Suku Lamakera

Kecamatan||Kerajaan
(Dialihkan dari Kerajaan Lamakera)

Suku Lamakera adalah kelompok etnis yang secara historis mendiami bekas wilayah perkampungan dan kerajaan Islam Lamakera yang terletak di ujung timur Pulau Solor, Kabupaten Flores Timur. Sejalan dengan pertambahan penduduk dan kebijakan Pemerintah Indonesia membentuk "Desa Gaya Baru", desa yang ditinggali masyarakat Lamakera ini kemudian dimekarkan menjadi dua wilayah, yaitu desa Watobuku dan Motonwutun, yang secara administratif masuk dalam wilayah kecamatan Solor Timur. Lamakera adalah salah satu dari dua masyarakat pemburu paus tradisional terkenal di Kepulauan Sunda Kecil, selain Lamalera yang menjadi pemburu paus sperma.[4]

Lamakera
Masyarakat Lamakera di Solor, 1904.
Jumlah populasi
200 (2016)[1]
Daerah dengan populasi signifikan
Kabupaten Flores Timur (Pulau Solor)
Bahasa
Lamaholot (dialek Lamakera)[2]
Agama
Islam (hampir seluruhnya)[1][3]
Kelompok etnik terkait
Lamaholot

Mata pencaharian utama masyarakat Lamakera adalah nelayan, karena letak geografis tempat tinggalnya yang berada di pinggir laut.[5] Masyarakat Lamakera terbentuk dari 7 sub-suku/marga yang diakui eksistensinya dalam membentuk komunitas sosial di dalam masyarakatnya.[6] Hampir seluruh masyarakat Lamakera adalah Muslim.[3]

Sejarah sunting

 
Anggota tim ekspedisi Siboga bersama masyarakat Lamakera (Nadja), 1899–1900.

Menurut tutur lisan yang diceritakan secara turun-temurun di Lamakera, dahulu wilayah yang ditempati oleh orang Lamakera bernama Tanahwerang. Penamaan Lamakera baru berlangsung ketika pendatang dari Sika Songge melakukan naju baja (perjanjian) dengan tuan tanah dari Tanahwerang. Saat itu, sesepuh tuan tanah bermukim di Tanahwerang sedangkan keadaan Lamakera ketika itu belum berpenghuni dan masih berupa hutan belukar.[6]

Kelompok yang paling pertama tiba dan membuka perkampungan Lamakera, adalah kelompok dari Sika Songge kemudian menjadi sub-suku/marga Lewokololodo atau Lewoklodo. Secara berurutan sub-suku/marga yang datang setelah Lewoklodo, yaitu Ema Onang, Kiko Onang, Kampong Lamakera, Hari Onan, Lawerang, dan Kukun Onang. Kedatangan mereka ke Lamakera mempunyai sebab-sebab yang bervariasi. Misalnya, klen Napo dari Ema Onang, berasal dari Ile Napo di daerah bagian barat Solor Timur yang terpaksa pindah dan menetap di Lamakera karena tidak dapat hidup secara damai dan rukun dengan saudara-saudaranya. Klen Lawung dari Kiko Onang yang harus meninggalkan Ternate karena situasi politik dalam negerinya. Begitu juga klen Maloko dari Hari Onang yang harus menetap di Lamakera setelah dibawa arus ketika menangkap ikan, sehingga untuk mengenang kampung halamannya, maka mereka menamai klennya Maloko. Sedangkan masyarakat lainnya yang berasal dari daerah sekitar Pulau Solor, seperti sub-suku Kampong Lamakera berasal dari Pulau Adonara, yaitu dari Lonek Burak (desa Waiwerang II sekarang) yang dijemput oleh Patih Balauring dari sub-suku Kiko Onang dan kemudian diserahkan wewenang untuk memerintah kerajaan Lamakera. Peristiwa bersejarah ini kemudian tergambar dalam syair lilin (tarian adat) yang berbunyi: "komodike pati Balauring kiko toda raja, kiko toda raja monggo beto limang sodi pangka", yang berarti "hubungan baik dari keluarga terdekat Patih Balauring telah membawaku datang, suku Kiko pemandu raja".[6]

Sejak masa Raja Sangaji Dasi hingga saat ini, di Lamakera telah berkembang 7 sub-suku/marga yang terbagi menjadi beberapa klen kecil dan diakui eksistensinya dalam turut serta membentuk sosial kebudayaan di Lamakera. Sub-suku/marga tersebut adalah:[6]

  • Lewoklodo
    • Lolong
    • Parak Lolong
    • Bloweng Matang
  • Ema Onang
    • Lolong
    • Lawang Onang
    • Balaga
    • Wudi Pukang
  • Kiko Onang
    • Koko Belang
    • Kiko Kede
    • Beliko Lolong
    • Beliko Rereng
    • Lawung
  • Kampong Lamakera
    • Kerbau Kotang
    • Sinun Onang
    • Parak Onang
  • Hari Onang
    • Hering Guhi
    • Mahing
    • Maloko
    • Tamukin
  • Lawerang
    • Kedang Onang
    • Lamalewa
    • Labe Onang
  • Kukun Onang
    • Niha Onang
    • Siang Gantong
    • Lango Petung

Pada zaman dahulu, Lamakera adalah sebuah kerajaan kecil yang berdiri di Pulau Solor.[7] Raja dari kerajaan ini beragama Islam, baik raja pertama yaitu Raja H. Ibrahim Dasy (1932–1941 M) maupun raja kedua, Raja H. Shaleh Ibrahim Dasy (1941–1946 M) yang terkenal dengan raja Sengaji Dasy dan sudah menunaikan ibadah Haji.[8]

Perburuan pari dan paus biru sunting

 
Pemburu paus tradisional Lamakera, 1915–1944.

Masyarakat Lamakera terkenal sebagai pembunuh ikan pari manta terbanyak[9] nomor 3 di dunia.[10] Masyarakat Lamakera mengandalkan industri untuk berkembang karena tidak adanya lahan pertanian atau peternakan.[10] Pulau Solor adalah tempat dimana banyak sekali ikan pari manta hidup, sehingga warga pun mengeksploitasi hal ini.[10] Hal ini diliput ke dalam film dokumenter tahun 2015 berjudul Racing Extinction.[11]

Sebagai bagian dari syuting film Racing Extinction, kru dan pemain film tersebut mengajak masyarakat Lamakera untuk lebih mengembangkan bisnis pariwisata. Walaupun film ini dirilis tahun 2015, CITES sudah mengumumkan mengenai pembunuhan ikan pari manta di perkampungan ini pada tahun 2013.[12] Indonesia sekarang sudah melarang kekerasan terhadap ikan pari manta. Warga kampung pun mengubah kapal penangkap ikan mereka menjadi perahu pengamatan ikan paus.[13]

Lihat juga sunting

Referensi sunting

  1. ^ a b Lewokeda, Aloysius (13 November 2016). "Lamakera Garda Terdepan Islam Pluralis". kupang.antaranews.com. Diakses tanggal 3 Januari 2024. 
  2. ^ Sanga, Felysianus (2002). Kamus Dwi-Bahasa Lamaholot-Indonesia. Surabaya: Airlangga Universitas. hlm. 5–6. 
  3. ^ a b "Lamakera Kampung Peradaban, Menteri Agama Minta Salurkan Rahmat Kebajikan". balinewsnetwork.com. Diakses terakhir tanggal 21 Oktober 2018, jam 21:25 WITA.
  4. ^ VOA-Islam, Kupang (28 November 2011). "Nelayan Pemburu Ikan Paus Itu Berasal dari Masyarakat Muslim Lamakera". www.voa-islam.com. Diakses tanggal 3 Januari 2024. 
  5. ^ "Antara Pari Manta, Desa Watubuku Dan Desa Motonwutun Flores Timur"[pranala nonaktif permanen]. bpspldenpasar.info. Diakses terakhir tanggal 21 Oktober 2018, jam 20:59 WITA.
  6. ^ a b c d Yohan, Ahmad (8 Agustus 2014). "Sejarah Tumbuh dan Berkembangnya Masyarakat Lamakera". www.kompasiana.com. Diakses tanggal 3 Januari 2024. 
  7. ^ "Lamakera, kerajaan / P. Solor – Prov. Nusa Tenggara Timur". sultansinindonesieblog.wordpress.com. Diakses terakhir tanggal 21 Oktober 2018, jam 21:46 WITA.
  8. ^ "Suksesi Kerajaan Lamakera dalam Perspektif Islam (Studi atas Raja H. Ibrahim Dasy dan Raja B. Shaleb Ibrahim Dasy)". digilib.uin-suka.ac.id. Diakses terakhir tanggal 21 Oktober 2018, jam 21:43 WITA.
  9. ^ "Save Animals". Racing Extinction (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi asli tanggal 2018-04-24. Diakses tanggal 2017-03-02. 
  10. ^ a b c "Seacology | Lamakera". www.seacology.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2017-03-03. 
  11. ^ "A Manta Fishing Village's Transformation in 'Racing Extinction'". WildAid. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2017-03-03. Diakses tanggal 2017-03-02. 
  12. ^ "Sharks and manta rays | CITES". cites.org. Diakses tanggal 2017-03-03. 
  13. ^ "Whale tales, tourism and Lamakera - Wicked Diving". Wicked Diving (dalam bahasa Inggris). 2015-01-31. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2015-04-06. Diakses tanggal 2017-03-03.