Kaum `Ad (bahasa Arab: عاد‎, ʿĀd) adalah salah satu kaum yang disebutkan dalam Al-Qur'an. Mereka termasuk dalam suku Arab kuno yang telah punah.

AyatSunting

"Dan sesungguhnya Dialah yang telah membinasakan kaum 'Ad awal."

— An-Najm (53): 50

GenealogiSunting

Nama kaum `Ad diambil dari nama salah seorang leluhur mereka yang bernama `Ad. Silsilahnya menurut para ulama adalah 'Ad bin Us/Aush bin Aram/Iram bin Sem/Sam bin Nuh.[1]

Al-Qur'anSunting

Kisah kaum 'Ad disebutkan dalam Al-Qur'an surah Al-A'raf (07): 65-72, Hud (11): 50-60, Asy-Syu'ara' (26): 123-140, Fushshilat (41): 15-16, Al-Ahqaf (46): 21-25, Adz-Dzariyat (51): 41-42, An-Najm (53): 50-55, Al-Qamar (54): 18-22, Al-Haqqah (69): 6-8, dan Al-Fajr (89): 6-14. Dalam Al-Mu'minun (23): 31-41 dikisahkan mengenai suatu kaum setelah Nuh yang juga mengingkari seruan rasul. Meski tidak dijelaskan mengenai nama kaum dan rasul yang bersangkutan, ayat tersebut ditafsirkan membicarakan Hud dan kaum 'Ad.

TempatSunting

Disebutkan bahwa kaum 'Ad adalah "penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi."[2] Terdapat perbedaan pendapat mengenai status Iram. Sebagian menafsirkan bahwa itu adalah nama tempat yang berada dalam wilayah kaum 'Ad. Mereka yang mengidentifikasinya sebagai kota telah memberikan berbagai pendapat mengenai letak dan rupa kota itu, mulai dari Aleksandria atau Damaskus, hingga kota yang benar-benar bisa berpindah, atau sama dengan kota yang disebut Ubar.[3] Sebagai kawasan, beberapa juga mengidentifikasikan Iram dengan Aram, wilayah yang disebutkan Alkitab yang berada di kawasan Syria.[4] Pendapat lain menyatakan bahwa Iram merujuk pada nama suku, yakni kaum 'Ad.[5]

Al-Qur'an juga menjelaskan bahwa kaum 'Ad tinggal di Al-Ahqaf atau bukit-bukit pasir. Dalam Tafsir al-Jalalain disebutkan bahwa lembah Al-Ahqaf sekarang berada di daerah Yaman.[6][7]

Karakter dan keadaanSunting

Keadaan mengenai negeri kaum 'Ad yang dijelaskan dalam Al-Qur'an antara lain:

  • Terdapat bangunan-bangunan yang tinggi[8]
  • Membangun istana-istana yang megah dan benteng-benteng[9]
  • Sebuah negeri yang subur, karena memiliki mata air, kebun-kebun, dan banyak hewan ternak[10]

Sedangkan keterangan mengenai masyarakat kaum 'Ad sendiri antara lain:

  • Penguasa di bumi pengganti kaum Nuh[11]
  • Memiliki tradisi penyembahan berhala yang telah diwariskan dari generasi ke generasi[12][13]
  • Berperawakan dan bertubuh kuat[14]
  • Suka menyiksa dengan bengis[15]
  • Disebut menuruti perintah semua penguasa yang sewenang-wenang dan durhaka[16]

KehancuranSunting

Beberapa ayat Al-Qur'an menjelaskan mengenai azab yang membawa kehancuran mereka.

  • Musnah karena suara yang mengguntur, menjadikan mereka seperti sampah banjir[17]
  • Angin yang menghancurkan setelah sebelumnya didahului penampakan awan yang dikira membawa hujan[18]
  • Tersapu angin membinasakan yang menjadikan benda-benda yang dilewatinya seperti serbuk[19]
  • Terlibas angin dingin yang sangat kencang selama tujuh malam delapan hari. Mereka mati bergelimpangan dan diibaratkan sebagai tunggul pohon kurma yang telah lapuk.[20]

Keterangan tambahanSunting

Disebutkan bahwa kaum 'Ad mengalami kekeringan selama tiga tahun. Kemudian mereka mengutus tujuh puluh orang laki-laki untuk meminta hujan di Makkah. Di sana mereka singgah di kediaman seorang bernama Mu'awiyah bin Bakr. Dia merupakan keturunan kaum 'Amaliq dari jalur ayah, sedangkan ibunya berasal dari kaum 'Ad bernama Jalhadzah binti Al-Khaibari. Para utusan kaum 'Ad singgah sebulan lamanya sehingga Mu'awiyah merasa tidak enak pada kaumnya, tapi juga sungkan untuk mengusir mereka, sehingga dia menyindir para tamunya lewat syair.

Setelah tersadar, utusan kaum 'Ad tersebut pergi ke Makkah dan berdoa, dipimpin seorang bernama Qail bin 'Anaz, meminta hujan kepada Allah. Lalu datanglah tiga macam awan: putih, merah, dan hitam, dan suara dari langit meminta mereka untuk memilih salah satu awan tersebut. Qail memilih awan hitam. Kemudian suara tersebut menyatakan bahwa awan yang dipilih itu adalah hujan batu yang tidak akan membiarkan salah seorang dari kaum 'Ad hidup.

Di negeri kaum 'Ad, munculah awan hitam tersebut dan para penduduk keluar ke sebuah lembah bernama Al-Mughits. Mereka merasa senang lantaran mengira itu adalah awan yang mengandung hujan. Namun salah seorang wanita dari kaum 'Ad bernama Mahd mengetahui bahwa awan tersebut berisi angin yang membinasakan dan dia pingsan. Setelah sadar, dia menjelaskan bahwa telah melihat angin yang membawa kobaran api dan di depannya tampak sekumpulan laki-laki yang menarik tali kekang. Setelahnya, angin tersebut membinasakan kaum 'Ad.[21][22][23]

Disebutkan pula bahwa kaum 'Ad memiliki seorang raja bernama Syaddad (bahasa Arab: شدّاد, translit. Syaddād‎). Dia menguasai lebih dari 1.000 suku 'Ad, melakukan berbagai penaklukan seperti menundukkan Arab dan Iraq dengan kejam, mengusir bangsa Kan'an dari kediaman mereka di Syria, dan penyerangan tanah Mesir. Sebagian sumber menyatakan Syaddad adalah putra 'Ad al-Miltat bin Saksak bin Wa'il bin Himyar.[24]

PenjelasanSunting

 
Rub' al Khali, gurun pasir di kawasan Arab selatan. Dipercaya reruntuhan kaum 'Ad berada di kawasan ini.

Ibnu Katsir menyebutkan bahwa kaum 'Ad tinggal di sebuah pegunungan di Yaman, terletak antara Amman dan Hadramaut, di sebuah daratan yang menjorok ke laut yang bernama Asy-Syihr. Nama lembah mereka adalah Mughits.[1]

Dalam sejarah, terdapat dua kaum 'Ad: kaum 'Ad awal atau pertama dan kaum 'Ad akhir atau kedua. Kaum 'Ad awal adalah pengganti umat Nabi Nuh dan merupakan kaum pertama yang menyembah berhala setelah banjir besar. Mereka menyembah berhala bernama Shamad, Shamud, dan Huran.[25] Kaum 'Ad kedua ada setelah kaum 'Ad awal hancur. Nabi Hud diutus pada kaum 'Ad awal.

Dalam riwayat tentang utusan kaum 'Ad yang pergi ke Makkah, terdapat beberapa pendapat. Muhammad bin Ishaq berpendapat bahwa mereka adalah kaum 'Ad yang sama dengan kaum yang didakwahi Nabi Hud. Dikatakan bahwa Hud dan pengikutnya telah berpindah ke tempat lain sehingga tidak terkena azab.[26] Muhammad bin Ishaq melanjutkan bahwa kaum 'Ad yang ada di Makkah selamat dan keturunan mereka yang kemudian dikenal sebagai kaum 'Ad akhir.[27]

Ibnu Katsir berpendapat bahwa riwayat tersebut membicarakan mengenai kaum 'Ad kedua. Hal ini disebabkan bahwa dalam riwayat tersebut disebutkan mengenai Makkah, padahal Makkah baru dibangun pada masa Ibrahim. Gaya bahasa dari syair yang dilantunkan Mu'awiyah bin Bakr juga bukan ciri khas kaum 'Ad awal. Juga disebutkan pula bahwa awan itu membawa api yang buruk, padahal kaum 'Ad awal dibinasakan dengan angin dingin yang sangat kencang.[28] Ibnu Katsir juga berpendapat bahwa kaum 'Ad yang disebutkan dalam surah Al-Ahqaf adalah kaum 'Ad kedua, sedangkan kaum 'Ad yang dikisahkan dalam surah lain adalah kaum 'Ad awal.[29]

Disebutkan dalam kisah suku Badui bahwa raja dari kaum 'Ad memiliki istana tempat kediaman para wanita dan kuda-kudanya, kemudian mereka semua dihancurkan dengan api dari langit atas perbuatan dosa mereka. Dipercaya bahwa reruntuhan mereka berada di suatu tempat di Rub' al Khali, sebuah gurun pasir luas yang berada di semenanjung Arab bagian selatan.[30]

Lihat pulaSunting

RujukanSunting

  1. ^ a b Ibnu Katsir 2014, hlm. 135.
  2. ^ Al-Fajr (89): 7
  3. ^ Noegel, Scott B.; Wheeler, Brannon M. (2010). "Iram". The A to Z of Prophets in Islam and Judaism. Scarecrow Press. hlm. 151. ISBN 978-0-8108-7603-3. 
  4. ^ Bosworth, C.E., ed. (1999). The History of al-Ṭabarī, Volume 05: The Sāsānids, the Byzantines, the Lakhmids, and Yemen. SUNY series in Near Eastern studies. Albany, New York: State University of New York Press. hlm. 180. ISBN 978-0-7914-4355-2. 
  5. ^ Glassé, Cyril; Smith, Huston (2003). "ʿĀd". The New Encyclopedia of Islam. Rowman Altamira. hlm. 26. ISBN 978-0-7591-0190-6. 
  6. ^ "Qur'anic Verses (56:77-9) on Carpet Page". World Digital Library. Diakses tanggal 1 March 2013. 
  7. ^ The Study Quran, hlm. 1231, v.21 commentary.
  8. ^ Al-Fajr (89): 7
  9. ^ Asy-Syu'ara' (26): 128-129
  10. ^ Asy-Syu'ara' (26): 133-134
  11. ^ Al-A'raf (07): 69
  12. ^ Al-A'raf (07): 70
  13. ^ Asy-Syu'ara' (26): 137
  14. ^ Al-A'raf (07): 69
  15. ^ Asy-Syu'ara' (26): 130
  16. ^ Hud (11): 59
  17. ^ Al-Mu'minun (23): 41
  18. ^ Al-Ahqaf (46): 24
  19. ^ Adz-Dzariyat (51): 41-42
  20. ^ Al-Haqqah (69): 6-8
  21. ^ HR. Ahmad (3/482)
  22. ^ Tafsir Ath-Thabari (8/217-222)
  23. ^ Ibnu Katsir 2014, hlm. 152-155.
  24. ^ Alami, Mohammed Hamdouni (2001). Al-Bayan Wa L-Bunyan: Meaning, Poetics, and Politics in Early Islamic Architecture (dalam bahasa Inggris). University of California, Berkeley. hlm. 238. 
  25. ^ Ibnu Katsir 2014, hlm. 136-137.
  26. ^ Ibnu Katsir 2014, hlm. 154.
  27. ^ Ibnu Katsir 2014, hlm. 153.
  28. ^ Ibnu Katsir 2014, hlm. 156.
  29. ^ Ibnu Katsir 2014, hlm. 161.
  30. ^ Wynn, Jeffrey C.; Shoemaker, Eugene M. (November 1998). "The Day the Sands Caught Fire" (PDF). Scientific American. Springer Nature. hlm. 64–71. Diakses tanggal 2019-11-17. 

Daftar pustakaSunting

Pranala luarSunting