paket yang disiapkan, seperti paket batik, paket kuliner, paket pernikahan sampai paket VIP. Nilai paketnya antara Rp 9 juta-25 juta.[2]

ReferensiSunting

  1. ^ a b c d pranala,teks tambahan
  2. ^ a b c d e f pranala,teks tambahan Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; nama "e" didefinisikan berulang dengan isi berbeda
  3. ^ a b c pranala,teks tambahan
  4. ^ a b pranala,teks tambahan
  5. ^ a b pranala,teks tambahan
  6. ^ a b pranala,teks tambahan
  7. ^ pranala,teks tambahan

Pranala luarSunting